SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Penanda Kohesi Pada Teks Pidato Bahasa Jawa Siswa Kelas IX
ABSTRAK Hilma, Isma Pranata. 2017. Penanda Kohesi pada Teks Pidato Bahasa Jawa Siswa Kelas IX. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Anang Santoso, M. Pd. Kata Kunci: Penanda kohesi, Teks pidato bahasa Jawa, siswa SMP.Pada pembelajaran bahasa Jawa tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dipelajari meliputi tembang macapat, geguritan, aksara Jawa, pidato dan sebagainya. Pada tingkat SMP kelas IX semester 1 kompetensi dasar yang dipelajari salah satunya menulis teks pidato bahasa Jawa. Dalam praktiknya di MTS Negeri Purwoasri siswa masih kesulitan menulis teks pidato bahasa Jawa dengan menggunakan penanda kohesi yang benar.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penanda kohesi pada teks pidato bahasa Jawa siswa kelas IX MTS Negeri Purwoasri. Metode penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif deskriptif. Data dan sumber data penelitian ini yaitu penanda kohesi pada teks pidato bahasa Jawa siswa MTS Negeri Purwoasri yang diperoleh melalui studi dokumen. Instrumen penelitian yang digunakan panduan kriteria kelayakan data, panduan analisis data, dan tabel pengumpul data. Dalam penelitian ini dilakukan analisis data dimulai dari tahap mereduksi data, menyajikan data (display data), menarik kesimpulan dan melaksanakan verifikasi.Berdasarkan hasil analisis data tersebut diperoleh simpulan sebagai berikut. Pertama, pada bagian pembuka teks pidato bahasa Jawa ditemukan penanda kohesi gramatikal dan penanda kohesi leksikal. Penanda kohesi gramatikal meliputi referensi, subtitusi, dan konjungsi. Pada bagian pembuka teks pidato bahasa Jawa ditemukan penanda kohesi gramatikal referensi anafora dan katafora. Penanda kohesi referensi yang ditemukan meliputi meliputi pronomina demonstratif (kata penunjuk) dan pronomina lokatif (kata ganti tempat). Kemudian, ditemukan pula penanda kohesi subtitusi kata ganti orang atau pronomina persona meliputi pronomina persona pertama, kedua, ketiga, dan bentuk jamak. Penanda kohesi pada bagian pembuka teks pidato bahasa Jawa yang paling banyak digunakan yaitu konjungsi. Pada bagian pembuka teks pidato bahasa Jawa ditemukan pula penanda kohesi leksikal yang lebih sedikit daripada penanda kohesi gramatikal. Penanda kohesi leksikal, terdiri dari dua aspek yaitu reiterasi dan kolokasi. Kemudian, pada bagian pembuka teks pidato bahasa Jawa penanda kohesi leksikal reiterasi yang ditemukan reiterasi pengulangan penuh, pengulangan bentuk lain, dan pengulangan dengan penggantian. Pengulangan hiponimi tidak di temukan pada bagian pembuka teks pidato bahasa Jawa siswa.Kedua, pada bagian isi teks pidato bahasa Jawa ditemukan penanda kohesi gramatikal dan penanda kohesi leksikal. Penanda kohesi gramatikal meliputi referensi, subtitusi, dan konjungsi. Pada bagian isi teks pidato bahasa Jawa ditemukan penanda kohesi gramatikal referensi anafora dan katafora. Penanda kohesi referensi yang ditemukan meliputi pronomina demonstratif (kata penunjuk) dan pronomina lokatif (kata ganti tempat). Kemudian, ditemukan pula penanda kohesi subtitusi kata ganti orang atau pronomina persona meliputi pronomina persona pertama, kedua, ketiga, dan bentuk jamak. Dari ketiga penanda kohesi tersebut yang sering ditemukan adalah konjungsi. Kemudian, penanda kohesi gramatikal konjungsi meliputi konjungsi kausalital, konjungsi temporal/konungsi tempo waktu beurutan, konjungsi konklusi, konjungsi similaritas, konjungsi adisi, dan konjungsi kontras. Pada bagian isi teks pidato bahasa Jawa ditemukan pula penanda kohesi leksikal yang lebih sedikit daripada penanda kohesi gramatikal. Penanda kohesi leksikal, terdiri dari dua aspek yaitu reiterasi dan kolokasi. Kemudian, pada bagian isi teks pidato bahasa Jawa penanda kohesi leksikal reiterasi yang ditemukan yaitu reiterasi pengulangan penuh dan bentuk lain. Pengulangan hiponimi dan penggantian tidak di temukan pada isi bagian teks pidato bahasa Jawa siswa. Ketiga, pada bagian penutup teks pidato bahasa Jawa ditemukan pada bagian penutup teks pidato bahasa Jawa ditemukan penanda kohesi gramatikal dan penanda kohesi leksikal. Penanda kohesi gramatikal meliputi referensi, subtitusi, dan konjungsi. Pada bagian penutup teks pidato bahasa Jawa ditemukan penanda kohesi gramatikal referensi anafora dan katafora. Penanda kohesi gramatikal referensi ditemukan yaitu pronomina demonstratif (kata penunjuk). Kemudian, ditemukan pula penanda kohesi subtitusi kata ganti orang atau pronomina persona meliputi pronomina persona pertama, kedua, ketiga, dan bentuk jamak. Namun, yang paling banyak digunakan yaitu konjungsi. Pada bagian penutup teks pidato bahasa Jawa juga ditemukan penanda kohesi leksikal yang lebih sedikit daripada penanda kohesi gramatikal. Penanda kohesi leksikal yang ditemukan yaitu penanda kohesi leksikal reiterasi ulangan penuh. Penanda kohesi pengulangan dengan bentuk lain, penggantian, dan hiponimi tidak ditemukan. Selain itu juga tidak ditemukan kolokasi pada bagian penutup teks pidato bahasa Jawa siswa
Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Deskripsi dengan Menggunakan Teknik Retrival Jaringan Semantik Siswa Kelas VII SMP Negeri I Kabupaten Merauke Provinsi Papua
ABSTRAK Nggaruaka, Tobias, 2017. Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Deskripsi dengan Menggunakan Teknik Retrival Jaringan Semantik Siswa Kelas VII SMP Negeri I Kabupaten Merauke Provinsi Papua. Tesis Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. H. Abdus Syukur Ghazali, M.Pd., (II) Dr. Titik Harsiati, M.Pd Kata Kunci: peningkatan, menulis teks deskripsi, teknik retrival jaringan semantik.Penggunaan teknik retrival jaringan semantik dalam pembelajaran menulis teks deskripsi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis teks deskripsi siswa kelas VII SMP Negeri I Merauke Kabupaten Merauke sesuai dengan kurikulum 2006. Berdasarkan penelitian ini, diharapkan kemampuan menulis teks deskripsi siswa meningkat. Penerapan teknik retrival jaringan semantik dalam pembelajaran menulis teks deskripsi dilaksanakan secara sistematik dengan tetap memerhatikan kaidah-kaidah bahasa dan struktur pengembangan teks deskripsi. Berdasarkan pengamatan awal ditemukan berbagai kendala dalam proses pembelajaran di kelas. Kendala-kendala yang umumnya terjadi dalam proses pembelajaran sebagai berikut: (1) guru mengalami kesulitan dalam merancang, melaksanakan, dan menilai pembelajaran menulis teks deksripsi, (2) dalam kegiatan belajar mengajar guru lebih mementingkan hasil tulisan dari pada proses dan tahapan dalam menulis, (3) kurangnya strategi dalam proses pembelajaran menulis, (4) siswa tidak diberikan arahan dalam pengembangan sebuah teks deskripsi terkait langkah-langkah penulisan, (5) siswa kesulitan dalam proses pemilihan dan penentuan topik sebelum kegiatan menulis, (6) di dalam pembelajaran perintah guru kepada siswa belum terarah, (7) hasil siswa dinilai berdasarkan kemampuan rata-rata dan bukan penilain secara intensif pada individu masing-masing dan (8) siswa di dalam proses pembelajaran menulis teks deskripsi sulit untuk mengembangkan ide dan gagasan mereka. Tujuan penelitian ini untuk: (1) mengetahui proses perencanaan pembelajaran menulis dengan menggunakan teknik retrival jaringan semantik, (2) mengetahui karakteristik pembelajaran menulis teks deskripsi dengan menggunakan teknik retrival jaringan semantik, dan (2) mengetahui hasil pembelajaran menulis teks deskripsi dengan menggunakan teknik retrival jaringan semantik.