SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    Standar Kualitas Layanan Perpustakaan Universitas Ma Chung

    No full text
    ABSTRAK   Khamidah, Ninik Fa’idatush. 2016. Standar Kualitas Layanan Perpustakaan Universitas Ma Chung. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd., (2) Setiawan, S.Sos, M.IP. Kata Kunci: layanan perpustakaan, standar kualitas Perpustakaan menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Perpustakaan menyediakan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Layanan perpustakaan dikatakan bagus apabila pemustaka merasa puas dengan layanan dan sikap pustakawan saat melayani. Perpustakaan Universitas Ma Chung memiliki layanan sirkulasi, referensi, dan jurnal elektronik. Dari data statistik pengunjung, jumlah pengunjung dari Juli 2015-Juli 2016 mengalami penurunan. Penempatan gedung perpustakaan yang baru belum dimanfaatkan oleh pemustaka secara maksimal. Sistem access yang seringkali error saat peminjaman buku di perpustakaan menjadi salah satu kendala yang dialami saat ini Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan fakta-fakta. Data penelitian ini berupa aktivitas layanan dan kualitas layanan. Sumber data penelitian ini berupa pustakawan dan pemustaka. Teknik pengumpulan data berupa dokumentasi, wawancara, dan observasi. Teknik pengumpulan data dokumentasi dilakukan dengan mengambil data berupa buku catatan dan dokumen yang tersimpan. Wawancara dengan mengajukan beberapa pertanyaan ke pemustaka dan petugas perpustakaan. Pengumpulan data melalui observasi dilakukan untuk mengamati kondisi layanan dan kualitas layanan yang diberikan untuk pemustaka. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini sebagai berikut. Pertama, layanan perpustakaan Universitas Ma Chung, memiliki layanan sirkulasi, referensi, dan jurnal elektronik. Ketiga layanan tersebut mempunyai Standard Operating Procedure. Layanan sirkulasi dan jurnal elektronik menggunakan sistem layanan terbuka. Layanan referensi menggunakan sistem layanan terbuka dan tertutup. Kedua, standar kualitas layanan perpustakaan Universitas Ma Chung, kualitas layanan sirkulasi, menyediakan informasi terbaru yang dibutuhkan oleh pemustaka, memberikan kemudahan akses yang berupa OPAC, kecepatan pustakawan saat melayani pemustaka. Kualitas layanan referensi yaitu sumber rujukan yang dibutuhkan oleh pemustaka. Pustakawan mampu membimbing dan memberi pengarahan kepada pemustaka untuk tugas kuliah. Kualitas layanan jurnal elektronik yaitu Pustakawan menyediakan layanan jurnal elektronik yang sudah di bedakan sesuai dengan jurusan dan jenis jurnal.  

