SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    ANALISIS PENALARAN SISWA DALAM MENULIS PARAGRAF

    No full text
    ANALISIS PENALARAN SISWA DALAM MENULIS PARAGRAF(Studi Pada Siswa Kelas X  Program Keahlian Keperawatan SMK Negeri 11 Malang)Ananda Septi Kartika PutriE-mail: [email protected] Universitas Negeri MalangABSTRACT: The study aims to describe students' reasoning in writing paragraphs. Description of variations and results of text analysis are reviewed from the location of the main ideas, logical sequences, and the function of the contents of the paragraph. Based on the data obtained, variations in reasoning in paragraphs are reviewed in terms of the location of the main ideas, namely deductive and inductive reasoning. Judging from the logical sequence, namely the order of place, and time. Judging from the function of the contents of paragraphs, namely broad definitions, examples, comparisons and contradictions, causation, classification, and analogies.Keywords: reasoning, paragraph.ABSTRAK: Penelitian bertujuan mendeskripsikan penalaran siswa dalam menulis paragraf. Deskripsi variasi dan hasil analisis teks ditinjau dari letak ide pokok, urutan logis, dan fungsi isi paragraf. Berdasarkan data yang diperoleh melakukan variasi penalaran dalam paragraf ditinjau dari letak ide pokok, yaitu penalaran deduktif dan induktif. Ditinjau dari urutan logis, yaitu urutan tempat, dan waktu. Ditinjau dari fungsi isi paragraf, yaitu definisi luas, contoh, perbandingan dan pertentangan, sebab-akibat, klasifikasi, dan analogi.Kata Kunci: penalaran, paragraf.Kemampuan seseorang dalam menulis akan meningkat jika terus dilatih. Untuk dapat menulis dengan baik tidak dapat dilakukan dengan sekali latihan tetapi dengan terus menerus berlatih. Zainurrahman (2011:2) menjelaskan bahwa dalam menulis, latihan merupakan kunci yang paling utama untuk mampu menulis dengan baik dan benar. Seseorang hanya bisa menciptakan sebuah tulisan yang baik jika rajin membaca, karena dalam interaksi antara seorang pembaca dan bacaan terdapat model tulisan yang dijamin keterbacaannya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008:905) penalaran adalah cara atau perihal menggunakan nalar, pemikiran dan cara berpikir logis. Kemampuan penalaran sangat berguna bagi siswa untuk memecahkan permasalahan yang ada di dalam pembelajaran menulis paragraf terutama karya ilmiah. Siswa yang memiliki kemampuan penalaran tinggi akan terlihat dari cara berpikirnya dalam menuangkan pikirannya ke dalam bentuk tulisan. Siswa tersebut dapat merangkai tulisannya secara logis, kritis, dan sistematis.Paragraf memiliki potensi terdiri atas beberapa kalimat. Paragraf yang hanya terdiri atas satu kalimat termasuk dalam penalaran yang tidak baik. Setiap paragraf berisi kesatuan topik, kesatuan pikiran atau ide. Dengan demikian, setiap paragraf memiliki potensi adanya satu kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas. Zainurrahman (2011:22) menyatakan bahwa sebuah paragraf biasanya ada pembuka, isi, dan penutup. Ini merupakan konvensi umum, meskipun agas sulit merealisasi konvensi ini dalam paragraf yang hanya terdiri dari beberapa kalimat pendek.Penalaran siswa di SMK Negeri 11 Malang dalam menulis paragraf bervariasi. Variasi tersebut diantaranya mengembangkan topik dan menggabungkan dalam sebuah kalimat maupun paragraf yang utuh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran siswa dalam menulis paragraf yang terdapat pada karangan ilmiah siswa. Peneliti meneliti penalaran siswa karena ingin menemukan berbagai variasi di dalam sebuah paragraf. Pada penelitian sebelumnya belum ada yang meneliti tentang penalaran siswa didalam paragraf, maka dari itu peneliti ingin menemukan penelitian baru tentang penalaran siswa di dalam paragraf.Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti menganggap penelitian untuk mendeskripsikan penalaran siswa dalam menulis paragraf penting. Alasan penelitian tersebut adalah karena belum ada penelitian yang mendeskripsikan variasi penalaran siswa dalam menulis paragraf secara mendalam.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan adalah analisis teks. Penelitian kualitatif termasuk analisis data primer karena peneliti menganalisis data asli langsung dari lapangan dan mendeskripsikan hasil penelitian tersebut. Jenis kualitatif dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu mendeskripsikan penalaran siswa dalam menulis paragraf ditinjau dari letak ide pokok, urutan logis, dan fungsi isi paragraf dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas X SMK Negeri 11 Malang.Penelitian kualitatif ini menggunakan metode analisis teks karena yang akan di deskripsikan peneliti berupa teks hasil penalaran siswa dalam menulis paragraf pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas X KPR 3 SMK Negeri 11 Malang. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan berbagai variasi pengembangan paragraf berfokus pada tiga aspek, yaitu (1) letak ide pokok, (2) urutan logis, dan (3) fungsi isi paragraf.METODEPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan adalah analisis teks. Data penelitian ini adalah teks berupa paragraf yang diperoleh dari tes menulis dan dianalisis berdasarkan pedoman analisis penalaran paragraf yang terdiri atas letak ide pokok, urutan logis, dan fungsi isi paragraf. Setelah tes paragraf terkumpul, kemudian dianalisis menggunakan pedoman analisis penalaran paragraf. Hasil dari analisis tersebut ditulis dalam format analisis penalaran paragraf sehingga diperoleh paparan mengenai penalaran paragraf ditinjau dari letak ide pokok, urutan logis, dan dari fungsi isi paragraf. Sementara itu, menurut Arikunto (2002:107) sumber data penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh. Sebagai contoh, apabila peneliti menggunakan wawancara, maka sumber data disebut responden. Apabila menggunakan teknik observasi, maka sumber data bias berupa benda, gerak, atau proses. Kemudian apabila peneliti menggunakan teknik dokumentasi, sumber data ang diperoleh berupa dokumen atau catatan. Adapaun sumber data penelitian ini berasal dari teks paragraf yang di tulis oleh siswa. Teks diperoleh dari tes menulis paragraf. Pemilihan data tersebut dikarenakan peneliti ingin mendeskripsikan penalaran dalam menulis paragraf ditinjau dari letak ide pokok, urutan logis, dan fungsi isi paragraf. Tiga unsur pokok tersebut dijadikan sebagai data yang diolah dan dicari rumusnya.Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X khususnya kelas X Keperawatan 3 SMK Negeri 11 Malang. Tes menulis dilakukan secara langsung oleh peneliti. Hal ini bertujuan agar peneliti dapat mengamati proses menulis dan memastikan keaslian tulisannya. Namun, sebelum tes menulis dilakukan, terlebih dahulu peneliti menggali informasi dari guru mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X KPR 3, yaitu Ibu Dewi Huzaimah. Berbekal informasi dari guru mata pelajaran yang mengatakan bahwa siswa kelas X KPR 3 memiliki pengalaman menulis paragraf dan memiliki pengalaman memadai tentang konsep mengarang, maka peneliti berasumsi bahwa peneliti berjalan dengan baik dan data yang diperoleh sesuai.Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri (human instrument). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes menulis yang berisi perintah dan petunjuk untuk tes menulis paragraf, pedoman analisis penalaran, dan format analisis penalaran teks yang digunakan sebagai alat untuk mengolah data yang diperoleh. Menurut Nurchasanah dan Lestari (2013:75) bahwa indikator penalaran dalam paragraf ditinjau dari letak ide pokok, urutan logis, dan fungsi isi paragraf. SMK kelas X KPR 3 yang berjumlah 30 sehingga diperoleh data yang terkumpul 30 teks. Pengumpulan data dilakukan melalui tes. Tes yang digunakan dalam peneliti ini berisi perintah dan petunjuk menulis paragraf. Setelah tes paragraf terkumpul, kemudian dianalisis menggunakan pedoman analisis penalaran paragraf. Hasil dari analisis tersebut ditulis dalam format analisis penalaran paragraf sehingga diperoleh paparan mengenai(1) penalaran paragraf ditinjau dari letak ide pokok, (2) penalaran paragraf ditinjau urutan logis, dan (3) penalaran paragraf ditinjau dari fungsi isi paragraf.Analisis data menurut Moleong (2002:103) adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola kategori, dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tem dan dapat dirumuskan oleh data. Adapun analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan tahapan berikut. Pertama, Pengidentifikasian. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah menetapkan mana yang termasuk data yaitu, data yang sesuai dengan rumusan masalah penelitian. Kedua, Pengodean. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah memberi kode pada data yang sudah diidentifikasi. Tahap ini nantinya akan menghasilkan korpus data. Ketiga, Pengklasifikasian. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah mengklasifikasikan data sesuai dengan rumusan masalah yang akan diteliti dan dilakukan pengurutan sesuai dengan urutan pembahasan rumusan masalah. Keempat, Analisis data. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah menganalisis data yang telah diklasifikasikan sesuai dengan rumusan masalah.Penelitian ini menggunakan keabsahan data dengan tiga teknik. Berikut ketiga teknik tersebut. Pertama, Teknik ketekunan pengamatan. Setelah mendapatkan data yang diinginkan, data tersebut diamati dengan cara dibaca secara berulang-ulang dan intensif. Membaca secara intensif dapat meningkatkan konsentrasi dalam mengamati suatu hal. Kedua, Teknik pengoreksian dan analisis data. Setelah dibaca secara intensif, hal-hal yang menyangkut dengan apa yang diteliti di koreksi dan dianalisis. Ketiga, Pengecekan ahli, dalam hal ini dosen pembimbing dan teman sejawat. Untuk mengabsahkan data yang telah diperoleh dapat melakukan koreksi kepada pihak-pihak terkait yang berkaitan dengan data yang diteliti.Pada penelitian ini, peneliti melakukan tiga tahapan, yaitu tahap pralapangan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Berikut ketiga tahapan berikut.Pertama, Tahap persiapan. Pengurusan surat izin observasi. Surat izin diperoleh dari pihak universitas untuk selanjutnya diserahkan kepada sekolah yang dituju. Kemudian pengurusan surat izin penelitian. Surat izin diperoleh dari pihak universitas untuk selanjutnya diserahkan kepada Bakesbangpol dan sekolah yang dituju. Setelah itu, pengurusan surat izin penelitian. Surat izin diperoleh dari UPT Dinas Pendidikan Prov Jatim untuk selanjutnya diserahkan kepada sekolah yang dituju. Lalu, Menyerahkan surat dari Universitas, Bakesbangpol, UPT Dinas Pendiidkan, dan proposal skripsi peneliti. Selanjutnya yang terakhir dari tahap persiapan, meminta izin kepada kurikulum sekolah yang dituju, kemudian menentukan guru pembimbing bahasa Indonesia, kelas yang akan dijadikan objek penelitian, dan hari pelaksanaan penelitian.Kedua, Tahap pelaksanaan. Mengulang kembali materi membuat karangan dalam bentuk paragraf. Lalu, menetapkan tema karya siswa sebagai sumber data. Setelah itu, menugasi siswa untuk membuat karangan berupa paragraf. Terakhir, Menandai setiap unsur yang terdapat dalam paragraf.Ketiga, Tahap penyelesaian penelitian. Menyusun laporan penelitian untuk segeran dibimbingkan kepada dosen pembimbing sebagai laporan hasil penelitian di sekolah. Lalu apabila ada revisi dari dosen pembimbing, peneliti segera merevisi laporan hasil penelitian tersebut. Yang terakhir menggandakan laporan hasil penelitian yang sudah benar untuk diberikan kepada sekolah tempat penelitian sebagai hasil dari penelitian di sekolah tersebut.HASIL DAN PEMBAHASANHasil penelitian yang berupa deskripsi variasi dan hasil analisis teks digolongkan menjadi tiga1.Penalaran Paragraf Ditinjau dari Letak Ide PokokIde Pokok DeduktifIde Pokok Deduktif terdapat DialogKode Data Korpus Data Hasil AnalisisPD14/LIP Setelah surut saya bergegas ke tempat petugas pengambil sampah. “kenapa sampah-sampah yang hanyut di sungai tidak di ambili?, coba Bapak ambil satu persatu dan kerahkan petugas untuk mengambil sampah-sampah agar tidak terjadi banjir susulan!”