SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
unsur intrinsik cerpen karya siswa kelas XII IPA 1 MAN 1 Probolinggo
ABSTRACT unsur intrinsik cerpen karya siswa kelas XII IPA 1 MAN 1 ProbolinggoPermani, Hildayati. 2016. Unsur Intrinsik Cerpen Karya Siswa Kelas XII IPA 1 MAN 1 Probolinggo. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakutas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd., (II) Dr Roekhan, M. Pd.Kata kunci: Cerpen, Cerpen Siswa, Menulis Cerpen.Cerpen merupakan cerita pendek yang sebenarnya adalah sebuah dari berbagai elemen yang membentuknya (unsur intrinsik dan ekstrinsik). Unsur intrinsik adalah unsur yang terdapat di dalam sebuah karya sastra dan membentuk eksistensi cerita yang bersangkutan. Unsur intrinsik meliputi tema, alur, tokoh dan penokohan, sudut pandang, latar, amanat dan gaya bahasa. Menulis cerpen adalah proses menuangkan pikiran dan imajinasi dalam wujud cerita fiksi. Pada kenyataan di lapangan tidak mudah menulis sebuah cerpen, banyak yang mempengaruhi hasil menulis cerpen siswa.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan (1) karakteristik hasil menulis cerpen siswa dilihat dari aspek alur, (2) karakteristik hasil menulis cerpen dilihat dari aspek tokoh dan karakter, (3) karakteristik hasil menulis cerpen siswa dilihat dari aspek latar, dan (4) karakteristik hasil menulis cerpen siswa dilihat dari aspek tema. Penelitian ini menggunakan analisis penelitian deskriptif kualitatif, dengan pendekatan objektif (tekstual teks cerpen). Jenis data dalam penelitian ini adalah teks hasil menulis cerpen siswa kelas XII IPA 1 MAN 1 Proboliggo. Sumber data dalam penelitian ini adalah dokumen tertulis dalam bentuk hasil menulis cerpen siswa.Berdasarkan analisis data diperoleh empat simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, berdasarkan aspek alur, terdapat dua jenis alur dalam cerpen karya siswa kelas XII IPA 1 MAN 1 Probolinggo, yakni (1) alur maju, dan (2) alur mundur. Kedua, berdasarkan aspek tokoh dan karakter terdapat dua macam tokoh pada cerpen karya siswa yaitu (1) tokoh utama, dan (2) tokoh tambahan. Sedangkan pada karakter tokoh, penggambaran karakter tokoh dilihat dari segi psikologis, fisiologis dan sosiologis. Penggambaran dari segi psikologis lebih banyak ditemukan dari pada penggambaran dari segi fisiologis dan sosiologis. Ketiga, berdasarkan aspek latar, terdapat tiga aspek latar pada cerpen karya siswa kelas XII IPA 1 MAN 1 Probolinggo, (1) latar tempat, (2) latar suasana, dan (3) latar waktu. Keempat, berdasarkan aspek tema terdapat enam aspek tema, yaitu (1) seorang anak yang kesepian, (2) cinta, (3) keluarga, (4) persahabatan, (5) perjuangan menggapai cita-cita, dan (6) kecerobohan di sekolah. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pembelajaran menulis cerpen berdasarkan unsur intrinsik, khususnya aspek (alur, tokoh & karakter, latar, dan tema). Penelitian ini dapat digunakan sebagai motivasi bagi siswa untuk lebih giat belajar khususnya dalam pembelajaran menulis cerpen agar terdapat peningkatan dalam pembelajaran menulis cerpen pada siswa
Pengembangan Bahan Ajar Menulis Feature untuk Kegiatan Ekstrakurikuler Jurnalistik SMA
ABSTRACT Amaiyah, Binti Muroyyanatul. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Feature untuk Kegiatan Ekstrakurikuler Jurnalistik SMA. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., (II) Dr. Nurhadi, M.Pd.Kata kunci: bahan ajar menulis feature, menulis feature, ekstrakurikuler jurnalistik SMAKegiatan jurnalistik memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Kegiatan jurnalistik perlu diajarkan sejak dini. Kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik SMA mampu menjadi solusi untuk mencetak para jurnalis muda yang berkompeten. Produk jurnalistik memiliki beberapa ragam, salah satunya berita. Selain berita, feature sebagai karya jurnalistik menawarkan kekhasan yang unik. Feature yang berupa berita berkisah memberikan gaya penulisan berbeda yang lebih fleksibel dan memiliki keaktualan tinggi dengan narasi dan deskripsi yang tidak membosankan. Namun di lapangan, pemahaman siswa SMA tentang feature masih sangat kurang. Bahan ajar yang tersedia masih sangat terbatas bahkan belum ada. Penelitian dan pengembangan ini memiliki tujuan umum menghasilkan produk bahan ajar menulis feature untuk kegiatan jurnalistik SMA sehingga dapat membantu kesulitan siswa dan meningkatkan kemampuan jurnalistik siswa SMA. Adapun tujuan khusus penelitian dan pengembangan ini, yaitu (1) mengembangkan isi bahan ajar menulis feature untuk kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik SMA, (2) mengembangkan sistematika penyajian bahan ajar menulis feature untuk kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik SMA, (3) mengembangkan penggunaan bahasa bahan ajar menulis feature untuk kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik SMA, (4) mengembangkan tampilan bahan ajar menulis feature untuk kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik SMA, dan (5) mengkaji keefektifan bahan ajar menulis feature untuk kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik SMA.Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan karena bertujuan mengembangkan bahan ajar menulis feature. Prosedur penelitian dan pengembangan yang dipakai dalam penelitian ini adalah adaptasi dari model penelitian dan pengembangan Borg & Gall. Tujuh tahap hasil adaptasi yang digunakan, yaitu (1) penelitian dan pengumpulan data, (2) perencanaan produk, (3) pengembangan draf produk, (4) uji ahli dan uji praktisi, (5) revisi hasil uji ahli dan uji praktisi, (6) uji lapangan, dan (7) penyempurnaan produk. Uji ahli produk meliputi ahli bahan ajar dan ahli menulis feature. Uji praktisi dilakukan pada pembina ekstrakurikuler jurnalistik MAN 3 Kediri. Uji lapangan dilakukan dua kali untuk menguji keefektifan produk dan dilakukan pada siswa kelas X dan XI anggota ekstrakurikuler jurnalistik MAN 3 Kediri berjumlah 13 siswa. Jenis data yang diperoleh dari penelitian ini berupa data verbal dan data angka. Data verbal dibagi menjadi dua, yaitu data tertulis dan data lisan. Data tertulis berupa catatan, komentar, kritik, maupun saran-saran yang dituliskan oleh subjek coba pada lembar penilaian. Data lisan berupa komentar dari para ahli dan praktisi. Data lisan digunakan untuk mengetahui tanggapan dan memperoleh saran perbaikan produk. Data angka berupa angka-angka yang didapat dari penghitungan nilai angket yang diberikan kepada subjek uji coba.Berdasarkan uji coba produk, diperoleh data berikut. Persentase hasil uji ahli bahan ajar mencapai 86% (kualifikasi sangat layak dengan tindak lanjut implementasi). Persentase hasil uji ahli materi mencapai 75% (kualifikasi layak dengan tindak lanjut implementasi). Persentase hasil uji praktisi mencapai 94% (kualifikasi sangat layak dengan tindak lanjut implementasi). Berdasarkan hasil uji keefektifan produk menggunakan uji t dengan membandingkan nilai pretest dan posttest siswa, dapat diketahui nilai signifikansi 0,000. Nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari 0,05 yang merupakan level significance. Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka terdapat perbedaan dan berpengaruh. Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05, maka tidak terdapat perbedaan dan tidak berpengaruh. Berdasarkan data hasil uji coba produk tersebut dimaknai bahwa (1) bahan ajar Menulis Feature untuk Jurnalis SMA/Sederajat memiliki kualifikasi sangat layak dan dapat dilakukan tindak lanjut implementasi pada siswa, dan (2) bahan ajar tersebut efektif digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik SMA karena dapat meningkatkan kompetensi jurnalistik siswa. Saran yang diberikan pengembang untuk peneliti dan pengembang lain, yaitu (1) diajurkan untuk mengembangkan bahan ajar menulis feature dengan karakteristik yang berbeda, lebih unik, dan spesifik dalam bentuk bahan ajar, inspirasi bahan ajar, segmentasi pengguna bahan ajar, dan tingkat kerincian serta keragaman latihan, (2) memperhatikan kedalaman materi dan pemilihan contoh-contoh feature yang lebih beragam, (3) memperhatikan tata letak tulisan, dan (4) memperhatikan masa uji coba lapangan sehingga latihan dalam bahan ajar dapat dilaksanakan dengan tuntas
Relevansi Karakter Tokoh Utama dalam Kumpulan Cerpen Hidup Berawal dari Mimpi Karya Fahd Djibran dengan Nilai Karakter di SMA
ABSTRACT Lana, Firdausya. 2015. Relevansi Karakter Tokoh Utama dalam Kumpulan Cerpen Hidup Berawal dari Mimpi Karya Fahd Djibran dengan Nilai Karakter di SMA. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd. (II) Dr. Nita Widiati, M.Pd.Kata kunci: cerpen, karakter, tokoh utama, nilai pendidikan karakter.Unsur pembangun cerpen yang membuktikan bahwa cerpen merupakan gambaran kehidupan nyata adalah tokoh-tokohnya. Watak atau karakter tokohlah yang membuat tokoh dalam suatu cerita memiliki kedekatan dengan pembaca. Kajian telaah karakter tokoh melalui kecermatan memilih cerita dapat memberikan alternatif dalam pendidikan nilai karakter pada peserta didik. Tokoh utama dalam kumpulan cerpen Hidup Berawal dari Mimpi sengaja dibuat untuk memberikan motivasi pembacanya untuk menjadi manusia yang lebih baik pada tiap aspek kehidupannya. Mayoritas tokoh utama yang merupakan remaja dalam kumpulan cerpen karya Fahd Djibran ini dapat menarik pembaca kalangan remaja pula. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan relevansi karakter tokoh utama dalam kumpulan cerpen Hidup Berawal dari Mimpi karya Fahd Djibran dengan nilai pendidikan karakter di SMA. Sejalan dengan tujuannya, penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang mendeskripsikan. Data yang dianalisis kutipan berupa narasi dan dialog dari kumpulan cerpen yang menggambarkan karakter tokoh utama. Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri karena peneliti merupakan alat pengumpul data dengan pedoman analisis. Tahapan analisis dimulai dari tahap identifikasi data, pengodean, klasifikasi data, dan penarikan simpulan.Berdasarkan hasil analisis data dideskripsikan tujuh simpulan. Pertama, terdapat enam nilai pendidikan karakter di SMA yang sesuai dengan karakter tokoh utama dalam kumpulan cerpen Hidup Berawal dari Mimpi karya Fahd Djibran. Enam nilai karakter tersebut meliputi (1) penyelesai masalah, (2) responsif, (3) religius, (4) peduli sesama, (5) proaktif, dan (6) tanggung jawab. Nilai religius merupakan hasil rumusan SKL KI-1. Nilai penyelesai masalah, responsif, peduli sesama, proaktif dan tanggung jawab merupakan hasil rumusan SKL KI-2. Kedua, terdapat delapan tokoh utama dalam kumpulan cerpen yang memiliki nilai karakter penyelesai