MODELING: Jurnal Program Studi PGMI
Not a member yet
891 research outputs found
Sort by
Peningkatan Perkembangan Kognitif dan Sosial Anak Usia Dini melalui Pembelajaran Berbasis Proyek Ecobrick pada Kelompok A di TK Al-Ikhlas Montong Agung
This study was conducted with the aim of knowing the improvement of cognitive and social development of Early Childhood using ecobrick project-based learning. As well as the application of ecobrick project-based learning. The research method used is qualitative research, this study was conducted at Tk Al-Ikhlas Montong Agung. The research subjects were group A children at Tk Al-Ikhlas Montong Agung. The data collection methods used were observation, interviews and documentation. Then from the results of observations and interviews that there was an increase in cognitive and social development of early childhood, during the first observation of 11 children there were 7 children who had not developed optimally in cognitive and social development of children, after the teacher implemented ecobrick project-based learning from 11 children only 4 children had not achieved optimal development. Thus, 70% of Group A at Al-Ikhlas Kindergarten has achieved success in class. Interview results also indicate that in terms of cognitive development, children are able to understand and learn to manage waste. They are able to utilize the waste around them to create useful items. Meanwhile, in terms of social development, children are willing to socialize with friends, participate in group activities, and cooperate with their friends.
Abstrak
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan perkembangan kognitif dan sosial Anak Usia Dini menggunakan pembelajaran berbasis proyek ecobrick. Serta penerapan pembelajaran berbasis proyek ecobrik. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, penelitian ini dilakukan di Tk Al-Ikhlas Montong Agung. Subjek penelitian adalah anak kelompok A di Tk Al-Ikhlas Montong Agung. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawanacara dan dokumentasi. Kemudian dari hasil observasi dan wawancara bahwasannya adanya peningkatan perkembangan kognitif dan sosial anak usia dini, saat observasi pertama dari 11 anak terdapat 7 anak yang belum berkembang secara optimal dalam perkembangan kognitif dan sosial anak, setelah guru menerapkan bembelajaran berbasis proyek ecobrick dari 11 anak hanya 4 anak yang belum mencapai perkembangan secara optimal. Sehingga 70% sudah kelompok A di Tk Al-Ikhlas sudah mencapai keberhasilan dalam kelas, begitu juga dengan hasil wawancara yang menunjukkan bahwa dalam perkembangan kognitifnya anak sudah mampu memahami dan belajar mengelola sampah, anak mampu memanfaatkan sampah di sekitarnya menjadi barang yang bermanfaat, sedangkan dalam perkembangan sosialnya anak sudah mau bergaul dengan teman, mau ikut dalam kegiatan berkelompok, dan mau bekerjasama dengan temannya
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis melalui Model Pembelajaran Problem Solving Siswa Sekolah Dasar
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas V SD Muhammadiyah 019 Bangkinang Kota melalui penerapan model pembelajaran Problem Solving. Latar belakang penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih rendah, dengan 13 dari 19 siswa (68%) belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 70. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran yang masih berpusat pada guru dan kurangnya penerapan langkah-langkah pemecahan masalah. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan pada kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Pada Siklus I, persentase ketuntasan individu mencapai 33%, dan meningkat menjadi 68% pada Siklus II, melampaui target ketuntasan klasikal 60%. Peningkatan ini terlihat pada setiap indikator kemampuan pemecahan masalah, yaitu kemampuan memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa kebenaran jawaban. Dengan demikian, model pembelajaran Problem Solving efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
Abstract
This study aimed to enhance the mathematical problem-solving abilities of fifth-grade students at SD Muhammadiyah 019 Bangkinang Kota by implementing a Problem Solving learning model. The research was motivated by the students\u27 low mathematical problem-solving skills, with 13 out of 19 students (68%) failing to achieve the minimum mastery criterion of 70. This deficiency was attributed to a teacher-centered learning approach and insufficient application of problem-solving strategies. Employing a Classroom Action Research (CAR) methodology, the study was conducted over two cycles. The findings demonstrated a significant improvement in students\u27 mathematical problem-solving abilities. In Cycle I, the individual mastery percentage was 33%, which increased to 68% in Cycle II, thereby surpassing the classical mastery target of 60%. This improvement was evident across all indicators of problem-solving ability, including understanding the problem, devising a plan, executing the plan, and verifying the solution. Consequently, the Problem Solving learning model proved effective in fostering students\u27 mathematical problem-solving skills
Implementasi Pendidikan Karakter dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar
Pendidikan karakter merupakan bagian integral dalam Kurikulum Merdeka yang bertujuan untuk mengembangkan siswa secara holistik, tidak hanya dalam aspek akademik tetapi juga dalam aspek moral, sosial, dan karakter. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek, kegiatan kontekstual, dan keterlibatan aktif berbagai pihak seperti guru, orang tua, dan masyarakat, pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam semua mata pelajaran. Penelitian ini mengungkapkan bahwa implementasi pendidikan karakter menghadapi tantangan seperti keterbatasan pelatihan guru, kekurangan infrastruktur, dan dukungan orang tua yang bervariasi. Meskipun demikian, terdapat peluang besar untuk memperbaiki implementasi pendidikan karakter melalui pengembangan pelatihan guru, peningkatan infrastruktur, dan penilaian karakter yang lebih konsisten. Pendekatan berbasis proyek dan pembelajaran kontekstual terbukti efektif dalam mengembangkan keterampilan 4C (kolaborasi, komunikasi, berpikir kritis, dan kreatif), serta mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang penting untuk pembentukan pribadi siswa yang tangguh dan berkarakter.
