SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Kemampuan Menulis Cerita Pendek menggunakan Strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah Siswa Kelas XI SMAN 1 Kepanjen
ABSTRAK Vitasari, Rizky Ardika. 2017. Kemampuan Menulis Cerita Pendek menggunakan Strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah Siswa Kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Nita Widiati, M. Pd. Kata Kunci: kemampuan, menulis cerita pendek, unsur intrinsik, strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah Keterampilan menulis cerita pendek merupakan salah satu keterampilan bidang sastra yang diajarkan pada jenjang SMA. Menulis cerita pendek merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang mempunyai peranan penting di dalam kehidupan manusia. Dengan menulis, seseorang dapat menyampaikan ide atau gagasannya kepada orang lain secara tertulis untuk mencapai maksud atau tujuannya. Ketika menulis cerita pendek, siswa mengeksplorasi pengalaman kehidupan dan imajinasinya ke dalam cerita pendek yang ditulis. Hal tersebut berpengaruh pada penciptaan tema, alur, penokohan, sudut pandang, dan diksi yang ditulis oleh siswa. Menulis cerita pendek juga memberi sumbangan dalam pengembangan kemampuan menulis. Siswa dapat mengembangkan kemampuan mengolah kata, kalimat, dan menyusun paragraf. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen dalam menulis cerita pendek menggunakan strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah.Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI MIA 6 yang berjumlah 33 siswa dan kelas XI IIS 2 yang berjumlah 20 siswa. Data penelitian ini berupa skor tes menulis cerita pendek menggunakan strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah yang diperoleh siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Instrumen penelitian berupa tes dan rubrik penilaian menulis cerita pendek. Untuk memperoleh data yang diperlukan, peneliti memberikan pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah dan tes menulis cerita pendek sesuai materi, serta langkah-langkah yang telah diberikan. Indikator yang diteliti dalam penelitian ini meliputi ketepatan tema, ketepatan alur, kesesuaian penokohan, ketepatan sudut pandang, dan ketepatan diksi. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul lalu dinilai berdasarkan rubrik penilaian menulis cerita pendek menggunakan strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah yang menghasilkan skor. Pada penelitian ini, sebelum dilakukan analisis data statistik menggunakan Microsoft excel, peneliti menggunakan tabel yang berisi data dari tes menulis cerita pendek. Peneliti menggunakan Microsoft excel, bukan SPSS karena hanya sebatas melihat rata-rata skor dan presentase siswa yang mendapatkan kualifikasi tertentu.Hasil analisis kemampuan siswa dalam mengembangkan cerita pendek dengan kualifikasi tema sangat baik sebanyak 28 siswa (85%) dari kelas XI MIA 6 dan 18 siswa (90%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 4 siswa (12%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 1 siswa (5%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi cukup sebanyak 1 siswa (3%) dari kelas XI MIA 6 dan 1 siswa (5%) dari kelas XI IIS 2, dan kualifikasi kurang adalah 0%. Kemampuan dalam indikator ketepatan alur dengan kualifikasi sangat baik sebanyak 29 siswa (87.5%) dari kelas XI MIA 6 dan 14 siswa (70%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 3 siswa (9.1%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 1 siswa (20%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi cukup sebanyak 1 siswa (3.0%) dari kelas XI MIA 6 dan 2 siswa (10%) dari kelas XI IIS 2, dan kualifikasi kurang adalah 0%. Kemampuan mengembangkan penokohan dalam cerita pendek dengan kualifikasi sangat baik sebanyak 19 siswa (57.6%) dari kelas XI MIA 6 dan 14 siswa (70%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 14 siswa (42.4%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 6 siswa (30%) dari kelas XI IIS 2, kategori cukup 0%, dan kategori kurang adalah 0%. Kemampuan pemilihan sudut pandang dalam cerita pendek dengan kualifikasi sangat baik sebanyak 25 siswa (75.8%) dari kelas XI MIA 6 dan 17 siswa (85%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 7 siswa (21.2%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 