SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Not a member yet
    192 research outputs found

    ANALISIS FILM TITANIC SEBAGAI MEDIA KAMPANYE MITIGASI BENCANA KAPAL TENGGELAM

    Full text link
    ABSTRACTThis study aims to find out how the Titanic Ship Film portrays the scene of self-rescue so that viewers get information about good self-selection and according to procedure. This study uses the Semiotics Theory developed by Charles Sanders Pierce. This study uses a qualitative methodology with a semiotic method to analyze each rescue scene. The results of this study indicate that in the sinking film Titanic has a self-rescue scene consisting of four stages. The first stage, there is a scene of the attempt to delay the sinking ship. Second, the rescue stage when the ship will sink. Third, the third rescue stage of the ship has sunk. Fourth, the evacuation of victims carried out by officers.Keywords: Film, Self-Rescue, Sinking Titanic Ship, SemioticsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mencari tahu bagaimana Film Kapal Titanic mengambarkan adegan penyelamatan diri sehingga penonton mendapatkan informasi mengenai penyelatan diri yang baik dan sesuai prosedur. Penelitian ini menggunakan Teori Semiotika yang dikembangkan oleh Charles Sanders Pierce. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan metode semiotika untuk menganalisa setiap adegan penyelamatan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa dalam Film Tenggelamnya kapal Titanic memiliki adegan penyelamatan diri yang terdiri dari empat tahap. Tahap pertama, adanya adegan usaha penundaan kapal tengelam. Kedua, tahap penyelamatan ketika kapal akan tenggelam. Ketiga, tahap penyelamatan ketiga kapal telah tenggelam. Keempat, tahap evakuasi korban yang dilakukan oleh petugas.Kata Kunci : Film, Penyelamatan Diri, Tenggelamnya Kapal Titanic, Semiotik

    KONTRA HEGEMONI MELALUI PERSPEKTIF VAN DIJK PADA FILM THE TRUE COST SEBAGAI REFLEKSI FAST FASHION INDUSTRIES

    Full text link
    ABSTRACTMedia functions as a tool to convey justice as a form of struggle. One of which is pictured through the documentary film The True Cost directed by Andrew Morgan and played by a lot of intellectual people one of which is Lucy Siegle as a journalist and environment columnist. This research is conducted with the purpose of understanding the contra hegemony actions towards the fast fashion industry which is portrayed in the documentary film The True Cost. This research is also conducted with the purpose to understand critically on what ideology is being offered by the actor and director of The True Cost documentary film against hegemony of the fast fashion industry. The author uses the critical paradigm which is used to find out the truth which actually happens behind the injustice and imbalance that exists. The author also uses the qualitative approach, which is the research to think inductively by using the Teun A Van Dijk Critical Discourse Analysis through stages of text, social cognition and social context. The subject of this research is the discourse of contra hegemony towards fast fashion, while the object is the documentary film The True Cost.Keywords: Gramsci, Contra Hegemony, Fast Fashion, Capitalism, The True Cost ABSTRAKMedia menjadi alat untuk menyampaikan keadilan sebagai bentuk perjuangan. Salah satunya tergambarkan dalam film dokumenter The True Cost yang disutradari oleh Andrew Morgan dan diperankan oleh banyak kaum intelektual salah satunya Lucy Siegle sebagai jurnalis dan kolumnis lingkungan. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui tindakan kontra hegemoni atas industri fast fashion yang ditampilkan dalam film dokumenter The True Cost. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui secara kritis akan ideologi apa yang ditawarkan oleh aktor dan sutradara film dokumenter The True Cost dalam melawan hegemoni industri fast fashion. Peneliti menggunakan paradigma kritis yang digunakan untuk mencaritahu kebenaran yang sebenarnya terjadi di balik ketidakadilan atau ketidakseimbangan yang ada. Peneliti juga menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu penelitian untuk berfikir induktif dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis Teun A Van Dijk melalui tahap teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Subjek dari penelitian ini adalah wacana kontra hegemoni terhadap fast fashion, sedangkan objeknya adalah film dokumenter The True Cost.Kata Kunci: Gramsci, Kontra Hegemoni, Fast Fashion, Kapitalisme, The True Cos

