Farabi (E-Journal)
Not a member yet
136 research outputs found
Sort by
Metodologi Penafsiran Tartib Nuzuli al-Jabiri
This article talks on interpretation methodologhy of tarti>b nuzu>li used by al-Jabiri for understanding al-Qur’an. Al-Jabiri offers new interpretation methodology, tarti>b nuzu>li , for criticizing, completing, and developing previous interpretations which are considered having political, ideoligical motivation, and many importances; and unable to answer many developing modern problems. There are two steps done; He reconstructs definition of al-Qur’an by self referencial and constructs sistematicly methodologycal of al-Qur’an interpretation. They are fas}l al-maqru>’ ‘an al-Qa>ri’ and was}l al-qa>ri’ bi al-maqru>’ whose purposes make al-Qur’an modern for its self (mu’a>s}ra>n li nafsihi> ) and modern for us (mu’a>s}ira>n lana> ). So, the jargon of “s}a>lih} li kulli zama>n wa al-maka>n” can be really applicated without forgetting the authentication of al-Qur’an.Artikel ini berbicara tentang metodologi penafsiran tarti>b nuzu>li yang digunakan oleh al-Jabiri untuk memahami al-Qur’an. Al-Jabiri menawarkan metodologi interpretasi baru, tarti>b nuzu>li, untuk mengkritisi, melengkapi, dan membangun penafsiran sebelumnya yang dianggap memiliki motivasi politik dan ideologi, serta hal-hal penting lain; dan bisa untuk menjawab perkembangan masalah-masalah modern. Ada dua tahapan yang dilakukan; Dia merekonstruksi definisi al-Qur’an dengan merujuk ke al-Qur’an itu sendiri dan membangun metodologi yang sistematik untuk tafsir al-Qur’an, yaitu: fas}l al-maqru>’ ‘an al-Qa>ri’ dan was}l al-qa>ri’ bi al-maqru>’ yang memiliki tujuan memodernkan al-Qur’an itu sendiri (mu’a>s}ra>n li nafsihi> ) dan modern juga bagi kita (mu’a>s}ira>n lana> ). Dengan itu jargon “s}a>lih} li kulli zama>n wa al-maka>n” dapat benar-benar diaplikasikan tanpa melupakan otentisitas al-Qur’an itu sendiri
Relevansi Anarki Epistemologis Paul Fayerabend Bagi Studi Agama
The development of science is a complex process of individual creativity. Because of that science should not be described or regulated by any form of regulation or legal system. To resist attempts to curb the science in formal and rigid forms, Paul Feyerabend offers two things, namely that replicates the principles and the principle of anything goes. The principle of the development means, we do not work in a system of thought life forms and the single institutional framework. Instead, we should put pluralism as a theory and methodology, systems of thought and forms of life within the institutional framework. And the principle of freedom anything goes (anything goes), means freeing all forms of a trip is, without much bound by a system. Feyerabend thought it quite well practiced in religious studies because they could create an understanding that is not stuck to the approach dogmatic and ideological. The plurality of approaches when assessing religions is richness to create a wide variety of religious studies approaches.Perkembangan ilmu pengetahuan merupakan proses kreativitas individual yang kompleks. Karena itu ilmu pengetahuan tidak boleh diterangkan atau pun diatur oleh segala macam bentuk peraturan maupun sistem hukum yang berlaku. Untuk melawan upaya mengkooptasikan ilmu pengetahuan dalam bentuk-bentuk baku yang formal dan rigid, Paul Fayerabend menawarkan dua hal, yaitu prinsip pengembangbiakkan dan prinsip apa saja boleh. Prinsip pengembangan maksudnya, kita tidak bekerja dalam suatu sistem pemikiran bentuk-bentuk kehidupan dan kerangka institusional yang tunggal. Tetapi sebaliknya, kita seharusnya menempatkan pluralisme sebuah teori dan metodologi, sistem-sistem pemikiran dan bentuk-bentuk kehidupan dalam kerangka institusional. Dan Prinsip kebebasan apa saja boleh (anything goes), maksudnya membebaskan segala bentuk sebuah perjalanan apa adanya, dengan tanpa banyak terikat oleh sebuah sistem. Pemikiran Fayerabend ini cukup baik dipraktikkan dalam studi agama karena dapat melahirkan pemahaman yang tidak terjebak pada pendekatan yang bersifat dogmatis dan ideologis. Pluralitas dalam berbagai pendekatan ketika mengkaji agama merupakan kekayaan tersendiri untuk menciptakan berbagai macam pendekatan studi agama
Revitalisasi Fungsi Teologi Islam dalam Konteks Multikultural Perspektif Fethullah Gulen
