SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Pembelajaran Menulis Teks Ulasan Film/Drama Menggunakan Model Problem Posing Learning Siswa Kelas XI SMK Negeri 6 Malang
ABSTRAK Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan proses belajar yang diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Akan tetapi, dewasa ini kondisi pembelajaran bahasa Indonesia berada dalam keadaan mengkhawatirkan, sehingga dapat mengakibatkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak layak ditiru, salah satunya adalah plagiarisme dalam bidang kepenulisan, terutama dalam teks ulasan film/drama.Pembelajaran menulis teks ulasan film/drama di SMK Negeri 6 Malang dilakukan berbeda dengan pembelajaran di tempat lain. Pembelajaran di sekolah ini dilakukan menggunakan model problem posing learning. Model pembelajaran problem posing learningadalah model berupa pengajuan masalah atau soal dari peserta didik berdasarkan informasi yang sudah ada. Hal ini untuk memudahkan siswa dalam mencari topik baru dan menyediakan pemahaman yang lebih mendalam.Berdasarkan hal tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti pembelajaran menulis teks ulasan film/drama menggunakan model problem posing learning.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran menulis teks ulasan film/drama menggunakan model problem posing learning siswa kelas XI SMK Negeri 6 Malang. Kegiatan pembelajaran mencakup perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran menulis teks ulasan film/drama yang dilakukan oleh guru dan siswa kelas XI TKJ 2 SMK Negeri 6 Malang. Pada perencanaan pembelajaran dideskripsikan mengenai komponen yang terdapat dalam RPP dan informasi hasil wawancara perencanaan pembelajaran. Pada pelaksanaan pembelajaran dideskripsikan mengenai kegiatan pembuka, kegiatan inti, kegiatan penutup, dan informasi hasil wawancara pelaksanaan pembelajaran. Pada penilaian pembelajaran dideskripsikan mengenai alat penilaian proses, alat penilaian hasil, dan informasi hasil wawancara penilaian pembelajaran.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Data yang dihimpun dari kegiatan penelitian ini dibedakan menjadi tiap fokus penelitian. Data yang dihimpun dari perencanaan pembelajaran meliputi (1) informasi tentang komponen RPP dan (2) informasi hasil wawancara perencanaan pembelajaran. Data yang dihimpun dari pelaksanaan pembelajaran meliputi transkrip pelaksanaan yang terdiri dari (1) kegiatan pembuka, (2) kegiatan inti, (3) kegiatan penutup, dan (4) informasi hasil wawancara pelaksanaan pembelajaran. Data yang dihimpun dari penilaian pembelajaran meliputi (1) alat penilaian proses, (2) alat penilaian hasil, dan (3) informasi hasil wawancara penilaian pembelajaran. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) RPP, (2) peristiwa pembelajaran, (3) rekaman video pelaksanaan pembelajaran, (4) guru, dan (5) peneliti.Dari analisis data diketahui bahwa pembelajaran menulis teks ulasan film/drama menggunakan model problem posing learning siswa kelas XI SMK Negeri 6 Malangada tiga komponen, yaitu (1) rancangan pelaksanaan pembelajaran yang disusun oleh guru sudah sesuai dengan ketentuan permendikbud, namun pada komponen penilaian dalam rubrik pedoman penskoran penilaian kemampuan menulis teks ulasan film/drama kurang sempurna, hanya mencantumkan kelengkapan struktur dan kurang terperinci, (2) pelaksanaan pembelajaran menulis teks ulasan film/drama menggunakan model problem posing learningmemunculkan pola berupa kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup yang sudah sesuai dengan RPP dan langkah-langkah model problem posing learning, dan (3) penilaian yang dilakukan berupa penilaian proses dan penilaian hasil yang sudah sesuai dengan RPP. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan pembelajaran menulis teks ulasan film/drama yang dilakukan guru SMKN 6 Malang berbeda karena menggunakan model pembelajaran problem posing learning. Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini dibagi menjadi tiga hal, yaitu untuk (1) siswa, (2) guru, dan (3) peneliti selanjutnya. Pertama, saran untuk siswa. Siswa diharapkan lebih aktif dan mandiri dalam menulis teks ulasan film/drama, misalnya menggunakan bahan pustaka lain yang dapat mempermudah dalam menulis teks ulasan film/drama. Kedua, saran untuk guru. Guru disarankan untuk lebih teliti dalam membuat rubrik penilaian dan harus lebih bervariasi dalam memberikan latihan-latihan kepada siswa dalam membuat argumen.Ketiga, peneliti selanjutnya. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode penelitian dan model pembelajaran yang berbeda
Problematika Menulis Puisi Siswa SD Kelas V SDN Kidal Kabupaten Malang
ABSTRAK Rubiah. 2016. Problematika Menulis Puisi Siswa SDN Kidal. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd., (II) Dra. Ida Lestari, M.Si.Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu kemampuan bersastra yang perlu dimiliki oleh seorang siswa. Memiliki kemampuan menulis puisi tidak semudah yang dibayangkan orang. Keluhan terhadap kemampuan menulis puisi banyak terjadi pada siswa khususnya. Kemampuan menulis puisi siswa masih jauh dari memadai. Berbagai aspek yang mempengaruhi kemampuan menulis puisi pada siswa antara lain kurangnya motivasi dalam belajar, siswa kurang mampu mengembangkan ide, kurangnya kosa kata yang dimiliki siswa dan siswa kurang mampu menulis puisi. Dalam menulis puisi, siswa semestinya memperhatikan unsur-unsur yang terdapat di dalam puisi agar puisi yang ditulis menjadi lebih indah. Namun jika siswa tidak mampu menulis puisi dengan memanfaatkan unsur-unsur puisi, hal tersebut mungkin karena adanya faktor-faktor yang membuat siswa merasa kesulitan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan alternatif pemecahan menulis puisi untuk siswa.Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif karena data yang dihasilkan berupa deskripsi tentang problematika menulis puisi siswa kelas V SDN Kidal beserta alternatif pemecahannya. Sumber data utama dalam penelitian ini berupa deskripsi tentang problematika menulis puisi siswa kelas V SDN Kidal yang diperoleh melalui wawancara kepada siswa kelas V SDN Kidal. sumber data pendukung berupa deskripsi angket yang diberikan kepasa siswa. Sedangkan data penunjang dalam penelitian ini berupa deskripsi wawancara dengan guru. Serta dokumen yang digunakan sebagai alternatif pemecahan problematika menulis puisi siswa kelas V SDN Kidal. Data tersebut selanjutnya dianalisis, dideskripsikan, dan diambil kesimpulan.Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Problematika menulis puisi siswa kelas V SDN Kidal terbagi menjadi dua bagian, yaitu problematika pada tahapan menulis puisi dan faktor internal yang menjadi penyebab problematika menulis puisi. Problematika pada tahapan menulis puisi dibagi menjadi tujuh, yaitu pembebasan tema, pembatasan tema, kesulitan merangkai, kesulitan membahasakan ide baru, kesulitan menentukan judul, kesulitan menyesuaikan tema, dan kesulitan menentukan diksi. Faktor internal penyebab problematika menulis puisi oleh siswa adalah motivasi siswa yang kurang dalam menulis puisi serta wawasan siswa yang kurang terhadap manfaat menulis puisi. Dari problematika tersebut dijelaskan mengenai alternatif pemecahannya. Alternatif pemecahan yang bersumber dari guru. Guru menggunakan metode dan media yang menarik dan sesuai dengan pembelajaran.Problematika menulis puisi siswa dapat dilihat ketika pemberian tema. Dalam pemberian tema terdapat siswa yang kesulitan ketika mendapat tema yang bebas sebaliknya ada siswa yang merasa kesulitan saat mendapat tema yang ditentukan. Setelah kesulitan tersebut siswa dihadapkan pada kesulitan merangkai ide yang telah dituangkan dalam bentuk tulisan. Siswa sulit membahasakan ide-ide baru. Setelah lepas dari merangkai siswa sulit menentukan judul dan diksi yang sesuai. Tidak berhenti pada problematika tersebut, saat puisi siswa utuh siswa takut akan ketidaksesuaian tema dengan puisi yang telah dibuat. Dalam hal ini guruberperan dalam memberikan batasan tema yang akan digunakan.Faktor internal penyebab problematika menulis puisi dapat diketahui melalui motivasi dan wawasan yang dimiliki dalam menulis puisi. Ketidaktertarikan siswa menjadi salah satu penyebab lemahnya motivasi siswa dalam menulis puisi. Sehingga minat yang kurang tersebut juga mempengaruhi kepuitisan puisi siswa. Siswa yang berminat cenderung dapat menulis bahasa yang indah dalam puisinya begitupun sebaliknya. Serta ketidaktahuan siswa tentang manfaat menulis puisi yang menjadikan siswa enggan untuk menulis puisi. Penyebab selanjutnya yaitu wawasan siswa mengenai menulis puisi. Wawasan siswa yang kurang terhadap menulis puisi menjadikan siswa mengalami kesulitan saat menuliskan puisi. Siswa perlu memperbanyak buku mengenai menulis puisi ataupun membaca beragam jenis puisi agar memiliki kosakata yang cukup. