SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Teks Tanggapan Kritis dalam Surat Kabar Harian Jawa Pos (Online)
ABSTRAK Pratama, Reca Fitry. 2017. Teks Tanggapan Kritis dalam Surat Kabar Harian Jawa Pos (Online). Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, FS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. Dawud, M.Pd. Kata kunci: wujud tanggapan kritis, teks tanggapan kritis Teks tanggapan kritis adalah teks yang menyajikan pandangan penulis berdasarkan satu sisi dari permasalahan yang menurut penulis dianggap kurang sesuai. Teks tanggapan kritis bertujuan untuk menyebarluaskan suatu teks dari sudut pandang tertentu. Teks tanggapan kritis juga berkaitan erat dengan proses berbicara dalam menanggapi suatu permasalahan secara kritis. Hal ini menyebabkan dalam teks tanggapan kritis terdapat kalimat dan/atau paragraf yang berisi tanggapan berupa komentar terhadap suatu hal yang menurut penulis dianggap salah. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji wujud tanggapan kritis dan tataan wujud tanggapan kritis dalam teks. Secara khusus, penelitian ini mengkaji (1) wujud tanggapan kritis berupa kritik, saran, ajakan, dan pendapat penulis; dan (2) tataan wujud tanggapan kritis beralaskan kritik, ajakan, dan pendapat penulis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitiannya adalah analisis wacana. Data penelitian ini berupa kalimat dan/atau paragraf yang didalamnya terdapat wujud tanggapan kritis. Sumber data penelitian ini adalah teks tanggapan kritis surat kabar harian Jawa Pos (online). Dalam penelitian ini, peneliti bertugas sebagai pengumpul data, pengolah data, dan penganalisis data. Pada penelitian ini analisis data meliputi empat tahap, yaitu deskripsi dan reduksi data, penafsiran data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini memperoleh empat wujud tanggapan kritis dan tiga tataan wujud tanggapan kritis. Pada wujud tanggapan kritis dapat dibagi atas kritik, saran, ajakan, dan pendapat penulis. Pada tataan wujud tanggapan kritis dibedakan menjadi (1) tataan wujud tanggapan kritis beralaskan kritik, (2) tataan wujud tanggapan kritis beralaskan ajakan, (3) tataan wujud tanggapan kritis beralaskan pendapat penulis. Wujud tanggapan kritis berupa kritik dapat diklasifikasikan berdasarkan sasaran pelaku, keadaan, dan kebijakan. Wujud tanggapan kritis berupa kritik sasaran (1) pelaku digunakan untuk mengemukakan penilaian terhadap seseorang yang menurut penulis dianggap kurang sesuai; (2) keadaan digunakan untuk mengemukakan penilaian terhadap situasi yang menurut penulis dianggap kurang sesuai; (3) kebijakan digunakan untuk mengemukakan penilaian terhadap kebijaksanaan yang dibuat oleh seseorang yang menurut penulis dianggap kurang sesuai. Wujud tanggapan kritis berupa saran dapat diklasifikasikan berdasarkan sasaran pelaku, keadaan, dan kebijakan. Wujud tanggapan kritis berupa saran sasaran (1) pelaku digunakan untuk memaparkan alasan penyelesaian masalah seseorang; (2) keadaan digunakan untuk memaparkan alasan penyelesaian masalah situasi; (3) kebijakan digunakan untuk memaparkan alasan penyelasaian masalah kebijaksaan. Wujud tanggapan kritis berupa ajakan hanya memiliki sasaran pelaku. Hal ini disebabkan pada wujud tanggapan kritis berupa ajakan hanya ditujukan untuk seseorang. Wujud tanggapan kritis berupa ajakan sasaran pelaku digunakan untuk mengungkapkan suatu perintah untuk melakukan sesuatu. Wujud tanggapan kritis berupa pendapat penulis dapat diklasifikasikan berdasarkan pelaku dan keadaan. Wujud tanggapan kritis berupa pendapat penulis sasaran (1) pelaku digunakan untuk memaparkan pernyataan berisi informasi terhadap seseorang berdasarkan pemikiran penulis; (2) keadaan digunakan untuk memaparkan pernyataan berisi informasi terhadap situasi berdasarkan pemikiran penulis. Terdapat tiga alas dalam tataan wujud tanggapan kritis, yakni kritik, ajakan, dan pendapat penulis. Tatan wujud tanggapan kritis beralaskan kritik dapat diklasifikasikan berdasarkan sasaran pada alas wujud tanggapan kritis berupa kritik yang digunakan, yakni pelaku, keadaan, dan kebijakan. Tataan wujud tanggapan kritis beralaskan ajakan dapat diklasifikasikan berdasarkan sasaran pada alas wujud tanggapan kritis berupa ajakan yang digunakan, yakni pelaku. Tataan wujud tanggapan kritik beralaskan pendapat penulis dapat diklasifikasikan berdasarkan sasaran pada alas wujud tanggapan kritis berupa pendapat penulis yang digunakan, yakni pelaku dan keadaan. Saran yang diajukan peneliti berdasarkan hasil penelitian kepada praktisi pembinaan dan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah, yakni penyusun buku teks, guru bahasa Indonesia, dan peneliti tanggapan kritis. Penyusun buku teks bahasa Indonesia dapat menggunakan penelitian ini sebagai tambahan referensi untuk menekankan pembinaan menyusun tanggapan kritis dalam pengajaran bahasa Indonesia. Bagi guru bahasa Indonesia dalam menjelaskan, menyampaikan, dan melatih tanggapan kritis hendaknya memperhatikan wujud tanggapan kritis yang digunakan dalam teks, yakni kritik, saran, ajakan, dan pendapat penulis. Bagi peneliti dalam meneliti tanggapan kritis, khususnya wujud tanggapan kritis dan tataan wujud tanggapan kritis peneliti dapat memperoleh hasil yang lebih mendalam tentang tanggapan kritis
