Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi
Not a member yet
190 research outputs found
Sort by
Prevalensi dan Asosiasi Antara Depresi, Kecemasan, Stres, dan Kualitas Tidur Pada Mahasiswa Selama Pandemi Covid-19
Abstrak: Studi ini bertujuan untuk mengukur prevalensi dan asosiasi antara depresi, kecemasan, stres, dan kualitas tidur mahasiswa selama pandemi Covid-19. Tingkat depresi, kecemasan, dan stres diukur menggunakan DASS-42 versi Indonesia dan kualitas tidur diukur menggunakan PSQI versi Indonesia. Pengambilan data dilakukan secara daring. Sebanyak 271 partisipan dari berbagai program studi menjadi partisipan pada studi ini, terdiri dari 220 perempuan dan 51 laki- laki (M=20.11, SD=2.25). Hasil studi ini menunjukkan sebanyak 43.91% partisipan mengalami depresi, 69.74% cemas, 43.17% stres dari tingkat ringan sampai berat, serta 92.25% partisipan memiliki kualitas tidur yang buruk. Analisis korelasi Pearson menunjukkan ada korelasi antara kualitas tidur dengan depresi (r= .313, p .01), kecemasan (r= .433, p .01), dan stres (r= .383, p .01). Analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa kualitas tidur secara signifikan mampu memprediksi depresi sebesar 9.8%, kecemasan 18.8%, dan stres 14.7%. Semakin buruk kualitas tidur, maka semakin tinggi tingkat depresi, kecemasan, dan stres individu. Sebagian besar partisipan mengalami kecemasan dari tingkat ringan sampai berat serta kualitas tidur secara signifikan mampu memprediksi depresi, kecemasan, dan stres selama pandemi. Kata kunci: depresi, kecemasan, stres, kualitas tidur, mahasiswa, pandemi, Covid-19 Abstract: The study aims to assess prevalence of depression, anxiety, stress, and sleep quality during the Covid-19 of university student as well as to examine the relationship among those factors. The researcher conducted completely anonymous web-based survey to 271 university students consisting of 220 females and 51 males (M=20.11, SD= 2.25), using DASS-42 Indonesian version for measuring depression, anxiety, and stress. PSQI Indonesian version used for measuring sleep quality. The study found 43.91% participants had depression, 69.74% were anxious, and 43.17% had stress from mild to severe level, and also 92.25% experienced poor sleep quality. The Pearson Correlation analysis showed correlation between sleep quality and depression (r= .313, p .01), anxiety (r= .433, p .01), and stress (r= .383, p .01). Analysis from simple linear regression showed that sleep quality significantly predicts depression (9.8%), anxiety (18.8%), and stress (14.7%). The worse quality of sleep, the higher level of depression, anxiety, and stress. Most participants suffer from mild to severe anxiety, and the sleep quality significantly predict level of depression, anxiety, and stress level for university students during the pandemic. Keyword: depression, anxiety, stres, sleep quality, university students, pandemic, Covid-1
Subjective Well-Being pada Mantan Biarawan/Biarawati Katolik
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi gambaran subjective well-being pada mantan biarawan/biarawati Katolik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini melibatkan tiga orang yang telah berstatus sebagai mantan biarawan/biarawati Katolik selama lebih dari satu tahun. Sebelum penelitian dilakukan, masing-masing informan diberikan informed consent sebagai persetujuan tertulis untuk terlibat dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam semi-terstruktur yang ditranskripsikan dalam bentuk verbatim wawancara, dikategorisasikan, dan dianalisis sesuai dengan tema-tema yang muncul dari data. Hasil penelitian ini menemukan bahwa aspek kepuasan hidup diperoleh dari faktor tujuan dan faktor pemenuhan kebutuhan hidup. Aspek emosi positif diperoleh dari faktor dukungan sosial, kepribadian dan religiositas, sedangkan minimalisasi emosi negatif dipengaruhi oleh faktor adaptasi dan strategi koping. Terpenuhinya berbagai faktor tersebut dapat membantu mereka dalam mencapai kebahagiaan meski telah menjalani kehidupan di luar biara.Kata kunci: Subjective well-being, mantan biarawan/biarawati Katolik. Abstract: This study aimed to explore the description of subjective well-being in ex-Catholic conventual, especially in the aspects of the achievement of life satisfaction, positive affects and minimization of negative effects. The research method was a qualitative research method with phenomenological approach. This research involved three informants who were ex-Catholic conventual for more than one year. Each subject would first be given written consent in the form of informed consent before the data collection process was carried out. The data collection technique was semi-structured and in-depth interviews, which were then transcribed in verbatims, categorized and analyzed based on emerging themes. The results of this study found that the aspect of life satisfaction was achieved from the factor of achievement of goals and fulfillment of needs. The positive affect aspects were achieved from the factors of social support, personality and religiosity, whereas the minimization of negative affect was achieved through adaptation factors and coping strategies. The fulfillment of those factors could support ex-Catholic conventual in achieving happiness even though they have lived outside the convent. Keywords: Subjective well-being, ex-Catholic conventual.