2 siswa (10%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi cukup sebanyak 1 siswa (3.0%) dari kelas XI MIA 6 dan 1 siswa (5%) dari kelas XI IIS 2, dan kualifikasi kurang adalah 0%. Kemampuan pemilihan diksi dalam cerita pendek dengan kualifikasi sangat baik sebanyak 18 siswa (54.5%) dari kelas XI MIA 6 dan 12 siswa (60%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 13 siswa (39.4%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 7 siswa (35%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi cukup sebanyak 2 siswa (6.1%) dari kelas XI MIA 6 dan 1 siswa (5%) dari kelas XI IIS 2, dan kualifikasi kurang adalah 0%.Kesimpulan yang dapat diambil adalah skor atau nilai indikator ketepatan tema dengan rata-rata paling tinggi diantara indikator yang lain. Sedangkan skor atau nilai yang paling rendah terdapat pada indikator ketepatan diksi. Hal tersebut dikarenakan tidak semua siswa mampu memunculkan majas yang menjadi syarat diksi dengan skor tertinggi, yaitu 4. Meskipun indikator diksi mendapat rata-rata paling rendah, tidak berarti siswa tersebut tidak mampu memunculkan majas, hanya karena waktu yang diberikan tidaklah banyak dan siswa pun mempunyai tugas yang lain. Jadi, siswa menonjolkan indikator-indikator yang ia ingat dan mengakibatkan ada salah satu indikator yang kurang tuntas. Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan guru untuk merancang bahan dan strategi yang sesuai dengan kondisi siswa, serta dapat memberikan perhatian lebih terhadap siswa yang belum mampu terutama dalam pembelajaran menulis cerita pendek. Selain itu, informasi dari hasil penelitian ini juga dapat memacu semangat guru untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek dengan berbagai sumber ide dan media pembelajaran. Hasil penelitian ini dapat digunakan siswa untuk memacu semangat dalam meningkatkan nilainya. Saran bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan selanjutnya untuk meneliti lebih lanjut mengenai kemampuan menulis cerita pendek dengan macam-macam sumber ide dan media pembelajaran
Mitos Manganan Mbah Guru: Sistem Nilai Di Masyarakat Desa Ngrayung Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban
ABSTRAK Agustin, Diny Julia. 2017. Mitos Manganan Mbah Guru: Sistem Nilai Di Masyarakat Desa Ngrayung Kecamatan Plumpang Kabupaten Tuban. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Teguh Tri Wahyudi, S.S, M.A. Kata Kunci: sastra lisan, mitos, manganan mbah guru. Penelitian ini bertujuan untuk melihat mitos yang ada dalam prosesi manganan mbah guru di desa Ngrayung. Manganan mbah guru merupakan ritual masyarakat yang sampai saat ini masih di pertahankan. Sosok mbah guru merupakan tokoh masyarakat yang berjasa dalam memberikan rezeki dan keselamatan untuk masyarakat desa Ngrayung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Objek penelitian ini adalah tradisi manganan mbah guru. Penelitian difokuskan pada wujud dan nilai-nilai pada manganan mbah guru di desa Ngrayung yang menjadi agenda rutin setiap tahunya. Subjek penelitian diperoleh dari narasumber yaitu, juru kunci dan masyarakat desa Ngrayung. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) wujud mitos manganan mbah guru yang yang dilaksanakan secara turun-temurun, ritual manganan yang dipercaya sebagai persembahan terhadap mbah guru, wujud cerita asal-usul munculnya manganan mbah guru, (2) nilai yang terkandung dalam manganan mbah guru diantaranya adalah. Nilai budaya, nilai agama, nilai sosial, dan nilai pendidikan. Secara keseluruhan lewat cerita mitos mangannan mbah guru, peneliti ingin menunjukkan alasan kenapa ritual tersebut tetap dipertahankan dan mengakar kuat di masyarakat Ngarayung. Berdasarkan paparan wujud mitos manganan mbah guru dan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi manganan mbah guru diharapkan masyarakat desa Ngrayung agar dapat lebih menghargai dan melestarikan tradisi dan sastra lisan yang dimiliki. Hal ini dapat membantu mengenalkan dan mewariskan tradisi manganan mbah guru. Hingga menjadikan tradisi manganan mbah guru sebagai bukti kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat desa Ngrayung
Pengembangan Bahan Ajar Menulis Puisi Berbasis Cara Kerja Otak dan Asosiasi Kelas X SMA
