Farabi (E-Journal)
Not a member yet
136 research outputs found
Sort by
HERMENEUTIKA HADIS KEBEBASAN WANITA PERSPEKTIF ABU SYUQQAH
This paper presents a hermeneutic tradition of a thinker and former Egyptian political activists - Abu Syuqqah- on the liberation of women in the book of Tahrir al Mar`\u27ah fi \u27Ashri al-Risalah. A study of the book is considered important and useful for the development of scientific traditions. Also provide answers to how the hermeneutic aspects in the book. Then the principles of hermeneutics anything contained therein. Abu Syuqqah desire to overcome problems of the people in his day to do the rereading of the hadiths used scholars highly textual. Therefore, he tries to give an understanding of a hadith by looking at the context and contextual text. So get a deeper understanding relevant. The hermeneutical traditions offered by Abu Syuqqah about freedom, women not only look at the text of the hadith alone but he is very attention to aspects outside the text like attention to psychological, social, historical, and educational aspects of women, so it is really understood how the text of the hadith then see the historical context and the contextual meaning of the hadith see the woman at this time.Tulisan ini menyajikan hermeneutika hadis salah seorang pemikir dan mantan aktivis politik asal Mesir - Abu Syuqqah- tentang kebebasan wanita dalam buku Tahrīr al Mar`’ah Fī ‘ashri al-Risālah. Penelitian terhadap buku ini dipandang penting dan bermanfaat bagi perkembangan keilmuan hadis. Juga memberi jawaban bagaimana aspek hermeneutik dalam kitab tersebut. Kemudian prinsip-prinsip hermeneutik apa saja yang terdapat di dalamnya. Abu Syuqqah berkeinginan mengatasi problematika umat di zamannya dengan melakukan pembacaan ulang terhadap hadis-hadis yang digunakan ulama-ulama yang sangat tekstualis. Oleh sebab itu, beliau mencoba memberikan pemahaman atas sebuah hadis dengan melihat teks-konteks dan kontekstual. Sehingga mendapatkan pemahaman yang lebih relevan. Adapun hermeneutika hadis yang ditawarkan oleh Abu Syuqqah tentang kebebasan wanita tidak hanya melihat teks hadis saja melainkan beliau sangat memperhatikan aspek di luar teks seperti memperhatikan psikologi, sosial, sejarah, dan aspek pendidikan wanita, sehingga benar-benar di pahami bagaimana teks hadis tersebut kemudian melihat konteks sejarah dan kontektual hadis tersebut artinya melihat wanita pada saat ini
REKONSTRUKSI MAKNA SUNNAH PERSPEKTIF MUHAMMAD SYAHRUR
Shahrur distinguish between traditions to the Sunnah, because the Sunnah is a practical application (ijtihad) of the Prophet in embody divine treatise that revealed to him, while the tradition is a form of ijtihad Prophet verbalization. Shahrur Sunnah split into two, the Sunnah and the Sunnah Nabawiyya Rasuliyyah. Shahrur does not deny the existence of traditions as long as it is authentic, but he stressed the need for classification in accordance with the position of the Prophet\u27s hadith, namely: as human beings, as a prophet, and as an apostle. The concept of Sunnah and Hadith classification offered by Shahrur actually not an idea that is really new, because there are some similarities with some of the previous figures. However, there is its own peculiarities that characterize the concept of Sunnah initiated by Shahrur, among which are the classifications made always followed by clear indicators, so the concept is applicable and systematic.Syahrur membedakan antara hadis dengan Sunnah, sebab Sunnah adalah aplikasi praktis (ijtihad) Nabi dalam mengejawantahkan risalah ilahi yang diturunkan kepadanya, sedangkan hadis adalah bentuk verbalisasi dari ijtihad Nabi. Syahrur membagi Sunnah menjadi dua, yaitu Sunnah Rasuliyyah dan Sunnah Nabawiyyah. Syahrur tidak menafikan keberadaan hadis-hadis selama itu otentik, namun dia menekankan perlunya klasifikasi hadis sesuai dengan posisi Nabi, yaitu: sebagai manusia biasa, sebagai Nabi, dan sebagai Rasul. Konsep Sunnah maupun klasifikasi hadis yang ditawarkan Syahrur sejatinya bukanlah sebuah gagasan yang benar-benar baru, sebab terdapat beberapa kesamaan dengan beberapa tokoh sebelumnya. Namun, terdapat kekhasan tersendiri yang mewarnai konsep Sunnah yang digagas oleh Syahrur, di antaranya adalah klasifikasi-klasifikasi yang dibuatnya selalu diikuti dengan indikator yang jelas, sehingga konsep tersebut lebih aplikatif dan sistematis
