SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
Not a member yet
    192 research outputs found

    Stereotip Penderita Skizofrenia Dalam Film Joker

    Full text link
    Media massa dapat berperan dalam menguatkan stereotip penderita skizofrenia pada masyarakat, salah satunya melalui film. Joker adalah film yang menceritakan hidup Arthur mengalami gangguan mental skizorenia. Skizofrenia adalah sebuah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya mengalami halusinasi dan perubahan perilaku, juga kerap mendapatkan perilaku tidak adil dari orang disekitarnya dan memicunya melakukan kejahatan. Stereotip terhadap seseorang dapat diberikan melalui mitos yang melekat terhadap kelompok pada seseorang tersebut bergabung, penderita skizofrenia mendapatkan stereotip berdasarkan mitos skizofrenia yang telah dipercaya oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan streotip penderita skizofrenia yang digambarkan dalam film Joker. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mitos mengenai penderita skizofrenia masih banyak ditunjukkan dalam film Joker. Mitos yang terus ditunjukkan dalam media salah satunya film, membuat stereotip penderita skizofrenia menjadi semakin melekat. Stereotip penderita skizofrenia dalam film Joker adalah negatif. Stereotip yang ditunjukkan dibagi menjadi dua yaitu penyebab dan dampaknya. Pertama, dari sisi penyebabnya yang ditunjukkan dalam film adalah kekerasan dan rasa benci yang dialami pada masa kecil akan menimbulkan sifat asosial dan benci pada semua orang, sehingga streteotip yang didapat adalah penderita skizofrenia disebabkan oleh kekerasan orang tua. Kedua, dari sisi dampak yang ditunjukkan dalam film antara lain Arthur dianggap bodoh dan berperilaku aneh sehingga stereotip yang didapat penderita skizofrenia tidak mampu memiliki kehidupan dan pekerjaan

    NILAI SOSIAL BUDAYA DALAM FILM TILIK (KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)

    Full text link
    Tujuan penelitian ini yaitu meneliti dan mendeskripsikan nilai sosial dan budaya yang direpresentasikan dalam film “Tilik”. “Tilik” merupakan sebuah film pendek berbahasa Jawa yang diproduksi oleh Ravacana Film yang lolos kurasi dana istimewa Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2018. Fokus penelitian ini adalah representasi nilai sosial dan budaya. Objek dalam penelitian ini adalah film “Tilik” yang berupa potongan gambar dari adegan atau scene dalam film tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan penulis yaitu analisis isi. Analisis isi merupakan suatu model yang digunakan untuk meneliti dokumentasi data yang berupa teks, gambar, symbol, dan sebagainya. Metode ini dapat dipakai untuk menganalisa semua bentuk komunikasi, seperti dalam surat kabar, buku, radio, film dan sebagainya. Penelitian ini menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce yang membagi tanda berdasarkan symbol, object, dan interpretant yang dikenal sebagai segitiga triadik. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan menggunakan pendekatan semiotik Charles Sanders Peirce maka ditemukan banyak data yang menunjukkan nilai sosial dan kebudayaan dalam film “Tilik”. film “Tilik” memiliki nilai sosial budaya yang dapat kita Analisa lebih dalam. Nilai sosial budaya tersebut meliputi sistem bahasa, sikap kekeluargaan, organisasi sosial, kemajuan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, sapaan, mitos yang berkembang dalam masyarakat, status sosial, gotong royong, dan nilai sopan santun. Hal tersebut dapat dilihat melalui data-data temuan yang telah dihadirkan dalam penelitian

    REPRESENTASI MAKNA FEMINISME PADA SAMPUL MAJALAH VOGUE VERSI ARABIA EDISI JUNI 2018 (Analisis Semiotika dengan Perspektif Roland Barthes)

