SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    Analisis Bentuk, Faktor Penyebab, dan Fungsi Alih Kode di Desa Klampok, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo

    No full text
    ABSTRACT Analisis Bentuk, Faktor Penyebab, dan Fungsi Alih Kode di Desa Klampok, Kecamatan Tongas, Kabupaten ProbolinggoKumalasari, Ratih. 2014. Analisis Bentuk, Faktor Penyebab, dan Fungsi Alih Kode di Desa Klampok, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Abdus Syukur Ghazali, M.Pd, (II) Musthofa Kamal, S.Pd, M.Sn.Kata Kunci: bentuk, faktor penyebab, fungsi, alih kodeAlih kode adalah penggantian bahasa, yang dipengaruhi oleh penutur, situasi tutur, dan tujuan tutur. Masyarakat dengan budaya dan bahasa yang beragam mungkin menggunakan dua bahasa bahkan lebih.  Adanya kemampuan penggunaan dua bahasa yang dinamakan bilingual (dwibahasa) atau tiga bahasa atau multilingual (multibahasa), dapat menimbulkan gejala alih kode maupun campur kode.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (a) bentuk alih kode dalam percakapan yang terjadi di desa Klampok, (b) faktor apa yang menjadi penyebab terjadinya alih kode di desa Klampok, dan (c) untuk mengetahui  fungsi interaksi alih kode dalam percakapan yang terjadi di desa Klampok.Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini adalah percakapan di Desa Klampok Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak libat cakap, teknik elisitasi/pemancingan, teknik rekam, dan teknik catat. Dalam penelitian ini peneliti sebagai instrumen utama yang merencanakan, melaksanakan, menafsirkan, dan menyimpulkan data. Aktivitas analisis data penelitian ini meliputi identifikasi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan SPEAKING yang terdiri atas: (a) setting and scene (latar), (b) participants (peserta), (c) ends of communications (maksud dan tujuan penuturan), (d) act Sequence (bentuk dan isi ujaran), (e) key emotions (nada, cara, dimana suatu pesan disampaikan), (f) instrumentalities (jalur bahasa yang digunakan), (g) Norm of interaction and interpretation (norma atau aturan dalam berinteraksi), dan (h) genres (jenis bentuk penyampaian).Hasil dari penelitian ini, menghasilkan bentuk alih kode sebagai berikut: (1) alih kode dengan kode dasar bahasa Jawa beralih kode ke BI atau BM (BJ—BI  dan BJ—BM ); (2) alih kode dengan kode dasar bahasa Madura (BM—BJ dan BM—BI);  (3) alih kode dengan kode dasar bahasa Indonesia (BI—BJ dan BI—BM); dan (4) alih kode antar tingkat tutur bahasa (BJN—BJK dan BJK—BJN).  Bentuk variasi tersebut muncul pada aktivitas kehidupan sehari-hari dalam berbagai ranah bahasa, ranah profesi, keluarga, ketetanggaan, dan sebagainya.Faktor-faktor penentu alih kode dalam masyarakat tutur multibahasa di Kabupaten Probolinggo, yaitu (1) partisipan, (2) setting, (3) situasi dan (4) pokok pembicaraan. Pertama, partisipan yaitu: profesi, umur, hubungan darah, latar belakang bahasa, kedudukan, dan latar belakang pendidikan. Kedua, setting merupakan tempat dan waktu. Ketiga, situasi yaitu: tingkat keformalan, hadirnya orang ketiga, tingkat keakraban. Terakhir, pokok pembicaraan berkaitan dengan: topik dan kosa kata yang digunakan.Kemudian, fungsi alih kode yang terjadi di Desa Klampok Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo yaitu: (1) untuk meminta tolong, (2) untuk menjalaskan dan memberikan informasi, (3) untuk mengakrabkan suasana, (4) untuk menawarkan sesuatu, (5) untuk menyampaikan rasa humor, dan (6) untuk menghindari pertengkaran. Terakhir, adanya kekhasan dalam penelitian Analisis Bentuk, Faktor Penyebab, dan Fungsi Alih Kode di Desa Klampok Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo yakni: (1) keberagaman alih kode, (2) keakraban, (3) power and solidarity, (4) tua muda, (5) norma interaksi, (6) setting tidak mempengaruhi alih kode, dan (7) topik pembicaraan

