Farabi (E-Journal)
Not a member yet
136 research outputs found
Sort by
KETIDAKADILAN GENDER PUTUSAN IZIN POLIGAMI: (STUDI PUTUSAN PENGADILAN AGAMA LIMBOTO TAHUN 2013-2016)
Artikel ini menggambarkan tentang ketidakadilan Gender putusan hakim di Pengadilan Agama Limboto dalam mengadili permohonan izin poligami. Izin poligami yang kerap kali dilakukan oleh suami dengan menuangkan dalil-dalil dalam permohonannya, sehingga ini harus dipertanggungjawabkan oleh suami dihadapan persidangan. Pada saat mengadili izin poligami, hakim dengan kewenangannya menuangkan argumentasi hukumnya dalam menolak ataupun mengabulkan dalam pertimbangan-pertimbangan hukumnya. Sehingga nuansa keadilan harus dihadirkan dalam rumusan-rumusan pertimbangan hukum oleh hakim, agar mampu menangkap isu-isu yang berkembang saat ini salah satunya ketidakadilan gender terhadap perempuan dari sisi stereotipi jender, subordinasi, marjinalisasi, beban kerja berlipat dan kekerasan (violence).
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis empiris, Penelitian yuridis adalah suatu penelitian hukum terhadap aturan-aturan, norma, dan asas-asas hukum, termasuk pula doktrin-doktrin hukum yang berkembang dan relevan dengan tema penelitian), dengan menggunaka pendekatan perundangundangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach). Dan empiris melalui proses wawancara, observasi, dokumentasi, pengolahan dan analisis data, sehingga memperoleh gambaran tentang putusan poligami, yaitu dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu membangun hukum yang lebih berkeadilan jender.
Bahwa berdasarkan hasil penelitian ini, banyak ditemukan adanya bias jender dalam putusan izin poligami. Diterima dan ditolaknya permohonan izin poligami lebih pada pemenuhan syarat alternatif dan kumulatif yang diatur dalam Undang-Undang Perkawinan, sehingga dibutuhkan lagi pendidikan Gender bagi hakim untuk memformulasi hukum yang mengedepankan keadilan terhadap perempuan
Khazanah Tafsir Nusantara: Telaah atas Tafsīr Al-Bayān Karya TM. Hasbi Ash-Shiddieqy
Tulisan ini ingin memperkenalkan salah satu khazanah tafsir di Nusantara. Walau Indonesia dilihat dari sisi geografisnya jauh dari pusat Islam—dengan tidak mengatakan Islam Indonesia sebagai Islam pinggiran, akan tetapi ulama-ulama dan karya-karya yang muncul ternyata tidak kalah kualitasnya dengan karya-karya yang muncul dibelahan bumi Timur Tengah. Akan tetapi harus diakui bahwa sampai saat ini mainstream Timur Tengah masih melekat dalam karya-karya tafsir yang muncul di Indonesia, termasuk di dalamnya Tafsīr al-Bayān sendiri.
Penerapan metodologi penafsiran, corak tafsir, model atau pola penafsiran, ternyata masih mengikuti gaya yang berkembang di Timur Tengah khususnya di Mesir. Meskipun begitu keunikan Tafsīr al-Bayān adalah mencoba mendialogkan antara teks al-Qur‟an dengan kondisi umat Islam saat tafsir ini ditulis. Dengan pola ini, nampaknya Hasbi Ash-Shiddieqy berkeinginan agar tafsir ini dapat mampu memberikan solusi atau respon terhadap permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam di Indonesia. Dari sinilah maka tafsir Tafsīr al-Bayān bisa dimasukkan sebagai katagori tafsir modern di Indonesia
Politik Keagamaan Kolonial: Diskontinuitas dan Kontinuitas di Indonesia
Tujuan dari penjajahan Belanda ke Indonesia pertama kalinya adalah menguasai perdagangan rempah-rempah di dunia. Hal seperti ini bisa dilihat dari pembentukan VOC untuk mengorganisir perdangangan rempah-rempah di Indonesia. Keterkaitan dengan gerakan keagamaan di Indonesia, bisa dilihat dari awal kedatangan C. Snouck Hurgroje di Indonesia. Menurut pengamatan C. Snouck Hurgroje, Indonesia menghasilkan beberapa pengumpulan data mengenai pranata-pranata Muhammadan di Hindia Timur yang akan diusahaknya akan bermanfaat bagi Pemerintah Pusat. Dengan semakin lama Belanda menjajah Indonesia, pemerintah Hindia Belanda menghasilkan kebijakan politik etis yang tujuanya adalah untuk menghasilkan pegawai yang bisa mengabdi kepada Hindia Belanda. Kolonialisme yang di gagas oleh pemerintah Jepang justru memberikan perhatian yang lebih terhadap perkembangan Islam di Indonesia, dengan memberikan peranan sosial dan politik yang penting kepada para pemimpin Islam melalui lembaga yang disebutnya Shummukd (Seksi Urusan Keagamaan) yang didirikan di setiap karisidena
Metode Penyusunan Kitab Tahzib Al-Tahzib Ibnu Hajar Al-Asqalani