    Full text link
    ABSTRACTThe representation of the meaning of feminism on the cover of the June 2018 edition of Vogue magazine is the theme of this study. The problem to be investigated is how the representation of the meaning of feminism and how the moral message contained in the cover of the Arabic version of Vogue magazine in the June 2018 edition. The author uses a qualitative method with Roland Barthes's semiotic analysis approach. The results of this study conclude that first, the representation of the meaning of feminism in the photos on the cover of the magazine using Roland Barthes's semiotics shows that the Saudi Arabian Royal family as shown by Princess Hayfa as her model, looks insensitive to the situation and conditions that actually occur in society in Arabia . The myth to be conveyed in the photo is that as an Arab who is not conservative and as a modern woman, Princess Hayfa is too unconcerned about her own religion and culture which is a long-held teaching by her ancestors in Saudi Arabia, even though she is a role model from the Royal family to its people in the country of Saudi Arabia. The second conclusion is the moral lessons that can be drawn from the phenomena found on the cover of the Arabic version of the Vogue magazine in the June 2018 edition, it is very important to preserve the noble values believed by the previous ancestors, bearing in mind that the cultural values were born from good Islamic teachings. and true based on the arguments in the Holy Qur'an and its hadiths. However the development of the times from time to time, as Muslims we are obliged to stick to the teachings of Islam that we believe from birth.Keywords: Magazine, Feminism, Semiotics, Roland Barthes Theory.ABSTRAKRepresentasi makna feminisme pada sampul majalah Vogue versi arabia edisi Juni 2018 merupakan tema dalam penelitian ini. Masalah yang ingin diteliti adalah bagaimana representasi makna feminisme dan bagaimana pesan moral yang terkandung pada sampul majalah Vogue versi Arabia edisi Juni 2018. Penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pertama, representasi makna feminisme pada foto pada sampul majalah dengan menggunakan semiotika Roland Barthes menunjukkan bahwa pihak keluarga Kerajaan Arab Saudi sebagaimana ditampilkannya Putri Hayfa sebagai modelnya, terlihat tidak peka terhadap situasi dan kondisi yang ada sebenarnya yang terjadi pada masyarakat di Arab. Mitos yang hendak disampaikan pada foto itu adalah bahwa sebagai orang Arab yang tidak konservatif dan sebagai seorang wanita modern, Putri Hayfa terlalu kurang peduli terhadap agama dan kebudayaannya sendiri yang merupakan ajaran yang dianut sudah lama oleh para leluhurnya di Arab Saudi, padahal ia merupakan role model dari keluarga Kerajaan untuk masyarakatnya di negara Arab Saudi. Kesimpulan yang kedua yaitu pelajaran moral yang dapat dipetik dari fenomena yang ditemukan pada sampul majalah Vogue versi Arabia edisi Juni 2018 ini adalah sangat penting untuk menjaga nilai-nilai luhur yang diyakini oleh para leluhur terdahulu, mengingat nilai kebudayaan tersebut lahir dari ajaran Agama Islam yang baik dan benar berdasarkan dalil-dalil yang ada di kitab suci Al-Quran beserta hadist-hadistnya. Bagaimanapun perkembangan zaman dari masa ke masa, sebagai umat muslim kita berkewajiban tetap berpegang teguh pada ajaran Agama Islam yang kita yakini sejak lahir.Kata Kunci : Majalah, Feminisme, Semiotika, Teori Roland Barthes