    KEMAMPUAN MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK TEKS CERITA WAYANG BERBAHASA JAWA SISWA KELAS X SMKN 2 MALANG

    No full text
    KEMAMPUAN MEMAHAMI UNSUR INTRINSIK TEKS CERITA WAYANG BERBAHASA JAWA SISWA KELAS X SMKN 2 MALANGJavian Inggit Restianto[1]Yuni Pratiwi[2]Anang Santoso2Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5 Malang 65145E-mail: [email protected] ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa siswa kelas X SMKN 2 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan mendeskripsikan skor siswa yang menjadi sampel penelitian dalam memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa. Berdasarkan analisis data, diperoleh empat hasil penelitian. Pertama, pemahaman siswa dari segi tokoh cerita wayang berbahasa Jawa untuk indikator menyebutkan nama tokoh, menebak gambar, dan menyebutkan tokoh cerita siswa memperoleh skor yang baik, sedangkan untuk indikator menentukan dan menunjukkan watak tokoh dalam cerita siswa memperoleh skor yang masih kurang. Kedua, pemahaman siswa dari segi latar cerita wayang berbahasa Jawa untuk indikator menyebutkan latar cerita siswa memperoleh nilai yang baik, sedangkan untuk indikator menentukan latar cerita siswa memperoleh skor yang masih kurang. Ketiga, pemahamann siswa dari segi alur cerita wayang berbahasa Jawa untuk indikator menyebutkan alur cerita siswa memperoleh nilai yang baik, sedangkan untuk indikator merangkai alur cerita wayang siswa memperoleh skor yang masih sangat kurang. Keempat, pemahaman siswa dari segi tema cerita wayang berbahasa Jawa dengan membuat tema cerita masih kurang.Kata Kunci: unsur intrinsik, teks cerita wayang, berbahasa jawaABSTRACTThis research aims to describe students competency in Understanding Intrinsic Elements of Javanese wayang story of 10th Graders in SMKN 2 Malang. ground, and warrant without link and patterns of argumentation in the text exposition containing ground quotes without claim. This research use quantitative descriptive approach by describing students score as research sample in understanding intrinsic elements of Javanese wayang story. The result of the research based on data analysis are as follows: First, student understanding of character, character name, picture guess, an mention figure story, the result is good, while indicator of determine an indicating of story character the result is poor. Second, students understanding about background of Javanese language of wayang story for indicator mention of background story, the result is good, while indicator determine background story, the result is still not enough. Third, student understanding plot of Javanese language of wayang story for mention plot story, the result is good, while for indicator to string up story the result is poor. Fourth, student understanding theme of Javanese language of wayang story for make theme of story, the result is still not enough.Keywords: intrinsic elements, text, Javanese wayang stories Wayang dalam dunia pendidikan diajarkan di sekolah dan perguruan tinggi tertentu seperti ISI Solo, ISI Yogyakarta, dan ISI Bali. SMK 9 Surabaya di Jawa Timur adalah sekolah yang mengajarkan wayang pada tingkat SMA/SMK melalui jurusan pedhalangannya. Pembelajaran wayang di tingkat SMA/SMK masuk dalam mata pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal wajib yang harus dipelajari. Pembelajaran tersebut telah ditetapkan dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 19 Tahun 2014. Tujuan pembelajaran adalah untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan yang meliputi etika, estetika, moral, spiritual dan karakter.Kompetensi dasar dalam kurikulum muatan lokal bahasa Jawa kelas X SMA/SMK yang terkait dengan kemampuan memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa adalah kompetensi dasar