    Kemampuan Menyimak Kreatif Cerita Pendek Peserta Didik Kelas VII SMPN 2 Malang

    No full text
    ABSTRACT Swari, Rhisma Ratna. 2016. Kemampuan Menyimak Kreatif Cerita PendekPeserta Didik Kelas VII SMPN 2 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia,Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nurhadi,M.Pd., (II) Dra. Ida Lestari, M.Si.Kata Kunci : menyimak, menyimak kreatif, cerita pendek.Menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang pertama kali dilakukanoleh seseorang. Kegiatan menyimak memiliki peran penting bagi pesertadidik. Akan tetapi, saat ini pembelajaran menyimak di sekolah kurang mendapatperhatian. Kegiatan menyimak dalam penelitian ini menggunakan cerita pendeksebagai bacaan yang disimak dan jenis menyimaknya adalah menyimak kreatif.Salah satu kegiatan dalam menyimak kreatif yang akan dijadikan fokus penelitianyakni untuk mencapai pemecahan masalah sekaligus memeriksa dan mengujihasil pemecahannya.Secara umum penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan menyimakkreatif cerita pendek peserta didik kelas VII SMPN 2 Malang. Tujuansecara khusus yaitu mengetahui kemampuan peserta didik kelas VII SMPN 2Malang dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah moral, sosial dan religidalam contoh kasus sehari-hari berdasarkan cerita pendek yang disimak.Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kuantitatif.Populasi dalam penelitian ini seluruh peserta didik kelas VII SMP Negeri 2Malang pada tahun ajaran 2015/2016 dengan jumlah 320 orang. Sampel dalampenelitian ini peserta didik kelas VII I dan kelas VII J dengan jumlah keseluruhan61 orang. Instrumen penelitian yang digunakan berbentuk tes objektif yangberjumlah 30 butir soal. Pada tahap pengumpulan data, peserta didik diperdengarkanpotongan-potongan cerita pendek melalui rekaman satu hingga duakali agar peserta didik benar-benar memahami isi cerita. Kemudian memberikanpertanyaan berupa soal pilihan ganda yang telah dibuat oleh peneliti untukdiselesaikan oleh peserta didik. Data penelitian ini berupa skor yang hasilpenskorannya akan dianalisis serta dideskripsikan untuk mengetahui kemampuanpeserta didik dalam menyimak kreatif cerita pendek.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan menyimak kreatifpeserta didik kelas VII SMPN 2 Malang secara umum dikategorikan kurangkreatif dengan persentase 52,40% dengan nilai rata-rata 15,72. Kemampuanpeserta didik kelas VII SMPN 2 Malang secara khusus dalam menyelesaikan ataumemecahkan masalah moral dalam contoh kasus sehari-hari berdasarkan ceritapendek yang disimak termasuk dalam kategori cukup kreatif dengan persentasesebesar 55,9%. Kemampuan peserta didik kelas VII SMPN 2 Malang menyelesaikanatau memecahkan masalah sosial dalam contoh kasus sehari-hariberdasarkan cerita pendek yang disimak termasuk dalam kategori kurang kreatifdengan persentase sebesar 55,2%. Kemampuan peserta didik kelas VII SMPN 2Malang menyelesaikan atau memecahkan masalah religi dalam contoh kasussehari-hari berdasarkan cerita pendek yang disimak termasuk dalam kategorikurang kreatif dengan persentase sebesar 46,1%.Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru Bahasa Indonesiauntuk lebih memperhatikan proporsi keterampilan menyimak khususnya me-iinyimak kreatif dalam pembelajaran. Selain itu disarankan kepada peneliti lanjutanuntuk mengembangkan tes menyimak dan membuat media yang dapat membantu meningkatkan kemampuan menyimak khususnya menyimak kreatif

    Peningkatan Pembelajaran Bercerita melalui Media Kartun Berseri pada Siswa Kelas VII SMP PGRI 4 Kalipare

    No full text
    ABSTRACT Dewintasari, Windy. 2016. Peningkatan Pembelajaran Bercerita melalui MediaKartun Berseri pada Siswa Kelas VII SMP PGRI 4 Kalipare. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd. Pembimbing (II) Dr. Sunoto M.Pd. Kata kunci: berbicara, bercerita, media pembelajaran, kartun berseriBercerita merupakan bagian dari keterampilan berbicara. Kenyataanya di sekolah siswa kesulitan bercerita secara lancar dan runtut. Dominasi guru saat pembelajaran membuat siswa tidak memiliki ruang untuk berkreativitas dan belajar dengan suasana yang menyenangkan. Bercerita dalam pembelajaran memerlukan suatu media yang dapat berjalan secara maksimal. Media merupakan alat bantu yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Salah satu media yang dapat digunakan adalah media kartun berseri. Media kartun berseri merupakan gambar datar yang berisi enam potongan gambar berupa kartun yang saling berurutan membentuk satu kesatuan cerita. Suatu gambar atau seri gambar dapat dijadikan bahan menyusun cerita. Penggunaan media gambar dapat membantu siswa untuk memusatkan perhatian terhadap materi yang disampaikan.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui peningkatan proses dan hasil bercerita melalui media kartun berseri pada siswa kelas VII SMP PGRI 4 Kalipare. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Subjek penelitian adalah guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas VII SMP PGRI 4 Kalipare berjumlah 33 siswa. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran bercerita. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, angket, dan tes. Analisis data proses pembelajaran siswa dilakukan dengan teknik deskriptif kualitatif, sedangkan hasil belajar dianalisis dengan cara mengumpulkan hasil tes performansi bercerita menggunakan kartun berseri, mengoreksi, menentukan skor, dan menentukan nilai berdasarkan rubrik penilaian.Berdasarkan hasil analisis data tersebut diketahui bahwa penggunaan kartun berseri dapat meningkatkan proses dan hasil bercerita siswa. Peningkatan tersebut dilihat dari peningkatan proses dan hasil bercerita melalui media kartun berseri. Pada peningkatan proses, siswa telah mampu menentukan pokok-pokok cerita, mengisi unsur cerita dalam tabel kreativitas, membuat kerangka narasi, dan mengembangkan kerangka menjadi narasi utuh berdasarkan kartun berseri dengan baik. Pada peningkatan hasil, siswa telah mampu bercerita secara lancar dengan pengucapan yang jelas dan mudah dipahami, tanpa menggunakan banyak bunyi penyela dan dengan kecepatan ucapan yang wajar. Siswa telah mampu bercerita secara runtut, lengkap, dan utuh. Selain itu, siswa telah mampu bercerita sesuai dengan narasi yang telah ditulis dan memenuhi seluruh unsur cerita secara lengkap dan menggunakan bahasa penceritaan yang baik dan santun sesuai usianya. Siswa juga memberikan respons positif terhadap pembelajaran bercerita menggunakan media kartun berseri. Respons ini didapat dari hasil pengisian  Angket yang berisi pertanyaan terkait dengan pembelajaran bercerita melalui media kartun berseri. Peningkatan hasil bercerita melalui media kartun berseri dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu 1) kelancaran bercerita (KLB) yang meliputi ucapan jelas dan mudah dipahami (UC), tanpa bunyi penyela (BP), dan kecepatan pengucapan frasa (KPF), (2)  keruntutan alur cerita (KAC), dan (3) kesesuaian narasi dengan unsur cerita (NUC) yang meliputi tokoh (TK), latar tempat (LT), latar waktu (LW), suasana (SN), pengenalan (PG), masalah/ konflik (MK), penyelesaian (PYL), dan penggunaan bahasa (PB). Pada siklus I diketahui bahwa siswa yang masuk ke dalam kategori sangat baik sebanyak 1 siswa, 14 siswa berkategori baik, 8 siswa berkategori cukup, 8 siswa berkategori kurang, dan 2 siswa berkategori sangat kurang. Artinya, sebanyak 23 siswa sudah mencapai KKM, yaitu 75,00 dan sebanyak 10 siswa dinyatakan belum mencapai KKM. Pada siklus II diketahui bahwa siswa yang masuk ke dalam kategori sangat baik sebanyak 10 siswa, 18 siswa berkategori baik, dan 5 siswa berkategori cukup. Nilai rata-rata bercerita kelas VII mengalami peningkatan. Pada studi pendahuluan nilai rata-rata bercerita siswa, yaitu 72,06. Kemudian, siklus I nilai rata-rata bercerita, yaitu 76,24, sedangkan pada siklus II meningkat menjadi 85,6. Artinya, sebanyak 33 siswa sudah mencapai KKM setelah dilakukan tindakan siklus II.