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional dan Dark Triad of Personality pada Narapidana LPKA Kelas II Tomohon
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan dimensi- dimensi dark triad of personality yakni machiavellianism, narcissism, dan psychopathy pada narapidana LPKA Kelas II Tomohon. Terdapat 2 alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini. Pertama, Schutte Self-report Emotional Intelligence (SSEI), yang dikembangkan oleh Cooper, Dornheim, Golden, Hall, Haggerty, Malouff dan Schutte (1998) dari Salovey dan Mayer (1990), dan yang kedua adalah Short Dark Triad (SD3) dari Jones dan Paulhus (2014). Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh yaitu dengan mengambil seluruh populasi narapidana di LPKA Kelas II Tomohon untuk dijadikan sampel (Azwar, 2012). Keseluruhan sampel tersebut adalah sebanyak 16 narapidana. Berdasarkan hasil analisis data, tidak terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan kepribadian dark triad. Artinya ketika terjadi peningkatan atau penurunan kecerdasan emosional, tidak ada kaitannya dengan peningkatan atau penurunan kepribadian dark triad. Oleh karena itu hipotesis dalam penelitian ini tidak diterima.Kata kunci: Kecerdasan Emosional, Dark Triad of Personality, Narapidana Abstract: This study aims to determine the relationship between emotional intelligence and dark triad of personality dimensions, namely machiavellianism, narcissism, and psychopathy on Tomohon LPKA 2nd grade’s convict. There are two measuring instruments used in this research. First, Schutte Self-report Emotional Intelligence (SSEI), which was developed by Cooper, Dornheim, Golden, Hall, Haggerty, Malouff and Schutte (1998) from Salovey and Mayer (1990) and the second one is Short Dark Triad (SD3) from Jones and Paulhus (2014). The sampling technique used in this study was a saturated sampling technique, namely by taking the entire population of convicts in Tomohon LPKA 2nd grade’s to be the sample (Azwar, 2012). The total sample was 16 convicts. Based on the results of data analysis, there is no significant negative relationship between emotional intelligence and dark triad of personality. This means that when there is an increase or decrease in emotional intelligence, it has nothing to do with an increase or decrease in the dark triad of personality. Therefore, the hypothesis in this study is not accepted. Keywords: Emotional Intelligence, Dark Triad of Personality, Convic
Gambaran Resiliensi Transpuan yang Bekerja sebagai Pekerja Seks di Jakarta
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembentukan resiliensi pada pekerja seks transpuan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan. Partisipan dalam penelitian ini adalah tiga pekerja seks transpuan yang telah sepenuhnya atau sebagian membuka identitas seksualnya pada orang tua. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap-muka secara mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa tantangan hidup mereka yang paling berat adalah memberitahu orang tua mengenai identitas seksual mereka sebagai transpuan dan pekerjaan mereka sebagai pekerja seks yang berpotensi membahayakan kehidupan mereka. Untuk menangani berbagai tantangan tersebut, partisipan mencoba mencari berbagai sumber daya dan kekuatan yang ada dalam diri mereka. Selain itu mereka juga mengandalkan dukungan keluarga dan rekan sebaya di Sanggar SWARA. Keberhasilan membangun daya lenting (resiliensi) dalam dirinya dan menggalang dukungan sosial akan menentukan kesiapan mereka untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut.Kata kunci: Resiliensi, transpuan, pekerja seks, pendekatan fenomenologi Abstract: This study aims to describe resiliency process on male-to-female transgender sex workers. This research employed a phenomenological approached implemented through a qualitative methodology. Participants in this study were 3 MTF female transgender sex workers who had fully or partially disclosed their identities. Data was collected through one-on-one interview. The results indicated that the challenges that all participants had to deal with was disclosing their sexual identity to family members and their commercial sex work that potentially might have life threatening consequences. To resolve those challenges, participants resorted to their inner strength and mobilize external psychosocial support from family members and peer group in the workplace and Sanggar SWARA. Successful attempt in developing inner resilience and social supports would prepare them to deal with life adversities. Keywords: Resiliency, male-to-female transgender, female transgender, sex worker, phenomenological approac