Abstract
Character education is an integral part of the Merdeka Curriculum aimed at developing students holistically, not only in academic aspects but also in moral, social, and character aspects. Through project-based learning, contextual activities, and active involvement of various stakeholders such as teachers, parents, and the community, character education can be integrated into all subjects. This study reveals that the implementation of character education faces challenges such as limited teacher training, lack of infrastructure, and varying parental support. However, there are significant opportunities to improve the implementation of character education through the development of teacher training, enhanc5ement of infrastructure, and more consistent character assessments. Project-based learning and contextual learning approaches have proven effective in developing 4C skills (collaboration, communication, critical thinking, and creativity), as well as integrating essential character values for shaping resilient and well-rounded students
Pengembangan Kurikulum Berbasis Sains untuk Mendorong Minat Belajar Siswa
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan kurikulum berbasis sains sebagai strategi untuk meningkatkan minat belajar siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Fokus kajian diarahkan pada analisis penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran serta relevansinya dengan peningkatan keaktifan, rasa ingin tahu, dan motivasi intrinsik siswa. Metode yang digunakan bersifat deskriptif dengan memanfaatkan data dari hasil wawancara dengan guru IPA, pengamatan langsung terhadap perangkat kurikulum, dan telaah dokumen kebijakan pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kurikulum yang dirancang dengan mengedepankan pembelajaran berbasis eksperimen, inkuiri, dan pemecahan masalah mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menantang serta menyenangkan. Selain itu, keterlibatan siswa secara langsung dalam proses penemuan konsep terbukti mendorong partisipasi aktif dan meningkatkan ketertarikan terhadap materi pelajaran. Artikel ini merekomendasikan penguatan kurikulum berbasis sains melalui pelatihan guru, penyediaan sarana eksperimen sederhana, serta integrasi sains dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa.
Abstract
This study aims to describe the development of a science-based curriculum as a strategy to enhance students’ learning interest at the primary and secondary education levels. The analysis focuses on the implementation of scientific approaches in classroom instruction and their relevance to increasing student engagement, curiosity, and intrinsic motivation. A descriptive method was employed using data obtained from interviews with science teachers, observations of curriculum documents, and analysis of educational policies. The findings reveal that curricula designed with experimental, inquiry-based, and problem-solving learning models are more effective in creating challenging yet enjoyable learning environments. Furthermore, students’ direct involvement in the discovery process significantly improves their participation and interest in academic content. This article recommends strengthening science-based curricula through teacher capacity-building, provision of simple experimental tools, and integration of scientific concepts into students’ daily life contexts
Akulturasi Islam dan Peradaban Melayu dalam Tradisi Kelahiran Orang Melayu Palembang
Tradisi kelahiran orang Melayu Palembang yang masih dipraktikkan hingga saat ini merupakan manifestasi kepatuhan orang Melayu Palembang terhadap warisan leluhur. Kontinuitas ini tentu saja telah melalui proses saling mempengaruhi antara Islam dan tradisi, yang mengakibatkan terjadinya pergeseran-pergeseran yang ditunjukkan melalui simbol simbol yang khas. Tradisi kelahiran merupakan bagian penting dalam kebudayaan Melayu, termasuk di Palembang, yang mencerminkan nilai-nilai adat dan agama. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif analitis dengan bentuk kajian kepustakaan, Melalui metode sejarah dengan menggunakan pendekatan historis dan budaya, diuraikan bagaimana Islam, yang masuk melalui proses Islamisasi, berperan dalam mengubah dan menyesuaikan tradisi kelahiran lokal tanpa menghilangkan akar budaya Melayu. tradisi dilaksanakan mulai dari masa kehamilan hingga bayi beranjak dewasa. menunjukkan perpaduan antara nilai-nilai Islam dan adat istiadat setempat. Akulturasi ini tidak hanya memperkaya tradisi lokal tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat Melayu Palembang.
