SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Hubungan Kemampuan Memberi Tanggapan dalam Gerakan Literasi di Sekolah dengan Kemampuan Menulis Teks Ulasan Bagi Siswa SMPN 5 Malang
ABSTRAK Hartani, Nur Okni. 2017. Hubungan Kemampuan Memberi Tanggapan dalam Gerakan Literasi di Sekolah dengan Kemampuan Menulis Teks Ulasan Siswa SMPN 5 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd. Kata Kunci: gerakan literasi sekolah, kemampuan menulis, dan teks ulasan.Kegiatan membaca dan menulis paling banyak dilakukan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Kegiatan tersebut saling berkaitan karena dengan membiasakan membaca dapat memunculkan ide untuk suatu kreativitas salah satunya menulis. Dalam rangka mengembangkan warga yang literat di lingkungan sekolah, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa gerakan literasi di sekolah. Gerakan literasi di sekolah merupakan sebuah upaya yang menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat seperti memahami dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, yakni membaca dan menulis dalam tahap pembiasaan, tahap pengembangan, dan tahap pembelajaran. Jika ada tahap pembiasaan kemudian dilanjutkan pada tahap pengembangan, maka siswa akan terbiasa untuk membaca buku nonpelajaran kemudian berlatih memberi tanggapan melalui tulisan di jurnal harian. Hal ini akan membuat siswa mempunyai bekal yang lebih untuk menulis teks ulasan pada tahap pembelajaran dalam gerakan literasi di sekolah.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah, kemampuan menulis teks ulasan, dan mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah dengan kemampuan menulis teks ulasan siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang signifikan antara kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah dengan kemampuan menulis teks ulasan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan rancangan penelitian korelasi. Sumber data diperoleh dari siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII 6 SMP Negeri 5 Malang yang terdiri dari 30 siswa. Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data, yaitu tes tulis berupa esai untuk kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah dan tes tulis berupa esai untuk kemampuan menulis teks ulasan. Data yang diperoleh ada dua, yaitu data memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah dan data menulis teks ulasan berupa tes tulis yang diwujudkan dalam bentuk skor. Analisis hasil penelitian ini menggunakan analisis korelasi.Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tiga hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang tergolong cukup baik. Dari 30 siswa, 2 siswa (6,7%) kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah sangat baik, 15 siswa (49,9%) kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah baik, 8 siswa (26,7%) kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah cukup baik, 3 siswa (10,0%) kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah kurang baik, 2 siswa (6,7%) kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah sangat kurang baik, dan nilai rata-rata kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah, yaitu 77,43. Kedua, kemampuan menulis teks ulasan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang tergolong baik. Dari 30 siswa, 14 siswa (46,6%) menulis teks ulasan sangat baik, 6 siswa (20,0%) menulis teks ulasan baik, 3 siswa (10,0%) menulis teks ulasan cukup baik, 3 siswa (10,0%) menulis teks ulasan kurang baik, 4 siswa (13,4%) menulis teks ulasan sangat kurang baik, dan nilai rata-rata kemampuan menulis teks ulasan, yaitu 82,53. Ketiga, kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah memiliki hubungan yang signifikan dengan kemampuan menulis teks ulasan pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Malang. Hal ini dapat dilihat dari tingkat signifikansi antara kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah dengan kemampuan menulis teks ulasan sebesar 0,020 dan indeks korelasi sebesar 0,917 menunjukkan semakin tinggi nilai kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah, maka semakin tinggi pula kemampuan menulis teks ulasan. Tingkat signifikansi dan indeks korelasi menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara (X) kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah dengan (Y) kemampuan menulis teks ulasan.Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dari buku yang dibaca siswa setiap hari pada tahap pembiasaan kemudian berlatih memberi tanggapan melalui tulisan di jurnal harian yang tergolong cukup baik pada tahap pengembangan inilah yang dapat dijadikan faktor pendukung kelancaran menulis teks ulasan dengan baik pada tahap pembelajaran. Apabila seorang dangkal akan pengetahuan dan tidak pernah dilatih memberi tanggapan melalui tulisan, maka sudah tentu mengalami kesulitan dalam menulis, sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara kemampuan memberi tanggapan dalam gerakan literasi di sekolah dengan kemampuan menulis teks ulasan. Saran yang diberikan dalam penelitian ini sebagai berikut. Pertama, bagi sekolah diharapkan untuk terus menerapkan gerakan literasi di sekolah setiap hari agar menumbuhkan kebiasaan membaca dan menulis di lingkungan sekolah. Kedua, bagi guru diharapkan untuk mampu meneruskan kebiasaan membaca dan berlatih menulis dalam tahap pembelajaran bahasa Indonesia, misalnya menggunakan metode atau media pembelajaran yang dapat menarik dan meningkatkan kebiasaan membaca serta berlatih menulis siswa. Ketiga, bagi siswa SMP Negeri 5 Malang diharapkan terus membiasakan membaca buku nonpelajaran kemudian berlatih menulis tentang tanggapan dari buku yang dibaca. Jika siswa memiliki kemampuan tersebut, maka pengetahuan dan pengalaman memberikan tanggapan melalui tulisan yang dimiliki akan lebih luas dan dapat dijadikan modal dalam menulis teks ulasan. ABSTRACTHartani, Nur Okni. 2017. Relationship Ability Giving Response in Movement Literacy in School with Text Writing Capability Student Reviews SMPN 5 Malang. Thesis, Department of Indonesian Literature, Faculty of Letters, State University of Malang, Advisor: Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd Keywords: School literacy movements, writing skills, and review text.Reading and writing activities are mostly do in Bahasa Indonesi lesson. These activities are related because this can be used in reding and bring the idea to creativity in writting. In order to develop literate citizens in the school environment, the government issued a policy of literacy movement in schools. Leteracy in school is an effort to makes the school as a learning organization whose citizens are life-long literate such as understanding and using something intelligently through various activities, namely reading and writing in the stage of habituation, development stage, and the learning stage. If there is a habituation stage then proceed at the developt this stage, then the students will be accustomed to reading non-learning books and then practice giving