    Pengaruh Penggunaan Experiential Learning Terhadap Kemampuan Mengonversi Teks Cerpen Ke Dalam Naskah Drama Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Krian

    No full text
    Mengonversi teks merupakan salah satu bagian dari menulis. Mengonversi  teks adalah mengubah suatu bentuk teks satu ke dalam bentuk teks yang lain. Mengonversi teks cerpen ke dalam naskah drama merupakan salah satu pembelajaran mencipta naskah drama. Pembelajaran menulis pada dewasa ini sangatlah rendah. Hal tersebut dikarenakan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang variatif. Strategi pembelajaran yang dipercaya memiliki pengaruh terhadap kemampuan mengonversi adalah experiential learning. Experiential learning adalah pemerolehan pengetahuan dan keterampilan serta pembentukan sikap melalui pengalaman konkret-langsung. Penggunaan strategi ini bertujuan agar siswa merasakan unsur dramatik teks secara langsung, sehingga tidak sekedar hanya berimajinasi.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh experiential learning terhadap kemampuan mengonversi teks cerpen ke dalam naskah drama. Rancangan penelitian ini mengguakan metode kuantitatif. Desain penelitian menggunakaneksperimen semu yang dilaksanakan pada sampel kelas X Ilmu Bahasa dan Budaya (IBB) SMA Negeri 1 Krian, Sidoarjo berjumlah 17 siswa.Data pada penelitian ini adalah skor yang diperoleh melalui teknik pengumpulan data yang berupa tes mengonversi oleh siswa. Instrumen penelitian untuk menentukan skor naskah drama siswa berdasarkan rubrik penilaian. Analisis data akhir padapenelitian ini menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji statistik, diperoleh kesimpulan bahwa (1) penggunaan experiential learning berpengaruh terhadap kemampuan mengeonversi teks cerpen ke dalam naskah drama pada aspek penggambaran tokoh dan watak tokoh/karakterisasi, (2) penggunaan experiential learning berpengaruh terhadap kemampuan mengonversi teks cerpen ke dalam naskah dramapada aspek pengembangan alur cerita, (3) penggunaan experiential learning berpengaruh terhadap kemampuan mengonversi teks cerpen ke dalam naskah drama pada aspek pengembangan setting/latar, dan (4) penggunaan experiential learning berpengaruh terhadap kemampuan mengeonversi teks cerpen ke dalam naskah drama secara keseluruhan. Aspek yang telah dianalisis tersebut, terdapat aspek yang memiliki pengaruh penggunaan experiential learning terhadap kemampuan mengonversi teks cerpen ke dalam naskah drama yang signifikan. Aspek yang paling berpengaruh tersebut terdapat pada aspek pengembangan alur. Hasil penelitianexperiential learning ini dapat digunakan sebagai alternatif  dalam pembelajaran mengonversi tes cerpen ke dalam naskah drama oleh para guru di sekolah, sehingga guru dapat menggunakan secara intensif kegiatan experiential leraning di kelas. Siswa dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai salah satu alternatif dalam pembelajaran mengonversi teks. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat sebagai acuan dan bahan rujukan, serta bagi penyusun buku yang berkenaan dengan materi kepenulisan naskah drama

    Pengembangan Media MS. Power Point untuk Pembelajaran Memahami dan Memproduksi Teks Ulasan Film/Drama bagi Siswa SMA Kelas XI.