This article describes on the neccesity of renewal Islamic theology within context of pluralism and multiculturalism society. One of the contemporary Muslim scholars, Fethullah Gulen, could be considered among the most influential Muslim theologians of our time. His work focus on redefining the nature of Islamic discourse in the contemporary world by doing interreligious and intercultural dialogue. Nowdays, we need to shift our paradigm from classical kalam which dogmatic, abstract, and exclusive to more practical theology based on contemporary life needs, which is called “social theology”. Gulen’s theological discourse distinguished for his support of democracy, humanism, openness to globalization, progressiveness in integrating tradition with modernity, and to make sense of pluralistic-piety.Artikel ini menjelaskan tentang kebutuhan pada pembaharuan teoloi Islam dalam konteks masyarakat plural dan multikulturalisme. Salah seorang cendekiawan Muslim kontemporer, Fethullah Gulen, dapat dipertimbangkan satu diantara banyak teologian Muslim berpengaruh di era saat ini. Karyanya berfokus pada upaya pendefinisian ulang wacana keislaman di dunia kontemporer dengan melakukan dialog antaragama dan antarkebudayaan. Hari ini kita membutuhkan perubahan paradigma kita dari teologi klasik yang dogmatik, abstrak dan eksklusif, kepada teologi praktis yang berbasis pada kebutuhan hidup kontemporer, atau yang biasa disebut “teologi sosial”.Wacana teologi Gulen berbeda dengan yang lainnya karena dia mendukung demokrasi, humanisme, keterbukaan pada globalisasi, progresivitas dalam mengintegrasikan tradisi dengan modernitas, dan pemahaman pada kesalehan yan plural
Dissecting the Tahāfut Al-Falāsifah as the Critism of Ghazali Against the Muslim’s Philosopy
This research is the study of library research which raised the criticism of al-Ghazālī against the muslim philosophers in Tahāfut al-Falāsifah. And in this paper there are two questions; first, what is the purpose of al-Ghazālī in writing the Tahāfut al-Falāsifah? Second, Is it true that this work is representation of the conflict between philosophy and dogma; between revelation and the ratio; or between orthodoxy and heterodoxy. By using historical and content analysis to elucidate the criticism of al-Ghazālī against the muslim philosophers in Tahāfut al-Falāsifah. Then, the results of this research are, first al-Ghazālī wrote the Tahafut to do contestation against epistemology philosophical superiority claims, which was directed to their conclusions, instead of questioning the validity of logic as philosophical reasoning methodology. Second, the critism of al-Ghazālī cannot be seen as a reaction of orthodoxy or dogma against the philosophy. He should be viewed as a muslim scholar who has an important role in the naturalization of greek philosophical tradition and its adaptation to the building of islamic thought.Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan yang membahas kritik al-Ghazali terhadap filosof Muslim dalam Tahafut al-Falasifah. Ada dua pertanyaan yang dibahas dalam artikel ini: Pertama, Apa tujuan al-Ghazali dalam tulisannya di Tahafut al-Falasifah? Kedua, apakah benar hal itu merepresentasikan konflik antara filsafat dan dogma agama; antara wahyu dan akal; atau antara ortodoksi dan heterodoksi. Dengan menggunakan analisis historis dan analisis isi, artikel ini akan memaparkan kritik al-Ghazali terhadap filosof muslim dalam Tahafut al-Falasifah. Hasil penelitian ini adalah, pertama tulisan al-Ghazali dalam Tahaut merupakan kontestasi melawan klaim superioritas epistemologi filsafat, yang mana tampak langsung dari kesimpulan mereka, daripada mempertanyakan validitas logis metodologi filsafat. Kedua, kritik al-Ghazali tidak bisa dilihat sebagai sebuah reaksi ortodoksi atau dogma melawan filsafat. Dia seharusnya dilihat sebagai cendekiawan muslim yang memiliki peran penting dalam menaturalisasikan tradisi filsafat Yunana dan mengadaptasikannya ke dalam bangunan filsafat Islam
Mendamaikan Logika Normativitas dan Historisitas dalam Studi Agama
The dissent among the internal and external of religious communities essentially not because the divergence of religious concept. It appears because different methodology and logical thinking among the intellectuals that influence the people in vast dimensions. The differences of logical thingking will impact the different product of thought and religious activities. Among others is the different of normativity and historicity methods and logical thinking. Throughout the course of history, both logic collide each other. So the effort to integrate this both logic absolutely necessary for the advancement of development of religious studies in the futurePerbedaan antara intra dan umat beraama secara esensi tidak disebabkan oleh perbedaan konsep keagamaan. Hal itu terjadi karena perbedaan metodologi dan logika berfikir di antara intelektualnya yang memperngaruhi masyarakat luas. Perbedaan cara berfikir akan berdampak pada perbedaan produk pemikiran dan aktivitas keagamaan, di antaranya adalah perbedaan antara metode normativitas dan historiritas dan logika pemikiran. Melalui kajian historis, keduanya saling bertabrakan. Karenanya upaya untuk mengintegrasikan kedua pemikiran itu mutlak dibutuhkan untuk pengembangan lebih lanjut kajian keagamaan di masa depan
