Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi
Not a member yet
190 research outputs found
Sort by
Kepribadian (Big Five Personality) dan Burnout Pada Karyawan Bekerja dari Rumah (Working From Home/WFH) Era Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 membuat seluruh aspek kehidupan mengalami perubahan. Kehidupan pekerjaan juga turut terdampak pandemi. Hal ini membuat pekerja harus menyesuaikan diri dengan aturan-aturan baru. Namun tidak semudah itu menyesuaikan diri. Ada juga yang mengalami kendala dengan perubahaan ini. Penelitian ini ingin menguji perbedaan burnout yang dialami oleh karyawan yang menjalani work from home (WFH) selama pandemi dan burnout yang dialami karyawan karena gaya kerja yang baru. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan dilakukan dengan memberikan skala Maslach Burnout Inventory-General Survey serta skala Big Five Personality (BFI) kepada 154 karyawan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan positif antara beberapa aspek dalam BFI yaitu domain neuroticism dan openess to experience dengan burnout (p=0,000). Sedangkan aspek lainnya menunjukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara extraversion, conscientiousness, dan agreeableness dengan burnout pada karyawan yang menjalani WFH. Hal ini menunjukan bahwa beberapa aspek tipe kepribadian menghasilkan burnout dan beberapa tipe kepribadian tidak menghasilkan burnout
Grit dan Innovative Work Behavior pada Anggota Organisasi Kemahasiswaan pada Masa Pandemi Covid-19
AbstrakAnggota organisasi kemahasiswaan perlu mengembangkan innovative work behavior khususnya pada masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, diperlukan ketekunan dalam menggali ide-ide baru yang merupakan bagian dari grit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keterkaitan antara grit dengan innovative work behavior pada anggota organisasi kemahasiswaan. Partisipan dalam penelitian ini adalah 171 orang mahasiswa anggota organisasi kemahasiswaan di sebuah universitas swasta di Surabaya. Skala dalam penelitian ini adalah 12-Item Grit Scale dan skala innovative work behavior. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grit memiliki hubungan positif yang signifikan dengan innovative work behavior. Perseverance of effort, salah satu dimensi grit, merupakan prediktor yang signifikan bagi innovative work behavior. Hal ini berarti semakin gigih anggota organisasi, maka semakin sering mereka menciptakan, mempromosikan, dan merealisasikan inovasi dalam organisasi.Kata kunci: Grit, Innovative Work Behavior, Organisasi Kemahasiswaan. AbstractMembers of student organizations should have innovative work behavior, particularly during the Covid-19 pandemic. Therefore, they need to show perseverance in developing new ideas, which can be considered a part of grit. This study aimed to examine the relationship between grit and innovative work behavior among members of student organizations. Participants were members of student organizations at a private university in Surabaya. The scales used in the study were the 12-Item Grit Scale and the Innovative Work Behavior Scale. The result showed that grit had a significant positive relationship with innovative work behavior. Perseverance of effort as a dimension of grit was a significant predictor of innovative work behavior. This means that the more persistent the organization members are, the more frequently they generate, promote, and implement innovations in the organization.Keywords: Grit, Innovative Work Behavior, Student Organizations
Gambaran Orientasi Masa Depan Mahasiswa Tingkat Akhir Penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah di Universitas Malikussaleh
AbstrakOrientasi masa depan merupakan kesadaran individu untuk melihat dan menentukan masa depannya, termasuk pada mahasiswa tingkat akhir penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Mahasiswa tingkat akhir penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah, seharusnya sudah dapat menentukan atau setidaknya menemukan gambaran terkait masa depan mereka yang sesuai dengan keinginanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana proses pem-bentukan dan faktor apa saja yang mempengaruhi orientasi masa depan mahasiswa tingkat akhir penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah di Universitas Malikussaleh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Patisipan dalam penelitian ini berjumlah 7 orang dengan rentang usia 20-22 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan orientasi dari ketujuh informan berbeda-beda, hal ini dipengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi orientasi masa depan tiap informan yang juga berbeda-beda. Pada penelitian ini, faktor yang lebih mempengarui orientasi masa depan informan adalah faktor konsep diri dan faktor lingkungan. Dimana, faktor lingkungan yang mempengaruhi adalah dukungan dari orang tua maupun teman terdekat.Kata kunci: Orientasi masa depan, Kartu Indonesia Pintar Kuliah, mahasiswa AbstractFuture orientation is an awareness that