    RASISME DALAM FILM SKIN 2018 DARI PANDANGAN SEMIOTIKA ROLAND BARTHES

    Full text link
    Rasisme menjadi permasalahan dunia yang hingga saat ini masih belum bisa diselesaikan. Penyampaian isu-isu rasisme saat ini sudah masuk ke media elektronik, misalnya film. Film dapat mempengaruhi pandangan seseorang melalui pesan-pesan yang mereka sampaikan. Film Skin merupakan salah satu film yang mengangkat isu rasisme terhadap publik baik dari segi rasial maupun agama. Hal itulah yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana representasi denotasi, konotasi, dan mitos yang terbentuk mengenai rasisme yang terdapat dalam film Skin. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika. Data yang digunakan adalah adegan atau scene rasisme baik secara ras maupun agama, serta studi kepustakaan seperti buku, jurnal, dan skripsi penelitian terdahulu. Data-data tersebut dianalisis menggunakan teori semiotika Roland Barthes melalui dua tahap, yaitu signifikasi tahap pertama yang mengetahui makna denotasi pada scene-scene terpilih, serta signifikasi tahap kedua yang mengetahui makna konotasi pada scene-scene terpilih, selanjutnya pada signifikasi tahap kedua, tanda juga bekerja melalui mitos. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna denotasi yang terdapat dalam film Skin adalah contoh nyata sikap, perilaku, perkataan ataupun tindakan rasisme yang orang kulit hitam, umat muslim, dan junior dapatkan dari kelompok supremasi kulit putih. Selain itu, makna konotasi yang terdapat dalam film Skin adalah orang – orang supremasi kulit putih yang memandang rendah orang kulit hitam, dan muslim sebagai sebuah ancaman dan harus dihabiskan, selain itu sikap diskriminatif mereka terhadap junior. Dan mitos yang terdapat dalam film Skin adalah bagaimana sikap, perilaku, perkataan dan tindakan rasisme tersebut diturunkan dari generasi ke generasi ataupun di wariskan sehingga sikap, perilaku, perilaku, dan tindakan rasisme tersebut masih ada hingga saat ini. ABSTRACT             Racism is a world problem that has yet to be resolved. Presenting issues of racism have now entered electronic media, such as films. Movies can influence a person's views through the messages they convey. Film Skin is one of the films that raises the issue of racism against the public, both from a racial and religious perspective. That is what makes researchers interested in knowing how the representations of denotation, connotation, and myths are formed about racism in the film Skin. This study uses a qualitative method with a semiotic analysis approach. The data used are scenes or scenes of racism both by race and religion, as well as literature studies such as books, journals and previous research theses. These data were analyzed using Roland Barthes' semiotic theory through two stages, namely the first stage of significance knowing the meaning of denotation in the selected scenes, and the second stage of knowing the meaning of connotation in selected scenes, then in the second stage of significance, the sign also working through myths. The results of this study indicate that the denotation meaning contained in the film Skin is a clear example of the attitudes, behavior, words or actions of racism that black people, Muslims, and juniors get from white supremacists. In addition, the connotation contained in the film Skin is that white supremacists look down on black people and Muslims as a threat and must be eliminated, besides their discriminatory attitude towards juniors. And the myth that is contained in the film Skin is how attitudes, behavior, words and actions of racism are passed down from generation to generation or inherited so that attitudes, behaviors, behaviors and acts of racism still exist today

    ANALISIS PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM MENOLAK BUDAYA PATRIARKI (Analisis Wacana Kritis – Sara Mills Pada Film “Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak”)

    Full text link
    ABSTRACTMarlina Si Pembunuh dalam Empat Babak is a story that is reconstructed from the reality that happened to produce a story like the real one in Sumba in 2017. Departing from the social phenomenon of Yappa Marrada namely the abduction of women as a way of forcing men to have women, this film clearly shows how the struggle of women to carry out acts of anarchy for the sake of fighting the Patriarchs. The topic of Women's Struggle draws the attention of researchers to provide information to the public about the existence of gender-biased behavior through this film, and to help the community to be more aware of the presence of women in the community. Researchers used a qualitative approach with the analysis of Sara Mills's critical discourse based on its shape divided into 3 namely the position of the subject, the position of the object, the position of the audience. The results of the research show that the struggle of women in rejecting patriarchal culture is in accordance with the analysis proposed by Sara Mills. The subject showed that the act of women's struggle in rejecting patriarchal culture was represented by the discourse and movements carried out by subjects where women committed acts of anarchy such as poisoning food, cutting their heads, threatening with machetes. The position of the object is described as an actor supporting the movement of the subject, as the party controlled and controlled by the subject.Keywords: Women's Struggle, Patriarchy, Film, Discourse Sara Mills. ABSTRAKMarlina Si Pembunuh dalam Empat Babak merupakan cerita yang direkonstruksi dari realitas yang terjadi sehingga menghasilkan cerita seperti yang sesungguhnya di Sumba tahun 2017. Berangkat dari fenomena sosial Yappa Marrada yaitu penculikan perempuan sebagai cara paksa kaum laki-laki untuk memiliki perempuan, film ini terlihat jelas bagaimana perjuangan perempuan hingga melakukan tindakan anarki demi melawan Patriaki. Topik Perjuangan Perempuan menarik perhatian peneliti untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang masih adanya perilaku bias gender lewat film ini, dan untuk membantu masyarakat agar lebih menyadari kehadiran perempuan di tengah masyarakat. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis wacana kritis Sara Mills yang berdasarkan bentuknya dibagi menjadi 3 yaitu posisi subjek,posisi objek,posisi penonton. Hasil penelitian menunjukkan tindakan perjuangan perempuan dalam menolak budaya patriarki sesuai dengan analisis yang dikemukakan Sara Mills. Subjek menunjukan bahwa tindakan perjuangan perempuan dalam menolak budaya patriarki terepresentasikan dari wacana serta gerakan yang dilakukan oleh subjek dimana perempuan melakukan tindakan anarki seperti meracuni makanan,menebas kepala,mengancam dengan parang. Posisi objek tergambarkan sebagai aktor pendukung pergerakan subjek,sebagai pihak yang dikontrol dan dikuasai subjek.Kata Kunci: Perjuangan Perempuan, Patriarki,Film,Wacana Sara Mills

