SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    Pengembangan Bahan Ajar Menulis Teks Anekdot dengan Gambar Meme untuk Siswa Kelas X SMA

    No full text
    ABSTRAK Iriana, Oktavia Era. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Teks Anekdot dengan Gambar Meme untuk Siswa Kelas X SMA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Siti Cholisatul Hamidah, M. Pd. Kata kunci: bahan ajar, menulis teks anekdot, gambar meme Bahan ajar adalah alat bantu yang digunakan oleh segala pihak yang terlibat dalam pembelajaran agar kompetensi yang diinginkan dapat tercapai secara maksimal. Pentingnya bahan ajar dalam sebuah pembelajaran diperlukan guru sebagai untuk memilih bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan siswanya. Berdasarkan hasil studi pendahaluan yang dilakukan peneliti melalui wawancara dan angket siswa,ditemukan beberapa kelemahan bahan ajar di antaranya, bahan ajar yang digunakan dalam mencari ide penulisan teks anekdot kurang memadai. Hal ini dapat menyulitkan siswa dalam proses penulisan teks anekdot. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut, peneliti berusaha menciptakan sebuah inovasi bahan ajar dengan memanfaatkan gambar meme sebagai alternatif dalam mencari ide penulisan teks anekdot. Tujuan penelitian pengembangan ini dibagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan penelitian secara umum, yaitu (1) menghasilkan produk bahan ajar dan (2) melaporkan hasil uji coba produk bahan ajar. Tujuan penelitian secara khusus, yaitu (1) menghasilkan deskripsi isi bahan ajar yang relevan dengan kompetensi dasar menulis teks anekdot, (2) menghasilkan sistematika penyajian bahan ajar yang sesuai dengan tahapan menulis teks anekdot, (3) menghasilkan penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah, komunikatif, dan santun untuk siswa kelas X SMA, dan (4) menghasilkan tampilan bahan ajar yang menarik dan sesuai untuk siswa kelas X SMA. Berdasarkan hasil uji produk yang telah dilakukan peneliti dengan ahli penulisan teks anekdot, ahli bahan ajar, praktisi, dan lapangan, diperoleh beragam skor. Pada aspek isi, ahli penulisan teks anekdot mendapatkan skor 96,88%. Ahli bahan ajar mendapatkan skor 79,16%. Praktisi mendapatkan skor 76,04%. Uji lapangan mendapatkan skor 87,6%.  Pada aspek sitematika, ahli penulisan teks anekdot mendapatkan skor 100%. Ahli bahan ajar mendapatkan skor 65%. Praktisi mendapatkan skor 87,5%. Uji lapangan mendapatkan skor 87,8%. Pada aspek bahasa, ahli penulisan teks anekdot mendapatkan skor 100%. Ahli bahan ajar mendapatkan skor 75%. Praktisi mendapatkan skor 81,25%. Uji lapangan mendapatkan skor 89,06%. Pada aspek tampilan, ahli bahan ajar mendapatkan skor 68,75%. Praktisi mendaptkan skor 81,25%. Uji lapangan mendapatkan skor 90,62%. Skor yang telah mencapai nilai minimal 75% dikatakan layak implementasi, sedangkan skor yang mendapatkan nilai ≤75% akan mengalami revisi. Selain didapatkan data nonverbal berupa skor, peneliti juga memperoleh data verbal berupa komentar dan saran. Berdasarkan komentar dan saran tersebut, peneliti akan melakukan revisi terhadap bahan ajar. Hasil pengembangan bahan ajar menulis teks anekdot dengan gambar meme menghasilkan isi bahan ajar yang memuat materi teks anekdot, contoh teks anekdot, dan latihan sesuai dengan perkembangan siswa. Sistematika bahan ajar ini terdiri atas lima kegitan. Kegiatan pertama adalah mengenal ciri isi, struktur dan kebahasaan teks anekdot. Kegiatan kedua adalah mencari ide teks anekdot dengan gambar meme. Kegiatan ketiga adalah menyusun kerangka teks anekdot. Kegiatan keempat adalah menulis teks anekdot. Kegiatan kelima adalah merevisi teks anekdot. Bahasa yang digunakan dalam bahan ajar menggunakan ragam bahasa baku, santun, interaktif, dan komunikatif. Tampilan bahan ajar menggunakan perpaduan warna-warna cerah dan dilengkapi berbagai ilustrasi gambar untuk menambah kemenarikan bahan ajar.  Penyebarluasan produk bahan ajar menulis cerpen ini dapat dilakukan dengan cara (1) disajikan dalam seminar ke sesama mahasiswa, (2) artikel dari hasil penelitian diunggah ke jurnal online perpustakaan, dan (3) produk ini juga bisa disebarluaskan melalui forum MGMP bahasa Indonesia.     ABSTRACT Iriana, Oktavia Era. 2017. Development of Textbook Writing Anecdotal Text with Meme Images for High School X Students.Thesis, Department of Indonesian Literature Faculty of Letters State University of Malang. Advisor: Dr. Siti Cholisatul Hamidah, M. Pd. Keywords: textbook, writing anecdotal text, meme images Textbook is a tool used by all parties involved in learning so that the desired competence can be achieved maximally. The importance of textbook in a learning required teachers as to choose the textbook that fit the needs of their students. Based on the results of the study done by researchers through interviews and questionnaires of students, found some weakness of textbook in between, textbook used in searching the idea of ​​writing anecdotal text less adequate. This can make it difficult for students in the process of writing anecdotal text. Based on the results of the preliminary study, the researchers tried to create an innovation of textbook by utilizing meme images as an alternative in searching for anecdotal text writing ideas. The purpose of this development study is divided into general and specific objectives. The general objectives of the research are (1) to produce textbook product and (2) to report the result of teaching material product experiment. The objectives of the study are, (1) to produce a description of the content of the textbook relevant to the basic competence of writing anecdotal text, (2) to produce a systematic presentation of the textbook in accordance with the stages of writing anecdotal text, (3) to produce the language according to the rules, Communicative, and well-mannered unstuck high school students of SMA X, and (4) produces interesting and appropriate teaching material for high school students. Based on the results of product tests that have been done by researchers with anecdotal text writing experts, materials experts, practitioners, and field, obtained various scores. On the content aspect, anecdote text writers scored 96.88%. Expert material scored 79.16%. Practitioners got a score of 76.04%. The field test scored 87.6%. In the aspect of sitematics, anecdote text writers get a score of 100%. Expert materials get 65% score. Practitioners scored 87.5%. The field test scored 87.8%. In the language aspect, anecdote text writers get a score of 100%. Expert materials get a score of 75%. Practitioners scored 81.25%. The field test scored 89.06%. In the aspect of the display, experts of textbook get score of 68.75%. Practitioners got a score of 81.25%. Field test scored 90.62%. A score that has reached a minimum of 75% is considered feasible implementation, while a score that gets a value of ≤75% will be revised. Besides mendaptkan nonverbal data in the form of scores, researchers also obtain verbal data in the form of comments and suggestions. Based on these comments and suggestions, researchers will make revisions to textbook. The result of developing textbook writing anecdotal text with meme images produces the content of the textbook containing anecdotal text material, anecdotal text samples, and exercises according to student progress. The systematic of this resource consists of five activities. The first activity is to recognize the characteristics of the content, structure and language of anecdotal text. The second activity is looking for anecdot text ideas with meme images. The third activity is to construct an anecdotal text framework. The fourth activity is writing anecdotal text. The fifth activity is revising anecdotal text. The language used in textbook uses a variety of standard languages, polite, interactive, and communicative. Display of textbook using a combination of bright colors and equipped illustrations to enhance the attractiveness of textbook. The dissemination of teaching and learning materials can be done in (1) seminar to fellow students, (2) articles from research results uploaded to library online journals, and (3) these products can also be disseminated through the Indonesian MGMP forum. &nbsp

