Farabi (E-Journal)
Not a member yet
    136 research outputs found

    Komunikasi Politik Ditinjau dari Perspektif Ilmu Komunikasi, Ilmu Politik dan Komunikasi Islam

    Full text link
    This article discusses political communication from three perspectives, namely the perspective of communication science, political science, and Islamic communication. The study in this article was carried out by descriptive analysis with the relevant literacy study approach. The results of this study indicate that from the perspective of communication science, political communication is seen from two aspects, namely the mechanistic communication aspect which is based on the Lasswell\u27s theory, namely communicators convey messages to certain audiences through a medium with certain effects. The second aspect is symbolic interaction that rests on Mead\u27s theory which views that every politician or political group will put forward a distinctive attribute as a symbol of his or her identity in a positive communication process. In a political science perspective, political communication is a vehicle that can be used to communicate political messages whose ultimate goal is the attainment of power in its various dimensions. Political communication can be played by politicians who have the goal of gaining certain power, or it can be played by professionals in which they skillfully connect political interests with their target audiences. Political communication in the perspective of Islamic communication emphasizes ethical political communication practices. This communication model is built based on Hefni’s theory which states that Islamic communication is a communication built on Islamic principles that have the spirit of peace, hospitality and safety. On this basis, the political communication model that is built is ethical political communication that is far from the practice of political communication which attacks and overthrows each other

    Urgensi Sanad dalam Naskah Sejarah Nabi: (Studi Metodologi Penyusunan kitab "Dala\u27il an-Nubuwah wa Ma\u27rifah Ahwal Shahib as-Syariah" Karya Imam Abu Bakar al Baihaqi)

    No full text
    Perbedaan mendasar antara kitab-kitab sirah dengan kitab karangan Imam Baihaqi berjudul “Dalai’il Nubuwah” adalah bahwa sesungguhnya kitab sirah membahas sejarah hidup Nabi Saw dari sebelum kelahirannya hingga masa meninggalnya. Sementara kitab “Dala’il Nubuwah” menetikberatkan pada peristiwa-peristiwa tertentu yang memperkuat pengutusan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul. Kitab Dala’il juga dikenal dan diterima secara luas sebagai rujukan karena dalam membahas peristiwa-peristiwa tersebut selalu disertai dengan sanad. Inilah yang membedakan kitab tersebut dengan kitab-kitab lainnya

    Islam Progresif: Telaah atas Pemikiran Omid Safi

    Full text link
    Penelitian ini merupakan library research dengan mengumpulkan data-data baik primer maupun sekunder. Penelitian ini akan mengungkap gagasan pemikiran Islam kontemporer tentang Islam Progresif yang di gagas oleh Omid Safi dan kontribusinya terhadap khazanah pemikiran Islam Kontemporer.  Gagasan yang diusung oleh Islam Progresif, salah satu trend pemikiran Islam, untuk mewujudkan keadilan sosial, keadilan gender, dan pluralisme menjadi gagasan yang harus menggugah kemanusiaan kita sebagai bagian dari umat manusia di seluruh dunia yang berasal dari Nabi Adam As. Tanpa membedakan latar belakang, suku, agama, jenis kelamin dan ras, muslim progresif harus melawan semua ketidakadilan yang ada disekitar kita. Tidak hanya melakukan kritik terhadap ketidakadilan yang dilakukan umat Islam sendiri tapi juga berani mengkritik ketidakadilan yang dilakukan Barat. Disini pentingnya Multiple-kritik yang digagas oleh Islam progresif.   Keyword: Islam Progresif, Omid Saf

    Peran Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dalam Menangkal Radikalisme

    Full text link
    The article investigates the phenomenon of intolerance and religious radicalism in Indonesia. Religious radicalism in several regions has shown a critical condition and tends to present takfirism to the other group\u27s religious beliefs. This encourages the Youth Movement of Nahdlatul Ulama (Ansor-Banser) to play an important role in mainstreaming moderate Islam and religious tolerance. Among the research questions asked are how the role of Ansor-Banser in countering religious radicalism?; and how the concept and strategy of Ansor-Banser in mainstreaming moderate Islam in Indonesia.?By using sosiological theory and historical approach, the findings of this research show that Ansor-Banser has three important roles in countering religious radicalism. Firstly, the role in maintaining security and public order with the government apparatus in particular at religious ceremony both organized by muslim community and non muslim. Secondly, the role in reviewing and monitoring the activities of individuals or groups of radical religious dissemination. Thirdly, the role in educating moderate religious values ​​on the younger generation through training activities. Therefore, this research also aims to be a reference in formulating strategic steps for stakeholders especially muslim youth organization to maintain moderate religious understanding and forming religious behavior by relying on Islamic values ​​of tasamuh, tawasuth and tawazun

    PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH TENTANG AL-QUR’AN TAFSIR

    Full text link
    Tulisan ini mengkaji tentang pemikiran al-Qur’an dan tafsir seorang ulama besar dan sekaligus seorang pembaharu yang bernama Muhammad Abduh. Muhammad Abduh melihat bahwa tafsir yang baik adalah tafsir yang tidak keluar dari maksud dan tujuan al-Quran itu sendiri, yaitu yang disandarkan kepada pemahaman Kitab Ilahi dengan menempatkannya sebagai sandaran agama dan hidayah (petunjuk) dari Allah swt kepada seluruh alam, yang didalamnya terkumpul penjelasan-penjelasan tentang apa-apa yang baik dan bermanfaat bagi manusia di dunia dan yang membawa keselamatan di akhirat. Oleh karena al-Quran diturunkan untuk kebaikan manusia, maka tidak perlu melarang manusia untuk mempelajari dan mendalaminya sesuai dengan kemampuannya. Adapun corak tafsir Muhammad Abduh adalah corak al-Adabi al-Ijtima’i. Corak tafsir ini berusaha memahami teks al-Qur\u27an dengan cara, pertama dan utama, mengemukakan ungkapan-ungkapan al-Qur\u27an secara teliti, selanjutnya menjelaskan makna-makna yang dimaksud oleh al-Qur\u27an tersebut dengan gaya bahasa yang indah dan menarik, kemudian berusaha menghubungkan nash-nash al-Qur\u27an yang tengah dikaji dengan kenyataan sosial dan sistem budaya yang ada. Pembahasan tafsir ini sepi dari penggunaan istilah-istilah ilmu dan teknologi, dan tidak akan menggunakan istilah-istilah tersebut kecuali jika dirasa perlu dan hanya sebatas kebutuha

    Masturah; Kerja Dakwah Istri Jamaah Tabligh

    Full text link
    Jamaah tabligh adalah nama yang diberikan oleh masyarakat kepada sekelompok orang yang melakukan dakwah/tabligh dari masjid ke masjid. Karena jamaah ini setiap saat bertabligh, maka munculah istilah "jamaah tabligh atau JT". Selain suami, istri jamaah tabligh berkewajiban menjaga usaha dakwah di rumah dan senantiasa mendukung kerja dakwah yang dilakukan oleh suaminya, karena pada dasarnya usaha masturah (wanita) dapat memberikan pengaruh yang kuat untuk melahirkan generasi pejuang agama Allah dan para dai masa depan, sehingga dengan jelas bahwa usaha masturah (wanita) adalah bagian penting dalam kerja dakwah. Penelitian ini bermaksud menjelaskan bagaimana dakwah yang dilakukan oleh istri dari Jamaah Tablig. Temuan dari penelitian ini adalah dakwah seorang wanita/istri jamaah tabligh (masturah) dapat dilaksanakan dengan dua cara yakni: amal maqami wanita di rumah seperti, menghidupkan suasana ilmu, menghidupkan suasana masjid, menghidupkan suasana sunnah, menghidupkan tarbiyah walad, menghidupkan suasana dakwah dan menghidupkan perkhidmaan dan yang kedua pergi di jalan Allah yakni tiga hari setiap 3 – 4 bulan sekali, lima belas hari, empat puluh hari dan dua bulan India dan Pakistan

    Implementasi Pendidikan Sufisme dalam Pendidikan Islam

    Full text link
    This article aims to reveal the implementation of Sufism education in Islamic education. The method used is qualitative literature study. The results of the study show that tasauf has great potential because it can offer liberation of spiritual crises, invites people to know themselves, to get to know their God better to obtain his guidance. This is a guideline in human life that is very effective, so it is not tossed around by the storms of life. With the tasauf approach in this era, more emphasis on the social moral reconstruction of the community so that the emphasis is more intense on strengthening faith in accordance with the principles of Islamic creed, and the evaluation of worldly life is as important as ukhrawi life in efforts to anticipate the era of globalization.Artikel ini bertujuan untuk mengungkap implementasi pendidikan sufisme dalam pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah kualitatif bersifat studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa tasauf mempunyai potensi besar karena dapat menawarkan pembebasan krisis spiritual, mengajak manusia mengenal dirinya sendiri, untuk lebih mengenal Tuhannya untuk memperoleh bimbingan-Nya. Hal ini menjadi pedoman dalam kehidupan  manusia yang sangat ampuh, sehingga tidak terombang ambing oleh badai kehidupan. Dengan pendekatan tasauf di era ini, lebih menekankan pada rekonstruksi sosial moral masyarakat sehingga penekanannya lebih intens pada penguatan iman sesuai dengan prinsip-prinsip akidah Islam, dan penilaian kehidupan duniawi sama pentingnya dengan kehidupan ukhrawi dalam upaya mengantisipasi era globalisasi