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK). Rancangan penelitian tindakan yang digunakan meliputi: (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) pengamatan, dokumentasi, dan (5) refleksi. Studi pendahuluan dilakukan untuk mengetahui kondisi awal pelaksanaan pembelajaran menulis teks deskripsi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Merauke, Kabupaten Merauke Provinsi Papua. Tahap perencanaan dilakukan untuk menyusun rancangan tindakan dan instrumen pembelajaran menulis teks deskripsi. Dalam proses perencaan peneliti juga merumuskan tahapan-tahapan pembelajaran, menentukan sumber data, bahan dalam tindakan, dan menentukan bentuk tindakan. Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru. Tindakan refleksi dilakukan setiap akhir pertemuan dalam setiap siklus.Data penelitian ini berupa data proses dan data hasil tindakan selama proses penelitian berlangsung. Data tersebut dikumpulkan berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, hasil tindakan, catatan lapangan, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini guru dan 36 siswa kelas VII SMP Negeri 1 Merauke, Kabupaten Merauke, Provisi Papua. Instrumen utama adalah peneliti sendiri sebagai pengumpulan data dengan menggunakan instrumen penunjang yang telah disediakan oleh peneliti berupa format pengamatan, catatan lapangan, pedoman wawancara, LKS, dan instrumen pengelolaan data berupa rambu-rambu proses dan hasil. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model mengalir, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau pemaknaan. Untuk melakukan pengujian keabsahan simpulan data dilakukan ketekunan peneliti, triangulasi, dan pengecekan teman sejawat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan pembelajaran menulis teks deskripsi dalam pelaksanaan pembelajaran. Hal tersebut dilihat berdasarkan hasil perkembangan persiklus, yaitu siklus I pertemuan I hasil pembelajaran mencapai 63, 89%. Pada Pertemuan II siklus I ada peningkatan menjadi 77,78%. Untuk siklus II pertemuan I hasil pembelajaran mencapai 80, 56%. Untuk hasil kecapaian pembelajaran siklus II pertemuan II meningkat menjadi 86,11%. Hasil pembelajaran siklus III pertemuan I menunjukkan 91,67% dan pertemuan II siklus III hasil ketercapaian meningkat menjadi 97, 22%. Berdasarkan hasil penelitian di atas, (1) disarankan kepada para guru mata pelajaran bahasa Indonesia untuk dapat menerapkan teknik retrival jaringan semantik dalam pembelajaran menulis teks deskripsi berdasarkan tahapan menulis dengan tiga model pembelajaran yaitu tahap pengisian teks rumpang, tahap pengembangan peta semantik, dan tahap pengembangan pertanyaan yang dikembangkan menjadi karangan deksripsi, (2) dalam penerapan tiga model pembelajaran tersebut guru sebaiknya melakukan penilaian berdasarkan proses dan hasil, (3) untuk pihak sekolah tetap memerhatikan kualitas pembelajaran dan terus berinovasi dalam mengembangkan kemampuan dan kecerdasan siswa, dan (4) kepada pengembang buku teks mata pelajaran bahasa Indonesia disarankan untuk memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun buku teks
Kesalahan Pemakaian Tanda Baca dalam Harian Surya
ABSTRAK Nurmungin. 2017. Kesalahan Pemakaian Tanda Baca dalam Harian Surya. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Imam Agus Basuki M.Pd Kata kunci: kesalahan berbahasa, tanda baca, bahasa jurnalistikSurat kabar memiliki peran penting dalam pengembangan bahasa Indonesia. Salah satu bentuk pengembangan tersebut adalah pemakaian ejaan yang benar. Ejaan mencakup pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan. Penelitian ini berfokus pada pemakaian tanda baca dalam surat kabar. Surat kabar yang digunakan adalah harian Surya.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan pemakaian tanda baca dalam harian Surya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain analisis teks. Data dalam penelitian ini adalah kesalahan pemakaian tanda baca yang ditemukan pada harian Surya, sedangkan sumber datanya adalah semua rubrik yang terdapat dalam harian Surya.Pengumpulan data dilakukan dalam beberapa tahap, (1) peneliti membaca surat kabat harian Surya secara berulang-ulang dan teliti, sehingga data dapat dipertanggungjawabkan, (2) setiap kesalahan pemakaian tanda baca yang muncul dalam harian Surya diberi tanda berupa pewarnaan, sehingga proses penginputan data dapat dilakukan dengan lebih mudah, (3) setiap kesalahan yang muncul, peneliti melakukan kodefikasi berdasarkan jenis kesalahan pemakaian tanda baca, dan (4) pengklasifikasian kesalahan pemakaian tanda baca berdasarkan kodefikasi yang telah diberikan. Setalah itu, data terkumpul dalam wujud kesalahan pemakaian tanda baca dalam harian Surya.Analisis data pada penelitian ini menggunakan model alir yang yang diadaptasi dari analisis data kualitatif Miles dan Huberman. Analisis data kualitif terdiri atas tiga alur. Pertama, peneliti mencermati data yang layak untuk diteliti dengan cara membaca harian Surya secara berulang-ulang dan teliti, sehingga data yang berupa kesalahan pemakaian tanda baca benar-benar layak. Selanjutnya, peneliti melakukan klasifikasi berdasarkan jenis kesalahan pemakaian tanda baca. Kemudian, melakukan kodefikasi pada data yang berupa kesalahan pemakaian tanda baca. Kodefikasi meliputi (1) jenis kesalahan pemakaian tanda baca, (2) hari terbit surat kabar, dan (3) urutan berita pada surat kabar, dan (4) rubrik. Kedua, penyajian data. Penyajian data menunjukkan kesalahan pemakaian tanda baca, klasifikasi kesalahan pemakaian tanda baca, serta pembenaran pemakaian tanda baca. Ketiga, penarikan kesimpulan. Penarikan simpulan dilakukan dengan mengecek kesesuaian hasil analisis data dengan fokus penelitian yang telah ditetapkan, yaitu kesalahan pemakaian tanda baca dalam harian Surya.Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan sebagai berikut. Pertama, kesalahan pemakaian tanda baca yang ditemukan dalam harian Surya bervariatif. Kesalahan pemakaian tanda baca tersebut adalah (1) Kesalahan pemakaian tanda titik pada akhir kalimat pernyataan. (2) Kesalahan pemakaian tanda koma di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau pembilangan. (3) Kesalahan pemakaian tanda koma sebelum kata penghubung dalam kalimat majemuk (setara). (4) Kesalahan pemakaian tanda koma di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat. (5) Kesalahan pemakaian tanda koma sebelum dan/atau sesudah kata seru atau kata yang dipakai sebagai sapaan. (6) Kesalahan pemakaian tanda koma untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. (7) Kesalahan pemakaian tanda koma di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. (8) Kesalahan pemakaian tanda koma untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan aposisi. (9) Kesalahan pemakaian tanda hubung untuk menyambung unsur kata ulang. (10) Kesalahan pemakaian tanda hubung untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu. (11) Kesalahan pemakaian tanda hubung untuk merangkai kata ganti -ku, -my, dan -nya dengan singkatan yang berupa huruf kapital. (12) Kesalahan pemakaian