SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    Penokohan dalam Novel 9 Matahari Karya Adenita (kajian struktural)

    No full text
    ABSTRACT Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Roekhan, M.PdKata Kunci: karya sastra, tokoh, kedudukan tokoh, dan penokohanStruktur karya sastra dibangun oleh unsur-unsur pembangunnya. Unsur yang paling tampak dalam karya sastra adalah penokohan. Penokohan dalam karya sastra ditugasi pengarang untuk membawakan tema cerita. Melalui tokoh-tokoh tersebut, pengarang menyampaikan pandangan, dan pikirannya dalam karya sastra. Berdasarkan fungsi tokoh dibedakan menjadi dua yaitu tokoh utama dan tokoh tambahan. Dalam penceritaan karya sastra, tokoh memiliki peranan penting dalam membawakan cerita. Berdasarkan peran tokoh dibedakan menjadi dua yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis.Di dalam penelitian ini, peneliti menekankan pada pembahasan mengenai kedudukan tokoh dan penokohan dalam novel. Oleh karena itu, peneliti mengambil judul Penokohan dalam Novel 9 Matahari Karya Adenita.Penelitian ini menggunakan paradigma kualitatif deskriptif dengan pendekatan struktural yang menekankan telaahnya pada struktur novel secara lebih intensif. Penelitian ini berusaha memerikan data secara objektif tentang kedudukan tokoh dan penokohan. Data penelitian berupa kutipan kalimat, paragraf, atau dialog dalam novel 9 Matahari. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah membaca secara keseluruhan untuk memeroleh gambara umum mengenai isi cerita, mengumpulkan kutipan kalimat, paragraf atau dialog yang menunjukkan kedudukan tokoh dan penokohan; mengidentifikasi data, kodifikasi data, dan klasifikasi data. Teknik analisis data dilakukan dengan cara membaca dan menginterpretasi data secara mendalam untuk menguraikan kedudukan tokoh dan penokohan dengan berpedoman pada rambu-rambu analisis data yang sudah ditentukan. Pengecekan keabsahan temuan yang digunakan peneliti adalah ketekunan penelaahan dan kecukupan referensi. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah human insrument. Hasil penelitian ini menunjukkan tema yang terkandung dalam novel 9 Matahari adalah tentang kegigihan dalam mewujudkan cita-cita. Adapun tokoh dan penokohan dalam novel 9 Matahari sebagai berikut; Matari Anas, memiliki watak berkeinginan kuat, optimis, pantang menyerah, semangat tinggi, tidak punya perhitungan yang baik, bertanggung jawab, suka mengamati, jujur, belajar dari kesalahan, menyayangi keluarga. Kak Hera; menyayangi keluarga, tekun dan pintar, rela berkorban, pendiam, acuh tak acuh, agak judes, pendiam, perhatian dan ikhlas. Ibu; menyayangi keluarga, bertutur kata halus dan santun, perhatian, suka membagi rezeki. Bapak; keras, suka bicara cepat, tidak realistis, berpikiran sempit, sinis, blak-blakan, berkata kasar, tidak mau mendengar anak-anaknya khilaf. Tante Geni; pembohong, licik, perselingkuhan. Mbak Lena: perhatian, suka menolong, mudah terharu. Mirna: berpikiran sempit dan mudah berprasangka. Sansan: perhatian, penyayang, mudah bergaul, bermata tajam, berpengetahuan luas, aktif di berbagai kegiatan kampus, pandai. Mami Hesti: perhatian, sabar, suka memberi. Mas Arva: mudah bergaul, pencinta jazz, senang berbagi wawasan, ramah. Arga: perhatian, ramah, mudah bergaul, kreatif, imajinatif, suka berinovasi, bercita-cita tinggi. Mas Medi: pemikir dengan otak kiri, sangat teratur, pintar menjaga hubungan kerja dan membaca peluang, optimis, percaya diri, bermental baja. Genta: modis, humoris, suka berdiskusi dan bicaranya banyak, sabar dalam urusan birokrasi. Ical: sangat rapi dan teratur, tekun, seorang perencana yang baik, konsisten, sangat ekonomis, suka yang gratisan, jujur. Pandu: ramah, pesimis, pemarah, tidak mau memahami orang lain, cuek. Tante Erna: tutur katanya halus dan baik, perhatian, ikhlas, suka membagi rezeki. Om Nirwan: humoris, berpikiran luas, pantang menyerah, berjuang keras. Kedudukan tokoh dibedakan menjadi dua yaitu, tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh memegang peranan penting dalam sebuah cerita. Berdasarkan perannya tokoh dibedakan menjadi dua yaitu tokoh protagonist dan tokoh antagonis. Pelukisan tokoh dalam sebuah karya sastra yang meliputi pelukisan sifat, sikap, watak, tingkah laku, dan berbagi hal lain yang berhubungan dengan jati diri tokoh dapat dibedakan menjadi dua yaitu teknik analitik atau naratif dan teknik dramatik. Teknik analitik adalah teknik pelukisan atau penggambaran tokoh terkait dengan sikap, sifat, watak, tingkah laku, dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan jati diri tokoh (Nurgiyantoro, 2005 :194). Jika teknik naratif berbentuk narasi, maka teknk dramatik berbentuk dialog atau seperti penulisan naskah drama yang memuat kramagung dan wawancang. Teknik dramatik terbagi atas beberapa teknik yaitu (1) teknik cakapan, (2) teknik tingkah laku, (3) teknik pikiran dan perasaan, (4) teknik arus kesadaran, (5) teknik reaksi tokoh, (6) teknik reaksi tokoh lain, (7) teknik pelukisan latar, dan (8) teknik pelukisan fisik.Saran bagi peneliti agar penelitian selanjutnya dapat mengembangkan penelitian tentang kajian struktural dalam karya sastra dengan menggunakan sudut pandang yang lain. Bagi penulis karya sastra, disarankan agar dapat menyajikan karya sastra yang bermutu, yang dapat menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan cara yang kreatif, yang dapat ditugasi untuk membawa tema cerita yang diangkat. Bagi pembaca, disarankan agar dapat menambah pengetahuan dan pemahaman tentang karakter tokoh-tokoh dalam cerita yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk bercermin tentang diri pribadi.ABSTRACT Azizah, Y. I. 2014. Characterizations in Novel 9 Matahari Adenita’s Work. Thesis. Indonesian Language and Literature Department, Faculty of Letters, University of Malang. Advisor: (I) Dr. Roekhan, M.PdKeywords: literature, characters, character position, and characterizationsThe structure was built by the literary elements of builders. The most visible element in literature is characterizations. Characterizations in the author's literary work assigned to bring the theme of the story. Through these figures, the authors express their views and thoughts in literature. Based on figures functions divided into two main characters and additional characters. In the telling of literature, a character has an important role in bringing the story. Based on the character's role is divided into two, namely the protagonist and antagonist.In this study, researchers focused on the discussion of the position of character and characterization in the novel. Therefore, the researchers took the title of the novel 9 Sun Characterizations Adenita work.This study uses descriptive qualitative paradigm with a structural approach that emphasizes his study on the structure of the novel is more intensive. This study tried to describe the data on the position of the characters and characterizations. The research data in the form of citation sentences, paragraphs, or dialogue in the novel 9 Sun. Data collection techniques used in this study is read as a whole to obtain a general gambara about story content, collect citations sentences, paragraphs or dialog that shows the position of the characters and characterizations; identifying the data, codification of data, and data classification. Techniques of data analysis done by reading and interpreting the data in depth to describe the position of the characters and characterizations based on the guidelines specified data analysis. Checking the validity of the findings the researchers used is sufficient diligence review and reference. The instrument used in this study is human insrument.The results of this study show themes contained in the novel 9 Sun is about persistence in achieving goals. The character and characterization in the novel 9 Sun as follows; Matari Anas, temperament eager, optimistic, never give up, high spirit, did not have a good calculation, responsible, like observing, honest, learn from mistakes, loving family. Kak Hera; loving family, diligent and smart, self-sacrificing, quiet, indifferent, rather bitchy, quiet, attentive and sincere. mother; loving family, soft-spoken and polite, considerate, like dividing sustenance. Mr; hard, like to talk fast, unrealistic, narrow-minded, cynical, outspoken, saying rude, did not want to hear his children make mistakes. Tante Geni; liar, cunning, infidelity. Sister Lena: attention, helpful, easily moved. Mirna: narrow-minded and easily prejudiced. Sansan: attentive, affectionate, sociable, hard-eyed, knowledgeable, active in campus activities, clever. Mami Hesti: attention, patience, love to give. Mas Arva: sociable, jazz lover, happy to share insights, friendly. Arga: attentive, friendly, sociable, creative, imaginative, like innovating, aspiring. Mas Medi: the left brain thinker, very organized, smart maintain working relationships and reading opportunities, optimistic, confident, steel-minded. Genta: fashionable, humorous, love discussing and talking a lot, wait in bureaucratic affairs. Ical: very neat and orderly, industrious, a good planner, consistent, very economical, like the free, honest. Pandu: friendly, pessimistic, angry, do not want to understand others, indifferent. Aunt Erna: smooth and well-spoken, caring, sincere, like dividing sustenance. Om Nirwan: humorous, broad-minded, never give up, fight hard.Position figure is divided into two, namely, the main characters and additional characters. Figure plays an important role in a story. Based on figures role divided into two protagonist and antagonist. Portrayal of the characters in a literary work that includes painting nature, attitude, character, behavior, and share other things that relate to identity can figure divided into two analytical techniques or narrative and dramatic techniques. Analytic technique is a technique portrayal or depiction of figures related to attitude, nature, character, behavior, and other matters relating to the identity of characters (Nurgiyantoro, 2005: 194). If the narrative technique of narrative, the dramatic teknk shaped like a dialogue or drama script writing containing kramagung and wawancang. Dramatic technique consists of several techniques, namely (1) the conversation techniques, (2) behavioral techniques, (3) technical thoughts and feelings, (4) technical stream of consciousness, (5) reaction technique figures, (6) other figures reaction technique, (7) background painting techniques, and (8) the physical delineation techniques.Suggestions for further research in order to develop research studies on structural studies in the literature by using another point of view. For the authors of literary works, it is suggested in order to present a quality literary works, which can display the characters in a creative way, which can be assigned to carry the theme of the story is lifted. For readers, it is suggested in order to increase knowledge and understanding of the character of the characters in a story that can be used as a reference for reflection about the self