Abstract
The birth traditions of the Palembang Malay people that are still practiced today are a manifestation of the obedience of the Palembang Malay people to their ancestral heritage. This continuity has of course gone through a process of mutual influence between Islam and tradition, resulting in shifts that are shown through distinctive symbols. Birth traditions are an important part of Malay culture, including in Palembang, which reflect customary and religious values. In this study, the author uses a descriptive analytical method with a literature review. Through historical methods using a historical and cultural approach, it is described how Islam, which entered through the Islamization process, played a role in changing and adapting local birth traditions without eliminating the roots of Malay culture. traditions are carried out from pregnancy until the baby grows up. showing a blend of Islamic values ??and local customs. This acculturation not only enriches local traditions but also strengthens the cultural identity of the Palembang Malay community
Pengembangan Model Pendidikan Islam Berbasis Budaya Lokal
Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan mengembangkan sebuah model pendidikan Islam yang dapat menggabungkan nilai-nilai budaya lokal di Madrasah Aliyah (MA) Mua\u27llimin NWDI Pancor serta MA Mu\u27allimat NWDI Pancor. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang berorientasi pada analisis studi kasus. Terdapat beberapa model pengintegrasian budaya lokal yang diterapkan melalui kurikulum Pendidikan Agama Islam di madrasah tersebut: 1) Model integrasi langsung, yang melibatkan penggabungan kearifan lokal ke dalam kurikulum dengan cara mengajarkan nilai-nilai budaya lokal secara langsung dalam mata pelajaran PAI. 2) Model kolaboratif, di mana guru PAI bekerja sama dengan guru dari mata pelajaran lain, termasuk mata pelajaran muatan lokal yang relevan. 3) Kegiatan pentas seni, di mana guru PAI dan guru muatan lokal berkolaborasi untuk menyiapkan pertunjukan seni di madrasah. Mereka memilih tarian yang selaras dengan nilai-nilai agama, melatih siswa, serta memastikan bahwa kostum dan musik yang digunakan mematuhi norma-norma Islam. Adapun reseach yang telah dilakukan menunjukkan kalau pendekatan pendidikan Islam yang berlandaskan budaya lokal tersebut efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang agama Islam sekaligus budaya lokal, serta ikut menyumbang pengembangan karakteristik yang berakhlak baik dan mencintai tanah air
Pengaruh Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V SDN 1 Syamtalira Bayu
Kemampuan berpikir kritis merupakan keterampilan penting dalam pendidikan abad ke-21, khususnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem Based Learning (PBL) terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SDN 1 Syamtalira Bayu. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode quasi eksperimen. Sampel terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen yang digunakan berupa tes berbentuk pretest dan posttest. Hasil analisis menggunakan uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang diajar dengan model PBL dan yang diajar dengan metode konvensional. Hal ini membuktikan bahwa model PBL berpengaruh secara positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa
Peran Pesantren dalam Menangkal Radikalisme Digital: Studi Terhadap Santri Era Media Sosial
Perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dunia pesantren. Di era media sosial, radikalisme digital menjadi ancaman serius yang dapat memengaruhi pola pikir santri. Artikel ini membahas peran pesantren dalam menangkal radikalisme digital melalui pendekatan pendidikan Islam berbasis moderasi, literasi digital, dan pembinaan karakter. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi garda terdepan dalam membentengi santri dari ideologi radikal melalui kurikulum terintegrasi, penguatan kompetensi literasi digital, dan penanaman nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin
Formulasi Pendidikan Multikultural Transformatif dalam Bingkai Filsafat Rekonstruksi Sosial
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan peta konflik identitas di Indonesia, konsep dasar pendidikan multikultural, pendidikan multikultural menurut Islam, dan formulasi pendidikan multikultural transformatif dalam bingkai filsafat rekonstruksi sosial meliputi landasan filosofis, psikologis, dan pedagogis, dalam rangka menghasilkan model desain pendidikan multikultural yang cocok untuk Indonesia. Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research), dengan metode deskriptif-analitik.
