SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Not a member yet
    192 research outputs found

    ANALISIS SEMIOTIKA MEME ‘PROFESI YANG TIDAK DAPAT WORK FROM HOME’ SELAMA PANDEMI COVID-19

    Full text link
    ABSTRACTA meme is capable of picturing a phenomenon which is generally arranged through a picture that is followed by a description that adds up to the representation of a meaning that is intended to be conveyed by a meme creator. A meme may be perceived as unique since it has the ability to express numerous points of view, such as one’s or a group of society’s political view. The COVID-19 pandemic which is currently threatening the world’s public health starting from the end of 2019 introduces an enormous disruption in various fields, including the social aspect in Indonesia. One of the difficulties that the citizens felt is their obligation to do their work from home, as a form of health quarantine, along with physical distancing avoiding interactions that occurred in workplaces. As a government policy, it’s only normal that a pro-contra rises in the society. One of the flaws in the policy is the existence of professions which doesn’t allow their work to be done at home, specifically for professions such as fishermen, farmers, and construction workers that are also found at the memes which this study analysed. To look at how a public discourse is done through a meme, the study uses Barthes’ Semiotic Analysis Model in revealing the myth that exists in the meme found in the social media platforms during the COVID-19 pandemic. The study finds how the memes in the analysis represent a perceived flaw in the Work From Home policy when the policy is directed to several types of professions in Indonesia, as well as it is a form of political critique.Keywords: Work From Home, COVID-19, semiotic, meme ABSTRAKSuatu meme mampu menggambarkan sebuah fenomena yang pada umumnya dirangkai melalui suatu gambar yang diikuti dengan deskripsi yang mendukung representasi suatu makna yang hendak disampaikan seorang pembuat meme. Meme juga dianggap unik oleh karena kemampuannya mengekspresikan berbagai sudut pandang, seperti pandangan politik seseorang atau sekelompok masyarakat. Pandemi COVID-19 yang tengah mengancam kesehatan masyarakat dunia sejak akhir tahun 2019 menghadirkan disrupsi yang besar dalam berbagai sektor, termasuk aspek sosial di Indonesia. Salah satu kesulitan yang dialami masyarakat adalah kewajiban setiap individu untuk melaksanakan pekerjaan mereka dari rumah masing-masing atau yang sering disebut sebagai “Work From Home”, sebagai bentuk kekarantinaan kesehatan dengan pembatasan fisik dari interaksi yang terjadi di tempat berbagai pekerjaan dilakukan. Selayaknya suatu kebijakan pemerintah, resolusi kesehatan ini menimbulkan pro-kontra bagi masyarakat Indonesia. Salah satu kekurangan dari kebijakan ini adalah keberadaan profesi yang tidak memungkinkan pekerjaannya untuk dikerjakan di rumah, khususnya untuk profesi seperti nelayan, petani, dan tukang bangunan yang juga ditemukan pada ketiga meme yang dianalisis pada penelitian ini. Untuk melihat bagaimana ruang publik dimanfaatkan melalui meme, penelitian menggunakan Model Analisis Semiotika Barthes dalam mengulik mitos yang terdapat pada beberapa meme yang hidup di media sosial selama rangkaian pandemi COVID-19. Studi menemukan keberadaan meme yang menunjukkan ketidaksesuaian perwujudan Work From Home bagi beberapa jenis profesi milik masyarakat Indonesia, sebagai bentuk kritik politis. Selain memenuhi fungsi hiburan, sebuah meme juga memiliki potensi untuk menjadi ruang publik bagi masyarakat melalui berbagai saluran dimana meme dapat hidup, yakni media sosial.Kata Kunci: Bekerja dari Rumah, COVID-19, semiotika, mem

    CONSTRUCTION OF POLITICAL NEWS RATNA SARUMPAET TOWARD PRABOWO-SANDIAGA CAPRES IMAGE ON MEDIA ONLINE (Study : Framing Analysis on Kompas.com and Tempo.co)