    Kemampuan Menulis Karangan Narasi Bahasa Indonesia Mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand Tahun 2016/2017

    No full text
    ABSTRAK   Permatasari, Endah Suci. 2017. Kemampuan Menulis Karangan Narasi Bahasa Indonesia Mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand Tahun 2016/2017. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Gatut Susanto, M.Pd., M.M.   Kata Kunci: BIPA, teks narasi, Thailand Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kemampuan menulis karangan narasi bahasa Indonesia mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand dari dua kelompok bahasa ibu: bahasa Thai dan bahasa Melayu. Setelah itu akan dideskripsikan perbedaan kemampuan menulis karangan narasi antara mahasiswa berbahasa ibu bahasa Thai dan mahasiswa berbahasa ibu bahasa Melayu. Penelitian ini penting dilaksanakan untuk dijadikan refleksi bagi mahasiswa dan guru. Selain itu, diharapkan dapat menjadi acuan pembanding penelitian selanjutnya, terutama dalam keterampilan menulis. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Data penelitian ini berupa skor yang menggambarkan kemampuan menulis teks narasi mahasiswa dari sumber data berupa karangan narasi mahasiswa. Sumber data yang terkumpul selanjutnya dianalisis berdasarkan rumus dan rubrik penyekoran. Unsur-unsur yang dianalisis diantaranya unsur: (1) alur, (2) tokoh dan penokohan, (3) perbuatan, (4) latar, (5) sudut pandang, dan (6) ciri bahasa narasi. Hasil penelitian kemampuan mengembangkan karangan narasi oleh 17 mahasiswa asing sebagai berikut. Pertama, mahasiswa berbahasa ibu bahasa Thai memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengembangkan karangan narasi. Kedua, mahasiswa berbahasa ibu bahasa Melayu memiliki kemampuan tinggi dalam mengembangkan karangan narasi. Ketiga, dua kelompok mahasiswa tersebut memiliki rata-rata kemampuan yang sama, yakni kemampuan tinggi dalam menulis karangan narasi. Dua kelompok memiliki kekurangan yang sama, yakni kurang mampu mengembangkan unsur tokoh dan penokohan. Mahasiswa berbahasa ibu bahasa Melayu mendapat rata-rata nilai yang lebih tinggi, yakni 77,4, dibandingkan dengan mahasiswa berbahasa ibu bahasa Thai, yakni 73,6. Berdasarkan simpulan, disarankan  bagi mahasiswa untuk memperbanyak latihan menulis teks narasi yang bisa dimulai dari pembuatan kerangka karangan. Latihan menulis hendaknya difokuskan pada semua unsur yang membangun narasi. Bagi dosen pengampu, disarankan agar melakukan pembelajaran menulis dengan memperhatikan secara khusus langkah-langkah pembelajaran pengembangan karangan, terutama dalam mengembangkan unsur tokoh dan penokohan. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan agar melakukan eksperimen bahan ajar menulis teks narasi. Selain itu, dapat membuat media pembelajaran teks narasi agar mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa asing dalam menulis karangan narasi bahasa Indonesia dengan baik dan benar

    Bahasa Persuasif dan Teknik Persuasif pada Iklan Kosmetik di Televisi

    No full text
    ABSTRAK Sholicha, Mirna Nur Azani. 2016. Bahasa Persuasif dan Teknik Persuasif pada Iklan Kosmetik di Televisi. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Prof. Dr. Maryaeni, M.Pd, (II) Dr. Nita Widiati, M.Pd. Kata Kunci: bahasa persuasif, teknik persuasif, iklan, wacana iklan. Penelitian ini mengkaji penggunaan bahasa persuasif dan teknik persuasif pada iklan kosmetik di televisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penggunaan bahasa persuasi pada iklan kosmetik di televisi; teknik persuasi yang digunakan pada iklan kosmetik di televisi. Penelitian ini penting dilakukan karena bahasa yang digunakan dalam wacana iklan memiliki efek persuasi yang kuat dalam memengaruhi emosi calon konsumen. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa paparan verbal hasil transkrip dari tuturan bintang iklan dan narator pada iklan kosmetik di televisi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak dan catat. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sebagai pengumpul dan penganalisis data. Analisis data dilakukan melalui 5 tahap, yaitu identifikasi, klasifikasi, kategorisasi, interpretasi dan eksplanasi. Hasil penelitian menunjukkan bahasa persuasi dan teknik persuasi pada iklan kosmetik di televisi sebagai berikut. Pertama, penggunaan bahasa persuasi pada iklan kosmetik di televisi berdasarkan konstruksi kata dan bentuk kalimat. Berdarsarkan konstruksi kata/frasauntuk mengungkap kelebihan atau keunggulan produk berupa kandungan dalam produk, meliputi kata SPF 21, eksrak sakura, vitamin B3, 10 manfaat, ekstrak aloe vera, micro cleanshing power, pitera, 1000 activescrub, moisturizer dan foundation, mineral tourmaline powder, dan semua warna kulit. Kelebihan atau keunggulan produk berupa efek/manfaat dalam produk, meliputi kata cerahkan, merona hingga 60%,menutupi noda hitam, bekas jerawat, tampak lebih cerah, halus, mulus, proteksi maksimal, bekerja hingga ke dalam, membersihkan sel kulit mati, jutaan, merawat 5 dimensi kulit, lawan jerawat, jaga kulit dari minyak, delapan jam, sapu bersih minyak, hingga ke pori, lebih ringan, tetap merawat, mencerahkan, perlindungan maksimal, mengontrol minyakdan 10x mencerahkan; kata/frasa untuk menyangatkan atau menguatkan, berupa kata bisa, putih merona, jutaan, sejati, janji, segalanya dan emang; kata/frasa untuk mengajak bertindak, berupa kata ada, giliranmu dansempurnakan; kata/frasa untuk memberikan rasa percaya diri, berupa kata menyinari; Berdasarkan bentuk kalimat bentuk kalimat pernyataan, berupa kalimat cerahkan kulit kusam hingga ke dalam, skin care plus make up memberi 10 manfaat bagi kulit, ekstra aloe vera untuk melembabkan, kandungan make up menutupi noda hitam dan bekas jerawat, bekerja hingga ke dalam untuk membersihkan sel kulit mati, SK-II Facial Treatments Essence dengan Pitera merawat 5 dimensi kulit, based make up sekaligus pelembab yang ringan, make up cerah dan kusam hingga 12 jam, bantu lawan jerawat dan jaga kulitku dari minyak sampai 8 jam, bekerja aktif sapu bersih minyak dan kotoran hingga ke pori, targetkan masalah wajah yang sama seperti perawatan pencerah wajah, begitu ringan dan mencerahkan, cocok untuk semua warna kulit dan efektif mengontrol minyak berlebih, dan 10x mencerahkan tanpa muka kaku; berdasarkan bentuk kalimat pertanyaan, berupa kalimat kulit kamu putih merona kulit kusam aku bisa nggak ya?, dan tak mungkin memiliki kelimanya? Kata siapa?; berdasarkan bentuk kalimat perintah, berupa kalimat kini giliranmu. Kedua, teknik persuasi yang ditemukan dalam penelitian ini, meliputi teknik hadiah, teknik tanpa hadiah, teknik membungkus dan teknik menempel. Teknik hadiah menyajikan pesan berupa anjuran. Teknik tanpa hadiah menyajikan pesan berupa keunggulan produk dan membangun citra positif. Teknik membungkus menayjikan pesan yang mengandung emotional appeal. Teknik menempel menyajikan pesan dengan menggunakan model/artis terkenal.