    REPRESENTASI DI MEDIA SOSIAL SEBAGAI PEMBENTUK IDENTITAS BUDAYA POPULER

    Full text link
    ABSTRACTThe purpose of this study is to describe the process of forming a popular culture of coffee as a lifestyle of adolescents through representation on social media, and the relationship of power relations in the process. A digital pop culture is a form of popular culture that is formed by the development of technology through user interaction activities. The Instagram @filosofikopi account is very popular among coffee lovers and is a reference for teens to get to know the latest coffee style. Often it is used as a means to instill consumptive ideologies that are displayed naturally. The method used is a qualitative descriptive object with the Instagram account @filosofikopi. The concepts used are cultural commodification, and presentation of Erving Goffman to explain the post. The results of the research, popular culture is formed starting from the digital exploration activity stored from algorithmic data which has an impact on generating similar posts. The @filosofikopi account forms ideological standards through transactional posts that lead to the purchase of products and images that are displayed modernly with young people as objects of an image. The dominant self-presentation is shown by presenting objects of pleasure that lead to the inculcation of consumptive ideology.Keywords: Popular Culture, Commodification, Social Media, Instagram, filosofikopi ABSTRAKTujuan penelitian ini mendiskripsikan proses pembentukan budaya populer ngopi sebagai gaya hidup remaja melalui representasi di Media sosial, dan hubungan relasi kuasa dalam prosesnya. Digital pop culture merupakan bentuk budaya populer yang terbentuk dengan adanya perkembangan teknologi melalui aktivitas interkasi pengguna. Akun Instagram @filosofikopi sangat populer dikalangan pencinta kopi dan dijadikan refrensi bagi remaja untuk mengetahui gaya ngopi terkinian. Seringkali itu, dijadikan sarana untuk menanamkan ideologi konsumtif yang ditampilkan secara natural. Metode yang digunakan diskriftif kualitatif dengan objek akun Instagram @filosofikopi. Konsep yang digunakan komodifkasi kultural, dan seft presentation dari Erving Goffman untuk menjelaskan postingan. Hasil penelitian, budaya populer terbentuk bermulai dari aktivitas penjelajahan digital tersimpan dari data alogaritma yang berdampak pada memunculkan postingan serupa. Akun @filosofikopi membentuk standar ideologi melalui postingan transaksional yang mengarah pada pembelian produk dan citra yang ditampilkan moderen dengan anak muda sebagai objek citra . Presentasi diri yang dominan ditunjukan dengan menampilkan objek kesenangan yang mengarah pada penanaman ideologi konsumtif.Kata Kunci: Budaya Populer, Komodifikasi, Media Sosial, Instagram, Filosofi Kop

    REPRESENTASI PEREMPUAN SEBAGAI PACAR SEWAAN DALAM FILM LOVE FOR SALE (2018)