    REPRESENTASI PEREMPUAN JAWA SITI WALIDAH DALAM FILM NYAI AHMAD DAHLAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi perempuan Jawa yang ditampilkan oleh Siti Walidah dalam film Nyai Ahmad Dahlan. Film bergenre biopik ini menceritakan kisah kehidupan Siti Walidah yang sering dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan, salah satu pahlawan emansipasi wanita. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendeketan deskriptif dengan teknik analisis data berdasarkan teori John Fiske tentang the codes of television. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika dengan pendekatan gender serta analisis paradigmatik dan analisis sintagmatik. Analisis sintagmatik digunakan untuk menguraikan tanda yang penting dalam pemaknaan. Sedangkan analisis paradigmatik digunakan untuk menelaah lebih lanjut kode-kode yang tersembunyi dalam film tersebut. Penelitian ini berfokus pada 3 level analisis yaitu level realitas (penampilan, riasan, pakaian, lingkungan, dan perilaku), level representasi (musik dan kamera), dan level ideologi (feminisme, patriarki, kapitalisme, dan sosialisme). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa Siti Walidah mempresentasikan perempuan Jawa yang menggambarkan realitas kehidupan dan budaya Jawa saat itu, bahwa perempuan Jawa digambarkan berpenampilan sederhana menggunakan kebaya dipadu dengan jarik kain bermotif batik, dengan riasan yang polos. Film ini menggunakan bahasa Jawa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Serta dapat dilihat Siti Walidah sebagai perempuan dalam kepemimpinan, perempuan dan pendidikan, serta perempuan yang mandiri. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu perempuan Jawa pada saat itu masih berperan di lingkup domestik. Sehingga Siti Walidah memperlihatkan kiprahnya dalam berjuang agar perempuan mendapat kesetaraan, tetapi tidak melupakan tugas dan fitrahnya, serta selalu melakukan sesuatu menurut ajaran Islam sehingga memiliki kehidupan yang tertata dengan baik.

    EKONOMI POLITIK, MEDIA DAN RUANG PUBLIK

    Full text link
    ABSTRACTInformation that is fast and able to reach the audience has become a necessity for the community. The mass media play an important role in social, political and economic life, besides that it must also be a public space to channel community participation in upholding a democratic government system. Public space is a part of social life, where every citizen can argue with each other about various issues related to public life and the common good. But now the media is no longer oriented to meet the needs of the community in terms of healthy information and entertainment, but rather is more dominant in capitalist economic profits, competitive market forces. In the end the community did not get the information displayed both of side and actual. Media coverage is packaged in such a way with the agenda setting method. This becomes a special dilemma for media democracy between the public or kapiyalis interests. Whereas the media is used by market interests to be able to generate profits.Keywords: Political Economy Media, Public AreaABSTRAKInformasi yang cepat dan mampu menjangkau khalayak telah menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Media massa berperan penting dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi, disamping itu juga harus sebagai ruang publik guna menyalurkan partisipasi masyarakat dalam menegakkan sistem pemerintahan yang demokrasi. Ruang publik adalah bagian dari kehidupan sosial, dimana setiap warga negara dapat saling berargumentasi tentang berbagai masalah yang terkait dengan kehidupan publik dan kebaikan bersama. Namun kini media tidak lagi berorientasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam hal informasi dan hiburan yang sehat, melainkan lebih dominan pada profit ekonomi kapitalis, kekuatan pasar secara kompetitif. Pada akhirnya masyarakat tidak mendapatkan informasi yang ditampilkan secara both of side dan aktual. Pemberitaan media dikemas sedemikian rupa dengan metode agenda setting. Hal ini menjadi dilematis tersendiri bagi demokrasi media antara publik atau kepentingan kapiyalis. Sedangkan media digunakan oleh kepentingan pasar untuk dapat menghasilkan keuntungan.Kata Kunci: Ekonomi Politik Media, Ruang Publi

    MITOLOGI SUKSESI PEREMPUAN DALAM IKLAN NIVEA VERSI “NEVER STOP CARING”