mengidentifikasi, memahami, dan menganalisis unsur intrinsik maupun ekstrinsik teks sastra klasik dan  modern secara lisan dan tulis. KD tersebut terbagi atas tiga indikator, yaitu 1) menganalisis unsur intrinsik cerita wayang/topѐng ḍhâlâng, 2) menganalisis unsur ekstrinsik cerita wayang/topѐng ḍhâlâng, dan 3) menganalisis relevansi isi cerita wayang/topѐng ḍhâlâng dengan zaman sekarang.Cerita wayang diajarkan dalam bentuk teks tulis dan teks lisan dengan bahasa lokal dari setiap daerah. Pembelajaran cerita wayang di Jawa Timur, khususnya di Malang menggunakan bahasa Jawa karena sebagian besar masyarakatnya adalah orang Jawa. Cerita wayang yang diajarkan di dunia pendidikan biasanya mengambil tema cerita yang bersifat kepahlawanan dan perjuangan seperti cerita “Laire Gathutkaca”, “Amarta Binangun”, “Petruk dadi Ratu”, dan lain sebagainya. Pemahaman terhadap cerita wayang siswa harus membaca dan menjawab beberapa pertanyaan yang ada.Membaca adalah sebuah proses yang kompleks dan rumit (Nurhadi, 1987:13). Menurut Tarigan (2008:7) membaca merupakan suatu proses yang dilakukan untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis. Karena membaca dikatakan sebuah proses, maka membaca yang baik tidak hanya menggunakan gerak bibir atau mata, melainkan melibatkan berbagai macam aspek berpikir dan bernalar seperti mengingat, memahami, membedakan, membandingkan, menganalisa, dan mengorganisasi.Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, beberapa siswa kelas X SMK Negeri 2 Malang berasal dari daerah di luar pulau Jawa dan belum pernah mendapatkan materi pelajaran Bahasa Jawa, tetapi memahami bahasa Jawa dalam tataran ngoko andhap dan ngoko alus. Keadaan siswa yang bersifat heterogen tersebut yang mengharuskan peneliti membuat teks cerita wayang berbahasa Jawa menggunakan Bahasa Jawa yang bisa dipahami oleh siswa. Teks cerita wayang yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk teks tulis yang bersumber dari gagrak Wayang Kulit Purwa Jawatimuran. Teks cerita wayang yang digunakan adalah cerita tentang Laire Gathutkaca.Wayang dalam bahasa Jawa adalah bayangan (Mulyono, 1975:11) salah satu seni pertunjukan asli Indonesia yang bertahan di wilayah pulau Jawa dan Bali. Ragam cerita wayang yang paling terkenal dan populer di Indonesia adalah Wayang Purwa. Wayang Purwa adalah lambang kehidupan manusia di dunia (Hardjowirogo, 1982:11). Cerita wayang purwa seperti Mahabarata dan Ramayana lebih populer di Indonesia karena mengandung nilai-nilai moral karakter yang baik. Tokoh dan karakter wayang purwa jumlahnya lebih beragam, alur ceritanya dapat mengakomodasi secara aktual berbagai kecenderungan yang berkembang di masyarakat, dan wayang purwa selalu dijadikan pandangan hidup oleh masyarakat  (Murtiyoso dkk, 2004:2). Pengertian wayang itu sendiri berasal dari kata Ma Hyang yang berarti menuju kepada roh spiritual, dewa atau Tuhan Yang Maha Esa (Lisbijanto, 2013:1).Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan kognitif siswa dalam memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa. Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Widi Widayat yang berjudul Kemampuan Mengapresiasi Unsur Intrinsik Dongeng pada Siswa Kelas V SDN segugus III Kecamatan Kedungkandang Malang. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengukur kemampuan siswa dalam mengapresiasi tokoh, perwatakan tokoh, latar, alur dan amanat dongeng.METODEPendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Alasan penggunaan pendekatan tersebut karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa dalam memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa Jawa. Data penelitian ini dideskripsikan sesuai dengan kenyataan sebenarnya (apa adanya) berupa deskripsi verba dari skor memahami unsur intrinsik teks cerita wayang berbahasa jawa.Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMKN 2 Malang. Jumlah total siswa kelas X SMKN 2 Malang adalah 612 siswa yang terbagi atas 17 kelas. Setiap kelas terdapat sekitar 36 siswa. Penelitian ini mengambil sampel 17,65% dari populasi yang berjumlah 612 siswa. Jumlah sampel yang diambil 108 siswa yang terbagi dalam 3 kelas, setiap kelas terdiri atas 36 siswa. Pengambilan sampel penelitian ini adalah sampel acak kelas. Kelas yang diambil adalah kelas X KPR I, X KPR II, dan X KPR III. Pengambilan sampel acak kelas tersebut didasarkan atas kondisi atau karakteristik siswa yang bersifat homogen, yaitu tidak ada kelas yang bersifat unggulan, tidak berdasarkan nilai, dan seluruh siswa mendapat materi pelajaran yang sama dari guru.Data penelitian ini adalah skor siswa dalam menjawab soal dalam tes memahami unsur intrinsik cerita wayang berbahasa Jawa siswa kelas X SMKN 2 Malang. Data tersebut terbagi atas empat data, yaitu 1) skor kemampuan siswa dalam memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa, 2) skor kemampuan siswa dalam memahami latar wayang berbahasa Jawa, 3) skor kemampuan siswa dalam memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa, dan 4) skor kemampuan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa.Prosedur pengumpulan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis, yaitu (1) teknik pengumpulan data, dan (2) Instrumen penelitian. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes soal latihan bahasa objektif dan subjektif. Tes bahasa objektif dilakukan dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan pada tes semata-mata dinyatakan dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang telah disediakan. Tes bahasa subjektif dilakukan dengan menyebutkan atau menjelaskan berupa uraian hal yang sudah dipelajari. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah rubrik penilaian. Rubrik penilaian ini terdiri atas variabel, sub variabel, indikator, dan skor.Pengelompokan soal dalam penelitian ini didasarkan atas ranah kognitif yang terdiri atas ranah pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.Analisis data dalam penelitian ini terbagi atas tiga tahap.enskoran instrumen terdiri atas 26 soal tes bahasa. 26 soal tersebut terbagi dalam dua bentuk soal, tes bahasa objektif dan tes bahasa subjektif. Bentuk tes bahasa objektif adalah menjawab pertanyaan benar-salah, dan menjodohkan. Bentuk soal tes bahasa subjektif adalah melengkapi isian, jawaban singkat, dan soal uraian. 12 soal digunakan untuk menilai kemampuan memahami tokoh. 8 soal untuk menilai kemampuan memahami latar. 5 soal untuk menilai kemampuan memahami alur cerita, dan 1 soal untuk menilai kemampuan memahami tema cerita. Data yang masih berupa skor mentah diolah dengan menggunakan penilaian acuan patokan (PAP) skala lima. Skala lima adalah suatu pembagian tingkatan yang terbagi menjadi lima kategori. Masing-masing tingkatan dinyatakan dengan huruf A,B,C,D, dan E.HASILPada bagian ini dikemukakan hasil penelitian yang terbagi atas emapat data, yaitu 1) kemampuan siswa dalam memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa, 2) kemampuan siswa dalam memahami latar wayang berbahasa Jawa, 3) kemampuan siswa dalam memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa, dan 4) kemampuan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa.Pertama, Pada aspek pemahaman tokoh siswa sudah mampu menyebutkan dan menebak gambar tokoh cerita. Hal ini dikarenakan menyebut dan menebak adalah kemampuan pemahaman literal. Siswa hanya dituntut untuk menghafal tokoh yang ada dalam cerita. Sedangkan untuk kemampuan menyebutkan jenis, menentukan watak, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita sebagian besar siswa belum mampu. Hal ini dikarenakan siswa harus membaca cerita wayang berbahasa Jawa dengan