Psikodimensia: Kajian Ilmiah Psikologi
Not a member yet
190 research outputs found
Sort by
Perbedaan Kelelahan Emosional Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Status Perkawinan pada Pengajar di Sekolah Kristen
Pengajar memiliki peran yang beragam, yaitu sebagai rekan kerja, administrator, siswa, dan orang tua. Terlebih lagi pengajar di Sekolah Kristen diharapkan menjadi panutan bagi siswa dalam menerapkan nilai-nilai Kristiani. Beban kerja dan tantangan yang dihadapi oleh pengajar dapat mengakibatkan stress. Stress yang tidak terselesaikan dapat terakumulasi menjadi kelelahan emosional. Laki-laki dan perempuan merespon dan menerapkan strategi yang berbeda ketika menghadapi masalah. Juga, terdapat dukungan sosial yang berbeda pada pengajar yang telah menikah dan belum menikah. Penelitian ini ingin menguji perbedaan kelelahan emosional yang ditinjau dari jenis kelamin dan status pernikahan pengajar di Sekolah Kristen. Penelitian ini menggunakan Maslach Burnout Inventory dimensi kelelahan emosional kepada 102 pengajar di Sekolah Kristen, berdomisili di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kelelahan emosional yang signifikan antara pengajar laki-laki dan perempuan (p = 0,409), serta pengajar yang telah menikah dan belum menikah (p = 0.766). Hal ini mengindikasikan bahwa pengajar laki-laki dan perempuan memiliki tingkat kelelahan emosional yang serupa, begitu pula pengajar dengan status perkawinan telah menikah dan belum menikah
Analisis Fenomenologi Interpretatif tentang Motivasi menjadi Pendeta pada Penyandang Disabilitas
Setiap orang mempunyai motivasi yang unik, termasuk dalam diri seorang penyandang disabilitas fisik yang mempunyai motivasi menjadi pendeta. Umumnya, pendeta digambarkan sebagai sosok yang bekerja berdasarkan citra dan fungsi yang cekatan, sedangkan insan dengan disabilitas fisik tidak mempunyai karakteristik itu sepenuhnya. Adapun penelitian-penelitian yang berbicara tentang disabilitas dari sudut pandang psikologis dalam konteks Kristen sungguh jarang dilakukan di Indonesia. Untuk mengisi kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengalaman seorang partisipan penyandang disabilitas fisik yang memiliki motivasi menjadi pendeta di masa depan. Metode penelitian ini ialah kualitatif dengan studi kasus sebagai desainnya dan fenomenologi sebagai tipenya. Peneliti mengumpulkan data dengan wawancara semi-terstruktur dan menganalisisnya dengan pendekatan analisis fenomenologi interpretatif (AFI). Peneliti menunjukkan tiga kategori berupa tema, yakni pengalaman sebagai insan dengan disabilitas, makna mengenai Tuhan, dan motivasi menjadi pendeta. Pengalaman hidup partisipan mencerminkan aspek mental, sosial, dan spiritual. Dedikasi partisipan tampak pada tujuan untuk melayani Tuhan dengan menjadi pendeta di masa depan. Dia memahami bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang dan menyadari bahwa dirinya sebagai pribadi yang berharga. Perilaku partisipan menggambarkan alasan mengenai otonomi, kompetensi, dan keterkaitan
Hubungan Kepribadian Hardiness dan Dukungan Sosial Keluarga terhadap Resiliensi pada Individu Terdampak Covid-19 di Semarang
Kasus covid-19 semakin meningkat di Indonesia mengakibatkan pemerintah membuat sebuah kebijakan untuk mengurangi penyebaran virus covid-19 di berbagai daerah. Hal tersebut mengakibatkan beberapa sektor industri, transportasi, dan jasa terkena dampak dari kebijakan tersebut. Gelombang PHK dan merumahkan sebagian karyawan dilakukan untuk mengurangi kerugian yang dialami oleh perusahaan. Akibatnya, individu rentan mengalami permasalahan psikologis, sehingga dibutuhkan resiliensi sebagai faktor protektif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kepribadian hardiness dan dukungan sosial keluarga terhadap resiliensi pada individu terdampak covid-19 di Semarang. Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 139 orang yang diambil menggunakan teknik sampel asidental. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan CD-RISC 25, skala kepribadian hardiness dan skala dukungan sosial keluarga. Metode analisis data menggunakan analisis regresi berganda dan korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara kepribadian hardiness dan dukungan sosial keluarga terhadap resiliensi pada individu terdampak covid-19 di Semarang. Hasil peneitian juga menunjukkan terdapat hubungan antara kepribadian hardiness dengan resiliensi pada individu terdampak covid-19 di Semarang dan terdapat hubungan antara dukungan sosial keluarga dengan resiliensi pada individu terdampak covid-19 di Semarang
Gambaran Tingkat Kepatuhan Pada Karyawan Instalasi Gizi Rumah Sakit X Terhadap Program Service Excellence