    Kemampuan Menulis Teks Prosedur Kompleks Kelas X SMK Negeri 3 Kota Malang.

    No full text
    ABSTRACT Ar Rozaq, Mohammad Ilham. 2014. Kemampuan Menulis Teks Prosedur Kompleks Kelas X SMK Negeri 3 Kota Malang. Skripsi, Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd. (2) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd.Kata kunci: menulis, teks prosedur kompleksMenulis adalah kemampuan menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk disampaikan kepada pembaca.  Salah satu kompetensi dasar menulis dalam standar isi bahasa Indonesia kelas X SMK pada Kurikulum 2013 adalah menulis teks prosedur kompleks. Tujuan penelitian ini untuk mengukur kemampuan menulis teks prosedur kompleks siswa kelas X SMK Negeri 3 Kota Malang. Kemampuan menulis ini dilihat dari aspek bahasa yang meliputi ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat, dan dari aspek isi yang mencakup kelengkapan struktur isi teks prosedur kompleks yang kemudian akan dinilai secara keseluruhan untuk ditentukan kemampuannya.Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dan menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Data penelitian ini berupa skor untuk setiap karangan berdasarkan aspek-aspek penilaian yang sudah ditentukan dalam pedoman penilaian, kemudian dari hasil penyekoran tersebut dideskripsikan kemampuan siswa dalam menulis teks prosedur kompleks.Tulisan hasil karya siswa dari kegiatan menulis teks prosedur kompleks, dianalisis dan dinilai berdasarkan pedoman penilaian. Penilaian dilakukan dengan memberikan skor pada setiap aspek yang diteliti. Setelah semua data terkumpul dilakukan analisis data. Analisis data meliputi (1) persiapan, (2) tabulasi, (3) penilaian, dan (4) deskripsi hasil penelitian.Hasil penelitian kemampuan menulis teks prosedur kompleks siswa kelas X SMK Negeri 3 Kota Malang dari rata-rata keseluruhan aspek penilaian siswa, kemampuan siswa dalam menulis teks prosedur kompleks siswa kelas X SMK Negeri 3 Kota Malang dapat dikatakan mampu dalam menulis teks prosedur kompleks. Dari aspek bahasa, yang meliputi segi penggunaan ejaan yaitu siswa yang mampu menulis teks prosedur kompleks dengan ejaan yang kurang dari 3 kesalahan sebanyak 8 dari 49 siswa atau sebesar 16,4%, sedangkan sebanyak 41 siswa atau sebesar 83,6% belum mampu menulis teks prosedur kompleks dengan ejaan yang tepat. Dari segi pilihan kata, siswa yang mampu menulis teks prosedur kompleks sebanyak 40 dari 49 siswa atau sebesar 81,6%, sedangkan siswa yang belum mampu sebanyak 9 siswa atau sebesar 18,4%. Dari segi keefektifan kalimat siswa yang mampu menulis teks prosedur kompleks sebanyak 47 dari 49 siswa atau sebesar 96%, dan sebanyak 2 siswa atau sebesar 4% belum mampu menulis teks prosedur kompleks dengan kalimat yang efektif. Sedangkan penilaian dari aspek isi yang mencakup kelengkapan struktur isi, siswa yang mampu menulis teks prosedur kompleks dengan kelengkapan struktur isi yang lengkap sebanyak 43 dari 49 siswa atau sebesar 87,8%, dan sebanyak 6 siswa atau 12,2% belum mampu.  Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diberikan saran kepada tiga pihak yaitu guru bahasa Indonesia, siswa, dan peneliti lain. Pertama, kepada guru bahasa Indonesia SMK Negeri 3 Kota Malang, dari hasil temuan ini, guru disarankan untuk membiasakan siswa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indoneisa. Saran selanjutnya dalam pembelajaran menulis, siswa lebih ditekankan kembali dalam penggunaan ejaan, selain itu disarankan kepada guru untuk lebih meningkatkan kualitas menulis siswa. Kedua, kepada siswa, dari hasil temuan ini siswa disarankan untuk membiasakan diri menggunakan bahasa Indonesia yang baik dalam berkomunikasi. Selain itu disarankan untuk siswa agar lebih memperhatikan penggunaan tata bahasa Indonesia yang baik dalam pelajaran bahasa Indonesia khususnya dalam pembelajaran menulis. Ketiga, kepada peneliti lain, dari hasil temuan ini disarankan untuk menjadikan penelitian ini sebagai batu loncatan untuk mengembangkan bahan ajar, media pembelajaran, atau melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil kegiatan menulis siswa kelas X SMK Negeri 3 Kota Malang. 