    Full text link
    ABSTRACTThe construction of political news becomes important especially during the President's 2019 campaign period. Political reality becomes an issue that is always awaited by the public. The purpose of this research is to find out the framing conducted by the online media Kompas.com and Tempo.co in the hoax Ratna Sarumpaet news coverage of the political image of the Prabrowo-Sandiaga pair candidates based on analysis of Zhongdang Pan and Gerald M. Kosicki framing. The theory in this study is the Theory of Social Reality Construction. The research method used in this study is a qualitative method with analysis of Framing Zhongdang and Gerald M. Kosicki. The results of the study explain the online media Kompas.com and Tempo.co construct the reality of negative images of the Prabowo-Sandiaga couple related to the Ratna Sarumpaet hoax case seen from the choice of words, news perspective, language style used by showing the impact of the Prabowo-Sandiaga couple's involvement as negative opinions emerge in the eyes of the public. The implication in this research is that the media should use word selection and language style that is easily understood by the reader while prioritizing the balance of news in the journalistic code of ethics, and the use of layout in reporting and for researchers to conduct further research using Robert N. Entman's framing method to more emphasizing certain aspects of reality in the direction of framing a news. Keywords: Hoax Ratna Sarumpaet News, Citra Prabowo-Sandiaga, Social Reality Construction Theory ABSTRAKKonstruksi berita politik menjadi penting terutama pada masa kampanye Presiden 2019. Realitas politik menjadi isu yang selalu ditunggu masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui framing yang dilakukan oleh media online Kompas.com dan Tempo.co dalam pemberitaan berita hoax Ratna Sarumpaet terhadap citra politik capres pasangan Prabrowo-Sandiaga berdasarkan analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Teori dalam penelitian ini adalah Teori Konstruksi Realitas Sosial. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan analisis Framing Zhongdang dan Gerald M. Kosicki. Hasil penelitian menjelaskan media online Kompas.com dan Tempo.co mengkonstruksi realitas citra negatif terhadap pasangan Prabowo-Sandiaga terkait dengan kasus kabar bohong Ratna Sarumpaet dilihat dari pemilihan kata, sudut pandang berita, gaya bahasa yang digunakan dengan menunjukkan dampak dari keterlibatan pasangan Prabowo-Sandiaga seiring bermunculan opini-opini negatif di mata publik. Implikasi dalam penelitian ini adalah bagi media seharusnya menggunakan pemilihan kata dan gaya bahasa yang mudah dipahami pembaca dengan tetap mengedepankan keberimbangan berita di dalam kode etik jurnalistik, dan penggunaan tata letak dalam pemberitaan dan bagi peneliti agar melakukan penelitian selanjutnya dengan metode framing Robert N. Entman untuk lebih menonjolkan aspek-aspek tertentu dari realitas dalam bagaimana arah framing suatu berita.Kata Kunci: Berita Hoax Ratna Sarumpaet, Citra Prabowo-Sandiaga, Teori Konstruksi Realitas Sosia

    FEMALE VIOLENCE PADA FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK (Analisis Semiotika Roland Barthes)

    Full text link
    ABSTRACTThe film is able to influence society through the message content in it. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak is one of the films that appears as a critical expression of most Indonesian films that only feature women as objects. The purpose of this study is to describe the forms of violence against women in this film. Representative theory and constructivist paradigms are used to see the description of the message. Film analysis in this study uses Roland Barthes's semiotics which is used to dissect how the representation of violence against women in this film. The results showed that forms of violence were seen through the meaning of denotation and connotation that the female characters in this film became visible and invisible objects of violence. Forms of violence that appear in the form of verbal, physical, psychological and sexual violence. Whereas unseen forms of violence are structural violence and cultural violence. The culture of violence contained in this film is the result of a patriarchal culture that influences gender construction in society. The dominant ideology contained in the film is radical feminism which strongly condemns the patriarchal system.Keywords: Representation, Semiotics, Violence, Women ABSTRAKFilm mampu mempengaruhi masyarakat melalui isi pesan di dalamnya. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak adalah salah satu film yang muncul sebagai ungkapan kritis dari kebanyakan film Indonesia yang hanya menampilkan perempuan sebagai objek. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan yang ada di dalam film ini. Teori representasi dan paradigma konstruktivis digunakan untuk melihat penggambaran pesan. Analisis film dalam penelitian ini menggunakan semiotika Roland Barthes yang digunakan untuk mebedah bagaimana representasi kekerasan terhadap perempuan dalam film ini. Hasil penelitian menunjukkan bentuk-bentuk kekerasan dilihat melalui makna denotasi dan konotasi bahwa tokoh perempuan dalam film ini menjadi obyek kekerasan yang tampak dan tidak tampak. Bentuk kekerasan yang tampak berupa kekerasan verbal, fisik, psikologis dan seksual. Sedangkan bentuk kekerasan yang tidak tampak adalah kekerasan struktural dan kekerasan kultural. Budaya kekerasan yang terdapat di dalam film ini merupakan hasil dari kultur patriarki yang berpengaruh dalam konstruksi gender yang ada dalam masyarakat. Ideologi dominan yang terdapat dalam film yaitu feminisme radikal yang sangat mengutuk sistem patriarki.Kata kunci: Representasi, Semiotika, Kekerasan, Perempua