masalah, meliputi (1) Reza dalam Kau Puisi, (2) Bumi dalam Bumi ke Langit, (3) Acep dalam Cahya Cinta Sejati, (4) aku dalam Kita Selamanya, (5) Teguh dalam U’ll Sorry, (6) aku dalam Save Our Soul, (7) aku dalam Xpresikan, dan (8) Kautsar dalam Hidup Berawal dari Mimpi-Perspektif. Ketiga, terdapat tujuh tokoh utama dalam kumpulan cerpen yang memiliki nilai karakter responsif, meliputi (1) Reza dalam Kau Puisi, (2) penyair dalam Hidup Berawal dari Mimpi-Utopia, (3) aku dalam Kita Selamanya, (4) aku dalam Xpresikan, (5) Pak Hasan dalam Hidup Berawal dari Mimpi-Titik Balik, (6) Kyai Husain dalam Hidup Berawal dari Mimpi-Kedewasaan, dan (7) Fahd dalam Hidup Berawal dari Mimpi-Percaya. Keempat, terdapat lima tokoh utama dalam kumpulan cerpen yang memiliki nilai karakter religius, meliputi (1) penjual pisang dalam cerpen Sang Juara, (2) aku dalam Not With Me, (3) aku dalam Waktu, (4) aku dalam Save Our Soul, dan (5) aku dalam Hidup Berawal dari Mimpi-Proses. Kelima, terdapat tiga tokoh utama dalam kumpulan cerpen yang memiliki nilai karakter peduli sesama, meliputi (1) aku dalam Not With Me, (2) gadis kecil dalam Hidup Berawal dari Mimpi-Harapan, dan (3) penyair dalam Hidup Berawal dari Mimpi-Utopia. Keenam, terdapat satu tokoh utama dalam kumpulan cerpen yang memiliki nilai karakter proaktif yaitu penjual pisang dalam cerpen berjudul Sang Juara. Ketujuh, terdapat satu tokoh utama dalam kumpulan cerpen yang memiliki nilai karakter tanggung jawab yaitu tokoh Yusuf dalam cerpen berjudul Ya Sudahlah. Berdasarkan simpulan di atas, disarankan dua hal. Bagi guru, penelitian ini dapat menambah pengetahuan baru bagi guru dan dapat menjadi penunjang pengajaran sastra. Selain itu, hasil penelitian ini dapat pula dijadikan pertimbangan bagi pengajar sebagai materi pembelajaran membaca dan menulis cerpen, sehingga dapat membantu mengembangkan keterampilan peserta didik sekaligus memberikan pendidikan karakter sesuai dengan SKL nilai pendidikan karakter di SMA. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat dijadikan sebagai inspirasi dan referensi penelitian. Penelitian lanjutan maupun penelitian lain yang sejalan tentang cerpen, terutama perkembangan karakter tokoh utama dan nilai pendidikan karakte
Gagasan dalam Teks Nonsastra Karya Siswa SDN Purwantoro IV Malang
ABSTRACT Ramadhani, Putri Caesar. 2015. Gagasan dalam Teks Nonsastra Karya Siswa SDN Purwantoro IV Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Nurhadi, M.Pd (II) Prof. Dr. Suyono, M.Pd. Kata Kunci:produktivitas, gagasan, teks nonsastraMenulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan kegiatan menulis, siswa bisa menuangkan gagasan yang ia miliki dalam bentuk tulisan. Gagasan juga sebagai manifestasi pemahaman siswa terhadap konteks maupun informasi yang akan ditulis atau disampaikan. Penyajian gagasan berpengaruh terhadap tersampaikannya informasi serta pemahaman pembaca terhadap isi teks. Gagasan yang dimiliki siswa merupakan modal utama untuk melakukan kegiatan menulis. Beragam kesulitan dialami oleh siswa, khususnya jenjang sekolah dasar untuk memunculkan gagasan di awal penulisan, terlebih dalam penulisan teks nonsastra karena gagasan-gagasan pada teks nonsastra bersumber dari fakta-fakta yang ada dan real. Fokus penelitian ini adalah ragam gagasan dalam teks nonsastra yang ditulis oleh siswa SDN Purwantoro IV Malang. Gagasan-gagasan pada karangan tersebut dilihat dari berbagai aspek, yaitu produktivitas gagasan, kualitas gagasan, variasi gagasan, pola pengembangan gagasan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif kajian teks. Sumber data dalam penelitian ini adalah karangan Siswa SDN Purwantoro IV Malang, sedangkan data penelitian berupa kata-kata, kalimat, dan paragraf dalam karangan tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tugas pada siswa, yaitu berupa menulis teks nonsastra. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar kerja siswa dan tabel analisis data. Kegiatan analisis data diawali dengan reduksi data sesuai dengan ketentuan instrumen, kodifikasi karangan, klasifikasi data berdasarkan lembar kerja, analisis data berdasarkan rumusan masalah dan penyimpulan. Pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara triangulasi, yaitu (1) mencari referensi, (2) konsultasi dengan ahli atau pakar, dan (3) diskusi dengan teman sejawat. Simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini ada empat butir. Pertama, berdasarkan produktivitas gagasan, siswa paling produktif menghasilkan gagasan pada saat menulis teks nonsastra dengan topik bebas. Kedua,berdasarkan kualitas gagasan, ada tiga rincian, yaitu (1) kejelasan gagasan siswa dalam menulis teks nonsastra disampaikan dengan jelas dan dinyatakan dalam satu kalimat, (2) kerincian gagasan siswa dalam menulis teks nonsastra disampaikan dengan rinci dengan beberapa kalimat penjelas, (3) kepaduan gagasan siswa dalam menulis teks nonsastra disampaikan secara kohesif dan koheren. Ketiga, berdasarkan variasi gagasan, siswa cenderung tidak menggunakan variasi dalam menulis teks nonsastra. Akan tetapi, dari beberapa karangan siswa tetap ditemukan beberapa variasi gagasan, variasi gagasan yang dominan adalah variasi sinonim kata. Keempat, berdasarkan pola pengembangan gagasan, siswa lebih dominan mengembangkan paragrafnya menggunakan pola umum—khusus.