Penguatan Nilai-Nilai Pluralisme dalam Pola Relasi Sosial
Indonesia is a pluralistic and multicultural nation. Mutliculturalism in Indonesia is characterized by the recognition of religious diversity. Therefore, differences are owned by Indonesia is a realistic conception that should continue in the wake and be empowered, as a reinforcement to the life and well-being for the people of Indonesia are harmonious and dynamic. The purpose of this study was to describe the strengthening of the values of pluralism and describe and understand the relationship pattern social conducted by the government, religious and community leaders in the prevention of the onset of horizontal conflict. This research was conducted with qualitative research using describtive approach, which describes the results of research appropriate to the purpose of research and followed by data analysis to obtain relevant and accurate data. Techniques of data collection are done by using literature review that support in answering this research problem. Horizontal conflict handling quite restrained and well. Aspects of tolerance have an important role of cooperation between the government and the religious leaders to support the acceleration of meaning and substance tolerance transformed into social life, so that conflicts can be avoided with a pattern horizontally comprehensively realization.Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan multikultural. Mutlikulturalisme bangsa Indonesia ditandai oleh diakuinya keberagaman agama di Indonesia. Oleh karena itu, berbagai perbedaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan konsepsi realistis yang harus terus dibangun dan diberdayakan, sebagai penguatan terhadap kehidupan dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia yang harmonis dan dinamis. Tujuan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan penguatan nilai-nilai pluralisme dan mendeskripsikan serta memahami pola relasi sosial yang dilakukan oleh pemerintah, tokoh agama dan masyarakat dalam melakukan pencegahan terhadap timbulnya konflik horizontal. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yaitu mendeskripsikan hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian dan diikuti oleh analisis data untuk mendapat data yang relevan dan akurat. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kajian pustaka.Penanganan konflik horizontal cukup terkendali dan baik. Aspek toleransi mempunyai peran penting dari kerjasama pemerintah dan para tokoh agama untuk mendukung akselerasi dari makna dan substansi toleransi yang ditransformasikan ke kehidupan sosial kemasyarakatan, sehingga konflik secara horizontal dapat dihindarkan dengan pola relasi secara komprehensif
Konstruksi Ilmu Ma’ani al-Hadis Kaum Kontekstualis
Understanding the hadith is the most important step after examing its authenticity. The aim of this paper is to explain the development history of ma’ani> al-h}adi>s\ and to analyze the comtemporary methods from five thinkers namely: Fazlur Rahman, Yusuf Qardhawi, Muhammad al-Ghazali, Syuhudi Ismail and Khaled M. Abou El Fadl. This concludes that the prosess of understanding hadis (ma’ani> al-h}adi>s\) has been developed by many Islamic scholars from classical era to contemporary era. Analyzing the ways of ma’a>ni al-h}adi>s\of five thinkers above, are able to be classified into three steps; analyzing the text, historical context (micro and macro-asba>b al-wuru>d), and applying in reader’s context.Memahami hadis menjadi tahapan yang sangat penting setelah menguji otentisitasnya. Tujuan tulisan ini adalah menjelaskan sejarah perkembangan ma’ani> al-h}adi>s\ dan untuk menganalisis metode-metode kontemporer dari lima pemikir; yaitu Fazlur Rahman, Yusuf Qardhawi, Muhammad al-Ghazali; Syuhudi Ismail; dan Khaled M Abou El Fadl. Dapat disimpulkan bahwa proses pemahaman hadis (ma’ani> al-h}adi>s\) telah dikembangkan oleh banyak pemikir muslim sejak era klasik hingga era kontemporer. Analisis terhadap cara-cara pemahaman terhadap hadis oleh kelima pemikir ternama di atas, dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tahap; analisis teks, konteks historis (asbab al-nuzul mikro dan makro), dan aplikasinya dalam konteks sang pembaca