    Full text link
    ABSTRACTThere are many kinds of functions of advertising; one of them can be used for campaigning human care. As represented through "Never Stop Caring" version from Nivea product, it is related to the mythology of woman succession. The women refer to successful figures in their respective fields. Using Roland Barthes's semiotics, this qualitative study analyzes six scenes becomes the units of analysis. From the results, it was found that the myth of the successful woman is not only seen from the work performance or position obtained, but also from support provided by people around. The representation of women's succession itself lies in the message conveyed by the figures who convey the message about support or motivation. In the end, the succession of women conveyed in these advertisements leads to mental or mind changes that can strengthen women in process of change.Keywords: Mythology, Women's succession, Representation, Semiotics ABSTRAKAda banyak ragam fungsi sebuah iklan; salah satunya dapat digunakan untuk mengkampanyekan kepedulian dengan sesama manusia. Adapun yang direpresentasikan melalui iklan Nivea Versi “Never Stop Caring” adalah yang berkaitan dengan mitologi suksesi perempuan. Para perempuan yang ditampilkan dalam iklan memang merujuk pada tokoh-tokoh yang berhasil di bidangnya masing-masing. Menggunakan semiotika Roland Barthes, penelitian kualitatif ini menganalisis enam scene yang menjadi unit analisis. Dari hasil penelitian kualitatif ini, ditemukan mitos bahwasanya kesuksesan/keberhasilan seorang perempuan tidak hanya dilihat dari kinerja kerja atau jabatan yang didapatkan, melainkan dari dukungan yang diberikan oleh orang–orang terdekat. Representasi suksesi perempuan itu sendiri terletak pada pesan yang disampaikan tokoh-tokoh yang diberikan kesempatan untuk berbicara menyampaikan pesan berupa dukungan atau motivasi. Pada akhirnya, suksesi perempuan yang disampaikan pada iklan tersebut mengarah kepada perubahan mental atau pikiran yang mampu menguatkan perempuan dalam menjalani perubahan.Kata Kunci: Mitologi, Suksesi Perempuan, Representasi, Semiotik

    SARA’S REPRESENTATION IN DETIK.COM NEWS PORTAL (Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis Statement by the Head of BPIP Calling Religion to be the Greatest Enemy of Pancasila)

    Full text link
    Sara's Representation in Detik.com News Portal (Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis Statement by the Head of BPIP Calling Religion to be the Greatest Enemy of Pancasila). This research was compiled because of the interest of researchers to see how SARA is represented in the statement of the Head of BPIP who said religion was the greatest enemy of Pancasila in detik.com. This study uses qualitative research methods using the theory of critical discourse analysis. Critical Discourse Analysis used is the Norman Fairclough AWK model that emphasizes the three dimensions of Fairclough namely text, discourse practice and sociocultural practice that focuses on the content of the text in the news that will be analyzed by researchers. This study aims to find out how SARA is represented in the statement of the Head of BPIP in the news Detik.com.The results of this study in terms of text analysis have been narrated through repetition, themes, modalities, and diction referred to in the head of BPIP Call Religion to Be the Greatest Enemy of Pancasila at detik.com. In terms of Discourse Practice by looking at the level of text production and text consumption in the head of BPIP's call Religion Becomes the Greatest Enemy of Pancasila. In terms of Sociocultural Practice the Head of BPIP made a statement related to the SARA because he had just held the position of Head of BPIP and added that detik com had a close relationship with Yudian Wahyudi in line with the power of the CT Corp owner's son making the detik.com media faster to carry out the process text production. The statement made by Yudian Wahyudi in the news on detik.com which mentions that the biggest enemy of Pancasila today is that Religion arises because of the social events that occurred and were experienced by Indonesian people in the past so that Yudian Wahyudi easily made such statements

    STEREOTIP PEREMPUAN CALON LEGISLATIF DALAM WACANA MEDIA MASSA ONLINE DI TAHUN POLITIK

    Full text link
    ABSTRAK Stereotip wanita berpolitik pada tahun politik merupakan fenomena yang penting. Fenomena ini banyak di bahas dalam 10 tahun terakhir, seiring dengan dibukanya kesempatan perempuan untuk dapat berkiprah dalam dunia politik. Dalam UU No. 2/2008 yang menetapkan partai harus menyertakan 30% perempuan dalam kepengurusan. Kemudian juga dalam UU No. 10/2008 yang menetapkan partai harus mencalonkan 30% perempuan dalam daftar calon dan menempatkan minimal 1 perempuan di antara 3 nama calon. Kajian perempuan berpolitik dalam media bersinggungan pada kondisi umum yang berkaitan dengan terjadinya kecenderungan hegemoni pemaknaan atas realitas oleh pihak yang lebih dominan atau media terhadap pihak yang kurang dominan yaitu publik termasuk dalam hal berpolitik. Teori sikap memberikan kerangka untuk memahami system kekuasaan. Teori sikap membantu mengilustrasikan kesentralan komunikasi baik dalam membentuk dan menyalurkan sikap. Selain itu, teori ini menunjuk pada kegunaan komunikasi sebagai alat dalam mengubah status quo dan menghasilkan perubahan.Foucault (1982) menyatakan bahwa melalui wacana, seseorang dapat merealisasikan kuasa digunakan untuk “mengalahkan” pihak lain. Atas dasar asumsi tersebut, Foucault meyampaikan konsep wacana sebagai refleksi relasi kuasa dalam konteks sosial, yang memunculkan perspektif fungsional dalam analisis bahasa (Halliday & Hassan 1984) dan paradigma analisis wacana kritis (AWK) yang, antara lain, dikembangkan oleh  van Dijk (1993, 2008, 2009) dan Fairclough (1995, 2001).   Kompas.comdipilih sebagai media rujukan, karena selama ini cukup independent dalam menyajikan berita politik.Penelitian ini diharapkan dapat memberikan jawaban atas peran media nasional inidalam mengkonstruksikan peran gender terhadap pembaca  dan bagaimana gender tersebut berperan dalam marginalisasi dan stereotype kaum perempuan dalam sektor publik, terutama dalam dunia politik. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah analisis wacana kritis dengan pendekatan kualitatif dan konstruktivisme. Temuan data dianalisis berdasarkan struktur tertentu yang ditentukan, yaitu  kelengkapan struktur kalimat yang dianalisis melalui analisis wacana kritis Van Dijk. Hasil penelitian menunjukkan adanya marginalisasi dan stereotype kaum perempuan dalam sektor publik, terutama dalam dunia politik di Indonesia.Kata kunci: perempuan berpolitik, media, analisis wacana kriti