    No full text
    ABSTRACT Pengembangan LKS Geografi Menurut Hendro Darmodjo & Jenny RE KaligisPujiantiningtyas, Rahmawati Sri. 2016. Pengembangan LKS Geografi Kelas X Menurut Hendro Darmodjo & Jenny RE Kaligis. Skripsi. Program Studi Pendidikan Geografi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Ardyanto Tanjung, S.Pd, M.Pd, (2) Ir. Juarti, M.P.Kata Kunci: Pengembangan, LKS Geografi Kelas X, AtmosferPerubahan kurikulummenuntut siswa lebih aktif, sehingga guru sebagai fasilitator harus mampu menyediakan bahan ajar yang berkualitas sebagai sumber belajar siswa. Salah satu bahan ajar yang dapat digunakan yaitu Lembar Kegiatan Siswa.Penggunaan LKS dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan siswa secaramandiri, namun faktanya kondisi LKS yang ada di sekolah memiliki permasalahan, seperti pada segi isi hanya terdapat materi dan soal tanpa disertai kegiatan untuk siswa, oleh karena untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan pengembangan LKS yang disesuaikan dengan kebutuhan kurikulum, materi, dan siswa.Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kondisi lembar kegiatan siswa. LKS yang dikembangkan mengikuti penyusunan LKS menurut Hendro Darmodjo dan Jenny RE Kaligis. Model pengembangan yang digunakan adalah Dick and Carey. Tahap pengembangan LKS dilakukan menjadi 3langkahyaitu: 1) Analisis Kebutuhan, 2) Pengembangan, dan 3) Evaluasi.Hasil penelitian ini yaitu: Pertama penilaian materi, memperoleh skor sebesar 99,29% dengan tingkat kelayakan sangat baik disertai saran dari validator: 1) memperjelas langkah kegiatan dan sertai contoh soal, 2) memperjelas konsep, 3) gambar sesuaikan materi.Kedua penilaian bahan ajar. Penilaian bahan ajar terdiri dari penilaian aspek didaktik, memperoleh skor 87,5 % dengan kriteria kelayakan yang sangat baik. Aspek kontruksi memiliki hasil terendah yaitu 75% dengan kriteria kelayakan yang baik.Aspek teknik memperoleh skor 83,33% dengan kriteria kelayakan yang sangat baik. Aspek kegrafikan mendapat perolehan skor 88,54 % yang memiliki kriteria kelayakan yang sangat baik.Saran dari validator sebagai berikut: 1) perbaiki penyusunan paragraf, 2) memperhatikan tingkat kesulitan soal, 3) gunakan resolusi foto yang lebih tinggi, 4) ubah judul dan tampilan pada sampul LKS.Ketiga hasil uji coba, diperoleh hasil penelitian bahwa LKS yang dikembangkan memperoleh kelayakan yang baik dari siswa sebesar 79,08% dan guru memberikan tanggapan yang sangat baik dengan memberikan skor 95% terhadap LKS yang dikembangkan. Hasil uji coba tersebut menunjukkan bahwa LKS layak untuk digunakan pada pembelajaran geografi.Pengembangan Media MS. Power Point untuk Pembelajaran Memahami dan Memproduksi Teks Ulasan Film/Drama bagi Siswa SMA Kelas XI.Pengembangan media adalah suatu kegiatan atau proses mengembangkan media. Media dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima pesan. Kompetensi memproduksi teks ulasan film/drama dalam penelitian ini lebih ditujukan pada kemampuan menulis teks ulasan film/drama. Studi pendahuluan dilakukan melalui kegiatan wawancara pada guru dan siswa. Wawancara yang dilakukan adalah wawancara tidak terstruktur.Tujuan khusu penelitain dan pengembangan ini, yaitu (1) menghasilkan produk awal yang berupa media pembelajaran memahami dan memproduksi teks ulasan film/drama untuk siswa SMA kelas XI, (2) mendeskripsikan hasil uji ahli dan uji lapangan penggunaan media pembelajaran memahami dan memproduksi teks ulasan film/drama untuk siswa SMA kelas XI, dan (3) mendeskripsikan revisi produk yang berupa media pembelajaran memahami dan memproduksi teks ulasan film/drama untuk siswa SMA kelas XI.Model peneletian dan pengembangan mengadaptasi dari peneltian dan pengembangan Borg dan Gall. Desain penelitian dan pengembangan Borg dan Gall yaitu (1) penelitian dan pengumpulan informasi, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) persiapan uji lapangan, (5) revisi produk pertama, (6) uji lapangan pertama, (7) revisi produk operasional, (8) uji pelaksanaan lapangan, (9) revisi produk akhir, dan (10) diseminasi dan implementasi. Sedangkan desain penelitian dan pengembangan ini memodifikasi desain penelitian dan pengembangan Borg dan Gall tersebut. Desain penelitian dan pengembangan dalam penelitian ini yaitu (1) analisis karakter dan kebutuhan siswa, (2) menghasilkan produk awal, (3) uji ahli materi, ahli media, dan uji lapangan, serta (4) menghasilkan produk akhir. Hal ini dilakukan peneliti karena waktu penelitian yang terbatas.Berdasarkan hasil uji coba produk yang dilakukan pada ahli materi, ahli media, praktisi, dan siswa diperoleh skor yang berbeda-beda. Data numerik dan verbal dari hasil uji coba produk dijabarkan sebagai berikut. Ahli materi memberikan skor 87,5% untuk subaspek kedalaman materi, 91,66% untuk subaspek tinjauan materi, 91,66% untuk subaspek keakuratan materi, 83,33% untuk subaspek penggunaan bahasa, dan 91,66% untuk subaspek tampilan dan tata letak. Ahli materi juga memberikan komentar dan saran bahwa struktur isi dan ciri bahasa belum nampak pada contoh teks ulasan film/drama serta belum adanya penanda benar dan salah dalam hasil jawaban siswa. Ahli media memberikan nilai 83,33% untuk subaspek keinteraktifan, 100% untuk sistematika, 75% untuk subaspek bahan penarik minat siswa, dan 91,66% untuk subaspek penyajian. Praktisi memberi nilai 87,5% untuk subaspek kedalaman materi, 91,66% untuk subaspek keakuratan materi, 87,5% untuk subaspek soal evaluasi, 100% untuk subaspek tinjauan kurikulum, 100% untuk subaspek tinjauan pembelajaran, 87,5% untuk subaspek keinteraktifan, dan 83,33% untuk subaspek penggunaan bahasa. Subjek uji coba memberikan nilai 85% untuk subaspek materi, 77,5% untuk contoh yang disajikan, 92,5% untuk kesesuaian latihan soal dengan bahasan, 85% untuk kemudahan latihan soal yang disajikan, dan 90,63% untuk subaspek bahan penarik minat siswa.Hasil pengembangan media pembelajaran dari aspek isi menghasilkan kedalaman materi, keakuratan materi, contoh, dan latihan yang sesuai dengan materi. Materi yang disajikan meliputi: definisi teks ulasan film/drama, struktur isi film/drama, ciri bahasa film/drama, dan tujuan atau fungsi sosial teks ulasan film/drama. Media pembelajaran dirancang dengan sistematika yang terstruktur. Media pembelajaran juga dirancang dengan bahasa yang formal dan komunikatif sesuai dengan bahasa pembelajaran. Media pembelajaran menghasilkan tampilan judul media dan desain isi media dengan komposisi warna dan pemberian musik pendukung yang menarik minat siswa. Penyebarluasan produk media pembelajaran memahami dan memproduksi dapat melalui (1) jurnal penelitian dan (2) forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