Hubungan Minat Baca dengan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Siswa Kelas VII A SMP Negeri 4 Malang
ABSTRACT Pangestuti, Dyah Ayu. 2015. Hubungan Minat Baca dengan Kemampuan Menulis Cerita Pendek Siswa Kelas VII A SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Titik Harsiati, M.Pd (II) Dewi Pusposari, S.Pd, M.PdKata Kunci : minat baca, kemampuan menulis cerita pendek, SMPMembaca memiliki banyak manfaat, salah satunya untuk memicu kreativitas. Membaca diajarkan sejak dini bukan hanya agar anak mampu membaca, melainkan juga melatih aktivitas mental mulai dari memahami sampai memproduksi sebuah tulisan sendiri. Saat seorang anak mulai tertarik dengan buku bacaan, orang pertama yang harus mendukung adalah orang tua. Begitu pula dengan menulis, pada umumnya setiap orang mampu menulis, tetapi untuk menghasilkan tulisan yang baik membutuhkan kemampuan, kemauan dan minat, maka dari itu perlu diajarkan di jenjang SMP.Membaca dan menulis memang mempunyai hubungan yang saling berkaitan. Membaca dapat memicu kreativitas, artinya bahwa kebiasaan membaca dapat memunculkan ide untuk suatu kreativitas, salah satunya adalah menulis. Banyaknya pengalaman membaca akan menambah wawasan sehingga mempunyai bekal yang lebih untuk menulis sebuah cerita pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan minat baca dan kemampuan menulis cerita pendek, serta mengetahui ada tidaknya hubungan minat baca dengan kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara minat baca dengan kemampuan menulis cerita pendek.Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 4 Malang, pada bulan Maret sampai April 2015. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian korelasional. Analisis hasil penelitian menggunakan analisis korelasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa kuesioner atau angket minat baca dan tes kemampuan menulis cerita pendek. Penelitian ini menggunakan sampel satu kelas, yaitu kelas VII A SMP Negeri 4 Malang yang terdiri dari 30 siswa.Hasil penelitian ini ada 3 yaitu sebagai berikut. Petama, minat baca siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Malang tergolong tinggi. Dari 30 siswa, 9 siswa (30%) minat bacanya sangat tinggi, 16 siswa (53%) minat bacanya tinggi, 5 siswa (17%) minat bacanya cukup tinggi, dan tidak ada siswa yang minat bacanya kurang tinggi. Kedua, kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Malang tergolong baik. Dari 30 siswa, 9 siswa (30%) sangat baik dalam menulis cerita pendek, 14 siswa (47%) baik dalam menulis cerita pendek, 7 siswa (23%) cukup baik dalam menulis cerita pendek, dan tidak ada siswa yang kurang baik dan sangat kurang dalam menulis cerita pendek. Ketiga, minat baca memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan kemampuan menulis cerita pendek siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Malang. hal tersebut dapat dilihat dari angka korelasi antara minat baca dengan kemampuan menulis cerita pendek sebesar 0,691, yang artinya adanya korelasi antara (X) minat baca dan (Y) kemampuan menulis cerita pendek. Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat baca siswa kelas VII A SMP Negeri 4 Malang tergolong tinggi, kemampuan menulis cerita pendek baik, dan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara minat baca dan kemampuan menulis cerita pendek. Saran yang diberikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, bagi sekolah diharapkan mampu memfasilitasi sumber belajar dan perpustakaan yang memadai untuk mendukung proses pembelajaran dan menumbuhkan kebiasaan membaca di lingkungan sekolah. Kedua, bagi guru dapat mengelola dan mengarahkan dalam kegiatan belajar mengajar dan juga diharapkan mampu membangkitkan minat baca siswa dengan membuat sudut baca di kelas. Ketiga, bagi siswa diharapkan meningkatkan semangat untuk belajar menulis dan kegiatan membaca. Keempat, bagi peneliti selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk dikembangkan lebih lanjut dan dapat dijadikan referensi untuk penelitian berikutnya
Efektivitas Penerapan Teknik Definisi dalam Pembelajaran Menulis Puisi pada Siswa SD
ABSTRACT Kartikasari, Nyda Berliana. 2016. Efektivitas Penerapan Teknik Definisi dalamPembelajaran Menulis Puisi pada Siswa SD. Skripsi, Jurusan SastraIndonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd, (II) Dra. Hj. Ida Lestari, M.Si.Kata Kunci: menulis puisi, teknik definisi, siswa sekolah dasarMenulis puisi merupakan salah satu cara untuk mengemukakan gagasan, pendapat, bahkan kritikan, dan dapat digunakan untuk melatih kemampuan berbahasa seseorang. Menulis puisi merupakan salah satu kompetensi dasar yang terdapat pada mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar khususnya sekolah yang masih menggunakan Kurikulum KTSP. Pada kenyataannya, pembelajaran menulis puisi di sekolah kurang diminati oleh siswa. Siswa merasa bahwa menulis puisi itu sulit dilakukan. Hal tersebut dapat terjadi karena tidak adanya latihan secara berkala untuk menulis puisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan teknik definisi dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa SD dalam aspek tema, diksi, citraan, rima, majas, dan panjang puisi.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan eksperimen semu dan desain eksperimen control group pretest and posttest. Penelitian ini menguji hipotesis alternatif yang berbunyi teknik definisi efektif diterapkan dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa SD, dalam aspek (1) tema, (2) diksi, (3) citraan, (4) rima, (5) majas, dan (6) panjang puisi.Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 01 Ngaglik Batu yang terdiri atas tiga kelas dengan jumlah 78 siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara acak sampel (random sampling), yaitu memilih dua kelas dari tiga kelas yang ada. Instrumen yang digunakan adalah tes. Data penelitian berupa skor hasil belajar yang menggambarkan kemampuan siswa dalam menulis puisi dari kegiatan pretes dan posttes. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes menulis puisi bebas. Analisis data dilakukan dengan uji hipotesis yang sebelumnya diuji normalitas dan homogenitasnya terlebih dahulu.Berdasarkan hasil uji hipotesis diketahui bahwa nilai Sig. (2-tailed) 0,793 (Sig. > 0,05). Perolehan tersebut berarti bahwa Ha yang diuji ditolak. Karena Ha ditolak, maka teknik definisi tidak efektif diterapkan dalam pembelajaran menulis puisi pada siswa SD. Pada aspek tema, diksi, citraan, rima dan majas tidak terdapat perbedaan yang signifikan, namun terdapat perbedaan yang signifikan pada aspek panjang puisi. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut. Bagi guru, apabila ingin menerapkan teknik definisi dalam pembelajaran menulis puisi dengan menggunakan langkah-langkah yang sudah ada, sebaiknya mengganti rangsang gambar menjadi rangsang benda yang nyata atau benda kesayangan milik siswa. Bagi peneliti lain, apabila ingin melakukan penelitian yang serupa terlebih dahulu bisa memodifikasi langkah-langkah menulis puisi menggunkan teknik definisi sedemikian rupa sehingga lebih mudah dipahami oleh siswa atau mengganti populasi dengan jenjang sekolah yang lebih tinggi dan mengganti rangsang gambar menjadi rangsang benda yang nyata
PENGGUNAAN KATA RAGAM BAKU LISAN MAHASISWA JURUSAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS NEGERI MALANG ANGKATAN 2013
ABSTRACT PENGGUNAAN KATA RAGAM BAKU LISANMAHASISWA JURUSAN SASTRA INDONESIAUNIVERSITAS NEGERI MALANGANGKATAN 2013Fransiska Yuni A.1, Abd. Syukur Ibrahim2, Martutik3Universitas Negeri MalangJalan Semarang Nomor 5 MalangE-mail: [email protected] deskriptif kualitatif ini memiliki tujuan untukmendeskripsikan penggunaan kata bahasa Indonesia ragam baku lisanmahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang angkatan 2013dalam lingkup komunikasi formal dengan tiga subtujuan, yaitu mendeskripsikan(1) penggunaan kata, (2) bentukan kata, dan (3) konsistensi pilihan kata.Proposisi ilmiah dari penelitian ini yaitu mahasiswa Jurusan Sastra IndonesiaUniversitas Negeri Malang angkatan 2013 sudah menggunakan kata bahasaIndonesia ragam baku lisan dengan baik dan beberapa kesalahan penggunaankata tidak mengurangi kadar kekomunikatifannya.Kata Kunci: penggunaan kata, ragam baku lisan, tuturan mahasiswaABSTRACT: This study descriptive qualitative approach has the purposes todescribes the use of Indonesian spoken formal language of students’ inIndonesian Literature year 2013 in State University of Malang in formal situationwith three sub-goals follows, described (1) words usage, (2) words formation, (3)words consistency. It can make the scientific propositions that IndonesianLiterature students year 2013 in State University of Malang had already usingIndonesian spoken formal language well and some of the mistakes in the wordsusage did not decrease the communicative level. Keywords: words usage, spoken formal language, students’ utterance
Prinsip- Prinsip Kerja Sama dalam Tuturan Film Cinta Tapi Beda Karya Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra
ABSTRAK Prameswari, Gendhis Ajeng. 2016. Prinsip-Prinsip Kerja Sama dalam Tuturan Film Cinta tapi Beda karya Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim, (II) Dr. Widodo Hs, M.Pd Kata Kunci: prinsip kuantitas, prinsip kualitas, prinsip relevansi, dan prinsip pelaksanaan. Fokus penelitian ini adalah prinsip kerja sama dalam tuturan film Cinta tapi Beda karya Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Analisis terhadap prinsip kerja sama dalam tuturan film Cinta tapi Beda bertujuan untuk mendeskripsikan keempat prinsip kerja sama Grice, yaitu prinsip kuantitas, prinsip kualitas, prinsip relevansi, dan prinsip pelaksanaan. Penelitian mengenai prinsip kerja sama dalam film ini penting dilakukan sebagai salah satu cara memberikan gambaran dalam mempraktikkan tuturan yang baik dengan mematuhi prinsip-prinsip kerja sama Grice. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian yang berupa stimulus dan respons berbentuk tuturan antartokoh yang disertai dengan durasi waktu, konteks, lakuan, dan mengandung prinsip-prinsip kerja sama Grice merupakan hasil transkrip dari dokumentasi audio-visual Cinta tapi Beda karya Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik pengamatan. Instrumen utama yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah peneliti sendiri, yang bertindak sebagai pengamat. Instrumen pendukung yang digunakan adalah panduan pengumpulan data dan analisis data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap identifikasi data, klasifikasi data, kodifikasi data, dan konklusi atau pemberian kesimpulan. Hasil penelitian ini terdapat 29 tuturan yang mengandung prinsip kerja sama, tuturan tersebut terbagi menjadi empat prinsip kerja sama. Pertama, prinsip kuantitas dalam film Cinta tapi Beda terdapat sebanyak 26 tuturan stimulus dan respons yang banyak dituturkan oleh tokoh Diana. Kedua, prinsip kualitas dalam film Cinta tapi Beda terdapat sebanyak 20 tuturan stimulus dan respons yang banyak dituturkan tokoh Cahyo. Ketiga, prinsip relevansi dalam film Cinta tapi Beda terdapat sebanyak 28 tuturan stimulus dan respons yang banyak dituturkan tokoh Cahyo. Keempat, prinsip pelaksanaan dalam film Cinta tapi Beda terdapat sebanyak 25 tuturan stimulus dan respons yang banyak dituturkan tokoh Cahyo. Berdasarkan paparan di atas, dapat ditarik sebuah proposisi ilmiah bahwa penelitian Prinsip-Prinsip Kerja Sama dalam Film Cinta tapi Beda karya Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra memiliki ciri yang spesifik. Ciri spesifik tersebut dapat dilihat dari indikator tiap bentuk prinsip yang berbeda. Dari keempat prinsip tersebut tuturan tokoh Cahyo dan tokoh Diana lebih dominan mematuhi prinsip kerja sama. Hal ini dikarenakan peran kedua tokoh tersebut merupakan peran utama, sehingga lebih banyak muncul dalam alur film tersebut.