Positive Self-Talk untuk Mengurangi Tingkat Kecemasan Pada Lanjut Usia Dengan Hipertensi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas teknik positive self-talk sebagai strategi dalam mengurangi kecemasan yang dialami orang lanjut usia penderita hipertensi. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 8 orang yang merupakan orang lanjut usia penderita hipertensi dan memiliki skor kecemasan berat yaitu 27 berdasarkan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS). Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan re-treatment (one group pretest and posttest design). Analisis data menggunakan uji statistic non parametric Wilcoxon untuk melihat perbedaan pretest dan posttest dalam menentukan hasil intervensi. Hasil menunjukkan bahwa terjadi penurunan skor tingkat kecemasan yang dialami oleh 8 partisipan, di mana skor kecemasan berada pada kategori sedang. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai Z= -2,536 dengan signifikansi p= 0,011 (p 0,05). Artinya, ada perbedaan yang signifikan antara tingkat kecemasan yang dialami partisipan sebelum dan sesudah proses intervensi. Dengan demikian, partisipan mampu mengubah pemikiran negatif yang irrasional, menjadi pemikiran yang lebih positif.Kata kunci: hipertensi, kecemasan, orang lanjut usia, positive self-talk Abstract: This research aimed to determine the effectiveness of positive self-talk technique as a strategy to reduce anxiety in elderly with hypertension. The participants in this study were 8 elderly having hypertension and severe anxiety symptoms which were indicated by Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) score 27. This research is a experimental study with a re-treatment design treatment (one group pretest and posttest design). The results showed that anxiety level score of the participants had decreased and were in the medium category at the end of the experiment. Data analysis method used were Wilcoxon non- parametric statistical test to examine the differences between pretest and posttest in determining the result of the intervention. The results showed a significant difference (Z=- 2.536, p= 0.011). Therefore, participants were able to change irrational negative thoughts into more positive thoughts. Keywords: anxiety, elderly people, hypertension, positive self-talk
Istriku, Pahlawanku: Dinamika Resiliensi dan Peran Istri dalam Keluarga yang Suaminya Sakit dan Tidak Bisa Bekerja Lagi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan menggali proses resiliensi istri yang suaminya sakit dan tidak bisa bekerja, serta menghadapi peran baru sebagai caregiver dan pencari nafkah tunggal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain fenomenologi. Informan penelitian berjumlah dua orang wanita dewasa madya yang suaminya sakit kronis sehingga mengalami kebutaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa informan memiliki kesadaran, penerimaan, dan komitmen untuk berjuang di awal suaminya sakit. Dalam perjuangannya, terdapat beberapa faktor risiko internal seperti kekhawatiran dan kelelahan dalam bekerja, serta faktor risiko eksternal seperti peran baru sebagai caregiver, pencari nafkah tunggal, kekhawatiran suami, dan prasangka oleh tetangga. Terdapat juga faktor protektif internal berupa ketangguhan yang juga mendukung resiliensi, dan faktor protektif eksternal, yaitu dukungan. Faktor protektif ketangguhan meliputi regulasi emosi, strategi koping, empati; aspek komitmen, seperti membantu orang lain; serta aspek tantangan, seperti tekun dan inisiatif. Informan juga mampu mengintegrasikan proses resiliensi keluarga, bersyukur, dan memiliki kesejahteraan yang baik.Kata kunci: Resiliensi, caregiver, kepuasan pernikahan Abstract: The purpose of this study is to get information about resilience process of wives with sick husband that can’t work, so they have new role as caregiver and become the sole breadwinner. This study used qualitative method with phenomenology design. There are two participants, both are middle adulthood with blind husband because of chronic illness. The result shows that participants have awareness, acceptance, and commitment to struggle in the beginning of their husband’s sickness. In struggle, there are internal risk factors like worries and tiredness at work, and also external risk factors like new role as caregiver, sole breadwinner, husband’s fears, and neighbor’s prejudice. There are also internal protective factors like hardiness which is predict resilience and external defensive factor like support. Hardiness include emotional regulation, coping strategy, and empathy; commitment aspect such as helping others; and challenge aspect such as persevering and initiative. Participants can also integrate the family resilience process, always be graceful, and have a good well-being.Keyword: Resilience, caregiver, marital satisfactio
Meningkatkan Kinerja Penjualan Melalui Optimisime: Kajian tentang Pelatihan Optimisme terhadap Kinerja Penjualan di Perusahaan Fashion Muslim