tanda pisah di antara dua bilangan tanggal, atau tempat yang berarti 'sampai dengan' atau 'sampai ke'. (13) Kesalahan pemakaian tanda petik untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. (14) Kesalahan pemakaian tanda petik untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel, naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. (15) Kesalahan pemakaian tanda petik untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. (16) Kesalahan pemakaian tanda petik tunggal untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan. (17) Kesalahan pemakaian tanda kurung untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan. (18) Kesalahan pemakaian tanda garis miring dalam penadahan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim. (19) Kesalahan pemakaian tanda garis miring sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap. Kedua, kesalahan pemakaian tanda baca yang paling sering ditemukan dalam harian Surya adalah kesalahan pemakaian tanda komaSaran diberikan kepada penulis berita untuk lebih cermat pada sembilan belas kesalahan kaidah pemakaian tanda baca di atas. Lebih khusus lagi untuk lebih cermat pada pemakaian tanda koma, karena kesalahan terbanyak ditemukan pada kaidah pemakaian tanda koma. Selain itu, penulis berita diharapkan untuk lebih mempelajari pemakaian tanda baca, agar kesalahan seperti yang ditemukan pada hasil penelitian dapat dihindari.ABSTRAK Nurmungin. 2017. Error Punctuation Usage at Daily Surya. Thesis, Indonesian Literature Program, Faculty of Letter, State University of Malang. Advisor: Dr. Imam Agus Basuki, M.Pd. Keywords: error speaking, punctuation, jurnalistic languageNewspapper have an importang thing on language development. One of language development is orthography. Orthograpy include letter usage, word writing, punctuation usage, and substance adoption writing. This research focused on punctuation usage on newspapper. The newspapper is daily Surya.Purpose of this research is to describe error punctuation usage on daily Surya. This research using quantitative approachment with analysis text design. Data of this research is error punctuation on daily Surya. Data source of this research is all column on daily Surya.Data accumulation do in several step, (1) researcher read daily Surya in a cerefull and repetitive manner, with the result that avoid from carelessness, (2) every error punctuation that appear on daily Surya got a remarkable like colouring, with the result that input data could be esier, (3) every error that appear, will got codefication based on kind of error punctuation. Afterward, collected data on shape error punctuation on daily Surya.Data analysis on this research use model that adapted from qualitative analysis Miles and Huberman. Qualitative analysis data consist of three guly. First, researcher classify suitable data with read daily Surya in a carefull and repetitive manner, with the result the data will proper for research. Furthermore, classify based on kind of error punctuation. Then, codefication on data. Codefication include (1) kind of error punctuation, (2) day of newspaper publication, (3) news sequence on newspaper, and (4) kind of writer. Secondary, data presentation. Data presentation show error punctuation usage and correction of it. Third, conclution. Conclution interpretation doing by suitability cheked on the way result of anlysis data with research focus has to be set.Based on analysis data, researcher got some conclution. First, error punctuation usage on dily Surya have some variation. The error punctuation usage is (1) error full stop usage at the end of the sentence, (2) error comma usage between elaboration or counting, (3) error comma usage before conjuction in compound sentence, (4) error comma usage before subordinatif conjuction, (5) error comma usage before and/or after interjections or word that use as greeting, (6) error comma usage to separate quotation from another word at the santence, (7) error comma usage between, (a) name and addres, (b) part of addres, (c) date and palce, and (d) place and region or country that writen by sequence, (8) error comma usage to hammed in additional explanation or additional apposition, (9) error hyphens usage to connected reduplication substance, (10) error hyphens usage to connected date, month, and year that be stated with number or conneted characters in word that spell one by one, (11) error hyphens usage to connection pronouns structure with abbreviation that writen by capital word, (12) error dash usage between date or place by meaning 'sampai dengan' or 'sampai ke', (13) error quotation marks usage to hemmed in live quotes that came from conversation, text, or another writing, (14) error quotes to hemmed in poem title, film, sinetron, article, text, or chapter that us on sentence, (15) error quotes usage to hemmed in scientific idiom that not familliar or word has special meaning, (16) error apostrophe usage to hemmed in meaning, translation, or explanation word or idiom, (17) error parentheses usage to hemmed in additional explanation, (18) error slash usage at passing on one year period that divide on two part, and (19) error slash usage as substitute dan, atau, and setiap. Second, the biggest error punctuation usage is comma usage. Advices give it to writer to be carefull on to nineteen error punctuation usage above. Especially be carefull to comma usage because more error find on it. In addition, hopely writer for more learn puncuation usage to avoid error punctuation usage in the future
PENGEMBANGAN PROGRAM LITERASI AKADEMIK DI MA MA’ARIF NU BLITAR
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkanprogram pengembangan literasi akademik yang dikemas dalam buku panduan yang mempunyai kualitas(1) aspek deskripsi isi, (2) aspek tampilan, (3) aspek sistematika, dan (4) aspek penggunaan bahasa.Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan. Desain penelitian ini diadaptasi dari model penelitian Borg and Gall. Skor ratarata yang diperoleh dari aspek isi yaitu 81.2%%. Skor rata-rata yang diperoleh dari aspek tampilan yaitu 80.5%. Skor rata-rata yang diperoleh dari aspek sistematika yaitu 85.5%. Skor rata-rata yang diperoleh dari aspek bahasa yaitu 84.9%
Bentukan Verba dalam Teks Cerpen Karya Siswa Kelas XI SMK Negeri 2 Malang