    Tindak Tutur Direktif dalam Dialog Film Gie Karya Riri Riza

    No full text
    ABSTRACT Jannah, Miftakhul. 2015. Tindak Tutur Direktif dalam Dialog Film Gie. Skripsi. Program studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim; (II) Dr. Martutik, M.Pd.Kata kunci: tindak tutur, direktif, bentuk, fungsi, strategi, dialog film Gie.Dalam bahasa komunikasi terdapat tindak tutur. Tindak tutur dalam bahasa komunikasi tersebut digunakan sebagai penentu makna. Penentuan makna yang dimaksud didasarkan pada kondisi dan situasi tertentu, seperti latar (tempat dan waktu), penutur dan mitra tutur, tujuan, bentuk penyampaian, dan sebagainya. Adapun bahasa komunikasi yang mengandung tindak tutur tersebut dapat berupa komunikasi sehari-hari ataupun komunikasi melalui media tertentu. Salah satu media komunikasi adalah film. Film mengandung pesan dari penulis naskah film kepada para penikmat film. Salah satu film yang mencuri perhatian para penikmat film adalah film Gie karya Riri Riza. Film ini bercerita tentang seorang tokoh yang bernama Soe Hok Gie berjuang membentuk opini masyarakat tentang persoalan pemerintahan pada saat itu. Penggunaan bahasa komunikasi dalam pembentukan opini tersebut terkandung  tindak tutur direktif, yaitu jenis tindak tutur yang berfungsi mendorong mitra tutur melakukan sesuatu. Dengan demikian, penelitian difokuskan pada tindak tutur direktif dalam dialog film Gie dengan fokus penelitian yang meliputi (1) bentuk tindak tutur direktif dalam dialog film Gie, (2) fungsi tindak tutur direktif dalam dialog film Gie, dan (3) strategi penuturan tindak tutur direktif dalam dialog film Gie.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis makrolinguistik. Jenis makrolinguistik tersebut dikarenakan penelitian ini meneliti wacana, yaitu berupa tindak tutur direktif dalam dialog film Gie. Adapun data dalam penelitian ini berupa data verbal, yaitu tuturan direktif dalam dialog film Gie yang berasal dari sumber berupa peristiwa komunikasi, yaitu dialog-dialog dalam film Gie. Instrumen utama penelitian adalah peniliti yang didukung dengan instrumen pendukung berupa panduan pengumpulan data dan panduan analisis data. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, bentuk tindak tutur direktif (TTD) dalam dialog film Gie ada enam, yaitu TTD permintaan, TTD pertanyaan, TTD perintah, TTD larangan, TTD pemberian izin, dan TTD anjuran. Kedua, fungsi tindak tutur direktif dalam dialog film Gie adalah (1) fungsi meminta yang dapat dijabarkan menjadi meminta, memohon, mengundang, mendoa, dan mengajak; (2) fungsi bertanya yang dijabarkan menjadi bertanya dan mengintrogasi; (3) fungsi memerintah yang dapat dijabarkan menjadi memerintah, menghendaki, mengomando, menuntut, mengarahkan, dan menginstruksikan; (4) fungsi melarang yang dijabarkan menjadi melarang dan membatasi; (5) fungsi memberikan izin dijabarkan menjadi menyetujui, membolehkan, membiarkan, dan mengizinkan; serta (6) fungsi menganjurkan yang dijabarkan menjadi menasihatkan, memperingatkan, mengusulkan, dan menyarankan. Ketiga, Strategi tindak tutur direktif dalam film Gie karya Riri Riza adalah strategi langsung dan strategi tidak langsung. Saran bagi calon peneliti selanjutnya adalah memanfaatkan hasil penelitian ini untuk memperdalam kembali penelitian ini, yaitu tentang kajian tindak tutur direktif dalam film Gie, khususnya pada bentuk tindak tutur direktif permintaan dan pertanyaan yang banyak ditemukan. Selain itu, peneliti selanjutnya dapat meneliti pengaruh penggunaan strategi langsung yang lebih banyak digunakan dalam dialog film Gie terhadap tanggapan baik mitra tutur dalam film maupun masyarakat penikmat fil

    PENINGKATAN MOTIVASI DAN PRESTASI DALAM PEMBELAJARAN TEKS PROSEDUR MELALUI PEMBERIAN GANJARAN DI KELAS VIII-B SMPN 15 MALANG

    No full text
    ABSTRACT Expos, Bertanes. 2016. Peningkatan Motivasi dan Prestasi dalam Pembelajaran Teks Prosedur melalui Pemberian Ganjaran  di Kelas VIII-B SMPN 15 Malang. Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing 1 Prof. Dr. Wahyudi S, M.Pd. Pembimbing 2 Drs. Dwi Saksomo, M.Si. Kata kunci: ganjaran, motivasi, teks prosedurPendidik sebagai sumber belajar siswa seharusnya menguasai materi dengan baik. Bukan hanya itu, pendidik harus ahli dalam memilih strategi pembelajaran dan menggunakan media pembelajaran yang dapat menarik per-hatian siswa. Selain itu, pendidik harus mengenal  karakteristik siswa dengan baik. Salah satu yang menjadi tugas seorang guru adalah menumbuhkan motivasi siswa. Motivasi siswa dapat dilihat pada saat proses belajar. Siswa yang mempunyai motivasi tinggi memiliki gairah semangat belajar dan keinginan untuk mencapai prestasi belajar. Penelitian ini bertujuan mengetahui peningkatkan motivasi dan prestasi belajar melalui pemberian ganjaran pada pembelajaran teks prosedur kelas VIII B SMPN 15 Malang. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII B SMPN 15 Malang berjumlah 32 siswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, angket, dan tes. Analisis data dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian motivasi dan prestasi belajar dengan pemberian ganjaran dapat berupa pujian diantaranya kata-kata, tanda bintang (ganjaran kelompok), dan tanda senyum (ganjaran individu). Tanda tersebut dipasang di papan kelompok dan papan dada yang sudah disediakan oleh guru. Akan tetapi siswa belum termotivasi. Kemudian, peneliti merubah tempat dimana ganjaran itu dipasang. Ganjaran tersebut dipasang di papan (papan kelompok dan papan individu) yang ditempel pada diding kelas agar siswa yang lain tahu berapa ganjaran yang didapatkan temannya. Dengan adanya reward, siswa menjadi (1) tekun menghadapi tugas; (2) ulet menghadapi kesulitan; (3) menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah; (4) lebih senang bekerja mandiri; (5) cepat bosan dengan tugas-tugas yang rutin; (6) dapat mempertahankan pendapatnya; (7) tidak mudah melepaskan hal yang diyakini; (8) senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal; (9) minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran; (10) tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya. Motivasi siswa yang didapat dari hasil angket, dalam pratindakan mencapai 41,01%, dalam siklus 1 49,41%, sedangkan pada siklus 2 mencapai 63,30%. Dari pratindakan menuju siklus 1 mengalami peningkatan sebesar 8,4%. Sedangkan dari siklus 1 menuju siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 10,89%. Hasil tersebut menunjukkan pemberian ganjaran meningkatkan motivasi siswa dari kriteria cukup menjadi kriteria tinggi.  Hasil belajar siswa dapat dilihat dari hasil test, dalam pratindakan mencapai 68,31, dalam  siklus 1 69,37, sedangkan pada siklus 2 mencapai  83,90. Dari pratindakan menuju siklus 1 mengalami peningkatan sebesar 1,06. Sedangkan dari siklus 1 menuju siklus 2 mengalami peningkatan sebesar 14,53. Hasil tersebut menunjukkan penerapan ganjaran meningkatkan hasil belajar siswa dari kriteria cukup menjadi kriteria baik