    Pemenuhan Kebutuhan Tokoh dalam Novel Supernova: Kesatria, Putri, dan, Bintang Jatuh Karya Dewi Lestari

    No full text
    PEMENUHAN KEBUTUHAN TOKOH DALAM NOVEL SUPERNOVA: KESATRIA, PUTRI, DAN, BINTANG JATUH KARYA DEWI LESTARIPatricia Nur Ikawaty MaflaniHeri Suwignyo²Nita Widiati³Fakultas Sastra Universitas Negeri Malange-mail: [email protected] aim of this research is to describe character's needs fullfilment in the novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh to satisfy five needs in hierarchy of needs. There five needs in hierarchy of needs, include 1) physiological needs, (2) safety needs, (3) love and belongingness needs, (4) esteem needs, and (5) self-actualization needs. The method used in this research is qualitative method. Analytical results of this research indicate: (1) only one woman character, that is Diva, able to satisfied five needs, Rana only able to satisfied four needs:, and, (2) all man characters able to satisfied five needs.Keywords: personality of character; needs fullfilmentABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemenuhan kebutuhan tokoh dalam novel Supernova: Kesatria, Putri, dan, Bintang Jatuh dalam memenuhi lima kebutuhan dalam hierarki kebutuhan. Kebutuhan tersebut meliputi (1) fisiologis, (2) rasa aman, (3) cinta dan rasa memiliki, (4) harga diri, dan (5) aktualisasi diri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian meliputi: (1) hanya satu tokoh wanita, yaitu Diva yang berhasil memenuhi lima kebutuhan, Rana hanya memenuhi empat kebutuhan; dan, (2) semua tokoh pria telah memenuhi lima kebutuhan.Kata Kunci: kepribadian tokoh; pemenuhan kebutuhanPada umumnya, kejiwaan tokoh menjadi salah satu perhatian dalam penceritaan. Gambaran kejiwaan tokoh dapat mengungkapkan identitas tokoh dalam suatu cerita (Mulyaningtyas, 2014:4). Untuk mengamati kepribadian tokoh di dalam suatu novel dapat memanfaatkan kajian psikologi.  Hubungan antara sastra dan psikologi menciptakan pendekatan bernama psikologi sastra. Pendekatan psikologi sastra adalah analisis objektif terhadap tokoh serta karakternya dalam karya sastra dipadukan dengan analisis berdasarkan kaidah atau teori psikologi, karakter setiap tokoh dianalisis dan dipahami melalui prinsip-prinsip psikologi (Suwignyo, 2010:135).[1] Patricia Nur Ikawaty Maflani adalah mahasiswa Program Studi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia.² Heri Suwignyo adalah dosen pembimbing 1; tenaga pendidik di Jurusan Sastra Indonesia.³ Nita Widiati adalah dosen pembimbing 2; tenaga pendidik di Jurusan Sastra Indonesia.Konsep dasar psikologi sastra adalah pandangan bahwa karya sastra merupakan karya yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia yang diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner di dalam suatu karya sastra (Mauludiyah, 2012:3). Aspek kejiwaan tokoh atau dapat disebut psikologi tokoh dapat diketahui dari tingkah laku tokoh, jalan pikiran tokoh, dan deskripsi tokoh. Penelitian psikologi sastra selalu berkaitan dengan aspek kejiwaan oleh karena itu, banyak teori psikologi yang dapat dimanfaatkan, tentu harus diselaraskan dengan kondisi sastra (Endraswara, 2008:73). Teori psikologi yang umum digunakan untuk menganalisis adalah psikologi kepribadian. Humanistik adalah teori psikologi kepribadian berdasarkan beberapa asumsi dasar mengenai motivasi manusia yang diorganisasikan ke dalam sebuah hierarki kebutuhan.Penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra dengan menggunakan teori hierarki kebutuhan dalam psikologi humanistik Abraham Maslow. Hierarki kebutuhan digunakan untuk menganalisis variasi perilaku. Hierarki kebutuhan (Yusuf dan Nurihsan, 2007:156) menyatakan adalah suatu susunanan kebutuhan yang sistematis, suatu kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sebelum kebutuhan dasar yang lain muncul. Kebutuhan ini bersifat instinktif yang mengaktifkan atau mengarahkan perilaku manusia. Meskipun kebutuhan itu bersifat instiktif, perilaku yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tersebut sifatnya terpelajari sehingga terjadi variasi perilaku dari setiap orang dalam memuaskan kebutuhannya. Kebutuhan itu terdiri atas (1) kebutuhan fisiologis, (2) kebutuhan rasa aman, (3) kebutuhan cinta dan rasa memiliki, (4) kebutuhan harga diri, dan (5) kebutuhan aktualisasi diri.Objek penelitian ini adalah tokoh sentral dalam novel Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari. Tokoh sentral dalam novel ini adalah Diva, Ferre, Rana, Arwin, Reuben dan Dimas. Peneliti berminat menganalisis para tokoh dalam novel ini karena para tokoh mempunyai kepribadian yang menarik untuk diteliti. Selain itu, belum ada yang mengkaji novel ini melalui pendekatan psikologi sastra dengan penerapan teori psikologi humanistik.Berdasarkan uraian di atas, penulis akan mendeskripsikan pemenuhan kebutuhan tokoh dalam novel Supernova: Kesatria, Putri, dan, Bintang Jatuh menggunakan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow. Pemenuhan kebutuhan tokoh dilihat pada dua aspek, yaitu (1) pemenuhan kebutuhan tokoh wanita, dan (2) pemenuhan kebutuhan tokoh pria.METODEPenelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Data-data yang dianalisis dan hasil analisisnya berbentuk deskriptif mengenai pemenuhan kebutuhan tokoh dalam novel Supernova: Kesatria, Putri, dan, Bintang Jatuh. Pendekatan yang digunakan adalah psikologi sastra.Data dalam penelitian ini berupa kata-kata atau tuturan yang dikutip dari teks novel yang dapat berupa monolog, dialog, dan narasi, yang menggambarkan kepribadian tokoh dalam novel Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Data tentang kepribadian tokoh tersebut dapat berupa sifat, tingkah laku, perbuatan, dan perkataan tokoh yang merujuk pada upaya pemenuhan kebutuhan Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh.Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri disertai instrumen pendukung berupa panduan pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara, yaitu, (1) membaca, (2) mengindentifikasi, dan (3) memberi kode. Membaca dilakukan untuk memahami jalan cerita. Membaca juga dilakukan untuk menemukan data yang menunjukan upaya pemenuhan kebutuhan tokoh. Identifikasi data dilakukan terkait dengan fokus penelitian. Data yang telah diperoleh dari sumber data kemudian dilakukan seleksi dan dipilah berdasarkan kebutuhan penelitian, yaitu meneliti pemenuhan kebutuhan tokoh wanita dan pria. Memberi kode dilakukan pada setiap data yang mengandung aspek mengenai kepribadian tokoh berdasarkan hierarki kebutuhan yang telah diidentifikasi berdasarkan panduan kodifikasi yang telah disusun.Analisis data dilakukan dengan tiga cara yaitu (1) mereduksi, (2) mengklasifikasi, dan (3) menginterpretasi sekaligus mendeskripsikan. Reduksi data dilakukan agar peneliti dapat menentukan dan memilah data yang dapat digunakan dan sesuai dengan aspek yang dikaji. Mengklasifikasi dilakukan untuk mengatur dan mengurutkan sesuai fokus penelitian yang telah diajukan. Menginterpetasi sekaligus mendeskripsikan dilakukan ketika menguraikan data-data yang telah dikumpulkan sesuai fokus penelitian.HASIL PENELITIANBerdasarkan analisis data dalam novel Supernova: Kesatria, Putri, dan, Bintang Jatuh, hasil penelitian ini meliputi: (1) hanya satu tokoh wanita, yaitu Diva yang berhasil memenuhi lima kebutuhan, Rana hanya memenuhi empat kebutuhan; dan, (2) semua tokoh pria telah memenuhi lima kebutuhan.Pemenuhan Kebutuhan