ABSTRAK Octaviani, Diah Eka. 2017. Bentukan Verba dalam Teks Cerpen Karya Siswa Kelas XI SMK Negeri 2 Malang. Skripsi, Jurusan Bahasa Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Suparno. Kata Kunci: bentukan verba, teks cerpen Kata merupakan salah satu unsur penting dalam penggunaan bahasa, salah satunya pada proses pembuatan karya tulis. Ada banyak ragam kelas kata dalam bahasa Indonesia, salah satunya kata kerja. Kata kerja yang mengalami proses morfologis mempunyai potensi memperkaya perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Pembentukan kata kerja melalui proses morfologis mengalami perubahan yang berbeda-beda sesuai dengan morfem yang mengikuti. Teks cerpen merupakan karya fiksi berbentuk prosa naratif fiktif yang menceritakan tentang kehidupan manusia. Fokus penelitian ini ialah bentukan verba dalam teks cerpen karya siswa XI SMK Negeri 2 Malang. Bentukan verba dalam teks cerpen difokuskan pada tiga aspek, yaitu (1) afiksasi, (2) reduplikasi, dan (3) pemajemukan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 2 Malang. Data penelitian ini ialah data segmentatif berupa penggalan-penggalan teks cerpen yang mengambarkan bentukan verba dengan afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui penugasan menulis teks cerpen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen kunci dan pelengkap. Instrumen kunci adalah peneliti sendiri, sedangkan instrumen pelengkap berupa instrumen pengumpulan data. Analisis data dalam penelitian ini meliputi tiga tahap reduksi, penyajian data, dan penyimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian ini dilakukan melalui diskusi dengan ahli dan teman sejawat. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri atas tujuh tahap, yaitu studi pendahuluan, penentuan masalah peneliti, perancangan peneliti, pengumpulan data, analisis data, rumusan hasil, dan penulisan laporan. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, bentukan verba dengan afiksasi terdiri dari prefiks meN-, ber-, di-, ter-, serta konfiks ber-an, di-kan, meN-i, meN-kan, dan memper-kan. Bentukan verba dengan afiks meN- lebih dominan dalam teks cerpen karya siswa. Bentukan verba dengan afiksasi mengalami proses pembentukan kata dari bentuk asal dan bentuk dasar, mengalami perpindahan kategori kata berupa kata kerja, kata benda, dan kata sifat menjadi kata kerja setelah mendapat afiks pada bentuk dasar atau bentuk asal, mengalami proses morfofonemik berupa perubahan fonem dan penghilangan fonem, serta bentukan verba dengan afiksasi memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar. Kata kerja paling banyak ditemukan berupa kata kerja perbuatan (aksi). Kedua, bentukan verba dengan proses reduplikasi yang terdapat dalam teks cerpen berupa kata ulang sebagian dan kata ulang berubah bunyi. Bentukan verba dengan reduplikasi mengalami proses pembentukan kata dari bentuk asal dan bentuk dasar, mengalami perpindahan kategori kata berupa kata kerja dan kata benda menjadi kata kerja setelah mendapat afiks dan pengulangan pada bentuk dasar. Bentukan verba dengan reduplikasi mengalami proses morfofonemik berupa penghilangan fonem, serta bentukan verba dengan reduplikasi memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar. Ketiga, bentukan verba dengan pemajemukan mengalami proses pembentukan kata dari gabungan bentuk bebas dengan bentuk bebas. Bentukan verba dengan pemajemukan berkategori kata kerja, dan bentukan verba dengan pemajemukan memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar. Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan dua saran. Pertama, saran bagi guru Bahasa Indonesia agar memantapkan materi pembelajaran terutama mengenai bentukan verba dan menyusun latihan-latihan bahan ajar lebih bervariasi. Kedua, kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitiannya secara lebih menyeluruh seperti pembentukan verba dari ilmu sintaksis dan meneliti tentang bentukan verba dengan subjek lain yang masih termasuk kalangan akademik. ABSTRACT Eka Octaviani, Diah. 2017. Verb Formation Used in Short Story Texts Made by the 11th Graders of Vocational High School 2 Malang. Thesis, Departemnt of Indonesian Language, Faculty of Literature, State University of Malang. Supervisor: Prof. Dr. Suparno. Keywords: verb formation, short story text Word is one of the important elements in the use of language, one of them in the process of making the paper. There are many different word classes in Indonesian, for example verbs. Verbs that experience morphological processes have the potential to enrich the Indonesian vocabulary. The formation of verbs through morphological processes undergoes varying changes according to the following morphemes. Short story text is a work of fiction in the form of fictitious narrative prose that tells about a particular event human. The focus of this research is the formation of verbs in the short story text made by the 11th graders of vocational high school 2 malang. The formation of verbs in the short story text focused on three aspects, that is (1) affixasi, (2) reduplication, and (3) compounding. This research is done with qualitative approach and descriptive research type. The research was conducted in SMK Negeri 2 Malang. The data of this research is segmentative data in the form of short story fragments that describe the formation of verbs with affixation, reduplication, and compounding. The data collection procedure is done through writing short story writing assignments. Instruments used in this research are key and complementary instruments. The key instrument is the researcher himself, while the complementary instrument is a data collection instrument. Data analysis in this study includes three stages of reduction, data presentation, and inference. Checking the validity of the findings in this study was conducted through discussions with experts and peers. The stages performed in this research consists of seven stages, namely preliminary studies, determining the problem researchers, designing. Based on data analysis, the following research results are obtained. First, those verb formation contains verb with prefixes meN-, ter-, ber-, and di- and verb with confixes ber-an, di-kan, meN-i, meN-kan, and memper-kan. The formation of verbs with the affixes meN- more than dominant of short story texts. The formation of verbs with affixation undergoes the process of forming the word from the form of origin and the basic form, experiencing the movement of word categories in the form of verbs, nouns, and adjectives into verbs after getting affixes on the basic form or form of origin, experiencing the morphophonemic process of phoneme changes , phoneme addition, and phoneme removal, as well as the formation of verbs with affixation have different meanings according to the affixes attached to the basic form. Most verbs are found in the form of action verbs (action). Second, the formation of verbs with the process of reduplication contained in the short story text in the form of partial re-word and repeating sounds. The formation of verbs with reduplication undergoes the process of forming the word from the original form and the basic form, experiencing the movement of word categories in the form of verbs and nouns into verbs after obtaining affixes and repetitions on the basic form. The formation of verbs with reduplication undergoes a morphophonemic process in the form of phoneme removal, as well as the formation of verbs with reduplication having different meanings in accordance with the affixes attached to the basic form. Third, the formation of verbs with compounding process of forming the word from the free form combined with the free form. The formation of verbs with compound categorized verbs, and the formation of verbs with compounding have different meanings according to the affixes attached to the basic form. Based on the results of the study, two suggestions are presented. First, suggestions for Indonesian teachers to strengthen learning materials, especially on the formation of verbs and compose the instructional materials are more varied. Second, to further researchers to develop more thorough research such as the formation of verbs from the science of syntax and research on the formation of verbs with other subjects that still include academics.
Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Ekspresi Diri dengan Media Lagu pada Siswa Kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang
ABSTRAK Kemampuan menulis puisi adalah kecakapan dalam mengekspresikan imajinasi, perasaan, dan pikiran dengan menggunakan pilihan kata, kata-kata kias yang memiliki makna dan amanat dari suasana yang diciptakan melalui puisi dengan memanfaatkan unsur-unsur puisi dan harus melalui latihan dan praktik secara teratur. Puisi ekspresi diri merupakan bentuk karya sastra modern yang mengekspresikan pemikiran diri sendiri, membangkitkan perasaan, dan merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Bahasa yang digunakan dipilih dan ditata secara cermat ke dalam rangkaian kata-kata yang disusun dengan memperhatikan gagasan atau ide, tema, isi, diksi, majas dan ejaan sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalamannya.Pembelajaran menulis puisi sudah diajarkan kepada siswa kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang sesuai dengan kurikulum 2013. Terkait dengan pembelajaran menulis puisi di sekolah tersebut, dilakukan studi pendahuluan atau tahap pratindakan dengan hasil bahwa (1) siswa kurang mampu menuangkan ide, imajinasi, pengalamannya, dan kata-kata ke dalam sebuah kalimat yang baik saat menulis puisi (2) siswa kurang memahami tentang langkah-langkah menulis puisi dengan baik dan benar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, (3) siswa kurang konsentrasi terhadap pembelajaran karena media yang digunakan kurang menarik. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu diadakannya pembelajaran dengan penggunaan media lagu untuk lebih mengkhususkan pokok persoalan dalam menulis puisi ekspresi diri. Media lagu dipilih karena media lagu dapat membantu siswa menuangkan ide, imajinasi, pengalamannya, kata-kata ke dalam puisi (sebagai stimulus) dan lagu yang disediakan mampu menarik minat siswa untuk belajar menulis puisi.Tujuan umum penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan peningkatan proses kemampuan menulis puisi ekspresi diri dengan menggunakan media lagu pada siswa kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil kemampuan menulis puisi ekspresi diri dengan menggunakan media lagu pada siswa kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang. Secara khusus, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis puisi ekspresi diri siswa kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang pada aspek (1) gagasan atau ide, (2) isi, (3) diksi, (4) tema, (5) majas, serta (6) ejaan.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang meliputi empat tahapan, yaitu (1) pratindakan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) refleksi hasil tindakan. Data penelitian ini berupa data proses dan data hasil. Data proses berupa perilaku siswa saat proses pembelajaran menulis puisi ekspresi diri yang dilakukan siswa dan guru di kelas, sedangkan data hasil berupa skor kemampuan menulis puisi ekspresi diri siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, dan rubrik penilaian proses, sedangkan data hasil dilakukan dengan tes yang dinilai menggunakan rubrik penilaian hasil menulis puisi. Data proses dan data hasil yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menyeleksi, mengoreksi, menskor, dan menyimpulkan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa media lagu mampu meningkatkan kinerja pembelajaran menulis puisi ekspresi diri pada proses dan hasil pembelajaran. Peningkatan proses tergambar (1) siswa lebih antusias dalam melaksanakan intruksi latihan dan melaksanakan tugas dengan tepat waktu, (2) siswa lebih antusias dan serius dalam mengerjakan tes menulis puisi ekspresi diri, (3) siswa perhatian dalam mendengarkan penjelasan guru (4) siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran menulis puisi ekspresi diri. Peningkatan hasil terlihat pada aspek, (1) siswa mampu memilih gagasan atau ide dengan tepat dan sesuai antara tema puisi dengan gagasan atau ide, (2) siswa mampu menggambarkan isi dengan tepat dan sesuai antara tema puisi dengan keseluruhan isi puisi baik tersirat maupun tersurat, (3) siswa mampu memilih tema yang tepat dan sesuai antara tema puisi dengan judul dan keseluruhan isi puisi, (4) siswa mampu memilih kata atau diksi dengan tepat, sesuai konteks, mengandung bahasa konotasi (banyak makna), dan memiliki nilai estetis yang tinggi, (5) siswa mampu menggunakan majas dengan tepat dan memiliki variasi majas yang beragam, dan (6) siswa mampu menulis ejaan dengan tepat dan sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Peningkatan proses dan hasil pembelajaran menulis puisi ekspresi diri diikuti pula dengan peningkatan nilai hasil belajar siswa dalam menulis puisi ekspresi diri. Pada tahap pratindakan nilai rata-rata siswa 65,41, pada siklus I nilai rata-rata siswa adalah 68,84 dan pada siklus II, nilai rata-rata siswa adalah 79,16. Penggunaan media lagu dalam pembelajaran menulis puisi ekspresi diri mampu meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan dilihat dari beberapa aspek menulis puisi. Media lagu mampu menarik perhatian siswa dan menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Lagu dalam media lagu, disesuaikan dengan tema perasaan atau ekpresif, penjelasan guru membantu siswa dalam mengerjakan tes yang sekaligus membantu pemahaman siswa tentang langkah-langkah menulis puisi. Pemberian contoh secara langsung dalam setiap tahapan menulis, bimbingan individu merata, pemberian waktu yang cukup, pemberian penguatan secara verbal dan nonverbal yang diberikan guru, menjadi motivasi siswa dalam menulis puisi. Berdasarkan temuan penelitian tersebut, guru disarankan agar memberikan pembelajaran dengan metode dan media lagu yang dapat menumbuhkan minat siswa dalam menulis puisi serta dibutuhkan keikutsertaan guru untuk mengajak siswa membaca karya sastra sebanyak mungkin, terutama puisi
Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Ekspresi Diri dengan Media Lagu pada Siswa Kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang.