    Hubungan Kemampuan Membaca Pemahaman dan Sikap Bahasa dengan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 4 Malang

    No full text
    ABSTRACT Hubungan Kemampuan Membaca Pemahaman dan Sikap Bahasa dengan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Siswa Kelas VIIA SMP Negeri 4 MalangMembaca merupakan salah satu aspek di dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Melalui membaca siswa dapat memperoleh banyak wawasan. Salah satu cara yang dapat digunakan dalam membaca ialah membaca pemahaman. Kemampuan membaca pemahaman dilakukan untuk memperoleh informasi dari apa yang telah dibaca. Seperti halnya kemampuan membaca cerita pendek. Kemampuan membaca pemahaman cerita pendek dapat dilihat dari seberapa besar seseorang memperoleh wawasan terkait bacaan yag telah dibaca.Sikap bahasa merupakan respon atau tindakan seseorang terhadap bahasa yang diterima. Sikap siswa terhadap bahasa Indonesia merupakan respon atau tindakan siswa terhadap bahasa Indonesia. Seorang siswa yang memiliki sikap positif terhadap bahasa Indonesia, maka siswa akan cenderung menggunakan serta melestarikan bahasa Indonesia. Sebaliknya, seorang siswa yang memiliki sikap negatif terhadap bahasa Indonesia, maka siswa akan cenderung mengabaikan bahasa Indonesia.Menulis merupakan suatu kegiatan dengan cara menuangkan ide atau gagasan ke dalam bentuk tulisan yang bertujuan untuk menghasilkan suatu karya tulis. Salah satu karya tulis yang dapat dihasilkan adalah cerita pendek. Di dalam menulis sebuah cerita pendek diperlukan ide, gagasan, imajinasi, dan wawasan yang sangat luas. Seperti keadaan lingkungan di sekitar (pengalaman diri sendiri atau pengalaman orang lain) dapat digunakan sebagai ide di dalam menulis sebuah cerita pendek. Selain menuangkan ide di dalam cerita, pemilihan kata juga diperlukan di dalam menulis cerita pendek agar cerita yang dihasilkan hidup dan menarik.Rumusan masalah pada penelitian ini adalah (1) bagaimana deskripsi kemampuan membaca pemahaman, sikap bahasa, dan kemampuan menulis cerita pendek, (2) adakah hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas VIIA SMP Negeri 4 Malang, dan (3) adakah hubungan antara sikap bahasa dengan kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas VIIA SMP Negeri 4 Malang. Sebelum mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis cerita pendek dan hubungan sikap bahasa dengan kemampuan menulis cerita pendek, terlebih dahulu dilakukan deskripsi terhadap kemampuan membaca pemahaman, sikap bahasa, dan kemampuan menulis cerita pendek. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen berupa tes tulis untuk kemampuan membaca pemahaman, angket/kuesioner untuk sikap bahasa, dan tes tulis untuk kemampuan menulis cerita pendek. Penelitian ini menggunakan sampel satu kelas yaitu kelas VIIA SMP Negeri 4 Malang yang terdiri atas 30 siswa.Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis uji beda. Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan kemampuan membaca pemahaman, sikap bahasa, dan kemampuan menulis cerita pendek. Analisis uji beda diperoleh dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana. Analisisregresi linier sederhanadigunakanuntukmengetahuihubungankemampuanmembacapemahamandengankemampuanmenulisceritapendekdanmengetahuihubungansikapbahasadengankemampuanmenulisceritapendek.Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan yang menjawab rumusan masalah penelitian. Pertama, kemampuan membaca pemahaman siswa kelas VIIA SMP Negeri 4 Malang sangat tinggi, sikap bahasa siswa kelas VIIA SMP Negeri 4 Malang sangat tinggi, dan kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas VIIA SMP Negeri 4 Malang sangat tinggi. Kedua, adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan membaca pemahaman dengan kemampuan menulis cerita pendek. Ketiga, adanya hubungan yang positif dan signifikan antara sikap bahasa dengan kemampuan menulis cerita pendekSaran yang diberikan dalam penelitian ini sebagai berikut. Pertama, disarankan sekolah mampu mempertahankan sikap positif siswa terhadap bahasa, dengan cara melatih siswa untuk menggunakan bahasa Indonesia di lingkungan sekolah karena melihat besarnya hubungan antara kemampuan membaca pemahaman dan sikap bahasa dengan kemampuan menulis cerita pendek. Selain itu, sekolah mampu memfasilitasi sumber belajar yang diperlukan siswa untuk mendukung proses pembelajaran khususnya membaca dan menulis. Pembelajaran membaca dengan memaksimalkan perpustakaan sebagai tempat untuk siswa memperoleh wawasan. Pembelajaran menulis dengan memberikan motivasi kepada siswa untuk menghasilkan suatu karya tulis, seperti cerita pendek. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan reward (hadiah) kepada siswa yang menciptakan suatu karya tulis. Kedua, disarankan guru mampu membangun motivasi siswa untuk lebih giat belajar karena guru adalah pengelola dan juga pengarah dalam kegiatan belajar mengajar.  Selain itu, guru mampu memperhatikan sikap bahasa siswa dan mempertahankan sikap positif siswa terhadap bahasa Indonesia dengan cara menggunakan bahasa Indonesia di dalam proses pembelajaran. Ketiga, disarankan siswa lebih meningkatkan semangatnya untuk belajar menulis atau membaca. Jika siswa memiliki kemauan untuk banyak membaca, maka pengetahuan yang dimiliki akan lebih luas dan dapat dijadikan modal dalam penulisan suatu karya tulis. Selain itu, siswa mampu mempertahankan bahasa Indonesia dengan cara melatih menggunakan bahasa Indonesia di dalam maupun di luar proses pembelajaran. Keempat, disarankan bagi peneliti selanjutnya hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk dikembangkan lebihlanjut dengan variabel yang lebih bervariasi, menggunakan populasi atau sasaran yang lebih banyak/luas dan dimungkinkan pada jenis kompetensi atau tingkatan yan

