Farabi (E-Journal)
Not a member yet
136 research outputs found
Sort by
MENAKAR PEMIKIRAN FIQIH SOSIAL M.A. SAHAL MAHFUDH UNTUK KEMASLAHATAN UMAT
This article discusses M.A. Sahal Mahfudh’s thought on jurisprudence. It is by focusing on the importance of the dynamic on the fiqh-legal products. Fiqh is capable of dialoguing with the plurality of reality with no override authority of the text. Nuance social jurisprudence is a thought that maintains existing legal method but adopted patterns of thinking and new methods in the process of developing jurisprudence. Fiqh is not just a social tool to see each issue of white sunglasses, but rather as a paradigm established juristic meaning socially. It should lead the ummah to understand its contexts. We supposed not get stuck on the formalistic assumption to the jurisprudence. Therefore, the jurists should have a high social sensitivity as a basis for determining a product of jurisprudence. The most important thing in the development of fiqh is the achievement of the five goals in the principles of Islamic law (maqasid al-Shari\u27ah) which maintains religion, mind, soul, lineage (descent) and property. Eventually, jurisprudence will lead men to happiness in this world and in the hereafter.Artikel ini membahas tentang pemikiran fiqih M.A. Sahal Mahfudh yang menekankan pentingnya produk hukum fiqih yang dinamis. Fiqih yang mampu berdialog dengan pluralitas realitas dengan tidak mengesampingkan otoritas teks. Nuansa fiqih sosial merupakan suatu pemikiran fiqih yang tetap mempertahankan metode hukum yang telah ada namun mengadopsi pola-pola pemikiran dan metode baru dalam proses pengembangan fiqih. Fiqih sosial tidak sekedar alat untuk melihat setiap persoalan dari kaca mata hitam putih, tetapi lebih memantapkan fiqih sebagai paradigma pemaknaan secara sosial. Ia mengajak masyarakat untuk memahami fiqih secara kontekstual. Tidak terjebak pada asumsi formalistik terhadap fiqih. Untuk itu, seorang fuqaha harus memiliki kepekaan sosial yang tinggi sebagai dasar dalam penetapan suatu produk fiqih. Hal yang paling utama dalam pengembangan fiqih adalah tercapainya lima tujuan prinsip dalam syari’at Islam (maqashid al-syari’ah) yang memelihara – dalam arti luas – agama, akal, jiwa, nasab (keturunan) dan harta benda - yang membawa manusia kepada kebahagian di dunia dan di akhirat. Di samping itu, pertimbangan maslahal ‘Ammah
Teologi Ekologis: Peran Agama dalam Menginspirasi Gerakan Lingkungan
Tulisan ini bertujuan untuk melihat peran agama dalam menginspirasi Gerakan lingkungan. Metode penelitian kualitatif diskriptif. Agama memberikan nilai konstribusi yang signifikan terhadap perkembangan alam. Agama melihat alam sebagai entitas yang sakral dan perlu dihormati, Ajaran Etika dan Moral: Nilai-nilai etika dalam agama, seperti keadilan, kedermawanan, dan tanggung jawab, dapat diterapkan dalam konteks lingkungan. Implikasi utama teologi ekologis yakni menjadi legitimasi moral yang kuat, teologi ekologis mendorong integrasi nilai-nilai keberlanjutan dalam praktek keagamaan sehari-hari. Hal ini mencakup pengurangan jejak ekologis individu dan komunitas, penggunaan energi terbarukan, praktik pertanian yang berkelanjutan, dan pengurangan limbah.komunitas keagamaan yang menerapkan teologi ekologis secara praktis dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengadopsi kebijakan lingkungan seperti penghijauan kawasan sekitar tempat ibadah, pengelolaan air yang bijaksana, dan kampanye pembersihan lingkungan.Teologi ekologis mendorong pendidikan dan advokasi lingkungan yang berbasis nilai-nilai agama. Teologi ekologis memfasilitasi kolaborasi antar-keagamaan dalam mendukung pelestarian lingkungan. Teologi ekologis mendorong refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan alam semesta
Kepuasan Hidup Pada Muslim Minoritas Di Perbatasan Indonesia-Filipina