INTERPRETASI AL-QUR’AN–HADIS TERHADAP MUNCULNYA GERAKAN KAUM JIHADIS
Al-Qur\u27an and Hadith as a guidance of Muslims was interpreted by Muslims with a various perspectives. However, the rise of radical action in religion wich of carry the name of Islam as a "mount" make Islam suspected and discredited by the International public. Jihadisoften use religious arguments from the Qur\u27an and the Hadith of the Prophet, as a legitimation to their actions including efforts to invite people to follow in their footsteps. This paper will explain how the interpretation of the Qur\u27an - Hadith among Muslims, especially the concept of jihad which raises the jihadis movement and how the meaning of jihad in Islam itself. Here the authors conclude that jihad is not only meaningful war, but to work and fight for the good conscientious. This meaning has long existed, but ditertutupi by the actions of the Jihadists.Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman umat Islam diinterpretasikan oleh umat Islam dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Akan tetapi, maraknya tindakan radikalisme agama yang membawa nama Islam sebagai “tunggangannya” membuat Islam dicurigai dan disudutkan oleh dunia internasional. Kaum Jihadis kerap kali menggunakan dalil-dalil agama dari al-Qur’an maupun hadis Nabi, sebagai legitimasi terhadap tindakan mereka termasuk dalam upaya mengajak umat untuk mengikuti jejak langkah mereka. Tulisan ini akan menjelaskan bagaimana interpretasi al-Qur’an-hadis di kalangan umat Islam khususnya mengenai konsep jihad sehingga memunculkan gerakan jihad dan bagaimana makna jihad itu sendiri dalam Islam. Di sini penulis menyimpulkan bahwa Jihad bukan hanya bermakna perang, tetapi bekerja dan berjuang untuk kebaikan secara bersungguh-sungguh. Makna ini sudah lama ada, namun ditertutupi oleh aksi-aksi kaum Jihadis
Perkembangan Kepribadian Secara Spiritual dalam Perspektif Bediuzzaman Said Nursi
In the perspective of humanistic psychology, personality development is implemented through self-actualization and peak experiences. Self-actualization is a form of actualizing one\u27s passion in line with expectations and potential. While the peak experience is the culmination of the development of man himself when he has found himself at the peak of development using the entire faculty. For humanistic psychology, the whole development of the human personality rests on the willingness of a person itself and has nothing to do with religion or God. In this context, Said Nursi presents a different perspective. According to Nursi, the development of human personality have to rely on the realm of faith in God. Because faith is a sacred relationship between man and God that became the basis of his spiritual personality development. Similarly, because the human being as a comprehensive mirror that can reflect names of God, the spiritual development of the human personality can be actualized with names of God manifestation. Therefore, this article discusses the development of personality in perspective Said Nursi, which is based on the Quran and Sunnah.Dalam perspektif psikologi humanistik, perkembangan kepribadian diimplementasikan melalui aktualisasi diri dan pengalaman puncak. Aktualisasi diri merupakan wujud aktualisasi gairah seseorang yang sesuai dengan harapan dan potensinya. Sementara pengalaman puncak merupakan kulminasi perkembangan diri seorang manusia ketika ia telah menemukan puncak perkembangan dirinya dengan menggunakan seluruh fakultasnya. Bagi psikologi humanistik, seluruh perkembangan kepribadian manusia berpijak pada kemauan seseorang itu sendiri dan tidak ada hubungannya dengan suatu agama atau Tuhan. Dalam konteks ini, Said Nursi menyuguhkan perspektif yang berbeda. Menurut Nursi, perkembangan kepribadian manusia harus bersandar pada ranah keimanan kepada Tuhan. Sebab keimanan merupakan sebuah hubungan sakral antara seorang manusia dengan Tuhannya yang menjadi basis perkembangan kepribadian spiritualnya. Demikian pula, karena manusia sebagai cermin komprehensif yang mampu merefleksikan asma-asma Tuhan, maka perkembangan kepribadian manusia secara spiritual dapat diaktualisasikan dengan memanifestasikan asma-asma Tuhan tersebut. Karena itu, artikel ini membahas perkembangan kepribadian dalam perspektif Said Nursi yang berlandaskan Al-Quran dan Sunnah