    Full text link
    Penelitian ini berjudul Representasi Perempuan Pada Tokoh Arini Kusuma Dalam Film Love For Sale. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tokoh Arini Kusuma mempresentasikan gender perempuan pada film ini. Karena film adalah potret dari masyarakat di mana film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan kemudian memproyeksikan ke dalam layar. Film dibuat berdasarkan fenomena di masyarakat dan juga dibuat untuk menyampaikan pesan tersebut. Dan pesan yang disampaikan pada masyarakat dikelompokan menjadi beberapa jenis film dan beberapa jenis genre yang tersedia, dan genre tersebut dibuat untuk mudah dimengerti masyarakat. Untuk dapat menyampaikan pesan dalam film lebih mendalam, suatu penelitian dibuat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang merajuk pada Teori Semiotika Roland Barthes, peneliti akan memilih secara teliti dari setiap scene atau potongan film yang menggambarkan gender perempuan didalamnya, kemudian akan dijabarkan dan dianalisis makna denotasi, konotasi, dan mitos. Dengan teknik pengumpulan datanya berupa data dokumentasi dan observasi, dan fokus penelitiannya tanda (adegan) yang terkandung makna konotasi, denotasi serta mitos dalam film Love For Sale, dengan data primer dan sekunder yang tersedia. Peneliti menggunakan delapan scene untuk dianalisis, dengan hasil yang diperoleh peneliti adalah tokoh Arini Kusuma merepresentasikan perempuan yang mematahkan stereotip yang ada, Arini adalah orang yang pandai berbohong, aktif dalam hubungan seks dan seorang professional dalam pekerjaannya. Ditunjukan dalam dialog, ekspresi, gestur, wardrobe, alur cerita, karakter/penokohan dan teknik mengambilan gamba

    Narasi "Cantik" Sebagai Bentuk Eksploitasi Perempuan pada Pemberitaan Pedagang Perempuan Viral di Media Massa

    Full text link
    Wacana tentang kecantikan merupakan hal yang lekat dengan perempuan. Berbicara tentang kecantikan tidak dapat dilepaskan dari instrumen tubuh perempuan serta daya tarik yang dimiliki perempuan salah satunya menampilkan perempuan di media massa. Penelitian ini menganalisis lebih dalam tentang konstruksi makna “Cantik” yang muncul pada pemberitaan pedagang cantik yang viral di media massa, dengan judul penelitian Narasi "Cantik" Sebagai Bentuk Eksploitasi Perempuan pada Pemberitaan Pedagang Perempuan Viral di Media Massa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan model analisis Sara Mills. Hasil penelitian menunjukan bahwa teks dapat berkomunikasi dengan pembaca atau khalayak dengan cara yang tidak langsung. Penelitian ini juga melihat adanya eksploitasi perempuan melalui narasi “Cantik” pada pemberitaan pedagang viral bagaimana pembaca yang sasaranya adalah laki-laki terhegemoni melalui diksi “Cantik”yang digunakan

    TOXIC MASCULINITY DALAM SISTEM PATRIARKI (Analisis Wacana Kritis Van Dijk Dalam Film “Posesif”)

    Full text link
    ABSTRACTPatriarchy is defined as positioning the man as the center or central, sole authority. This qualitative research based on critical paradigm analyzes discourses inside the film "Possessive" (2017)—a romance suspense genre. Telling the story of adolescent romance wrapped in violence, this film is interesting to be learnt because of woman’s matter inside, namely violence in courtship. Through Van Dijk's Critical Discourse, a model of several dimensions of analysis was found, including: the dimension of the text, the dimension of social cognition, and the dimension of the social context. It is found that there is interlocking intertwined in highlighting toxic masculinity as a form of negative masculinity in the patriarchal system. This is supported also by the ideology brought by the director and screenwriter of the film "Possessive" to criticize social issuesKeywords: Toxic Masculinity, Patriarchy, Van Dijk’s DiscourseABSTRAKPatriarki dimaknai sebagai pemposisian laki-laki sebagai pusat atau sentral, penguasa tunggal. Penelitian kualitatif berlandaskan paradigma kritis ini menganalisis wacana yang terdapat di dalam film “Posesif” (2017) yang ber-genre romance-suspense. Mengisahkan mengenai kisah percintaan remaja yang berbalut kekerasan, film ini menarik diteliti karena mengangkat permasalahan perempuan yang menurut sebuah riset merupakan permasalahan yang paling tinggi terjadi di ranah privat, yakni kekerasan dalam pacaran. Melalui wacana Kritis Teun A. Van Dijk, ditemukan model dari beberapa dimensi analisis, diantaranya: dimensi teks, dimensi kognisi sosial, dan dimensi konteks sosial. Dari hasil penelitian didapati bahwa terdapat jalinan yang saling terpaut dalam menonjolkan toxic masculinity sebagai bentuk maskulinitas negatif dalam sistem patriarki. Hal tersebut didukung oleh ideologi yang dibawa oleh sutradara dan penulis skenario film “Posesif” untuk mengkritisi isu-isu sosial.Kata Kunci: Toxic Masculinity, Patriarki, Analisis Wacana Van Dij