feedback through writing in daily journals. This will make students get more understanding to write review text at the learning stage in the literacy movement at school.This research have a purpose to describe for give responses in the literacy movement in schools, these ability to write a review text, and to understand whether there is a significant relationship between the ability and respond in the literacy movement in schools with the ability to write text reviews of students of grade VIII SMP Negeri 5 Malang. The hypothesis in this research have connection significant relationship between the ability respond in literacy movement in schools to write a review text.This research uses quantitative approach and correlation research design. Source of this data get from the students of class VIII SMP Negeri 5 Malang. The sample in this research is the students of class VIII 6 SMP Negeri 5 Malang consist of 30 students. The instruments used in collecting data, such as written test in the form of essay for the ability to respond in the literacy movement in school and writing test in the form of essay for the ability to write a review text. The data got from two source, first, the data give responses in the literacy movement in schools and data writing text reviews in the form of written tests are manifested in the form of scores. Second, analysis of the results of this study using correlation analysis.Based on the results of data analysis, the reseaecher got three results as a follows: First, the ability to give responses in the literacy movement at school in the 7th grade students of SMP Negeri 5 Malang was quite good. From 30 students, 2 students (6.7%) ability to respond in literacy movement in school was very good, 15 students (49,9%) was good, 8 students (26,7%) school was quite well, 3 students (10.0%) was not good, 2 students (6.7%) was not very good, and the average value of the ability to respond in the literacy movement at school, that is 77.43. Second, the ability to write a reviewed text on students of grade VIII SMP Negeri 5 Malang was good. Out of 30 students, 14 students (46.6%) wrote was excellent review text, 6 students (20.0%) wrote good review text, 3 students (10.0%) quite well, 3 students (10, 0%) wrote poorly reviewed text, 4 students (13.4%) wrote a very poorly reviewed text, and the average score of writing ability was 82.53. Third, the ability to respond in the literacy movement in schools has a significant relationship with the ability to write a review text on students of grade VIII SMP Negeri 5 Malang. This can be seen from the level of significance between the ability to respond in the literacy movement in schools with the ability to wrote a review text of 0.020 and correlation index of 0.917 shows the higher the score of the ability to respond in the literacy movement in schools, the higher the ability to write a review text. The level of significance and correlation index indicated that there is a significant relationship between (X) the ability to respond in the literacy movement in schools with (Y) the ability to write a review text. Based on the results of this research, can be concluded that the knowledged from books that students read every day at the stage of habituation and practice was to give responses through the article in the daily journal that was quite good, at this stage of development that can be a factor supporting the smooth writing of the text with a good review at the learning stage. If a superficial for knowledge and never trained to respond through writing, then certainly have difficulty in writing, so there is a significant relationship between the ability to respond in the literacy movement in school with the ability to write a review text. Suggestion gived in this research as follows; First, for school was expected to continued for applyed the literacy movement at school every day to gived a habit for reading and writing in the school environment. Second, for the teacher was expected to be able to continued reading and practice of writing in the learning phase of Indonesian language lesson, for example using methods or learning media that can attract and improve reading habits and practice writing students. Third, for students of SMP Negeri 5 Malang is expected to continue used reading non-learning books and then practice writing about the response of books which they have read. If the student has the ability and knowledged experience of responding through the writings this can be used in writing the review text
Karakteristik Gaya Bahasa, Alur, dan Penokohan Cerita Pendek Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Malang
ABSTRAK Kusumardani, Assadena Cahya. 2017. Karakteristik Gaya Bahasa, Alur, dan Penokohan Cerita Pendek Siswa Kelas X SMA Negeri 3 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd. Kata kunci: cerita pendek, gaya bahasa, alur, penokohan.Cerita pendek merupakan kisahan yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Cerpen terdapat dua unsure pembangun yaitu unsure intrinsic dan unsure ekstrinsik. Salah satu unsure intrinsic yaitu gaya bahasa, alur, dan penokohan. Sebuah cerita tidakakan terlepas dari gaya bahasa yang digunakan, tokoh-tokoh yang diceritakan, dan rangkaian alur peristiwa yang diceritakan oleh pengarang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa, alur, dan penokohan karya siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis teks dan jenis kualitatif. Data pada penelitian ini berupa kutipan-kutipan teks cerpen karya siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang yang berfokus pada gaya bahasa, alur, dan penokohan. Sumber data pada penelitian ini sejumlah 29 teks cerita pendek karya siswa kelas X SMA Negeri 3 Malang. Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi. Penelitian ini menggunakan peneliti sebagai instrument utama dan menggunakan table analisis sebagai instrument pendukung. Analisis data dilakukan dengan cara melakukan reduksi data, melakukan interpretasi terhadap data, memverifikasi data, dan menarik simpulan terhadap temuan data. Berdasarkan hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama, ditemukan tiga gaya bahasa menggunakan gaya bahasa berdasarkan pilihan kata mencakup gaya bahasa tidak resmi dan gaya bahasa percakapan, gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat mencakup gaya bahasa repetisi, gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna meliputi literasi, asindenton, polisindenton, ellipsis, eufemismus, litotes, pleonasme atau tautology, prolepsis atau antisipasi, zeugma, koreksio atau epanortosis, dan hiperbola dan gaya bahasa kiasan mencakup personifikasi, prosopopoeia, eponim, sinekdoke, dan metonimia. Kedua, ditemukan lima tahapan alur yaitu tahap alur lengkap, tahap alur tanpa komplikasi, tahap alur tanpa klimaks, tahap alur tanpa peleraian, dan tahap alur hanya terdapat pengenalan dan konflik. Ketiga, ditemukan tujuh penokohan yaitu tokoh utama, tokoh tambahan, tokoh protagonis, tokoh antagonis, tokoh sederhana, tokoh statis, dan tokoh berkembang. Berdasarkan simpulan, saran yang diberikan pada penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama, diharapkan guru Bahasa Indonesia melakukan pemfokusan menulis cerpen khususnya tahapan alur agar siswa lebih terampil dalam memahami tahapan alur secara benar dan lengkap. Kedua, Bagi peneliti selanjutnya disarankan dapat memanfaatkan hasil penelitian untuk meneliti karakteristik namun menggunakan objek yang lain atau menggunakan jenis penelitian lain seperti kuantitatif dan pengembangan