individuals have to see and determine their future, including in the final year students who receive the Indonesia Smart College Card. The purpose of this study is to find out how the formation process and factors affect the future orientation of final year students who receiving the Indonesia Smart Card to Study at Malikussaleh University. The method used in this research is descriptive qualitative with sampling using purposive sampling. The participants in this study were 7 people with an age range of 20-22. UniversityThe result of this study is the orientation of the seven subjects are different, this is influenced by factors that affect the future orientation of each subject which is also different. In this study, the factors that are more influential on the subject's future orientation are self-concept factors and environmental factors. Where, the environmental factors that influence are the support of parents and closest friends.Keywords: Future orientation, Indonesian Smart College Cards, student
Pendekatan Mindfulness dalam Menggambarkan Hubungan Rasa Syukur dan Kualitas Hidup pada Orang yang Hidup dengan Lupus
AbstrakLupus (Systemic Lupus Erythematosus) atau SLE adalah penyakit autoimun kronis. Efek psikologisnya antara lain emosi yang tidak stabil, perasaan lemah, putus asa, cemas, takut dan memicu depresi. Intervensi terhadap emosi negatif dapat memperbaiki kondisi kesehatan klien. Salah satu caranya adalah menjaga dan memupuk emosi positif, seperti selalu bersyukur. Rasa syukur diketahui terkait dengan kualitas hidup seseorang. Intervensi mindfulness mampu membantu klien merasa bersyukur. Penelitian kualitatif klinis ini melibatkan tiga partsipan yang mengalami lupus. Mereka diajak berproses dengan melakukan Mindful Breathing, Mindful Gratitude Journal, Walking Meditation, Mindful Eating, Loving Kindness Meditation, dan Body Scan. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan alat diagnostik PANAS, GQ6, EQ-5D-5L dan VAS. Hasil intervensi menunjukkan bahwa ketiga partisipan mengalami peningkatan emosi positif, peningkatan rasa syukur, dan kualitas hidup yang lebih baik, juga membantu partisipan untuk merasa tenang, lebih menerima situasi, dan mampu melihat masalah dari perspektif yang lebih luas dan jelas sehingga mereka dapat mengatasi permasalahan lebih efektif.Kata kunci: Rasa syukur, lupus, mindfulness, kualitas hidup. AbstractSystemic Lupus Erythematosus (SLE) is a chronic auto-immune disease. The psychological effects of SLE include unstable emotions, feeling weak, hopeless, anxious, afraid and can trigger depression. Intervening various negative emotions can bring changes to a better health condition. One way to achieve it is to keep and nurture positive emotions, such as always being grateful. Gratitude is known to be linked to one’s quality of life. One of the ways to generate gratitude is through Mindfulness Intervention. This qualitative clinical qualitative phenomenological study involves three adult participants currently dealing with lupus. They were invited to engaged in various Mindfulness Intervention such Mindful Breathing, Mindful Gratitude Journal, Walking Meditation, Mindful Eating, Loving Kindness Meditation, and Body Scan. Data collection was carried out by interviews using diagnostic instruments PANAS, GQ6, EQ-5D-5L and VAS. The result of the intervention indicated that the three participants had experienced increased positive emotions, increased gratitude and a better quality of life, also helps participants to feeling calm, more receptive to situations, and able to see problems from a broader and clearer perspective so that they can overcome deal with them more effectively.Keywords: Gratitude, lupus, mindfulness, quality of life
Gambaran Work-Life Balance Karyawan Multiple Careers yang Menerapkan Sistem Kerja Remote
AbstrakSaat ini, banyak perusahaan yang menerapkan sistem kerja remote. Sistem kerja ini dimanfaatkan oleh banyak karyawan untuk memiliki lebih dari satu pekerjaan dan disebut dengan istilah multiple careers. Meskipun demikian, sampai saat ini belum ada penelitian yang menggambarkan Work-Life Balance (WLB) pada karyawan yang memiliki multiple careers dan menerapkan sistem kerja remote. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan WLB pada karyawan yang memiliki multiple careers dan menerapkan sistem kerja remote. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan empat informan yang merupakan karyawan dengan multiple careers dan menerapkan sistem kerja remote. Terdapat keunikan pada hasil penelitian yang dapat dilihat dari setiap jawaban informan yang dapat dikelompokan menjadi dua kelompok, yaitu informan yang sudah menikah dan yang belum menikah. Informan yang sudah menikah merasa dapat mengimbangi WLB secara proporsional. Sedangkan, informan yang belum menikah merasa belum dapat mengimbangi WLB secara proporsional. Meskipun demikian, pada akhirnya semua informan mengatakan bahwa mereka senang dengan apa yang mereka jalankan karena adanya support system.Kata kunci: Multiple Careers, Remote Work, Work-Life Balance AbstractMany companies are currently implementing remote working system and this allows employees to have more than one job. For these people, they are referred as employees who are having multiple careers. However, there is not yet a study focussing on these people. Thus, the aim of this current study is to illustrate work-life balance of employees who have multiple careers and working remotely. This research adopts a qualitative approach involving four informants and using thematic analysis. One interesting result shows that married employees with multiple careers are better in balancing in work and life than those who are not. In sum, all participants feel happy about their daily job because of the support system.Keywords: Multiple Careers, Remote Work, Work-Life Balanc
Memelihara Kesehatan Mental Selama Pandemi Covid-19: Rancangan Pengembangan Panduan Pendampingan Psikososial Siswa SMA
AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi psikologis siswa selama pandemi Covid-19 dan sistem pemeliharaan kesehatan mental yang diterapkan di sebuah sekolah di Kota Bandung, serta merekomendasikan alternatif rancangan untuk pengembangan panduan pendampingan psikososial. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed method dengan pendekatan sequential explanatory. Subjek dalam penelitian ini adalah 66 siswa SMA dari beberapa sekolah di kota Bandung. Analisis data kuantitatif diolah dengan metode deskriptif, dan data kualitatif dianalisis dengan menggunakan metode naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami gejala depresi dan kecemasan dari tingkat ringan hingga berat selama pandemi. Sistem pemeliharan kesehatan mental siswa yang ada di sekolah belum optimal melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) dan belum menjangkau pemeliharaan kesehatan mental siswa di seluruh tingkat kelas. Oleh karena itu, peneliti merekomendasikan rancangan pengembangan psychological support management system untuk memelihara kesehatan mental siswa selama pandemi. Implikasi penelitian dijelaskan pada bagian pembahasan.Kata kunci: Kesehatan Mental, Siswa, Pendampingan Psikososial AbstractThe research aims to describe students’ psychological states during the Covid-19 pandemic and the maintenance of current mental health system in school. There is an alternative recommendation for psychosocial support regarding the students’ issues in the research. The method used is a mixed-method with a sequential explanatory approach. The main subject of research includes 66 high school students in Bandung. Quantitative data analysis was obtained using a descriptive method and qualitative data was analyzed using a narrative method. As a result, some students got depressed and experienced different levels during the pandemic. The system applied in school only reached several stakeholders. They did not implement the students’ mental health maintenance in every grade level. Therefore, we recommend developing a psychological support management system guideline to maintain students’ mental health. An implication of the research has been explained further in the discussion.Keywords: Mental Health, Psychosocial Support, Student
Pelatihan Daring untuk Mengurangi Perilaku Prokrastinasi Akademik Selama Pandemi COVID-19 pada Siswa SMP Laki-Laki
Salah satu cara untuk menekan laju penularan virus COVID-19 adalah dengan memindahkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Pemberlakuan PJJ, meski memiliki berbagai keuntungan, namun juga mempengaruhi performa akademik siswa, salah satunya perilaku prokrastinasi. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah pelatihan daring kelompok berbasis Cognitive Behavior Therapy dapat secara efektif mengurangi perilaku prokrastinasi pada siswa, khususnya siswa SMP laki-laki. Terdapat 4 partisipan (usia 12–14 tahun) yang mengikuti pelatihan ini. Pemilihan partisipan secara accidental sampling, lalu diseleksi yang memiliki skor Irrational Procrastination Scale (IPS) di kategori ’tinggi’ untuk dapat mengikuti pelatihan. Mereka mengikuti 7 sesi pelatihan daring yang setiap sesinya berdurasi 50–70 menit. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif quasi-eksperimen dengan pengambilan data dilakukan pada saat pre-test, post-test, dan follow up (sebulan setelah pelatihan selesai dilakukan). Data kemudian dianalisis menggunakan Friedman’s Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kelompok berbasis CBT daring secara signifikan dapat membantu siswa SMP laki-laki mengurangi perilaku prokrastinasi (ꭓ22= 6,53, p 0,05)
Integrasi Teknik Centering dan Empty Chair untuk Meningkatkan Kemampuan Regulasi Emosi pada Individu dengan Sindrom Asperger