    REPRESENTASI IDEOLOGI REPUBLIKA MELALUI WACANA BERITA KONTESTAN POLITIK PILKADA DKI JAKARTA 2017 PUTARAN KEDUA

    Full text link
    ABSTRAK Media massa cenderung dijadikan alat provokasi untuk memanasi situasi dinamika politik. Tak sedikit media memberikan pendidikan politik yang seharusnya membuat masyarakat khususnya pemilih menjadi cerdas dan kritis. Fenomena ini yang terjadi ini di Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua yang di mana terdapat dua kandidat, yakni Ahok sebagai petahana dan Anies sebagai penantang. Harian Republika salah satu media yang memberitakan kontestan politik petahana versus penantang dan memiliki ideologi Islam. Tujuan penelitian ini adalah bagaimana Republika dari segi ideologi memberitakan Ahok dan Anies di Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran kedua. Metode penelitian adalah analisis wacana kritis. Penelitian ini menunjukan bahwa Anies Baswedan sebagai penantang direpresentasikan anti-tesis dari petahana, image ini kemudian ditampilkan sosok pemimpin yang santun, tidak memaki-maki di depan publik, dan dekat dengan umat Islam. Sementara, Ahok sebagai petahana direpresentasikan pemimpin penistaan agama Islam. Kata kunci: Ideologi Media, Berita Politik, Komunikasi Politik, dan Analisis Wacana Kriti

    REPRESENTASI GENDER TOKOH DIANA DALAM FILM WONDER WOMAN

    Full text link
    ABSTRACTThe purpose of this study is to describe feminism in the female film Superhero entitled'Wonder Woman' which was released in 2017 and to find out the implicit meaning of feminism.This research uses qualitative and descriptive methods and semiotic analysis of Roland Barthes.Roland Barthes's semiotic analysis includes denotation (true meaning) and connotation (doublemeaning, born from cultural and personal experiences). And if the connotation is inherent insociety, it will become a myth. The analysis of this research is based on the elements ofnarrative films, such as space and time, character, conflict, and purpose. The results obtainedfrom this study are from 14 selected scenes in this Wonder Woman film containing 4 points offeminism. The feminism point was taken based on a book called Feminist Thought by RosemariePutnam Tong. Feminism consists of feminism in struggle, feminism in making decision,feminism in the power of determination, and feminism in love. Wonder Woman is amonoandrogynous woman, where she shows feminine and masculine character at the sametime. Beautiful, innocent, compassionate, eager for the opposite sex, can fall in love like womenin general. But at the same time also aggressive, can lead, can compete, can make their owndecisions and can carry responsibility for the interests of many people like men.Keywords: Feminism, Movie, Wonder Woman, Gender Communication, Roland Barthes’sSemioticsABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan feminisme yang ada dalam FilmSuperhero wanita berjudul „Wonder Woman‟ yang dirilis pada tahun 2017 serta untuk mengetahui maknayang tersirat dari feminisme tersebut. Penelitan ini menggunakan metode kualitatif dan deskriptif sertaanalisis semiotika Roland Barthes. Analisis semiotika Roland Barthes mencakup denotasi (maknasebenarnya) dan konotasi (makna ganda, yang lahir dari pengalaman kultural dan pribadi). Dan jikakonotasi sudah melekat dalam masyarakat, maka akan menjadi mitos. Analisis penelitian ini berpokokpada elemen-elemen film naratif, seperti ruang dan waktu, tokoh, konflik, dan tujuan. Hasil yang didapatdari penelitian ini adalah dari 14 adegan terpilih yang ada di film Wonder Woman ini mengandung 4 poinfeminisme. Poin feminisme tersebut diambil berdasarkan buku berjudul Feminist Thought oleh Tong.Feminisme tersebut terdiri dari feminisme dalam perjuangan, feminisme dalam pengambilan keputusan,feminisme dalam kekuatan tekad, dan feminisme dalam kasih sayang. Wonder Woman adalah perempuanyang monoandrogini, yaitu di mana ia menunjukkan karakter feminin dan maskulin pada saat yangbersamaan. Cantik, polos, penyayang, berhasrat untuk lawan jenis, dapat jatuh cinta seperti perempuanpada umumnya. Namun di waktu yang sama juga agresif, dapat memimpin, dapat bersaing, dapatmengambil keputusannya sendiri dan dapat mengemban tanggung jawab untuk kepentingan orang banyaklayaknya laki-laki.Kata Kunci: Feminisme, Film, Wonder Woman, Komunikasi Gender, Semiotika Roland Barthe