    Pembelajaran Menyusun Teks Ulasan pada Siswa kelas VIII B SMP Negeri 15 Malang Tahun Ajaran 2015-2016

    No full text
    ABSTRACT   Safitri, Dewi. 2016. Pembelajaran Menyusun Teks Ulasan pada Siswa Kelas VIII B SMP Negeri 15 Malang Tahun Ajaran 2015-2016. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M. pd. (II) Dra. Hj. Ida Lestari, M. Si. Kata kunci: pembelajaran menulis, menulis teks ulasan Pembelajaran merupakan proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, kemampuan menulis siswa dapat dilatih dengan berbagai materi pelajaran yang berhubungan dengan menulis seperti membuat cerita, menyusun berbagai macam teks, membuat rangkuman, dan sebagainya. Pada pembelajaran menulis, siswa  harus menghasilkan produk sebuah tulisan. Salah satu pembelajaran menulis di kelas adalah menulis teks ulasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran menyusun teks ulasan pada siswa kelas VIII B SMP Negeri 15 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa data kualitatif dari observasi, wawancara, telaah RPP, dan pendokumentasian. Telaah RPP meliputi (1) data perencanaan pembelajaran menyusun teks ulasan, (2) data pelaksanaan pembelajaran menyusun teks ulasan, dan (3) data penilaian pembelajaran menyusun teks ulasan. Instrumen pendukungnya berupa pedoman telaah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), pedoman analisis pelaksanaan pembelajaran, pedoman observasi pembelajaran, dan pedoman wawancara. Teknik pengumpulan data melalui telaah RPP, observasi, wawancara, dan pendokumentasian. Hasil penelitian memuat perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran menyusun teks ulasan. Perencanaan  disusun sendiri oleh guru. Dalam merencanakan sebuah pembelajaran guru memilih kegiatan belajar kelompok. Guru menyesuaikan siswa dan keadaan siswa. Di kelas VIII B tersebut siswanya kurang gemar membaca, sehingga guru menyediakan banyak bahan bacaan. Media yang digunakan guru sangat bervariasi, yakni sebuah teks cerpen, powerpoint, LCD, dan lembar kertas. Guru menggunakan metode inkuiri (ceramah, diskusi, dan penugasan). Penilaian pembelajaran yang dirumuskan secara keseluruhan mencakup penilaian sikap (spiritual dan sosial), penilaian keterampilan, dan penilaian pengetahuan. Pelaksanaan pembelajaran terdiri atas kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pembelajaran dalam kegiatan awal yaitu, mengingat materi sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan ingatan siswa agar tidak kesulitan dalam menerima pelajaran menyusun teks ulasan. Guru memberikan motivasi di kelas agar siswa mendapatkan dorongan dari luar. Kegiatan inti yaitu, guru melakukan pembagian kelompok dan diskusi. Kegiatan penutup yaitu, mereviu dan membacakan hasil diskusi. Guru memberi tugas siswa untuk mencari dan membawa cerpen pada pertemuan selanjutnya. Penilaian pembelajaran meliputi penilaian sikap, penilaian pengetahuan, dan penilaian keterampilan. Selama pembelajaran berlangsung guru menggunakan penilaian keterampilan. Penilaian sikap dan pengetahuan belum muncul. Penilaian tidak dilaksanakan dengan siswa. Guru menilai sendiri karya siswa dengan memberitahukan kesalahan pekerjaan siswa pada pertemuan selanjutnya