    KONSEPSI POLITIK ISLAM DAN REALITAS RELASI ISLAM DAN NEGARA DI INDONESIA PASCAREFORMASI

    Full text link
    Artikel ini menganalisis potret pemikiran politik Islam dalam merespon isu demokrasi dan politik kontemporer di Indonesia, kaitannya dengan sejauh mana Islam memberi arah dan platform moral bagi proses demokratisasi di Indonesia pascareformasi. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis data primer dan sekunder yang diperoleh melalui metode studi pustaka (Library research), yang kemudian diolah dengan teknik analisis wacana (Discourse analisys) dan teknik analisis hermeneutic (Harmanautic analisys). Selanjutnya, proses interpretasi menggunakan pendekatan historis, sosiologis, philosofis, dan teologis konvergensi. Hasil analisa tersebut menunjukkan bahwa Konstruksi konsepsional tentang relasi Islam dan Negara di Indonesia pascareformasi muncul dalam beragam perspektif sebagai positioning Islam dalam merespon isu politik dan demokrasi Indonesia kontemporer; [1] Pemikiran politik yang bersifat integratif, yakni Islam dan politik (negara) dipahami sebagai suatu kesatuan yang utuh, [2] pemikiran politik yang bersifat sekularistik, yakni; Islam dan negara tidak terkait baik secara politik maupun hukum, [3] pemikiran politik yang bersifat simbiotik-mutualistik, yakni pemikiran yang memposisikan Islam sebagai spirit dan panduan moral bagi pengelolaan negara di satu sisi, dan negara menjadi sarana pembumian nilai dan ajaran Islam pada sisi yang lain. Penulis berpandangan bahwa model pemikiran politik Islam yang simbiotik-mutualistik menjadi karakter politik Islam yang adaptif dengan kultur dan sistem politik yang berkembang di Indonesia pascareformasi. Gagasan ini pada prakteknya memposisikan agama memerankan dua peran sekaligus, yakni; [1] menjadi kekuatan penyeimbang dan kritik terhadap negara dan pasar, [2] menjadi agenda pemberdayaan rakyat, sekaligus gerakan alternatif di tengah pergulatan Islamisme dan liberalisme yang saling berseberangan

    Sains Modern dan Urgensi Sentralitas Nilai Transenden dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan

    Full text link
    Originally the Western sciences and civilization rooted in Oriental traditions. Nevertheless, Western renaissance, the Scientific Revolution has indicated a contrary paradigm in the sciences of nature. A new and alien paradigm which is totally different in its perspective and Weltanschauung from the sciences of the great Oriental traditions. The West arose with the materialistic paradigm resulted in the secularization of the cosmos. It was regarded as the beginning of the Enlightenment dissolved Dark Age scientific stagnation. Modern people have been hollowed, isolated from others by individualism then self-separated from God by egocentrism. Western objectivity negated transcendental aspects; thus, non-observable means no exist. Metaphysics, Cosmology, Epistemology, Psychology, and Ethics are not elaborated anymore to convince the Real. Such a paradigm would put worldly benefits before humanity for the sake of growth and progress. These profane sciences result in radical separation of philosophy and theology, knowledge and faith, religion and science, as well as theology and all aspects of human life. Desecration of contemporary sciences is the product of modern worldview which negated transcendent values ​​in scientific activity. This desecration became the turning point of traditionalist thinkers’ criticism with a theistic worldview to restore spiritual values ​​in sciences. Thus, worldview could produce tawhid based scientific epistemology creates unity between religion and science, knowledge and values ​​as well as the material and metaphysical then makes the humanity before the scienc

    Filsafat Emanasi Ibnu Sina

    Full text link
    Perkembangan pemikiran dalam ajaran Islam selalu diwarnai dan mewarnai disiplin keilmuan lainnya sepanjang sejarah perjalanan ilmu pengetahuan. Semuanya hampir dapat dikatakan terinspirasi dari upaya pencarian kebenaran dan pencarian Tuhan sebagai zat yang “tak tersentuh”. Ibnu Sina yang lebih dikenal dengan sebutan Avicena adalah salah seorang tokoh penting dalam studi pemikiran Islam yang telah mencetuskan teori-teori tentang hubungan Tuhan-manusia-dan alam. Melalui teori emanasi, Ibnu Sina kembali  menyusun nalar kreatif untuk tetap menjaga kekudusan Tuhan. Melalui falsafah jiwa, Ibnu Sina mendeskripsikan potensi manusia yang berada pada pilihan-pilihan yang membatasi nilai kemanusiaan. Melalui falsafah kenabian, Ibnu Sina mendeskripsikan potensi manusia yang dapat lebih dekat kepada Tuhan melalui sosok “pilihan Tuhan”. Sedangkan melalui falsafah wujud, Ibnu Sina sekali lagi mampu mengangkat citra positif manusia yang mampu menjangkau esensi di dalam akal dan menangkap wujud di luar akal manusia. Kreativitas nalar yang dimiliki Ibnu Sina menjadikannya tokoh yang disegani oleh kawan maupun lawan di masa-Nya. Jejak-jejak pemikiran Ibnu Sina hingga saat ini masih tetap menjadi inspirasi bagi setiap pemikir Muslim yang mengakui keluasan jangkauan nalar manusia yang tidak terbatas

    90

    full texts

    136

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Farabi (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