ABSTRAK Helmy, Haykal. 2017. Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi Ekspresi Diri dengan Media Lagu pada Siswa Kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Yuni Pratiwi, M. Pd. Kata kunci: kemampuan menulis puisi, puisi ekspresi diri, media lagu.Kemampuan menulis puisi adalah kecakapan dalam mengekspresikan imajinasi, perasaan, dan pikiran dengan menggunakan pilihan kata, kata-kata kias yang memiliki makna dan amanat dari suasana yang diciptakan melalui puisi dengan memanfaatkan unsur-unsur puisi dan harus melalui latihan dan praktik secara teratur. Puisi ekspresi diri merupakan bentuk karya sastra modern yang mengekspresikan pemikiran diri sendiri, membangkitkan perasaan, dan merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Bahasa yang digunakan dipilih dan ditata secara cermat ke dalam rangkaian kata-kata yang disusun dengan memperhatikan gagasan atau ide, tema, isi, diksi, majas dan ejaan sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalamannya.Pembelajaran menulis puisi sudah diajarkan kepada siswa kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang sesuai dengan kurikulum 2013. Terkait dengan pembelajaran menulis puisi di sekolah tersebut, dilakukan studi pendahuluan atau tahap pratindakan dengan hasil bahwa (1) siswa kurang mampu menuangkan ide, imajinasi, pengalamannya, dan kata-kata ke dalam sebuah kalimat yang baik saat menulis puisi (2) siswa kurang memahami tentang langkah-langkah menulis puisi dengan baik dan benar dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, (3) siswa kurang konsentrasi terhadap pembelajaran karena media yang digunakan kurang menarik. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu diadakannya pembelajaran dengan penggunaan media lagu untuk lebih mengkhususkan pokok persoalan dalam menulis puisi ekspresi diri. Media lagu dipilih karena media lagu dapat membantu siswa menuangkan ide, imajinasi, pengalamannya, kata-kata ke dalam puisi (sebagai stimulus) dan lagu yang disediakan mampu menarik minat siswa untuk belajar menulis puisi.Tujuan umum penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan peningkatan proses kemampuan menulis puisi ekspresi diri dengan menggunakan media lagu pada siswa kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang, (2) mendeskripsikan peningkatan hasil kemampuan menulis puisi ekspresi diri dengan menggunakan media lagu pada siswa kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang. Secara khusus, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peningkatan kemampuan menulis puisi ekspresi diri siswa kelas X IIS 5 SMA Negeri 1 Lawang pada aspek (1) gagasan atau ide, (2) isi, (3) diksi, (4) tema, (5) majas, serta (6) ejaan.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) yang meliputi empat tahapan, yaitu (1) pratindakan, (2) perencanaan tindakan, (3) pelaksanaan tindakan, (4) refleksi hasil tindakan. Data penelitian ini berupa data proses dan data hasil. Data proses berupa perilaku siswa saat proses pembelajaran menulis puisi ekspresi diri yang dilakukan siswa dan guru di kelas, sedangkan data hasil berupa skor kemampuan menulis puisi ekspresi diri siswa. Pengumpulan data proses dilakukan dengan observasi menggunakan lembar observasi, catatan lapangan, dan rubrik penilaian proses, sedangkan data hasil dilakukan dengan tes yang dinilai menggunakan rubrik penilaian hasil menulis puisi. Data proses dan data hasil yang telah dikumpulkan dianalisis dengan menyeleksi, mengoreksi, menskor, dan menyimpulkan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa media lagu mampu meningkatkan kinerja pembelajaran menulis puisi ekspresi diri pada proses dan hasil pembelajaran. Peningkatan proses tergambar (1) siswa lebih antusias dalam melaksanakan intruksi latihan dan melaksanakan tugas dengan tepat waktu, (2) siswa lebih antusias dan serius dalam mengerjakan tes menulis puisi ekspresi diri, (3) siswa perhatian dalam mendengarkan penjelasan guru (4) siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran menulis puisi ekspresi diri. Peningkatan hasil terlihat pada aspek, (1) siswa mampu memilih gagasan atau ide dengan tepat dan sesuai antara tema puisi dengan gagasan atau ide, (2) siswa mampu menggambarkan isi dengan tepat dan sesuai antara tema puisi dengan keseluruhan isi puisi baik tersirat maupun tersurat, (3) siswa mampu memilih tema yang tepat dan sesuai antara tema puisi dengan judul dan keseluruhan isi puisi, (4) siswa mampu memilih kata atau diksi dengan tepat, sesuai konteks, mengandung bahasa konotasi (banyak makna), dan memiliki nilai estetis yang tinggi, (5) siswa mampu menggunakan majas dengan tepat dan memiliki variasi majas yang beragam, dan (6) siswa mampu menulis ejaan dengan tepat dan sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI). Peningkatan proses dan hasil pembelajaran menulis puisi ekspresi diri diikuti pula dengan peningkatan nilai hasil belajar siswa dalam menulis puisi ekspresi diri. Pada tahap pratindakan nilai rata-rata siswa 65,41, pada siklus I nilai rata-rata siswa adalah 68,84 dan pada siklus II, nilai rata-rata siswa adalah 79,16. Penggunaan media lagu dalam pembelajaran menulis puisi ekspresi diri mampu meningkatkan kemampuan menulis puisi dengan dilihat dari beberapa aspek menulis puisi. Media lagu mampu menarik perhatian siswa dan menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan. Lagu dalam media lagu, disesuaikan dengan tema perasaan atau ekpresif, penjelasan guru membantu siswa dalam mengerjakan tes yang sekaligus membantu pemahaman siswa tentang langkah-langkah menulis puisi. Pemberian contoh secara langsung dalam setiap tahapan menulis, bimbingan individu merata, pemberian waktu yang cukup, pemberian penguatan secara verbal dan nonverbal yang diberikan guru, menjadi motivasi siswa dalam menulis puisi. Berdasarkan temuan penelitian tersebut, guru disarankan agar memberikan pembelajaran dengan metode dan media lagu yang dapat menumbuhkan minat siswa dalam menulis puisi serta dibutuhkan keikutsertaan guru untuk mengajak siswa membaca karya sastra sebanyak mungkin, terutama puisi
Penggunaan Preposisi dalam Karangan Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Malang