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kepatuhan karyawan instalasi gizi rumah sakit X terhadap program service excellence. Metode yang digunakan adalah mix-method dengan pendekatan sequential design strategi explanatory. Sebanyak 20 karyawan instalasi gizi rumah sakit X dijadikan sebagai partisipan penelitian dengan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengukuran penelitian kuesioner menggunakan skala kepatuhan Blass (1999) (α = 0,929) dan item wawancara didasarkan pada aspek kepatuhan Blass (1999). Metode analisis data kuantitatif menggunakan uji analisis deskriptif dan analisis kualitatif menggunakan analisis hasil transkrip wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan karyawan instalasi gizi berada pada kategori sedang dengan persentase 65%. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan instalasi gizi sudah mulai patuh pada peraturan walaupun belum maksimal. Implikasi dari penelitian ini adalah perlu adanya usaha untuk meningkatkan kepatuhan pada karyawan instalasi gizi terhadap program service excellence agar mampu memberikan pelayanan yang maksimal. Penelitian yang akan datang, hendaknya bisa mengembangkan penelitian dengan mencari faktor yang berhubungan dengan kepatuhan seseorang terhadap suatu peraturan.
Identifikasi Tahap-tahap Help-Seeking Behavior pada Mahasiswa Jurusan Non-Kesehatan
Peningkatan permasalahan kesehatan mental pada mahasiswa semakin meningkat dewasa ini, sehingga perlu adanya kesadaran untuk mencari bantuan psikologis. Namun, help-seeking behavior ini seringkali terhambat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tahap-tahap dan faktor penghambat help-seeking behavior pada mahasiswa jurusan non-kesehatan di Universitas X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian case study. Proses pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan teknik pengumpulan data berupa ‘open-ended questionnaire’ serta wawancara dan dianalisis dengan teknik thematic analysis. Penelitian ini mengidentifikasi 4 tahap utama help-seeking behavior, yaitu tahap pre help-seeking behavior, decision, help-seeking behavior, dan tahap pasca help-seeking behavior. Faktor-faktor penghambat dalam mencari bantuan antara lain kecenderungan untuk mengatasi masalah sendiri, rasa takut akan hasil diagnosa profesional, rasa sungkan terhadap sumber bantuan, stigma negatif dari orang lain, dan pengalaman negatif terhadap sumber bantuan. Faktor pendukung help seeking behavior berupa pengalaman positif sebelumnya, kemudahan mencari bantuan, dan kenyamanan terhadap sumber bantuan. Saran praktis dari penelitian ini adalah mempromosikan layanan konseling secara lebih positif kepada mahasiswa
Studi Pendahuluan: Gambaran Dukungan Sosial dan Dampak Gejala Fibromyalgia pada Kualitas Hidup Penyintas Sindrom Fibromyalgia di Indonesia
Penelitian ini mengukur bagaimana gejala fibromyalgia memengaruhi kehidupan sehari-hari penyintas, serta menggambarkan dukungan sosial yang tersedia dan dampak gejala pada kualitas hidup penyintas fibromyalgia di Indonesia. Nyeri pada fibromyalgia didefinisikan sebagai nyeri yang menyebar, persisten, dan sensasi terbakar yang intens; mengakibatkan pengurangan kemampuan fungsional, berubah seiring waktu, dan dipersepsikan secara berbeda oleh setiap individu (Biccheri et al., 2016). Partisipan berjumlah 17 orang berusia 23-71 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata dampak gejala pada kualitas hidup yang dialami oleh partisipan penelitian termasuk dalam kategori sedang (M=113.82), dan rata-rata penyintas memiliki dukungan sosial yang sedang (M=65.76) serta jumlah kerabat dekat sedikit (M=5.18). Penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengidentifikasi aspek kepercayaan kepada orang terdekat yang berperan dalam dukungan sosial penyintas. Kualitas hidup perlu difokuskan sebagai masalah psikososial yang paling menonjol pada kesehatan penyintas
Digital Literacy and Growth Mindset to Predict Technology Acceptance During Learning Processes