ABSTRAK Afra Daniswara. 2016.Pengembangan Bahan Ajar Menulis Puisi Berbasis Cara Kerja Otak dan Asosiasi Kelas X SMA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Roekhan, M.Pd., (II) Dr. Nita Widiati, M.Pd. Kata Kunci: bahan ajar, cara kerja otak, asosiasi.Salah satutujuanpembelajaransastraadalahmengembangkankompetensisiswadalammenulispuisi.Menulispuisimerupakankegiatansastra yang dapatmelatihkepekaanemosi, kemampuanberpikirkritis, dankemampuanberimajinasi yang dituangkandalambentuksimboltulisan.Sudahbanyakmateri ajar menulispuisi yang telahdisusun.Materiinibisaberbentukbuku ajar danbukurujukan.Di sisilain, ilmupengetahuanterusberkembang, termasukilmutentangcarakerjaotakdanasosiasi. Silabus, skenario, media, evaluasi, danmateripembelajaranmenulispuisihendaknyadirancangsesuaidengankerjaotak.Sayangnya, sepanjangpengetahuanpeneliti, belumadamateripembelajaran yang dikembangkandenganmenggunakancarakerjaotak. Penelitianinihendakmengembangkanmateripebelajaranmenulispuisiberbasiskerjaotak.Penelitianinimenggunakanrancanganpengembangan.Secaraumum, penelitianinibertujuanuntukmengembangkanmateripembelajaranmenulispuisiberbasiskerjaotak (asosiasi)untuksiswa SMA.Secarakhusus, penelitianinibertujuanuntukmengembangkanmateripembelajaranmenulispuisiberbasiskerjaotak(asosiasi) untuksiswa SMA yang efektifdarisegi(1) isi, (2) bahasa, dan (3) tampilan.Model penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian dan pengembangan (R&D) Borg dan Gall yang dimodifikasi. Prosedur atau langkah-langkah penelitian dilakukan lima tahap: (1) kajian teoritik, (2) perencanaan, (3) penyusunan produk, (4) uji lapangan dan revisi, (5) produk akhir.Pengembangan bahan ajar diberi judul Buku Pembelajaran Menulis Puisi Berbasis Kerja Otak. Buku ini disusun atas (1) sampul luar (2) identitas di dalam buku, (3) kata pengantar, (4) kegiatan pendahuluan, (5) kegiatan inti, (6) kegiatan penutup, (7) daftar pustaka, dan (8) riwayat hidup.Kegiatan pembelajaran puisi diuraikan atas bagian (1) kegiatan pendahuluan, (2) kegiatan inti, dan (3) kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan dalam buku ini diberi judul "Menu Pembuka: Lembar Menyapa". Kegiatan pendahuluan disusun dengan tujuan untuk menyiapkan siswa dalam menulis puisi. Kegiatan inti pembelajaran menulis puisi merupakan kegiatan untuk membimbing dan mengembangkan kemampuan menulis puisi. Kegiatan inti dilakukan dengan mengikuti cara kerja otak dan asosiasi. Cara kerja otak diwujudkan dalam tahap-tahap pembelajaran menulis puisi yaitu: (1) persiapan, (2) akuisisi, (3) elaborasi, (4) formasi memori, dan (5) integrasi fungsional. Asosiasi digunakan untuk model menulis puisi. Model yang dikembangkan meliputi model: (1) similarity (kesamaan bentuk atau kata berirama), (2) figure/ground (pertentangan bentuk atau lawan kata), (3) clousure (pasangan bentuk), (4) similarity (bentuk yang mirip), (5) proximity (kedekatan makna). Kegiatan penutup berupa kegiatan untuk memberi kesempatan kepada siswa mengembangkan kemampuan menulis puisi dengan mengerjakan latihan.Ujiprodukdilakukanpadaahlipembelajaranmenulispuisi, praktisipembelajaranmenulispuisi, dansiswa SMA.Dari hasilujicobasegiisimateri, dapatdisimpulkanbahwamateripembelajaranmenulispuisiberbasiskerjaotakdanasosiasiuntuksiswa SMA dapatdikatakanlayak. Hal inididasarkanpadanilai rata ratadariujiahlisebesar3,1, ujipraktisisebesar3,8, danujisiswasebesar3,5.Dari segibahasa, materipembelajaranmenulispuisiberbasiskerjaotakdanasosiasiuntuksiswa SMA dapatdikatakanlayak. Hal inididasarkanpadanilai rata ratadariujiahlisebesar3,1,ujipraktisisebesar3,3, danujisiswasebesar 3,4.Dari segiisitampilan, materipembelajaranmenulispuisiberbasiskerjaotakdanasosiasiuntuksiswa SMA dapatdikatakanlayak. Hal inididasarkanpadanilai rata ratadariujiahlisebesar3,4, ujipraktisisebesar3,1, danujisiswasebesar3,4.Ada beberapa saran yang bisa diberikan berdasarkan hasil penelitian ini. Pertama, saran kepada guru bahasa Indonesia di SMA. Dalam membelajarkan menulis puisi, guru bahasa Indonesia di SMA bisa menggunakan cara kerja otak dan asosiasi. Kedua, saran untukpeneliti lain. Peneliti lain bisamenggunakancarakerjaotakdanasosiasiuntukmengembangkanbahan ajar cerita (cerpenanak, ceritapendek, novel) dan drama. Dalammengembangkanbahan ajar, penelitilainbisamengambilpelajarandarihasil yang telahdilakukandalampenelitianini
Penggunaan Afiks pada Karangan Siswa Kelas VIII SMP