ABSTRAK Sucipto, F. A. F. I. 2017. Penggunaan Preposisi dalam Karangan Siswa Kelas VII SMP Negeri 8 Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Sumadi, M.Pd. Kata Kunci: Preposisi, Karangan.Preposisi merupakan unsur yang sangat penting dalam pembentukan kalimat karena dengan hadirnya preposisi makna kalimat menjadi jelas. Preposisi adalah kata tugas yang bertugas sebagai unsur pembentuk frasa preposisional Berdasarkan kenyataan di sekolah, siswa belum sepenuhnya menguasai penggunaan preposisi dalam karangan. Penelitian ini difokuskan pada penggunaan preposisi dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 8 Malang. Fokus penelitian dirumuskan dalam dua sub fokus, yaitu preposisi yang digunakan dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 8 Malang dan ketepatan penggunaan preposisi dalam karangan siswa kelas VII SMP Negeri 8 Malang.Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Berdasarkan pendekatan yang digunakan, penelitian ini disusun menggunakan jenis penelitian studi teks. Data dalam penelitian ini berupa preposisi dalam karangan karya siswa, sedangkan sumber data dalam penelitian ini berupa karangan siswa kelas VII SMP Negeri 8 Malang. Penelitian ini menggunakan instrumen pendukung yang berupa lembar tugas menulis karangan untuk menumpulkan data. Pengumpulan data dilakukan melaui lima langkah, yaitu (1) memberikan tugas karangan, (2) menjelaskan setiap perintah pada lembar kersa siswa, (3) memberikan kesempatan bertanya, (4) mempersilahkan siswa menulis karangan, dan (5) mengumpulkan lembar kerja siswa. Teknik analisis yang digunkan adalah model alir yang diadaptasi dari data kualitatif yang terdiri dari tiga alur kegiatan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil analis data maka diketahui bahwa preposisi yang digunakan ada tiga yaitu, preposisi yang berupa kata dasar, preposisi yang berupa gabungan kata, dan preposisi yang berasal dari kata lain. Preposisi yang berupa kata dasar, yaitu di, untuk, bagi, dengan, dari, dalam, akan, seperti, pada, antara, ke, karena, sejak, dan oleh; preposisi yang berupa gabungan kata berderet, yaitu di dalam, di atas, daripada, karena dengan, ke dalam, oleh karena, kepada, dan selain untuk; gabungan kata berpasangan, yaitu di…untuk, di...dari, ke…seperti, dari…sampai, di…karena, dari…dalam, di…dengan, untuk…dari, untuk…di, dengan…untuk, akan…dari, untuk…kepada, untuk…dalam, dengan…seperti, karena…di, untuk…ke, berkat…dalam, karena…dalam, bagi…dalam, untuk…dengan, dari…ke, ke…untuk, kepada…karena, dan pada…di; serta preposisi berasal dari kata lain, yaitu terhadap dan menurut.Ketepatan dan ketidaktepatan penggunaan preposisi juga dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu cara menuliskan preposisi, cara menggunakan preposisi, dan kesesuaian serta ketidaksusuaian konteks dalam sebuah kalimat. Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang ditujukan kepada guru yaitu sebagai acuan dalam pembelajaran di dalam kelas sebagai upaya untuk memaksimalkan materi pembelajaran mengenai preposisi. Untuk peneliti selanjutnya dapat dijadikan sebagai salah satu bahan rujukan dalam sebuah penelitian dan juga bisa melakukan penelitian yang sejenis namun dengan variabel yang berbeda. Dengan mengambil data yang lebih luas maka akan dihasilkan penelitian tentang preposisi Bahasa Indonesia yang lebih baik
Bentuk-bentuk Penolakan Verbal dalam Bahasa Indonesia Mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand Tahun 2016
ABSTRAK Bentuk-bentuk penolakan merupakan tuturan pengingkaran atau tidak setuju atau reaksi negatif terhadap suatu ajakan, permintaan, atau tawaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi (1) bentuk-bentuk penolakan verbal berbahasa Indonesia dalam komunikasi formal mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand tahun 2016 dan (2) bentuk-bentuk penolakan verbal berbahasa Indonesia dalam komunikasi informal mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand tahun 2016 yang masing-masing berkaitan dengan (a) penggunaan kata ‘tidak’ atau padanannya, (b) pemberian alasan penolakan, (c) penggunaan syarat atau kondisi sebagai pengganti penolakan, (d) penggunaan usul atau pilihan lain, (e) penggunaan ucapan terima kasih sebagai pengganti penolakan, (f) penggunaan komentar sebagai penolakan, dan (g) penggunaan isyarat penolakan atau penolakan nonverbal. Penelitian ini penting karena memiliki subjek penelitian yang berbeda dari penelitian lain, yaitu mahasiswa asing, khususnya mahasiswa Thailand yang belajar bahasa Indonesia.Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena peneliti menggunakan metode observasi partisipan untuk mengetahui bentuk-bentuk penolakan verbal dalam bahasa Indonesia mahasiswa ASEAN Studies sesuai konteks dan pesan yang ingin disampaikan. Sumber data utama dalam penelitian ini berasal dari rekaman percakapan antarmahasiswa untuk meneliti bentuk-bentuk penolakan verbal berbahasa Indonesia dalam komunikasi informal. Juga, terdapat sumber data tambahan, yaitu instrumen berupa angket yang berjudul “Bentuk-bentuk Penolakan dalam Komunikasi Formal dan Informal Mahasiswa ASEAN Studies Tahun 2016” untuk meneliti bentuk-bentuk penolakan verbal berbahasa Indonesia dalam komunikasi formal.Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah ditemukan masing-masing lima bentuk penolakan menurut Kartomihardjo (1990) dalam (1) bentuk-bentuk penolakan verbal berbahasa Indonesia dalam komunikasi formal mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand tahun 2016 dan (2) bentuk-bentuk penolakan verbal berbahasa Indonesia dalam komunikasi informal mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand tahun 2016. Kelima bentuk penolakan tersebut, antara lain (a) penggunaan kata ‘tidak’ atau padanannya, (b) pemberian alasan penolakan, (c) penggunaan syarat atau kondisi sebagai pengganti penolakan, (d) penggunaan usul atau pilihan lain, dan (e) penggunaan komentar sebagai penolakan. Kelima bentuk tersebut masing-masing ditemukan pada komunikasi formal maupun informal.Ada dua kesimpulan yang didapat. Pertama, kesimpulan yang didapat dari bentuk-bentuk penolakan dalam verba bahasa Indonesia pada komunikasi