    Penggunaan Bahasa dalam Teks Prosedur Kompleks Karya Siswa Kelas X SMKN 3 Malang

    No full text
    ABSTRACT Penggunaan Bahasa dalam Teks Prosedur Kompleks Karya Siswa Kelas X SMKN 3 MalangPenelitian ini bertujuan memaparkan penggunaan bahasa dalam karya teks prosedur kompleks karya siswa kelas X SMKN 3 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Data penelitian ini adalah paparan bahasa yang menggambarkan tujuan, langkah-langkah, dan penutup dalam teks prosedur kompleks karya siswa. Data tersebut diambil dari sumber data berupa 25 dokumen teks prosedur kompleks karya siswa kelas X SMKN 3 Malang. Data dikumpulkan menggunakan teknik studi dokumen. Peneliti tidak terlibat langsung proses pengumpulan data, tetapi berperan sebagai instrumen utama dalam penganalisisan data. Data dianalisis dengan instrumen pendukung berupa pedoman analisis data dan tabel analisis data. Analisis data dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu pereduksian data, penyajian data, dan penarikan simpulan.Tahap pereduksian data dilakukan dengan membaca, menyeleksi, memberikan kode pada data. Penyajian data yang berisi pemaparan dan pembahasan data disusun sekaligus berdasarkan rumusan masalah. Data berupa paparan bahasa pada bagian tujuan, langkah-langkah, dan penutup dianalisis menggunakan berbagai teori berdasarkan pedoman analisis data. Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan temuan pada hasil analisis dan penyajian data sesuai dengan rumusan masalah.Berdasarkan hasil analisis data diperoleh tiga simpulan yang sejalan dengan rumusan masalah yaitu penggunaan bahasa dalam paparan (1) tujuan, (2) langkah-langkah, dan (3) penutup. Aspek penggunaan bahasa tersebut adalah penggunaan pilihan kata, kalimat, dan paragraf.Penggunaan bahasa yang paling dominan dalam paparan tujuan dari aspek pilihan kata adalah kata yang mengacu pada target, sedangkan dari aspek kalimat yang paling banyak muncul adalah kalimat perintah transitif aktif dengan pola kalimat GK (Gatra Kerja)+GB (Gatra Benda)+GS (Gatra Sifat). Selanjutnya, dari aspek paragraf yang paling sering digunakan adalah jenis paragraf lantas dan paparan.Penggunaan bahasa yang paling dominan dalam paparan langkah-langkah dari aspek pilihan kata adalah kata yang mengacu pada aktivitas yang berbentuk perintah, sedangkan dari aspek kalimat yang paling banyak muncul adalah kalimat perintah dengan pola GBil+GK, GB+GB. Selanjutnya dari aspek paragraf yang paling sering digunakan adalah jenis paragraf proses, rincian, susunan daftar, dan runtutan waktu.Penggunaan bahasa yang paling dominan dalam paparan penutup dari aspek pilihan kata adalah kata yang mengacu pada target akhir sedangkan dari aspek kalimat yang paling banyak muncul adalah kalimat berita bermakna pengakhiran dengan pola kalimat KB+KK. Selanjutnya, dari aspek paragraf yang paling sering digunakan adalah jenis paragraf kesimpulan. Berdasarkan simpulan hasil penelitian, dikemukakan saran-saran sebagai berikut. Pertama, bagi guru. Guru perlu merefleksi penggunaan bahasa siswa dalam teks lain serta memperhatikan penggunaan ejaan dan tanda baca siswa yang kurang tepat. Kedua, bagi siswa SMKN 3 Malang. Siswa perlu memperkaya penggunaan kata, kalimat, dan paragraf dalam teks prosedur kompleks serta meningkatkan pemahaman terkait penggunaan ejaan dan tanda baca dalam menulis sebuah teks. Ketiga, bagi peneliti lain. Peneliti lain sebaiknya mengupas tuntas penggunaan bahasa dari segi pilihan kata atau kalimat atau paragraf

    Pengembangan Bahan Ajar Menulis Teks Anekdot dengan Menggunakan Gambar Karikatur untuk Siswa Kelas X SMA