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disusun kegunaan sebagai referensi bagi guru sebelum mengajarkan puisi. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai rujukan bagi penulis buku yang ingin menulis buku tentang problematika menulis puisi. Bagi peneliti lain dapat mengembangkan penelitian ini dengan masalah penelitian yang berbeda dan lebih mendalam lagi
Perilaku Berliterasi Siswa di Sekolah
ABSTRAK Wulandari, Erni Tri. 2017. Perilaku Berliterasi Siswa di Sekolah. Skripsi,Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, JurusanSastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, PembimbingProf. Dr. Suyono, M.Pd. Kata Kunci: literasi, perilaku berliterasi, literasi siswa di sekolahLiterasi pada mulanya dimaknai sebagai melek aksara. Kemudian makna tersebut meluas menjadi kepahaman seseorang terkait informasi yang tertuang dalam media tulis. Literasi dapat terjadi dalam semua lingkup kehidupan, salah satunya adalah melalui pendidikan atau sekolah. Literasi di sekolah atau literasi akademik ditunjukkan dengan inti kegiatan membaca, berpikir kritis dan menulis. Salah satu tujuan pembudayaan literasi adalah untuk meningkatkan perilaku berliterasi siswa di sekolah. Perilaku berliterasi menjadi indikasi untuk mengetahui perkembangan budaya literasi di sekolah. Oleh karena itu sebagai langkah untuk memajukan literasi siswa maka perlu adanya untuk mengetahui secara menyeluruh perilaku berliterasi siswa yang ada di sekolah dalam berbagai dimensi. Dimensi perilaku tersebut yaitu mencangkup kesadaran, keterampilan, kegemaran serta budaya. Tujuan dalam penelitian ini ada dua hal, yaitu mendeskripsikan (1) perilaku berliterasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, (2) perilaku berliterasi siswa di luar pembelajaran.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan di SMAN 5 Malang, SMAN 8 Malang,dan SMAN 7 Malang. Sumber data yang digunakan oleh peneliti adalah guru, petugas perpustakaan, siswa kelas 10 dan 11 sebagai narasumber, perpustakaan, lingkungan sekolah, lingkungan kelas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan dalam GLS. Instrumen yang digunakan oleh peneliti meliputi pedoman observasi, pedoman wawancara dan angket siswa. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara dan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil paparan data dan pembahasan diperoleh kesimpulan bahwa perilaku berliterasi siswa terjadi dalam empat dimensi, yaitu (1) kesadaran mengamati penjelasan guru sebelum menulis atau menganalisis teks, kesadaran berdiskusi sebelum menulis atau menganalisis teks, kesadaran menyediakan dan menggunakan buku penunjang pembelajaran, kesadaran menggunakan internet sebagai sumber menulis maupu menganalisis teks, (2) keterampilan membuat peta konsep atau kerangka sebelum menulis maupun menganalisi teks, keterampilan dalam menulis teks berupa teks bahasa, sastra maupun ilmiah dalam pembelajaran, keterampilan membacakan hasil menulis atau menganalisis teks dn keterampilan memperbaiki hasil menulis atau menganalisis teks, (3) kegemaran membaca dan merangkum buku dalam pembelajaran, kegemaran menyediakan buku referensi tambahan selain dari buku penunjang wajib untuk sumber ide menulis, dan (4) budaya membaca, merangkum dan menulis dalam pembelajaran tanpa adanya perintah guru. Perilaku berliterasi di luar pembelajaran diterapkan dalam empat dimensi, yaitu (1) kesadaran dalam berkunjung ke perpustakaan untuk membaca dan mencari referensi dalam menulis, kesadaran memmanfaatkan waktu luang untuk membaca di sudut-sudut sekolah, kesadaran mengikuti kegiatan literasi secara rutin, kesadaran menyediakan buku-buku penunjang kegiatan literasi dalam pojok baca kelas, (2) keterampilan menulis karya sastra atau ilmiah dalam majalah sekolah, keterampilan menulis karya sastra atau ilmiah mading sekolah dan mading kelas, keterampilan menulis karya sastra atau ilmiah untuk disumbangkan sebagai koleksi perpustakaan, keterampilan menulis ikhtisar dan melisankan hasil membaca pada saat gerakan literasi di sekolah, (3) kegemaran mengikuti kegiatan ekstrakurikuler KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), kegemaran mengikuti kegiatan jurnalistik, kegemaran mengikuti lomba-lomba berbasis literasi saat perayaan HUT sekolah atau HUT RI, kegemaran menulis atau melisankan hasil membaca lebih dari satu buku saat kegiatan gerakan literasi di sekolah, dan (4) budaya membaca, menulis dan melisankan hasil membaca saat kegiatan literasi secara rutin tanpa perintah guru dan budaya mencerna informasi melalui sumber-sumber informasi berupa poster, papan pengumunan, mading, dan lain-lain di lingkungan sekolah.Penelitian ini memberikan manfaat dan acuan bagi kepala sekolah, guru, siswa dan peneliti lain. Bagi kepala sekolah, supaya lebih memperhatikan pengelolaan, sarana dan kegiatan literasi agar mampu memaksimalkan perilaku berliterasi yang ada dalam aspek akademik maupun non akademik. Bagi guru supaya lebih memperhatikan mempertegas, dan mengarahkan siswa dalam kegiatan pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler dan GLS guna mengkondisikan perilaku berliterasi siswa agar semakin baik. Bagi siswa supaya lebih memaksimalkan perilaku berliterasinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia maupun pembelajaran lainnya, di luar pembelajaran dan dalam GLS dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Bagi peneliti lain supaya dapat melakukan penelitian yang lebih mendalam lagi mengenai perilaku berliterasi siswa di sekolah yang tidak hanya pada jenjang SMA atau pembelajaran Bahasa Indonesia saja. ABSTRACTWulandari, Erni Tri. 2017. Student’s Literacy Behavior at School. Undergraduate Thesis, Study Program of Indonesian and Regional Language Education and Literature, Department of Indonesian Literature, Faculty of Letters, State University of Malang, Advisor Prof. Dr. Suyono, M.Pd. Keywords: literacy, literacy behavior, student’s literacy at schoolLiteracy was at first interpreted as literate. Then the meaning was extended to be a person's understanding of the information contained in the written media. Literacy can occur in all scopes of life, one of which is through education or school. Literacy at school or academic literacy is demonstrated by the reading, critical thinking and writing core. Academic literacy is seen as an important thing that needs to be nurtured and cultivated at school. One of the goals of cultivating literacy is to improve students' literacy behavior at schools. Cultural behavior of literacy at schools can occur in academic and non academic scopes. Literacy behavior becomes an indication to know the development of literacy culture at school. By knowing the development of literacy behavior and forms of literacy behavior of students we will also know the development of existing literacy culture at school. Therefore, as a step to advance students’ literacy, it is necessary to know thoroughly the literacy behavior of students at schools in various dimensions. Dimensions of that behavior include awareness, skills, passions and culture. The objectives of this research were two points which described (1) students' literacy behavior in learning Indonesian, (2) students' literacy behavior out of learning activities.The method used in this research was qualitative research with descriptive research design. This research was conducted at SMAN 5 Malang, SMAN 8 Malang, and SMAN 7 Malang. Data sources used by researchers were teachers, librarians, 10th and 11th grade students as resource persons, libraries, school environment, classroom environment in Indonesian language learning and in GLS. Instruments used by researchers included observation guidelines, interview guidelines and student questionnaires. Data collection techniques were observation, interview and questionnaire. The research data were three (1) teachers' and students' opinion about students' literacy behavior condition during learning, (2) teacher's opinion, librarian and student about student's literacy behavior out of learning including within the library, (3) teachers' and students' opinions about students' literacy behavior during the literacy movement at school. Data analysis techniques used were data reduction, data presentation and conclusion.Based on the results of data explanation and discussion, it obtained the conclusion that the literacy behavior of students occured in four dimensions, namely (1) awareness to observe teacher explanation before writing or analyzing texts, awareness of discussion before writing or analyzing texts, awareness of providing and using instructional learning book, awareness using internet As a source of writing and analyzing texts, (2) skill-making sketches before writing or analyzing texts, writing skills in text, literary or scientific texts in learning, reading or writing skills, or analyzing texts and improving the results of writing or analyzing Text, (3) the penchant for reading and summarizing books in learning, the penchant provides additional reference books aside from the compulsory textbooks for the source of writing ideas, and (4) the culture of reading, summarizing and writing in learning without the instruction of the teacher. Behavior outside of learning is implemented in four dimensions, namely (1) awareness in visiting the library to read and seek references in writing, awareness to use free time to read in the corners of the school, awareness of regular literacy activities, (2) literary or scientific writing skills in school magazines, literary or scientific writing skills of school magazine and class mading, literary or scientific writing skills to contribute as library collections, writing skills, overview and (3) passion to follow extracurricular activities KIR (Youth Scientific Group), penchant for journalistic activities, passion to follow literacy-based competitions during school anniversary celebration or HUT RI, penchant for writing or oral reading, and (4) the culture of reading, writing and speaking of reading results during routine literacy activities without the teacher's instruction and culture digesting information through informational sources such as posters, billboards, mading, others in the school environment. This research provides benefits and reference for principals, teachers, students and other researchers. For the principals, they are advised to pay more attention to the management, facilities and activities of literacy in order to be able to maximize existing literacy behavior in academic and non academic aspects. For teachers, they need to pay more attention to emphasize, and direct students in learning activities, extracurricular activities and GLS in order to condition student's literacy behavior to be better. For students, they are encouraged to maximize their literacy behavior in learning Indonesian and other lessons, beyond learning and in the GLS by utilizing existing facilities. For other researchers, they are expected to be able to conduct deeper research on the literacy behavior of students at schools that are not only at the level of high school or Indonesian language learning
RAGAM KOSAKATA DALAM KARANGAN MAHASISWA ASEAN STUDIES UNIVERSITAS WALAILAK THAILAND TAHUN 2015/2016
ABSTRAK Penelitian ini memiliki dua fokus penelitian, yaitu (1) ragam kosakata dalam karangan mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand tahun 2016/2017 ditinjau dari muatan isi dan (2) ragam kosakata dalam karangan mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand tahun 2016/2017 ditinjau dari kategori kelas kata. Tujuan penelitian ini ada dua, yaitu (1) untuk mengetahui bagaimana ragam kosakata dalam karangan mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand tahun 2016/2017 ditinjau dari muatan isi dan (2) untuk mengetahui bagaimana ragam kosakata dalam karangan mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand tahun 2016/2017 ditinjau dari kategori kelas kata. Manfaat penelitian ini ada tiga, yaitu (1) bagi pengajar BIPA, sebagai acuan dalam menyusun materi ajar yang cocok bagi pebelajar asing khususnya dengan memperhatikan pembendaharaan kata yang dikuasai pebelajar, (2) bagi penulis buku ajar BIPA, sebagai acuan dalam menyusun buku ajar bagi pebelajar asing dan (3) bagi peneliti selanjutnya, sebagai referensi untuk melakukan penelitian terhadap karangan khususnya dalam pengggunaan kata pada kalimat dalam karangan. Jenis penelitian ini adalah penelitian analisis teks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Data penelitian yang digunakan berupa kosakata dalam karangan dengan sumber data yang berasal dari karangan mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand. Data penelitian dianalisis dengan tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan perpanjangan pengamatan terhadap data yang telah terkumpul dan triangulasi data. Tahap penelitian dilakukan oleh peneliti dalam tiga tahap, yaitu (1) persiapan, (2) pelaksanaan, dan (3) penyelesaian. Hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama, ragam kosakata ditinjau dari muatan isi dapat diklasifikasikan menjadi tujuh, yaitu (1) kosakata kategori manusia (human), (2) kosakata kategori tumbuhan (living), (3) kosakata kategori objek (object), (4) kosakata kategori terestrial (terrestrial), (5) kosakata kategori energi (energy), (6) kosakata kategori ke-ada-an (being) dan (7) kosakata kategori binatang (animate). Kategori manusia terdiri dari nama orang, kata ganti orang, status atau atribut, dan tradisi. Kategori tumbuhan digolongkan dalam jenis tumbuhan konsumtif. Kategori objek terdiri dari kosakata makanan dan minuman, alat elektronik, kebutuhan sandang, alat musik, kendaraan, peralatan makan, peralatan mandi, alat transaksi, dan sumber bacaan. Kategori terestrial terdiri dari kosakata yang menunjukkan wilayah daratan dan perairan. Kategori energi terdiri dari kosakata energi air dan angin. Kategori ke-ada-an terdiri dari kosakata penggunaan waktu, suasana perasaan, dan kondisi. Kategori binatang terdiri dari kosakata binatang yang hidup di air dan binatang yang hidup di darat. ii Kedua, ragam kosakata ditinjau dari kategori kelas kata terbagi menjadi dua, yaitu kata isi dan kata tugas. Kata isi diklasifikasikan menjadi empat, yaitu (1) kata benda atau nomina, (2) kata kerja atau verba, (3) kata sifat atau adjektiva dan (4) kata keterangan atau adverbia. Kata tugas diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu (1) preposisi, (2) konjungsi dan (3) partikel penegas. Kategori nomina terdiri dari nomina nama orang dan sapaan kekerabatan, nomina kata ganti orang, nomina nama tempat dan nomina nama benda atau segala yang dibendakan. Kategori verba terdiri dari verba perbuatan. Kategori adjektiva terdiri dari adjektiva sikap batin, pemberi sifat, ukuran, dan cerapan. Kategori adverbia terdiri dari adverbia kala, adverbia penjumlahan, adverbia keselesaian, adverbia kesanggupan, adverbia pembatasan, adverbia keinginan, adverbia kualitas dan adverbia sangkalan. Kategori preposisi terdiri dari preposisi tempat berada, preposisi tempat asal, preposisi tempat tujuan dan preposisi pelaku. Kategori konjungsi terdiri dari konjungsi penyebaban, konjungsi pengurutan, konjungsi kesewaktuan, konjungsi pertentangan, konjungsi tujuan dan konjungsi penjumlahan. Kategori partikel penegas terdiri dari partikel penegas -pun. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kosakata yang paling banyak ditemukan dalam karangan mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand adalah kosakata kategori manusia dan kategori objek. Kategori kosakata yang jarang digunakan dalam karangan mahasiswa adalah kosakata kategori energi. Mahasiswa sudah memiliki cukup banyak pembendaharaan kosakata yang dapat ditinjau berdasarkan muatan isi kata, baik berupa persepsi maupun kondisi lingkungan budaya mahasiswa. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan tiga hal berikut ini yaitu kepada pengajar BIPA, penulis buku ajar BIPA dan peneliti selanjutnya. Bagi pengajar BIPA, agar memperhatikan data temuan peneliti berupa kosakata yang diklasifikasikan menjadi beberapa kategori sebagai acuan dalam menyusun materi ajar yang cocok bagi pelajar asing khususnya dengan memperhatikan pembendaharaan kata yang dikuasai pelajar. Bagi penulis buku ajar BIPA, agar memperhatikan kosakata dalam karangan yang paling sedikit digunakan oleh mahasiswa sebagai acuan dalam menyusun buku ajar bagi pelajar asing yang belajar bahasa Indonesia dengan tujuan memperkaya pembendaharaan kata pelajar. Bagi peneliti selanjutnya, agar mengkaji lebih dalam penggunaan kata oleh pelajar asing baik secara lisan maupun tulis. Maka dari itu penelitian ini dapat dijadikan referensi bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian terhadap karangan khususnya dalam penggunaan kata pada kalimat dalam karangan
Tembang Dolanan dalam Festival Teater Tingkat SMA 2016: Kajian Diksi Bermuatan Nilai Pendidikan Karakter
ABSTRAK Arinda, Yunita Cindy. 2017. Tembang Dolanan dalam Festival Teater Tingkat SMA 2016: Kajian Diksi Bermuatan Nilai Pendidikan Karakter. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Teguh Tri Wahyudi, S.S, M.A. Kata Kunci: bentuk tembang dolanan, diksi, makna, festival teater Tujuan penelitian ini untuk mengkaji bentuk-bentuk lirik tembang dolanan dan terjemahnya, serta diksi dan makna yang terkandung dalam teks tembang dolanan. Dalam festival teater tingkat SMA yang diadakan dalam rangka Bulan Bahasa Sastra 2016 tema yang diangkat adalah permainan tradisional. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Sumber data pada penelitian ini adalah rekaman video tembang dolanan festival teater tingkat SMA 2016 yang ditranskrip ke dalam bentuk tulis. Teknik analisis data yang digunkan yaitu reduksi data, kodifikasi, klasifikasi, interpretasi, dan verifikasi. Berdasarkan data yang diperoleh, ada beberapa kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian. Pertama, terdapat sepuluh tembang dolanan yang ditemukan dalam festival teater tingkat SMA 2016. Tembang dolanan tersebut dibagi menjadi dua jenis yaitu tembang dolanan beserta permainannya dan tembang dolanan tanpa permainan. Tembang dolanan beserta permainannya antara lain Cublak-Cublak Suweng, Hompimpa, Jaranan, Jelangkung, Lir-Ilir, Ménthog-Ménthog, dan Wo Dowo. Selanjutnya, tembang dolanan tanpa permainan antara lain Cublak-Cublak Suweng; Gundul-Gundul Pacul; Kodhok Ngorèk; Ménthog-Ménthog (bahasa Indonesia); dan Tokécang. Kedua, terdapat lima tembang dolanan yang dapat dianalisis diksinya, kelima tembang dolanan tersebut antara lain Bocah-Bocah Cilik, Ménthog-Ménthog, Jelangkung, Kodhok Ngorèk, dan Lir-Ilir. Tembang dolanan tersebut kemudian dianalisis berdasarkan purwakanti dan diksi bahasa Jawa. Ketiga, terdapat sembilan nilai karakter yang ditemukan pada tembang dolanan. Sembilan nilai karakter tersebut antara lain nilai karakter religius, nilai karakter disiplin, nilai karakter kerja keras, nilai karakter kreatif, nilai karakter demokratis, nilai karakter rasa ingin tahu, nilai karakter bersahabat/komunikatif, nilai karakter peduli sosial, nilai karakter tangggung jawab. Sembilan nilai karakter ditemukan dalam tembang dolanan Cublak-Cublak Suweng, Gundul-Gundul Pacul, Jaranan, Kodhok Ngorèk, Lir-Ilir, Ménthog-Ménthog, dan Tokécang. ABSTRACT Arinda, Yunita Cindy. 2017. Song of Traditional Games in Festival of Theater Grade for High School 2016: Diction Studies Containing the Value of Character Education. Thesis, Department of Bahasa Indonesia, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Teguh Tri Wahyudi, S.S, M.A. Key Words: tembang dolanan, diction, meaning, theater festival The purpose of this research is to examine the lyrics of the tembang dolanan, translation aspect, diction and meaning of tembang dolanan text. In the high school theater festival held by Bulan Bahasa Sastra 2016 the theme is traditional game. This research used descriptive qualitative method. The data of this research used videotape when high School Theater festival 2016 occur, which is transformed into a transcript of tembang dolanan. Data analysis techniques used data reduction, codification, classification, interpretation, and verification. Based on the collection of the data, there are some conclusions obtained from the results of this research. First, there are ten tembang dolanan found in the theater festival of high school 2016. Those are divided into two types. Tembang dolanan with the game and tembang dolanan without game. Tembang dolanan with the games are Cublak-Cublak Suweng, Hompimpa, Jaranan, Jelangkung, Lir-Ilir, Ménthog-Ménthog, and Wo Dowo. Furthermore, tembang dolanan without games are Cublak-Cublak Suweng; Jelangkung; Kodhok Ngorèk; Ménthog-Ménthog (Indonesian); and Tokécang. Secondly, there are five tembang dolanan that can be analyzed by the diction are Bocah-Bocah Cilik, Ménthog-Ménthog, Jelangkung, Kodhok Ngorèk, and Lir-Ilir. Tembang dolanan also can be analyzed by purwakanti and Javanese diction. Third, there are nine character of values found in the tembang dolanan, those are: religious character value, discipline character value, hard character value, creative character value, democratic character value, curiosity character value, friendly character / communicative value, social caring character value, responsible character value. Tembang dolanan that have those values are the Cublak-Cublak Suweng, Jelangkung, Jaranan, Kodhok Ngorèk, Lir-Ilir, Ménthog-Ménthog, and Tokécang
Pengembangan Bahan Ajar Membaca Kritis Cerita Fabel Bermuatan Nilai-nilai Karakter untuk Siswa Kelas VII SMP Laboratorium
