Farabi (E-Journal)
Not a member yet
    136 research outputs found

    ATSAR DA\u27WAH OF TABLIG CONGREGATION ON THE SOUTH COAST OF GORONTALO CITY: ATSAR DA\u27WAH OF TABLIG CONGREGATION ON THE SOUTH COAST OF GORONTALO CITY

    No full text
    This study specifically focuses on elaborating on the atsar (impact) of the da\u27wah activities conducted by the Tablighi Jamaat in the South Coast region of Gorontalo City. Furthermore, based on the findings, good da\u27wah practices in coastal areas will be identified. The scope of da\u27wah atsar in this context refers to how the mad\u27u (audience of da\u27wah) responds to the Tablighi Jamaat\u27s da\u27wah efforts in the region. These responses encompass cognitive, affective, and behavioural aspects. The objective of this study is to identify the atsar and good da\u27wah practices applicable to coastal areas. Accordingly, this research aims to: (1) Describe the da\u27wah activities of the Tablighi Jamaat in the South Coast region of Gorontalo City, and (2) Conduct a deeper analysis of the da\u27wah footprint of the Tablighi Jamaat in the region. The findings of this study indicate that: First, the da\u27wah method employed by the Tablighi Jamaat follows the  khuruj method, which involves venturing out in the path of Allah. This process begins with fostering social connections (silaturahmi), reciting ta\u27lim , and subsequently engaging in jaula practices. This approach has been implemented along the southern coast of Gorontalo City for the past 12 years. Second, the atsar of the Tablighi Jamaat\u27s da\u27wah efforts in the South Coast region is significant and yields optimal results. This is evidenced by observable transformations in the community’s daily life, such as the increased observance of prayer, enhanced religious knowledge, strengthened social ties, and active participation in the commemoration of Islamic holidays.Secara spesifik penelitian ini difokuskan pada upaya mengelaborasi atsar dakwah Jamaah Tablig di wilayah Pesisir Selatan Kota Gorontalo. Selanjutnya berdasarkan hasil tersebut akan dilihat good practices dakwah pada wilayah pesisir. Lingkup atsar dakwah yang dimaksud adalah bagaimana respon mad’u terhadap dakwah Jamaah Tablig di wilayah tersebut. Respon mad’u meliputi, respon kognitif, afektif dan behavioral. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan atsar dan good practices dakwah untuk wilayah pesisir. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan dakwah Jamaah Tabligh di wilayah pesisir selatan Kota Gorontalo, dan (2) menganalisis lebih dalam jejak dakwah Jamaah Tablig di wilayah tersebut.Melalui penelitian ini didapatkan bahwa: pertama, metode Dakwah Jamaah Tablig menggunakan Metode Khuruj atau keluar dijalan Allah yang diawali dengan silaturahmi, pembacaan Ta’lim, serta bergerak melaksanakan amalan Jaula. Hal ini telah dilaksanakan di sepanjang pesisir selatan Kota Gorontalo sejak 12 tahun yang lalu. Kedua, atsar Tagli Jamaah Ta\u27wah kepada masyarakat Pantai Selatan sangat besar dan memberikan hasil yang optimal. Terbukti dari perubahan masyarakat melalui kehidupan sehari-hari, seperti pelaksanaan shalat, peningkatan pengetahuan agama, silaturahmi dan keaktifan dalam peringatan hari raya Islam

    Implikasi Perbedaan Qira\u27at dalam Istinbath Hukum : Analisis Qira\u27at dari Segi Muthlaq dan Muqayyad