Covid-19 pandemic had impacted the urgency of using digital learning technology. Literature studies showed that teachers needed Digital Literacy and Growth Mindset to accept the new technology used. This study examined the contribution of the Digital Literacy and Growth Mindset in predicting the usage of Learning Management Systems (LMS). Respondents of this study were 60 lecturers in one university in Jakarta, where the LMS has been developed to be used in their learning and teaching processes. They were consented to become subjects of the study. Data were collected using questionnaire and analyzed by multiple regression. Results of this study indicated that Digital Literacy and Growth Mindset simultaneously had a significant contribution to the effective usage of LMS (R2=0.419, F (2) = 20.545, p0.05). This research also showed that Digital Literacy had contributed more than the Growth Mindset (β=0.406 β=0.295). In facing the digital learning transformation during the pandemic time, collaboration is needed from all important actors in the education sector, such as lecturers, universities, and students, to support the development of a better digital learning ecosystem. It is suggested to upscale the study to generate the hypothesis that Digital Literacy is truly a critical aspect to be studied in this digital learning technology acceleration era
Subjective Well-Being dan Religiusitas Pada Karyawan Swasta Sektor Non-Esensial Kota Salatiga di Masa Pandemi
Pandemi COVID-19 mengubah banyak hal termasuk cara hidup banyak orang, terkhusus pada sektor-sektor non-esensial yang menjadi pemasok produk supplementary yang mendapat pukulan yang berat. Dengan adanya fakta ini maka hal ini akan berdampak terhadap Subjective Well-Being (SWB) dari pegawai. Penelitian ini akan menganalisis mengenai SWB dan religiusitas pegawai swasta sektor non-esensial di daerah Salatiga dan sekitarnya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengambilan data dilaksanakan dengan wawancara mendalam, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif. Hasil wawancara dan juga observasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa para pekerja sektor non-esensial yang masih bekerja memiliki ketakutan, yang ketakutan ini didasarkan pada pengalaman mereka di mana terdapat perubahan kondisi secara tiba-tiba seperti misalnya dirumahkan hingga diberhentikan. Meskipun mereka ketakutan namun mereka tetap optimis dan berpengharapan sesuai dengan ajaran agamanya. Berdasarkan dari penelitian ini didapati religiusitas individu dan SWB memiliki kaitan satu dengan yang lainnya
Correlation Between Emotion Regulation And Self-Harm Tendencies in College Students
The individual's inability to solve problems causes distress, leading to negative emotions or affect. Some of the negative feelings that college students experience are, for example, working excessively, smoking, drinking alcoholic beverages, consuming drugs, or self-harming. College students should be able to make problem-solving plans correctly based on problem-solving steps and evaluate themselves to relevant arguments in solving problems. At least college students do not do self-harm behavior as a coping in their lives because students are judged to be able to think well in dealing with the problems they face. The purpose of this study was to determine the relationship between emotion regulation and self-harm tendencies in college students. This research method uses a quantitative approach to the type of correlational research. Sampling in this study used an incidental sampling technique. The subjects of this study were college students who were active in learning at the University of Muhammadiyah Banjarmasin, with as many as 312 subjects. The scale used in this study is the emotion regulation scale and the self-harm tendencies scale, with the scaling model being the Rating scale. The results of this study show that there is a negative and significant relationship between emotion regulation and self-harm tendencies in college students, with a coefficient (r) of -232 and a value (Sign.) of 0.000. This means if the emotional regulation is higher, the self-harm tendencies are lower. Meanwhile, emotional regulation is insufficient, and self-harm tendencies are higher
Kepuasan Hidup dan Flourishing pada Karyawan Tambang
Pertambangan merupakan bidang pekerjaan yang terdengar menjanjikan. Namun, pada pertambangan juga terdapat risiko yang sangat besar. Risiko yang ada dapat menjadi penyebab kekhawatiran dan berdampak pada proses individu untuk flourish. Selain itu, lingkungan kerja yang penuh aturan, jam kerja yang padat akan berdampak pada kepuasan hidup individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kepuasan hidup terhadap flourishing. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimen dengan pendekatan korelasional pada karyawan pertambangan berjumlah 292 orang. Skala yang digunakan adalah Satisfaction with Life Scale dan Flourishing Scale. Analisis dilakukan dengan regresi linear sederhana dan hasil menunjukkan bahwa kepuasan hidup berkorelasi positif dengan flourishing (R=0,626; p0,01) dan memberikan pengaruh sebesar 44,1%. Artinya, untuk dapat flourish individu perlu untuk puas terhadap hidupny