ABSTRAK Fajriyah, Siska Jauharoh. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Membaca Kritis Cerita Fabel Bermuatan Nilai-nilai Karakter untuk Siswa Kelas VII SMP Laboratorium UM. Skripsi Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Hj. Siti Cholisotul Hamidah, M.Pd. Kata kunci: pengembangan bahan ajar, membaca kritis cerita fabel, nilai-nilai karakter.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dua permasalahan yang dihadapi oleh siswa SMP, yaitu (1) minat baca siswa tergolong sedang. Hal ini dibuktikan dari angket siswa pada studi pendahuluan, sebanyak 24 dari 33 siswa yang membaca sekitar 1—6 teks fabel selama belajar cerita fabel, sementara itu sekitar 15—17 dari 33 siswa yang terbiasa menanggapi atau menganalisis cerita fabel menggunakan pemikiran kritisnya, sedangkan hasil wawancara dengan guru bahasa Indonesia menjelaskan bahwa bahan ajar yang digunakan belum memenuhi kebutuhan siswa dalam membaca kritis. (2) penurunan kualitas moral pada siswa SMP. Hal ini dibuktikan dari observasi saat guru mengajar sebanyak lima siswa tidur saat guru menerangkan materi dan kurangnya sopan santun terhadap guru. Kegiatan membaca kritis dalam bahan ajar ini dipadukan dengan cerita fabel. Cerita fabel dipilih karena dalam teks fabel termuat pesan moral atau nilai-nilai karakter, sehingga cerita fabel sangat tepat dipilih sebagai bahan pengembangan bahan ajar. Oleh karena itu, upaya dalam mengatasi masalah tersebut dilakukan pengembangan bahan ajar membaca kritis cerita fabel bermuatan nilai-nlai karakter dengan tujuan untuk memudahkan siswa menemukan makna tersurat maupun tersirat dalam cerita, menumbuhkan atau meningkatkan pemikiran kritis siswa, serta membentuk karakter siswa.Tujuan umum dari penelitian ini yaitu menghasilkan produk berupa bahan ajar membaca kritis cerita fabel bermuatan nilai-nilai karakter untuk siswa kelas VII SMP Laboratorium UM. Tujuan khusus penelitian ini adalah menghasilkan produk berupa bahan ajar membaca kritis cerita fabel bermuatan nilai-nilai karakter untuk siswa kelas VII SMP Laboratorium UM yang layak dari segi isi, sistematika, bahasa, dan tampilan yang sesuai dengan kurikulum 2013.Penelitian ini menggunakan model pengembangan Borg dan Gall yang dimodifikasi menjadi tujuh tahapan, yaitu (1) studi pendahuluan, (2) tahap perencanaan, (3) tahap pengembangan produk, (4) tahap uji ahli dan uji praktisi, (5) tahap revisi produk awal berdasarkan hasil uji ahli dan praktisi, (6) tahap uji lapangan terbatas, dan (7) tahap penyempurnaan produk akhir. Uji produk dilakukan dengan melibatkan (1) ahli materi membaca kritis cerita fabel, (2) ahli bahan ajar membaca kritis cerita fabel, (3) praktisi atau guru bahasa Indonesia, dan (4) siswa kelas VII SMP Laboratorium UM.Jenis data penelitian ini adalah data verbal dan data non verbal. Data non verbal berupa skor terhadap uji produk bahan ajar yang telah dituliskan oleh kelompok ahli, praktisi, dan siswa. Data verbal berupa catatan, komentar, dan saran yang disampaikan oleh kelompok ahli, praktisi, dan siswa. Pada penelitian pengembangan ini menggunakan angket penilaian dan pedoman wawancara sebagai instrumen pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan cara, (1) mengumpulkan data non verbal dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal, (3) mengidentifikasi, mengklasifikasi, memaknai, dan menyimpulkan data verbal, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan. Hasil analisis data telah diperoleh beberapa informasi terkait dengan tujuan penelitian dan pengembangan, yakni (1) kelayakan dari segi isi mendapatkan 84, 3% dari ahli materi membaca kritis cerita fabel, 86,6% dari ahli bahan ajar membaca kritis cerita fabel, 75% dari ahli praktisi, dan 84,6% dari siswa. Produk tergolong sangat layak dari segi isi dan dapat diimplementasikan. (2) kelayakan dari segi sistematika mendapatkan 100% dari ahli bahan ajar membaca kritis cerita fabel, 91,6% dari ahli praktisi, dan 85,2% dari siswa. Produk tergolong sangat layak dari segi sistematika dan dapat diimplementasikan. (3) kelayakan dari segi kebahasaan mendapatkan 75% dari ahli bahan ajar membaca kritis cerita fabel, 75% dari ahli praktisi, dan 91,6% dari siswa. Produk tergolong sangat layak dari segi kebahasaan dan dapat diimplementasikan. (4) kelayakan dari segi tampilan mendapatkan 84,3% dari ahli bahan ajar membaca kritis cerita fabel, 84,3% dari ahli praktisi, dan 88,2% dari siswa. Produk tergolong sangat layak dari segi tampilan dan dapat diimplementasikan. Simpulan penelitian pengembangan ini adalah bahan ajar dinilai layak dari segi isi, sistematika, bahasa, dan tampilan dan dapat diimplementasikan dalam pembelajaran membaca kritis cerita fabel.Saran pemanfaatan produk hasil pengembangan ditujukan pada guru, siswa, sekolah, peneliti lain, dan pengembangan produk lebih lanjut. Guru disarankan untuk melatih siswa dalam membaca kritis dan memanfaatkan bahan ajar sebagai alternatif pembelajaran membaca kritis cerita fabel dengan optimal sehingga kendala yang dihadapi dapat teratasi. Siswa disarankan untuk memanfaatkan bahan ajar membaca kritis cerita fabel bermuatan nilai-nilai karakter dengan baik, siswa juga disarankan berperan aktif dalam pembelajaran, sehingga bahan ajar ini dapat membantu dalam menumbuhkan atau meningkatkan pemikiran kritis serta mampu memberikan nilai-nilai karakter yang dapat dicontoh atau diterapkan dalam kehidupan. Sekolah disarankan menggunakan bahan ajar ini sebagai tambahan penyediaan buku teks pelajaran. Peneliti lain disarankan untuk mempertimbangkan dan menjadikan bahan ajar membaca kritis cerita fabel sebagai sumber inspirasi dalam mengembangkan bahan ajar lebih baik. Bahan ajar ini dapat dimanfaatkan bagi pengembang bahan ajar lebih lanjut yaitu dengan mempelajari, meneliti, dan memanfaatkan produk ini sebagai bahan ajar membaca kritis cerita fabel sehingga peneliti mendapatkan komentar dan saran yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan pengembangan produk lebih lanjut. ABSTRACTFajriyah, Siska Jauharoh. 2017. Developing Textbook of Critical Reading in Fables Contained with The Values of Character Builds for Seven Graders in Junior High School Laboratorium UM . Thesis, Indonesian of Literature Department. Faculty of Letters. State University of Malang. Advisor. Dr. Hj. Siti Cholisotul Hamidah, M.Pd. Keywords: developing textbook, critical reading fables, the values of character building.The background of this research is based on 2 problems which is faced by junior high school students first, students dont really like reading. It showed by the questionnaire that given to the students, from 33 students’ only 24 students can read 1—6 able text during the class lesson. Moreover, from 33 students only 15—17 students who is accustomed to respond or analyze fable using critical thinking, while the results of interviews with Indonesian teachers explained that the teaching materials used have not met the needs of students in critical reading. Second, decreasing of moral quality in junior high school students. It shows from the observation when the teacher’s teaching about five students sleep when the teacher explained the material and lack of courtesy towards the teacher. Critical Reading activity in this resource is combined with fable. Therefore, the effort to solve the problem is the development of teaching material in Critical Reading Material the Fable containing the values of character builds with the aim to help students to find the explicit or implicit meanings in the story, to grow or improve student’s critical thinking and to establish student’s character.The general objective of this research is to produce a product in the form of teaching materials to read critically fable containing values of character build for grade VII students of SMP Laboratorium UM. The specific purpose of this research is to produce a product, in the form of learning materials to read critically fable containing character values for grade VII students of SMP Laboratorium UM which are properly in terms of content, systematics, language, and appearance which are suitable with 2013 curriculum.This research uses the Borg and Gall development model which modified into seven stages: (1) preliminary study, (2) planning stage, (3) product development stage, (4) expert test stage and practitioner test, (5) product revision stage Based on expert test results and practitioners, (6) limited field test stages, and (7) final product improvement stage. The product test is done by involving (1) the material critic read the fable, (2) the expert of reading material criticism of fable, (3) the practitioner or Indonesian language teacher, and (4) the seventh grade students of SMP Laboratorium UM.The data type of this research is verbal and non-verbal data. Non-verbal data is in the form of scores on the test of teaching material products that have been