Filsafat Eksistensialisme dan Format Epistemologi Kajian Islam
Existentialism philosophy of looking at things based on the existence or how humans are in the world . Etymologically derived from the word existentialism copies, meaning outside, andand a meaningful existence stand or place , so widespread existence can be interpreted as a stand alone as himself as well as out of him .In general meaning , humans in existence it was aware that he was there and everything is determined by the existence he admits. Islam is not a religion of one-dimensional. Nor is religion based solely on human institutions and limited to the relationship between man and God. Up to understand it is not enough just to a single method .Rather it requires human freedom in view of other methods. Departing from these freedoms least epistemology format Islamic studies as a form of independence awoke thinking.Because, for freedom of thought is a study which occupies an important position . Islam in this case have a clear concept , universal and tested . Islam\u27s relationship with the independence of thinking.Filsafat eksistensialisme memandang segala sesuatu berdasarkan eksistensinya atau bagaimana manusia berada dalam dunia. Secara etimologi eksistensialisme berasal dari kata eks yang artinya luar, dan sistensi yang berarti berdiri atau menempatkan, jadi secara luas eksistensi dapat diartikan sebagai berdiri sendiri sebagai dirinya sekaligus keluar dari dirinya. Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaanya di tentukan oleh akunya. Islam bukan merupakan agama satu dimensi. Bukan pula agama yang semata-mata berdasarkan institusi manusia dan terbatas pada hubungan antara manusia dan Tuhan saja. Hingga untuk memahaminya tidak cukup hanya dengan sebuah metode saja. Melainkan membutuhkan kebebasan manusia dalam melihat metode yang lain. Berangkat dari kebebasan tersebut setidaknya format epistemologi kajian Islam terbangun sebagai wujud kemerdekaan berfikir. Sebab, selama ini kemerdekaan berfikir merupakan kajian yang menempati posisi penting. Islam dalam hal ini memiliki konsep yang jelas, universal dan teruji. Hubungan Islam dengan kemerdekaan berfikir berlangsung dalam bentuk yang khas. Islam memberi tempat dan al-Qur\u27an sebagai sumber ajaran menegakkan kemerdekaan berfikir
PLURALITAS AGAMA (Tinjauan atas Hubungan Islam- Kristen)
Tantangan teologis paling besar dalam kehidupan beragama sekarang ini yang dihadapi orang-orang beriman di tengah kenyataan pluralisme agama dewasa ini adalah bagaimana suatu teologi dari suatu agama mendefinisikan dirinya di tengah agama-agama lain. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa, pada umumnya kaum beriman berpikir dengan double standars (standar ganda); agama kita adalah yang paling sejati dan berasal dari Tuhan, sedangkan agama lain hanya konstruksi manusia, atau mungkin juga berasal dari Tuhan tetapi dipalsukan oleh manusia. Sejarah mencatat bagaimana standar ganda ini telah melahirkan suasana saling curiga di antara umat manusia atas nama Tuhan. Agama tampaknya selalu hadir dalam wajah ganda, ambivalensi yang sulit diurai dan dimengerti lebih-lebih bila penganutnya menempatkan diri sebagai aktor dalam setiap konflik yang terjadi.
 
Media dan Perubahan Sosial Budaya
The media plays an important role in the process of socio-cultural change in the community. With the support of technology, media has helped to break the distance between macro-social and micro-social also between macro-cultural and micro-cultural. Media brings the themes of the public to the private sphere where it entered and affected by the condition, orientation and local customs. This paper attempts to examine how the role of the media in the process of social and cultural changes in society. It can be concluded, that the role of the media lies in the ability to embed the pictures in our heads, underlie responsiveness and public attitudes toward various social objects.Media memainkan peran penting dalam proses perubahan sosial-budaya dalam masyarakat. Dengan dukungan teknologi, media telah membantu mematahkan jarak antara makrososial dan mikrososial juga antara makrobudaya dan mikrobudaya. Media membawa tema-tema publik ke dalam lingkungan privat tempat ia memasuki dan dipengaruhi oleh kondisi, orientasi dan kebiasaan lokal. Tulisan ini mencoba mengkaji bagaimana peran media dalam proses perubahan sosial dan budaya di masyarakat. Dapat disimpulkan, peran tersebut terletak pada kemampuan media dalam menanamkan the pictures in our heads, mendasari respon dan sikap khalayak terhadap berbagai obyek sosial