    nilai moralitas jawa dalam serat ajisaka

    No full text
    nilai moralitas jawa dalam serat ajisakaSari, Sheyla Atika. 2016. Nilai Moralitas Jawa dalam Serat Ajisaka. Skripsi, Program Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Sunoto, M.Pd. (II) Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd.Kata kunci: nilai moral kepribadian, kemasyarakatan, dan ketuhanan.Sebuah karya sastra selalu mengandung unsur-unsur positif yang bertujuan untuk disampaikan kepada pembaca, salah satunya yaitu nilai moral.  Penelitian ini dilakukan dengan mengkajiSeratAjisaka. Judul yang diambil yaitu Nilai Moralitas Jawa dalam Serat Ajisaka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) nilai moral kepribadian, (2) nilai moral kemasyarakatan, dan (3) nilai moral ketuhanan dalam serat Ajisaka. Penelitian ini bermanfaat untuk menambah khasanah pengkajian karya sastra Jawa dan sebagai pedoman kehidupan untuk bertingkah laku yang baikkarenamengandungnilai-nilai yang luhur.Metode penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian kualitatif berupa study dokumen yang menitikberatkan pada analisis bahan tulisan berdasarkan subjeknya. Penelitianinimenggunakanpendekatan moral-filosofi. Pendekatan moral-filosofiberkaitan erat dengan pemikiran filasafat. Sumber data berupa naskah Ajisaka, sedangkan data yang digunakan berupa gancaran (cerita), narasi, dialog antartokoh, dan narasi penulis. Instrumen penelitian iniadalah peneliti sebagai pengumpul data utama. Prosedur pengumpulan data menggunakan teknik catat, baca, sedangkan analisis data menggunakan analisis konten yang meliputi empat tahap yaitu (1) tahap induksi komparasi, (2) tahap kategorisasi, (3) tahap tabulasi, (4) tahap pembuatan inferensi. Pengecekan keabsahan data menggunakan perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi.Hasil penelitian mengenai nilai moral dalam serat Ajisaka diuraikan sebagai berikut. Pertama, dalam serat Ajisaka ditemukan nilai moral kepribadian dan nilai yang bertolak pada moral kepribadian. Nilai kepribadian yang ditemukan ada enam yaitu, sikap rendah hati, kerja keras, tekad bulat, adil dan dermawan, patuh, dan belas kasih, sedangkan nilai yang bertolak pada moral kepribadian yaitu sikap lalim, emosi, gegabah, tidak konsisten, dan ingkar janji. Kedua, temuan mengenai nilai moral yang berhubungan dengan masyarakat yaitu sikap sikap peduli sosial, saling menghormati, rela berkorban, membela kebenaran, dan rukun. Ketiga, temuan mengenai nilai moral ketuhanan yaitu meyakini bahwa Gusti akan selalu melindungi antar sesama.Saran penelitian ini, (1) dari hasil penelitian mengenai Nilai Moralitas Jawa dalam Serat Ajisaka, disarankan kepada peneliti selanjutnya umtuk melakukan penelitian yang sejenis dengan variabel yang berbeda, misalnya dilihat dari aspek nilai moral tokoh utama dan nilai sosial, (2) selanjutnya, disarankan pula bagi penggiat sastra untuk menjadikan hasil penelitian ini sebagai sumber ide atau inspirasi dalam menelaah naskah-naskah kuna yang jarang diminati oleh generasi muda

    Karakteristik Geguritan Siswa Kelas VII SMPN 21 Malang

    No full text
    ABSTRACT Karakteristik Geguritan Siswa Kelas VII SMPN 21 MalangAlhaq, Asrovin Nissa. 2016. Karakteristik Geguritan Siswa Kelas VII SMPN 21 Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sunoto, M.Pd (II) Dr. Sunaryo HS S.H, M.Hum.Kata Kunci:karakteristik, geguritanPembelajaran menulis geguritan merupakan salah satu cara pembelajaran yang dapat bermanfaat untuk melestarikan kebudayaan Jawa dalam bidang sastra dan untuk mengasah keterampilan menulis siswa. Faktanya siswa sulit dalam membuat geguritan. Hal ini dikarenakan faktor kurangnya perbendaharaan bahasa Jawa dan teori-teori mengenai geguritan. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai karakteristik karya geguritan siswa.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik geguritan siswa dilihat dari aspek pemilihan diksi, majas, perulangan bunyi, dan tema. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa deskripsi karakteristik karya geguritan pada siswa SMPN 21 Malang kelas VII dilihat dari aspek pemilihan diksi, penggunaan majas, perulangan bunyi, dan pemilihan tema dalam bentuk tugas siswa. Pengumpulan data pengamatan partisipasi, analisis dokumen, dan angket. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini tugas menulis geguritan siswa SMP kelas VII untuk mengetahui karakteristik geguritan siswa. Kegiatan analisis data diolah terlebih dahulu dengan triangulasi, reduksi,  penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil analisis data geguritan, diperoleh empat kesimpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama dalam aspek pemilihan diksi, siswa lebih cenderung memilih diksi denotatif pada karya geguritannya. Masalah lainnya yaitu mengenai perbendaharaan kata pada geguritan siswa SMPN 21 Malang yaitu diksi yang dipilih banyak yang diulang. Hal ini mengurangi tingkat kreativitas dalam karya geguritan siswa SMPN 21 Malang.Kedua, dalam karya geguritannya siswa menggunakan  majas. Jenis majas yang digunakan ada 3 yaitu majas personifikasi, majas metafora, dan hiperbola. Hal ini menjelaskan penggunaan majas geguritan siswa masih terbatas. Siswa-siswa tersebut hanya mengetahui 3 jenis majas untuk digunakan dalam geguritannya. Ketiga, permasalahan  dalam perulangan bunyi yaitu banyak siswa kurang mempedulikan penataan rima, perulangan bunyi, dan penggunaan sajak dalam karya geguritannya. Siswa tersebut hanya menuliskan kata yang muncul dibenaknya dan menuangkannya dalam bentuk geguritan. Hal ini membuat karya geguritannya tidak indah. Keempat, siswa mampu mengembangkan tema tetapi setiap bait yang dikembangkan tidak ada keruntutan cerita. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan siswa mengenai pengembangan tema dalam geguritan dan kurangnya siswa berlatih dalam membuat geguritan

    Representasi Keterlibatan Pancaindra dalam Penulisan Puisi Siswa Kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Kepanjen.