written by a group of experts, practitioners, and students. Verbal data is in the form of notes, comments, and suggestions submitted by groups of experts, practitioners, and students. In this research development the researcher used questionnaire assessment and interview guidelines as an instrument of data collection. Data analysis is done by (1) collecting non-verbal data from assessment questionnaire, (2) transcribing verbal data, (3) identifying, classifying, interpreting and concluding verbal data, and (4) analyzing data and formulating analysis conclusions as basis to follow up on developed products.The results of data analysis have obtained some information related to the purpose of research and development, those are (1) properness in terms of content get 84, 3% from material experts read critically fable, 86.6% from expert reading material critical story fable, 75% From expert practitioners, and 84.6% from students. The product is very proper in terms of content and can be implemented. (2) The systematic feasibility of obtaining 100% of the teaching experts reading critically fable, 91.6% of the practitioners' experts, and 85.2% of the students. The product is properly in terms of systematics and can be implemented. (3) Eligibility in terms of language get 75% of the teaching experts read critically fable, 75% of experts’ practitioners and 91.6% from students. The product is proper in terms of language and can be implemented. (4) Properness in terms of appearance earns 84.3% of the teaching experts reading critically fable, 84.3% of the practitioner's experts, and 88.2% of the students. The product is very decent in terms of appearance and can be implemented. The conclusion of this development research is that the teaching materials are considered proper in terms of content, systematics, language, and appearance and can be implemented in critical reading learning fable.Utilization suggestion of development product result aimed at teacher, student, school, other researcher, and further product development. Teachers are advised to train students in critical reading and utilize teaching materials as an alternative learning to read critical stories with optimal fable so that the constraints faced can be overcome. Students are encouraged to use the teaching material to critically read the story of the fable containing the values of the characters well, the students are also advised to play an active role in the learning, so that this teaching material help students in growing or increasing critical thinking and able to give the values of characters that can be emulated or applied In daily life. Schools are encouraged to use this resource in addition to providing textbooks. Other researchers are advised to consider and make teaching materials critical of fable as a source of inspiration in developing better teaching materials. This teaching materials can be utilized for the developer of further teaching materials by studying, researching, and utilizing this product as a learning material to read critical fable so that researchers get comments and suggestions that can be used as consideration for further product development
Penggunaan Kalimat Pasif Mahasiswa Critical Language Scholarship (CLS) Universitas Negeri Malang Tahun 2016
ABSTRAK Kalimat pasif bahasa Indonesia adalah kalimat dengan predikat berciri pasif. Predikat berupa kata kerja pasif dengan imbuhan di-, ter-, ke-an, atau dengan predikat berupa kata kerja pasif persona. Dalam sebuah kalimat pasif, subjek yang dikenai pekerjaan dan predikatnya berupa kata kerja bentuk pasif. Terdapat empat bentuk kalimat pasif, yaitu kalimat pasif bentuk di-, kalimat pasif bentuk persona, kalimat pasif bentuk ter-, dan kalimat pasif bentuk ke-an. Kalimat pasif sering digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia. Penggunaan kalimat pasif bahasa Indonesia dirasa lebih sopan dan lebih halus. Kalimat pasif berhubungan dengan kesopanan berbahasa. Semakin paham mengenai kalimat pasif, maka kalimat yang digunakan akan lebih sopan.Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif karena mendeskripsikan data berupa kalimat pasif mahasiswa CLS tahun 2016. Sumber data penelitian ini adalah tulisan mahasiswa CLS yang berasal dari jurnal harian, jurnal mingguan, kuis, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester. Data dikumpulkan dengan cara membaca karangan mahasiswa, mengidentifikasi kalimat pasif yang dibuat oleh mahasiswa, mengklasifikasi kalimat pasif sesuai dengan fokus penelitian, mereduksi data berupa kalimat pasif sehingga data sesuai dengan teori dan data tersebut dapat diteliti, memperoleh data sesuai dengan fokus penelitian dan teori yang digunakan.Berdasarkan analisis data, terdapat tiga hasil penlitian. Pertama, kalimat pasif bentuk di- banyak ditemukan. Penggunaan kalimat pasif bentuk di- yang berasal dari kalimat aktif transitif. Mahasiswa mampu membuat kalimat pasif bentuk di- dengan menggunakan kata ‘oleh’ dan tanpa menggunakan kata ‘oleh’. Kedua, kalimat pasif bentuk persona. Terdapat kalimat pasif bentuk persona pertama dan ketiga. Kata ganti persona yang digunakan beragam, ada tunggal dan jamak. Terdapat pula kalimat pasif bentuk persona berkata bantu. Ditemukan kalimat pasif persona yang menggunakan kaidah kalimat pasif bentuk di-. Ketiga, kalimat pasif bentuk ter-. Ditemukan kalimat pasif bentuk ter- yang memiliki makna ketidaksengajaan dan tiba-tiba. Berdasarkan penelitian, dapat diberikan saran yang ditujukan kepada beberapa pihak. Pertama, agar penelitian ini bermanfaat untuk pengajar CLS dalam penggunaan kalimat pasif, mengetahui letak kesalahan dalam menggunakan kalimat pasif, dan mampu memberikan latihan yang lebih banyak mengenai kalimat pasif. Kedua, tutor CLS agar memahami, menggunakan, memajankan, dan membenarkan mengenai beragam kalimat pasif yang kurang tepat ketika sedang melakukan tutorial. Ketiga, mahasiswa CLS agar lebih sering berlatih menggunakan kalimat pasif dalam tulisan dan lisan
Kata Penghubung (Konjungsi) dalam Teks Cerita Moral/ Fabel Karangan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 21 Malang
ABSTRAK Maulita, Nisa Nur. 2017. Kata Penghubung (Konjungsi) dalam Teks Cerita Moral/ Fabel Karangan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 21 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Dwi Saksomo, M.Si. Kata kunci: kata penghubung, konjungsi, teks cerita moral/ fabelKata penghubung atau konjungsi merupakan kata atau gabungan kata yang berfungsi untuk menghubungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau bisa juga paragraf dengan paragraf. Dalam penelitian ini difokuskan pada kata penghubung atau konjungsi yang terdapat teks cerita moral/ fabel, yakni (1) mendeskripsikan kata penghubung atau konjungsi koordinatif dan (2) mendeskripsikan kata penghubung atau konjungsi subordinatif yang terdapat dalam teks cerita moral/ fabel karangan siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Malang.