    No full text
    ABSTRACT Khoirotunnisa, Ratih Purbayu. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Teks Anekdot dengan Menggunakan Gambar Karikatur untuk Siswa Kelas X SMA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd., (II) Dr. Martutik, M.Pd.Kata kunci: bahan ajar, menulis, teks anekdot, gambar karikaturMenulis teks anekdot merupakan salah satu kompetensi yang wajib dikuasai oleh siswa kelas X SMA. Oleh sebab itu, menulis teks anekdot harus diajarkan kepada siswa. Berdasarkan hasil studi pendahuluan, diperoleh informasi terkait kesulitan siswa dalam pembelajaran teks anekdot, yaitu siswa merasa kesulitan dan bingung mencari ide atau topik teks anekdot, menyusun kerangka teks anekdot, dan mengembangkan kerangka ketika akan menulis teks anekdot. Hal tersebut mengakibatkan hasil menulis teks anekdot masih kurang maksimal. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan ajar yang dapat membantu siswa dalam menulis teks anekdot.Bahan ajar sangat berperan ketika proses pembelajaran. Bahan ajar berfungsi sebagai alat untuk membantu kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa. Seiring dengan berlakunya Kurikulum 2013, bahan ajar untuk siswa kelas X belum banyak dikembangkan. Bahan ajar tentang menulis teks anekdot bagi siswa kelas X SMA juga masih belum banyak dikembangkan sehingga masih dibutuhkan adanya bahan ajar yang menarik bagi siswa untuk pembelajaran menulis teks anekdot. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan bahan ajar menulis teks anekdot untuk menambah suplemen atau pelengkap bahan ajar yang memudahkan guru dan siswa dalam proses pembelajaran menulis teks anekdot. Bahan ajar yang menarik dan memudahkan siswa menulis teks anekdot dapat dikembangkan dengan menggunakan gambar karikatur. Gambar karikatur dapat dijadikan ide penulisan teks anekdot. Oleh sebab itu, bahan ajar menulis teks anekdot dengan menggunakan gambar karikatur perlu dikembangkan. Gambar karikatur yang digunakan untuk menulis teks anekdot adalah gambar karikatur berseri yang membentuk satu jalinan cerita lucu, menarik, dan mengesankan karena isinya berupa kritik atau sindiran terhadap kebijakan, layanan publik, perilaku penguasa, atau suatu fenomena/kejadian.Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah (1) menghasilkan deskripsi isi bahan ajar menulis teks anekdot dengan menggunakan gambar karikatur untuk siswa kelas X SMA, (2) menghasilkan sistematika penyajian bahan ajar menulis teks anekdot dengan menggunakan gambar karikatur untuk kelas X SMA, (3) menghasilkan bahasa bahan ajar menulis teks anekdot dengan menggunakan gambar karikatur untuk siswa kelas X SMA, dan (4) menghasilkan tampilan produk bahan ajar menulis teks anekdot dengan menggunakan gambar karikatur untuk siswa kelas X SMA.Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Rancangan penelitian ini diapadaptasi dari prosedur penelitian pengembangan Borg dan Gall. Berdasarkan prosedur tersebut, terdapat tujuh tahap prosedur penelitian, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji ahli dan uji praktisi, (5) revisi hasil uji ahli dan uji praktisi, (6) uji lapangan, dan (7) penyempurnaan produk akhir.Uji produk dilakukan dengan melibatkan (1) ahli pembelajaran penulisan teks anekdot, (2) ahli bahan ajar, (3) praktisi, yaitu guru Bahasa dan Sastra Indonesia, dan (4) lapangan, yaitu siswa kelas X SMA Negeri 2 Lumajang.Jenis data penelitian ini adalah data numerik dan data verbal. Data numerik berupa data skor yang diperoleh dari hasil angket penilaian ahli, praktisi, dan siswa terhadap produk. Data verbal dibedakan menjadi data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek uji pada angket penilaian, sedangkan data verbal lisan berupa informasi yang disampaikan secara lisan ketika wawancara bebas dengan ketiga kelompok uji.Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument. Angket penilaian dan pedoman wawancara bebas digunakan sebagai instrumen pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data verbal tertulis yang diperoleh dari angket penilaian, (2) menganalisis data, dan (3) merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan.Berdasarkan aspek isi, bahan ajar Menulis Anekdot dari Gambar Karikatur tergolong layak dan siap diimplementasikan pada pembelajaran teks anekdot. Hal tersebut dapat diketahui dari skor hasil uji produk, yaitu 79,51. Berdasarkan aspek sistematika penyajian, bahan ajar Menulis Anekdot dari Gambar Karikatur tergolong layak dan siap diimplementasikan pada pembelajaran teks anekdot. Hal tersebut dapat diketahui dari skor hasil uji produk, yaitu 81,6. Berdasarkan aspek penggunaan bahasa, bahan ajar Menulis Anekdot dari Gambar Karikatur tergolong layak dan siap diimplementasikan pada pembelajaran teks anekdot. Hal tersebut dapat diketahui dari skor hasil uji produk, yaitu 85,71. Berdasarkan aspek tampilan, bahan ajar Menulis Anekdot dari Gambar Karikatur tergolong layak dan siap diimplementasikan pada pembelajaran teks anekdot. Hal tersebut dapat diketahui dari skor hasil uji produk, yaitu 80,71. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar Menulis Teks Anekdot dari Gambar Karikatur tergolong layak dan siap diimplementasikan dalam pembelajaran menulis teks anekdot di kelas X SMA. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, guru disarankan untuk menggunakan bahan ajar Menulis Teks Anekdot dari Gambar Karikatur dalam pembelajaran menulis teks anekdot sehingga kendala dalam pembelajaran menulis teks anekdot dapat teratasi. Siswa disarankan untuk mengikuti semua tahap menulis teks anekdot dengan menggunakan gambar karikatur agar dapat menulis teks anekdot dengan mudah dan menyenangkan. Prosedur penelitian pengembangan bahan ajar ini dapat menjadi pedoman bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa. Pengembang lain disarankan untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini. Langkah tersebut dapat diterapkan pada pengembangan bahan ajar untuk kompetensi lain. Selanjutnya, penyebarluasan produk dapat dilakukan dengan cara (1) produk diseminarkan ke sesama mahasiswa, (2) artikel hasil penelitian diunggah ke jurnal online perpustakaan, dan (3) produk disebarluaskan melalui forum MGMP Bahasa dan Sastra Indonesia

    Peningkatan Kualitas Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Pemberian Reward dan Punishment pada Siswa Kelas IX-C SMPN 5 Jombang