    SIMBOKRONIK KOMUNIKASI SEBAGAI BENTUK KONSTRUKSI KONFLIK ANTARPERSONAL PADA MAKNA KEMANUSIAAN DALAM FILM “HACKSAW RIDGE”

    Full text link
    Proses kehidupan manusia tidak dapat terpisahkan dengan interaksi antara individu yang satu dengan yang lain ataupun dengan kelompok. Pada kenyataannya, tidak semua interaksi antara individu ataupun antara kelompok dapat berjalan dengan baik, dan sering kali rentan terhadap konflik. Konflik yang terjadi dapat timbul dalam skala kecil, ataupun dalam skala besar, contoh dari konflik dalam skala besar ialah terjadinya peperangan. Dalam peperangan tentunya terjadi banyak pertumpahan darah, yang tentunya mencerminkan kurangnya rasa kemanusiaan dalam diri setiap individu yang terlibat dalam peperangan tersebut. Penelitian ini berangkat dari kisah nyata dalam film “Hacksaw Ridge” yaitu seorang tentara Amerika pada masa perang dunia ke 2, yang mempertahankan keyakinannya untuk mempraktekan nilai kemanusiaan meskipun ditengah peperangan, maka pada penelitian ini difokuskan pada representasi kemanusiaan dalam konflik anatarpersonal yang ditampilkan dalam film “Hacksaw Ridge”. Kajian ini merupakan kajian semiotika dengan menempakan semiotika sebagai teori, metode dan tradisi serta signifikansi tiga tahap Roland Barthes. Materi penelitian yang digunakan berdasarkan audio dan visual yang ditampilkan pada film tersebut. Penentuan bahan penelitiannya dengan memilih scenes pada film “Hacksaw Ridge”, yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu kemanusiaan. Hasil dari penelitian ini menemukan 3 aspek makna dari simbokronik yang ditampilkan pada konstruksi makna mengenai kemanusiaan yang direpresentasikan pada film “Hacksaw Ridge” yakni seorang tentara menolak untuk memegang dan membawa senjata ke medan perang, seorang tentara menolak untuk membunuh lawannya, dan yang terakhir seorang tentara melakukan pembangkangan terhadap komando dari atasannya. Ketiga hal tersebut menunjukan sisi kemanusiaan dari seorang tentara yang sedang maju di medan perang. 

    REPRESENTASI TOXIC RELATIONSHIP DALAM VIDEO KLIP KARD – YOU IN ME

    Full text link
    ABSTRACTThis study was conducted based on the Semiotic Analysis of Toxic Relationship Representation in the video clip of Kard - You In Me, in which the video clip contains the meaning of a romance of two couples who are in love but have a possessive behavior. The aim of this study is to find out the Toxic Relationship Representation contained in the music video clip. The theory used is the theory of Roland Gerard Barthes and uses the semiotic analysis method with qualitative descriptive research method with secondary data, which is a method carried out in a study and refers to books and other references. The conclusion of this study is the proof based on Semiotic Analysis that Toxic Relationship truly occurred in the video clip of Kard - You In Me.Keywords: Video Clip, Music Video, Semiotics, Representation, Toxic Relationship ABSTRAKPenelitian ini dilakukan berdasarkan Analisa Semiotika Representasi Toxic Relationship dalam video klip Kard-You In Me, dimana dalam video klip ini mengandung arti tentang percintaan antara dua pasangan yang menjalin asmara, namun memiliki sikap yang posesif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Representasi Toxic Relationship yang terkandung dalam klip video lagu tersebut. Teori yang digunakan adalah teori Roland Gerard Barthes serta menggunakan metode analisis semiotika dengan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan data sekunder, yaitu metode yang dilakukan dalam sebuah penelitian dan merujuk kepada buku-buku dan refrensi lain. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembuktian berdasarkan Analisa Semiotika bahwa Toxic Relationship benar terjadi dalam vidio klip Kard - You In Me.Kata Kunci: Video Klip, Video Musik, Semiotika, Representasi, Toxic Relationshi