Penggunaan Referensi pada Teks Eksposisi Karangan Siswa Kelas X SMA Negeri 07 Malang
ABSTRAK Wacana yang baik adalah wacana yang kohesif dan koheren.Wacana yang kohesif dan keheren adalah wacana yang utuh dan padu agar pembaca dapat menangkap maksud yang disampaikan penulis. Untuk mengetahui keutuhan dan kepaduannya, wacana membutuhkan suatu penanda, salah satunya adalah penanda kohesi. Salah satu peanda kohesi adalah kohesi gramatikal jenis referensi. Penggunaan referensi sangat berpengaruh dalam pembentukan wacana yang utuh dan padu. Penggunaan referensi dalam suatu kajian wacana dapat dilihat dalam bentuk karangan tulis. Karangan tulis yang terdapat di jenjang SMA adalah karangan eksposisi. Penelitian ini digunakan untuk memperoleh deskripsi objektif tentang penggunaan referensi dalam teks eksposisi karangan siswa.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. teknik yang digunakan adalah studi dokumentasi atau kajian teks. Data penelitian ini berwujud penanda referensi yang terdapat dalam teks eksposisi karya siswa. Sumber data berupa teks eksposisi karya siswa kelas X SMA Negeri 07 Malang. Analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Prosedur pengumpulan datanya dilakukan dengan teknik observasi dan tes menulis.Berdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian berikut. Pertama, penggunaan penanda referensi persona yang ditemukan menggunakan bentuk pronominal persona enklitik –nya, pronominal persona pertama jamak kita, dan penyebutan ulang nomina yang dirangkai dengan pemarkah takrif. Penggunaan referensi persona dengan bentuk pronominal persona enklitik –nya digunakan dalam hubungan referensi antarkalimat maupun intrakalimat yang mengacu pada subjek atau objek yang dibicarakan. Referensi persona dengan bentuk pronominal persona pertama jamak kita bersifat eksoforis yang mengacu pada pembaca dan penulis yang terdapat di luar teks. Referensi persona dengan bentuk penyebutan ulang nomina yang dirangkai dengan pemarkah takrif (ini, itu, tersebut) lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan referensi persona dengan bentuk lain. Kedua, penggunaan referensi demonstrativa yang ditemukan menggunakan bentuk frase dengan demikian, hal ini, hal tersebut, sementara itu. Referensi demonstrativa dengan bentuk frase dengan demikian banyak ditemukan di bagian kesimpulan teks eksposisi untuk memberikan penegasan ulang terhadap topik yang sudah dibicarakan. Penggunaan referensi demonstrativa dengan menggunakan bentuk frase hal ini, hal tersebut, sementara itu digunakan untuk mnegacu pada hal/ihwal yang dibicarakan sebelumnya. Peda penlitian ini juga ditemukan referensi demonstrativa yang bersifat eksoforis yang mengacu pada tempat di luar teks seperti di bumi ini. Ketiga¸ penggunaan referensi komparatif yang ditemukan menggunakan bentuk frase selain itu dan kata selain. Penggunaan referensi komparatif dengan bentuk frase selain itu banyak ditemukan dalam hubungan referensi antarkalimat. Referensi tersebut digunakan untuk menyebutkan kesamaan yang dimiliki referensi dengan referennya. Referensi komparatif dengan bentuk frase selain ditemukan dalam hubungan referensi intrakalimat yang juga digunakan untuk menyebutkan kesamaan atau kemiripan yang dimiliki referensi dengan referennya. Saran penelitian ini ditujukan pada pertama, saran ditujukan kepada peneliti lain. Peneliti yang lain disarankan agar mengkaji lebih dalam tentang penanda kohesi yang lain, khususnya bidang wacana yang berkaitan dengan kohesi dan koherensi dalam wacana di dalam hasil karya tulis siswa, masih banyak hal-hal menarik untuk dijadikan bahan-bahan penelitian. Penelitian yang bisa dilakukan, misalnya penelitian penggunaan kohesi pada artikel ilmiah yang dikerjakan siswa. Kedua, saran ditujukan kepada guru bidang studi Bahasa Indonesia. Guru bidang studi Bahasa Indonesia disarankan agar hasil dari penelitian ini dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan sumber belajar, khususnya yang berkaitan dengan penggunaan referensi maupun penanda kohesi yang lain agar keterampilan siswa dalam menulis tidak hanya kohesif saja tapi juga koheren
SPIRITUALITAS TOKOH DALAM NOVEL MAYA KARYA AYU UTAMI
ABSTRAK Fidareni, Silmi Amalia. 2017. Spiritualitas Tokoh dalam Novel Maya Karya Ayu Utami. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M. Pd. Kata Kunci: spiritualitas, tokoh, novel Sebagai endapan kejiwaan pengarang, di dalam novel dapat dijumpai peristiwa-peristiwa kejiwaan, salah satunya adalah spiritualitas. Maslow (1968) mendefinisikan spiritualitas sebagai sebuah tahapan aktualisasi diri. Selanjutnya, ia mengungkapkan bahwa spiritualitas adalah suatu pengalaman puncak, sesuatu yang tinggi, dan sesuatu terjauh yang dapat dicapai oleh manusia. Lewat pendapat Maslow tersebut, Elkins (1988) melakukan penelitian lebih lanjut mengenai aspek-aspek yang membentuk spiritualitas. Aspek-aspek tersebut terdiri atas kepercayaan akan dimensi transenden, makna dan tujuan dalam hidup, misi hidup, kesakralan hidup, nilai-nilai material, altruisme, idealisme, kesadaran akanmakna tragedi dalam hidup, dan buah spiritualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeksripsikan aspek spiritualitas Elkins yang ada pada tokoh utama dan tokoh tambahanpada novel Maya karya Ayu Utami. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa monolog, dialog, dan narasi yang berkaitan dengan aspek-aspek spiritualitas tokoh yang ada dalam novel. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel berjudul Maya karya Ayu Utami. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama yang disertai dengan instrumen pendukung berupa instrumen pengumpul data aspek spiritualitas tokoh untuk mengumpulkan dan menginterpretasikan data penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan cara membaca novel yang diteliti secara mendalam dan berulang, melakukan identifikasi, mencatat data-data yang relevan, dan melakukan klasifikasi serta interpretasi data. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara mendiskusikan dengan dosen pembimbing dan teman sejawat. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh tiga simpulan sebagai berikut. Pertama, tokoh pada novel Maya karya Ayu Utami dibagi menjadi dua, yakni tokoh utama dan tokoh tambahan utama. Tokoh utama terdiri atas tokoh Yasmin dan Maya. Tokoh tambahan utama terdiri atas tokoh Saman dan Suhubudi. Pada tokoh-tokoh tersebut ditemukan aspek-aspek spiritualitas menurut teori Elkins. Kedua, berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa spiritualitas tokoh Yasmin lebih dominan daripada tokoh yang lain. Pada tokoh Yasmin ditemukan enam dari sembilan aspek-aspek spiritualitas menurut teori Elkins dengan total tujuh belas data pendukung. Pada tokoh Maya ditemukan enam dari sembilan aspek spiritualitas dengan enam belas data pendukung. Aspek yang ditemukan pada tokoh Yasmin dan tidak ditemukan pada tokoh Maya adalah aspek altruisme dan aspek buah atau hasil spiritualitas. Aspek yang ditemukan pada tokoh Maya dan tidak ditemukan pada tokoh Yasmin adalah aspek idealisme dan aspek kesakralan hidup. Pada tokoh Saman ditemukan delapan aspek spiritualitas dengan empat belas data pendukung. Pada tokoh Suhubudi ditemukan enam aspek spiritualitas dengan sembilan data pendukung. Aspek yang ditemukan pada tokoh Saman dan tidak ditemukan pada tokoh Suhubudi adalah aspek makna dan tujuan dalam hidup dan aspek misi hidup. Ketiga, aspek spiritualitas yang lebih dominan dalam novel Maya adalah aspek kepercayaan akan dimensi transenden. Aspek ini ditemukan dalam wujud percaya kepada Tuhan dan percaya pada dimensi transenden. Aspek makna dan tujuan hidup ditemukan dalam dua wujud, yakni pemaknaan kehidupan dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Aspek kesadaran akan makna tragedi dalam hidup ditemukan dalam wujud memaknai tragedi untuk membuat dirinya menjadi lebih baik. Aspek altruisme ditemukan dalam wujud peduli dan bertanggung jawab terhadap kesusahan orang lain serta sikap mengutamakan orang lain.Aspek misi hidup ditemukan dalam wujud melakukan tindakan konkret untuk mewujudkan tujuan. Aspek idealisme ditemukan dalam wujud kepercayaan akan prinsip hidup yang dianggap benar. Aspek kesakralan hidup ditemukan dalam wujud menyadari dan menghormati dimensi sakral kehidupan. Aspek nilai-nilai material diwujudkan dalam bentuk penghargaan akan hal-hal material tanpa mengutamakannya dan aspek buah atau hasil spiritualitas diwujudkan dalam bentuk memiliki pandangan hidup baru sebagai hasil berbagai peristiwa hidup dan dapat memilah hal yang berguna dan tidak berguna dalam hidup. Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini ditujukan kepada peneliti selanjutnya dan pembaca sastra. Pertama, bagi peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian mengenai spiritualitas tokoh dalam novel-novel karya Ayu Utami diharapkan dapat melakukan perbandingan spiritualitas pada novel-novel tersebut menggunakan satu teori inti. Dengan penelitian tersebut diharapkan dapat ditemukan kekhasan pengarang dalam menyampaikan pesan spiritualitas pada tiap-tiap tokoh dalam novel yang berbeda dengan pengarang yang sama. Kedua, bagi pembaca sastra, diharapkan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai sarana memahami spiritualitas, terutama yang disampaikan dalam novel, untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat menggali spiritualitas dalam diri dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Pengungkap Ekspresif Bahasa Indonesia Siswa Phrateepsaart Islam Vittya Mulnithi School Thepa Thailand 2016