Hubungan Kemampuan Literasi Dasar dan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMA Kelas X SMAN 2 Malang
ABSTRAK Literasi dasar merupakan kemampuan membaca dan menulis yang saat ini sangat dibutuhkan siswa dalam pembelajaran di sekolah. Untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal, siswa perlu menggunakan kemampuan literasinya secara maksimal. Hasil pengukuran literasi siswa di Indonesia dapat dilihat dari beberapa penelitian. PISA mengukur prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun. Penentuan sampel PISA berdasarkan tiga strata yaitu jenis sekolah (SMP/MTs/SMA/MA/SMK), status sekolah (Negeri/Swasta), dan performansi sekolah (Baik/Sedang/Kurang). Hasil penelitian PISA tahun 2012 menunjukkan kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa Indonesia menempati urutan terburuk kedua dari 65 negara dan pada tahun 2015 Indonesia menempati urutan ke-6 dari 72 negara. Selain itu, berdasarkan survei UNESCO tahun 2012, minat baca masyarakat Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Dapat disimpulkan bahwa literasi siswa Indonesia berbeda jauh dengan negara-negara lain. Penelitian ini bertujuan mengetahui (1) kemampuan literasi dasar siswa kelas X SMAN 2 Malang, (2) prestasi belajar siswa kelas X SMAN 2 Malang, dan (3) hubungan kemampuan literasi dasar terhadap prestasi belajar siswa kelas X SMAN 2 Malang, khususnya pada pelajaran bahasa Indonesia.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMAN 2 Malang sebanyak 344 siswa, sedangkan sampel penelitian ini sebanyak 120 siswa yang diambil dari kelas X IPA 1, IPA 2, IPS 1, IPS 2, dan Bahasa 2. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Uji coba instrumen dilakukan sebelum instrumen digunakan. Data diperoleh dari hasil uji instrumen tes dan angket, serta nilai rata-rata Bahasa Indonesia siswa semester gasal. Teknik analisis data dilakukan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows dalam menguji data, meliputi uji prasyarat dan uji korelasional. Hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama, skor rata-rata kemampuan literasi dasar siswa kelas X adalah 78,30% yang meliputi kemampuan (1) menerima informasi sebesar 79,60%, (2) membentuk pemahaman yang luas sebesar 73%, (3) mengembangkan interpretasi sebesar 76,70%, (4) merefleksi dan mengevaluasi isi teks sebesar 87%, dan (5) merefleksi dan mengevaluasi bentuk teks sebesar 75%. Kedua, skor rata-rata prestasi belajar Bahasa Indonesia siswa semester gasal tahun pelajaran 2016/2017 adalah 81,7% yang meliputi (1) IPA 1 sebesar 81,2%, (2) IPA 2 sebesar 82,9%, (3) IPS 1 dengan nilai 80,7%, (4) IPS 2 sebesar 79,8%, dan (5) Bahasa 2 sebesar 84%. Ketiga, hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai signifikansi 0,028 0,151 rtabel. Dengan demikian, terdapat hubungan positif antara variabel kemampuan literasi dasar dan variabel prestasi belajar. Berdasarkan hasil analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi dasar siswa sebesar 78,3% tergolong baik, prestasi belajar bahasa Indonesia sebesar 81,7% tergolong baik, dan terdapat hubungan positif antara kemampuan literasi dasar dan prestasi belajar siswa SMAN 2 Malang. Dari hasil penelitian tersebut, peneliti menyarankan kepada (1) guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan literasi dasar siswa melalui tes dan (2) peneliti lain untuk menjadikan hasil penelitian ini sebagai masukan dalam melakukan penelitian lain terkait literasi dasar dan prestasi belajar
Pengembangan Bahan Ajar Menulis Teks Biografi Bermuatan Pendidikan Karakter untuk Siswa SMP Kelas VIII
ABSTRAK Nafi’ah, Wika Nurma Hidayatul. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Teks Biografi Bermuatan Pendidikan Karakter untuk Siswa SMP Kelas VIII. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, menulis teks biografi, pendidikan karakter. Penelitian pengembangan bahan ajar menulis teks biografi bermuatan pendidikan karakter dilatarbelakangi oleh hasil studi pendahuluan bahwa saat ini terjadi fenomena penurunan kualitas moral pada usia remaja. Hal tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah Indonesia mengadakan program pendidikan karakter. Salah satu implementasi pendidikan karakter adalah melalui pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu melalui kegiatan menulis teks biografi. Teks biografi memuat nilai-nilai karakter yang dimiliki tokoh. Akan tetapi, siswa masih mengalami hambatan menulis teks biografi. Siswa kesulitan membuat daftar pertanyaan yang sesuai untuk menggali informasi tokoh yang biografinya akan ditulis. Selain itu, siswa masih kesulitan menggunakan kata hubung intrakalimat dan antarkalimat yang sesuai. Salah satu penyebab kesulitan tersebut adalah bahan ajar yang belum sesuai dengan kebutuhan siswa. Bahan ajar yang digunakan masih minim materi. Bahan ajar tersebut belum memudahkan siswa dalam menulis teks biografi. Di samping itu, bahan ajar juga belum menekankan pendidikan karakter. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan ajar yang dapat memudahkan siswa dalam menulis teks biografi serta dapat memberikan pendidikan karakter kepada siswa melalui penanaman nilai-nilai karakter pada tokoh biografi. Penelitian dan pengembangan ini memiliki tujuan umum menghasilkan produk berupa bahan ajar menulis teks biografi bermuatan pendidikan karakter untuk siswa SMP kelas VIII sehingga dapat membantu kesulitan siswa. Adapun tujuan khusus penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar menulis teks biografi bermuatan pendidikan karakter untuk siswa SMP kelas VIII yang memenuhi syarat isi, kebahasaan, sistematika, dan tampilan serta layak untuk pembelajaran yang sesuai Kurikulum 2013. Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan Borg dan Gall. Akan tetapi, model penelitian dan pengembangan tersebut diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi penelitian. Model penelitian dan pengembangan tersebut diadaptasi menjadi tujuhlangkah yang meliputi (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan (3) pengembangan draf produk, (4) uji validasi, (5) revisi produk awal, (6) uji lapangan terbatas, dan (7) penyempurnaan produk akhir. Uji validasi dilakukan dengan melibatkan (1) ahli materi menulis teks biografi, (2) ahli penyusunan bahan ajar menulis, dan (3) praktisi atau guru Bahasa Indonesia. Uji lapangan terbatas dilakukan dengan melibatkan 15 siswa kelas VIII SMP Negeri 9 Malang. Jenis data yang diperoleh dari penelitian dan pengembangan ini adalah data verbal dan numerik.Data verbal berupa catatan, komentar, dan saran yang dituliskan oleh subjek uji pada lembar angket dan informasi lisan yang diperoleh dari wawancara. Sementara itu, data numerik adalah data berupa skor penilaian dari angket yang diisi oleh validator dan siswa. Berdasarkan hasil uji validasi dengan ahli dan praktisi, diperoleh data berikut. Aspek isi bahan ajar mendapat persentase 86%, aspek kebahasaan mendapat persentase 92,1%, aspek sistematika penyajian mendapat persentase 98,2%, dan aspek tampilan mendapat persentase 96,5%. Rata-rata persentase kelayakan bahan ajar menulis teks biografi bermuatan pendidikan karakter secara keseluruhan mencapai 91,8% yang berarti tergolong sangat layak dan dapat diimplementasikan. Adapun berdasarkan uji lapangan terbatas diperoleh data berikut. Aspek isi bahan ajar mendapat persentase 89,3%, aspek kebahasaan mendapat persentase 95,8%, aspek sistematika penyajian mendapat persentase 90,8%, dan aspek tampilan mendapat persentase 96,7%. Rata-rata persentase kelayakan bahan ajar menulis teks biografi bermuatan pendidikan karakter secara keseluruhan mencapai 91,4% yang berarti tergolong sangat layak dan dapat diimplementasikan. Saran pemanfaatan produk hasil pengembangan ditujukan kepada guru, siswa, peneliti lain, dan pengembang produk lebih lanjut. Guru disarankan untuk menerapkan bahan ajar menulis teks biografi bermuatan pendidikan karakter dalam pembelajaran menulis teks biografi secara optimal agar kendala dalam pembelajaran dapat diatasi. Siswa disarankan untuk membaca bahan ajar ini agar dapat menumbuhkembangkan kekreatifan dan kemampuan menulis teks biografi, baik secara mandiri atau dengan kehadiran guru. Peneliti dan pengembang bahan ajar lain disarankan untuk mempertimbangkan bahan ajar ini sebagai dasar dalam mengembangkan buku-buku pelejaran mengenai teks biografi dan kaitannya dengan muatan karakter yang saat ini belum banyak tersedia. ABSTRACT Nafi’ah, Wika Nurma Hidayatul. 2017. Development of Teaching Materials Writing Text of Biography Character Education Content for Students of SMP Year VIII. Sarjana’s thesis, Department of Indonesian Literature, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisors: Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd. Keywords:development of teaching materials, biography text writing, character education. The research about learning material imporvement using character education based biography grounded by preliminary study results that nowadays there is a decrease of moral quality among teenagers. This became one of the reasons the Indonesian government hold a character education program. One of the implementation of character education is through Indonesia language teaching, that is by biography writing activity. Biography text contains character values owned by famous figures. However, students are still experiencing barriers to writing biography texts. Students find it difficult to make a list of appropriate questions to dig up information of the person whose biography will be written. In addition, students still have difficulty using appropriate intrasentences and intersentences words. One of the causes of the difficulty is the teaching materials that have not been in accordance with the needs of students. The teaching materials used are still minimal. The teaching materials have not made it easier for students to write biography texts. In addition, teaching materials also have not emphasized character education. Therefore, there is a need for teaching material that can facilitate students in writing biography texts and can provide character education for students through the inculcation of character values on biography figures. This research and development has the general purpose producing the product in the form of teaching materials to write biography text containing character education forstudents of SMP Year VIII so that it can cope the students' difficulties. The specific purpose of this research and improvement is to produce teaching materials to write biography text containing character education forstudents of SMP Year VIIIwhich meet adequacies, in terms of content, language, systematic, and appearance that are appropriate for Curriculum of 2013 This study uses a research and development model of Borg and Gall. However, the research and development model is adapted according to the needs and conditions of the study. The research and development model is adapted into seven steps. First, preliminary study. Second, planning. Third, product draft buillding. Fourth, validation test. Fifth, revision of initial product. Sixth, limited field test. Seventh, refinement of the final product. Validation test is done by involving (1) material experts ofbiography text writing, (2) writing materials experts, and (3) practitioners or teachers of Indonesian language. A limited field trial was conducted involving 15 students of grade 8 Junior High School 9 Malang. The types of data were obtained from this research and development are verbal and numerical data. Verbal data in the form of notes, comments, and suggestions written by the test subjects on the questionnaire and oral information obtained from the interview. Meanwhile, numerical data is data in the form of scoring scores from questionnaires filled by validators and students. Based on validation test results with experts and practitioners, are obtained these following data. Aspects of teaching materials content gets 86% percentage, linguistic aspect gets 92.1% percentage, presentation systematic aspect gets 98.2% percentage, and aspect of display gets 96.5% percentage. The average percentage of eligibility of teaching materials to write biography text containing character education as a whole reaches 91.8% which means it is classified as very feasible and can be implemented. Whereas based on limited field test results the following data. Aspects of the content of the teaching materials get 89.3%percentage, linguistic aspect got 95.8% percentage, presentation systematic aspect got 90.8% percentage, and display aspect got 96.7% percentage. The average percentage of eligibility of teaching materials to write biographical text containing character education as a whole reaches 91.4% which means it is quite feasible and can be implemented. Suggestion of utilization of product of development result aimed to teacher, student, other researcher, and product developer further. Teachers are encouraged to apply teaching materials to write biographical text containing character education in learning to write biography text optimally so that obstacles in learning can be overcome. Students are encouraged to read these instructional materials in order to foster creativity and biographical writing skill, either independently or with teacher attendance. Researchers and other resource developers are advised to consider this resource as the basis for developing pitch books on biography texts which contain education program that is currently not much available.  