The Sangihe Islands, a region on the border between Indonesia and the Philippines, offer an intriguing context for understanding the lives of minority communities, particularly Muslims, in relation to their life satisfaction. This study aims to describe how life satisfaction is experienced by Muslim minorities in Sangihe and how these minorities interpret their lives. The research utilizes ethnographic methods as part of qualitative research with a phenomenological approach to gain a comprehensive understanding of the lived experiences of informants. The findings of this study suggest that the life satisfaction of Muslim minority communities on the Indonesia-Philippines border is not only determined by economic factors but also by the quality of social relationships, diversity, and religious practices
Keber’ada’an Lgbt (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) Dalam Perspektif Filsafat Proses Whitehead
The rise of LGBT cases is becoming a hot subject in the world as well as Indonesia, attracting researchers to see how it exists as an object as well as a subject. In addition, by knowing the existence of LGBT, it will also be known that its existence is a subjective, objective or relative phenomenon. This research is a type of library study research using the relevant theory reference, namely Whitehead\u27s theory of Process Philosophy. From Whitehead\u27s perspective, experiencing yourself intensively preoccupied with the conflict between oneself and all others in a harmonious union. Because values are determined by different things, the more an actual entity in the process of self-embodiment can distinguish itself from the other, the more intensive the actual entity experiences the subject, the more intensive it is to experience itself From the results of the literature study above showing that LGBT is the abnormality of sexual orientation influenced by the various factors that make it an independent subject. As a subject, LGBT is also an object for other subjects to form new subject
DIMENSI SUFISTIK-FILOSOFIS IBNU AJIBAH DALAM TAFSIR AL-BAHR AL-MADID FI TAFSIR AL-QURAN AL-MAJID
This article aims to explore the philosophical dimension of Sufism in the Sufi interpretation of Ibn Ajibah\u27s Al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur\u27an al-Majid. Based on the paradigm that this interpretation is a late-period Sufi interpretation, the authenticity of this interpretation methodology is questioned. To address this issue, this article uses the paradigm of the dichotomy of Sufi teachings into Sunni (practical) and philosophical Sufism, with content analysis through the exploration, selection, and classification of collected data. This study concludes that: First, methodologically, Ibn Ajibah\u27s Sufi interpretation is consistently based on presenting the literal meaning as the main reference before reaching the inner meaning. Second, the philosophical dimension of Sufism in Ibn Ajibah\u27s interpretation is found in the application of concepts such as fana\u27, baqa, ittihad, and hulu.Artikel ini bermaksud mengeksloprasi dimensi tasawuf falsafi dalam tafsir sufistik karangan Ibnu Ajibah yang berjudul Al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid. Berdasarkan paradigma bahwa tafsir ini merupakan tafsir sufistik priode akhir, yang membuat otentisitas pada metodologi tafsir ini dipertanyakan. Untuk menjawab permasalahan ini, artikel ini menggunakan paradigma dikotomi ajaran tasawuf menjadi tasawuf sunni (amali) dan filosofis, dengan konten analisis melalui eksplorasi, seleksi dan klasifikasi data-data yang dikumpulkan. Kajian ini menghasilkan kesimpulan: Pertama, secara metodolgis tafsir sufistik Ibnu Ajibah dibangun secara konsisten pada penyajian makna zahir sebagai acuan utama sebelum menempuh makna batin. Kedua, dimensi sufistik filosofis Ibnu Ajibah ditemukan dalam pada aplikasi penafsirannya yang memproyeksikan konsep ajaran fana’, baqa, ittihad dan hulul
Muhammadiyah Tobelo: Studi Kritis Sejarah Penyebaran Paham dalam Masyarakat