. “Ya, saya akan melakukannya!”. “Semoga berhasil ya Pak?”.Paragraf di samping ide pokok berada di awal paragraf terletak pada kalimat pertama. Paragraf ini diawali dengan penjelasan. Paragraf ini dijelaskan dengan variasi percakapan untuk menjelaskan kalimat pertama.Ide Pokok Deduktif terdapat SebabKode Data Korpus Data Hasil AnalisisPD2/LIP Kebersihan lingkungan adalah hal yang sangat penting bagi masyarakat. Sebab, kebersihan sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Tak hanya mengenai kesehatan, masyarakat yang melintas di suatu daerah pun juga harus menjaga kebersihan. Kebersihan harus tetap di jaga. Paragraf di samping ide pokok berada di awal paragraf terletak pada kalimat pertama. Paragraf ini diawali dengan penjelasan. Kemudian dijelaskan sebab-sebab pada kalimat kedua dan ketiga.PD21/LIP Mengenai hal membuang sampah di sungai saya tidak setuju. Pembuangan sampah di sungai bisa menyebabkan banjir, penyumbatan air dan lain-lain. Oleh sebab itu, air sungai menjadi tidak bersih melainkan menjadi kotor. Sungai dekat sekolah saya sangat kotor, banyak sampah plastik dan lainnya. Airnya pun menjadi tidak bersih. Kegunaannya hanya untuk mencuci baju. Paragraf di samping ide pokok berada di awal paragraf terletak pada kalimat ketiga. Paragraf ini di awali dengan pendapat ketidaksetujuan. Pada kalimat kedua dijelaskan sebab. Kalimat ketiga adalah kesimpulan. Kalimat ke empat dan kelima menjelaskan kalimat ketiga.PD13/LIP Jadi kita harus mengetahui pentingnya adiwiyata, karena adiwiyata sangat berpengaruh dengan lingkungan. Dengan tidak menerapkan prinsip adiwiyata dalam kehidupan kita akan mendatangkan bencana alam. Jadi, kita harus mendukung sepenuhnya kegiatan adiwiyata. Paragraf di samping ide pokok berada di awal terletak pada kalimat pertama. Paragraf ini diawali dengan sebab-akibat. Di akhir paragraf pada kalimat ketiga juga terdapat kesimpulan. Paragraf ini mempunyai dua kesimpulan.Ide Pokok Induktif terdapat ContohKode  Data Korpus Data Hasil AnalisisPI15/LIP Di dalam kelas harus terdapat tempat sampah. Kemudian di UKS, kantin, toilet pun harus ada tempat sampah. Pembagian piket kelas juga menjadi salah satu menjaga kebersihan. Agar proses belajar mengajar menjadi nyaman. Paragraf di samping ide pokok berada di akhir paragraf terletak pada kalimat ke empat. Paragraf ini menggunakan pendahuluan contoh-contoh pada kalimat pertama dan kedua. Pada kalimat ke empat di akhiri dengan tujuan karena terdapat kata ’agar’.Ide Pokok Induktif terdapat ajakan dan petunjukKode Data Korpus Data Hasil AnalisisPI27/LIP Membersihkan seisi rumah dan lingkungan sekitar akan membuat lingkungan menjadi bersih dan tidak menjadi sarang bagi penyakit untuk tumbuh dan berkembang. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan lingkungan seperti ini, mengubur barang-barang bekas, menguras bak mandi, dan menutup semua sumber air sehingga nyamuk tidak bisa berkembang biak. Demikianlah cara hidup bersih dan manfaat yang bisa kita dapatkan. Oleh karena itu, marilah kita semua menjaga kebersihan baik kebersihan diri maupun kebersihan lingkungan agar kita menjadi sehat dan terhindar dari banyak penyakit yang mengancam. paragraf di samping ide pokok berada di akhir paragraf terletak pada kalimat ke empat. Paragraf ini di awali dengan pernyataan pada kalimat pertama. Pada kalimat kedua berisi tentang solusi menjaga kebersihan. Pada kalimat ke empat yaitu kesimpulan dengan ajakan karena terdapat kata ‘marilah’.Ide Pokok Induktif terdapat TujuanKode Data Korpus Data Hasil AnalisisPI29/LIP Kita sebagai masyarakat Indonesia harus menjaga kebersihan lingkungan agar tidak ada sampah berserakan. Jadi, kita harus membersihkan sampah di sekitar rumah dan membuang sampah ditempatnya agar tidak terjadi banjir. Pada paragraf di samping ide pokok berada di akhir paragraf terletak pada kalimat kedua. Paragraf ini terdapat 2 tujuan, hal tersebut dinyatakan dengan adanya kata “agar” pada kalimat pertama dan kedua.Ide Pokok Campuran terdapat Sebab-AkibatKode Data Korpus Data Hasil AnalisisPC2/LIP Kebersihan lingkungan ini perlu diwujudkan di berbagai tempat, termasuk di wilayah yang rumahnya dekat dengan sungai. Dengan sungai yang bersih orang melintas di dekat pemukimannya tersebut merasa nyaman. Dan juga akan terhindar dari berbagai penyakit. Terkadang juga masyarakat masih jengkel suka membuang sampah sembarangan di sungai. Masyarakatpun yang melintas masih suka membuang sampah di tepi-tepi sungai. Paragraf di samping mempunyai dua ide pokok. Pada kalimat pertama dan kalimat ke empat. Kalimat pertama membahas tentang kebersihan lingkungan. kalimat kedua dan ketiga adalah sebab-sebab dari kalimat pertama. Kalimat ke empat menjelaskan sampah yang dibuang di sungai. Kalimat kelimam menjelaskan kalimat ke empat tentang sampah.Berdasarkan data yang diperoleh, siswa kelas X KPR 3 SMK Negeri 11 Malang melakukan dua variasi penalaran dalam paragraf ditinjau dari letak ide pokok, yaitu (1) penalaran deduktif, dan (3) penalaran induktif. Pertama, ditemukan empat variasi penalaran deduktif, yaitu (1) ide pokok penalaran dedukif variasi percakapan, (2) ide pokok penalaran deduktif variasi sebab tanpa akibat (3) ide pokok penalaran deduktif variasi sebab-akibat, dan (4) ide pokok penalaran deduktif variasi dua kesimpulan. Kedua, ditemukan tiga variasi penalaran induktif, yaitu (1) ide pokok penalaran induktif terdapat contoh-contoh, (2) ide pokok penalaran induktif terdapat kalimat ajakan dan, (3) ide pokok penalaran induktif terdapat kalimat ajakan dan tujuan.Pada penalaran induktif ada tiga variasi yang peneliti temukan. Variasi tersebut ada yang berbeda dan ada yang sama dengan pendapat Tarigan (2009:26) yang mengatakan bahwa variasi penalaran induktif ada tiga, yaitu generalisasi, analogi, dan kausal sedangkan peneliti menemukan tiga variasi, yaitu ide pokok penalaran induktif terdapat contoh (generalisasi), ide pokok penalaran induktif terdapat kalimat ajakan, dan ide pokok penalaran induktif terdapat kalimat ajakan dan tujuan. Persamaan yang ditemukan dengan pendapat Tarigan yaitu pada paragraf tersebut sama-sama menyertakan contoh yang disebut dengan Generalisasi.Contoh dari penalaran induktif generalisasi (15) “Di dalam kelas harus terdapat tempat sampah. Kemudian di UKS, kantin, toilet pun harus ada tempat sampah. Pembagian piket kelas juga menjadi salah satu menjaga kebersihan. Agar proses belajar mengajar menjadi nyaman.” PI15/LIPPada paragraf (15) terdapat pola induktif, yakni berpola khusus-umum. Diturunkan dari pernyataan yang bersifat khusus lalu dipaparkan rincian dari pernyataan tersebut. Pada paragraf  tersebut mengungkapkan terkait kebersihan dapat menjadi faktor kenyamanan dalam proses belajar. Pada kalimat ke empat penulis mengungkapkan adanya kenyamanan proses belajar. Kalimat ke empat tersebut merupakan kalimat topik yang memiliki satu makna dan dapat berdiri sendiri. Hal ini terlihat pada pernyataannya yang merangkum semua pernyataan. Paragraf tersebut terdapat kata agar maka di sebut kalimat petunjuk. Paragraf ini memaparkan contoh-contoh pada kalimat  kedua untuk memperjelas tentang sampah “Kemudian di UKS, kantin, toilet pun harus ada tempat sampah”.Pada temuan kedua berbeda karena Tarigan melihat dari segi isi kesimpulan di dalam paragraf yang dibandingkan dua hal dengan persamaan  yang banyak sedangkan penelitian ini melihat dari segi bentuk kalimat kesimpulan pada paragraf. Kesimpulan yang dilihat sama-sama berada di akhir paragraf. Temuan ketiga kesimpulan sama-sama terletak di akhir tetapi isi dari kesimpulan tersebut berbeda. Penelitian ini menemukan pada paragraf induktif  bentuk kaliamat pada kesimpulan yaitu berupa ajakan dan tujuan sedangkan Tarigan berupa sebab-akibat.Begitu juga pada penalaran deduktif ada empat variasi yang peneliti temukan. Variasi tersebut berbeda dengan temuan Anisa (2011) pada karya siswa SMA, yaitu silogisme dan entimem sedangkan peneliti menemukan empat variasi, yaitu ide pokok penalaran dedukif variasi percakapan, ide pokok penalaran deduktif variasi sebab tanpa akibat, ide pokok penalaran deduktif variasi sebab-akibat, dan ide pokok penalaran deduktif variasi dua kesimpulan. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian Anisa adalah sudut pandang peneliti mengenai kesimpulan. Kesimpulan pada penelitian ini dilihat dari bentuk kalimat pada kesimpulan dan penelitian Anisa dilihat dari letak ide pokok paragraf. Penelitian ini juga dilihat dari letak ide pokok tetapi berbeda pada bentuk kesimpulannya.Pada penalaran deduktif  siswa membuat variasi baru, yaitu  membuat paragraf dengan cara percakapan. Siswa membuat variasi tersebut mungkin ingin lebih memperjelas suasana yang terjadi pada saat itu. Siswa juga membuat paragraf tanpa menyertakan akibat dari sebab yang disebutkan. Siswa tidak menyebutkan akibat karena siswa belum bisa menemukannya. Berarti pengetahuan siswa kurang luas, tetapi ada juga siswa yang dapat menyebutkan sebab-akibat dari permasalahan dengan sinkron. Pada temuan yang lain siswa membuat paragraf deduktif dengan dua simpulan di awal paragraf dan di akhir paragraf. Dua kesimpulan tersebut sama-sama menekankan hal yang sama. Siswa membuat paragraf dengan dua kesimpulan mungkin untuk mempertegas permasalahan.Pada penalaran induktif siswa membuat ide pokok dengan menuliskan contoh-contoh. Contoh biasanya untuk memperjelas sebuah konsep. Ide pokok yang lain siswa menggunakan kalimat ajakan dan petunjuk, karena isi dari paragraf tersebut masih umum jika siswa menggunakan kalimat ajakan dan petunjuk berarti siswa sudah mampu mengkhususkan isi paragraf sehingga pembaca jelas dengan maksud dari isi paragraf.Siswa lebih banyak menggunakan penalaran deduktif daripada induktif. Tidak ditemukan penalaran dengan pola campuran di dalam karya siswa. Siswa mungkin kurang dilatih menggunakan pola campuran oleh Guru karena rata-rata hasil dari karya siswa menggunakan pola penalaran deduktif dan yang paling banyak digunakan adalah pola penalaran