ABSTRAK Hidayati, Inayatul. 2017. The Use of Affixes on the Students` Essay of the 8th Grade Junior High School. Thesis. Indonesian Literature Department, Faculty of Letter, State University of Malang. Supervisor: Prof. Dr. Sumadi, M. Pd. Keywords: use, affixes, and students` essayLanguage is the main medium to convey ideas, opinions and thoughts of person. The use of good language should be supported by the use of appropriate words. Learning at school especially at the junior high school level has applied early language learning. In its activities, students will develop four language competencies, one of them is writing. In relation to the writing skill, students of junior high school also obtain grammar material that can support the process of writing; one of them is the use of affixes. Nevertheless,on the students` essay still found the use of inappropriate affixes. The purpose of this study is to know the use of affixes and the accuracy of the use of affixes on the students’ essay of 8th grade junior high school.This research uses qualitative method. The data of this study are affixes used on the students` essay. The affixes include (1) prefixes, (2) infixes, (3) suffixes, and (4) confixes. The instruments used in this research are (1) key instruments and (2) supporting instruments. The key instrument of this research is the researcher herself and the supporting instrument is the data collecting table. This research uses three stages of data analysis; they are (1) data reduction, (2) data presentation, and (3) drawing conclusions.The results of this research show that the affixes used on students` essay of 8th grade junior high school are prefixes, suffixes, and confixes. There are no infixes used on students` essay. The prefixes used are the prefix meN, the prefix peN, the prefix di-, the prefix ter-, the prefix ber-, and the prefix per-. The suffixes used are only suffix -an. The confixes used are the confix meN-i, the confix meN-kan, the confix di-i. the confix di-kan, the confix diper-kan, the confix ber-an, the confix ter-i, the confix peN-an, the confix se-nya, the confix per-an, the confix ke-an, and the confix memper-kan.Another finding in this research is the accuracy of affixes used. The students can use affixes appropriately on all affixes. The inappropriateness of affixes is found in the use of the prefix di-, the suffix -an, the confix di-i, and the confix di-kan. This inaccuracy is caused by two things; they are (1) students write affixes separated from its basic form and (2) the process of Madurese language interference in Indonesian language conducted by students.This research shows that students are able to use affixes well. However, there are still smallerrors found in using affixes. Therefore, teachers are expected to re-examine the students’ language competence, especially writing in using affixes. Another thing that the teacher can do is provide a more adequate knowledge of affixation and provide more precise examples of usage. ABSTRAK Bahasa merupakan media utama untuk menyampaikan gagasan, pendapat dan pemikiran seseorang. Penggunaan bahasa yang baik juga harus didukung oleh penggunaan kata-kata yang tepat. Pembelajaran di sekolah khususnya pada tingkat SMP telah menanamkan pembelajaran bahasa sejak dini. Dalam kegiatannya, siswa akan mengembangkan empat kompetensi berbahasa, salah satunya adalah menulis. Dalam kaitannya dengan keterampilan mengarang, siswa SMP juga memperoleh materi tata bahasa yang dapat menunjang proses mengarang, salah satunya adalah penggunaan afiks. Meskipun demikian, dalam karangan siswa masih ditemukan penggunaan afiks yang tidak tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan afiks dan ketepatan penggunaan afiks pada karangan siswa kelas VIII SMP.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data penelitian ini adalah afiks yang digunakan pada karangan siswa. Afiks yang dimaksud meliputi (1) prefiks, (2) infiks, (3) sufiks, dan (4) konfiks. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) instrumen kunci dan (2) instrumen penunjang. Instrumen kunci penelitian ini adalah peneliti sendiri dan intrumen penunjang penelitian ini berupa tabel pengumpul data. Penelitian ini menggunakan tiga tahapan analisis data, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa afiks yang digunakan pada karangan siswa kelas VIII SMP adalah prefiks,sufiks, dan konfiks. Tidak ditemukan penggunaan infiks pada karangan siswa. Prefiks yang digunakan dalam karangan siswa kelas VIII adalah prefiks meN-, prefiks peN-, prefiks di-, prefiks ter-, prefiks ber-, dan prefiks per-. Sufiks yang digunakan hanya sufiks –an. Konfiks yang digunakan adalah konfiks meN-i, konfiks meN-kan, konfiks di-i. konfiks di-kan, konfiks diper-kan, konfiks ber-an, konfiks ter-i, konfiks peN-an, konfiks se-nya, konfiks per-an, konfiks ke-an, dan konfiks memper-kan.Temuan lain dalam penelitian ini adalah ketepatan penggunaan afiks. Siswa bisa menggunakan afiks dengan tepat pada semua jenis afiks. Ketidaktepatan penggunaan afiks ditemukan pada penggunaan prefiks di-, sufiks –an, konfiks di-i, dan konfiks di-kan. Ketidaktepatan ini disebabkan oleh dua hal, yaitu (1) siswa menuliskan afiks dipisah dari bentuk dasarnya dan (2) adanya proses interferensi bahasa Madura ke dalam bahasa Indonesia yang dilakukan siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa sudah mampu menggunakan afiks dengan baik. Meski demikian, masih ditemukan beberapa kesalahan kecil yang ditemukan dalam menggunakan afiks. Maka dari itu, guru diharapkan memerhatikan kembali kompetensi bahasa siswa, khususnya menulis dalam menggunakan afiks. Hal lain yang bisa dilakukan guru adalah memberikan bekal pengetahuan yang lebih memadai mengenai afiksasi dan memberikan contoh penggunaan yang tepat lebih banyak lagi
MENULIS CERPEN MELALUI MEDIA BUKU HARIAN SISWA KELAS VII SMP NEGERI 19 MALANG
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 19 Malang. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, siklus I dirancang berdasarkan interpretasi dan refleksi dari kegiatan studi pendahuluan. Siklus II atau siklus selanjutnya dirancang berdasarkan informasi dari siklus I atau siklus sebelumnya. Keputusan tentang berakhirnya suatu siklus bergantung pula pada kebutuhan lapangan. Penelitian ini dilakukan untuk (1) memaparkan peningkatan proses pembelajaran menulis cerpen dengan media buku harian pada siswa kelas VII SMP Negeri 19 Malang pada tahap (a) pratulis, (b) tulis, dan (c) pascatulis, (2) memaparkan peningkatan hasil menulis cerpen dengan media buku harian pada siswa kelas VII SMP Negeri 19 Malang pada subkemampuan mengembangkam (a) unsur tema, (b) unsur tokoh dan penokohan, (c) unsur latar, (d) unsur alur, dan unsur sudut pandang. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan media buku harian dalam pembelajaran menulis cerpen dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VII D SMP Negeri 19 Malang
Diksi dalam Teks Cerpen Siswa Kelas X SMK Negeri 4 Malang
Dalam setiap kalimat, pemilihan kata perlu dilakukan agar gagasan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik oleh orang lain. Pilihan kata erat hubungannya dengan kaidah sintaksis, makna, hubungan sosial, dan mengarang. Kaidah ini saling mendukung sehingga karangan atau tutur kata lebih bernilai. Dalam karangan, pemilihan kata terkadang tidak sesuai. Salah satu contohnya, pada kegiatan menulis siswa di sekolah. Hal tersebut menimbulkan permasalahan siswa dalam menulis karangan, terutama pada teks cerpen. Teks cerpen adalah cerita fiksi yang selesai dibaca dalam sekali duduk dan ceritanya mampu membangkitkan efek tertentu pada pembaca. Oleh karena itu, pemilihan kata dalam teks cerpen sangat mempengaruhi pesan moral yang mampu membangkitkan efek tertentu pada pembaca. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan diksi, meliputi (1) penggunaan makna denotatif dan konotatif, (2) penggunaan kata bersinonim, (3) penggunaan kata idiom, dan (4) penggunaan kata-kata indria. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan jenis penelitian berupa analisis teks. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 4 Malang. Data dalam penelitian ini adalah diksi pada teks cerpen. Prosedur pengumpulan data diperoleh melalui teknik metode penugasan menulis teks cerpen. Instrumen yang digunakan, yakni (1) peneliti sendiri dan (2) instrumen penugasan dan panduan analisis data. Prosedur analisis data yang dilakukan , meliputi (1) reduksi data (identifikasi, klasifikasi, dan kodifikasi), (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Setelah itu, proses yang dilakukan yakni pengecekan keabsahan. Berdasarkan temuan penelitian, terdapat empat hasil penelitian. Pertama, penggunaan kata bermakna denotatif dan konotatif banyak ditemukan dalam teks cerpen siswa kelas X SMK Negeri 4 Malang. Penggunaan kata bermakna denotatif dan konotatif tampak berimbang dalam setiap teks cerpen. Kedua, penggunaan kata sinonim memberikan variasi kata dalam teks cerpen sehingga cerita tidak membosankan. Ketiga, ditemukan dua jenis idiom, yakni idiom penuh dan idiom sebagian. Penggunaaan dua jenis idiom ini tampak berimbang dalam beberapa teks cerpen. Keempat, penggunaan kata-kata indria memberikan penguatan efek kepada pembaca sehingga efek yang ditampilkan akan terlihat nyata dalam cerita teks cerpen. Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan tiga saran. Pertama, bagi guru bahasa Indonesia yang akan menggunakan sebagai acuan mengajarkan siswa agar lebih meningkatkan dan memperhatikan siswa dalam penggunaan diksi yang tepat dan sesuai dalam karangan, khususnya teks cerpen. Kedua, bagi siswa agar lebih teliti dalam menggunakan diksi pada karangan, khususnya teks cerpen. Ketiga, peneliti selanjutnya yang akan mengadakan penelitian sejenis agar melakukan penelitian lanjutan yang lebih mendalam
Pengaruh Minat Baca terhadap Kreativitas Menulis Cerpen Siswa Kelas XI SMAN 1 Lawang
Pada pembelajaran bahasa Indonesia, kecenderungan minat baca akan berpengaruh pada kempuan siswa dalam menulis. Menulis merupakan bagian dari proses berpikir yang menuangkan segala bentuk kreativitas dalam bentuk tulisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh minat baca terhadap kreativitas siswa dalam menulis cerpen. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif inferensial. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Lawang sebanyak 310 siswa. Sampel diambil menggunakan teknik sampling purposiv. Sampel yang diambil adalah kelas XI IBB, XI MIA 3, dan XI IIS 1 dengan jumlah 91 siswa. Pengumpulan data minat baca menggunakan instrumen angket, sedangkan kreativitas menulis cerpen, menggunakan cerpen karya siswa yang kemudian dianalisis menggunakan rubrik penilaian. Uji validitas angket dilakukan dengan uji ahli dan ujicoba pada siswa di luar sampel. Penghitungan validitas angket hasil uji coba menggunakan bantuan program SPSS 17 for Windows dengan rumus Pearson correlations product moment. Semua soal dinyataka valid karena Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana dengan taraf kesalahan 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minat baca berpengaruh signifikan terhadap kreativitas isi cerpen dan kreativitas menulis cerpen siswa kelas XI SMAN 1 Lawang. Kreativitas isi mencakup tema, tokoh dan penokohan, dan alur. Kreativitas bahasa mencakup diksi, kalimat, dan majas. Minat baca diprediksi mempunyai pengaruh sebesar 13,6% terhadap kreativitas isi, 4% terhadap kreativitas tema, 9,3% terhadap kreativitas tokoh dan penokohan, 6% terhadap kreativitas alur, dan 15,5% terhadap kreativitas menulis cerpen secara keseluruhan. Sisa persentasenya dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel x (minat baca). Minat baca tidak berpengaruh signifikan terhadap kreativitas bahasa. kreativitas bahasa mencakup kreativitas diksi, kalimat, dan majas. Hasil penelitian menunjukkan kreativitas bahasa yang mencakup kreativitas diksi, kalimat, dan majas dipengaruhi oleh individual siswa dan sosial masyarakat siswa
Persepsi Guru SD Negeri Gugus 2 Kecamatan Klojen, Kota Malang tentang Pembelajaran dalam Kurikulum 2013
Kurikulum selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu hingga kurikulum 2013 yang berlaku saat ini. Pemberlakuan kurikulum 2013dimulai pada tahun 2013/2014 yang diterapkan melalui pembelajaran tematik terpadu. Pada kenyataan dilapangan terdapat pro dan kontra tentang penerapan pembelajaran tematik terpadu yang berlandaskan kurikulum 2013 ini. Banyak persepsi dari para guru yang muncul terhadap penerapan pembelajaran tematik terpadu yang meliputi tahan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan persepsi guru tentang perubahan, perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran tematik terpadu oleh seluruh guru kelas di SD Negeri Kecamatan Klojen, Kota Malang. Penelitian ini meggunakan rancangan deskriptif kuantitatif. Prosedur dan pengambilan sampel menggunakan teknik sampel jenuh. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 42 responden. Jumlah tersebut merupakan seluruh guru di SD Negeri gugus 2 Kecamatan Klojen, Kota Malang. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah melalui angket/kuesioner tertutup yang dikembangkan oleh peneliti. Berdasarkan temuan penelitian dapat dipaparkan bahwa secara umum persepsi guru yang meliputiperubahan kurikulum, perencanaan pembelajaran, pembelajaran tematik pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian autentik adalah positif, rata-rata persepsi guru mencapai 78,744%. Hal tersebut berarti 33 guru menjawab positif dari total 42 guru yang menjadi objek penelitian. Berdasarkan temuan dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara umum persepsi guru adalah positif, guru sudah memahami aspek-aspek yang diperlukan dalam kurikulum 2013 yang meliputi tahap perubahan kurikulum, perencanaan pembelajaran, pembelajaran tematik, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian autentik. Peneliti memberikan saran bagi kepala sekolah hendaknya mengevaluasi pembelajaran tematik terpadu yang dilaksanakan oleh guru. Selain itu, diharapkan bagi Dinas Pendidikan Kota Malang, hendaknya dapat mengadakan pelatihan kepada guru agar dapat melaksanakan pembelajaran tematik terpadu secara maksimal
Kompleksitas Teks Narasi dan Argumentasi
ABSTRAKJati, Aldias Almeda. Kompleksitas Teks Narasi dan Argumentasi. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd,(II) Dr. Yuni Pratiwi, M.Pd. Kata Kunci: kompleksitas teks, proposisi, kata penghubung, narasi, argumentasi.Setiap manusia di dunia terlahir dengan kompetensi untuk berbahasa. Chomsky menyebut kompetensi itu dengan LAD (Language Acquisition Device). Setiap orang yang tidak tidak terhalang secara fisik dan mental tidak serta merta dapat berbahasa. Kompetensi yang dimiliki perlu diberi trigger, pemicu, agar dapat digunakan dengan baik dan benar. Kompetensi yang telah aktif perlu diaktualisasi demi performansi yang lebih baik. Bentuk aktualisasi diri dalam berbahasa dapat dilakukan dengan memproduksi bahasa, baik lisan atau pun tulis. Aktualisasi diri juga dapat dilakukan dengan mengimpor dalam bentuk pengetahuan melalui menyimak dan membaca. Aktivitas-aktivitas tersebut tidak terlepas dari aktivitas mental, karena dalam otaklah pusat unit pemrosesan. Pada penelitian ini penulis meneliti dua macam teks, yaitu teks narasi dan teks argumentasi. Teks narasi dianggap mudah karena berbentuk cerita, sedangkan pada teks argumentasi dianggap sulit karena menggunakan penalaran, walaupun kadang juga bersumber dari emosi. Hal tersebut melatarbelakangi penulis untuk membuktikan anggapan bahwa teks narasi lebih mudah dipahami dibandingkan dengan teks argumentasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan struktural. Sedangkan, jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Data penelitian ini adalah teks kompleksitas teks narasi dan argumentasi. Sumber data penelitian ini adalah teks narasi yang diambil cuplikan dari novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata dan teks argumentasi berupa essai tulisan Goenawan Mohamad berjudul Maridjan. Prosedur pengumpulan data adalah (1) memilih teks, narasi dan argumentasi, yang akan ditelaah kompleksitasnya, (2) membaca sampai benar-benar memahami teks yang diteliti, (3) memaparkan kalimat berdasarkan fungsinya, dan (4) mengklasifikasikan kalimat berdasarkan jumlah proposisinya. Data-data yang telah terkumpul kemudian dideskripsikan berdasarkan pendekatan struktural, sehingga menghasilkan informasi kompleksitas dari teks narasi dan teks argumentasi. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa teks narasi yang dicuplik dari novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata mempunyai kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan teks argumentasi berjudul “Maridjan” yang ditulis oleh Goenawan Mohammad berdasarkan jumlah proposisinya. Namun, pada penggunaan kata penghububung dan penggunaan aposisi, didapati bahwa teks argumentasi memiliki kompleksitas yang lebih tinggi. Dalam meneliti sebuah kompleksitas teks, hasil temuan akan menjadi lebih akurat jika digunakan berbagai pendekatan. Penelitian selanjutnya yang sejenis disarankan tidak menggunakan pendekatan bentuk saja, tapi menggunakan pendekatan-pendekatan lain untuk meraih hasil yang baik.