    MAKNA SIMBOL TRADISI JHE҃҃҃҃҃҃҃҃҃NG MANTOH (Analisa Semiotika Charles Sanders Peirce

    Full text link
    ABSTRACTThis article attempts to explain Charles Sanders Peirce's semiotic analysis of the Jheng mantoh tradition symbol in Madura. The aim of this research is to find out the meaning of the symbols that exist in the Jheng mantoh tradition in Madura which began to be abandoned by the urban Madura community. The jheng mantoh tradition is one of the traditions in Madura, especially the Bangkalan region in the form of a ceremony welcoming the arrival of a daughter-in-law to the bridegroom's family. The purpose of this mantoh jheng is to establish friendship as well as to introduce the bride as a new family member to her husband's extended family. The method in this study is a qualitative descriptive approach to the triadic meaning of Charles Sanders Peirce's semiotics. The results showed that the symbols in the Jheng mantoh tradition in Madura have meanings that are loaded with the noble values of the Madurese community. The stages of Jheng Mantoh tradition are three parts, namely Jheng Mantant pre activity, Jheng Mantoh activity, and post Jheng mantoh. Each stage has its own symbol and meaning. This great jhe҃ng tradition can be found several symbols during the course of this tradition, such as binoculars, sound systems, goat heads, milk fish, tettel, various market snacks, trays, spoons, rituals of tek-tek-tek and so on.Keywords: jheng mantoh, Madura, semiotic, charles Sanders Peirce ABSTRAKArtikel ini berusaha menjelaskan tentang analisa semiotika Charles Sanders Peirce pada simbol tradisi Jheng mantoh di Madura. Tujuannya adalah untuk mengetahui makna simbol-simbol yang ada pada tradisi Jheng mantoh di madura yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Madura perkotaan. Tradisi jheng mantoh adalah salah satu tradisi di Madura, khususnya wilayah Bangkalan berupa upacara menyambut kedatangan menantu perempuan di keluarga mempelai laki-laki. Tujuan jheng mantoh ini adalah untuk menjalin silaturahmi sekaligus mengenalkan mempelai perempuan sebagai anggota keluarga baru kepada keluarga besar suaminya. Metode dalam penelitian ini adalah deskritif kualitatif dengan pendekatan segitiga makna semiotika charles Sanders Peirce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol-simbol dalam tradisi Jheng mantoh di Madura memiliki makna yang sarat dengan nilai-nilai luhur masyarakat Madura. Tahapan tradisi Jheng mantoh ada tiga bagian, yaitu pra kegiatan jheng mantoh, kegiatan jheng mantoh, dan pasca jheng mantoh. Masing-masing tahapan memiliki simbol dan makna tersendiri. Tradisi jhe҃ng mantoh ini dapat ditemui beberapa simbol selama berlangsungnya tradisi ini, seperti terop, sound system, kepala kambing, ikan bandeng, tettel, aneka jajanan pasar, talam, sendok, ritual tek-tek-tek dan sebagainya.Kata Kunci: jheng mantoh, Madura, semiotika Charles Sanders Peirce

    186

    full texts

    192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