    SITIRAN SKRIPSI MAHASISWA PRODI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL BIDANG PERANCANGAN MEDIA UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAKDalam penelitian yang dilakukan tidak akan terlepas dari referensi literatur yang mutakhir. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji penggunaan literatur pada skripsi mahasiswa Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang periode kelulusan tahun 2015-2017. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik jenis literatur, keterbaruan literatur yang dilihat dari keusangan literatur dan sejauh mana subjek mempengaruhi suatu penelitian. Pada penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif deskriptif dengan menggunakan purposive sampling. Analisis kajian bibliometrika berupa analisis sitiran, analisis paro hidup. Pedoman analisis subyek menggunakan pedoman Tajuk Subjek Perpustakaan Nasional Republik Indonesia 2011 untuk mengetahui subjek verbal. Total sitiran pada penelitian ini 709 sitiran, dengan 562 sitiran (86, 48%) Bahasa Indonesia dan 88 sitiran (13,52%) Bahasa Inggris. Jenis literatur 502 judul buku (77,23%) yang paling banyak disitir. Nilai keusangan literatur yang disitir adalah 5 tahun atau di bawah tahun 2012 adalah titik keusangan literatur. Sedangkan subyek terbanyak adalah Periklanan, 120 kali subjek (13,94%). Kata kunci: analisis sitiran, keusangan literatur, analisis subjek, skripsi ABSTRACTIn the research carried out it will not be separated from the reference of current literature. This research was conducted to examine the use of literature in the thesis of Visual Communication Design students at the State University of Malang in the 2015-2017 graduation period. The purpose of this study is to study the characteristics of the type of literature, the readiness of literature that is read from the obsolescence of literature and which subjects influence research. In this research using quantitative descriptive analysis method and using purposive sampling. Analysis of bibliometric studies consists of citation analysis, half-life analysis. The guideline for subject analysis used the National Library of the Republic of Indonesia Subject Subject Guide 2011 for subjects of verbal lessons. Total citations in this study were 709 citations, with 562 citations (86, 48%) in Indonesian and 88 citations (13.52%) in English. The type of literature 502 book titles (77.23%) are the most cited. The value of obsolescence of the cited literature is 5 years or below 2012 is the point of obsolescence of literature. While the most subjects were Advertising, 120 times the subject (13.94%). Key word: analysis of citation, literature obsolescence, analysis of subjec