    No full text
    Rohmah, Yuyun Miftachur. 2016. Representasi Keterlibatan Pancaindra dalam Penulisan Puisi Siswa Kelas XI Bahasa SMA Negeri 1 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd,. (II) Musthofa Kamal, S.Pd., M.Sn.Kata Kunci: menulis, kemampuan menulis puisi, pancaindra, keterlibatan pancaindra, puisi karya siswa. Menulis merupakan salah satu keterampilan yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Dengan menulis seseorang dapat mengungkapkan ide gagasan dan perasaannya berupa tulisan. Menulis merupakan alternatif lain selain penyampaian pesan secara lisan. Kemampuan menulis harus dimiliki oleh siswa. Tidak kecuali kemampuan menulis puisi. Kemampuan menulis puisi adalah kemampuan menulis kreatif yang dimiliki seseorang dalam menyampaikan ide gagasan maupun perasaan melalui tulisan. Dalam menulis puisi, seseorang pasti akan memilih kata-kata yang cocok dan sesuai untuk mengungkapan perasaannya. Pemilihan kata, citraan, dan majas akan melekat dan tampak digunakan dalam sebuah karya puisi siswa. Penulisan puisi juga tidak terlepas dari penggunaan fungsi pancaindra. Pancaindra merupakan alat yang ada pada tubuh untuk mendeskripsikan keadaan luar. Penelitan ini dilaksanakan dengan tujuan untuk  mengetahui keterlibatan pancaindra pada penggunaan kata, citraan, dan majas dalam penulisan puisi karya siswa kelas XI Bahasa SMAN 1 Kepanjen.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Data penelitian  ini berupa paparan data yang merepresentasikan keterlibatan pancaindra pada kata, citraan, dan majas dalam penulisan puisi siswa. Data diperoleh dari sumber data berupa sumber tertulis yaitu puisi karangan siswa kelas XI Bahasa SMAN 1 Kepanjen. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan observasi yang berupa penintauan lokasi serta keadaan siswa, dan dokumentasi, yang berupa pengumpulan hasil menulis puisi siswa. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dan tes menulis puisi. Kegiatan analisis data dimulai dari reduksi data, sajian data, dan simpulan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan ketekunan pengamatan dan pengecekan teman sejawat. Ketekunan pengamatan bertujuan untuk mendapatkan ciri-ciri atau unsur-unsur yang relevan dengan permasalahan atau topik yang dicari dengan teliti dan rinci. Pengecekan teman sejawat yang bertujuan untuk meyakinkan kembali dan memberikan pertimbangan terhadap hipotesis-hipotesis yang dimunculkan oleh peneliti.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, keterlibatan pancaindra pada penggunaan kata dalam teks puisi, meliputi kata denotasi, konotasi, dan simbol. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan: (1) keterlibatan indra penglihatan, pendengaran, perabaan, dan penciuman pada kata denotasi; (2)  keterlibatan indra penglihatan dan pendengaran pada kata konotasi; dan (3) keterlibatan indra penglihatan pada penggunaan simbol. Dari keterlibatan pancaindra tersebut, siswa cenderung menggunakan keterlibatan indra penglihatan pada penggunaan kata dalam puisi karyanya.Kedua, keterlibatan pancaindra pada penggunaan citraan dalam teks puisi ditemukan: keterlibatan indra penglihatan yaitu citra visual, indra pendengaran yaitu citra auditif, indra peraba yaitu citra termal, citra kinestetik, dan indra penciuman yaitu citra penciuman. Dari keterlibatan pancaindra tersebut, siswa cenderung menggunakan keterlibatan indra penglihatan pada penggunaan citraan dalam puisi karyanya.Ketiga, keterlibatan pancaindra pada penggunaan majas dalam teks puisi. berdasarkan hasil analisis, ditemukan: (1) keterlibatan indra penglihatan, pendengaran, dan perabaan pada penggunaan majas simile dan majas personifikasi; (2) keterlibatan indra penglihatan pada penggunaan majas metafora, metonimia, dan sinekdoki (pars pro toto). Dari keterlibatan pancaindra tersebut, siswa cenderung menggunakan keterlibatan indra penglihatan pada penggunaan majas dalam puisi karyanya.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan kepada guru bahasa Indonesia untuk melatih siswa dalam penguasaan kosa kata, terutama kata-kata yang melibatkan pancaindranya. Guru juga disarankan untuk tetap memberi materi mengenai puisi melalui strategi-strategi pengajaran yang menarik untuk siswa.

    Wujud Implementasi RPP Bahasa Indonesia dalam Kegiatan Pembelajaran Oleh Guru SMP di Kabupaten Lumajang.