SEJARAH TEKS AL-QUR’AN: Studi atas Pemikiran John Wansbrough
The history of the Qur’an is not only intended to illustrate the process of memorizing, recording, collecting Qur\u27an in chronological order, but more important is the placement of such material as an argument to prove the genuineness and authenticity of the Qur\u27an. Is there any guarantee that the verses of the Quran does not change in any process that elapsed before recorded in Mushaf Utsmani?. This statement was expressed by John Wansbrough criticize the history of the Qur\u27anic text. assurance of God in keterpeliharaannya, many opportunities that enable change. Initial recording of the companions of the Qur’an in the form of remembering, of course, is still questionable, because of forgetfulness possessed by humans. Thus they create a record then used as the basis for unification, there may be a doubt for reasons of simplicity existing stationery. On the basis of all the opponents of the Qur\u27an does not stop doubting the authenticity and originality of the Qur\u27an.Sejarah mushaf al-Qur’an tidak semata-mata dimaksudkan untuk memaparkan proses penghafalan, pencatatan, pengumpulan, dan pembukuan al-Qur’an secara kronologis, akan tetapi yang lebih penting adalah peletakan materi tersebut sebagai argumen untuk membuktikan keaslian dan keautentikan al-Qur’an. Apakah ada jaminan bahwa ayat-ayat al-Qur’an tidak mengalami perubahan dalam setiap proses yang dilalui sebelum dibukukan dalam satu mushaf (mushaf utsmani)?. Pernyataan inilah yang dilontarkan oleh John Wansbrough dalam mengkritisi sejarah teks al-Qur’an. Terlepas dari jaminan Allah atas keterpeliharaannya, kiranya pertanyaan ini patut diajukan karena dalam perjalanannya menembus masa, banyak peluang yang memungkinkan terjadi perubahan. Rekaman awal al-Qur’an para sahabat dalam bentuk hafalan, tentu saja tetap dapat dipertanyakan, karena sifat pelupa yang dimiliki oleh manusia. Demikian juga catatan yang mereka buat yang kemudian dijadikan basis unifikasi, kemungkinan dapat diragukan dengan alasan kesederhanaan alat tulis-menulis yang ada, di samping sistem tulis menulis itu sendiri belum dikenal secara lugas. Atas dasar semua ini para penentang al-Qur’an tidak berhenti meragukan autentisitas dan orisinalitas al-Qur’an
KONSEP “AL-FASL” DAN “AL-WASL” ABID AL-JABIRI DAN APLIKASINYA PADA AYAT HIJAB
Understanding the verses of the Koran must always be done to realizeKorans}ha>lih likulli al-zama>n wa al-maka>n. In the contemporary era, many scholars who appears and offers a variety of methodologies to understand the verses of the Koran. One of them wasA>bid al-Ja>biri. He offered the concept of al-Fas}l and al-Was}l. Construction al-Fas}l(فصل المقروء عن القارئ) is performed in order to obtain the original meaning of the verses of the Koran. Its steps consist of: a) Analysis of the text include the analysis horizon ما فى النص and ما حول النص, and b) Analysis mufassir’s horizon that includes experience, knowledge, tradition, and the context or reality. As for the construction of al-Was}l(إلى الواقع وصل القارئ) is to connect the text in the time down to the needs of the present. A>bid al-Ja>biri\u27s offer will be applied to the verses that talk about the h}ija>b in order to see the extent of his methodology can be used to obtain a contextual understanding of the verses of Koran.Memahami ayat-ayat al-Qur’a>n harus selalu diupayakan demi mewujudkan al-Qur’a>n Shalih li kulli zaman wa makan. Di era kontemporer ini banyak cendekiawan muslim yang muncul dan menawarkan beragam metodologi untuk memahami ayat-ayat al-Qur’a>n. Salah satunya adalah A>bid al-Ja>biri>. Adapun metodologi yang ditawarkannya adalah konsep al-Fas}l dan al-Was}l. Konstruksi al-Fas}l (فصل المقروء عن القارئ) dilakukan dalam rangka mendapatkan makna asal ayat. Adapun langkah-langkahnya terdiri dari: a) Analisis horizon teks meliputi analisis ما فى النص dan ما حول النص, dan b) Analisis horizon mufassir yang meliputi experience, knowledge, tradition, dan context atau realita. Adapun konstruksi al-Was}l( إلى الواقعوصل القارئ) adalah mengaitkan teks pada masa turun dengan kebutuhan masa kini. Tawaran A>bid al-Ja>biri akan diterapkan pada ayat yang berbicara tentang h}ija>b guna melihat sejauh mana metodologinya bisa digunakan untuk mendapatkan pemahaman kontekstual ayat