    Disfemia dalam Rubrik Most Popular pada Detik.com dan Okezone.com

    No full text
    RINGKASANRistanto, Budi. 2018. Disfemia dalam Rubrik Most Popular pada Detik.com dan Okezone.com. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Roekhan, M.Pd.Kata Kunci: disfemia, rubrik most popular, Detik.com, Okezone.comPenulisan berita tidak dapat dipisahkan dari penggunaan dan pilihan bahasa yang dipakai wartawan untuk menulis berita yang akan diterbitkannya. Disfemia adalah salah satu alternatif pilihan bahasa yang dipakai dalam penulisan berita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kebahasaan, nilai rasa, dan tujuan pemakaian disfemia yang terdapat dalam rubrik most popular pada Detik.com dan Okezone.com. Rubrik most popular adalah salah satu rubrik yang terdapat dalam portal media massa onlinepada Detik.com dan Okezone.com. Rubrik most popular menyajikan sepuluh berita pilihan yang paling banyak dibaca oleh masyarakat di situs Detik.com dan Okezone.com setiap harinya.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian analisis wacana. Analisis wacana digunakan untuk mengetahui kandungan disfemia yang terdapat dalam teks berita pada Detik.com dan Okezone.com berdasarkan bentuk kebahasaan, nilai rasa, dan tujuan pemakaian disfemianya.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik dokumentasi dan baca catat. Instrumen yang digunakan adalah human instrument, yaitu kedudukan peneliti sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data, dan sekaligus sebagai pelapor hasil penelitian yang dilakukannya. Kata yang mengandung disfemia dalam rubrik most popular pada Detik.com dan Okezone.com merupakan objek pada penelitian ini. Lebih lanjut data penelitian ini adalah disfemia yang terdapat dalam rubrik most popular pada Detik.com dan Okezone.com.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk kebahasaan disfemia yang muncul ada empat, yakni berbentuk kata dasar, berbentuk kata berimbuhan, berbentuk kata ulang, dan berbentuk kata majemuk. Selanjutnya nilai rasa yang muncul ada empat, yakni disfemia bernilai rasa mengasarkan, bernilai rasa menakutkan, bernilai rasa merendahkan, dan disfemia bernilai rasa menjijikkan. Tujuan pemakaian disfemia yang ditemukan ada empat, yakni bertujuan untuk menunjukkan perbuatan, untuk menunjukkan ketidaksepakatan, untuk menunjukkan penegasan makna, dan untuk mengungkapkan kejengkelan.Bentuk kebahasaan disfemia yang paling dominan ditemukan adalah bentuk kata berimbuhan. Nilai rasa disfemia yang paling dominan ditemukan adalah nilai rasa mengasarkan. Tujuan pemakaian disfemia yang paling dominan ditemukan adalah disfemia bertujuan untuk menegaskan makna

