MODELING: Jurnal Program Studi PGMI
Not a member yet
    891 research outputs found

    Kuliner Melayu di Sumatera Selatan

    No full text
    Cuisine is an essential aspect of cultural heritage, carrying historical value and serving as a marker of local identity. Palembang is widely recognized for its distinctive culinary tradition, particularly pempek, which is not only a wellknown dish but also a symbol embedded in the cultural practices of its people. This article examines the role of cuisine in shaping cultural identity, social differentiation, and economic sustainability, with a specific focus on pempek. Employing a qualitative descriptive approach and literature analysis, this study explores how pempek has evolved from an exclusive royal dish to a widely consumed culinary staple, transcending social and economic classes. Additionally, this research highlights the ritualistic aspects of pempek consumption, its symbolic meanings, and its contribution to the construction of Palembang’s cultural identity. The findings indicate that pempek functions as both a culinary artifact and a cultural marker, reinforcing social identity within the broader discourse of tourism and Indonesia’s culinary diversity. Moreover, the economic impact of pempek is evident in its role within home-based industries and micro-enterprises that sustain local livelihoods. The preservation of traditional cuisine, therefore, is not merely an act of cultural conservation but also a strategic effort to promote regional tourism and economic resilience. Abstrak Kuliner merupakan bagian dari warisan budaya yamg memiliki nilai historis dan identitas lokal. Kota Palembang dikenal dengan kuliner khasnya, salah satunya adalah pempek, yang tidak hanya menjadi ikon Kuliner tetapi juga memiliki makna simbolik dalam tradisi Masyarakat Palembang. Artikel ini membahas peran kuliner sebagai Identitas budaya, diferensiasi soasial, serta dampak ekonominya, dengan fokus pada pempek Palembang. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis literatur, penelitian ini mengungkap bagaimana pempek berkembang dari makanan istana menjadi hidangan rakyat yang dapat dinikmati semua kalangan. Selain itu, penelitian ini menyoroti keunikan dalam penyajian dan komsumsi pempek, serta peranannya dalam membangun identitas kuliner Palembang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pempek bukan sekedar makanan, tetapi juga simbol budaya yang memperkuat identitas Masyarakat Palembang dalam konteks pariwisata dan keberagaman Indonesia. Lebih lanjut, pempek berkontribusi terhadap perekonomian lokal melalui industri rumahan dan isaha mikro yang menompang mata pencarian banyak Masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian kuliner tradisional seperti pempek menjadi penting untuk mempertahan kan identitas budaya serta meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi daerah

    Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Pembelajaran PAI untuk Membangun Toleransi Siswa Beda Agama di SDN 2 Labuhan Kananga

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana pendidikan multikultural digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Ini dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan sikap toleransi siswa yang berbeda agama di SDN 2 Labuhan Kananga. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif yang melibatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan strategi multikultural melalui salam dan doa sesuai keyakinan mereka, bekerja dalam kelompok yang berbeda, mendengarkan cerita inspiratif dari berbagai agama, dan berbicara secara terbuka. Selain dukungan masyarakat, lingkungan sekolah yang inklusif, kepemimpinan kepala sekolah yang visioner, strategi guru yang inovatif, dan kurikulum yang mendukung toleransi adalah komponen yang mendukung. Sementara itu, ada beberapa tantangan yang ditemui. Ini termasuk pemahaman siswa tentang toleransi yang masih rendah, ketersediaan guru agama yang terbatas, tidak adanya guru agama Hindu, dan stereotip tentang lingkungan luar sekolah. Pendidikan multikultural di SDN 2 Labuhan Kananga telah membantu siswa menjadi lebih toleran. Namun, guru perlu dilatih lebih lanjut dan melakukan pembiasaan berkelanjutan

    Pengaruh Model Experiential Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa dalam Pembelajaran IPA Berbasis Isu Lingkungan

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model Experiential Learning terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran IPA berbasis isu lingkungan di sekolah dasar. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design. Subjek penelitian melibatkan siswa kelas IV SDN Balongbendo yang terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen yang memperoleh pembelajaran dengan model Experiential Learning berbasis isu lingkungan dan kelompok kontrol yang mendapatkan pembelajaran konvensional. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan pemecahan masalah, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan uji-t independen dan uji N-gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok. Kelompok eksperimen memperoleh rata-rata posttest sebesar 83,47 dengan peningkatan N-gain 0,61 (kategori sedang), sedangkan kelompok kontrol hanya mencapai rata-rata posttest 68,27 dengan N-gain 0,25 (kategori rendah). Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan model Experiential Learning mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa secara lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penggunaan pengalaman nyata dan kontekstual dalam pembelajaran IPA untuk mendukung pencapaian kompetensi abad ke-21 serta penguatan literasi lingkungan pada siswa sekolah dasar