    No full text
    ABSTRACT Riatmojo, Alif Jiantara. 2016. Peningkatan Menulis Cerpen dengan Pemberian Reward dan Punishment pada Siswa Kelas IX-C SMPN 5 Jombang. Prodi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: 1 Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd. Pembimbing 2 Dr. Nita Widiati, M.Pd. Kata Kunci: menulis cerpen, reward, dan punishment.Strategi pembelajaran menjadi hal yang penting dalam kegiatan belajar, terutama di sekolah. Pemberian strategi motivasi mampu meningkatkan semangat dan motivasi belajar siswa. Siswa yang memiliki motivasi belajar akan mampu ikut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Salah satu alat yang mampu meningkatkan semangat, motivasi, dan keaktifan siswa adalah reward dan punishment. Reward dan punishment selain mampu memberikan motivasi dan semangat kepada siswa juga mampu mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik. Reward dan punishment juga mampu membantu siswa menjadi semangat belajar dalam memahami materi tentang cerpen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan proses dan hasil menulis cerpen dengan pemberian reward dan punishment pada siswa kelas IX-C SMP Negeri 5 Jombang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas IX-C SMP Negeri 5 Jombang yang berjumlah 33 siswa. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara guru dan siswa, tes, angket, dan catatan lapangan. Analisis data proses pembelajaran dan aktivitas siswa dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif, menjumlah skor, dan mengolah skor. Pada hasil karya cerpen siswa dianalisis dengan mengumpulkan hasil menulis cerpen, mengoreksi, dan mengolah skor hasil menulis cerpen. Pada penelitian ini, reward yang digunakan berupa reward stiker, reward kata klasikal, dan reward kata individu. Punishment yang digunakan pada penelitian ini yaitu punishment stiker, punishment pengurangan poin keaktifan, dan punishment yang disesuaikan dengan jenis pelanggaran yang dilakukan siswa. Pengaruh penggunaan reward dan punishment pada kegiatan belajar mengajar mampu mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik. Siswa menjadi lebih aktif merespon pembelajaran sehingga pemahaman siswa menjadi lebih baik. Punishment juga mampu mengontrol perilaku buruk siswa. Pemberian punishment mampu memberikan efek jera dan mengembalikan keadaan siswa agar bisa kembali fokus dalam belajar.Berdasarkan hasil observasi, wawancara guru dan siswa, angket, catatan lapangan, dan tes, pemberian reward dan punishment mampu meningkatan kemampuan menulis cerpen siswa dan meningkatkan keaktifan siswa. Peningkatan keaktifan siswa ini ditandai dengan meningkatnya respons siswa selama kegiatan pembelajaran, ketepatan waktu siswa dalam mengumpulkan tugas, kejujuran siswa, dan nilai siswa yang berhasil memenuhi KKM. Hasil nilai peningkatan proses siswa pada siklus 1 sebesar 302 dengan rata-rata nilai 9,51. Pada siklus 2 hasil penilaian proses meningkat menjadi 330 dengan rata-rata nilai 10. Peningkatan penilaian proses dikarenakan siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran. Penilaian proses mengacu pada proses kreatif menulis cerpen. Penilain hasil menulis cerpen siswa meningkat dibanding prasiklus. Rata-rata nilai siswa juga mengalami peningkatan. Pada prasiklus nilai rata-rata siswa 68,24 meningkat pada siklus 1 menjadi 78,12. Pada siklus 2 nilai rata-rata siswa juga meningkat menjadi 81,84. Pada kualitas karya siklus 1 siswa telah berhasil mengembangkan cerpen dengan cukup baik, hanya saja siswa belum mampu mengembangkan konflik dengan maksimal. Pada siklus 2 siswa mampu mengembangkan cerpen dengan sangat baik dan siswa mampu mengembangkan konflik dengan maksimal. Peningkatan hasil ini ditandai dengan isi, bahasa, dan ejaan siswa yang telah ditulis dengan baik. Peningkatan hasil nilai siswa juga dipengaruhi oleh sikap siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan demikian reward dan punishment berperan dalam meningkatkan hasil menulis cerpen siswa serta pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.ABSTRACT Riatmojo, Alif Jiantara. 2016. Enhancing Short Story Writing by Giving Reward and Punishment for 9th Graders in C-class of Junior High School 5 Jombang. Indonesian and Regional Language and Literature Education. Indonesian Literature. Faculty of Letters. State University of Malang. Advisors: 1. Prof. Dr. Wayhudi Siswanto, M.Pd. 2. Dr. Nita Widiati, M.Pd.Keywords: novel writing, reward, and punishmentLearning strategy is an important thing in learning activity, especially in school. Implementing motivational strategy will enhance students’ motivation to study. Students will be active in learning activity if are motivated to study. One of the tools that able to enhance the students’ passion, motivation, and activeness is reward and punishment. Reward and punishment is not only motivating the students to have better behaviors, but also help the students to understand the lesson about short story.This research aims to find out the improvement of short story writing result and process by giving reward and punishment to 9th grader in C-class of Junior High School 5 Jombang. This research is considered as Classroom Action Research with qualitative approach. The subject of this research are 33 students of 9th grader in C-class of Junior High School 5 Jombang. The data collecting technique are observation, interview with students and teachers, test, questionnaire, and field notes. The data analysis of learning process and student’s activity was conducted using qualitative descriptive analysis by collecting, correcting, and scoringthe result of short story writing. The rewards used in this research are sticker, classical word, and individual word. The punishments used in this research are sticker, deduction of activeness point, and also punishments that adjusted with the type of violation the students did. The implementation of reward and punishment to learning activity enhance the students’ behavior. Students become more active in responding the learning activity resulting in students’ better understanding. Punishments are able to control students’ bad behaviors. Giving punishment reflected deterrent effect and increased students’ focus to the learning activity.Based on the result of observation, interview with students and teachers, questionnaire, test, and field notes, implementation of reward and punishment enhance the students’ short story writing skill and also students’ activeness. The improvement of students’ activeness was showed by the improvement of students’ response during learning activity, students’ punctuality in collecting the assignments, students’ honesty, and students score that passing the KKM. The result of students’ improvement process on cycle 1 is 302 with the mean score 9.51. On cycle 2, scoring process result increase to 302 with the mean score 10. The improvement of scoring process is as the result of students’ activeness in learning activity. Scoring process refers to creativity in short story writing process. The score of students’ short story results are increasing compared to the pre-cycle. Students mean score on the pre-cycle is 68.24 become 78.12 on cycle 1 and increase more on the cycle 2 with mean score 81.84. For the writing quality on cycle 1, students are already able to develop short story, but they need to learn more to develop conflict. On the cycle 2, students are able to develop short story better and also able to develop the conflict. This improvement is noted by content, language, and spelling. Students’ behavior during the learning activity improves the students result. In conclusion, implementation of reward and punishment enhances the result of short story writing and also students’ comprehension of lesson