AbstrakPenelitian ini bertujuan menguji teknik centering dan empty chair yang diintegrasikan untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi pada individu dengan Sindrom Asperger (SA). Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan subjek seorang laki-laki berusia 24 tahun yang memiliki Sindrom Asperger. Subjek mengalami kesulitan dalam mengelola berbagai emosi yang intens dirasakan, diantaranya marah, sedih, dan cemas. Subjek juga menunjukkan gejala depresi, kecemasan, dan distress yang signifikan. Peneliti menggunakan teknik centering dan empty chair secara terintegrasi. Centering dilaksanakan sebanyak 4 sesi dan empty chair sebanyak 2 sesi dalam kurun waktu 6 minggu (1 sesi tiap minggu). Secara kuantitatif, skor depresi, kecemasan, dan distress subjek mengalami penurunan. Adapun berdasarkan feedback dari subjek, centering dirasa membantu subjek untuk meregulasi emosinya dan meningkatkan penerimaan terhadap kondisi saat ini. Empty chair membantu subjek untuk mengekspresikan emosi dan melakukan resolusi konflik secara lebih adaptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa teknik centering dan empty chair efektif untuk meningkatkan kemampuan regulasi emosi pada subjek penelitian yang memiliki SA.Kata kunci: Centering, Empty Chair, Sindrom Asperger AbstractThis study aims to exam integrated centering and empty chair techniques to improve emotion regulation capabilities in individuals with Asperger Syndrome. The study used a case study method with the subject of a 24-year-old man with Asperger Syndrome. Subject had difficulty managing various intense emotions, including anger, sadness, and anxiety. Subject also showed significant symptoms of depression, anxiety, and distress. Researchers used integrated centering and empty chair techniques. Centering was held as many as 4 sessions and empty chair as many as 2 sessions within a period of 6 weeks (1 session per week). Quantitatively, the subject' depression, anxiety, and distress scores decreased. Based on feedback from the subject, centering helped him regulate his emotions and increase acceptance of the current condition. Empty chairs could help the subject express emotions and perform conflict resolution more adaptively. These results show that the centering and empty chair techniques are effective in improving emotional regulation abilities in subject with Asperger Syndrome.Keywords: Centering, Empty Chair, Asperger Syndrom
Development and Validation of Psychological Fitness to Drive Scale for Filipinos
AbstractRoad transportation for Filipinos is a daily task that subjects an individual to risks and dangers, leading to damages and deaths annually, this leads to developing and validating a Psychological Fitness to Drive Scale for Filipinos (PFDSF) to assess Filipino drivers’ mental readiness and save lives. Via test development, 154 items were generated after a rigorous process of conceptualization and item generation from pre-survey, interviews, and related literature with English and Filipino test booklets as delivered to 102 participants for pilot testing. Online field testing was delivered due to the COVID-19 pandemic. About 463 samples went through a series of factor analyses to determine the existing factors and retain highly relevant items, resulting in two factors namely, Risky Driving Behavior (RDB) with 50 items (α=0.968), and Responsible and Safe Mobility (RSM) having 22 items (α=0.915), for a total of 72 items. PFDSF was found to be psychometrically sound with validity in its content, construct, factors, and high reliability (α=0.967). Future researchers are invited to use the scale and explore other areas for utility with specific population, age, gender, exploration of a social desirability factor, further strengthening of its criterion, convergent and divergent validity considering computer-assisted online version its localization to different major dialects.Keywords: Psychological fitness to drive, test development and validation, Filipino drivers, road safety and traffic psycholog
Gambaran Resiliensi Perempuan Penyintas Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan terhadap perempuan adalah tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan terjadi di lingkungan rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga adalah perilaku yang dipelajari mencakup perbuatan, perkataan kasar kepada seseorang dengan adanya unsur ancaman, kekuatan, kekerasan fisik, seksual, ekonomi, emosional dan lisan. Responden dalam penelitian ini berjumlah empat orang penyintas yang direkomendasikan oleh lembaga bantuan hukum yang berfokus pada penanganan kasus terhadap perempuan dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran resiliensi pada perempuan penyintas kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini diambil dengan teknik observasi dan wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa resiliensi muncul sebagai interaksi antara faktor risiko dan faktor protektif. Keempat responden mampu resilien dengan mengoptimalkan aspek dukungan sosial dan kemampuan adaptasi yang baik terhadap masalah yang dihadapi. Faktor protektif yang dimiliki oleh responden adalah hubungan yang dilandasi kepercayaan, tanggung jawab, inisiatif, pengembangan keterampilan diri, dan kemantapan identitas. Penelitian ini memiliki kebaruan terkait perspektif informan yang berasal dari pendamping perempuan korban kekerasan domestik