    Teachers’ Practices and Challenges in Applying Interactive Teaching Methods in English Language Teaching

    No full text
    This study aimed to investigate the implementation of Interactive English Teaching Methods in elementary schools in Sidoarjo, the types of interactive methods used by teachers, and the challenges in applying these methods. A descriptive qualitative approach was employed, involving classroom observations and interviews as the primary data collection methods, supported by secondary data from books, journals, articles, and other references. Data were analyzed using Miles and Huberman’s framework, including data reduction, data display, triangulation, and drawing conclusions. The findings revealed that teachers applied various interactive teaching methods, including role-playing, project-based learning, storytelling, games, Total Physical Response (TPR), discussions, presentations, and demonstrations. These methods aimed to enhance students’ speaking, listening, reading, and writing skills while fostering engagement, collaboration, and confidence in using English. However, teachers faced several challenges in implementing interactive methods. These included limited time allocation, students’ low confidence and lack of vocabulary, uncooperative behavior during group activities, difficulties in teaching certain materials using TPR, and student boredom. The study concludes that interactive teaching methods can create an engaging and effective learning environment for elementary English learners, but successful implementation requires careful planning, classroom management, and strategies to overcome both student- and system-related challenges

    Relevansi Pemikiran KH. Imam Zarkasyi Dalam Pengembangan Lembaga Pendidikan Al Azhar Center Baturaja

    No full text
    This study explores the relevance of KH. Imam Zarkasyi’s educational thought in the development of Islamic education at Al Azhar Center Baturaja. As a reformer and founder of Pondok Modern Darussalam Gontor, Zarkasyi introduced an integrative model that harmonized religious values with intellectual advancement. His educational philosophy emphasizes the formation of insan kamil complete human beings who balance spiritual, intellectual, moral, and social dimensions. Using a qualitative descriptive field research approach, data were collected through observation, interviews, and documentation to analyze how Zarkasyi’s ideas are contextualized in Al Azhar Center’s educational practices. The findings reveal that Zarkasyi’s principles sincerity, simplicity, self-reliance, discipline, and responsibility are deeply embedded in the institution’s curriculum, management, and learning culture. Education at Al Azhar Center Baturaja not only focuses on academic achievement but also cultivates moral integrity and social responsibility through daily habituation and character formation. The integration of religious and general sciences, supported by modern pedagogical methods, reflects Zarkasyi’s vision of education as a transformative process that prepares students to contribute meaningfully to society. Thus, his educational legacy remains a vital foundation for building a progressive Islamic education system that is spiritually rooted, intellectually dynamic, and socially relevan

    Jejak Pemikiran Azyumardi Azra dalam Konteks Islam Melayu: Dari Islamisasi Hingga Pembaruan Pendidikan

    No full text
    This study examines Azyumardi Azra’s thought on the Islamization of the Malay world and its relevance to contemporary Islamic education. The focus of the analysis includes the process of Islamization facilitated through transnational scholarly networks, as well as the application of the concepts of moderation, cosmopolitanism, and the integration of knowledge within educational practice. Employing a qualitative approach through library research, this study analyzes Azra’s works alongside relevant literature on Malay Islamic history, scholarly networks, moderation, and the reform of Islamic education. The findings indicate that the Islamization of the Malay world unfolded dynamically through intellectual exchange and the accommodation of local cultures, ultimately shaping a tradition of Islam that is moderate, inclusive, and cosmopolitan. Azra’s ideas provide a significant foundation for the development of Islamic education curricula that emphasize moral values, tolerance, and global literacy, while simultaneously strengthening a contextualized and culturally grounded Islamic identit

    Strategi Manajemen Humas dalam Meningkatkan Citra Positif di SMK PGRI 3 Nganjuk

    No full text
    Penelitian ini mengevaluasi strategi manajemen hubungan masyarakat (humas) di SMK PGRI 3 Nganjuk dan kontribusinya terhadap pembentukan citra sekolah menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Metode kualitatif dengan studi kasus melibatkan kepala sekolah, humas, tata usaha, wali murid, dan masyarakat sebagai informan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, dianalisis dengan model Miles dan Huberman. Hasil menunjukkan konteks sekolah membutuhkan penguatan citra dengan struktur humas yang jelas. Namun, keterbatasan anggaran dan sumber daya (input) menghambat optimalisasi program. Proses publikasi digital mulai meningkat tetapi tidak konsisten akibat tumpang tindih tugas dan minim perangkat. Produk humas meningkatkan engagement di media sosial dan hubungan dengan industri, meski belum terukur kuantitatif. Kesimpulannya, strategi humas berdampak positif pada citra sekolah, namun perlu penguatan dukungan anggaran, profesionalisasi SDM, dan evaluasi berbasis data untuk hasil lebih efektif dan berkelanjutan