Tokoh WanitaBerdasarkan paparan data, analisis, dan interpretasi penulis terhadap pemenuhan kebutuhan tokoh Diva, diketahui bahwa Diva telah memenuhi lima kebutuhan dalam hierarki kebutuhan yaitu 1) kebutuhan fisiologis, 2) kebutuhan rasa aman, 3) kebutuhan cinta dan memiliki, 4) kebutuhan harga diri, dan 5) kebutuhan aktualisasi diri.Kebutuhan fisiologis Diva ditunjukkan dengan makan, minum, dan tidur. Kebutuhan fisiologis untuk makan ditunjukkan Diva dengan sarapan. Kebutuhan fisiologis untuk minum ditunjukkan Diva dengan minum susu hangat. Kebutuhan fisiologis untuk tidur ditunjukkan Diva dengan bersiap untuk tidur.Kebutuhan rasa aman aman Diva telah terpenuhi baik secara harta maupun psikologis. Aman secara harta ditunjukkan Diva dalam hal pekerjaan Diva tidak mau dibayar murah. Diva memiliki dua profesi, yaitu sebagai model dan peragawati serta pelacur. Diva memasang tarif tinggi pada dua pekerjannya tersebut. Aman secara psikologis ditunjukkan dengan pekerjaan Diva sebagai peragawati dan model serta pelacur yang menghasilkan uang banyak, secara tidak langsung membuat Diva tidak perlu khawatir merasa kekurangan.Kebutuhan cinta dan rasa memiliki Diva telah terpenuhi karena Diva mampu memberikan cinta dan mendapatkan cinta. Memberikan cinta ditunjukkan Diva dengan mencintai dua pria yaitu, Gio dan Ferre. Selain itu, hubungan Diva dengan Gio dan Ferre menunjukkan ikatan emosional.Kebutuhan harga diri Diva secara menghargai diri sendiri maupun penghargaan dari orang lain telah terpenuhi. Menghargai diri sendiri ditunjukkan melalui dua hal yaitu, percaya diri dan prestasi. Menghargai diri sendiri ditunjukkan Diva dengan percaya diri mengatakan dirinya pintar dan cantik. Menghargai diri sendiri ditunjukkan Diva dengan mendapatkan prestasi berupa gelar sebagai peragawati dan model papan atas. Pemenuhan penghargaan dari orang lain ditunjukkan dengan apresiasi dari penonton dan klien Diva bernama Dahlan. Apresiasi dari penonton ditunjukkan dengan selalu menunggu-nunggu penampilan Diva di panggung. Apresiasi dari Dahlan ditunjukkan dengan mengakui Diva cantik dan lebih pintar dari CEO perusahaan tempat dia bekerja. Kebutuhan aktualisasi diri Diva telah terpenuhi. Pemenuhan aktualisasi diri Diva ditunjukkan dengan dua cara yaitu tidak memperdagangkan pikirannya dan membagikan pengetahuan dan perspektif yang dia miliki melalui newslatter. Diva memilih menjadi pelacur agar pikirannya merdeka. Selain itu, dalam pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri Diva dalam upaya pengerahan potensi yang dimiliki ditunjukkan Diva dengan membuat semacam newsletter dengan nama samaran Supernova dan di sana dia membagikan pengetahuan dan perspektif yang dia punya kepada orang banyak akan mereka mampu melihat kehidupan lebih baik. Terdapat lima belas karakterisitik yang merupakan ciri-ciri orang yang telah mengaktualisasikan diri. Diva memiliki 10 karakteristik dari 15 karakteristik individu yang telah mengaktualisasi diri. 10 karakteristik itu adalah 1) mampu mengamati realitas secara efisen, 2) terpusat pada masalah, 3) kebutuhan akan privasi, 4) kemandirian dari kebudayaan dan lingkungan, 5) kesegaran dan apresiasi, 6) minat sosial, 7) hubungan interpersonal yang kuat, 8) rasa humor yang filosofis, 9) kreatif dan 10) tidak mengikuti enkulturasi. Cara Diva mencintai merupakan cara orang yang mengaktualisasi ketika mencintai seseorang. Individu yang mengaktualisasi diri ketika mencintai seseorang akan menginginkan orang tersebut menjadi lebih baik, cenderung membebaskan. Hal itu ditunjukkan dengan mencintai Gio dan Ferre dengan tidak mengikat mereka dan membiarkan mereka bebas. Rana hanya memenuhi lima kebutuhan dalam hierarki kebutuhan yaitu 1) kebutuhan fisiologis, 2) kebutuhan rasa aman, 3) kebutuhan cinta dan memiliki, dan 4) kebutuhan harga diri. Kebutuhan aktualisasi diri belum dipenuhi oleh Rana. Kebutuhan fisiologis Rana ditunjukkan dengan makan. Kebutuhan fisiologis untuk makan ditunjukkan Rana dengan makan siang bersama Ferre. Kebutuhan rasa aman ditunjukkan Rana dengan pemenuhan kebutuhan keamanan fisik yang dapat dimaknai sebagai kebutuhan untuk tetap sehat. Pemenuhan tersebut ditunjukkan Rana dengan rajin melakukan chek-up rutin setiap enam bulan agar penyakitnya jantungnya tidak kambuh. Dalam pemenuhan kebutuhan cinta dan rasa memiliki, Rana sering mengalami penurunan dalam memenuhi kebutuhan cinta dan rasa memilikinya. Sepanjang jalan cerita di novel, Rana terus mengupayakan agar kebutuhan ini terpenuhi. Terpenuhi ketika dia menyadari Arwin mencintai dia dengan sungguh-sungguh. Kebutuhan harga diri Rana baik secara menghargai diri sendiri maupun penghargaan dari orang lain telah terpenuhi. Menghargai diri sendiri ditunjukkan melalui Rana yang bebas memilih pekerjaan yang diinginkan dan jabatan Rana sebagai Pemred di usia muda. Memilih pekerjaan yang diinginkan ditunjukkan Rana dengan menjadi reporter, walaupun dia lulusan teknik industri. Jabatan Rana sebagai Pemred di usia menunjukkan bahwa Rana memiliki prestasi. Pemenuhan kebutuhan harga diri berbentuk penghargaan dari orang lain ditunjukkan Rana dengan jabatannya sebagai Pemred, yang merupakan jabatan penting.  Kebutuhan aktualisasi Rana belum terpenuhi. Hal tersebut disebabkan karena terjadi penurunan kebutuhan cinta dan rasa memiliki yang tidak terpuaskan pemenuhannya, sehingga sepanjang novel, Rana sibuk berkutat untuk memuaskan kembali kebutuhan cinta dan rasa memiliki, agar kebutuhan tersebut kembali terpuaskan. Pemenuhan Kebutuhan Tokoh Pria Ferre telah memenuhi lima kebutuhan hierarki kebutuhan yaitu, 1) kebutuhan fisiologis, 2) kebutuhan rasa aman, 3) kebutuhan cinta dan rasa memiliki, 4) kebutuhan harga diri, dan 5) kebutuhan aktualisasi.Kebutuhan fisiologis Ferre ditunjukkan dengan makan dan tidur.  Kebutuhan fisiologis untuk makan ditunjukkan Ferre dengan makan siang bersama Rana. Kebutuhan untuk tidur ditunjukkan Ferre dengan memutuskan untuk tidur setelah begadang.Kebutuhan rasa aman Ferre baik secara psikologis dan harta telah terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan rasa aman secara psikologis ditunjukkan dengan kebutuhan untuk perlindungan, keamanan, kebebasan dari rasa takut dan kecemasan yang telah terpenuhi. Hal tersebut ditunjukkan dengan wasiat Opa dan Oma-nya untuk menitipkan Ferre di keluarga kakeknya di San Fransico, beserta semua biaya hidup dan sekolah. Kebutuhan rasa aman secara harta telah terpenuhi. Hal tersebut ditunjukkan dengan fasilitas mewah yang didapatkan Ferre, seperti terbang dengan first class, mobil dinas mahal dan akomodasi hampir selalu bintang lima. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki Ferre telah terpenuhi, walaupun sempat mengalami penurunan. Ferre terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan ini sampai tingkat kepuasaan yang dia inginkan. Di akhir novel, kebutuhan ini terpenuhi ketika Ferre mampu mendapatkan cinta dari Diva. Kebutuhan harga diri Ferre baik berbentuk menghargai diri sendiri maupun penghargaan dari orang lain terpenuhi. Namun, kebutuhan harga diri berbentuk menghargai diri sendiri Ferre mengalami penurunan sebelum terpenuhi kembali.  