Keefektifan Metode Kerja Kelompok dan Kerja Individu dalam Pembelajaran Teks Cerita Fantasi Kelas VII SMP Negeri 6 Malang
Kata Kunci: metode kerja kelompok, metode kerja individu, menulis teks cerita fantasi Pembelajaran bahasa Indonesia di kelas biasanya dilakukan dengan cara individu maupun berkelompok. Motode kerja kelompok memunculkan adanya proses interaksi antarsiswa di dalam satu kelompok. Metode kerja individu, dilakukan untuk mengasah siswa dalam berpikir mandiri. Pada pembelajaran menulis cerita, siswa lebih banyak ditekankan pada proses individu daripada proses berkelompok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahuikeefektifan penggunaan metode kerja kelompok dan kerja individu dalam kegiatan menulis teks cerita fantasi. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 6 Malang. Sebanyak 66 siswa digunakan sebagai sampel penelitian dengan teknik purposive sampling.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen semu. Penelitian ini merupakan penelitian komparasi yang membandingkan teks cerita fantasi hasil karya tulisan siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan menggunakan metode kerja kelompok dan metode kerja individu. Pengumpulan data menggunakan metode tes dan dokumentasi.Analisis hasil tes menunjukkan bahwa nilai rata-rata posttest hasil penentuan tema di kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol, yaitu 13,76>10,97, nilai rata-rata posttest hasil pengorganisasian alur cerita siswa di kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol, yaitu 15,15>12,79,nilai rata-rata posttest hasil pengorganisasian dan penyajian isi cerita siswa di kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol, yaitu 26,06>23,15, dan nilai rata-rata posttest hasil penggunaan sarana dan mekanik cerita siswa di kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol, yaitu 26,06>22,91.Selain itu, dari hasil perhitungan menggunakan rumus t-test untuk mengetahui perbedaan kemampuan siswa yang telah menerima perlakuan dengan siswa yang tidak menerima perlakuan dalam menentukan tema, mengorganisasikan alur cerita, mengorganisasikan dan menyajikan isi cerita, serta dalam menggunakan sarana ceritadiperoleh t hitung > t tabel,yaitu 5,072>2,38 (menentukan tema), 4,466>2,38 (mengorganisasikan alur cerita), 5,861>2,38 (mengorganisasikan dan menyajikan isi cerita), dan 4,453>2,38 (menggunakan sarana cerita). Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan yang signifikan antara kelompok siswa setelah diajar menulis teks cerita fantasi dengan penerapan metode kerja kelompok dengan kelompok siswa yang diajar menulis teks cerita fantasi dengan penerapan metode kerja individu. Selain itu, data posttest kelas kontrol dan kelas eksperimen yang diperoleh masing-masing nilai memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikansi yang ditentukan (0,01). Hal ini menunjukkan bahwa kedua metode, yaitumetode kerja kelompok dan metode kerja individu efektif digunakan dalam pembelajaran menulis teks cerita fantasi. Berdasarkan hasil analisis diperoleh dua kesimpulan yaitu (1) terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan siswa menentukan tema cerita antara siswa yang menggunakan metode kerja kelompok dan metode kerja individu, (2) terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan siswa mengorganisasikan alur cerita antara siswa yang menggunakan metode kerja kelompok dan metode kerja individu, (3) terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan siswa mengorganisasikan dan menyajikan isi antara siswa yang menggunakan metode kerja kelompok dan metode kerja individu, dan (4) terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan siswa menggunakan sarana cerita dan mekanik yang digunakan dalam menulis cerita antara siswa yang menggunakan metode kerja kelompok dan metode kerja individu
Nilai Pendidikan Karakter Pada Tokoh Perempuan Dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer
ABSTRAK Pratiwi, Shofi. 2017. Nilai Pendidikan Karakter pada Tokoh Perempuan dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer. Jurusan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd, (II) Musthofa Kamal, S.Pd,.M.Sn. Kata kunci: novel, perempuan, dan nilai pendidikan karakter. Pada kenyataannya, dewasa ini masih ditemukan fenomena dimana perempuan dipandang sebelah mata dan dinilai sebagai mahluk kelas dua setelah laki-laki oleh berbagai kalangan. Hal tersebut karena di Indonesia masih didominasi oleh budaya patriaki, yang artinya kekuasaan dan keputusan masih ditentukan oleh laki-laki. Pendidikan karakter idealnya tidak hanya diterapkan di lingkungan sekolah dan masyarakat, tetapi lingkungan keluarga menjadi pondasi awal dibentuknya karakter anak, terutama peran seorang ibu. Berawal dari tangantangan perempuanlah karakter seorang anak dapat dibentuk. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter pada tokoh perempuan dalam novel Bumi Manusia. Novel Bumi Manusia menyajikan cerita realistik yang menggambarkan peristiwa pada jaman kolonialisme yang berisi nilai pendidikan karakter yang ada dalam masyarakat. Novel Bumi Manusia cenderung menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan desain penelitian deskriptif kualitatif. Data pada penelitian ini adalah unit-unit teks yang mengandung nilai pendidikan karakter dalam novel Bumi Manusia. Sumber data penelitian ini adalah novel Bumi Manusia. Pada penelitian ini, peneliti bertindak sebagai human instrument yang bertugas mengumpulkan dan mengolah data. Selain itu, terdapat pula instrument pendukung yaitu, pedoman pengumpulan data. Prosedur pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan tahapan berikut: (1) membaca secara seksama novel Bumi Manusia; (2) mengidentifikasi kutipan novel yang mengandung nilai karakter; (3) mengklasifikasi dan mengkode data berupa kutipan sesuai dengan nilai pendidikan karakter. Pengecekan keabsahan data dengan tahap berikut; (1) membaca secara berulang-ulang, (2) identifikasi secara seksama, (3) menelusuri kembali teori yang digunakan, dan (4) melakukan pengecekan sejawat. Hasil penelitian ini meliputi, nilai pendidikan karakter yang terkait dengan nilai