ABSTRAK Suwignyo, Hanum Lintang Siwi. 2017. Pengungkap Ekspresif Bahasa Indonesia Siswa Phrateepsaart Islam Vittya Mulnithi School Thepa Thailand 2016. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd. Kata Kunci: pengungkap ekspresif, bahasa Indonesia, siswa ThailandPada umumnya bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Untuk mencapai tujuan itu, bahasa dijadikan sebagai sarana untuk menggambarkan suasana batin penuturnya. Hal tersebut dapat ditelusuri lewat pengungkap ekspresif yang digunakan oleh penutur bahasa seperti rasa senang, syukur, peduli, sesal, suka, dsb. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi pengungkap ekspresif: (1) pengungkap maaf, (2) pengungkap selamat, (3) pengungkap salam, (4) pengungkap terima kasih, (5) pengungkap harapan, dan (6) pengungkap pujian.Data penelitian ini adalah tuturan ekspresif Bahasa Indonesia siswa sekolah Phrateepsaart Islam Vittya Mulnithi School Thepa, Songklha, Thailand Selatan pada tahun 2016. Data tentang bentuk dan fungsi pengungkap eskpresif dikumpulkan melalui prosedur: (1) memberikan tugas kepada siswa untuk menuliskan kesan pesan terhadap guru, (2) membaca, (3) mengidentifikasi dan megklasifikasi pengungkap ekspresif menjadi enam, yakni pengungkap maaf, maaf, selamat, salam, terima kasih, harapan, dan pujian, serta (4) menandai dan memasukkan data tersebut ke dalam instrumen pengumpulan data.Temuan penelitian ini adalah seluruh bentuk dan fungsi pengungkap ekspresif diungkapkan secara langsung atau tersurat sesuai sesuai dengan fungsi yang seharusnya, seperti: 1) saya buat apa salah saya mohon maaf T. Hanum difungsikan untuk mengekspresikan rasa sesal, 2) Hanum balik Indonesia dan selamat jalan difungsikan untuk mengungkapkan rasa senang atas hal baik yang diterima mitra tutur, 3) saya suka hati nampak guru Hanum difungsikan untuk mengekspresikan rasa suka dan senang karena telah melihat atau bertemu dengan mitra tutur, 4) saya terimakaseh T. Hanum banyak-banyak difungsikan untuk mengekspresikan rasa syukur atas bantuan atau sesuatu yang diberikan mitra tutur,5) Saya harap Teacher Hanum pulang ke Indonesia keadaan yang baik dan harap Teacher Hanum mengaji tinggi-tinggi yang buat pekerya yang baik. Apabila teacher balik ke Indo teacher yangan lupa ingat anak sekolah dan yangan balik magi di Thailand lagi! yang difungsikan untuk mengekspresikan rasa peduli penutur terhadap mitratutur, dan 6) Saya suka Teacher Hanum karena T. Hanum baik apa bila jumpa murid-muird T. Hanum ska senyum atau ada cakappan yang baik. T. Hanum membuat memberi saya atau murid-mird semua sukahati yang difungsikan untuk mengekpspresikan rasa suka dan kagum penutur terhadap mitra tutur.Kesimpulan penelitian ini adalah dalam mengekspresikan suasana batinnya, siswa-siswi Thailand menggunakan bentuk dan fungsi pengungkap ekspresif yang sejajar, yakni: (1) bentuk pengungkap maaf difungsikan untuk mengekspresikan rasa sesal (2) bentuk pengungkap selamat difungsikan untuk mengekpsresikan rasa suka dan senang atas kabar baik yang diterima mitra tutur, (3) bentuk pengungkap salam untuk difungsikan mengekspresikan rasa senang karena telah bertemu dan pernah tinggal dengan mitra tutur, (4) bentuk pengungkap terima kasih difungsikan untuk mengekspresikan rasa syukur, (5) bentuk pengungkap harapan difungsikan untuk mengekspresikan rasa peduli terhadap mitra tutur, dan (6) bentuk pengungkap pujian difungsikan untuk mengekspresikan rasa suka dan kagum penutur terhadap mitra tutur. Kesejajaran penggunaan bentuk dan fungsi pengungkap ekspresif siswa Phrateepsaart Islam Vittya Mulnithi School Thepa Thailand Tahun 2016 disebabkan karena seluruh penuturnya berada pada tingkat pemula awal, sehingga mereka belum bisa mengungkapkan suasana batinnya dengan cara yang berbeda dan strategi penyampaian tuturan yang lebih bervariasi
Kalimat Bahasa Indonesia Anak Autis di Sekolah Autis Lab UM
ABSTRAK Sari, Purnama. 2014. Kalimat Bahasa Indonesia Anak Autis di Sekolah Autis Lab UM. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Program Studi S-1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali. M.Pd. Kata kunci: anak autis, gangguan berbahasa, struktur kalimat, konteks kalimatAutis merupakan sebutan bagi individu yang mengalami gangguan interaksi sosial, komunikasi, perilaku repetitif dan stereotip (termasuk dalam perkembangan pervasif). Gejala gangguan berkomunikasi pada anak autis adalah kurangnnya kontak mata, meracau atau berbicara sendiri, membeo, menginginkan sesuatu dengan isyarat. Dalam kurun waktu terakhir ini, penelitian tentang perkembangan Bahasa Indonesia anak autis belum ada. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai kalimat Bahasa Indonesia anak autis.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup (1) struktur kalimat yang diproduksi oleh anak autis, (2) penggunaan kalimat pada bahasa lisan anak autis.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa paparan kebahasaan dalam bentuk audio dan visual yang diperoleh dari hasil observasi, kemudian ditranskip ke dalam bentuk tulisan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik oservasi, wawancara tak terstruktur, elisitas dan perekaman. Istrumen yang digunakan berupa pedoman perekaman dan instrumen pemancingan data. Kegiatan analisis data dimulai dari transkripsi fonemis, identifikasi data (meracau, membeo, menjawab), seleksi data, mengklasifikasi berdasarkan jumlah kata, menganalisis (berdasarkan jumlah kalimat, fungsi, struktur, serta konteks yang menyertai), dan menyimpulkan.Subjek penelitian adalah lima anak autis dari Sekolah Autis Laboratorium Universitas Negeri Malang. Informan tersebut adalah siswa