Citraan pada Novel Fantasi Nataga the Little Dragon Karya Ugi Agustono
ABSTRAKHidayati, Nurul. 2016. Citraan pada Novel Fantasi Nataga the Little Dragon Karya Ugi Agustono. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd.Kata Kunci: cerita fantasi, novel, citraan, stilistikaNataga the Little Dragon adalah salah satu novel fantasi karya Ugi Agustono yang mengisahkan komodo dan Pulau Komodo. Ugi Agustono menggunakan unsur citraan untuk membangkitkan tanggapan indera pembaca. Citraan merupakan salah satu kajian stilistika yang dapat membuat pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, dan merasakan apa yang diceritakan pengarang dalam karyanya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis citraan pada novel fantasi Nataga the Little Dragon dan (2) fungsi citraan pada novel fantasi Nataga the Little Dragon.Sehubungan dengan hal itu, untuk melakukan penelitian ini digunakan jenis penelitian kajian teks dengan pendekatan hermeneutika. Data penelitian ini adalah paparan bahasa berupa narasi, dialog, dan monolog yang ada pada novel fantasi Nataga the Little Dragon karya Ugi Agustono. Pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan cara klasifikasi, reduksi data, penyajian data, penafsiran data, dan penarikan kesimpulan. Untuk mengecek keabsahan data digunakan teknik ketekunan pengamatan dan kecukupan referensial. Tahap-tahap penelitian ini meliputi tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya dua aspek, yakni jenis citraan dan fungsi citraan. Pertama, jenis citraan pada novel fantasi Nataga the Little Dragon terdiri atas 7 subaspek, yaitu (1) citraan pelihatan, (2) citraan pendengaran, (3) citraan penciuman, (4) citraan pencecapan, (5) citraan gerak, (6) citraan perabaan, dan (7) citraan intelektual. Citraan pelihatan berupa deskripsi alam, benda (senjata) dan binatang (reptil dan mamalia). Citraan pendengaran berupa bunyi yang dihasilkan oleh alam dan bunyi yang dihasilkan oleh binatang (reptil, burung, ikan, dan mamalia). Citraan penciuman berupa bau yang dihasilkan oleh alam dan bau yang dihasilkan oleh binatang (mamalia dan reptil). Citraan pencecapan berupa rasa daging binatang. Citraan gerak berupa aktivitas tokoh dalam cerita, seperti berjalan, melompat, dan memanjat. Citraan perabaan berupa suhu dingin dan sentuhan terhadap benda. Citraan intelektual berupa pengetahuan tentang komodo dan binatang di hutanKedua, fungsi citraan pada novel fantasi Nataga the Little Dragon ada empat. Fungsi pertama, citraan untuk memperjelas gambaran. Citraan untuk memperjelas gambaran terbagi menjadi dua, yakni citraan untuk memperjelas gambaran karakter tokoh dan gambaran latar. Fungsi kedua, citraan untuk menghidupkan gambaran dalam pikiran dan penginderaan. Fungsi ketiga, citraan untuk menimbulkan suasana yang khusus. Suasana khusus tersebut berupa suasana yang mengerikan, suasana tenang, suasana sepi, suasana ramai, suasana bahagia, dan suasana sedih. Fungsi keempat, citraan untuk membangkitkan intelektualitas pembaca.Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh dua simpulan. Pertama, jenis citraan yang diteliti pada penelitian ini terdiri atas tujuh citraan, sedangkan pada penelitian sebelumnya hanya lima jenis citraan yang sering diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dua jenis citraan, yakni citraan gerak dan citraan intelektual digunakan pada novel Nataga the Little Dragon. Jenis citraan yang paling banyak ditemukan dalam novel Nataga the Little Dragon adalah citraan pelihatan, sedangkan citraan yang paling sedikit ditemukan adalah citraan pencecapan karena novel tersebut bergenre fantasi dan bertema petualangan sehingga hal-hal yang berkaitan dengan indera pencecapan jarang ditemukan. Kedua, fungsi citraan pada novel Nataga the Little Dragon yang sedikit ditemukan adalah fungsi citraan untuk membangkitkan intelektualitas pembaca karena novel tersebut bertema petualangan sehingga sedikit menggunakan logika dan pemikiran.Saran ditujukan kepada penulis sastra dan peneliti sastra selanjutnya. Kepada penulis sastra disarankan untuk berkreasi dengan menggunakan citraan pada penulisan karya sastra, khususnya citraan pencecapan, karena citraan ini jarang ditemukan. Kepada peneliti sastra selanjutnya diharapkan untuk meneliti citraan gerak dan citraan intelektual. Dua jenis citraan tersebut jarang diteliti sehingga peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti lebih mendalam tentang citraan gerak dan citraan intelektual.