    Kemampuan Menulis Teks Laporan Hasil Observasi Siswa Kelas X SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo Tahun Pelajaran 2016/2017

    No full text
    ABSTRAK Ramadhan, Sandro. 2017. Kemampuan Menulis Teks Laporan Hasil Observasi Siswa Kelas X SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo Tahun Pelajaran 2016/2017. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Siti Ch. Hamidah, M.Pd. Kata Kunci : Kemampuan Menulis, Teks, Laporan Hasil Observasi. Menulis adalah salah satu komponen keterampilan berbahasa dan bersastra, memiliki kedudukan yang strategis dalam pendidikan dan pengajaran. Salah satu ketrampilan menulis yang diajarkan di tingkat SMK adalah menulis laporan. Hasil observasi awal peneliti menunjukkan bahwa seluruh siswa kurang mampu menulis sebuah laporan dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan kesalahan berbahasa dalam penulisan masih sering dijumpai dalam hasil karya siswa. penyebabnya banyak siswa yang menganggap menulis itu sangat sederhana dan bisa dilakukan oleh siapa saja serta kapan saja, sehingga terkadang terjadi kekurangan pada hasil laporan yang dilihat dari segi struktur dan kesalahan ejaan dalam suatu penulisan sebuah bahasa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan menulis teks Laporan Hasil Observasi (LHO) Siswa kelas X SMK NU Sunan Ampel Tahun Pelajaran 2016/2017 berdasarkan struktur teks, isi teks Laporan Hasil Observasi, dan ciri kebahasaan teks. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo Tahun Pelajaran 2016/2017 yang berjumlah 420 siswa yang tersebar dalam sembilan kelas. Penulis mengambil sampel 21 siswa dikarenakan jumlah siswa kelas X SMK NU Sunan Ampel Poncokusumo Tahun Pelajaran 2016/2017 adalah 420 siswa yang terbagi dalam 12 kelas di 6 jurusan. Peneliti secara acak mengambil kelas X TPHP, sehingga pengambilan teknik sampel dilakukan dengan simple random sampling (acak sederhana). Data dalam penelitian ini adalah karya siswa yang dianalisis struktur teks laporan hasil observasi, kaidah penulisan seperti ciri bahasa dan ejaan dalam teks. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis. Untuk menarik kesimpulan penelitian, penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif kuantitatif dengan menghitung, menjumlahkan dan mencari nilai rata-rata dari penilaian penulisan teks laporan hasil observasi dengan memperhatikan aspek yang dianalisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks Laporan Hasil Observasi (LHO) Siswa kelas X SMK NU Sunan Ampel berdasarkan struktur teks yang terdiri dari definisi umum, uraian bagian, dan uraian manfaat  seluruhnya ada pada kategori baik dengan nilai rata-rata 78,40. Sedangkan ditinjau dari isi teks LHO rata-ratanya 82,38 serta ditinjau dari ciri kebahasaan teks nilainya 60,71. Dari ketiga aspek yang dianalisis, ditemukan bahwa siswa sudah mampu menulis sesuai standar yang ditentukan meskipun ejaannya kurang sempurna. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa siswa masih belum memaksimalkan kemampuan menulis berdasarkan kaidah penulisan ejaan yang meliputi huruf dan tanda baca. Saran yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran menulis yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan siswa, melakukan latihan penguatan ejaan dengan menggunakan KBBI dan PEYD serta menggunakan media pembelajaran yang efektif sehingga kemampuan siswa akan lebih baik dan meningkat

    Citra Tokoh Dahlan dalam Novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara: Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslow

    No full text
    ABSTRAKDahlan dalam novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara dideskripsikan sebagai tokoh yang telah memenuhi kebutuhan dasar menurut hierarki kebutuhan Abraham Maslow berkat upaya dan kegigihannya hingga ia berhasil mengaktualisasikan dirinya dengan baik. Diantara kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan rasa cinta, kebutuhan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Prosedur dalam penelitian ini adalah identifikasi data, kodifikasi, dan klasifikasi data. Setelah data diperoleh, tahap selanjutnya adalah analisis data dengan cara analisis domain, analisis taksonomi dan analisis komponensial.  Kata Kunci: hierarki kebutuhan, aktualisasi diri, tokoh Dahlan, nove

    ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN SANDANGAN PANYIGEG WANDA PADA UJIAN AKHIR SEMESTER MAHASISWA MINOR JAWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan penggunaan sandangan panyigeg wanda. Data dan sumber data berdasarkan lembar jawaban Ujian Akhir Semester mahasiswaProdi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra,  Universitas Negeri Malang angkatan 2015. Metode deskriptif kualitatif diterapkan untuk mengetahui kemampuan penulisan aksara Jawa mahasiswa Minor Jawa.Hasil dari penelitian ini adalah analisis kesalahan penggunaan sandangan panyigeg wanda oleh mahasiswa mencakup sandangan cȇcak, layar, wignyan, dan pangkon. Kata kunci: aksara Jawa, sandanganpanyigeg wanda, minor Jawa, Mardi Kawi ABSTRACT The purpose of this study is to describe the type of error in sandangan panyigeg wanda writing by students of the college students of Javanese Selection Course students in Educational Indonesian and Javanese Language Class of 2015 using a qualitative descriptive approach. Research data are in the form of fragments in words, phrases, or sentences from the final test done by Javanese selection course student. The results of this study is four types of error in sandangan panyigeg wanda writing which are errors in the use of cȇcak, layar, wignyan, and pangkon.. Keywords: Javanese script, sandangan panyigeg wanda, Javanese Selection Course, Mardi Kaw