formal. Penelitian ini menunjukkan bahwa responden cenderung menggunakan ungkapan maaf, seperti “mohon maaf”, “maaf ya”, dan “maaf dosen”. Selain itu, responden lebih sering mengemukakan alasan penolakan. Kebanyakan, alasan yang muncul berupa alasan ada kuliah sehingga tidak bisa menolong. Penggunaan alasan juga lebih sering diikuti dengan pemberian usul atau alternatif lain. Penggunaan alasan tidak hanya ditemukan pada bentuk penolakan yang menggunakan alasan, tetapi juga ditemukan dalam bentuk penolakan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa responden berusaha menyatakan rasa simpati sebagai bentuk menghargai lawan tutur. Kedua, kesimpulan yang didapat dari bentuk-bentuk penolakan dalam verba bahasa Indonesia pada komunikasi informal. Pada situasi informal, responden tetap menggunakan kata ‘tidak’ dalam memberikan bentuk penolakan langsung dengan menggunakan kata ‘tidak’ atau padanannya. Tidak satupun ditemukan penggunaan padanan kata ‘tidak’ dalam komunikasi informal, seperti kata ‘nggak’, ‘ndak’, dan lain-lain. Selain penggunaan kata ‘tidak’, penggunaan kata yang lain juga menggunakan bentukan formal. Hal tersebut disimpulkan karena yang mereka dapatkan atau yang sudah mereka pelajari adalah bentukan formal. Dalam jawaban yag ditemukan, banyak sekali kalimat yang berdiksi formal. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat saran yang ditujukan kepada tiga pihak. Pertama, bagi peneliti selanjutnya agar dapat menjadikan penelitian ini sebagai tolak ukur untuk meneliti bentuk-bentuk penolakan mahasiswa asing, khususnya mahasiswa Thailand dengan cara mengembangkan ragam situasi dalam istrumen tanpa terpaku dengan formal tidaknya komunikasi. Kedua, bagi pengajar BIPA diharapkan untuk mengembangkan proses belajar mengajar (PBM) yang memungkinkan pebelajar mendapatkan bentuk-bentuk penolakan yang beragam berdasarkan konteks dan situasi yang berbeda-beda. Ketiga, bagi pebelajar BIPA, khususnya yang berasal dari Thailand, penelitian ini dapat dijadikan tambahan pengetahuan terkait dengan bentuk-bentuk penolakan yang digunakan untuk merespon ajakan, tawaran, maupun permintaan
KOHESI DAN KOHERENSI WACANA LISAN TEKS CERITA ULANG SISWA SMA KELAS XI
ABSTRAK Syarifah, Atiris. 2017. Kohesi dan Koherensi Wacana Lisan Teks Cerita Ulang Siswa SMA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Kusubakti Andajani, M.Pd. Kata kunci: kohesi, koherensi, wacana lisan, teks cerita ulang Komunikasi merupakan sarana yang dilakukan untuk menyampaikan informasi. Berkomunikasi langsung dengan bahasa verbal dapat dilakukan dengan komunikasi lisan. Hal ini disebut dengan wacana lisan. Wacana lisan yang baik harus bersifat koheren dan kohesif guna mencapai keterpahaman antara pembicara dan lawan bicara. Koherensi menentukan keterkaitan makna dan kohesi adalah alat untuk mencapainya. Teks lisan cerita ulang merupakan salah satu media informasi yang menerapkan penggunaan kohesi dan koherensi. Teks yang dipresentasikan secara lisan mendukung pendekatan komunikatif yang diterapkan pada Kurikulum 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan piranti kohesi dan koherensi wacana lisan teks cerita ulang siswa. Penelitian ini difokuskan pada (1) piranti kohesi gramatikal dan leksikal, (2) koherensi wacana lisan teks cerita ulang siswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi teks. Data penelitian ini berupa tuturan yang mengandung kohesi dan koherensi wacana yang diambil dari presentasi teks cerita ulang siswa kelas XI. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas XI IPS A/15 SMAN 1 Singosari. Analisis data dilakukan dengan tiga tahap, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan tahap identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi. Penyajian data dilakukan dengan memaparkan hasil analisis data yang didasarkan pada teori yang dijadikan landasan. Penarikan kesimpulan diperoleh dari hasil analisis keseluruhan data dalam penelitian yang telah dilakukan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan dua tahap, yaitu ketekunan pengamatan dan pemeriksaan sejawat melalui diskusi. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, dalam teks lisan cerita ulang terdapat kohesi gramatikal dan leksikal. Secara umum siswa menggunakan semua piranti kohesi dalam teks lisan cerita ulangnya. Namun, apabila ditinjau dari struktur teksnya, pada struktur orientasi, piranti kohesi yang dominan digunakan adalah referensi dan konjungsi. Pada struktur urutan peristiwa, semua piranti kohesi digunakan, namun piranti kohesi yang dominan adalah konjungsi utamanya konjungsi urutan waktu, referensi, reiterasi, dan elipsis. Pada struktur simpulan, piranti kohesi yang dominan adalah elipsis dan terdapat beberapa konjungsi. Kedua, dalam teks lisan cerita ulang ditemukan koherensi yang meliputi koherensi dengan piranti kohesi dan koherensi dengan faktor lain. Koherensi dengan faktor lain yang ditemukan diperoleh dari keruntutan dengan bentuk hubungan parataksis subordinatif, proposisi positif, praanggapan logis, lokasi geografis dan kesadaran budaya, latar belakang pemakai bahasa atas bidang permasalahan, serta variasi ujaran dalam situasi yang berbeda. Berdasarkan temuan penelitian, dikemukakan dua saran. Pertama, bagi guru, disarankan temuan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan ragam variasi piranti kohesi yang digunakan siswa, utamanya konjungsi; dan koherensi dengan faktor lain agar teks yang dibuat tidak monoton. Selain itu, temuan ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran pada siswa, yaitu mengenai karakteristik penggunaan piranti kohesi pada masing-masing struktur teks cerita ulang karena setiap struktur teks menggunakan piranti kohesi yang berbeda. Dengan demikian, kompetensi yang diajarkan dapat lebih spesifik dan terarah. Kedua, bagi peneliti lain disarankan penelitian ini menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya. Selain itu, peneliti lain disarankan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penggunaan piranti kohesi dan koherensi pada teks lain yang ditinjau dari masing-masing struktur teksnya. Hal tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dari penelitian ini