    No full text
    ABSTRACT Ajeng, Angga Wahyu. 2015. Wujud Implementasi RPP Bahasa Indonesia dalam Kegiatan Pembelajaran Oleh Guru SMP di Kabupaten Lumajang. Skripsi,Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof. Dr. Syukur Ghazali, M.Pd., (II) Dr. Widodo H.S,M.Pd. Kata Kunci: RPP, implementasi RPP, pembelajaran bahasa IndonesiaSeluruh guru dituntut untuk menyusun silabus dan Rencana PelaksanaanPembelajaran (RPP). Sebagai tenaga profesional, kemampuan guru dalammenyusun RPP seharusnya sudah tidak perlu diragukan tetapi kenyataan dilapangan berbeda. Selain memiliki keterampilan dalam menyusun RPP guru harusdapat mengimplementasikan RPP yang telah dibuat karena sebuah perencanaantidak akan berarti tanpa adanya tindakan nyata. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan wujud implementasi RPP dalam pembelajaran Bahasa dan SastraIndonesia di SMP Kabupaten Lumajang pada kegiatan pendahuluan pembelajaran,kegiatan inti pembelajaran, dan kegiatan penutup pembelajaran.  Pendekatan yang digunakan penelitian ini adalah pendekatan kualitatifdengan desain penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah guru matapelajaran Bahasa Indonesia di SMP Kabupaten Lumajang, yaitu RPP dan rekamanproses pembelajaran. Data penelitian ini adalah aspek-aspek kegiatan pembelajarandalam RPP berupa tindakan dan ucapan guru saat mengimplementasikan RPP.Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik studi dokumentasi danobservasi. Instrumen yang digunakan dalam proses pengumpulan data adalahpedoman analisis dokumen dan pedoman observasi. Analisis data dilakukan dengantahapan mengidentifikasi, mengelompokkan, menjabarkan, menyajikan, danmenarik kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh tiga simpulan. Pertama, padakegiatan pendahuluan pembelajaran ditemukan empat wujud implementasi dariguru, yaitu (1) guru meminta siswa berkonsentrasi pada pelajaran dan memastikansiswa bersedia melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran; (2) guru memberikancontoh dan perbandingan tentang pokok bahasan yang akan dipelajari dengankonteks kehidupan sehari-hari; (3) guru mengajukan pertanyaan kepada siswauntuk mengingat kembali hal yang telah diketahui/dikuasai tentang pokok bahasanyang dipelajari; (4) guru menjelaskan tujuan pelajaran. Kedua, wujud implementasiRPP kegiatan inti pembelajaran dibagi menjadi tiga ranah, yaitu implementasikegiatan inti kognitif atau pengetahuan, implementasi kegiatan inti afektif atausikap, dan implementasi kegiatan psikomotorik atau keterampilan. Terdapat tujuhwujud implementasi yang dilakukan pada inti pembelajaran ranah kognitif. Tujuhwujud implementasi tersebut adalah (1) guru memberitahukan kemampuan danpengetahuan yang akan diajarkan; (2) guru meminta siswa mecermati kemampuandan pengetahuan yang diberikan oleh guru kemudian menunjukkan persamaan danperbedaannya; (3) guru membantu merumuskan konsep dan kaidah pembelajaran;(4) guru menghubungkan konsep dan kaidah yang sudah dipahami dengan konsepdan kaidah baru; (5) guru menguraikan petunjuk tentang pemahaman yangdiajarkan; (6) guru mengikuti dengan seksama pemahaman yang didapat oleh siswa; (7) guru memberikan konfirmasi tentang ketepatan pemahaman yang didapatsiswa, baik secara lisan maupun tulis. Terdapat tiga wujud implementasi yangdilakukan pada inti pembelajaran aspek afektif, yaitu (1) guru mendemonstrasikantingkah laku yang tepat (bisa dilakukan oleh guru sendiri ataupun menggunakanmodel); (2) guru menonjolkan perbuatan-perbuatan tertentu dan efek dari tindakanyang dilakukan, dan (3) guru menjelaskan atau memberikan informasi tambahantentang alasan mempelajari tingkah laku tersebut. Terdapat tiga wujudimplementasi yang dilakukan pada inti pembelajaran aspek psikomotor, yaitu (1)guru menunjukkan subketerampilan, kaidah-kaidah, dan prosedur yang harusdiikuti tentang materi yang akan diajarkan; (2) guru memberikan petunjuk tentangcara melaksanakan dan waktu yang dibutuhkan untuk belajar; (3) guru mengamatipekerjaan siswa dan memperhatikan aturan waktu sesuai kaidah yang diajarkan.Ketiga, pada kegiatan penutup pembelajaran ditemukan tiga wujud implementasiyang dilakukan oleh guru, yaitu (1) guru bersama siswa meringkas atau membuatgaris besar materi yang baru dibahas atau dipelajari; (2) guru memberikan umpanbalik terhadap proses serta hasil pembelajaran yang telah dilakukan; (3) gurumenginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya. Berdasarkan hasil penelitian, saran yang perlu disampaikan kepada gurubahasa Indonesia adalah meningkatkan kreativitas dalam pengimplementasian RPPyang sudah ada dan menyempurnakan kegiatan-kegiatan penting dalam RPP yangsebelumnya terlewatkan atau belum dapat diimplementasikan. Kegiatan pentingyang dilewatkan oleh guru dalam implementasi pada bagian pendahuluanpembelajaran adalah guru tidak menyampaikan cakupan materi dan penjelasanuraian kegiatan yang akan dilaksanakan. Kegiatan penting yang dilewatkan olehguru dalam implementasi pada bagian inti pembelajaran aspek afektif, yaitu (1)guru bertanya kepada siswa tentang penggunaan sikap yang dipelajari; (2) gurumemberikan petunjuk cara dan saat yang tepat untuk melaksanakan sikap yangdipelajari; (3) guru mengobservasi tindakan yang dipelajari siswa secara berulangkali; (4) guru memberikan komentar tentang kewajaran sikap yang tercermin dalamtingkah laku siswa. Kegiatan penting yang dilewatkan oleh guru dalamimplementasi pada bagian inti pembelajaran aspek psikomotor, yaitu (1) gurumemberikan demonstrasi atau contoh keterampilan yang akan diajarkan; (2) gurumenjelaskan alasan penggunaan prosedur dan kaidah dari keterampilan yang akandiajarkan; (3) guru meminta siswa berlatih sesuai prosedur yang telah diajarkan; (4)guru memberikan komentar mengenai hasil kerja siswa dan ketepatan waktu dalampengerjaan. Kegiatan penting yang dilewatkan oleh guru dalam implementasi padabagian penutup pembelajaran, yaitu (1) guru bersama siswa mengambil manfaatdari hasil pembelajaran yang telah dilakukan; (2) guru memberikan tugas kepada siswa sebagai kegiatan tindak lanjut. 

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