    Teks Editorial dalam Tajuk Sindonews Edisi November 2018

    No full text
    RINGKASANYusuf, Muhammad Hanif. 2019. Teks Editorial dalam Tajuk Sindonews Edisi November 2018. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Dr. H. Suparno.Kata Kunci: teks editorial, metode argumentasi, tipe argumentasiSalah satu wacana yang kental dalam perepresentasian pandangan dari media massa adalah editorial. Dalam ranah pendidikan, editorial juga menjadi salah satu kompetensi pembelajaran, tepatnya pada jenjang SMA Kelas XII Kurikulum 2013 Revisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tiga hal. Tiga hal tersebut adalah metode argumentasi dalam Tajuk Sindonews Edisi November 2018, pola argumentasi superstruktur dalam Tajuk Sindonews Edisi November 2018, dan tipe argumentasi makrostruktur dalam Tajuk Sindonews Edisi November 2018.Kajian pustaka dalam penelitian ini terdiri atas (1) Bahasa Jurnalistik, (2) Teks Editorial, (3) Media Massa, (4) Sindonews, dan (5) Analisis Wacana. Dari kajian pustaka tersebut, dibuat sebuah kerangka teori sebagai acuan bagi peneliti.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis analisis teks. Tajuk Sindonews dipilih sebagai sumber data dengan pertimbangan survei alexa.com yang menyebutkan bahwa Sindonews masuk pada urutan 12 dari 500 situs yang paling sering  dikunjungi masyarakat di Indonesia. Data dalam penelitian ini berupa untaian paragraf, untaian kalimat, dan hasil analisis metode argumentasi. Peneliti menjadi instrumen kunci dalam penelitian ini. Adapun instrumen pelengkap berupa pedoman pengambilan sumber data, pedoman pengumpulan data, dan pedoman analisis data. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian. Dalam menentukan keabsahan temuan, peneliti melakukan diskusi dengan dosen pembimbing dan teman sejawat.Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, ditemukan sembilan metode argumentasi dalam Tajuk Sindonews Edisi November 2018, yaitu (1) metode argumentasi sebab akibat  level 2, (2) metode argumentasi deduktif  level 2, (3) metode argumentasi induktif  level 2, (4) metode argumentasi analogi  level 2, (5) metode argumentasi sifat manusia level 2, (6) metode argumentasi bobot relatif  level 2, (7) metode argumentasi bobot relatif  level 3, (8) metode argumentasibobot relatif  level 4, dan (9) metode argumentasi bobot relatif  level 5. Kedua, ditemukan sebelas pola argumentasi superstruktur dalam Tajuk Sindonews Edisi November, yaitu (1) pola Claim – Ground, (2) pola Ground – Claim, (3) pola Claim – Warrant – Ground, (4) pola Warrant – Claim – Ground, (5) pola Warrant – Ground – Claim, (6) pola Claim –Warrant – Backing – Ground, (7) pola Ground – Warrant – Ground – Claim, (8) pola Ground – Warrant – Qualifier – Claim, (9) pola Ground – Warrant – Backing – Ground – Claim, (10) pola Claim – Rebuttal – Warrant – Rebuttal – Warrant – Backing – Warrant – Qualifier – Ground, dan (11) pola minus Claim atau  Ground. Ketiga, ditemukan enam tipe argumentasi makrostruktur dalam Tajuk Sindonews Edisi November , yaitu (1) tipe argumentasi primer versi 1, (2) tipe argumentasi primer versi 2, (3) tipe argumentasi primer versi 3, (4) tipe argumentasi primer versi 4, (5) tipe argumentasi primer versi 5, dan (6) tipe argumentasi sekunder versi 1. Pembahasan dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian utama, sesuai dengan rumusan masalah. Masing-masing dari ketiganya secara berturut-turut dirinci menjadi sembilan poin, sebelas poin, dan enam poin, sesuai temuan penelitian.Berdasarkan kesimpulan, terdapat beberapa saran yang diberikan peneliti kepada pihak-pihak terkait. Pertama, bagi guru Bahasa Indonesia, disarankan dapat memperkenalkan metode argumentasi, pola argumentasi superstruktur, dan tipe argumentasi makrostruktur sebagai tambahan wawasan bagi siswa pada pembelajaran teks editorial. Selain menambah wawasan, pengenalan mengenai metode argumentasi dan pola argumentasi akan membantu siswa lebih kreatif dalam mengolah suatu berita menjadi sebuah teks editorial yang berkualitas. Kedua, bagi penulis editorial secara umum, disarankan dapat meningkatkan variasi dari metode argumentasi yang digunakan. Dengan demikian, teks editorial yang disajikan dapat lebih berkualitas, mencerdaskan pembaca, dan lebih menarik untuk dibaca. Ketiga, bagi peneliti lain disarankan dapat meneliti metode argumentasi, pola argumentasi superstruktur, dan tipe argumentasi makrostruktur pada teks editorial lain, tidak hanya teks editorial dalam Tajuk Sindonews Edisi November 2018. Dengan demikian, ditemukan metode argumentasi, pola argumentasi superstruktur, dan tipe argumentasi makrostruktur yang semakin bervariasi.  SUMMARYYusuf, Muhammad Hanif. 2019. The Editorial Text in Tajuk Sindonews November 2018 Edition. Thesis, Indonesian Literature Department, Faculty of Letters, Universitas Negeri Malang. Advisor: Prof. Dr. H. Suparno. Key Words: editorial, argumentation method, argumentation pattern, argumentation typeOne of discourses that has strong representation  view in mass media is the editorial text. In the education domain, it’s so reasonable if the editorial text also become one of the learning competency, that is 2013rd Revised Curriculum of Mid High School for XII Grade. This study aims at analyzing three cases. Those are the argumentation methods in Tajuk Sindonews November 2018 Edition, the superstructure argumentation patterns in Tajuk Sindonews November 2018 Edition, and the macrostructure argumentation type in Tajuk Sindonews November 2018 Edition. Literature review in this study consist of: (1) journalism language, (2) editorial text, (3) mass media, (4) Sindonews, and (5) discourse analysis. From the literature review, a framework theory has been made as references for the writer. This study uses qualitative approach with text analysis genre. Tajuk Sindonews has been selected as data source because alexa.com survey explains that Sindonews enters the 12nd position  from 500 sites that most oftenly visited by Indonesian societies. The form of data in this study is paragraph series, sentence series, and argumentation method analysis result. The writer become the key instrument of this study. The form of complement instrument is data source withdrawal manual, data collect manual, and data analysis manual. The steps in this study are preparation, implementation, and completion.  The study validates discoveries by doing some discussions with university level instructors and writer’s friends from the same age.Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, ditemukan sembilan metode argumentasi dalam Tajuk Sindonews Edisi November 2018, yaitu Based on data analysis, some discovery has been obtained. First, nine argumentation methods has been obtained: (1) cause-consequence with 2nd level argumentation method, (2) deductive with 2nd level argumentation method, (3) inductive with 2nd level argumentation method, (4) analogy with 2nd level argumentation method, (5) human characteristic with 2nd level argumentation method, (6) relative weight with 2nd level argumentation method, (7) relative weight with 3rd  level argumentation method, (8) relative weight with 4th level argumentation method, and (9) relative weight with 5th level argumentation method. Second, eleven superstructure argumentation patterns  has been obtained: (1) Claim – Ground pattern, (2) Ground – Claim pattern, (3) Claim – Warrant – Ground pattern, (4) Warrant – Claim – Ground pattern, (5) Warrant – Ground – Claim pattern, (6) Claim –Warrant – Backing – Ground pattern, (7) Ground – Warrant – Ground – Claim pattern, (8) Ground – Warrant – Qualifier – Claim pattern, (9) Ground – Warrant – Backing – Ground – Claim pattern, (10) Claim – Rebuttal – Warrant – Rebuttal – Warrant – Backing – Warrant – Qualifier – Ground pattern, dan (11) Minus of Claim or Ground pattern. Third, six macrostructure argumentation types has been obtained: (1) 1st version of primary argumentation type, (2) 2nd version of primary argumentation type, (3) 3rd version of primary argumentation type, (4) 4th version of primary argumentation type, (5) 5th version of primary argumentation type, and (6) 1st version of secondary argumentation type.Discussion chapter in this study divided by three sections, based on cases of this study. Each of them detailed by nine points, eleven points, and six points, based on this study discoveries. Based on conlucions, there are some advices given by writer for related sides. First, for the Indonesian teacher, they are adviced to introduce argumentation method, superstructure argumentation pattern, and macrostructure argumentation type as additional knowledge for students in editorial text learning. Besides adding knowledge, those will help them skilled on turning the news into good editorial text. Second, for commonly editorial writer, they are adviced to raise the argument argumentation methods. Therefore, the editorial texts presented by them will be better, educate the reader, and more interesting to read by public. Third, for other writers, they are adviced to study the argumentation methods, argumentation pattern, and argumentation type on other editorials, not only editorial texts in Tajuk Sindonews November 2018 Edition. Therefore, they will discover other various  argumentation methods and argumen argumentation patterns