    Unsur Intrinsik Cerpen Jawa Pos edisi Januari--Oktober 2015

    No full text
    ABSTRACT Ajeng, Angga Wahyu. 2015. Wujud Implementasi RPP Bahasa Indonesia dalam Kegiatan Pembelajaran Oleh Guru SMP di Kabupaten Lumajang. Skripsi,Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof. Dr. Syukur Ghazali, M.Pd., (II) Dr. Widodo H.S,M.Pd. Kata Kunci: RPP, implementasi RPP, pembelajaran bahasa IndonesiaSeluruh guru dituntut untuk menyusun silabus dan Rencana PelaksanaanPembelajaran (RPP). Sebagai tenaga profesional, kemampuan guru dalammenyusun RPP seharusnya sudah tidak perlu diragukan tetapi kenyataan dilapangan berbeda. Selain memiliki keterampilan dalam menyusun RPP guru harusdapat mengimplementasikan RPP yang telah dibuat karena sebuah perencanaantidak akan berarti tanpa adanya tindakan nyata. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan wujud implementasi RPP dalam pembelajaran Bahasa dan SastraIndonesia di SMP Kabupaten Lumajang pada kegiatan pendahuluan pembelajaran,kegiatan inti pembelajaran, dan kegiatan penutup pembelajaran.  Pendekatan yang digunakan penelitian ini adalah pendekatan kualitatifdengan desain penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah guru matapelajaran Bahasa Indonesia di SMP Kabupaten Lumajang, yaitu RPP dan rekamanproses pembelajaran. Data penelitian ini adalah aspek-aspek kegiatan pembelajarandalam RPP berupa tindakan dan ucapan guru saat mengimplementasikan RPP.Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik studi dokumentasi danobservasi. Instrumen yang digunakan dalam proses pengumpulan data adalahpedoman analisis dokumen dan pedoman observasi. Analisis data dilakukan dengantahapan mengidentifikasi, mengelompokkan, menjabarkan, menyajikan, danmenarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh tiga simpulan. Pertama, padakegiatan pendahuluan pembelajaran ditemukan empat wujud implementasi dariguru, yaitu (1) guru meminta siswa berkonsentrasi pada pelajaran dan memastikansiswa bersedia melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran; (2) guru memberikancontoh dan perbandingan tentang pokok bahasan yang akan dipelajari dengankonteks kehidupan sehari-hari; (3) guru mengajukan pertanyaan kepada siswauntuk mengingat kembali hal yang telah diketahui/dikuasai tentang pokok bahasanyang dipelajari; (4) guru menjelaskan tujuan pelajaran. Kedua, wujud implementasiRPP kegiatan inti pembelajaran dibagi menjadi tiga ranah, yaitu implementasikegiatan inti kognitif atau pengetahuan, implementasi kegiatan inti afektif atausikap, dan implementasi kegiatan psikomotorik atau keterampilan. Terdapat tujuhwujud implementasi yang dilakukan pada inti pembelajaran ranah kognitif. Tujuhwujud implementasi tersebut adalah (1) guru memberitahukan kemampuan danpengetahuan yang akan diajarkan; (2) guru meminta siswa mecermati kemampuandan pengetahuan yang diberikan oleh guru kemudian menunjukkan persamaan danperbedaannya; (3) guru membantu merumuskan konsep dan kaidah pembelajaran;(4) guru menghubungkan konsep dan kaidah yang sudah dipahami dengan konsepdan kaidah baru; (5) guru menguraikan petunjuk tentang pemahaman yangdiajarkan; (6) guru mengikuti dengan seksama pemahaman yang didapat oleh siswa; (7) guru memberikan konfirmasi tentang ketepatan pemahaman yang didapatsiswa, baik secara lisan maupun tulis. Terdapat tiga wujud implementasi yangdilakukan pada inti pembelajaran aspek afektif, yaitu (1) guru mendemonstrasikantingkah laku yang tepat (bisa dilakukan oleh guru sendiri ataupun menggunakanmodel); (2) guru menonjolkan perbuatan-perbuatan tertentu dan efek dari tindakanyang dilakukan, dan (3) guru menjelaskan atau memberikan informasi tambahantentang alasan mempelajari tingkah laku tersebut. Terdapat tiga wujudimplementasi yang dilakukan pada inti pembelajaran aspek psikomotor, yaitu (1)guru menunjukkan subketerampilan, kaidah-kaidah, dan prosedur yang harusdiikuti tentang materi yang akan diajarkan; (2) guru memberikan petunjuk tentangcara melaksanakan dan waktu yang dibutuhkan untuk belajar; (3) guru mengamatipekerjaan siswa dan memperhatikan aturan waktu sesuai kaidah yang diajarkan.Ketiga, pada kegiatan penutup pembelajaran ditemukan tiga wujud implementasiyang dilakukan oleh guru, yaitu (1) guru bersama siswa meringkas atau membuatgaris besar materi yang baru dibahas atau dipelajari; (2) guru memberikan umpanbalik terhadap proses serta hasil pembelajaran yang telah dilakukan; (3) gurumenginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang perlu disampaikan kepada gurubahasa Indonesia adalah meningkatkan kreativitas dalam pengimplementasian RPPyang sudah ada dan menyempurnakan kegiatan-kegiatan penting dalam RPP yangsebelumnya terlewatkan atau belum dapat diimplementasikan. Kegiatan pentingyang dilewatkan oleh guru dalam implementasi pada bagian pendahuluanpembelajaran adalah guru tidak menyampaikan cakupan materi dan penjelasanuraian kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan penting yang dilewatkan olehguru dalam implementasi pada bagian inti pembelajaran aspek afektif, yaitu (1)guru bertanya kepada siswa tentang penggunaan sikap yang dipelajari; (2) gurumemberikan petunjuk cara dan saat yang tepat untuk melaksanakan sikap yangdipelajari; (3) guru mengobservasi tindakan yang dipelajari siswa secara berulangkali; (4) guru memberikan komentar tentang kewajaran sikap yang tercermin dalamtingkah laku siswa. Kegiatan penting yang dilewatkan oleh guru dalamimplementasi pada bagian inti pembelajaran aspek psikomotor, yaitu (1) gurumemberikan demonstrasi atau contoh keterampilan yang akan diajarkan; (2) gurumenjelaskan alasan penggunaan prosedur dan kaidah dari keterampilan yang akandiajarkan; (3) guru meminta siswa berlatih sesuai prosedur yang telah diajarkan; (4)guru memberikan komentar mengenai hasil kerja siswa dan ketepatan waktu dalampengerjaan. Kegiatan penting yang dilewatkan oleh guru dalam implementasi padabagian penutup pembelajaran, yaitu (1) guru bersama siswa mengambil manfaatdari hasil pembelajaran yang telah dilakukan; (2) guru memberikan tugas kepada siswa sebagai kegiatan tindak lanjut. 

    Struktur Naratif Vladimir Propp dan Nilai Moral Cerita Rakyat Si Pitung Di Daerah Rawa Belong

    No full text
    ABSTRACT Struktur Naratif Vladimir Propp dan Nilai Moral Cerita Rakyat Si Pitung Di Daerah Rawa BelongIndah, Dwi Putri. 2016. Struktur Naratif Vladimir Propp dan Nilai Moral   Cerita Si Pitung Di Daerah Rawa Belong. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd, (II) Dr. Roekhan, M.PdKata Kunci: sastra lisan, cerita Si Pitung, struktur naratif Vladimir Propp, nilai moral.Si Pitung merupakan cerita rakyat dari budaya Betawi, tepatnya  di daerah Rawa Belong di Jakarta Barat. Pitung adalah seorang pemuda  yang memiliki kemampuan bela diri serta keberanian yang tinggi dalam menghadapi penjajah Belanda. Nama Pitung sampai saat ini dikenal dan menjadi legenda untuk masyarakat Betawi, karena sosoknya sebagai pahlawan pada zaman penjajahan dahulu.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur naratif cerita Si Pitung yang dapat ditemukan berdasarkan fungsi pelaku, dan nilai  moral dalam cerita Si Pitung.Penelitian ini menggunakan pendekatan dari teori struktur naratologi Vladimir Propp dan jenis penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif. Data penelitian diperoleh dari hasil wawancara dengan informan. Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan penyebaran angket. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi.Hasil yang diperoleh dari penelitian mengenai cerita Si Pitung adalah ditemukannya 11 struktur naratif berdasarkan fungsi pelaku dan 6 nilai moral yang terdapat di dalam cerita.Sebelas fungsi pelaku yang membangun kontruksi cerita adalah fungsi pelaku yang membangun kontruksi cerita yaitu (1) fungsi ketiadaan, (2) fungsi kejahatan, (3) fungsi permulaan tindak balas, (4) fungsi pertama donor, (5) fungsi reaksi pahlawan, (6) fungsi penerimaan alat sakti, (7) fungsi perpindahan, (8) fungsi berjuang dan bertarung, (9) fungsi kebutuhan terpenuhi, (10) fungsi kepulangan, dan (11) fungsi pengejaran dan penyelidikan. Nilai moral yang ditemukan dalam cerita Si Pitung ada tiga jenis nilai moral, yaitu nilai moral individu, nilai moral sosial, dan nilai moral religi. Nilai moral individu pada cerita Si Pitung ada dua yaitu (1) pandai dan (2) berani. Nilai moral sosial yang terdapat di dalam cerita Si Pitung ada dua yaitu (1) tolong-menolong dan (2) rela berkorban. Nilai moral religi dalam cerita Si Pitung ada dua yaitu (1) beribadah dan (2) percaya adanya Tuhan.                                                                            Secara keseluruahan, cerita mengenai Si Pitung yang ada di lingkungan penduduk Desa Rawa Belong merupakan cerita yang menjadi sebuah sejarah untuk penduduk daerah Rawa Belong. Karena lewat cerita Si Pitunglah, nama Desa Rawa Belong menjadi terkenal dan melegenda di tanah Betawi. Si Pitung membawa dan meninggalkan jejak yang baik di Rawa Belong, sehingga membuat banyak masyarakat luar Rawa Belong penasaran dan ingin mencari tahu bagaimana cerita sebenarnya mengenai Si Pitung yang dijuluki sebagai pahlawan Batavia

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