lebih intensif lagi. Selain itu, tidak semua siswa mengusai bahasa Jawa dengan baik yang menjadi faktor penentu pemahaman siswa dalam memahami cerita.Kedua, pada aspek pemahaman latar latar cerita wayang berbahasa jawa Jawa diukur dengan soal sebanyak 8 soal. 3 soal dengan jenis pertanyaan menjodohkan dan 4 soal dengan jenis pertanyaan menentukan latar dalam cerita. Hasil analisis ditemukan bahwa seluruh siswa mampu menjawab dua jenis pertanyaan tersebut. Pada aspek pemahaman latar siswa sudah mampu menentukan latar tempat dalam cerita. Hal ini dikarenakan aspek latar yang dimuncukan dalam cerita adalah aspek tempat. Pemahaman tempat dalam latar cerita merupakan pemahaman yang termudah dibandingkan dengan kedua aspek yang lain, yaitu waktu dan suasana.Ketiga, kemampuan memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa diukur dengan jenis soal menjawab singkat alur cerita dan merangkai alur cerita. Hasil analisis ditemukan ada siswa yang sudah mampu memahami alur dengan baik dan ada yang masih belum. Siswa yang sudah bisa bisa memahami alur mampu menjawab pertanyaan dengan baik yaitu menjawab pertanyaan secara tepat dengan merangkai kalimat bahasa Jawa yang mereka kuasai. Siswa yang masil belum bisa memahami alur cerita dalam menjawab pertanyaan dengan menyalin kalimat yang ada dalam cerita untuk menjawab pertanyaan.Keempat, Faktor jenis soal, kemampuan memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa diukur dengan membuat tema cerita. Sebagian besar siswa sudah mampu membuat tema cerita. Siswa yang sudah mampu, membuat tema cerita dengan kalimat bahasa Jawa yang mereka kuasai. Siswa yang masih belum mampu, membuat tema dengan mengambil kata-kata yang ada dalam cerita dan mengungkapannya dalam bahasa Indonesia bukan bahasa Jawa.Pemahaman siswa terhadap teks cerita wayang berbahasa Jawa ditentukan oleh faktor berikut, jenis soal, asal daerah, dan pengetahuan siswa tentang cerita wayang yang diperoleh melalui sekolah dan media masa. Faktor jenis soal, kemampuan memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa diukur dengan membuat tema cerita. Sebagian besar siswa sudah mampu membuat tema cerita. Siswa yang sudah mampu, membuat tema cerita dengan kalimat bahasa Jawa yang mereka kuasai. Siswa yang masih belum mampu, membuat tema dengan mengambil kata-kata yang ada dalam cerita dan mengungkapannya dalam bahasa Indonesia bukan bahasa Jawa. Faktor asal daerah, siswa kelas X KPR 1 berasal tidak semua berasal dari daerah Jawa. Asal daerah dengan budaya dan bahasa yang berbeda turut menentukan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa. Siswa yang berasal dari lingkungan masyarakat Jawa lebih mampu dalam menentukan tema cerita wayang berbahasa Jawa karena paham dengan bahasa dan istilah dalam cerita. Sedangkan siswa yang berasal dari luar daerah Jawa masih belum mampu. Hal ini dikarenakan siswa tidak memahami bahasa dan istilah dalam cerita wayang berbahasa Jawa tersebut. Faktor siswa pernah mengetahui cerita wayang melalui pendidikan sebelumnya dan melalui media televisi juga ikut menentukan pemahaman terhadap latar cerita wayang berbahasa Jawa. Siswa yang sudah menerima materi tentang cerita wayang di SD dan SMP tersebut lebih baik dalam memahami tokoh cerita, sedangkan siswa yang tidak menerima materi tersebut masih belum mampu memahami tokoh dengan baik. Hal lain yang juga ikut menentukan pemahaman siswa tersebut adalah siswa pernah menyaksikan cerita wayang tentang Mahabarata, Ramayana, dan Sakuntala melalui media televisi.PEMBAHASANPada bagian ini dikemukakan pembahasan terkait 1) kemampuan siswa dalam memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa, 2) kemampuan siswa dalam memahami latar wayang berbahasa Jawa, 3) kemampuan siswa dalam memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa, dan 