ketuhanan, individu, dan sosial. Pertama, nilai pendidikan karakter yang terkait dengan nilai ketuhanan, yaitu tawakal dengan memohon dan meminta hanya kepada Allah sebagai Sang pencipta. Kedua, nilai pendidikan karakter yang terkait dengan nilai individu , meliputi (1) kerja keras mempertahankan harga diri dan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, (2) bertanggungjawab terhadap keluarga, menjaga dan mendidik anak, (3) bersahabat/ komunikatif dengan sesama, (4) mandiri tidak bergantung kepada suami maupun orang lain, (5) terbuka terhadap orang baru, (6) tegas dalam menentukan sikap akan kehidupannya, (7) visioner terhadap hal baru, (8) teguh dalam mempertahankan harga dirinya, (9) percaya diri meskipun menghadapi orang yang lebih tinggi jabatan atau pendidikannya, (10) cinta ilmu dan berkemauan keras dalam mempelajari ilmu yang belum diketahui, (11) ulet dalam menyikapi permasalahan, (12) bergaya hidup sehat dengan memulai kebiasaan yang baik dan menciptakan hidup yang sehat, (13) ceria dalam menjalankan pekerjaan, dan (14) sabar menghadapi setiap ujian hidup. Ketiga, nilai pendidikan karakter yang terkait dengan nilai sosial, meliputi (1) peduli sosial terhadap lingkungan sekitar tempat tinggal, (2) menghargai keberagaman/ toleransi terhadap orang yang berbeda agama, suku maupun adat yang berbeda, (3) menghargai karya/ prestasi dengan memuji karya orang lain dan mengapresiasi prestasi tersebut, (4) santun terhadap orang yang lebih muda maupun yang lebih tua, dan (5) adil dengan tidak sewenang-wenang dalam menentukan masa depan anak
Penggunaan Afiks pada Karangan Siswa Kelas VIII SMP
ABSTRAK Hidayati, Inayatul. 2017. Penggunaan Afiks pada Karangan Siswa Kelas VIII SMP. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Sumadi, M. Pd. Kata Kunci: penggunaan, afiks dan karangan siswa Bahasa merupakan media utama untuk menyampaikan gagasan, pendapat dan pemikiran seseorang. Penggunaan bahasa yang baik juga harus didukung oleh penggunaan kata-kata yang tepat. Pembelajaran di sekolah khususnya pada tingkat SMP telah menanamkan pembelajaran bahasa sejak dini. Dalam kegiatannya, siswa akan mengembangkan empat kompetensi berbahasa, salah satunya adalah menulis. Dalam kaitannya dengan keterampilan mengarang, siswa SMP juga memperoleh materi tata bahasa yang dapat menunjang proses mengarang, salah satunya adalah penggunaan afiks. Meskipun demikian, dalam karangan siswa masih ditemukan penggunaan afiks yang tidak tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan afiks dan ketepatan penggunaan afiks pada karangan siswa kelas VIII SMP. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data penelitian ini adalah afiks yang digunakan pada karangan siswa. Afiks yang dimaksud meliputi (1) prefiks, (2) infiks, (3) sufiks, dan (4) konfiks. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) instrumen kunci dan (2) instrumen penunjang. Instrumen kunci penelitian ini adalah peneliti sendiri dan intrumen penunjang penelitian ini berupa tabel pengumpul data. Penelitian ini menggunakan tiga tahapan analisis data, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa afiks yang digunakan pada karangan siswa kelas VIII SMP adalah prefiks,sufiks, dan konfiks. Tidak ditemukan penggunaan infiks pada karangan siswa. Prefiks yang digunakan dalam karangan siswa kelas VIII adalah prefiks meN-, prefiks peN-, prefiks di-, prefiks ter-, prefiks ber-, dan prefiks per-. Sufiks yang digunakan hanya sufiks –an. Konfiks yang digunakan adalah konfiks meN-i, konfiks meN-kan, konfiks di-i. konfiks di-kan, konfiks diper-kan, konfiks ber-an, konfiks ter-i, konfiks peN-an, konfiks se-nya, konfiks per-an, konfiks ke-an, dan konfiks memper-kan. Temuan lain dalam penelitian ini adalah ketepatan penggunaan afiks. Siswa bisa menggunakan afiks dengan tepat pada semua jenis afiks. Ketidaktepatan penggunaan afiks ditemukan pada penggunaan prefiks di-, sufiks –an, konfiks di-i, dan konfiks di-kan. Ketidaktepatan ini disebabkan oleh dua hal, yaitu (1) siswa menuliskan afiks dipisah dari bentuk dasarnya dan (2) adanya proses interferensi bahasa Madura ke dalam bahasa Indonesia yang dilakukan siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa sudah mampu menggunakan afiks dengan baik. Meski demikian, masih ditemukan beberapa kesalahan kecil yang ditemukan dalam menggunakan afiks. Maka dari itu, guru diharapkan memerhatikan kembali kompetensi bahasa siswa, khususnya menulis dalam menggunakan afiks. Hal lain yang bisa dilakukan guru adalah memberikan bekal pengetahuan yang lebih memadai mengenai afiksasi dan memberikan contoh penggunaan yang tepat lebih banyak lagi
Pengembangan Media Pembelajaran Menyimak Cerita Wayang untuk SMP Kelas IX KTSP Berbasis Multimedia Interaktif
ABSTRAK Al-a’laa, Notara Ratu Jelyta Draydhie. 2017. Pengembangan MediaPembelajaran Menyimak Cerita Wayang untuk SMP Kelas IX KTSP Berbasis Multimedia Interaktif. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Pembimbing; Prof. Dr. Suyono, M.Pd Kata Kunci : pengembangan media pembelajaran, menyimak cerita wayang,pembelajaran menyimak, multimedia interaktifMenemukan pesan dari cerita wayang merupakan salah satu kompetensi dasar KTSP mata pelajaran bahasa Jawa kota Malang yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas IX tingkat SMP/MTs. Kompetensi ini termasuk dalam aspek mendengarkan dan mengerucut pada kegiatan menyimak. Kegiatan menyimak cerita wayang ini dapat meningkatkan tingkat pemahaman peserta didik terhadap isi pesan yang terkandung dalam cerita wayang dan merealisasikan terhadap kehidupan sehari-hari mereka. Akan tetapi hal tersebut belum tercapai dikarenakan adanya beberapa hambatan. Hambatan tersebut antara lain, yaitu dari faktor internal dan faktor eksternal. Hambatan faktor internal adalah hambatan yang datang dari diri peserta didik sendiri, sedangkan hambatan faktor eksternal adalah hambatan yang terkait dengan fasilitas pembelajaran yaitu media pembelejaran dan strategi pembelajaran yang digunakan oleh guru. Berkaitan dengan hal tersebut perlu adanya pengembangan media pembelajaran menyimak cerita wayang yang dapat mengatasi beberapa hambatan. Hal ini dimaksudkan untuk