    Representation of Women in Javanese Patriarchal Culture in the Performance of Teater

    No full text
    This research attempts to analyze the representation of women in the Javanese patriarchy in a theater performance entitled 'Archeology of Beha' by Benny Yohannes, performed by the Ukm Teater Gabung Unsika. This research uses the theory of semiotic analysis (study of signs) by Roland Barthes. Barthes argues that the sign system is divided into denotations, connotations and myths. This research uses a qualitative approach that is descriptive and uses text research techniques. Thus, this study only describes the situation, makes descriptive, and illustrative, systematically. Based on the discussion, the results of the study show that the representation of women in the Javanese patriarchy in theater performances entitled 'Archeology of Beha' by Benny Yohannes performed by the UKM Theater Gabung Unsika, includes: Women experiencing sexual objectification; Women in the feminine role get weak views; Women experience injustices related to the dichotomy of domestic and public work; Women in the role of mothers have a very noble view; Women as Wives Experiencing Difficult Positions. Keywords: Women; Patriarchy; Semiotics; Theater

    “POLITIK TANPA MAHAR”: SEMIOTIKA JARGON KOMUNIKASI PARTAI NASIONAL DEMOKRAT DI ERA DEMOKRASI BIAYA TINGGI

    Full text link
    ABSTRACTMoney has become the blood for the lives of political parties nowadays. Amid public perception that political parties are entities that cannot be separated from money, the Democratic National Party (Nasdem Party) launched the jargon "Politik Tanpa Mahar". That is, a person who is nominated to be a regional head or a member of the legislature does not need to pay any costs to the party in the nomination process. This study examines how the jargon process was formulated at the internal party level, how the impact on candidates proposed by the party when they conducted political communication, and how the public perceives the jargon and its relation to the assessment of the Nasdem Party. This study uses a qualitative approach with the Roland Barthes semiotic method. The results of the study revealed, first, this jargon itself was born based on the constraints of politics in Indonesia which abort people with good and integrity. With the enactment of jargon, which is also interpreted as a policy, Nasdem also contributed to the eradication of corruption on the internal side. Secondly, the promotion of this jargon caused several legislative candidates to move to the Nasdem party as capital in the interests of raising public votes. Finally, the community considered that this jargon was quite realistic and under the vision and mission of the Nasdem party to provide a positive image in the eyes of the community.Keywords: Jargon, Political communication, Political parties, Community perception, Semiotics ABSTRAKSaat ini, uang telah menjadi darah bagi kehidupan partai politik. Di tengah persepsi masyarakat bahwa partai politik adalah entitas yang tidak dapat dipisahkan dari uang, Partai Nasional Demokrat (Partai Nasdem) meluncurkan jargon “Politik Tanpa Mahar”. Maksudnya, seseorang yang dicalonkan menjadi kepala daerah atau anggota legislatif tidak perlu mengeluarkan biaya apapun kepada partai dalam proses pencalonannya. Penelitian ini mengkaji bagaimana proses jargon tersebut dirumuskan pada tingkat internal partai, bagaimana dampaknya terhadap para kandidat yang diajukan partai ketika mereka melakukan komunikasi politik, serta bagaimana publik mempersepsikan jargon tersebut dan relasinya dengan penilaian terhadap Partai Nasdem. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian mengungkapkan, pertama, jargon ini sendiri terlahir atas dasar kendala dari politik di Indonesia yang menggugurkan orang-orang baik dan berintegritas. Dengan diberlakukannya jargon, yang juga diartikan sebagai kebijakan, Nasdem turut berkontribusi dalam pengentasan korupsi di pihak internal. Kedua, diusungnya jargon ini menyebabkan beberapa calon legislatif, untuk berpindah ke partai Nasdem sebagai modal untuk kepentingan menaikkan suara publik. Terakhir, masyarakat menilai bahwa jargon ini cukup realistis dan sesuai dengan visi misi partai Nasdem sehingga memberikan citra yang positif di mata masyarakat.Kata kunci: Jargon, Komunikasi politik, Partai politik, Persepsi masyarakat, Semiotik