4) kemampuan siswa dalam memahami tema cerita wayang berbahasa Jawa. Keempat butir pembahasan dipaparkan sebagai berikut.Kemampuan Memahami Tokoh Cerita Wayang Berbahasa Jawa Kemampuan memahami tokoh cerita wayang berbahasa Jawa dibagi menjadi lima indikator, yaitu kemampuan menyebutkan tokoh cerita, menebak gambar tokoh cerita, menyebutkan jenis tokoh cerita, menentukan watak tokoh cerita, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita. Menurut Siswanto (2013:129) Tokoh dalam cerita selalu mempunyai sifat, sikap, tingkah laku atau watak-watak tertentu. Pemberian watak pada tokoh dalam suatu karya oleh sastrawan disebut perwatakan, sedangkan cara sastrawan menampilkan tokoh disebut penokohan.Kemampuan siswa dalam memahami tokoh yang terdiri atas aspek menyebutkan, menebak gambar, menyebutkan jenis, menentukan perwatakan, dan menunjukkan bukti perwatakan tokoh cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa sudah memahami dan sebagian lagi belum. Pemahaman siswa dalam memahami latar cerita wayang berbahasa Jawa tersebut ditentukan oleh beberapa faktor berikut ini. Faktor jenis soal, asal daerah, dan pengetahuan cerita wayang melalui pendidikan sekolah dan media masa.Pada indikator menyebutkan tokoh dan menebak gambar tokoh cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa memperoleh hasil yang baik. Hal ini karena menyebutkan dan menebak gambar tokoh merupakan tingkat pemahaman literal. Tingkat pemahaman literal tersebut hanya menuntut siswa untuk mengingat dan menghafal informasi yang ada dalam bacaan terkait tokoh cerita.Pada indikator menyebutkan jenis tokoh, menentukan watak tokoh, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa belum mampu memperoleh hasil yang baik. Hal ini karena menyebutkan jenis, menentukan watak, dan menunjukkan bukti watak tokoh dalam cerita merupakan tingkat pemahaman inferensial dan kritis. Siswa harus menganalisis dan mengevaluasi cerita untuk dapat membuat jawaban yang tepat terkait jenis, watak, dan bukti perwatakan tokoh dalam cerita. Faktor lain yang menentukan hasil siswa belum maksimal adalah bahasa cerita wayang menggunakan bahasa Jawa ‘dimana’ bahasa tersebut menuntut daya konsentrasi siswa untuk lebih dalam membaca dan memahami cerita.Siswa yang berasal dari daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang sama lebih baik dalam memahami cerita wayang berbahasa Jawa. Hal ini karena siswa menguasai bahasa yang ada dalam cerita dan dapat berkonsentrasi dalam memahami cerita. Faktor lain yang mendukung siswa juga pernah mengetahui cerita wayang berbahasa Jawa melalui pendidikan sebelumnya yakni jenjang SD dan SMP.  Selain itu, mereka juga mengetahui cerita wayang melalui media elektronik, cerita wayang tentang Mahabarata dan Ramayana yang mereka saksikan melalui televisi.Siswa yang berasal dari luar daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang berbeda masih belum mampu memahami cerita wayang berbahasa Jawa dengan baik. Hal ini karena latar bahasa dan budaya yang mereka pelajari sebelumnya berbeda. Siswa juga belum pernah mengetahui tentang cerita wayang berbahasa Jawa pada jenjang pendidikan sebelumnya yakni jenjang SD dan SMP. Meskipun siswa sudah pernah mengetahui cerita wayang melalui media televisi yaitu Mahabarata dan Ramayana, tetapi cerita itu tidak menggunakan bahasa Jawa melainkan bahasa Indonesia.Kemampuan Memahami Latar Cerita Wayang Berbahasa Jawa. Kemampuan memahami latar cerita wayang berbahasa Jawa dibagi menjadi dua indikator, yaitu kemampuan menyebutkan latar dan menentukan latar dalam cerita. Latar adalah gambaran tentang waktu, tempat, dan suasana yang dialami tokoh (Siswanto, 2013:135). Latar secara terperinci adalah penggambaran tentang lokasi geografis, termasuk topografi, pemandangan, sampai kepada perincian perlengkapan sebuah