memfasilitasi dan mendukung proses pembelajaran menyimak cerita wayang di tingkat SMP/MTs. Adapun beberapa hal yang mendasari pentingnya pengembangan media pembelajaran, yakni kebutuhan peserta didik dan tuntutan guru untuk dapat memfasilitasi peserta didik menguasai kompetensi sesuai tuntutan kurikulum dengan menyajikan proses belajar yang berkualitas dengan memperhatikan karakteristik peserta didik tingkat SMP kelas IX.Penelitian dan pengembangan ini bertujuan menghasilkan produk media pembelajaran menyimak cerita wayang kelas IX SMP KTSP berbasis multimedia interaktif. Tujuan umum tersebut dapat dirinci menjadi beberapa tujuan khusus, yaitu (1) menghasilkan media pembelajaran bahasa Jawa menyimak cerita wayang untuk SMP kelas IX KTSP berbasis multimedia interaktif disertai dengan penyajian materi; (2) menghasilkan media pembelajaran bahasa Jawa menyimak cerita wayang untuk SMP kelas IX KTSP berbasis multimedia interaktif disertai dengan penyajian tampilan yang interaktif; dan (3) menghasilkan media pembelajaran bahasa Jawa menyimak cerita wayang untuk SMP kelas IX KTSP berbasis multimedia interaktif disertai dengan penyajian bahasa komunikatif.Dalam penelitian dan pengembangan ini diadaptasi dari model pengembangan Borg and Gall. Dari model pengembangan tersebut terdapat 5 tahapan prosedur penelitian pengembangan, yaitu: (1) tahap penelitian dan pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk, (4) uji coba, dan (5) revisi. Produk hasil penelitian dan pengembangan ini diuji coba kepada ahli materi menyimak cerita wayang, ahli media pembelajaran, praktisi (guru Jawa), dan kelompok kecil peserta didik yang beranggotakan 10 siswa dengan membagikan angket.Berdasarkan data hasil uji validasi produk yakni diklasifikasikan berdasarkan kelayakan isi media pembelajaran, kelayakan komponen/ sajian media pembelajaran, kelayakan bahasa media pembelajaran dan kelayakan tampilan media pembelajaran. Klasifikasi tersebut simpulan dari hasil uji coba ahli, praktisi dan lapangan. Berikut adalah hasil rekapitulasi dari beberapa klasifikasi hasil uji validasi produk media. Kelayakan isi memperoleh presntase rata-rata 83%. Kelayakan komponen/ sajian media pembelajarn memperoleh presentase rata-rata 88%. Kelayakan bahasa media pembelajaran memperoleh presentase rata-rata 84%. Kelayakan tampilan media pembelajaran memperoleh presentase rat-rata 82%. Media pembelajaran yang dihasilkan pada penelitian dan pengembanganini diberi judul Nyemak Crita Pewayangan. Media pembelajaran ini terdiri atas 6 bagian. Bagian 1 memuat kalimat pembuka, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator. Bagian 2 memuat tokoh wayang, asal usul crita wayang, dan jinise basa. Bagian 3 memuat larah-larahane nemtokake pesen crita pawayangan, audio cerita wayang berjudul Resi Durna lan Duryudana, video wayang kulit berjudul Karna dadi Senapati, dan video cerita wayang orang berjudul Rembugan Baratayuda. Bagian 4 memuat 3 bagian soal sesuai judul cerita wayang pada bagian 3. Bagian 5 memuat kamus bahasa Jawa dan atau bahasa Kawi . Bagian 6 memuat profil pengembang. Adapun beberapa saran pemanfaatan produk yang dihasilkan pada penelitian dan pengembangan ini, yakni ditujukan pada pihak-pihak yang berkaitan dengan pengembangan media pembelajaran menyimak cerita wayang, guru agar dapat memanfaatkan media pembelajaran secara optimal, peserta didik agar memanfaatkan produk untuk menemukan isi pesan cerita wayang secara mandiri, dan diseminasi produk agar disebarluaskan melalui jurnal penelitian, forum MGMP Kota/ Kabupaten Malang serta media sosial
Kajian Psikolinguistik dalam Naskah dan Pementasan Drama Topeng Kayu Karya Koentowijoyo
ABSTRAK Choiri, Amaludin. 2017. Kajian Psikolinguistik dalam Naskah dan Pementasan Drama Topeng Kayu Karya Koentowijoyo. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd. Kata Kunci: psikolinguistik, kesenjangan stichomythia dialogue, naskah drama, pementasan drama, Topeng KayuDunia teater hari ini mulai diminati oleh banyak kalangan. Terbukti dengan bermunculannya berbagai kelompok teater, mulai dari teater sekolah, teater lembaga, maupun teater-teater mandiri (luar lembaga) sehingga intensitas pementasan drama meningkat. Sebuah pementasan drama merupakan perwujudan dari naskah drama sebagai bahan dasar utamanya. Sebagai bahan dasar pementasan, naskah drama harus dianggap sebagai pesan yang harus tersampaikan dalam pementasan. Akan tetapi, sering pesan naskah drama tidak tersampaikan dengan baik dalam pementasan. Hal ini disebabkan pemahaman aktor terhadap naskah drama yang dipentaskan kurang baik dan mendalam. Untuk itu, pemahaman mendalam terhadap dialog naskah drama harus dimiliki oleh aktor, karena dialog dalam naskah drama terkadang memiliki kesenjangan stichomythia dialogue yang mengandung banyak subteks di dalamnya. Pemahaman aktor yang kurang baik terhadap subteks dalam dialog akan mengakibatkan munculnya berbagai kesalahan dalam pementasan.Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif. Data dalam penelitian ini berupa kutipan-kutipan dialog dalam naskah drama Topeng Kayu karya Koentowijoyo yang memiliki kesenjangan stichomythia dialogue yang menyimpan subteks dan transkrip video pementasan drama Topeng Kayu karya Koentowijoyo. Peneliti sebagai instrumen utama dalam pengumpulan data dibantu dengan instrumen penjaring data. Teknik pengumpulan data penelitian ini menggunakan beberapa instrumen penjaring data. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan (1) menelaah jenis kesenjangan stichomythia dialogue dialog naskah drama, (2) melakukan klasifikasi terhadap tingkat kesulitan pemahaman kesenjangan stichomythia dialogue, (3) mentranskrip video pementasan drama Topeng Kayu karya Kuntowijoyo menjadi data tertulis, (4) melakukan pengkodean, dan (5) melakukan uji keabsahan data. Tahap analisis data dilalui dalam dua tahapan, yaitu menggunakan teknik analisis isi dengan pendekatan kajian psikolinguistik pada analisis naskah dan analisis ketersampaian pesan pada pementasan. Pengecekkan keabsahan data dilakukan dengan membaca dan menelaah kembali hasil analisis data pada naskah dan analisis data pada transkrip pementasan drama.Berdasarkan analisis data penelitian ini, diperoleh beberapa hasil sebagai berikut. Pertama, naskah drama Topeng Kayu karya Koentowijoyo memiliki banyak kesenjangan stichomythia dialogue. Kedua, berdasarkan klasifikasi tingkat kesulitan pemahaman dialog yang memiliki kesenjangan stichomythia dialogue terdapat empat tingkatan, yaitu kategori sangat sulit (SS), sulit (S), sedang (Sd), dan mudah (M) untuk dipahami. Ketiga, aktor pemeran dalam pementasan drama Topeng Kayu karya Koentowijoyo melakukan banyak kesalahan dalam pengucapan dialog pada pementasan karena pemahaman yang kurang baik terhadap naskah drama. Hal ini mengakibatkan adanya dialog atau unsur dialog yang hilang, kesalahan lakuan, kesalahan respon, dan kesalahan dalam penyisipan dialog konteks. Keempat, karena pemahaman (komprehensi) yang kurang baik, tuturan (produksi) dialog aktor dalam pementasan menjadi terganggu, sehingga pesan dialog naskah drama tidak tersampai dengan baik dalam pementasan.Penelitian ini menghasilkan beberapa simpulan sebagai berikut. Pertama, naskah drama Topeng Kayu karya Koentowijoyo ini merupakan naskah drama yang sulit untuk dipahami karena banyak dialog yang memiliki kesenjangan stichomythia dialogue. Kedua, dialog dengan kesenjangan stichomythia dialogue memiliki empat kategori, yaitu sangat sulit (SS), sulit (S), sedang (Sd), dan mudah (M) untuk dipahami. Ketiga, ketidak tepatan pengucapan dialog pada pementasan mengakibatkan terjadinya berbagai kesalahan dalam pementasan, yaitu (1) hilangnya dialog yang mengakibatkan hilangnya pesan dialog, (2) aktor melakukan berbagai kesalahan lakuan, (3) aktor melakukan kesalahan dan keterlambatan respon terhadap dialog lawan, dan (4) aktor melakukan kesalahan dalam menyisipkan dialog-dialog konteks ke dalam dialog naskah. Keempat, berdasarkan kesalahan-kesalahan dalam pementasan tersebut dapat diartikan bahwa pesan dalam dialog naskah tidak dapat tersampai dengan baik dalam pementasannya. Kaidah psikolinguistik yang menyatakan bahwa komprehensi berbanding lurus dengan produksi terbukti dalam penelitian ini. Pesan dialog naskah drama harus dipahami dengan baik, sehingga pesan dialog tersebut dapat tersampaikan dengan baik dalam pementasan. Dengan demikian, peneliti dapat menyarankan beberapa hal. Pertama, seorang aktor harus benar-benar memahami dialog dan subteks naskah drama yang akan dipentaskan. Kedua, seorang sutradara harus mempertimbangkan kemampuan aktor untuk menentukan naskah drama dan metode pelatihan yang tepat untuk kepentingan pementasan, sehingga tuntutan dialog berdasarkan naskah drama tercapai. Ketiga, bagi penelitian selanjutnya, peneliti dapat melakukan penelitian lanjutan pada ketersampaian pesan naskah drama terhadap penonton pementasan drama. Selain itu, peneliti selanjutnya juga dapat melakukan telaah naskah drama dengan kajian psikolinguistik yang berfokus pada struktur sintaktik dan semantik dialog
penggunaan gaya bahasa dalam teks anekdot karya siswa kelas X MAN Wlingi Blitar Tahun ajaran 2016/2017
ABSTRAK Cahyanti, Ervina Dwi. 2017. Penggunaan Gaya Bahasa Dalam Teks Anekdot Karya Siswa Kelas X MAN Wlingi Blitar Tahun Ajaran 2016/2017. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Drs. Pidekso Adi, M.Pd. Kata kunci: gaya bahasa, gaya bahasa retoris, gaya bahasa kiasan, teks anekdot Gaya bahasa merupakan salah satu hal yang menarik dalam sebuah karya, khususnya teks anekdot. Gaya bahasa juga dapat menilai kepribadian pengarang dengan penggunaan bahasanya. Oleh karena itu, pengajaran bahasa kepada siswa sangatlah penting untuk mengembangkan kosa kata siswa. Membuat suatu bahasa tidaklah mudah saat proses menulis, apalagi jika bahasa tersebut bermaksud untuk menyindir. Oleh karena itu, penggunaan bahasa tersebut harus sesuai dengan tema dan struktur pada teks anekdot. Penelitian ini mengkaji penggunaan gaya bahasa dalam struktur teks anekdot yang ditulis oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya bahasa teks anekdot karya siswa kelas X MAN Wlingi Blitar. Penelitian ini dapat memberikan kegunaan secara teoritis sebagai penunjang teori bahasa Indonesia terutama kelas X SMA/MAN/SMK dan praktis dijadikan masukan bagi para pendidik untuk mengarahkan peserta didik dalam menulis teks anekdot dengan unsur gaya bahasa didalamnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dalam penelitian berupa gaya bahasa retoris dan gaya bahasa kiasan. Sumber data penelitian ini adalah teks anekdot karya siswa kelas X MAN Wlingi Blitar. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan teknik dokumen. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Analisis data yang dilakukan meliputi proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik pengecekan keabsahan data temuan yang dilakukan adalah ketekunan pengamatan. Berdasarkan hasil penelitian ini dikemukakan dua hasil. Pertama, gaya bahasa retoris. Dari 29 data yang dianalisis terdapat beberapa gaya bahasa yang digunakan dalam teks anekdot: struktur orientasi terdapat gaya bahasa aliterasi, gaya bahasa asonansi, gaya bahasa prolepsis, dan gaya bahasa hiperbola; struktur reaksi terdapat gaya bahasa apofasis, gaya bahasa eufemismus, gaya bahasa pleonasme dan teutologi, gaya bahasa erotesis, dan gaya bahasa paradoks; struktur krisis terdapat gaya bahasa elipsis, gaya bahasa perifrasis, dan gaya bahasa silepsis dan zeugma. Kedua, gaya bahasa kiasan. Dari 29 data yang dianalisis terdapat beberapa gaya bahasa yang digunakan dalam teks anekdot: struktur orientasi terdapat gaya bahasa simile, dan gaya bahasa hipalase; struktur krisis terdapat gaya bahasa ironi, sinisme, dan sarkasme; struktur koda terdapat gaya bahasa satire dan gaya bahasa inuendo. Berdasarkan hasil penelitian ini, dikemukakan dua saran. Pertama, disarankan kepada guru Bahasa Indonesia kelas X MAN Wlingi Blitar untuk melatih siswa menuliskan gaya bahasa dalam teks anekdot agar terjadi perbaikan pada proses belajar mengajar selanjutnya. Kedua, siswa disarankan agar lebih banyak berlatih menuliskan gaya bahasa dalam teks anekdot serta lebih banyak mengenal gaya bahasa sehingga siswa dapat lebih terampil dalam menulis teks anekdot dengan gaya bahasa yang tepat