Penelitian ini berjudul Muhammadiyah Tobelo: Studi Kritis Sejarah Penyebaran Paham dalam Masyarakat. Tujuan adalah sejarah dan gerakan Muhammadiyah dengan ciri budaya di Tobelo (Maluku Utara). Hal ini tentu akan memberikan refleksi khusus bagi Persyarikatan Muhammadiyah pusat dalam memahami berbagai perjalanan sejarah dan gerakan dakwah mereka di seluruh Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah kategori penelitian lapangan , kualitatif, dan analisis deskriptif. Secara khusus ada dua pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan sejarah dan sosiologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebaran paham Muhammadiyah di masyarakat Tobelo tidak dapat dilihat dari beberapa aspek. pertama, penyebaran ajaran Muhammadiyah tidak bisa membuka dari peran seorang tokoh bernama H. Abdullah Tjan yang merupakan katurunan etnis Tionghoa. Kedua , penyebaran ajaran Muhammadiyah menggunakan pendekatan kultural (msitisme dan tasawuf). Ketiga , penyebaran ajaran Muhammadiyah tidak lepas dari dukungan Kesultanan Ternate yang hendak meminimalisir Kristenisasi. Keempat , adanya hubungan fluktuatif antara Muhammadiyah dan Pemerintah Belanda dalam interaksi teologis di Tobelo
ALIRAN KALAM SALAFIYAH: Studi atas Perkembangan Pemikirannya
This article aims to reveal how the Kalam Salafiyah flow and how its thinking develops. The method used is descriptive qualitative analysis method. The results of the study and discussion show that the kalam salafiyah flow has several characteristics as stated by Ibrahim Madzkur, namely: first, they prioritize history (naqli) rather than merayah (aqli); second, in matters of religion and in matters of religious branches, it only starts from the explanation of the al-Kitab and as-Sunnah; third, they believe in Allah without further contemplation (Essence of Allah) and do not have anthromophism (equating Allah with creatures); fourth, interpret the verses of the al-Qur\u27an according to the meaning of their birth and do not attempt to translate them. Ibn Taymiyyah argues that the salaf people are those who think that there is no way to know the creed, the law, and what both of them have to do with it, nothing but based on the Qur\u27an and Hadith. The Salaf accept all the information contained in the Qur\u27an and Hadith. Refusing means releasing the rope of religion. Intellect does not have the power to interpret, interpret, or punish the Qur\u27an. Intellect is only able to justify, obey, and explain the approach between the arguments of reason (contextual), the arguments of the Qur\u27an and the Hadith (textual) with no difference between the arguments of reason with the arguments of the Qur\u27an and the Hadith. Intellect has the position of being a witness, not a judge, as an enforcer and not an opponent, as an explanation for the arguments contained in the al-Qur\u27an. Salaf people always make sense behind al-Qur\u27an and Hadith.Artikel ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana aliran kalam salafiyah dan bagaimana perkembangan pemikirannya. Metode yang digunakan adalah metode analisis kualitatif deskriptif. Hasil kajian dan pembahasan menunjukkan bahwa aliran kalam salafiyah mempunyai beberapa karakteristik sebagaimana dikemukakan oleh Ibrahim Madzkur yaitu: pertama, mereka lebih mendahulukan riwayat (naqli) dari pada dirayah (aqli); kedua, dalam persoalan pokok-pokok agama dan persoalan cabang-cabang agama hanya bertolak dari penjelasan al-Kitab dan as-Sunnah; ketiga, mereka mengimani Allah tanpa perenungan lebih lanjut (Dzat Allah) dan tidak mempunyai paham anthromophisme (menyerupakan Allah dengan makhluk); keempat, mengartikan ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan makna lahirnya dan tidak berupaya untuk mentakwilnya. Ibn Taimiyah mengemukakan bahwa kaum salaf adalah mereka mempunyai pemikiran bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui akidah, hukum, dan apa yang keduanya ada hubungan dengannya, tidak lain hanya berpedoman pada al-Qur’an dan Hadis. Kaum Salaf menerima semua keterangan yang ada dalam al-Qur’an dan Hadis. Menolak berarti melepas tali agama. Akal tidak mempunyai kekuasaan untuk mentakwilkan, menafsirkan, atau menghukumi al-Qur’an. Akal hanya mampu membenarkan, mentaati, dan menerangkan pendekatan antara dalil akal (kontekstual), dengan dalil al-Qur’an dan Hadis (tekstual) dengan tidak ada perbedaan antara dalil akal dengan dalil al-Qur’an dan Hadis. Akal berkedudukan sebagai saksi bukan hakim, sebagai penetap dan penguat bukan penentang, sebagai penjelas dari dalil yang terkandung dalam al-Qur’an. Kaum Salaf selalu menjadikan akal berada di belakang al-Qur’an dan Hadis.  