Penelitian sanad dalam hadis merupakan salah satu aspek yang penting, selain penelitian matan. Dari sisi sanad misalnya ada yang disebut dengan ilm jarh wa al-ta’dil. Ilm jarh wa al-ta’dil memiliki pengertian ilmu yang mengkaji rawi dari segi kualitasnya. Salah satu kitab yang sering digunakan dalam mengkaji kualitas rawi adalah kitab tahzib al-tahzib karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Dinamakan tahzib karena kitab ini berisi ringkasan dari kitab Tahzib al-Kamal karya al-Mizzi. Tulisan ini membahas tentang kitab Tahzib al-Tahzib karya Ibnu Hajar al-Asqalani.Penelitian sanad dalam hadis merupakan salah satu aspek yang penting, selain penelitian matan. Dari sisi sanad misalnya ada yang disebut dengan ilm jarh wa al-ta’dil. Ilm jarh wa al-ta’dil memiliki pengertian ilmu yang mengkaji rawi dari segi kualitasnya. Salah satu kitab yang sering digunakan dalam mengkaji kualitas rawi adalah kitab tahzib al-tahzib karya Ibnu Hajar al-Asqalani. Dinamakan tahzib karena kitab ini berisi ringkasan dari kitab Tahzib al-Kamal karya al-Mizzi. Tulisan ini membahas tentang kitab Tahzib al-Tahzib karya Ibnu Hajar al-Asqalan
Pembaharuan dalam Tasawuf: (Studi Terhadap Konsep Neo-Sufisme Fazlurrahman)
Fazlur Rahman sesungguhnya menghendaki agar umat Islam mampu melakukan tawazun (keseimbangan) antara pemenuhan kepentingan akhirat dan kepentingan dunia, serta umat Islam harus mampu memformulasikan ajaran Islam dalam kehidupan sosial. Kebangkitan kembali tasawuf di dunia Islam dengan istilah baru yaitu neo-sufisme nampaknya tidak boleh dipisahkan dari apa yang disebut sebagai kebangkitan agama. Kebangkitan ini juga adalah lanjutan kepada penolakan terhadap kepercayaan yang berlebihan kepada sains dan teknologi selaku produk dari era modenisme. Modernisme telah dinilai gagal memberikan kehidupan yang bermakna kepada manusia. Oleh karena itu, manusia telah kembali kepada nilai-nilai keagamaan karena salah satu fungsi agama adalah memberikan makna bagi kehidupan. Demikianlah, era post-modernisme yang dibelenggu dengan bermacam-macam krisis yang semakin parah dalam berbagai aspek kehidupan. Akhlak masyarakat semakin buruk dan kejahatan semakin banyak. Kebangkitan nilai-nilai keagamaan tidak salah lagi telah menggerakkan kembali upaya menghidupkan karya-karya klasik dengan pendekatan baru termasuk juga dalam bidang tasawuf. Karya-karya dalam bidang tasawuf yang dihasilkan oleh penulis kontemporer seperti al-Taftazani menunjukkan adanya garis lurus untuk menegaskan kembali bahwa tradisi tasawuf tidak pernah lepas dari akar Islam. Ini menunjukkan bahwa kebangkitan tasawuf kontemporer ditandai dengan pendekatan yang sangat pesat antara spiritualisme tasawuf dengan konsep-konsep Syariah. Tasawuf yang dianut dan dikembangkan oleh sufi kontemporer nampaknya berbeda dari sufisme yang difahami oleh kebanyakan orang selama ini yaitu sufisme yang hampir lepas dari akarnya (Islam), cenderung bersifat memisah atau eksklusif. Menurut mereka, sufisme yang berkembang kebelakangan ini, sebagaimana dinyatakan oleh Akhbar S Ahmed, pasca- modernisme membawa kita kepada kesadaran betapa pentingnya nilai keagamaan dan keperluan terhadap toleransi serta perlunya memahami orang lain yang semuanya terdapat dalam neosufisme
Epistemologi Pendidikan Islam Perspektif Abuddin Nata
Epistemologi pendidikan Islam Abuddin Nata mengandung muatan humanis yaitu sebuah rumusan pendidikan Islam yang memaksimalkan potensi dan kemampuan akal manusia sebagai makhluk yang sempurna dengan tetap bersandar dan berpijak pada al-Qur‟an dan Sunnah. Pola pendidikan Islam yang humanis tersebut menghendaki pola theo-antropho- centries yaitu memadukan usaha manusia dengan izin dan kehendak Allah swt. Selain itu, Abuddin Nata menginginkan sebuah model pendidikan Islam yaitu pendidikan Islam yang integralistik-konvergensi. Pendidikan Islam integralistik-konvergensi yang dimaksud adalah keterpaduan dan kesatuan antara konsep al-Qur‟an dan Sunnah dengan konteks keindonesiaan sehingga mengarah pada satu tujuan mewujudkan kehidupan yang madani
AHMADIYAH DALAM ISLAM: (Studi Keagamaan di Kota Gorontalo)
Tulisan ini menampilkan suatu kajian keagamaan yang berfokus pada kasus Ahmadiyah di Kota Gorontalo. Meskipun Ahmadiyah ditentang keberadaannya di berbagai wilayah di Indonesia dan bahkan ditetapkan sebagai sesat dan dilarang oleh Majelis Ulama Indonesia, namun faktanya jamaah Ahmadiyah masih eksis di beberapa wilayah di Indonesia termasuk Gorontalo.