HERMENEUTIKA OTENTISITAS HADIS M. MUSTOFA AZAMI
This article discusses Azami criticism to Ignaz Gholziher and Joseph Schacht. The author tries to integrate the relations of hermeneutics as a solution to solve the issues of Hadith authenticity, and its interconnected to psychology, that Azami position when criticizing the Orientalists, Joseph Schacht, based on the flow of his thought of isnaad. Then in reviewing hermeneutics, in general there are three dominant element is the relationship between (author), Text (text) and readers (reader). So the results of this analysis, the author is orientalist, Joseph Schacht Ignaz Goldziher. The Text is orientalist books, thoughts, opinions or their theories, in this case Joseph Schacht. The reader is referred Azami. The discovery of the authors that position Azami criticism included are the internal and external criticism, namely external criticism Azami focus lies in criticism of the Orientalists, he criticized Joseph from isnaad. And internal criticism, plays on historiography, he criticized the use of sciences related to hadith, such as ‘Ilm Tadwin al-Hadith, ‘Ilm Rijal al-Hadith, ‘Ilm Jarh wa ta\u27dil, Ulum al-Hadith, ‘Ilm al-Fiqh.Dalam tulisan ini dikaji Kritik Azami terhadap kedua orientalis yaitu Ignaz Gholziher dan Joseph Schacht. Penulis mencoba mengintegrasikan bagaimana hubungan hermeneutika sebagai solusi untuk memecahkan isu-isu otentisitas Hadis, dan aplikasi interkoneksinya seperti ilmu psikologi, bahwa posisi Azami ketika mengkritik terhadap orientalis yaitu Joseph, ia melihat berdasarkan alur pemikiran isnadnya. Kemudian dalam mengkaji hermeneutika, secara garis besar ada tiga unsur yang dominan yaitu hubungan antara (author), teks (text) dan pembaca (reader). Maka hasil dari analisis ini, author adalah orientalis yaitu Joseph Schacht, Ignaz Goldziher yang mana textnya adalah buku-buku orientalis, pemikiran, pendapat atau teori orientalis dalam hal ini Joseph Schacht, yang dimaksud reader adalah Azami. Penemuan penulis bahwa posisi kritik Azami termasuk berada dalam kritik internal dan eksternal, yaitu fokus kritik eksternal Azami terletak pada kritik terhadap orientalis, ia mengkritik Joseph dari isnadnya. Dan kritik internal, berposisi pada historiografi, ia mengkritik menggunakan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadis, seperti ilmu tadwin al-hadis, ilmu rijalul hadis, ilmu jar wata’dil, Ilmu Hadis, ilmu Fiqih
REVITALISASI AYAT-AYAT PERDAMAIAN DALAM MEMBENDUNG ARUS SEKTARIANISME
This paper proves that religion has been remain as a source of peace and compassion. The conflict that occur it’s influenced by their interpretational politic of textually religious doctrine with no any integration to the social and community context. The strategy to meet peaceful-state conception and religious law committed by Islamic leaders endorsed the archipelago with Pancasila as the state’s foundation. The accomodative constitution it’s basically implemented by the mutual agreement on the same area with no-sectarian action to defending the state with the Medina Charter as well as the first moslem’s communities has been done. The pattern of the radical Islamic movement\u27s understanding of the nature of transnational normally associated with the evidence there is no law except from God and those who use the law apart from God is a kafir. Violence in the name of religion that still bloom occurred in Indonesia indicated that the attitude and behaviour of most community Indonesia no longer in accordance with the principles of Pancasila. Society tends to choose violence or strong penalties in the face of difference. This research use approach to conflict theory and the theory of social identity in analyzing potential deviants in society.Tulisan ini membuktikan bahwa agama tetap menjadi sumber perdamaian dan kasih sayang. Konflik yang terjadi dipengaruhi adanya politik penafsiran terhadap doktrin agama secara tekstual, tanpa adanya integrasi dengan konteks sosial dan kemasyarakatan. Strategi mempertemukan antara konsepsi negara damai dengan hukum agama dilakukan oleh para ulama Islam Nusantara dengan mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara. Konstitusi yang bersifat akomodatif dilakukan atas dasar kesepakatan bersama atas wilayah yang sama tanpa adanya sektarian dalam aksi bela negara sebagaimana telah dilakukan masyarakat muslim awal dengan adanya Piagam Madinah