kelas IB Proksus (1 anak umur 8 tahun), IIA (1 anak umur 8 tahun), IIIA (2 anak umur 9 tahun dan 15 tahun), dan VIA (1 anak umur 16 tahun).Hasil temuan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua. Pertama, pada struktur kalimat yang diproduksi oleh anak autis terdapat tiga hal yaitu (1) kalimat satu kata yang tersusun atas satu fungsi kalimat yang telah diproduksi keempat subjek, dan (2) kalimat dua kata yang tersusun atas dua fungsi kalimat yang telah mampu diproduksi oleh ketiga subjek. (3) kalimat tiga kata yang tersusun atas tiga fungsi kalimat yang telah digunakan oleh satu subjek saja Jadi, terdapat dua subjek yang belum mampu memproduksi kalimat dua kata, meskipun subjek tersebut telah berumur 8 tahun dan 15 tahun. Kedua, konteks yang menyertai kalimat. Telah ditemukan tujuh macam fungsi konteks yang menyertai kalimat anak autis, yaitu (1) meminta sesuatu, (2) meminta perhatian, (3) menolak, (4) menyatakan keinginan, (5) bertanya, (6) menyuruh, dan (7) mengajak. Pola kalimat anak autis pada kelima subjek memang sering tidak lengkap dan kreatifitasnya belum muncul. Kelengkapan serta makna kalimat akan semakin terlihat apabila berada di dalam kontek
Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Berpikir-Berbicara-Menulis terhadap Kemampuan Menulis Teks Diskusi Siswa Kelas 8 SMP
ABSTRAK Asnawi, Fatma Agustin. 2017. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Berpikir-Berbicara-Menulis (BBM)dan Media Gambar terhadap Kemampuan Menulis Teks Diskusi Siswa Kelas VIII SMP. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Muakibatul Hasanah, M. Pd. Kata Kunci: model pembelajaran BBM, media gambar, kemampuan menulis, teks diskusi.Keterampilan menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Pada pelajaran Bahasa Indonesia, salah satu teks yang diajarkan di kelas VIII adalah teks diskusi. Salah satu kendala siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Malang dalam pembelajaran menulis teks diskusi adalah kesulitan dalam menuangkan argumen-argumen ke dalam bentuk tulisan. Guru harus pandai memilah dan memilih model pembelajaran yang sesuai dengan aspek pembelajaran. Selain itu, penggunaan media pembelajaran juga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran menulis teks adalah model pembelajaran Berpikir-Berbicara-Menulis. Selain itu, media pembelajaran dianggap efektif digunakan dalam pembelajaran menulis. Beberapa penelitian juga menyebutkkan bahwa model pembelajaran TTW atau BBM dan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu mengetahui (1) pengaruh penggunaan model pembelajaran BBM terhadap kemampuan menulis teks diskusi siswa dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa, dan (2) pengaruh penggunaan model pembelajaran BBM dan media gambar terhadap kemampuan menulis teks diskusi dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain control group pretes-postes design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Malang, sedangkan sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII C sebagai kelompok kontrol, siswa kelas VIII B sebagai kelompok eksperimen 2, dan siswa kelas VIII D sebagai kelompok eksperimen 1. Siswa kelompok eksperimen 2 diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran BBM dan media gambar, siswa kelompok eksperimen 1 diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran BBM, sedangkan siswa kelompok kontrol diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran konvensional (ceramah).Hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama, terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran BBM terhadap kemampuan menulis teks diskusi dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa. Hal ini berdasarkan hasil uji hipotesis one way anova yang menunjukkan nilai signifikansi (0,001) > 0,05 atau Fhitung (12,670) 0,05 atau Fhitung (7,581) < Ftabel (3,087) pada aspek struktur teks, dan (0,044) < 0,05 atau Fhitung (4,214) < Ftabel (3,087) pada aspek bahasa. Peningkatan nilai rata-rata kelas eksperimen 1 meningkat sebesar 6,09% pada aspek isi, 24,04% pada aspek struktur teks, dan 14,99% pada aspek bahasa.Kedua, terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran BBM dan media gambar terhadap kemampuan menulis teks diskusi dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa. Hal ini berdasarkan hasil uji hipotesis one way anova yang menunjukkan nilai signifikansi (0,000) < 0,05 atau Fhitung (18,332) < Ftabel (3,087) pada aspek isi, (0,000) < 0,05 atau Fhitung (27,040) < Ftabel (3,087) pada aspek struktur teks, dan (0,000) < 0,05 atau Fhitung (10,221) < Ftabel (3,087) pada aspek bahasa. Peningkatan nilai rata-rata kelas eksperimen 2 meningkat sebesar 9,25% pada aspek isi, 37,59% pada aspek struktur teks, dan 35,87% pada aspek bahasa.Hasil penelitian tersebut dapat disarankan kepada guru dan peneliti lain. Kepada guru, disarankan untuk menggunakan model pembelajaran BBM dan media gambar dalam pembelajaran menulis. Kepada peneliti lain, disarankan untuk melakukan penelitian menggunakan model pembelajaran BBM dan media gambar dalam kegiatan menulis teks dengan jenis teks yang berbeda.
Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Berpikir-Berbicara-Menulis terhadap Kemampuan Menulis Teks Diskusi Siswa Kelas 8 SMP
ABSTRAK Asnawi, Fatma Agustin. 2017. Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Berpikir-Berbicara-Menulis (BBM)dan Media Gambar terhadap Kemampuan Menulis Teks Diskusi Siswa Kelas VIII SMP. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Muakibatul Hasanah, M. Pd. Kata Kunci: model pembelajaran BBM, media gambar, kemampuan menulis, teks diskusi. Keterampilan menulis merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Pada pelajaran Bahasa Indonesia, salah satu teks yang diajarkan di kelas VIII adalah teks diskusi. Salah satu kendala siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Malang dalam pembelajaran menulis teks diskusi adalah kesulitan dalam menuangkan argumen-argumen ke dalam bentuk tulisan. Guru harus pandai memilah dan memilih model pembelajaran yang sesuai dengan aspek pembelajaran. Selain itu, penggunaan media pembelajaran juga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Salah satu model pembelajaran yang diterapkan dalam pembelajaran menulis teks adalah model pembelajaran Berpikir-Berbicara-Menulis. Selain itu, media pembelajaran dianggap efektif digunakan dalam pembelajaran menulis. Beberapa penelitian juga menyebutkkan bahwa model pembelajaran TTW atau BBM dan media gambar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu mengetahui (1) pengaruh penggunaan model pembelajaran BBM terhadap kemampuan menulis teks diskusi siswa dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa, dan (2) pengaruh penggunaan model pembelajaran BBM dan media gambar terhadap kemampuan menulis teks diskusi dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian eksperimen semu dengan desain control group pretes-postes design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Malang, sedangkan sampel penelitian ini adalah siswa kelas VIII C sebagai kelompok kontrol, siswa kelas VIII B sebagai kelompok eksperimen 2, dan siswa kelas VIII D sebagai kelompok eksperimen 1. Siswa kelompok eksperimen 2 diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran BBM dan media gambar, siswa kelompok eksperimen 1 diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran BBM, sedangkan siswa kelompok kontrol diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran konvensional (ceramah). Hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama, terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran BBM terhadap kemampuan menulis teks diskusi dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa. Hal ini berdasarkan hasil uji hipotesis one way anova yang menunjukkan nilai signifikansi (0,001) > 0,05 atau Fhitung (12,670) 0,05 atau Fhitung (7,581) < Ftabel (3,087) pada aspek struktur teks, dan (0,044) < 0,05 atau Fhitung (4,214) < Ftabel (3,087) pada aspek bahasa. Peningkatan nilai rata-rata kelas eksperimen 1 meningkat sebesar 6,09% pada aspek isi, 24,04% pada aspek struktur teks, dan 14,99% pada aspek bahasa.Kedua, terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran BBM dan media gambar terhadap kemampuan menulis teks diskusi dari aspek isi, struktur teks, dan bahasa. Hal ini berdasarkan hasil uji hipotesis one way anova yang menunjukkan nilai signifikansi (0,000) < 0,05 atau Fhitung (18,332) < Ftabel (3,087) pada aspek isi, (0,000) < 0,05 atau Fhitung (27,040) < Ftabel (3,087) pada aspek struktur teks, dan (0,000) < 0,05 atau Fhitung (10,221) < Ftabel (3,087) pada aspek bahasa. Peningkatan nilai rata-rata kelas eksperimen 2 meningkat sebesar 9,25% pada aspek isi, 37,59% pada aspek struktur teks, dan 35,87% pada aspek bahasa. Hasil penelitian tersebut dapat disarankan kepada guru dan peneliti lain. Kepada guru, disarankan untuk menggunakan model pembelajaran BBM dan media gambar dalam pembelajaran menulis. Kepada peneliti lain, disarankan untuk melakukan penelitian menggunakan model pembelajaran BBM dan media gambar dalam kegiatan menulis teks dengan jenis teks yang berbeda
Problematika Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Jenjang Sekolah Menengah Atas di Kota Malang
ABSTRAK Mirwan, Trisnadi. 2017. Problematika Implementasi Gerakan Literasi Sekolah Jenjang Sekolah Menengah Atas di Kota Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malng. Pembimbing Dr. Hj. Titik Harsiati, M.Pd Kata Kunci: gerakan literasi sekolah,problematika, sekolah menengah atasGerakan Literasi Sekolah merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Penerapan GLS di lapangan mengalami problematika dalam tahap-tahap penerapannya, yakni tahap pembiasaan, tahap pengembangan dan tahap pembelajaran. Oleh karena itu, fokus dari penelitian ini yakni mendekripsikan (1) implementasi dan problematika gerakan literasi sekolah pada tahap pembiasaan, (2) implementasi dan problematika gerakan literasi sekolah pada tahap pengembangan dan (3) implementasi dan problematika gerakan literasi sekolah pada tahap pembelajaran.Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di lima sekolah menengah atas di Kota Malang. Sumber data guru, petugas perpustakaan, siswa kelas X, XI dan XII sebagai narasumber, perpustakaan, dan dokumen data buku. Instrumen penilaian meliputi pedoman observasi, pedoman wawancara, angket siswa, dan pedoman analisis dokumen. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara, angket dan studi dokumentasi. Wujud data penelitian ada lima, yaitu (1) hasil wawancara guru, petugas perpustakaan, tim literasi dan wawancara siswa, (2) hasil wawanacara guru dan tim literasi sekolah mengenai kegiatan literasi di sekolah, tahap kegiatan literasi dan minat baca siswa, (3) hasil wawancara perpustakaan mengenai kegiatan literasi di perpustakaan, (4) pendapat siswa mengenai minat baca yang terekam dalam transkrip wawancara dan hasil analisis angket, (5) ragam buku dan keadaan di perpustakaan yang terekam dalam bentuk dokumen. Teknik analisis data yang dilakukan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian problematika implementasi pada tahap pembiasaan dibagi menjadi empat hal yaitu sumber buku, ragam buku, kegiatan membaca dan lingkungan literasi. Problematika sumber buku berupa kurangnya pemerolehan bahan bacaan bersumber dari luar perpustakaan sekolah. Selain itu, pengadaan lingkungan literasi dalam rangka pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik yakni buku-buku nonpelajaran yang masih kurang. Selanjutnya, pengawasan dan penerapan kegiatan literasi membaca di awal pembelajaran masih dikesampingkan demi pembelajaran. Permasalahan fasilitas literasi berupa area baca, sudut baca, poster literasi dan perpustakaan sekolah. Area baca dan sudut baca yang belum tersedia, poster gerakan membaca masih kurang di lingkungan sekolah dan permasalahan perpustakaan yaitu penataan ruang, sistem aplikasi dan sumber daya manusia.Problematika tahap pengembangan gerakan literasi sekolah dibagi menjadi dua, yakni iklim literasi sekolah dan pembentukan tim literasi. Problematika tahap pengembangan berupa pelaksanaan iklim literasi yang masih belum menarik minat siswa dikarenakan kegiatan literasi dianggap membosankan. Problematika pembentukan tim literasi yaitu permasalahan efektifitas kegiatan membaca buku nonfiksi agar terjadi keseimbangan antara bahan bacaan fiksi dan nonfiksi. Kegiatan literasi yang dilakukan berulang-ulang setiap hari kegiatan literasi membuat siswa merasa bosan maka dari itu, diperlukan kreativitas atau inovasi dan minat baca siswa yang masih kurang.Problematika tahap pembelajaran berupa kegiatan literasi yang masih belum diterapkan dalam pembelajaran. Selanjutnya, problematika pada tahap ini berupa kerjasama tim literasi yang masih belum bekerjasama dengan pihak orang tua dalam rangka membiasakan siswa membaca buku. Peran orang tua dalam perkembangan literasi siswa dalam mendorong kebiasaan membaca. Penelitian ini bermanfaat bagi pemerintah, kepala sekolah, guru, siswa dan peneliti lain dalam membahas permasalahanpenerapan gerakan literasi sekolah. Bagi pemerintah bermanfaatmembuat kebijakan mempermudah sekolah dalam menerapkan gerakan literasi sekolah Bagi kepala sekolah supaya menerapkan kegiatan literasi lebih kreatif dan menyenangkan bagi siswa di lingkungan sekolah dan membuat kebijakan berupa kegiatan membaca yang dilaksanakan secara rutin. Bagi guru supaya menerapkan kegiatan membaca yang menarik bagi siswa, mengembangkan kemampuan membaca siswa dalam pembelajaran dan memberikan contoh mencintai kegiatan membaca.Bagi siswa supaya mencintai kegiatan membaca buku, sering mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku danmengetahui manfaat dari kegiatan membaca buku.Bagi peneliti lain supaya penelitian ini bisa digunakan sebagai referensi penelitian lain mengenai pelaksanaan gerakan literasi sekolah jenjang sekolah menengah atas
PENGEMBANGAN PROGRAM LITERASI AKADEMIK DI MA MA’ARIF NU BLITAR
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkanprogram pengembangan literasi akademik yang dikemas dalam buku panduan yang mempunyai kualitas(1) aspek deskripsi isi, (2) aspek tampilan, (3) aspek sistematika, dan (4) aspek penggunaan bahasa.Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Desain penelitian ini diadaptasi dari model penelitian Borg and Gall. Skor ratarata yang diperoleh dari aspek isi yaitu 81.2%%. Skor rata-rata yang diperoleh dari aspek tampilan yaitu 80.5%. Skor rata-rata yang diperoleh dari aspek sistematika yaitu 85.5%. Skor rata-rata yang diperoleh dari aspek bahasa yaitu 84.9%
Gilir Tutur Antara Guru dan Siswa dalam Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia Di SMPN 1 Bungah Gresik