    DUA MATA MEMANDANG KARHUTLA (ANALISIS FRAMING PEMBERITAAN KARHUTLA DI THE STAR DAN KOMPAS.COM MODEL ROBERT N. ENTMAN)

    Full text link
    ABSTRACTForest and Land Fire Disasters (KARHUTLA) recurrently occur in Indonesia every year, especially in the dry season. In addition to numerous places in Indonesia, neighboring country like Malaysia also got affected by the after effects of KARHUTLA: smog. As a result, Smog has greatly been a concerned issue of both Malaysian and Indonesian media. While both of the media reporting on the same issue, fundamentally both media have different perspectives representing both countries; none of them wants to be held as solely responsible party that triggered the disaster. News framing that has been applied by the media to speak for their subjective objectivity shapes a distinct perception of reality among their audiences as a consequence. This is what makes researchers interested in analyzing more deeply the description and phenomenon of KARHUTLA reporting by using a descriptive qualitative research method. This study uses the Robert N. Entman framing analysis model as a tool to dissect media coverage of KARHUTLA issues from their respective perspectives. On the basis of research conducted by researchers, the online news portal The Star Malaysia and Kompas.com Indonesia were established as research subjects. While the object of this research is the news related to KARHUTLA. The results of the framing analysis show that there are media efforts to shape the perception of the reality of the states of Indonesia and Malaysia that are "accusing" each another of the KARHUTLA disaster and “making scapegoat” for the responsibility for it. Consequently, the image of the Indonesian nation was damaged by the contents of media coverage.Keywords: KARHUTLA ; framing analysisABSTRAKBencana Kebakaran Hutan dan Lahan (KARHUTLA) sudah kerap kali terjadi di wilayah Indonesia setiap tahunnya, khususnya pada musim kemarau. Kabut asap yang merupakan dampak dari KARHUTLA juga dirasakan oleh negara tetangga, yaitu Malaysia. Hal ini mengundang perhatian media Malaysia maupun Indonesia untuk menyoroti isu kabut asap yang kian meresahkan kedua negara tersebut. Isi pemberitaan dibingkai oleh media dari beberapa sudut pandang berita yang merepresentasikan Indonesia dengan Malaysia yang saling melempar tanggung jawab atas dampak kabut asap kebakaran hutan. Pembingkaian tersebut menciptakan persepsi realitas yang berbeda. Hal inilah yang membuat peneliti tertarik untuk menelaah secara lebih dalam gambaran dan fenomena tentang pemberitaan KARHUTLA dengan menggunakan metode penelitian pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan framing analysis model Robert N.Entman sebagai alat untuk membedah pemberitaan media yang mengulas permasalahan KARHUTLA dari perspektif masing – masing. Atas dasar riset yang dilakukan peneliti, portal berita online The Star Malaysia dan Kompas.com Indonesia ditetapkan sebagai subjek penelitian. Sedangkan yang menjadi objek penelitian ini adalah pemberitaan terkait KARHUTLA. Hasil framing analysis memperlihatkan adanya upaya media untuk membentuk persepsi realitas negara Indonesia dan Malaysia yang saling “tuding-menuding” perihal tanggung jawab bencana KARHUTLA. Akibatnya image bangsa Indonesia diciderai oleh isi pemberitaan media.Kata Kunci: KARHUTLA; Analisis Framin

    KONSTRUKTIVISME ESTETIKA KALIGARAFI BATIK MOTIF LAR (Analisis Semiotika dengan Perspektif Charles Sanders Peirce)