    MEMBONGKAR REKAYASA TEKSTUAL DALAM IKLAN DJARUM 76 “PENGEN KURUS” MELALUI ANALISIS DEKONSTRUKSI

    Full text link
    ABSTRACTAmid the increasingly high number of deaths caused by smoking, cigarette industry players continue to aggressively penetrate the market through advertising. The cigarette industry in Indonesia still places advertisements as one of the spearheads of their marketing. Through various media platforms, the cigarette industry delivers their various products to the public. Various interesting content, through various types of stories that are engineered and interesting, the cigarette industry continues to persuade people to smoke. One of the interesting cigarette advertisements is a 76 episode Djarum advertisement "Skinny want to describe how women act out of common sense. In this article, the authors dismantle the engineering text that is in the ad. The author wants to know the more original meaning of the ad. The perspective used in analyzing these advertisements is a critical perspective. While the chosen method is the deconstruction analysis introduced by Jaques Derrida. Through this analysis, it can be found that women are portrayed as parties who always make decisions outside the general logic prevailing in society. They always use unreasonable considerations when deciding on something. So placing women in certain positions that are important in everyday life is very dangerous. In addition, this advertisement is also a part of textual engineering which is built through the emphasis of ideology of the dominance of the "pseudo" male gaze over women. Women are placed as parties that are "not commensurate" with men.Keywords: Deconstruction, Advertising, Cigarette Industry, Women, and Pseudo Domination ABSTRAKDitengah semakin tingginya kematian diakibatkan oleh merokok, para pelaku industry rokok tetap saja gencar melakukan penetrasi pasar melalui iklan. Insustri rokok di Indonesia masih menempatkan iklan sebagai salah satu ujung tombak pemasaran mereka. Melalui berbagai platform media, industry rokok menyampaikan berbagai produk mereka kepada masyarakat Berbagai konten menarik, melalui berbagai jenis kisah yang direkayasa nan menarik, industry rokok terus melakukan persuasi terhadap masyarakat untuk merokok. Salah satu iklan rokok yang menarik adalah iklan Djarum 76 episode “pengen kurus yang menggambarkan bagaimana perempuan bertindak diluar nalar umum. Dalam artikel ini, penulis membongkar rekayasa teks yang ada di dalam iklan tersebut. Penulis ingin mengetahui makna yang lebih orisinal dari iklan tersebut. Perspektif yang digunakan dalam menganalisis iklan tersebut adalah perspektif kritis . Sedangkan metode yang dipilih adalah analisis dekonstruksi yang perkenalkan oleh Jaques Derrida. Melalui analisis ini, dapat ditemukan bahwa perempuan digambarkan sebagai pihak yang selalu mengambil keputusan di luar logika umum yang berlaku di tengah masyarakat. Mereka selalu menggunakan pertimbangan-pertimbangan tak masuk akal dalam memutuskan sesuatu. Maka menempatkan perempuan dalam posisi tertentu yang penting dalam kehidupan sehari-hari, sangat berbahaya. Selain itu, iklan ini juga merupakan bagian dari rekayasa tekstual yang dibangun melalui penekanan ideology dominasi “semu” kaun laki-laki terhadap perempuan. Perempuan ditempatkan sebagai pihak yang “tidak sepadan” dengan laki-laki.Kata Kunci: Dekonstruksi, Iklan, Industri Rokok, Perempuan, dan Dominasi Sem

    186

    full texts

    192

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