Naskah drama Cipoa karya Putu Wijaya dalam perspektif pementasan
ABSTRACT Listyaningrum, Ajeng Herlin. 2015. Naskah drama Cipoa karya Putu Wijaya dalam perspektif pementasan. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto,M.Pd. (II) Dr.Widodo Hs, M.Pd.Kata Kunci: drama, naskah drama, pementasan, analisis, perspektifDrama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang unik. Drama mampu menggambarkan realitas kehidupan yang ada, kemudian mengangkatnya dalam bentuk pementasan. Sebuah pementasan drama tidak lepas dari kehadiran naskah drama. Naskah drama merupakan pegangan untuk melaksanakan sebuah pementasan. Dalam mementaskan sebuah naskah drama, tentu terjadi perubahan di dalamnya. Sebuah naskah yang dipentaskan sekilas akan terlihat sama, namun dibalik hal tersebut terdapat perbedaan-perbedaan yang terjadi. Perbedaan naskah ketika dipentaskan tersebut yang menarik perhatian peneliti, sehingga penelitian berjudul Naskah Drama Cipoa karya Putu Wijaya dalam Perspektif Pementasan, dilaksanakan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui alur dalam naskah drama Cipoa dan pementasan, (2) mengetahui penokohan dalam naskah drama Cipoa dan pementasan, (3) mengetahui tema dalam naskah drama Cipoa dan pementasan, (4) mengetahui latar naskah dalam drama Cipoa dan pementasan, dan (5) mengetahui dialog dalam drama Cipoa dan pementasan.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendektan struktural semiotik. Sumber data yang digunakan yaitu berupa salinan naskah drama Cipoa dan video pementasan Cipoa kelas minor drama angkatan 2011. Sedangkan, data yang diambil berupa kata, frase, kalimat, dan dialog yang mendukung tujuan penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dan teknik observasi. Kegiatan menganalisis data dimulai dari tahap mendeskripsikan data, mengelompokkan data, dan menganalisis tanda yang sudah dikelompokkan dan selajutnya menyusun hasil analisis menggunakan teori-teori yang ada.Hasil penelitian ini berupa paparan struktur naskah drama Cipoa dan perspektif pementasan. Paparan struktur naskah drama tersebut meliputi: (1) alur, (2) penokohan, (3) tema, (4) latar, dan (5) dialog. Alur dalam naskah dan pementasan memiliki kesamaan, yaitu menggunakan alur maju. Unsur penokohan dalam naskah dan pementasan mengalami perbedaan berupa pengurangan tokoh dan adanya parodi tokoh. Unsur tema dalam naskah dan pementasan memiliki kesamaan yaitu menggunakan tema kejujuran. Unsur latar dalam naskah dan pementasan memiliki kesamaan. Latar tersebut meliputi latar tempat yaitu lokasi pertambangan emas, latar waktu yang yaitu pagi hari menjelang subuh, dan juga sore hari menjelang malam. Unsur terakhir dalam analisis naskah drama Cipoa karya Putu Wijaya yaitu dialog. Dalam pementasan Cipoa, unsur dialog mengalami perbedaan berupa perubahan, pengurangan, dan penambahan dialog.Kesimpulan penelitan ini yakni terdapat perbedaan pada naskah yang dipentaskan. Sebuah naskah yang dipentaskan akan mengalami perbedaan, walaupun sekilas terlihat sama akan tetapi perbedaan tersebut akan terlihat ketika ditelisik lebih mendalam lagi. Perbedaan tersebut dapat berupa perubahan, pengurangan, penambahan dialog maupun adegan, atau adanya parodi tokoh. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pengetahuan tentang drama yang berupa unsur pembangun sebuah naskah drama serta dapat memberi pengetahuan mengenai perspektif pementasan dari sebuah naskah drama. Penelitian ini juga dapat dijadikan inspirasi awal bagi peneliti lain untuk menemukan ide penelitian baru yang berkaitan dengan naskah drama dan perspektif pementasan. ABSTRACT Listyaningrum, Ajeng Herlin. 2015. A Manuscript drama Cipoa by Putu Wijaya in the perspective staging. Minithesis, Department of Indonesian Letters, Faculty of Letters, State University of Malang. Supervisors: (I) Prof. Dr. Wahyudi Siswanto,M.Pd. (II) Dr. Widodo Hs, M.Pd.Keywords : drama, manuscript, staging, analysis, perspectiveDrama is one kind of the literary work that has uniqueness in it . Drama will be able to describe the reality life and picked it up become a show that can be enjoyed by anyone. A staging plays can’t be separated from the presence of a manuscript drama. Manuscript drama having task to handle a drama performance. While performing a manuscript drama, of evidence for changes in it .A script is staged a glance will look same, but behind it there are differences that occurs .The difference a manuscript when the staged that attracts attention researchers , so that research A Manuscript Drama Cipoa by Putu Wijaya in the perspective staging, carried out. The purpose of this research is (1) determine plot in a manuscript drama and perspective staging, (2) determine the characterizations in a manuscript drama and perspective staging, (3) determine the themes in a manuscript drama and perspective staging, (4) determine the setting in a manuscript drama and perspective staging, and (5) determine dialogue in a manuscript drama and perspective staging.This research using a descriptive qualitative research with structural semiotic approach. Sources of data include (1) a copy of the manuscript drama Cipoa, (2) Cipoa video performance and transcription. Data of this research taken from a word, the phrase, sentence, and dialogue that supports the purpose of this research. Data collection with documentation and