    Peningkatan Keterampilan Menulis Kata Sederhana melalui Metode Bercerita dengan Bantuan Media Kartu Kata Siswa Sekolah Dasar

    No full text
    Penelitian ini dilatar belakangi rendahnya hasil keterampilan menulis kata sederhana siswa pada materi di sekitar rumah di kelas I SDN 005 Ganting Damai. Salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menerapkan metode  bercerita berbantuan media kartu kata. tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatkan keterampilan menulis kata sederhana siswa pada materi di sekitar rumah dengan menerapkan metode bercerita berbantuan media kartu kata siswa kelas I SDN 005 Ganting Damai. Metode penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan dan empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Subjek penelitian ini siswa kelas I yang berjumlah 26 orang siswa. Teknik pengumpulan data berupa dokumentasi, observasi dan tes. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui peningkatakan hasil keterampilan menulis kata sederhana siswa setelah tindakan, rata-rata ketuntasan hasil keterampilan menulis kata sederhana siswa hanya 61,23 dengan ketuntasan klasikal sebesar 38,46%, lalu pada siklus I pertemuan I meningkat menjadi 65,11 dengan ketuntasan klasikal sebesar 50,00%, lalu pada siklus I pertemuan II meningkat menjadi 71,65 dengan ketuntasan klasikal sebesar 61,53%. Selanjutnya siklus II pertemuan I meningkat menjadi 74,96 dengan ketuntasan klasikal sebesar 69,23% dan siklus II pertemuan II meningkat menjadi 81,42 dengan ketuntasan klasikal sebesar 80,76%. Maka dapat disimpulkan penerapan metode bercerita berbantuan media kartu kata dapat meningkatkan keterampilan menulis kata sederhana siswa kelas I  SDN 005 Ganting Damai

    Implementasi Pelatihan Kurikulum Merdeka di SMKS al Washliyah 9 Perbaungan

    No full text
    Pelatihan merupakan proses untuk membentuk dan membekali guru dengan menambah keahlian, kemampuan, pengetahuan dan perilakunya. Artinya pelatihan akan membentuk perilaku guru yang sesuai dengan yang diharapkan sekolah, misalnya sesuai dengan budaya sekolah. Kemudian akan membekali guru dengan berbagai pengetahuan, kemampuan, dan keahlian, sesuai dengan bidang pekerjaannya. Masih banyak guru yang belum memahami secara teoretis dan praktis kebijakan merdeka belajar padahal pemahaman guru terhadap reformasi kurikulum sangat esensial. Guru merasa kesulitan menerapkan kebijakan merdeka belajar di sekolah dan di kelas. Oleh karena itu, sangat diperlukan pelaksanaan pelatihan dalam pengimplementasian kurikulum merdeka pada era sekarang ini

    A Model Pembelajaran Quantum Teaching and Learning dalam Meningkatkan EQ Siswa Pada Mata Pelajaran IPAS di Madrasah Ibtidaiyah

    No full text
    Penelitian bertujuan untuk menganalisis model pembelajaran Quantum Teaching and Learning dalam meningkatkan EQ siswa pada mata pelajaran IPAS. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan deskriptif, pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan triangulasi data. Dianalisis melalui pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Subjek penelitian yang dipilih  kepala madrasah ibtidaiyah, dua guru, dan 36 siswa. Di MI Assunniyyah 45 Paseban Kencong Jember, dari 114 peserta didik, 25% mengalami kesulitan dalam komunikasi seperti gugup dan cemas saat berbicara, serta cenderung diam saat pembelajaran. Sedangkan, 30% peserta didik memiliki kecerdasan emosional yang rendah, termasuk kurangnya kesadaran diri, mengontrol diri, dan empati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas IV dan V menjadi lebih aktif, percaya diri, dan terlibat dalam pembelajaran IPAS dengan menggunakan model pembelajaran Quantum Teaching and Learning, pada pendekatan TANDUR (Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasi, Ulangi, Rayakan) yang telah mengubah gaya belajar menjadi lebih menyenangkan dan dinamis. Hal ini membantu meningkatkan kecerdasan emosional siswa pada tiga indikator EQ, yaitu: rasa ingin tahu siswa yang berkembang dari delapan siswa, mampu mengontrol emosi yang berjumlah sembilan siswa, dan empati sejumlah satu siswa. Hasil akhir pada penelitian ini menampilkan bahwa dari 36 siswa kelas IV dan V yang memiliki peningkatan EQ sebanyak 18 siswa

    0

    full texts

    891

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MODELING: Jurnal Program Studi PGMI
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