Ferre yang merupakan pria muda sukses yang telah menjadi Managing Director di usia 29 tahun menunjukkan bahwa kebutuhan harga diri baik berbentuk menghargai diri sendiri maupun penghargaan dari orang lain. Menjabat sebagai Managing Director di usia 29 tahun merupakan suatu keberhasilan serta prestasi. Penghargaan dari orang lain ditunjukkan dengan reputasi Ferre yang bagus dan terkenal di kalangan masyarakat. Penurunan kebutuhan harga berbentuk menghargai diri sendiri ditunjukkan ketika Rana meninggalkannya, sehingga menyebabkan, 1) Ferre mengatakan dia benci dirinya sendiri, dan 2) Ferre mengalami keterpurukan yang membuat Ferre mencoba bunuh diri karena kebencian pada dirinya sendiri. Pemenuhan kembali kebutuhan harga diri berbentuk menghargai diri sendiri ditunjukkan Ferre dengan mengalami pengalaman puncak. Akibat mengalami pengalaman puncak, membuat Ferre lebih menghargai diri sendiri dengan memutuskan untuk tetap hidup dan tidak memiliki beban lagi. Diketahui bahwa Ferre mengalami pengalaman puncak yang merupakan salah satu ciri dari karakteristik orang yang mengaktualisasi diri. Pengalaman puncak tersebut berupa Ferre yang mendengar suara yang berupa suaranya sendiri. Setelah mengalami pengalam puncak, Ferre merasa lebih kuat dan baik-baik saja meskipun telah ditinggalkan Rana. Arwin telah memenuhi lima kebutuhan dalam hierarki kebutuhan, yaitu, 1) kebutuhan fisiologis, 2) kebutuhan rasa aman, 3) kebutuhan cinta dan rasa memiliki, 4) kebutuhan harga diri, dan 5) kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis Arwin telah terpenuhi yaitu makan dan seks. Pemenuhan kebutuhan fisiologis berupa makan ditunjukkan dengan Arwin yang sedang berada di meja makan. Pemenuhan kebutuhan fisiologis berupa seks ditunjukkan dengan melakukan seks dengan Rana. Kebutuhan rasa aman Arwin telah terpenuhi baik secara harta dan psikologis. Aman secara harta ditunjukkan dengan pekerjaan Arwin sebagai kontraktor. Pekerjaan kontraktor dengan gaji besar berpengaruh kepada pemenuhan kebutuhan rasa aman secara psikologis, karena dengan gaji kontraktor yang besar menjamin Arwin tidak akan kesulitan secara materi dan tidak perlu merasa kekurangan. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki Arwin telah terpenuhi. Pemenuhan tersebut ditunjukkan dengan dua hal yaitu menikah dengan Rana dan mencintai Rana dengan sungguh-sungguh. Kebutuhan harga diri Arwin yang terpenuhi berupa menghargai diri sendiri dan penghargaan dari orang lain. Kebutuhan harga diri Arwin berupa menghargai diri sendiri ditunjukkan dengan  posisinya sebagai kontraktor yang merupakan pencapaian atau keberhasilan yang telah dia capai. Kebutuhan harga diri Arwin yang berupa penghargaan dari orang lain, berupa reputasinya yang merupakan bagian dari keluarga priyayi lama. Kebutuhan aktualisasi diri Arwin telah terpenuhi. Hal tersebut ditunjukkan dengan cara Arwin mencintai Rana. Meskipun, Arwin mengetahui Rana berselingkuh dengan Ferre, Arwin tidak marah pada Rana, akan tetapi Arwin merasa bahagia ketika melihat Rana bahagia ketika Rana bersama Ferre. Selain itu, Arwin merelakan Rana untuk bersama Ferre. Arwin menunjukkan dirinya sebagai orang yang mengaktualisasi diri memiliki cinta yang menginginkan orang yang dicintainya menjadi lebih baik. Reuben telah memenuhi lima kebutuhan dalam hierarki kebutuhan, yaitu, 1) kebutuhan fisiologis, 2) kebutuhan rasa aman, 3) kebutuhan cinta dan rasa memiliki, 4) kebutuhan harga diri, dan 5) kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis Arwin telah terpenuhi yaitu kebutuhan minum dan tidur. Pemenuhan kebutuhan fisiologis dengan minum ditunjukkan Reuben dengan meminum kopi. Pemenuhan kebutuhan fisiologis dengan tidur ditunjukkan dengan Reuben yang tidur di sofa. Kebutuhan rasa aman Reuben telah terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan aman ditunjukkan dengan orangtua Reuben yang menerima bahwa anaknya gay. Penerimaan tersebut secara psikologis menimbulkan Reuben memperoleh ketentraman, serta bebas dari rasa takut dan cemas, karena orangtua menerima orientasi seksualnya. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki Reuben telah terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan cinta dan rasa memiliki ditunjukkan dengan Reuben yang memiliki pasangan yaitu, Dimas, dan hubungan mereka yang telah memasuki tahun kesepuluh. Kebutuhan harga diri Reuben telah terpenuhi. Dalam novel ini, hanya diketahui bahwa kebutuhan harga diri Reuben yang terpenuhi berupa menghargai diri sendiri. Kebutuhan harga diri berbentuk menghargai diri sendiri ditunjukkan Reuben dengan berani mengakui dirinya gay. Hal tersebut menandakan bahwa kebutuhan harga diri menghargai diri sendiri berupa kepercayaan diri dan kebebasan telah dipenuhi Reuben. Kebutuhan aktualisasi Reuben telah terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri Reuben ditunjukkan dengan mengembangkan potensi dengan mencoba membuat satu mahakarya yang membantu menjembatani semua percabangan sains. Reuben memiliki 3 karakteristik dari 15 karakteristik individu yang mengaktualisasi diri. 3 karakteristik tersebut yaitu, 1) kesegaran dan apresiasi, 2) mengalami pengalaman puncak, dan 3) kreatif. Aktualisasi diri Reuben juga dapat dilihat dari cara dia mencintai Dimas. Cara Reuben mencintai Dimas dengan tidak pernah mengikrarkan diri, dia membiarkan Dimas tidak terikat. Cara Reuben mencintai tersebut merupakan cara orang mengaktualisasi diri ketika mencintai, yaitu menjadikan orang yang dicintainya menjadi lebih baiknya, hal itu dapat ditunjukkan dengan membebaskannya. Kebutuhan fisiologis Dimas telah terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan fisiologis tersebut berupa kebutuhan untuk minum. Kebutuhan untuk minum ditunjukkan Dimas dengam meminta Reuben untuk membuatkan dia kopi. Kebutuhan rasa aman Dimas telah terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan rasa aman ditunjukkan Dimas yang merupakan anak orang kaya. Menjadi anak orang kaya menunjukkan bahwa Dimas telah memenuhi kebutuhan aman secara harta dan psikologis. Menjadi anak orang kaya menunjukkan bahwa Dimas memiliki uang yang banyak, yang menunjukkan aman secara harta. Selain itu, menjadi anak orang kaya menunjukkan pemenuhan kebutuhan rasa aman secara psikologis, karena Dimas tidak perlu khawatir merasa kekurangan. Kebutuhan cinta dan rasa memiliki Dimas telah terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan cinta dan rasa memiliki Dimas ditunjukkan dengan Dimas yang mempunyai pasangan, yaitu Reuben dan hubungan mereka telah memasuki tahun kesepuluh. Mempunyai pasangan menunjukkan Dimas berhasil menciptakan ikatan emosional dengan individu lain, yaitu Reuben. Hubungan Dimas dan Reuben yang bertahan selama sepuluh tahun menunjukkan bahwa Reuben berhasil mendapatkan dan memberi cinta. Selain itu, menunjukkan bahwa kebutuhan cinta dan rasa memiliki Dimas tidak mengalami penurunan. Kebutuhan harga diri Dimas telah terpenuhi. Dalam novel ini, hanya diketahui bahwa kebutuhan harga diri Dimas yang terpenuhi berupa menghargai diri sendiri. Pemenuhan kebutuhan harga diri berbentuk menghargai diri sendiri ditunjukkan dengan Dimas yang memberanikan diri mengakui dirinya gay. Hal tersebut menandakan bahwa kebutuhan harga diri menghargai diri sendiri berupa kepercayaan diri dan kebebasan telah dipenuhi Dimas. Kebutuhan aktualisasi Dimas telah terpenuhi. Pemenuhan aktualisasi diri tersebut ditunjukkan Dimas dengan mencoba membuat satu mahakarya yang berdimensi luas dan menyentuh hati banyak orang. Mencoba membuat satu mahakarya merupakan usaha Dimas untuk mengembang potensi dirinya.  Cara Dimas mencintai Reuben menunjukkan bahwa kebutuhan aktualisasi diri Dimas telah terpenuhi. Hal itu ditunjukkan dengan Dimas

    Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Teks Terjemahan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UM 2015

    No full text
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mesndeskripsikan kesalahan penggunaan pilihan kata, bentukan kata, dan struktur kalimat dalam teks terjemahan mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra UM 2015. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa banyak melakukan kesalahan pada penggunaan pilihan kata aspek ketidaksesuaian, penggunaan bentukan kata, dan struktur kalimat. Temuan tersebut membuktikan bahwa mahasiswa kurang memerhatikan penggunaan tata bahasa dalam menerjemahkan teks dari BSu menuju BSa (bahasa Inggris−bahasa Indonesia).Kata Kunci: kesalahan, kaidah bahasa Indonesia, teks terjemahanABSTRACTThis research aims to describe language error in college student Literature Department 2015 UM Faculty of Literature in the use of option word, formation word, and structure sentence. This research use qualitatif’s method and use descriptive research type. This observational result points out that a lot of college student do mistake on using option word conformance aspects, use of formation word, and structure sentence. That finding proves that college student not paying attention on sentences struktur to translate of the teks from BSu to BSa (English language−Indonesian language). Key word:  error, Indonesian language rules, translation tex

    Hubungan Kemampuan Membaca dengan Kemampuan Menulis Teks Deskripsi Kelas VII

    No full text
    ABSTRAK   Cahyono, Guntur. 2017. Hubungan Kemampuan Membaca dengan Kemampuan Menulis Teks Deskripsi Siswa Kelas VII SMPN 10 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Roekhan, M.Pd.   Kata Kunci: kemampuan membaca, kemampuan menulis, teks deskripsi, teks nondeskripsi, hubungan   Membaca adalah kegiatan seseorang dengan tujuan untuk memperoleh sebuah informasi. Informasi-informasi yang telah diperoleh dari kegitan membaca tentunya akan menjadi sebuah pengetahuan yang baru bagi pembaca. Ketika masyarakat sebuah bangsa tersebut gemar akan membaca, maka bangsa tersebut dapat dikatakan bangsa yang maju. Terbiasanya membaca seseorang tentunya juga akan terbiasa memahami sesuatu, dan lebih mudah untuk berpikr. Maka dari itu di lingkungan sekolah kegiatan membaca sangat diperlukan, dan para pelajar juga harus dibiasakan untuk membaca, hal ini untuk mencetak generasi-generasi yang akan selalu berpikir dan akan selalu siap mengahadapi masalah. Sebelum siswa menulis teks deskripsi hendaknya membaca terlebih dahulu sebagai sumber pengetahuannya. Siswa dapat membaca teks-teks deskripsi ataupun teks-teks lain yang dapat memicu penulis merangkai kalimat dalam menggambarkan objek ataupun lingkungan. Oleh karena itu, kemampuan membaca sangat diperlukan untuk memulai menulis. Penelitian ini bertujan untuk mengetahui (1) kemampuan membaca siswa kelas VIID SMPN 10 Malang, (a) kemampuan memabaca teks nondeskripsi, (b) kemampuan membaca teks deskripsi, (2) kemampuan menulis teks deskripsi siswa kelas VIID SMPN 10 Malang, dan (3) hubungan kemampuan membaca dengan kemampuan menulis teks deskripsi. Penelitian ini adalah penelitian deskripsi korelasional. Penelitian ini terdiri dari dua variabel bebas, yaitu kemampuan membaca teks nondeskripsi dan kemampuan membaca teks deskripsi serta variabel terikat yaitu kemampuan menulis teks deskripsi.  Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMPN 10 Malang dengan jumlah 315 siswa. Sampel penelitian adalah siswa kelas VIID SMPN 10 Malang dengan jumlah 32 siswa. Data yang diperoleh yaitu (1) kemampuan membaca: (a) kemampuan membaca teks nondeskripsi dan  (b) kemampuan memabaca teks deskripsi dengan bentuk soal tes kemampuan membaca serta diwujudkan dalam bentuk skor dan (2) kemampuan menulis teks deskripsi dengan bentuk soal tes menulis serta diwujudkan dalam bentuk skor. kedua data tersebut termasuk data kuantitatif sehingga data diolah dengan teknik korelasi peorson. Hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama rata-rata kemampuan membaca siswa SMPN 10 Malang berkualifikasi baik dengan nilai 84,75 : (a) rata-rata kemampuan membaca teks nondeskripsi siswa SMPN 10 Malang berkualifikasi baik dengan nilai 80,75 dan (b) rata-rata kemampuan membaca teks deskripsi siswa SMPN 10 Malang berkualifikasi sangat baik dengan nilai 88,75. Kedua rata-rata kemampuan menulis teks deskripsi siswa SMPN 10 Malang berkualifikasi baik dengan nila 82,66. Ketiga hubungan kemampuan membaca dengan kemampuan menulis teks deskripsi memiliki sig. (2 tailed) sebesar 0,047 0,05, hal ini berari ada hubungan yang  kurang signifikan dan (b) hubungan kemampuan membaca teks deskripsi dengan kemampuan menulis teks deskripsi memilki sig. (2 tailed) sebesar 0,044 < 0,05. Hal ini berarti ada hubungan yang signifikan serta arah hubungan berbanding lurus. Bila kemampuan membaca teks deskripsi tinggi maka kemampuan menulis teks deskripsi juga tinggi

    Kesalahan Berbahasa dalam Abstrak Skripsi Karya Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang Tahun 2014-2016