observation techniques. The analysis of data began with describe, classifying, analyze a sign that had been grouped, and then arrange the result analysis using existing theories.The results of this research about structure Cipoa manuscript and staging perspective include (1) plot, (2) characterization, (3) theme, (4) setting, and (5) dialogue. Plot in the script and staging have in common, their use a forward plot. Element characterization in the script and staging experience has difference, this is a reduction in figures and their figures parody. Theme elements in the script and staging have in common by using honesty theme. Setting element in the script and staging have in common. The setting place is a gold mine, setting time of that is morning, and also the afternoon. Last element in this research is dialogue. Dialogue elements have a such as difference, reduction, and increase dialogue. The researchs showing if manuscript drama and their performance have a difference. Although it is look like the same, but the difference will be seen when we do examined more deeply. Such as the differences may be changes like reductions, additions, dialogue and scene, or the characters parody. The results of this research could be used as one source of knowledge about the drama also their manuscript and the perspective on staging. This research can be used as the inspiration of other researchers to find new research ideas relating to manuscript drama and their perspective staging
. Tuturan Mahasiswa Program Dharmasisw adalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Balai Bahasa dan Budaya, Universitas Negeri Malang Tahun 2015
ABSTRACT Kusuma, EmyRizta. 2016. Tuturan Mahasiswa Program Dharmasisw adalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Balai Bahasa dan Budaya, Universitas Negeri Malang Tahun 2015. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Imam Suyitno, M. Pd. (II) Dr. GatutSusanto, M.M, M. Pd.Kata kunci :tuturan, tindaktutur, pembelajaran bahasa, program DharmasiswaTuturan merupakan salah satu tindak berbahasa yang digunakan manusia ketika berinteraksi. Salah satu interaksi yang menggunakan tuturan sebagai media untuk berinteraksi adalah kegiatan pembelajar. Tuturan dalam kegiatan pembelajaran merupakan ujaran yang terjadi antara mahasiswa dan mahasiswa lainnya, maupun mahasiswa dengan pengajar. Penelitian ini memilih tuturan mahasiswa program Dharmasiswa karena beberapa alasan. Pertama, mahasiswa program Dharmasiswa yang belaja rbahasa Indonesia memiliki cirri khas tersendiri ketika menggunakan bahasa Indonesia. Kedua, mahasiswa program Dharmasiswa berasal dari negara yang berbeda sehingga mereka harus menggunakan satu bahasa ketika berinteraksi di kelas.Tujuan mendeskripsikan tuturan yang digunakan mahasiswa program Dharmasiswa dalam pembelajaran bahasa di Balai Bahasa dan Budaya Universitas Negeri Malang adalah untuk mendeskripsikan (1) bentuk tuturan, dan (2 fungsi tuturan yang digunakan mahasiswa program Dhramasiswa dalam wacana kelas BIPA.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data penelitian ini berupa deskripsi bentuk dan fungsi tuturan yang digunakan mahasiswa ketika berinteraksi di kelas. Sumber data dari penelitian ini adalah tuturan mahasiswa ketika berinteraksi di kelas. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik rekam dengan cara merekam tuturan mahasiswa dan pengajar ketika berinteraksi di kelas. Penelitian ini dibantu dengan instrument berupa panduan perekaman dan alat perekam berupa recorder ponsel. Analisis data dari penelitian ini dilakukan dalam empat langkah, yakni (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) verifikasi,dan(4) penarikan simpulan dari tuturan interaktif mahasiswa asing program Dharmasiswa. Selanjutnya,peneliti menguji keabsahan data dari penelitianya melalui beberapa tahap, yakni (1) peneliti terlibat langsung dalam penelitiannya di Balai Bahasa dan Budaya Universitas Negeri Malang, (2) peneliti mengamati secara teliti dan mendalam pada bentuk dan fungsi tuturan, (3) peneliti melakukan triangulasi pada temuan penelitiannya dengan para ahli, dan (4) peneliti melakukan diskusi dengan teman sejawat yang memahami BIPA dan teori tindak tutur.Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah (1) bentuk, dan (2) fungsi tuturan mahasiswa program Dharmasiswa dalam wacana kelas BIPA. Dalam penelitian ini ditemukan empat bentuk tindak tutur yang digunakan mahasiswa dalam wacana kelas BIPA, yakni (1) bentuk asertif, (2) bentuk direktif, (3) bentuk ekspresif, dan (4) bentuk komisif. Bentuk tindak tutur yang paling dominan digunakan dalam wacana kelas BIPA mahasiswa program Dharmasiswa adalah bentuk direktif dan bentuk asertif, sedangkan bentuk ekspresif dan bentuk komisif jarang sekali digunakan oleh mahasiswa asing dalam wacana kelas BIPA tersebut.Ditemukan beberapa fungsi yang terdapat pada tiap-tiap bentuk tindak tutur yang digunakan mahasiswa ketika berinteraksi di kelas. Pada bentuk tindak tutur asertif ditemukan tiga fungsi tuturan,yakni (1) fungsi menyatakan, (2) fungsi mengusulkan, dan (3) fungsi menceritakan. Pada bentuk tindak tutur direktif ditemukan empat fungsi tuturan, yakni (1) fungsi pertanyaan, (2) fungsi permintaan, (3) fungsi perintah, dan (4) fungsi seruan. Pada bentuk tindak tutur ekspresif ditemukan empat fungsi tuturan, yakni (1) fungsi meminta maaf, (2) fungsi menyesal, (3) fungsi mengucapkan selamat, dan (4) fungsi terima kasih. Pada bentuk tindak tutur komisif ditemukan dua fungsi tuturan, yakni (1) fungsi menjanjikan sesuatu dan (2) fungsi menawarkan sesuatu. Simpulan penelitian ini adalah hanya ditemukan empat bentuk tindak tutur yang digunakan dalam wacana kelas BIPA mahasiswa program Dharmasiswa. Keempat bentuk tuturan tersebut mampu memfasilitasi kegiatan pembelajaran BIPA. Dari keempat bentuk tindak tutur tersebut, ditemukan dua bentuk tindak tutur yang dominan digunakan oleh mahasiswa, yakni (1) bentuk asertif dan (2) bentuk direktif. Dari keempat bentuk tindak tutur tersebut juga ditemukan beberapa fungsi yang penggunaannya disesuaikan dengan konteks dan fungsinya dalam kegiatan pembelajaran di kelas.ABSTRACT Kusuma, EmyRizta. 