Hasil penelitian ini adalah: (1) Faktor penyebab konflik berbasis identitas di Indonesia, selain karena dipicu oleh kelompok-kelompok kecil yang mengambil keuntungan dari pertikaian antarwarga, juga karena jaminan kesetaraan dan kesatuan antaranggota masyarakat dalam dasar filsafat dan konstitusi negara, belum secara otomatis dapat menekan potensi konflik dalam masyarakat Indonesia, atau menciptakan masyarakat multikultural yang demokratis, adil, dan inklusif; (2) Pendidikan multikultural menjadi tantangan bagi masyarakat Indonesia baru. Ia menempati tempat yang sangat sentral untuk membangun masyarakat demokratis. Model pendidikan multikultural di Indonesia harus berdasar Pancasila yang telah disepakati para pendiri bangsa sebagai jaminan NKRI. Model pendidikan multikultural di Indonesia harus didasarkan pada kondisi perkembangan sosial politik, ekonomi dan budaya Indonesia, bukan hasil adopsi pendidikan multikultural bangsa lain; (3) Praktik multikulturalisme dalam Islam dapat dilihat secara legal-formal dalam suatu dokumen yang dikenal dengan "Piagam Madinah". Perjanjian dalam dokumen tersebut merupakan “Kesepakatan Tripartit” antara Muhajirin atau imigran Mekkah, Anshor atau penganut Islam Madinah, dan orang-orang Yahudi. Pandangan Islam tentang keragaman diletakkan sebagai pandangan moral atas dua tataran, yakni: Pertama, Penghargaan atas akal budi. Al-Quran menegaskan betapa pentingnya akal budi bagi manusia. Menjadi seorang Muslim adalah persoalan pilihan hidup dan pengambilan tanggung jawab, "tidak ada paksaan dalam agama”. Demikian juga untuk menjadi manusia yang baik atau buruk terletak pada kehendak akal budi; Kedua, penerimaan sosial nilai-nilai Islam sejalan dengan pemahaman dari beragam individu dan komunitas; dialektika sosial menjadikan nilai etik Islam berkembang dan diterapkan oleh masyarakat. (4) Pendidikan Multikultural Transformatif merupakan pendidikan yang diperlukan bagi bangsa Indonesia untuk menghadapi tantangan masyarakat multikultural saat ini dan masa datang. Pendidikan multikultural merupakan keharusan yang mutlak ada dalam konteks sosial politik dan ekonomi bangsa Indonesia saat ini baik dalam tataran nasional maupun global. Pendidikan Multikultural Transformatif dikembangkan dari tiga konsepsi dasar yaitu konsepsi diri, konsepsi budaya, dan konsepsi bernegara yang semuanya berakar pada Dasar Filsafat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsepsi ini dikembangkan lagi menjadi nilai inti (core values) yang menjadi patokan pengembangan tujuan, kompetensi, proses, materi, dan evaluasi dalam pendidikan multikultural. Nilai-nilai inti tersebut adalah: “Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, tanggung jawab terhadap negara kesatuan, penghargaan dan penerimaan terhadap keragaman budaya, menjunjung tinggi supremasi hukum, dan menghormati martabat manusia dan hak azasi manusi
Pengaruh Menajemen Berbasis Sekolah Terhadap Mutu Pendidikan di SDN 1 Bagik Payung Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Strategi Kepala Madrasah Dalam Membentuk Karakter Disiplin Peserta Didik di Madrasah Aliyah Al-khair Ambung Masbagik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisi data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat aspek utama dalam strategi yang diterapkan : perencanaan, pendekatan, dan pelaksanaan, dan evaluasi. Dalam implementasi strategi terdapat faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung berupa peran aktif guru, kepedulian orangtua, dan sarana prasarana yang mendukung. Sedangkan faktor penghambatnya berupa kesadaran siswa yang rendah, pengaruh pertemanan, dan pengaruh gadget