    No full text
    This article discusses the differences in qiraat in terms of mut}laq and muqayyad which lead to differences in istinbat} Islamic law. Although qiraat is not the only basis for determining the law, it cannot be denied that the difference in qiraat has a major influence on the legal products which produced by the scholars. Using the descriptive-analytical method, this study discusses 3 verses in the Qur\u27an that have different qiraat which readings contain muqayyad on verses that are mut}laq, that, QS. al-Ba> qarah: 183-184 and QS. al-Ma>idah: 89 relating to the implementation of fasting, as well as QS. al-Ma> idah: 38 relating to the punishment of theft. From the study of the various qiraats found in the three verses, it can be understood that the existence of various qiraats that contain an insertion in the lafaz of a verse will cause the previous verse to have the status mut}laq to change to muqayyad. This difference in reading has led to the emergence of differences of opinion among scholars in establishing a law. Although some scholars say that the qiraat which is different from the Uthmani rasm is only an interpretation of a verse, it is even considered a syaz| qiraat

    Kritik Hadis Berdasarkan Metodologi Hadis: Tawaran Scientific Nuruddin ‘Itr

    Full text link
    Hadis dalam praktek sehari hari terkadang dipahami oleh sebagian masyarakat hanya terkait masalah agama saja, tidak sesuai secara praktis dengan ilmu pengetahuan, dianggap bertentangan dan bahkan menjadi penghalang berkembangnnya ilmu pengetahuan.  Sehingga kegiatan kritik hadis menjadi sangat penting untuk dilakukan. Kritik hadis merupakan cara memurnikan ajaran agama Islam dari dalam, dan menjadi pertahanan terhadap serangan yang ingin melemahkannya dari luar, sehingga karena itu hadis menjadi sumber penjelas menyangkut problematika setiap pribadi umat Islam dan benteng pertahanan dalam menangkal setiap berita yang bertentangn dengan ajaran agama Islam. Fungsi dan peranan hadis jelas sekali, jika hadis yang dimaksudkan memiliki kategori sahih dari sisi sanad maupun matan setelah melalui proses penelitian secara scientific. Standarisasi yang diterapkan dalam mengfungsikan hadis menjadi sumber pemahaman ajaran agama, harus berdasarkan proses kerja metodologis dalam mempraktekkan syarat-syarat kesahihan antar sanad dan matan melalui kritik hadis yang telah disepakati para ulama hadis serta upaya mengungkap kandungan hadis berdasarkan metode pemahaman hadis dengan menggunakan metode analisis (tāhlīlī), tematik (maudhū’i), dan komprehensif (muqārin), serta menjelaskan konten hadis menggunakan berbagai macam pendekatan, seperti; bahasa, historis, sosiologi, antroplogi dan lain-lain, serta teknik interpretasi tekstual atau kontekstual

    HERMENEUTIKA GADAMER DAN RELEVANSINYA DENGAN TAFSIR

    Full text link
    Tulisan ini akan membahas hermeneutika dalam perspektif Gadamer. Menurut Gadamer membaca dan memahami sebuah teks pada dasarnya adalah melakukan dialog dan membangun sintesis antara dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca. Ketiga hal ini -dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca- menjadi pertimbangan penting dalam setiap pemahaman. Pengabaian atas salah satu aspek akan melahirkan pemahaman atas teks menjadi kering dan miskin. Untuk mendapatkan pemahaman yang maksimal, Gadamer mengajukan empat teori: prasangka hermeneutik, lingkaran Hermeneutika, Aku-Engkau” menjadi “Kami” dan hermeneutika dialektis. Keempat teori ini bukan hal yang baru dalam tradisi tafsir. Sebab prinsip dasar hermeneutika adalah sebuah upaya interpretatif untuk memhami teks

    Kritik Atas Pandangan Penulis Barat Tentang “Islam Liberal”: (Studi Atas Karya Leonard Binder dan Charles Kurzman)