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sales performance sebelum dan setelah pelatihan optimisme pada karyawan penjualan di PT. “X” Bandung. Jumlah partisipan penelitan sebanyak 11 orang. Desain yang digunakan adalah Single Group Pretest-Posttest Studies dengan analisis data menggunakan uji Wilcoxon sign rank. Alat ukur yang digunakan adalah skala Sales performance yang disusun berdasarkan teori Babakus dkk. (1996). Pelatihan optimisme disusun berdasarkan teori Seligman (1990). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan sales performance, baik secara keseluruhan maupun per dimensi, antara sebelum dan setelah pelatihan optimisme dengan nilai signifikansi sebesar 0,003 (p 0,05). Perbedaan tersebut mengarah pada peningkatan skor sales performance pada masing-masing responden setelah diberikan pelatihan, sehingga dapat dikatakan pelatihan optimisme dapat meningkatkan sales performance karyawan penjualan PT. “X” Bandung. Bagi pihak perusahaan diharapkan memberikan kesempatan karyawan untuk mengembangkan perilaku dan hasil kerja, memberikan review hasil kerja dan umpan balik atas review tersebut.Kata kunci: Optimisme, sales performance, karyawan penjualan Abstract: This study aimed to determine the difference of sales performance before and after optimism training in PT. “X” Bandung. The respondent were 11 salespeople. The design used Single Group Pretest-Posttest Studies with Wilcoxon sign rank Test to analyze data. The instrument used was Sales performance Scale that conducted from Babakus et al. (1996) theory. Optimism training was conducted from Seligman (1990) theory. There was 37 valid items and the reliability coefficient was 0,919. The results showed a difference in sales performance both overall and dimension of sales performance before and after giving optimism training, with the value of signifance was 0,003 (p 0,005). This result means Sales performance increased training. It could be concluded that optimism training can improve sales performance in salespeople at PT. “X’. The company has to provide employees the opportunity to develop behavior and work results, provide a review and feedback of work.Keywords: optimism, sales performance, salespeopl
Successful Aging Lansia yang Tinggal di Panti Wreda: Peran Resiliensi dan Hardiness
Abstrak: Lansia adalah individu yang berada pada tahap akhir rentang hidup manusia yang diharapkan dapat mencapai successful aging, termasuk lansia yang tinggal di panti wreda. Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi successful aging. Dua prediktor penting yang diduga berhubungan dengan successful aging adalah resiliensi dan hardiness. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan apakah resiliensi dan hardiness secara simultan dapat menjadi prediktor succesful aging lansia yang tinggal di panti wreda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan data dikumpulkan dengan menggunakan Skala Successful Aging, Skala CD-RISC, dan Skala Short Hardiness. Partisipan dipilih secara purposive sampling dengan jumlah 26 lansia yang tinggal di Panti Wreda Salatiga. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa successful aging pada lansia dapat diprediksi oleh resiliensi (b=0,498; p0,05) dan hardiness (b=0,477; p0,05) secara simultan. Resiliensi dan hardiness secara simultan merupakan faktor penting untuk mencapai successful aging pada lansia yang tinggal di panti wreda. Implikasi hasil penelitian ini dibahas lebih lanjut oleh peneliti.Kata kunci: Successful aging, resiliensi, hardiness, lansia, panti wreda Abstract: Elderly are the individual who are at the last stage in the human life span who are expected to achieve successful aging, including the elderly who live in nursing home. There are various factors that affect successful aging. Two important predictors that are expected to be associated with successful aging are resilience and hardiness. The purpose of this study was to determine the effect of resilience and hardiness simultaneously to successful aging in elderly who live in nursing home. This study uses a quantitative approach and the data collected using the Successful Aging Scale, CD-RISC Scale, and Short Hardiness Scale. The participants was selected using purposive sampling with a total of 26 elderly who live in nursing home, Salatiga. The collected data were analyzed using multiple regression. The analysis showed that successful aging in the elderly can be predicted by resilience (b=0.498; p0.05) and hardiness (b=0.477; p0.05) simultaneously. The resilience and hardiness simultaneously are important factors to achieve successful aging in elderly who live in nursing home. The implications of the results of this study are discussed further by the researcher.Keywords: Successful aging, resilience, hardiness, elderly, nursing hom
Studi Deskriptif Tentang Dampak Covid-19 Terhadap Psikologis Pada Masyarakat Jambi