    No full text
    ABSTRAK Abstrak merupakan bagian skripsi yang diletakkan di halaman awal yang memuat intisari skripsi. Abstrak skripsi ditulis dengan bahasa yang baku. Pembaca yang tidak mengalami hambatan saat membaca abstrak tentu akan membaca isi skripsi secara keseluruhan. Kesalahan berbahasa mampu menghambat pemahaman pembaca. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis kesalahan berbahasa.Penelitian ini difokuskan pada kesalahan ejaan, pilihan kata, dan kalimat. Penelitian ini dirancang dengan pendekatan kualitatif dengan desain analisis dokumen. Lokasi penelitian terletak di Perpustakaan Universitas Negeri Malang. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci, sedangkan instrumen pendukungnya berupa (1) panduan kodifikasi data dan (2) panduan analisis data.Data yang diperoleh ialah data verbal berupa kesalahan ejaan, pilihan kata, dan kalimat yang bersumber dari abstrak skripsi karya Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang tahun 2014-2016. Pengumpulan data dilaksanakan melaluistudi dokumen. Analisis data dilakukan secara induktif dengan tiga tahapan, yaitu (1) identifikasi data, (2) klasifikasi data, (3) kodifikasi data, (4) interpretasi data, (5) penyajian data, dan (6) penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil analisis data, ditarik tiga kesimpulan.Pertama, kesalahan ejaan yang ditemukan meliputi empat jenis kesalahan, yaitu penulisan huruf, kata, bilangan, dan tanda baca. Kesalahan penulisan huruf meliputi kesalahan penulisan huruf kapital dan huruf miring. Kesalahan penulisan kata meliputi kesalahan penulisankata serapan, dan kata depan.Kesalahan penulisan bilangan meliputi penulisan bilangan dengan angka dan penulisan bilangan yang tidak ditulis dengan angka Romawi. Kesalahan penulisan tanda baca meliputi kesalahan penulisan tanda koma,penulisan tanda titik dua, danpenulisan tanda titik koma.Kedua, kesalahan pilihan kata yang ditemukan meliputi empat jenis kesalahan yang meliputi (1) penggunaan kata asing, (2) penggunaan kata tidak baku, (3) penempatan konjungsi, dan (4) penggunaan kata tanya dalam kalimat deklaratif. Ketiga, kesalahan keefektifan kalimat yang ditemukanmeliputikesalahan kesatuan gagasan, kesalahan kehematan, kesalahan kegramatikalan, kesalahan kelogisan, kesalahan keambiguan, dan kesalahan keparalelan. Berdasarkan paparan di atas, saran ditujukan kepada mahasiswa, dosen, dan peneliti lanjut. Pertama, mahasiswa disarankan meningkatkan kemampuan menulis abstrak skripsidan lebih cermat menggunakan tanda koma, pemilihan kata, dan kehematan kalimat, karena sering ditemukan kesalahannya. Kedua, dosen diharapkan lebih memperhatikan penggunaan ejaan, kata dan kalimat yang ditulis mahasiswanya demi perbaikan skripsi yang lebih berkualitas. Ketiga, kepada peneliti lanjut diharapkan memanfaatkan penelitian ini sebagai rujukan untuk penelitian selanjutnya

    Argumentasi dalam Teks Tajuk Rencana Harian Suara Merdeka (Online)

    No full text
    ABSTRAK Argumentasi adalah suatu bentuk keterampilan kognitif yang diekspresikan menggunakan bahasa yang bertujuan untuk meyakinkan orang lain agar sependapat dengan apa yang diinginkan penulis, dengan cara memberikan pendapat yang logis terkait denan permasalahan yang diangkat. Oleh karena itu, penulis harus menggabungkan argumen-argumen menjadi satu kesatuan agar dapat mempengaruhi orang lain. Salah satu cara menggabungkan argumen-argumen tersebut adalah dengan menggunakan teknik argumentasi. Penulis tidak hanya dapat menggunakan satu teknik, tetapi beberapa teknik yang digabungkan. Susunan teknik yang digunakan dalam teks tajuk rencana dapat membentuk pola Argumentasi. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan argumentasi dalam teks tajuk rencana harian Suara Merdeka (Online). Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan teknik argumentasi dalam teks tajuk rencana harian Suara Merdeka (Online) serta pola argumentasi dalam teks tajuk rencana harian Suara Merdeka (Online).Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian analisis teks. Data penelitian ini berupa kalimat yang berisi teknik argumentasi dan berupa paragraf yang berisi pola argumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks tajuk rencana harian Suara Merdeka (Online). Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen kunci. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Data yang terkumpul berupa kalimat dan paragraf dalam teks tajuk rencana harian Suara Merdeka (Online) dianalisis melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis data dimulai dengan kegiatan identifikasi dan klasifikasi teknik argumentasi, selanjutnya kegiatan identifikasi dan klasifikasi pola argumentasi. Hasil kedua langkah tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan bagan. Tahap selanjutnya adalah penarikan kesimpulan sementara. Hasil simpulan sementara ditelaah kembali kebenarannya dengan cara diskusi dengan teman sejawat dan dosen pembimbing. Hasil simpulan yang benar inilah yang digunakan sebagai simpulan akhir dalam penelitian.Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, teks tajuk rencana harian Suara Merdeka (Online) menerapkan teknik argumentasi yang terdiri dari (1) teknik rasionalisasi, (2) teknik identifikasi, (3) teknik sugesti, (4) teknik konformitas, (5) teknik kompensasi, (6) teknik penggantian, dan (7) teknik proyeksi. Teknik rasionalisasi dapat dibedakan berdasarkan common sense atau akal sehat. Teknik identifikasi dapat dibedakan berdasarkan situasi dan hadirin. Teknik sugesti dapat dibedakan berdasarkan keadaan. Teknik konformitas dapat dibedakan berdasarkan keadaan dan hadirin. Teknik kompensasi dapat dibedakan berdasarkan sikap dan keadaan. Teknik penggantian dapat dibedakan berdasarkan sikap dan keadaan. Teknik proyeksi dapat dibedakan berdasarkan posisi subjek dan objek. Kedua, teks tajuk rencana harian Suara Merdeka (Online) memiliki pola-pola argumentasi yang terdiri atas (1) pola rasionalisasi, (2) pola penggantian, (3) pola konformitas, (4) pola identifikasi, (5) pola sugesti, dan (6) pola proyeksi. Pada pola rasionalisasi, teknik rasionalisasi yang berdasarkan common sense menjadi landasan dari topik yang diangkat. Pada pola penggantian, teknik penggantian berdasarkan keadaan dan sikap menjadi landasan dari suatu topik. Pada pola konformitas, teknik konformitas berdasarkan keadaan dan hadirin menjadi landasan dari suatu topik. Pada pola identifikasi, teknik identifikasi berdasarkan situasi dan hadirin menjadi landasan dari suatu topik. Pada pola sugesti, teknik sugesti berdasarkan keadaan menjadi landasan dari suatu topik. Pada pola proyeksi, teknik proyeksi dengan melihat posisi subjek dan objek menjadi landasan dari suatu topik. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyarankan kepada penyusun buku teks dan guru bahasa Indonesia, serta peneliti lain. Dalam menjelaskan dan menyampaikan argumentasi, hendaknya penyusun buku dan guru memperhatikan teknik yang digunakan dalam argumentasi yang berupa teknik rasionalisasi, teknik identifikasi, teknik sugesti, teknik konformitas, teknik kompensasi, teknik penggantian, dan teknik proyeksi. Bagi peneliti lain, disarankan dapat mengembangkan penelitian terkait teknik argumentasi dan pola argumentasi dalam teks tajuk rencana

    Psikologi Tokoh dalam Novel Pasung Jiwa Karya Okky Madasari: Tinjauan Psikoanalisis