    Full text link
    The term Liberal Islam has long been developing. However, in defining many crisscrossing. Therefore, it is important to explore this term from the origin term source, ie of Western writers. This article will describe the two main sources of  Liberal Islam  discourse is often a reference and is regarded as bearers of   Liberal Islam terms, those are“Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologies” by Leonard Binder and “ Liberal Islam: A Source Book” by Charles Kurzman et al. Searches through the two main sources above and compare it with some relevant sources can be concluded that the term Liberal Islam is meant by Binder are those which believed that no textual interpretation of the Qur\u27an, but the interpretation is based on the essence of the meanings, not what is written in the text. Search essential meaning, not textual that is considered to be able to adapt with the times. Meanwhile, according Kurzman Liberal Islam is that which has the first character, critical of Islam customs and Islamic traditions Revivalists which causes backwardness of Muslims. Second, the desire for progress by promoting the values of Islam which is in line with the values of Western liberalism such as democracy, economic progress, human rights, gender equality, and so on.Istilah Islam Liberal telah lama berkembang. Akan tetapi, dalam mendefinisikannya banyak yang simpang siur. Oleh sebab itu, penting untuk menggali istilah ini dari sumber istilah asalnya, yaitu dari para penulis Barat. Tulisan ini akan mendeskripsikan dua sumber utama wacana Islam Liberal yang sering menjadi rujukan dan dianggap sebagai pengusung istilah Islam Liberal, yaitu buku Leonard Binder, Islamic Liberalism: A Critique of Development Ideologies dan buku Liberal Islam: A Source Book karya Charles Kurzman dkk. Melalui penelusuran kedua sumber utama di atas dan membandingkannya dengan beberapa sumber yang relevan dapat disimpulkan bahwa istilah Islam Liberal yang dimaksud oleh Binder adalah mereka yang menganut paham penafsiran yang tidak tekstual terhadap Al-Qur’an, melainkan penafsiran yang didasarkan pada pencarian esensi makna ayat, bukan apa yang tersurat dalam teksnya. Pencarian makna esensial, bukan tekstual itulah yang dianggap dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sementara menurut Kurzman Islam Liberal adalah yang memiliki karakter pertama, kritis terhadap tradisi Islam adat dan Islam Revivalis yang menyebabkan keterbelakangan umat Islam. Kedua, berkeinginan meraih kemajuan dengan mengedepankan nilai-nilai Islam yang sejalan dengan nilai-nilai liberalisme Barat seperti demokrasi, kemajuan ekonomi, hak-hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan sebagainya

    Urgensi Tafsir Kontekstual dalam Penafsiran Al-Qur’an

    No full text
    The  backwardness of Muslims civilization today support to reflection in an attempt to find a way towards a revival. One was taken to the efforts is reinterpretation of Islamic texts (Koran) in accordance with the spirit of this time. Efforts are being made to the hermeneutic method is commonly called contextualization, complement some of the approaches that have been there before. In this paper the authors conclude that the tradition of critical thinking, creative and innovative to do with getting rid of prejudice and negative assumptions, and rationality. Therefore, efforts to understand the Qur\u27an with various new methodological approaches should be developed and should not stop at one point.Ketertinggalan peradaban umat Islam saat ini melahirkan refleksi diri sebagai upaya mencari jalan menuju kebangkitan kembali. Salah satunya ditempuh dengan upaya penafsiran kembali teks-teks keislaman (al-Qur’an) sesuai dengan spirit zamannya. Upaya yang dilakukan dengan metode hermeneutika ini biasa disebut dengan kontekstualisasi, melengkapi beberapa pendekatan yang telah ada sebelumnya. Dalam tulisan ini penulis menyimpulkan bahwa tradisi berpikir kritis, kreatif, dan inovatif harus dilakukan dengan menyingkirkan pra-anggapan dan asumsi negatif, serta mengedepankan rasionalitas. Oleh karena itu, usaha memahami  al-Qur’an dengan pelbagai pendekatan metodologi baru harus selalu dikembangkan dan tidak boleh berhenti pada satu titik