STRATEGI TOKOH LINTAS AGAMA DALAM MENGATASI KONFLIK PADA MASYARAKAT PLURAL: (Studi kasus di Desa Mopuya Selatan Kecamatan Dumoga Utara Kabupaten Bolaang Mongondow)
This study discusses the Strategy of Interfaith Leaders in Overcoming Conflicts in Plural Communities by taking case studies precisely in Mopuya Selatan Village, West Dumoga Subdistrict, and this research is a qualitative research focusing on field studies. In this study also aims as material recommendations for other areas that are prone to conflicts between religions. The objectives are: first, to find out how the implementation of the strategies of religious leaders to maintain harmony between religions. Second, to find out what are the challenges and obstacles for the role of religious leaders and the government itself. Plurality in this study can be seen by the existence of several places of worship, the existence of several cultures and languages. With plurality, it is necessary to have a strategy of religious leaders to always do to give understanding to the community to avoid conflicts related to sara \u27. Related to the plurality aspect, the strategy adopted by religious leaders in avoiding conflict is by assimulating activities and tolerance of muamalah worship. The nature of the family and social values that have been well established are the existence of equality and mutual need in terms of work. Strategies of Religious Leaders in overcoming conflicts in plural societies certainly have challenges due to disagreements and interests that hamper the role of religious leaders to provide understanding to the community. The challenges experienced are of course the solutions offered, namely the approach to overcoming all of them, namely with persuasive approach, this approach aims to establish a good emotional relationship between characters and the community, so that what is conveyed can be implemented into social life
Kebebasan Manusia Khudi (Ego/Diri) Muhammad Iqbal dalam Perspektif Kebebasan Whitehead
Artikel ini membahas tentang kebebasan manusia. Artikel ini ingin menemukan kebebasan manusia menurut Muhamaad Iqbal sebagai objek material dan Whitehead sebagai objek formal. Penelitian ini merupakan studi pustaka. Data dikumpulkan melalui inventarisasi data, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan. Hasil penelitian menunjukkan Diri bersifat individual, namun ke-individualitas-an diri/ego tidak berarti menjadikannya egoistik dan terisolir. Setiap ego bersama dengan ego-ego lainnya terikat dalam relasi simbiosis mutualistik, karena ego hidup dalam jejaring organisasional, dan ego sendiri pada level kediriannya bersifat holistik. Setiap keegoan pribadi dapat diakses oleh ego ego yang lain dengan istilah simbiosis mualistik. Kehendak pribadi terbuka dengan ego atau kehendak orang lain untuk mencipkan masyarakat yang terbuka. Whitehead memperinci kehendak itu tidak sama dengan tindakan praktis, karena kehendak mempunyai superiotitas sendiri dan sebaliknya kehendak tidak dapat disamakan pengetahuan teoritis, karena kita bias melihat gejala-gelaja tegangan yang sering muncul dan sulit didamaikan antara keduanya. Kehendak harus diletakkan pada tindakan praktis dan pengetahuan teoritis
the TRADISI MONGUBINGO DI DESA HUNGAYONAA KEC. TILAMUTA KAB. BOALEMO: (KAJIAN LIVING HADIS)
One phenomena of living hadith in Gorontalo was Mongubingo tradition in Hungayonaa Village, Tilamuta District, and Boalemo Regency. The aim of the study was to explore the living hadith in Hungayonaa Village community. The method used was descriptive-analytic by using a philosophical historical approach. Method of collecting data used observation and interviews. The results indicated that Mongubingo tradition is believed to be teaching of the prophet which has been passed down from heritage to this day. People got that the order to carry out female circumcision is an obligation as an implication of obedience to customs based on Kitabullah and hadith. But their knowledge is only limited to the meaning on substance of the hadith and had no idea the existence of the hadith text which is used as a reference in religion. As for the ritual practice of Mongubingo or circumcision, it is adapted to the context of Gorontalo community, especially in the Hungayonaa Village, as a result of acculturation between tradition and Islam.Salah satu fenomena living hadis yang ditemukan di Gorontalo adalah tradisi mongubingo tepatnya di Desa Hungayonaa, Kec. Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri hadis yang hidup di masyarakat Desa Hungayonaa. Adapun metode yang digunakan adalah deskriptif-analitik dengan menggunakan pendekatan historis-filosofis. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi mongubingo diyakini merupakan ajaran nabi yang turun-temurun hingga saat ini. Mereka memahami perintah melaksanakan khitan pada perempuan merupakan suatu kewajiban sebagai implikasi dari ketaatan pada adat yang berlandaskan kitabullah dan hadis. Tetapi pengetahuan mereka hanya sebatas pada makna substansi hadis dan tidak mengetahui eksistensi teks hadis yang dijadikan sandaran berpijak dalam beragama. Adapun praktek ritual mongubingo atau khitan ini disesuaikan dengan konteks masyarakat Gorontalo, terkhusus di Desa Hungayonaa, sebagai hasil akulturasi antara adat dan agama Islam