Masih eksisnya jamaah Ahmadiyah tersebut disebabkan kemampuan jamaah tersebut menyembunyikan paham dan ajarannya di tengah masyarakat yang dipastikan akan menolak keberadaan mereka. Terlepas dari sejarah kelahiran Ahmadiyah yang masih diperdebatkan hingga saat ini, keberadaan Ahmadiyah sekali lagi membuktikan bahwa meskipun berasal dari satu sumber yang sama, tafsir dan bentuk keberagamaan ditemukan sangat variatif. masing-masing tafsir pun akan mengklaim bahwa tafsirnyalah yang paling benar.
Hal ini berdampak pada intoleransi yang menjadi fakta pahit di Indonesia. Sehingga pada kondisi inilah umat Islam ditantang untuk dapat bertoleransi terhadap aneka perbedaan paham dan ajaran tentang Islam. Moderasi dalam beragama dinilai menjadi salah satu alternatif untuk menjadikan perbedaan dalam banyak hal tentang agama itu menjadi seperti pelangi yang indah
ISLAM DAN INDONESIA MODERN DALAM PERSPEKTIF TEOLOGI INKLUSIF NURCHOLIS MADJID
Cak Nur\u27s thought in theological matters is more of a representation of the views of the latter which emphasize the need reorientation of religious understanding to the present empirical reality. Cak Nur, in his book, Islamic Doctrine and Civilization, this attitude is clear he said that religious normative provisions could be attempted seen in the possibility of its social- historical implementation. Because, after all the height of a teaching, but what is actually in it human life and influencing society is a form of implementation concretely in history, namely the social and cultural life of humans time and space contex
SURGA DI DALAM HADIS
oai:ojs2.journal.iaingorontalo.ac.id:article/638Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pesan moral atau ideal moral yang terdapat di balik hadis-hadis yang menggambarkan keindahan Surga. Adapun teori yang digunakan untuk menemukan makna dalam hadis-hadis eskatologis tersebut adalah teori evolusi hadis Fazlur Rahman. Kerangka teori tersebut secara umum dirumuskan dalam gerakan ganda atau Double Movement, sebuah metode dengan cara kembali ke masa Nabi, dan kembali lagi ke masa kini. Adapun langkah-langkahnya adalah mulai dari studi validitas dan otentisitas hadis, kritik eiditis (kajian linguistik, kajian komprehensif, Kajian konfirmatif, analisis realitas historis, analisis generalisasi), sampai pada gerakan kedua yaitu kritik praksis. Sebagaimana di dalam Hadis Nabi, Surga digambarkan dengan sangat indah seperti ada pohon-pohon yang rindang, sungai-sungai mengalir, telaga, istana, bidadari dan pelayan-pelayan. Namun setelah menggunakan teori evolusi hadis Fazlur Rahman, ditemukan bahwa hadis-hadis tersebut tidak sekedar menggambarkan keindahan surga, namun nilai general atau ideal moral dalam hadis ini adalah bahwa umat Islam diperintahkan untuk melakukan kebaikan atau amal saleh di dunia ini. Sebab perbuatan amal saleh tersebut akan dibalas dengan kenikmatan surga sebagaimana digambarkan di atas
Aksiologi “Tumbilotohe” Masyarakat Gorontalo Relevansinya dengan Kesucian Jiwa
Artikel ini ingin menunjukkan aksiologi tumbilotohe yang ada di Gorontalo. Penelitian ini merupakan studi lapangan. Data dikumpulkan melalui inventarisasi data, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan. Hasil penelitian menunjukkan Pertama, Nilai Kesadaran dari Keturunan yang Sama; Pemasangan lampu dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Orang miskin, kaya, pegawai, pendatang yang tinggal di Gorontalo, Bupati, Gubernur seluruhnya memasang lampu di sekitar rumah. Kedua, nilai kembali pada yang fitri puasa ramadhan merupakan rutinitas yang ibadah yang tidak bisa ditinggalkan dalam setiap tahunnya karena hukumnya yang wajib Puasa Ramadahan ialah puasa yang dilaksanakan dari mulai fajar hingga terbenam matahari. Ketiga, Nilai Kepuasan Spiritual; Kepuasan spitirual masyarakat Gorontalo diwujudkan dengan tetap memasang tumbilotohe dengan model lampu minyak tanah. Harga minyak tanah yang lebih mahal dari pada premium tidak menjadi halangan bagi masyarakat Gorontal