    Teori Interpretasi Nasr Hamid Abu Zayd

    Full text link
    This paper describes the thought of Nasr Hamid Abu Zayd on the theory of interpretation/method of interpretation of the al-Qur’an, the discussion of which is the study of descriptive-analitif. In the method, Nasr Hamid seeks to reveal the meaning and significance (maghza) with the meaning of "unspeakable". Nasr Hamid distinguish these three terms.  Meaning is what is represented by the text or in the sense that letting the text speak about himself. then from that meaning discussed with conditions / context that surrounds a reader. Therefore, the meaning of the static nature as it contains a textual-historical significance (historical meaning), and the dynamic nature of significance according to the horizon of each reader.Tulisan ini mendeskripsikan pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd tentang teori interpretasi/metode penafsiran terhadap al-Qur’an, dengan pembahasan yang bersifat telaah diskriptif-analitif. Dalam metodenya, Nasr Hamid berusaha untuk mengungkap makna dan signifikansi (maghza) yang kemudian memunculkan makna “yang tak terkatakan”.  Nasr Hamid membedakan ketiga istilah tersebut. Makna adalah makna yang direpresentasikan oleh teks atau dalam artian bahwa membiarkan teks berbicara  tentang dirinya sendiri. kemudian dari makna tersebut didialogkan dengan kondisi/konteks yang mengitari seorang reader. Karena itu, makna sifatnya statis karena memuat makna tekstual-historis (historical meaning), dan signifikansi sifatnya dinamis sesuai dengan horizon masing-masing pembaca

    Pesona Sufistik di Perkotaan: Studi Perguruan Tenaga Dalam Prana Sakti Gorontalo

    Full text link
    This study focuses on the activities of the Prana Sakti inner strenght training center in Gorontalo City. The presence of the Prana Sakti in the middle of the city becomes a choice for city residents, especially for those who are tired of the hustle of modernization. This study aims to uncover the attraction of the Prana Sakti inner strenght training center, how to practice its sufism and as a training center, what are the competencies gained by members of the the Prana Sakti. From the results of the study it was found that one of the main attraction of the the Prana Sakti with the characteristics of amaly sufism is to get inner strenght. To achieve this, members must carry out the practice of sufism, which is a martial sport that is combined with regular dhikr. It takes several years. As a training center, the competence gained by the member is closeness to the God, so that it has implications for religious observance and good morals towards other

    Pendidikan Kejiwaan dan Kesehatan Mental (Perspektif Fakhruddin ar-Razi)

    Full text link
    This article elaborates on Fakhruddin ar-Razi thougts about psychiatric and mental health. The research used a qualitative method. The findings showed that soul according to Fakhruddin ar-Razi, divided into three souls that are rational, emotional souls and animal. Furthermore, ar-Razi thoughts about Islamic mental health are love and romance, fairness, envy, anger, falsehood, miser and greed. All of these require Islamic therapy for healing.Artikel ini mengelaborasi tentang pemikiran Fakhruddin ar-Razi tentang kejiwaan dan kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil temuan menunjukkan bahwa Jiwa menurut Fakhruddin ar-Razi, terbagi tiga: jiwa yang bersifat rasional, jiwa yang bersifat emosional dan kehewanan. Selanjutnya pemikiran al-Razi tentang kesehatan mental Islami adalah: cinta dan asmara, wujub, iri, kemarahan dan dusta, kikir dan tamak. Kesemuanya ini memerlukan terapi Islami untuk penyembuhannya

    KOMUNIKASI ANTARBUDAYA: BERBAGI BUDAYA BERBAGI MAKNA

    Full text link
    Membangun penghubung antarbudaya merupakan hal penting dan konkrit yang harus dilakukan. Dengan penghubung itu, maka akan tercipta hubungan yang harmonis antara siapapun yang berbeda budaya dan sedang melakukan proses komunikasi. Hal lain yang bisa terwujud adalah terbangunnya kesamaan makna, dan kesamaan pengertian. Sama makna  berarti tercipta komunikasi efektif. Bila dalam proses komunikasi antabudaya sudah berjalan secara efektif berarti telah terjadi pertukaran budaya dan makna yang juga efektif

    90

    full texts

    136

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Farabi (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