Kekuatan dan Kelemahan Tafsir Al-Qur’an bi Al-Sunnah
Tafsir al-Qur\u27an bi al-Sunnah as part of tafsir bi al-ma\u27thur has an important position in the process of understanding the meanings of the Qur\u27an. Despite the differences in defining the meaning of the Sunnah or Hadith, the Muslim scholars (Ulama) placed this interpretations as the most authoritative interpretation among other interpretation models. There are two forms of the Qur\u27an bi al-Sunnah tafsir as described Abdullah Saeed: verbatim (direct) and fi\u27li (deeds, indirect). However, as a form of tradition-based interpretation, such interpretation is considered less has shortcomings in its limitations in reaching many contemporary problems. That\u27s because not all the verses of the Koran described directly by the Prophet Muhammad. Herein lies the urgency of developing ijtihad so that the verses of the Koran that can still be understood better by staying pivot on the explanation of the Prophet Muhammad or the verses of the Koran more.Tafsir al-Qur’an bi al-Sunnah sebagai bagian dari tafsir bi al-ma’thur memiliki posisi penting dalam proses memahami makna-makna al-Qur’an. Meski terjadi perbedaan dalam mendefinisikan makna Sunnah, para ulama’ memposisikan penafsiran model ini sebagai tafsir yang paling otoritatif di antara tafsir-tafsir yang lain. Ada dua bentuk tafsir al-Qur’an bi al-Sunnah seperti yang dijelaskan Abdullah Saeed: secara verbatim (direct) dan secara fi’li (perbuatan, indirect). Namun sebagai bentuk penafsiran yang tradition based, tafsir seperti ini dianggap kurang memiliki kekurangan pada keterbatasannya dalam menjangkau banyak masalah kontemporer. Hal itu karena tidak semua ayat-ayat al-Qur’an dijelaskan secara langsung oleh Nabi Muhammad Saw. Di sinilah letak urgensi pengembangan ijtihad agar ayat-ayat al-Qur’an itu tetap bisa dipahami secara baik dengan tetap berporos pada penjelasan yang dilakukan Nabi Muhammad Saw atau ayat-ayat al-Qur’an lainnya
PARADIGMA RESOLUSI KONFLIK DAN STUDI AGAMA DALAM PEMIKIRAN AMIN ABDULLAH
Tulisan ini hendak menjelaskan melihat bagaimana paradigma resolusi konflik dan studi agama dalam perspektif Amin Abdullah. Pada pembahasan pertama, penulis menjelaskan pengertian resolusi konflik dan perkembangan studi agama-agama. Pada pembahasan kedua, penulis menjelaskan paradigma resolusi konflik dalam perspektif Amin Abdullah. Pada pembahasan ketiga, penulis akan mengkaji paradigma studi agama dalam perspektif. Amin Abdullah. Kesimpulan dalam tulisan ini bahwa paradigma resolusi konflik dan studi agama yang ditawarkan oleh Amin Abdullah, berawal dari kegelisahan akademik beliau ketika melihat pemahaman keagamaan yang terlalu kaku dan cendrung terjebak pada intepretasi skriptual-tekstual. Menurut pendapat penulis, yang diinginkan oleh. Amin Abdullah berkaitan dengan wacana multikultur, dan pluralisme, harus menjadi pandangan dunia bagi para pemimpin agama ketika menjadi pelayan umat di ranah publik.Tulisan ini hendak menjelaskan melihat bagaimana paradigma resolusi konflik dan studi agama dalam perspektif Amin Abdullah. Pada pembahasan pertama, penulis menjelaskan pengertian resolusi konflik dan perkembangan studi agama-agama. Pada pembahasan kedua, penulis menjelaskan paradigma resolusi konflik dalam perspektif Amin Abdullah. Pada pembahasan ketiga, penulis akan mengkaji paradigma studi agama dalam perspektif. Amin Abdullah. Kesimpulan dalam tulisan ini bahwa paradigma resolusi konflik dan studi agama yang ditawarkan oleh Amin Abdullah, berawal dari kegelisahan akademik beliau ketika melihat pemahaman keagamaan yang terlalu kaku dan cendrung terjebak pada intepretasi skriptual-tekstual. Menurut pendapat penulis, yang diinginkan oleh. Amin Abdullah berkaitan dengan wacana multikultur, dan pluralisme, harus menjadi pandangan dunia bagi para pemimpin agama ketika menjadi pelayan umat di ranah publik