Abstrak: Pandemi Covid-19 telah menyebabkan kerugian yang sangat besar. Hal ini juga berdampak pada masalah-masalah psikologis yang dialami oleh masyarakat. Tujuan penelitian untuk mengetahui dampak psikologis Covid-19 pada masyarakat Jambi. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei terbuka. Analisis dilakukan dengan kategorisasi, axial coding, persentase, dan deskripsi. Responden penelitian sebanyak 564, yang merupakan warga Jambi, terdiri dari masyarakat umum, tenaga medis, dan ibu hamil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada beberapa dampak Covid-19 terhadap kondisi psikologis masyarakat Jambi, diantaranya; cemas, stres, takut, perasaan tertekan, dan panik. Beberapa penyebab masyarakat mengalami stres dan masalah psikologis yaitu tidak bisa beraktivitas, pembelajaran terhambat, banyaknya berita hoax, masalah ekonomi, ibadah terganggu, kebosanan, kasus positif meningkat, takut tertular Covid-19, dan tidak bisa refreshing. Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan persepsi terkait isolasi mandiri, kegiatan produktif di rumah, layanan kesehatan mental, tugas Psikolog dalam membantu masyarakat, dan upaya preventif yang dilakukan masyarakat Jambi secara mandiri.Kata Kunci: Dampak psikologis, Covid-19, JambiAbstract: Covid-19 pandemic has caused enormous losses. This also has an impact on the psychological problems. The objective is the psychological impact of Covid-19 on Jambi Society. This research was conducted using an open ended questionnaire, the analysis was done by categorization, axial coding, percentage, and description. The respondents in this study were the people of Jambi Province 564 respondents. This study shows the effects of Covid-19 on people psychologically, specifically anxiety, stress, fear, pressure, and panic. Several things that make the community experience such as psychological problems are incapable of doing daily activities, obstruction of the learning process, the number of hoaxes gets higher, economic problems, interrupted worship activities, boredom, a number of positive Covid-19 cases gets higher, people are also afraid to get contracted by the virus and society is unable to de-stress. Besides this study also revealed the perception such as independent isolation, productive activities at home, mental health services, the task of psychologists in helping the community, and other preventive efforts.Keywords: Psychological impact, Covid-19, Jamb
Pelatihan Empati dan Perilaku Prososial pada Anak Usia Sekolah Dasar
Abstrak: Perilaku prososial mempunyai dampak positif bagi anak-anak. Namun, masih banyak anak usia sekolah belum mengembangkan perilaku prososial. Kajian literatur menunjukkan bahwa perilaku prososial dapat ditingkatkan melalui pelatihan empati. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas pelatihan empati dalam meningkatkan perilaku prososial anak usia sekolah. Riset menggunakan pendekatan eksperimen kuasi atau semu, dengan desain pre-post test. Subjek penelitian terdiri dari 20 anak kelas 5 dari salah satu Sekolah Dasar di Kota Semarang, baik laki-laki maupun perempuan dengan rentang usia antara 10 sampai 12 tahun, dengan taraf intelektual minimal rata-rata. Pelatihan empati dilakukan sebanyak 4 sesi, setiap sesi berlangsung sekitar 2 jam. Sebelum dilakukan pelatihan, orang tua diminta untuk mengisi lembar informed consent yang menyatakan bahwa orang tua menyetujui dan tidak berkeberatan anak-anak mereka dilibatkan dalam penelitian dengan diberikan Pelatihan Empati. Alat ukur yang digunakan adalah tes Coloured Progressive Matrices (CPM), Skala Perilaku Prososial, dan Skala Empati. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang sangat signifikan pada perilaku prososial sebelum dan setelah diberikan pelatihan empati (t = 4,359; p = 0,000). Pelatihan empati efektif meningkatkan perilaku prososial anak usia sekolah.Kata kunci: Anak usia sekolah, pelatihan empati, perilaku prososial Abstract: Prosocial behavior had brought positive impact for children. However, many school-aged children have not developed prosocial behavior. Literature review showed that prosocial behavior could be improved by empathy training. The purpose of this research was to find the effectiveness of empathy training in improving the prosocial behavior of school-aged children in Semarang. The research used quasi-experiment with pre and post test design. The subjects were 20 fifth-grade elementary school children, male and female. The age of the students ranged from 10 years to 12 years old and their level of intellectual ability were at least at average level. Training was conducted for 4 sessions, with 2 hours duration for each session. Prior to the implementation of the study, parents filled out an informed concent stated that they agreed their children participated in empathy training. Instruments used were Coloured Progressive Matrices (CPM), Prosocial Scale, and Empathy Scale. The results showed there was a very significant difference between a child's prosocial behavior score before and after attending empathy training (t = 4,359; p = 0,000). Empathy training effective to improve the prosocial behavior of primary school-aged children.Keywords: Children, empathy training, prosocial behavio