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini berwujud kata penghubung atau konjungsi yang terdapat dalam teks cerita moral/ fabel karangan siswa. Sumber data berupa teks cerita moral/ fabel karangan siswa kelas VIII SMP Negeri 21 Malang. Dalam pengumpulan data, penelitian ini menggunakan studi dokumen. Analisis data dilakukan dengan tiga tahap, yakni (1) seleksi dan identifikasi data, (2) klasifikasi dan kategorisasi, dan (3) interpretasi data. Kriteria seleksi dan identifikasi data meliputi (1) ada identitas siswa dan (2) ada kata penghubung atau konjungsi yang terdapat dalam teks cerita moral/ fabel. Setelah itu, data diberi kode tertentu. Kode yang digunakan adalah 1) kode nomor urut sumber data, (2) kode nama siswa, dan 3) kode klasifikasi kata penghubung yang telah dibuatBerdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian berikut. Pertama, kata penghubung atau konjungsi yang ditemukan adalah kata penghubung koordinatif dan subordinatif. Kata penghubung atau konjungsi koordinatif dibagi menjadi sembilan kategori, yaitu menghubungkan menyatakan penjumlahan, pemilihan, pertentangan, pembetulan, penegasan, pembatasan, pengurutan, penyamaan, dan penyimpulan. Dari sembilan kategori tersebut ditemukan lima kategori, yakni kategori penjumlahan, pemilihan, pertentangan, pengurutan, dan penyamaan. Kategori penjumlahan ditemukan sejumlah 168 data, kategori pemilihan ditemukan sejumlah 3 data, kategori pertentangan ditemukan sejumlah 30 data, kategori pengurutan ditemukan sejumlah 38 data, dan kategori penyamaan ditemukan sejumlah 5 data. Kata penghubung atau konjungsi subordinatif dibagi menjadi tujuh kategori, yaitu menghubungkan menyatakan penyebaban, persyaratan, tujuan, penyungguhan, kesewaktuan, pengakibatan, dan perbandingan. Dari tujuh kategori tersebut ditemukan tiga kategori, yaitu kategori penyebaban, tujuan, dan kesewaktuan. Kategori penyebaban ditemukan sejumlah 34 data, kategori tujuan ditemukan sejumlah 11 data, dan kategori kesewaktuan ditemukan sejumlah 6 data. Kata penghubung atau konjungsi yang paling banyak terdapat dalam teks cerita moral/fabel karangan siswa kelas VIII SMP Negeri 21 malang adalah kata penghubung koordiinatif kategori penjumlahan . Saran penelitian ini disampaikan kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia dan peneliti selanjutnya. Guru perlu memberikan pemantapan materi mengenai kata penghubung atau konjungsi yang digunakan dalam teks cerita moral/ fabel. Khususnya untuk variasi Kata penghubung atau konjungsi. Guru sebaiknya memberikan contoh teks yang menggunakan kata penghubung atau konjungsi yang variatif sehingga siswa bisa sepenuhnya paham dan tidak terpaku dalam menggunakan kata penghubung yang monoton. Untuk peneliti selanjutnya disarankan melakukan penelitian yang mendekati, yakni kesalahan penggunaan kata penghubung atau konjungsi dalam teks karangan siswa
Implementasi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Malang
ABSTRAK Sholehah, Sri Niatus. 2017. Implementasi Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VIII di SMP Negeri 1 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Pembimbing: (I) Dr. H. Imam Agus Basuki, M. Pd. (II) Dr. Hj.Titik Harsiati, M. Pd. Kata Kunci: kurikulum 2013, mata pelajaran bahasa Indonesia Kurikulum 2013 merupakan upaya penyempurnaan kurikulum sebelumnya untuk mewujudkan sistem pendidikan nasional yang kompetitif dan relevan dengan perkembangan zaman. Aspek yang mengalami perubahan salah satunya yaitu adanya penambahan bobot dan dihilangkannya beberapa mata pelajaran yang kurang sesuai. Mata pelajaran Bahasa Indonesia dijadikan sebagai alat komunikasi sehingga proses pembelajaran bahasa Indonesia memliki peranan penting dimana kemampuan berbahasa menjadi alat komunikasi untuk menumbuhkan sikap identitas bangsa Indonesia yang berilmu dan bermartabat. Dilihat dari persiapannya mulai dari sarana prasarana, fasilitas dan tenaga guru sudah cukup siap mengimplementasikan Kurikulum 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 1 Malang yang terdiri dari (1) tahap perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, (3) tahap penilaian, dan (4) kendala penerapan Kurikulum 2013. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder yang berupa informasi baik lisan dan tulisan mengenai situasi kondisi yang ada di lapangan. Data tersebut diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi dan pedoman wawancara. Data yang diperoleh melalui observasi dan wawancara dianalisis menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah guru bahasa Indonesia kelas VIII D SMP Negeri 1 Malang. Penelitian ini dilakukan antara bulan maret 2015 di SMP Negeri 1 Malang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara, metode dokumentasi dan metode observasi, selanjutnya dianalisis dengan tiga prosedur yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan metode triangulasi yakni menggabungkan teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa SMP Negeri 1 Malang telah menerapkan Kurikulum 2013 pada perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan tahap penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap perencanaan, guru menyusun rencana pembelajaran sesuai Kurikulum 2013 dengan berpedoman pada Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran, guru telah menggunakan pendekatan saintifik yang terdiri dari kegiatan mengamati, menanya, mengeksplorasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2103. Tahap penilaian, guru melakukan penilaian auntentik dengan menilai sikap berdasarkan observasi, reflektif antar peserta didik dan jurnal. Penilaian autentik selanjutnya dilakukan dengan menilai aspek psikomotor dalam bentuk penugasan tugas protofolio, tugas menulis, dan rubrik. Kendala tersulit yang ditemukan adalah kurangnya antusias peserta didik mengikuti kegiatan pembelajaran dan kurangnya kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran sehingga menyebabkan ketidak sesuaian kegiatan pelaksanaan pembelajaran dengan RPP. Saran yang diberikan untuk mengatasi beberapa kendala tersebut yaitu menngoptimalkan implementasi Kurikulum 2013 dengan melakukan program-program penyuluhan, sosialisasi, serta melakukan pengembangan RPP. Guru disarankan agar menerapkan segala kreasi dan inovasi yang dimiliki dalam pelaksanaan pembelajaran guna menciptakan pembelajaran yang aktif di kelas karena guru merupakan bahan pembelajaran reflektif bagi peserta didik
Pembelajaran Gaya Bahasa (Basa Rinengga) pada Siswa Kelas VIII SMPN 2 Malang Tahun 2016/2017
ABSTRAK Agustin, LusiAri. 2017. Pembelajaran Gaya Bahasa (Basa Rinengga) pada Siswa Kelas VIII SMPN 2 Malang Tahun 2016/2017. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd. Kata kunci: pembelajaran, basa rinengga, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaianPembelajaran bahasa Jawa merupakan muatan lokal yang dipelajari siswa mulai dari jenjang SD/MI sampai SMA/SMK/MA, bahkan dalam kehidupan sehari-hari sudah menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa daerah, utamanya di Jawa Timur. Pada jenjang SMP, KD mengenai mengidentifikasi ragam dan gaya bahasa Jawa dipelajari oleh siswa kelas VIII. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan penulis di SMPN 2 Malang, proses pembelajaran bahasa Jawa sudah menggunakan Kurikulum 2013. Pada penerapan K-13 untuk pembelajaran bahasa Jawa ditemukan beberapa kendala, antara lain kurangnya literatur dan rendahnya pemahaman siswa mengenai istilah bahasa Jawa. Hal ini menjadi penyebab tidak lancarnya komunikasi ketika pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian terhadap fakta pembelajaran bahasa Jawa. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di kelas VIII SMPN 2 Malang dengan materi pokok basa rinengga. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan mengenai perencanaan pembelajaran basa rinengga yang terkait dengan komponen RPP, (2) untuk mendeskripsikan interaksi siswa dan guru dalam kegiatan belajar mengajar yang terdiri atas kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup, (3) untuk mendeskripsikan penilaian pembelajaran basa rinengga yaitu penilaian sikap, penilaian keterampilan, dan penilaian pengetahuan.Pada penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif-deskriptif dengan pendekatan penelitian berupa wacana kelas. Instrumen kunci pada penelitian ini ialah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data berupa perencanaan pembelajaran adalah RPP yang telah disusun dan hasil wawancara dengan guru mengenai penyusunan perencanaan pembelajaran. Data pelaksanaan pembelajaran berupa transkrip pelaksanaan pembelajaran yang terdiri atas kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Data penilaian berupa penilaian proses dan hasil, serta informasi hasil wawancara tentang penilaian pembelajaran. Dalam menentukan keabsahan temuan peneliti melakukan diskusi dengan dosen pembimbing dan teman sejawat.Hasil penelitian pembelajaran basa rinengga pada siswa kelas VIII SMPN 2 Malang terbagi menjadi tiga aspek, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Pertama, RPP yang disusun sudah memuat semua komponen RPP. Kedua, pelaksanaan pembelajaran gaya bahasa (basa rinengga) terdiri atas kegiatan: awal, inti dan penutup. Kegiatan awal meliputi apersepsi, presensi, dan motivasi. Guru juga mengaitkan penguasaan kompetensi terhadap kehidupan siswa. Kegiatan inti meliputi penerapan pendekatan saintifik. Pada pelaksanaan kegiata inti sudah terlihat proses unjuk kerja. Pada pelaksanaan kegiatan penutup guru memberikan refleksi simpulan mengenai pembelajaran yang dilaksanakan. Ketiga, penilaian terdiri dari penilaian sikap, penilaian keterampilan, dan penilaian pengetahuan. Pada penilaian sikap dilaksanakan ketika pembelajaran berlangsung tanpa rubrik penilaian, penilaian keterampilan dilaksanakan dengan unjuk kerja sementara itu untuk penilaian pengetahuan dilaksanakan dengan tes tulis berupa ulangan harian dan tanya jawab di kelas. Penilaian keterampilandan penilaian pengetahuan sudah sesuai dengan yang tercantum pada RPP. Dalam RPP yang dirancang guru, sumber belajar yang digunakan kurang bervariasi. Materi dan media yang dirumuskan oleh guru sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran.Kesimpulan pada penelitian ini yaitu, perencanaan pembelajaran sudah memuat seluruh komponen RPP untuk pelaksanaan pembelajaran. Pada pelaksanaan pembelajaran basa rinengga guru lebih kreatif dalam memilih media dan mengunakan alokasi waktu sebaik mungkin. Penilaian pembelajaran berupa penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Berdasarkan kesimpulan di atas disampaikan saran sebagai berikut. Guru lebih teliti kembali pada saat menyusun RPP dalam kelompok Tim MGMP, alangkah baiknya apabila guru mempersiapkan sendiri RPP pembelajaran yang akan diajarkan. Pada pelaksanaan pembelajaran perlu diusahakan sesuai dengan rancangan pembelajaran yang terdapat pada RPP. Pemilihan media lebih bervariasi serta buku penunjang juga lebih diperhatikan kembali supaya pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan lancar sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Bagi siswa diharapkan untuk secara berkelanjutan mempelajari mengenai pengucapan kosakata bahasa Jawa dan mencintai serta mempelajari budaya-budaya Jawa lainnya. Penelitian ini masih pada tahap melihat bagaimana perencanaan, pelaksanaan,dan penilaian pada pembelajaran gaya bahasa (basa rinengga), maka dapat dilanjutkan dengan penelitian mengembangkan bahan ajar mengenai ragam dan gaya bahasa Jawa.ABSTRAKAgustin, LusiAri. 2017. Language Style Learning (Basa Rinengga) in Year VIII SMPN 2 Malang Students Year 2016/2017. Thesis. Department of Indonesian Literature, Faculty of Letters, Universitas Negeri Malang. Supervisor Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd. Keywords: learning, rinengga language, planning, implementation, and evaluationJavanese language learning is a local subject learned by students from elementary level to high school level, even in daily life Javanese language is a first language in East Java. In junior high school, basic competency about identifying the variety and style of Javanese language is studied by second grader students of junior high school. Based on the results of researcher’s observation that have been done in SMP 2 Malang, the language learning process on Javanese language is already using the curriculum of 2013. On the K-13 application of learning the Javanese language, the researcher found several problems, including the literature learning and the knowledge of students about the terms, phrases or vocabulary that is still lacking. Other problem faced by teachers in learning is the limitation of the use of Javanese language in communication also become problem for teachers in learning. This research was carried out to examine the KBM (teaching and learning activities) in VIII grade of SMP 2 Malang with the subject matter of Rinengga language. The purpose of this research is (1) to describe about the lesson plan on Rinengga language that are associated with the components of the RPP, (2) to describe knowing the interaction between students and teachers in the teaching and learning activities on learning Rinengga language which consists of initial activities, core activities, and the closing activities, (3) to describe the learning assessment of Rinengga language based from attitudes, skills, and knowledge.In this study, the researcher using qualitative-descriptive approach in the form of class discourse. The key instrument in this study is the researcher. Data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The learning plan is from RPP that has been compiled and from the results of interviews with teachers regarding the preparation of study plan. The data from the learning implementation in the form of a transcript from the implementation of the learning of initial activities, core activities, and closing activities. Data assessment form are assessment processes and results, as well as the information about learning interviews. In determining the validity of the research, the researcher conducting discussions with friends and supervisors.The research result of learning Rinengga language on grade VIII SMP 2 Malang is divided into three aspects, planning, implementation, and assessment. First, the RPP arranged already contains all of the components of the RPP. Second, the implementation of learning did not run in accordance with RPP that are designed by teachers, scientific approach is not fully implemented by the teacher when in learning activities, learning activities took three sessions and a daily test while at RPP teacher only noted for two times. Third, the assessment consists of assessments of the attitude, skills, and knowledge. On the attitude assessment was carried out when the learning took place without the rubric assessment, skills assessment was carried out in the form of the performance, and for knowledge assessment test implemented in the form of daily test and frequently asked questions in class. Skills assessment and knowledge assessment is suitable with listed on the RPP. In the RPP, teacher-designed learning resources are used less varied. Materials and media that are formulated by the teacher is suitable with the purpose of learning. The conclusion on this research is, the plan study is already containing of all components of RPP for the implementation of learning. Implementation of learning Rinengga language are carried out three times. Activities between teachers and students in the form of lectures, discussions and assignments. Learning assessment form are attitude, knowledge, and skills. Based on the research results can be delivered to the following suggestions. Teachers more focus on when teachers are putting together in a group of MGMP, it would be nice if the teachers are preparing their own RPP learning that will be taught. On the implementation of learning need to be organized in accordance with the design of the study that contained in the RPP. The selection of books as well as more varied media support is also noted so that learning can be done nicely and smoothly and it is able to improve the quality of learning. For students are expected to continuously learn about pronunciation and vocabulary of the Javanese language and study as well as they learn other Javanese cultures. This research is still at the stage of looking at how the planning, implementation, and assessment of learning styles of language (Rinengga language), then can proceed with research to develop learning materials about the variety and style of Javanese language