    TUTURAN DIREKTIF PERINTAH GURU DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA NASIONAL MALANG

    No full text
    RINGKASAN Hidayati, Nurul. 2019. Tuturan Direktif Perintah Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Nasional Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang.                      Pembinbing: Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim. Kata kunci: tuturan direktif perintah, guru bahasa Indonesia, SMA Nasional Malang Tuturan direktif perintah dapat dijumpai di dunia pendidikan yang penuturnya adalah guru. Guru sebagai penutur bisa menggunakan tuturan direktif perintah untuk memerintah siswa sebagai mitra tutur agar proses pembelajaran berjalan lancar. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai tuturan direktif perintah. Fokus penelitian ini ialah fungsi, bentuk, dan strategi tuturan direktif perintah guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Nasional Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitiatif dan jenis penelitian deskriptif. Penelitian ini dilakukan selama dua bulan, yaitu Oktober sampai November 2018. Data penelitian berupa tuturan guru dalam interaksi kelas. Sumber data penelitian ialah guru bahasa Indonesia kelas X, XI, dan XII SMA Nasional Malang. Pengumpulan data dilakukan dengan mengamati, merekam, dan mencatat tuturan guru selama pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Cara yang digunakan untuk mengecek keabsahan data ialah ketekunan pengamatan, kecukupan referensi, dan pengecekan teman sejawat. Tahap-tahap penelitian yang dilakukan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan penyelesaian. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat lima belas fungsi tuturan direktif perintah guru. Fungsi tersebut ialah (1) perintah untuk mempersiapkan pembelajaran, (2) perintah untuk mengingat materi, (3) perintah untuk mengerjakan tugas, (4) perintah untuk mengumpulkan tugas, (5) perintah untuk fokus terhadap pembelajaran, (6) perintah untuk menyelesaikan tugas, (7) perintah untuk tertib, (8) perintah untuk membaca materi pelajaran, (9) perintah untuk menjawab soal, (10) perintah untuk berorganisasi, (11) perintah untuk mengumpulkan soal ulangan, (12) perintah untuk membacakan materi pelajaran, (13) perintah untuk berhenti membacakan materi pelajaran, (14) perintah untuk berkelompok, dan (15) perintah untuk berkemas. Tuturan direktif perintah guru yang ditemukan berbentuk kalimat perintah. Kalimat perintah ditandai dengan adanya kata kerja, diakhiri dengan tanda seru (!), dan berpartikel –lah. Kalimat perintah dituturkan guru kepada siswa dengan tujuan agar siswa benar-benar mengikuti pembelajaran dengan baik. Tuturan perintah guru dituturkan dalam konteks tertentu sesuai urutan kegiatan pembelajaran, yaitu awal, inti, dan akhir. Strategi yang ditemukan dalam penelitian ini ialah strategi langsung dan tidak langsung. Strategi tuturan direktif perintah langsung dituturkan dalam bentuk kalimat yang bermakna lugas, sedangkan strategi tuturan direktif perintah tidak langsung dituturkan dalam bentuk kalimat yang berisi sindirian. Strategi tuturan direktif perintah langsung dituturkan guru saat siswa masih bisa diatur dan kondusif dalam pembelajaran, sedangkan strategi tuturan direktif perintah tidak langsung dituturkan guru saat siswa ramai serta tidak tertib dalam pembelajaran. Kesimpulan penelitian mengenai tuturan direktif perintah guru dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia di SMA Nasional Malang ialah terdapat lima belas fungsi dengan bentuk kalimat perintah yang diungkapkan guru melalui strategi langsung dan strategi tidak langsung. Hasil penelitian ini dapat digunakan guru, peneliti lain, dan pembaca untuk menambah wawasan dan referensi mengenai tindak tutur. SUMMARY Hidayati, Nurul. 2019. Directive Speech of the Teacher's Command in Learning Indonesian Language at Malang National High School. Essay. Indonesian Literature Department. Faculty of Literature. Malang State University. Advisor: Prof. Dr. Abdul Syukur Ibrahim. Keywords: command directive speech, Indonesian language teacher, Malang National High School Command directive speech can be found in the world of education whose speakers are teachers. Teachers as speakers can use directive speech commands to govern students as speech partners so that the learning process runs smoothly. In this regard, a discussion of the directive directives is needed. The focus of this research is the function, form, and speech strategy of the teacher's directive directive in learning Indonesian at Malang National High School. This study uses a qualitative approach and a type of descriptive research. This research was conducted for two months, namely October to November 2018. The research data were in the form of teacher speeches in class interactions. Sources of research data are Indonesian language teachers in class X, XI, and XII Malang National High School. Data collection is done by observing, recording, and recording the teacher’s speech during learning. Data analysis is done by reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The way to check the validity of the data is observation persistence, reference adequacy, and peer checking. The stages of research carried out, namely the stage of preparation, implementation, and completion. Based on the results of the study, there are fifteen speech directive functions of the teacher's command. The function is (1) an order to prepare for learning, (2) an order to remember the material, (3) an order to do the task, (4) an order to collect the task, (5) an order to focus on learning, (6) an order to complete assignments, (7) orders for order, (8) commands for reading subject matter, (9) commands for answering questions, (10) orders for organization, (11) commands for collecting test questions, (12) commands for reading subject matter , (13) orders to stop reading subject matter, (14) orders for groups, and (15) orders to pack. The directive statement of the teacher's command found in the form of a command sentence. The command sentence is indicated by the existence of a verb, ending with an exclamation point (!), And having a particle - it. Command sentences are told by the teacher to students with the aim that students really follow the learning well. Teacher's instruction is spoken in a certain context according to the sequence of learning activities, namely beginning, core, and end. The strategy found in this study is direct and indirect strategies. The directive speech strategy command is directly spoken in the form of sentences that are straightforward, while the directive speech strategy is not directly told in the form of sentences that contain synergy. The directive speech command strategy is directly told by the teacher when students can still be arranged and conducive to learning, while the directive speech instruction strategy is not directly told by the teacher when the students are crowded and are not orderly in learning. The conclusion of the research on the directive speech of the teacher's command in the process of learning Indonesian at Malang National High School is that there are fifteen functions with command sentence forms expressed by the teacher through direct strategies and indirect strategies. The results of this study can be used by teachers, other researchers, and readers to add insight and references regarding speech acts