ABSTRAK Wahzuni, Kartika Dwi. 2017. Gilir Tutur Antara Guru dan Siswa dalam Proses Pembelajaran Bahasa Indonesia Di SMPN 1 Bungah Gresik. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. Suparno Kata kunci: gilir tutur, struktur gilir tutur, fungsi gilir tutur Guru hendaknya memperhatikan bagaimana memberikan giliran berbicara di kelas, yaitu dengan memberikan kesempatan pada peserta yang menginterupsi, memberikan giliran tanpa diminta, meminta secara pribadi penutur berikutnya (memilih penutur berikutnya), dan meminta pada kelas. Selanjutnya, cara mengambil giliran bicara di kelas dapat dilakukan dengan menerima giliran sebagai tanggapan atas permintaan secara pribadi, mencuri giliran bicara yang sebenarnya diberikan pada orang lain, mengambil alih giliran bicara secara bersama yang ditunjukkan pada umum, mengambil giliran bicara tanpa diminta dan kesempatan yang dimanfaatkan itu memang tersedia, dan mengambil giliran bicara secara pribadi tanpa diminta untuk menunjukkan bahwa dirinya memperhatikannya. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan gilir tutur antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia kelas VIII SMPN 1 Bungah Gresik dengan dua subtujuan yang menyertainya, yaitu mendeskripsikan struktur gilir tutur dan mendeskripsikan fungsi gilir tutur. Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data pada penelitian ini adalah panduan pengambilan data, panduan pencatatan lapangan, panduan transkripsi, dan panduan analisis data. Data yang diperoleh adalah data verbal dari interaksi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Sumber data pada penelitian ini adalah tuturan guru bahasa Indonesia dan siswa kelas VIII SMPN 1 Bungah. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik perekaman menggunakan alat bantu rekam berupa Handphone, selain itu peneliti juga menggunakan teknik pencatatan lapangan. Analisis data dalam penelitian ini adalah sesuai dengan panduan analisis data. Peneliti membaca transkripsi dengan cermat, kemudian data tersebut diidentifikasi, klasifikasi, dan kodefikasi sesuai dengan fokus penelitian. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan struktur gilir tutur dan fungsi gilir tutur. Struktur gilir tutur yang ditemukan adalah pertanyaan-jawaban, pernyataan-pertanyaan, perintah-pertanyaan, pertanyaan-tidak ada jawaban, perintah-penolakan, perintah-persetujuan, pertanyaan-pertanyaan, pertanyaan-pernyataan, dan jawaban-penolakan. Dan fungsi gilir tutur yang ditemukan adalah penanda (marker), pengantar (starter), pemancingan (elicitation), pemeriksaan (chek), direktif, informatif, dorongan (prompt), petunjuk (clue), tawaran (bid), penunjukkan (nominasi), pengakuan (acknowledge), jawaban (reply), reaksi, komentar, persetujuan (accept), evaluasi atau penilaian, tekanan diam (silent stress), Pernyataan mengenai pernyataan (metastatement), dan kesimpulan (konkulsi). ABSTRAK Wahzuni, Kartika Dwi. 2017. Speech Turn Among a Teacher And Student In The Learning Process of Bahasa Indonesia Of Junior High School 1 Bungah Gresik. Thesis. Department of Indonesian Literature. Faculty of Letters. State University of Malang. Advisors: Prof. Dr. H. Suparno Keywords: turn taking, structure of turn taking, function of turn taking Teacher has to pay attention how he gives time to his students to speak such as giving time to students to interrupt, giving their turn to speak without they asked first, choosing the next speaker and asking to the class. Furthermore, the way to take the turn to speak can be done in many ways such as by receiving the turn as a response to personal request, taking over speaking turn of other student, taking over the speaking turn of public, taking speaking turn without being asked and the chance is available, and taking the speaking turn personally to show that they pay attention. This research aims to describe the turn taking among a teacher and students in the learning process of Bahasa Indonesia in 8th grade of SMPN 1 Bungah Gresik with two sub-purposes which are describing structure of turn taking and describing the function of turn taking. This research used qualitative approach while the kind of this research is descriptive research. The instruments that are used to collect and analyze the data in this research are data collection guide, field recording guide, transcription guide and data analysis guide. The data of this research are verbal data taken from the interaction of teacher and students in the learning process. The data source of the research is spoken words from Bahasa Indonesia teacher and students of 8th grade in SMPN 1 Bungah. Data collection used recording technique using handphone as a voice recorder. In addition, the researcher also used field recording technique. The data analysis was equal with data analysis guide. The researcher read the transcription precisely, after that the data was identified, classified and codified according to research focus. Based on the result of data analysis, the researcher found structure of turn taking and function of turn taking. The structure of turn taking that was found are question-answer, pronouncements-question, command-question, question-no answer, command-rejection, command-agreement, question-question, question-pronouncement, and answer-rejection. The function of turn taking that was found are marker, starter, elicitation, checking, directive, informative, prompt, clue, bid, nomination, acknowledge, reply, reaction, comment, accept, evaluation, silent stress, metastatement and conclusion.