2016. The Utterances Used by Students of DharmasiswaProgram in Learning Indonesian in The Culture and Language Center of State University of Malang 2015. Sarjana’s Thesis, Indonesian Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: (I) Prof. Dr. Imam Suyitno, M. Pd. (II) Dr. GatutSusanto, M.M, M. Pd.Keywords: Utterances, speech act, learning Indonesia, Dharmasiswa programUtterances are one of speech acts used by human beings to interact with others. One of the interaction employing utterances as a means of communication is learning activities. Utterances in learning activities can be in the form of sentences used among students or between students and lecturers. The students of Dharmasiswa program were chosen to be the subject of the research due to some reasons. First, students of Dharmasiswa learning Indonesian have their own uniqueness when using Indonesian language. Second, even though they come from different countries with different languages, they are required to use only a language to communicate with others in class. The objectives of describing utterances used by the students of Dharmasiswa in learning Indonesian in Culture and Language Center of State University of Malang are to describe (1) the forms, and (2) the functions of the utterances.This research adapted descriptive qualitative approach. The data gathered in this research is the description of the forms and the functions of the utterances used by students of Dharmasiswa when they interact in class. The source of the data is the utterances used by students of Dharmasiswa when they interact in class. The technique of data collection is by recording the utterances used by the students of Dharmasiswa and the lecturer every time they communicate in class. The instruments used to collect the data are a recording guide and a phone recorder. There are four steps conducted in data analysis, that is, (1) data reduction, (2) data presentation, (3) verification,and (4) conclusion drawing. Next, the validity of the data was tested through several steps, that is, (1) the researcher was directly involved in the research conducted in Culture and Language Center of State University of Malang, (2) the researcher observed the forms and the functions of the utterances used very carefully, (3) the researcher conducted a triangulation on the research findings with the experts, and (4) the researcher discussed the research findings with other researchers who have knowledge of BIPA and speech act.The findings of the research are (1) the forms, and (2) the functions of the utterances used by students of Dharmasiswa program in classroom discourse of BIPA. It is discovered in the research that there are four forms of speech act used by the students of Dharmasiswa program in classroom discourse of BIPA. They are (1) assertive forms, (2) directive forms, (3) expressive forms, and (4) comissive forms. The forms of speech act which are mostly used by the students of Dharmasiswa program in classroom discourse of BIPA are directive and assertive forms. Meanwhile, the most rarely used ones are expressive and comissive forms. It is also discovered that there are several functions in each form of speech act used to communicate in class. There are three functions of utterances in assertive form, that is, (1) function of stating, (2) function of proposing, and (3) function of telling. There are four functions of utterances in directive form, that is, (1) function of asking, (2) function of requesting, (3) function of commanding, and (4) function of exclamation. In expressive form of speech act, there are four functions of utterances, that is, (1) function of apologizing, (2) function of regretting, (3) function of congratulating, and (4) function of thanking. However, there are only two functions of utterances discovered in comissive form of speech act, that is, (1) function of promising something and (2) function of offering something.In conclusion, there are only four forms of speech act used by students of Dharmasiswa program in classroom discourse of BIPA. These four forms of speech act could facilitate the students in communicating with others during the learning activities of BIPA. Of these four forms of speech act, there are two forms of speech act which are mostly used by the students of Dharmasiswa program in classroom discourse of BIPA, that is, directive and assertive forms. Also, of the four forms of speech act, there are some functions which are used according to the context and the functions during the learning process in the class