    No full text
    ABSTRAK Kepribadian manusia memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni Id, Ego, dan Superego. Id manusia dibawa sejak lahir oleh manusia karena merupakan aspek dasar pada kepribadian manusia. Ego merupakan aspek yang beroperasi mengikuti prinsip realita dan mengontrol Egonya dalam berbagai hal. Kemudian Superego merupakan aspek moral dan etika dalam diri seseorang, dan Superego yang mengenal baik buruknya sesuatu, Superego jugalah yang menuntut kesempurnaan untuk dirinya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mengetahui psikologi tokoh dalam novel Pasung Jiwa  karya Okky Madasari. Dalam novel Pasung Jiwa  karya Okky Madasari terdapat dua tokoh yang menonjol, tokoh tersebut adalah Sasana dan Jaka Wani. Sasana dan Jaka Wani sama-sama memiliki kesamaan dalam menyukai seni musik. Sasana adalah seorang perempuan yang terperangkap dalam tubuh laki-laki. Sasana merupakan anak pertama dari seorang ayah yang berprofesi pengacara dan ibu dari dokter bedah. Sasana memiliki adik perempuan yang bernama Melati, Sasana sangat mengagumi sosok Melati. Awal mula Sasana menemukan jati dirinya sebagai perempuan adalah ketika dia mulai menyukai musik dangdut. Meskipun kedua orang tuanya menentangnya menyukai musik dangdut. Sisi lain Jaka Wani yang mendukungnya dalam menyukai musik dangdut dan membantunya menjadi sosok yang dia impikan, menjadi seorang perempuan. Sedangkan Jaka Wani mempunyai sifat yang bertolak belakang dengan Sasana. Jaka Wani bersyukur dirinya diciptakan sebagai laki-laki dan tertarik kepada lawan jenis. Sebelum mengenal Sasana, Jaka Wani adalah pengangguran yang dulu pernah duduk bangku kuliah, ketika semester akhir dia memutuskan untuk berhenti kuliah. Sasana dan Jaka Wani bertemu ketika sedang ngopi di warung Cak Man, dari situlah mereka memulai mewujudkan impiannya sebagai pemain musik. Sasana menjadi penyanyinya dan Jaka Wani sebagai pengiring musiknya. Namun, dalam perjalanan hidup mereka untuk mewujudkan impiannya menjadi pemain musik terkenal dipenuhi dengan suka, duka, serta kontroversi. Sasana dan Jaka Wani merasa bahwa kehidupan mereka terkungkung dengan aturan yang membuatnya merasa tidak bebas menjalani kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) aspek Id yang ada pada tokoh Sasana dan Jaka Wani dalam novel Pasung Jiwa  karya Okky Madasari, (2) aspek Ego yang ada pada tokoh Sasana dan Jaka Wani dalam novel Pasung Jiwa  karya Okky Madasari, dan (3) aspek Superego yang ada pada tokoh Sasana dan Jaka Wani dalam novel Pasung Jiwa  karya Okky Madasari.Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif karena data dari penelitian ini berupa data tertulis dari novel Pasung Jiwa  karya Okky Madasari. Penelitian ini berupa data-data yang tidak memperhitungkan angka dan analisis statistik, instrumen penelitian ini berupa tabel data. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti bertindak lanjut sebagai pengumpul data dan menelah novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari. Data penelitian ini diperoleh dengan membaca novel Pasung Jiwa  karya Okky Madasari. Setelah membaca novel Pasung Jiwa  karya Okky Madasari, kemudian peneliti akan mengumpulkan dan menelaah data yang berupa dialog tokoh, monolog tokoh, dan narasi yang memunculkan adanya struktur psikologi yang berupa Id, Ego, dan Superego.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya keterkaitan antara Id, Ego dan Superego. Hasil penelitian menunjukkan adanya keterkaitan yang dialami oleh tokoh Sasana bahwa (1) terdapat problem kejiwaan dengan keinginan menjadi seorang perempuan, (2) tekanan secara batin dan fisik membuatnya mengalami guncangan kejiwaan, terlebih kekerasan fisik membuat jiwanya tidak stabil, (3) keterkaitan antara Id, Ego, dan Superego membuat kondisi kejiwaannya mengalami perkembangan dan penurunan mental. Hasil penelitian yang ditunjukkan oleh tokoh Jaka Wani bahwa (1) adanya perkembangan psikologi dengan mengubah pola pikir dan pola tingkah laku, (2) adanya konflik batin yang muncul karena tekanan batin, (3) adanya tekanan secara fisik yang dialami karena mendapat kekerasan secara fisik. Saran penulis bagi pembaca adalah untuk lebih mengetahui dan mengenal psikologi manusia yang ada di dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari. Pembaca dapat mengetahui adanya struktur psikologi yang ada di dalam novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari. Selain itu, dari hasil penelitian ini pembaca dapat menambah wawasan dan mengenal tentang psikologi dalam sebuah novel, cerpen, puisi dan karya sastra lainnya melalui teori psikoanalisis. Berdasarkan hasil kesimpulan yang telah disampaikan, pembaca dapat mengetahui tentang problem kejiwaan yang dialami oleh tokoh dari segi psikoanalisis. Meksipun penelitian melalui teori psikoanalisis telah diselesaikan. Masih ada kesempatan bagi para peneliti untuk melakukan ekplorasi novel ini dari berbagai teori lain

    Penggunaan Konjungsi Intrakalimat dalam Teks Eksposisi Karya Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen

    No full text
    ABSTRAK   Proses pengajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak luput dari aspek keterampilan menulis. Menulis berarti menyampaikan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Alatnya adalah bahasa yang terdiri atas kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Menulis sebuah karangan atau wacana dibutuhkan kecermatan dan ketelitian. Kecermatan dan ketelitian yang dimaksud meliputi berbagai hal, salah satunya penggunakan konjungsi yang jelas karena wacana tidak pernah lepas dari penggunaan konjungsi. Tanpa konjungsi, orang bisa kehilangan konteks kalimat yang menyebabkan terjadinya miss komunikasi. Untuk itu, penggunaan konjungsi yang tepat sangat membantu terciptanya sebuah wacana yang koheren, terutama dalam wacana tulis. Hal ini bisa berarti bahwa konjungsi merupakan sebuah bagian yang penting dalam sebuah wacana. Dalam penelitian ini dikaji mengenai wujud penggunaan konjungsi pada teks eksposisi karya siswa. Dalam teks eksposisi berisi suatu penjelasan atau pemaparan pendapat, gagasan, dan keyakinan penulis untuk meyakinkan pembaca mengenai sebuah topik. Jelas atau tidaknya gagasan penulis kepada pembaca, salah satunya dapat dilihat dari penggunaan konjungsinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan desain deskriptif. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Kepanjen. Data dalam penelitian ini berupa konjungsi koordinatif dan subordinatif intrakalimat (antarklausa). Sumber data didapatkan dari guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang berupa karangan eksposisi karya siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen. Analisis data penelitian ini dimulai sejak data dikumpulkan, tekniknya sebagai berikut, (1) mengolah data, (2) mereduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan melalui tiga langkah, yaitu ketekunan peneliti, diskusi dengan teman sejawat, dan memanfaatkan bantuan dan saran dari dosen pembimbing. Penelitian ini melalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan dua kesimpulan. Pertama, berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada 18 teks eksposisi karya siswa, telah ditemukan wujud penggunaan konjungsi koordinatif intrakalimat (antarklausa) yang dikelompokkan berdasarkan sifatnya, konjungsi tersebut ada dalam 8 kategori yang berbeda, meliputi: a) konjungsi penjumlahan, b) konjungsi pemilihan, c) konjungsi pertentangan, d) konjungsi pembetulan, e) konjungsi penegasan, f) konjungsi pembatasan, g) konjungsi pengurutan, dan h) konjungsi penyamaan. Kedua, berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada 18 teks eksposisi karya siswa, telah ditemukan wujud penggunaan konjungsi subordinatif intrakalimat (antarklausa) yang dikelompokkan berdasarkan sifatnya, ii konjungsi tersebut ada dalam 6 kategori yang berbeda, meliputi: a) konjungsi penyebaban, b) konjungsi persyaratan, c) konjungsi tujuan, d) konjungsi penyungguhan, e) konjungsi kesewaktuan, dan f) konjungsi pengakibatan

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