    KESALAHAN PENULISAN KATA BAHASA INDONESIA HASIL SIMAKAN DALAM TUGAS SISWA DI SEKOLAH SANTIVITTAYA KRABI, THAILAND

    No full text
    RINGKASAN Fitriani, Melly Maulidah. 2019. Kesalahan Penulisan Kata Bahasa Indonesia Hasil Simakan dalam Tugas Siswa di Sekolah Santivittaya Krabi, Thailand. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Imam Suyitno, M.Pd. Kata Kunci: kesalahan penulisan, kata bahasa Indonesia, hasil simakan, siswa Thailand Pelajar bahasa asing khususnya siswa Thailand pada tingkatan pemula dan menengah/lanjutan sering mengalami kesalahan berbahasa Indonesia terutama aspek penulisan dari hasil simakan baik secara sadar maupun tidak sadar. Kesalahan aspek penulisan ini disebabkan oleh berbagai faktor yang berdampak pada beragam kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia yang dilakukan oleh siswa Thailand. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif, yaitu teks hasil tugas siswa di sekolah Santivittaya Krabi, Thailand. Data dalam penelitian ini adalah kata bahasa Indonesia yang salah dalam tugas siwa Prathom 6 (setingkat 6 SD) dan Mattayom 4 (setingkat 1 SMA). Prosedur pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi dan wawancara, (1) mengidentifikasi tugas menyimak siswa sesuai jenjang kelas, (2) mendokumentasikan sumber data simakan, dan (3) menandai kesalahan penulisan (4) mewawancarai siswa. Analisis data pada penelitian ini dibagi menjadi lima, yaitu (1) mengidentifikasi jenis kesalahan, (2) kodifikasi data, (3) klasifikasi data dan transkrip wawancara, (4) pembuktian, dan (5) penarikan kesimpulan. Setelah itu proses yang dilakukan yaitu pengecekan keabsahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di sekolah Santivittaya ditemukan ragam kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia hasil simakan dalam tugas siswa. Contohnya kata puti yang seharusnya ditulis putih. Kata nahik yang seharusnya ditulis naik. Kemudian kata baeek yang seharusnya ditulis baik. Kesalahan penulisan kata dalam penelitian ini terdiri atas tiga ragam. Ragam penghilangan huruf, penambahan huruf, dan penggantian huruf. Hal ini didasari pada satu hal, siswa belum mengetahui dan memahami sistem linguistik bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tugas siswa di sekolah Santivittaya juga ditemukan faktor penyebab kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia tersebut, yaitu faktor internal dan faktor eksternal yang diperoleh dari hasil pengamatan. Terdapat lima faktor internal penyebab kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia di sekolah Santivittaya, yaitu ketidakpahaman, kelalaian, kurangnya motivasi, kurang percaya diri, dan usia. Faktor eksternal penyebab kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia di sekolah Santivittaya meliputi empat faktor, interferensi bahasa (transfer negatif), materi yang sulit, waktu yang kurang efisien, dan lingkungan yang kurang memadai. Kesimpulan penelitian ini adalah rata-rata kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa Santivittaya adalah jenis kesalahan pada ragam penggantian huruf. Faktor penyebab kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia dalam tugas siswa Santivittaya Krabi, Thailand lebih banyak dipengaruhi oleh faktor internal atau faktor yang berasal dari dalam diri masing-masing pribadi siswa. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran. Pertama, bagi pengajar BIPA disarankan untuk memilih bahan ajar sesuai dengan tingkatan pembelajarannya, model pembelajaran lebih kreatif dan inovatif serta memerhatikan durasi pembelajaran, dan evaluasi di setiap akhir pembelajaran. Pengajar dapat mengidentifikasi setiap ragam kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia dan lebih memahami kondisi siswa dengan memperhatikan faktor penyebab kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia. Kedua, penyusun materi ajar disarankan untuk lebih menekankan dan memberikan materi khusus ejaan dan pengetahuan kosakata yang lebih banyak serta memberikan latihan yang lebih sering di setiap akhir materi yang diberikan. Ketiga, peneliti lain dapat mengembangkan penelitian dengan subjek penelitian yang berbeda yang berkaitan dengan kesalahan penulisan kata guna meningkatkan kemampuan menulis hasil simakan pelajar asing

    KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA BERDASARKAN KATEGORI LINGUISTIK PADA TUTURAN MAHASISWA ASING DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN BIPA

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesalahan penggunaan diksi dalam tuturan mahasiswa asing UM saat pembelajaran BIPA, mendeskripsikan kesalahan penggunaan diksi yang sering terjadi dalam tuturan mahasiswa asing UM saat pembelajaran BIPA, dan mendeskripsikan faktor penyebab kesalahan penggunaan diksi dalam tuturan mahasiswa asing UM saat pembelajaran BIPA. Data penelitian ini berupa tuturan mahasiswa asing baik dengan pengajar maupun dengan tutor selama pembelajaran BIPA yang sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat kesalahan penggunaan diksi pada aspek (1) kebakuan kata, (2) kecermatan kata, (3) ketepatan kata, (4) kelaziman kata, dan (5) keserasian kata. Kata Kunci: kesalahan, penggunaan diksi, tuturan, pembelajaran BIPA ABSTRACT The aims of this researchto describes errorsthe use of diction in the utteranceof foreign students UM during BIPA learning, describeserrorsthe use of diction which often occur in the utterance of foreign students during the BIPA learning, and describes the causative factor of error in the use of diction in theutterance of foreign students during BIPA learning. The research data is in the form of utteranceby foreign students both with lecturers and tutors during BIPA learning in accordance with the focus of the research. The results of this researchshows that there are errors in the use of diction in aspects (1) word rigidity, (2) word prudence, (3) word accuracy, (4) word prevalence, and (5) word harmony. Keywords: errors, diction usage, utterance, BIPA learnin

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