    Full text link
    ABSTRACTBatik is an aesthetic description that cannot be measured in terms of its beauty, the development of batik shows the uniqueness and characteristics of each motif displayed, some countries in the world have high calligraphic aesthetics, one of which is Indonesia, a country with diverse levels of culture, language and community structure, one of which one form of uniqueness of Indonesia is batik calligraphy which is the hallmark of the Indonesian nation and is even known throughout the world. One of the uniqueness of batik calligraphy lies in Lar batik, the use of batik Lar has become an inseparable characteristic of Indonesia, even the meaning contained in it is one of Lar's motives that stretches to show might, this certainly has unique characteristics. The most fundamental problem is the meaning that tends to keliaru in understanding batik Lar, because of the culture and traditions that shape it, this study wants to see the deep meaning contained in Lar batik motifs so as to be able to lift the characteristics of Lar batik in shaping the uniqueness and understanding of someone about the aesthetic nuances of a batik calligraphy. This study uses the perspective of Charles Sanders Peirce in the process of analysis by looking at the viewpoints of objects, signs and interpretations by placing semiotics as theories and methods.Keywords: Batik, Semiotics, Charles Saunders Peirce Theory, Representation, Meaning, Aesthetics. ABSTRAKBatik merupakan gambaran estetika yang tidak bisa diukur makna keindahannya, perkembangan batik mempertunjukan keunikan dan karakteristik dari setiap motif yang ditampilkan, beberapa negara di dunia memiliki esetika kaligrafi yang tinggi, salah satunya adalah Indonesia negara dengan tingkat budaya, bahasa dan struktur masayarakat yang beragam, salah satu bentuk keunikan dari Indoensia adalah kaligrafi batik yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dan bahkan dikenal di seluruh dunia. Salah satu keunikan dari kaligrafi batik terletak pada batik Lar, penggunaan batik Lar tersebut telah menjadi karakteristik yang tidak terpisahkan dari Indoensia, bahkan makna yang terkandung di dalamnya salah satunya adalah motif Lar yang terbentang mempertunjukan keperkasaan, hal ini tentunya memiliki karakteristik yang unik. Permasalahan yang paling mendasar yaitu pemaknaan yang cenderung keliaru dalam memahami batik Lar, karena budaya dan tradisi yang membentuknya, kajian ini ingin melihat makna mendalam yang terdapat pada motif batik Lar sehingga mampu mengangkat karakteristik dari batik Lar dalam membentuk keunikan dan pemahaman seseorang tentang nuansa estetika suatu kaligrafi batik. Kajian ini menggunakan perspektif Charles Sanders Peirce dalam proses analisis dengan melihat dari subut pandang objek, tanda dan interpretasi dengan menempatkan semiotika sebagai teori dan metode.Kata Kunci : Batik, Semiotika, Teori Charles Saunders Peirce, Representasi, Makna,Estetika

    Analisis Semiotika Mengenai Representasi Rasisme Terhadap Orang Kulit Hitam Dalam Film BlacKkKlansman

    Full text link
    Rasisme menjadi permasalahan dunia yang hingga saat ini masih belum bisa diselesaikan, rasisme yang paling sering terjadi adalah rasisme dari orang kulit putih terhadap orang kulit hitam. Penyampaian isu-isu rasisme saat ini sudah masuk ke media elektronik seperti contohnya adalah film. Film dapat mempengaruhi pandangan seseorang melalui pesan-pesan yang mereka sampaikan. Film BlacKkKlansman merupakan salah satu film yang mengangkat isu rasisme terhadap orang kulit hitam yang khususnya terjadi di Amerika Serikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana representasi denotasi, konotasi, dan mitos yang terbentuk mengenai rasisme yang terdapat dalam film BlacKkKlansman ini.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika. Data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah adegan atau scene yang terdapat dalam film BlacKkKlansman yang khususnya terdapat unsur-unsur rasisme terhadap kulit hitam. Dari data-data yang sudah peneliti dapatkan, peneliti melakukan analisis dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Analisis dilakukan melalui dua tahap, yaitu signifikasi tahap pertama, yaitu makna denotasi, serta signifikasi tahap kedua, yaitu makna konotasi, selanjutnya pada signifikasi tahap kedua, tanda juga bekerja melalui mitos.Hasil yang diperoleh adalah bahwa dari scene-scene yang telah dipilih terdapat sikap, perilaku, perkataan, dan tindakan rasisme yang ditujukan kepada kulit hitam. Kesimpulan dari penelitian ini adalah makna denotasi yang terdapat dalam film BlacKkKlansman adalah contoh nyata sikap, perilaku, perkataan ataupun tindakan rasisme yang orang kulit hitam dapatkan dari orang kulit putih. Selain itu, makna konotasi yang terdapat dalam film BlacKkKlansman adalah orang kulit putih yang masih memandang rendah orang kulit hitam. Dan mitos yang terdapat dalam film BlacKkKlansman adalah bagaimana sikap, perilaku, perkataan dan tindakan rasisme tersebut diturunkan dari generasi ke generasi ataupun di wariskan sehingga sikap, perilaku, perilaku, dan tindakan rasisme tersebut masih ada hingga saat ini.Kata Kunci: Rasisme, Orang Kulit Hitam, BlacKkKlansman, Semiotik

    186

    full texts

    192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