ruangan, waktu berlakunya suatu peristiwa, masa sejarahnya, musim terjadinya, lingkungan agama, moral, intelektual, sosial, dan emosional para tokoh.Latar cerita wayang berbahasa Jawa tersebut hanya belum keseluruhan aspek latar atas tempat, waktu, dan suasana. Latar cerita wayang berbahasa Jawa tersebut hanya memunculkan aspek tempat saja. Hal ini karena bahasa dan ungkapan yang digunakan dalam cerita wayang berbahasa Jawa untuk menggambarkan waktu dan suasana kategori bahasa dengan tataran kesulitan yang tinggi. Siswa tidak mampu bila harus menganalisis bahasa dan ungkapan dalam tataran bahasa Jawa yang tinggi tersebut.Kemampuan siswa dalam memahami latar yang terdiri atas aspek menyebutkan latar cerita dan menentukan latar cerita wayang berbahasa Jawa sebagian besar siswa sudah memahami. Pemahaman siswa dalam memahami latar cerita wayang berbahasa Jawa tersebut ditentukan oleh beberapa faktor berikut ini. Faktor jenis soal, asal daerah, dan pengetahuan cerita wayang melalui pendidikan sekolah dan media masa.Pada indikator menyebutkan dan menentukan latar cerita wayang berbahasa Jawa dengan bentuk soal menjodohkan dan menganalisi sebagian besar siswa memperoleh hasil yang baik. Hal ini karena menyebutkan latar merupakan tingkat pemahaman literal. Tingkat pemahaman literal tersebut hanya menuntut siswa untuk mengingat dan menghafal informasi yang ada dalam bacaan terkait tokoh cerita. Faktor lain yang mendukung tingkat keberhasilan siswa dalam menyebutkan dan memahami latar cerita wayang tersebut karena hanya aspek tempat yang dimunculkan. Penggambaran tempat merupakan aspek termudah dalam latar cerita.Siswa yang berasal dari daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang sama lebih baik dalam memahami cerita wayang berbahasa Jawa. Hal ini karena siswa menguasai bahasa yang ada dalam cerita dan dapat berkonsentrasi dalam memahami cerita. Siswa juga pernah mengetahui cerita wayang berbahasa Jawa melalui pendidikan sebelumnya, yaitu jenjang SD dan SMP.  Selain itu mereka juga mengetahui cerita wayang melalui media elektronik, cerita wayang tentang Mahabarata dan Ramayana yang mereka saksikan melalui televisi.Siswa yang berasal dari luar daerah Jawa dengan bahasa dan budaya yang berbeda masih belum mampu memahami cerita wayang berbahasa Jawa dengan baik. Hal ini karena latar bahasa dan budaya yang dipelajari oleh siswa sebelumnya berbeda. Siswa juga belum pernah mengetahui tentang cerita wayang berbahasa Jawa pada jenjang pendidikan sebelumnya yakni jenjang SD dan SMP. Meskipun siswa sudah pernah mengetahui cerita wayang melalui media televisi yaitu Mahabarata dan ramayana tetapi cerita itu tidak menggunakan bahasa Jawa melainkan bahasa Indonesia.Kemampuan Memahami Alur Cerita Wayang Berbahasa Jawa. Kemampuan memahami alur cerita wayang berbahasa Jawa dibagi menjadi dua indikator, yaitu kemampuan menyebutkan alur dan merangkai alur cerita. Alur adalah rangkaian peristiw

    Ragam Bentuk Kata dalam Kalimat Bahasa Indonesia Siswa Sekolah Arunsat Vitaya, Pattani, Thailand Selatan

    No full text
    Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menguasai bahasa adalah dengan melihat seberapa banyak variasi kosakata yang digunakan dalam berbahasa, baik itu bahasa lisan maupun bahasa tulis. Bahasa tulis merupakan salah satu media yang bagus untuk mengetahui hal itu karena dalam bahasa tulis seseorang akan bisa berbahasa secara terkendali dan terstruktur dengan lebih baik daripada bahasa lisan. Berkaitan dengan itu, peneliti menetapkan bahasa tulis berupa kalimat untuk mengetahui keragaman kosakata yang digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia siswa Sekolah Arunsat Vitaya, Pattani, Thailand Selatan.Dalam penelitian ini, terdapat dua fokus penelitian yaitu (1) bentuk dasar dan (2) bentuk turunan yang digunakan dalam kalimat siswa Sekolah Arunsat Vitaya. Pada setiap fokus, bentuk kata diteliti dari segi kata isi dan kata fungsi. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam mengetahui ragam kata yang digunakan.Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hal ini didasarkan pada proses pengolahan data yang bersifat deskripsi dari peneliti sesuai dengan fokus penelitian. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu studi dokumentasi. Data penelitian berupa data verba dan sumber data dari kalimat dalam hasil evaluasi ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Data penelitian dianalisis dengan tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan ragam bentuk dasar dan turunan yang ditinjau dari segi isi dan fungsinya. Ragam bentuk dasar yang digunakan siswa Sekolah Arunsat Vitaya ditinjau dari segi isinya mencakup bentuk dasar verba, nomina, adjektiva, dan adverbia. Bentuk dasar verba adalah yang paling banyak di antara empat bentuk itu. Bentuk dasar nomina yaitu ada sembilan, mencakup nomina dasar yang memiliki komponen makna orang, nama institusi, buah-buahan, peralatan, makanan dan minuman, nama geografi, bacaan, waktu, dan letak. Adjektiva dasar meliputi adjektiva yang berkaitan dengan waktu, ketahanan, jumlah, bentuk fisik, dan kesungguhan. Adverbia dasar yaitu ada tiga, di antaranya adalah adverbia pendamping verba, nomina, dan adjektiva. Sementara itu, dilihat dari segi fungsinya ada konjungsi dan preposisi.Ragam bentuk turunan yang ditinjau dari segi isi ada empat yaitu katergori verba, nomina, adverbia, dan reduplikasi.   Bentuk verba turunan ada yang berasal dari gabungan verba + afiks, nomina + afiks, dan adjektiva + afiks. Bentuk nomina turunan ada yang berasal dari nomina + afiks dan verba + afiks. Bentuk adverbia turunan hanya ada satu yaitu berupa kata ulang. Bentuk reduplikasi ada yang berasal dari reduplikasi berimbuhan yang didalamnya ada reduplikasi berimbuhan dari bentuk dasar verba dan nomina dan reduplikasi utuh yang di dalamnya ada reduplikasi utuh dari bentuk dasar verba dan nomina.Berdasarkan hasil temuan-temuan yang diperoleh maka disarankan kepada guru untuk memberikan variasi bentuk selain bentuk verba karena hasil penelitian menunjukkan penggunaan verba lebih bervariasi daripada bentuk nomina, adjektiva, maupun adverbia. Selain itu, dibutuhkan bahan ajar khusus untuk pelajar Thailand Selatan yang berbahasa ibu bahasa Melayu dialek Thailand Selatan. Sehingga dari hasil penelitian ini, pengembang bahan ajar dapat memberikan materi lebih pada ragam variasi kosakata berdasarkan kelas kata yang beragam mengingat minimnya kosakata yang dikuasai. Untuk peneliti lanjutan bisa meneliti tentan ragam kesilapan dalam pemerolehan bahasa kedua di Sekolah Arunsat Vitaya. orang lain. Nilai budaya dalam mantra bercocok tanam padi tersebut berfungsi melandasi, memandu, mengarahkan, menjaga, serta memberi petunjuk kepada manusia dalam berucap, bertindak, dan berperilaku. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan saran kepada beberapa pihak yang dipandang relevan. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan fokus yang lebih mendalam, yakni pada aspek implementasi mantra dengan mengkaji mantra dari konteks yang lebih praktis.  Kepada lembaga penelitian disarankan untuk mendokumentasikan mantra dengan merekam kemudian mentranskripsi mantra supaya sastra lisan di Indonesia tidak punah. Kepada masyarakat Indonesia disarankan untuk tetap menjaga dan melestarikan sastra lisan, khususnya mantra, dengan terus menggunakan mantra pada kegiatan tertentu dan mewariskan mantra kepada generasi selanjutnya sehingga mantra tersebut akan tetap hidup dan berkembang

    Kemampuan Menulis Teks Eksposisi Siswa Kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan

    No full text
    ABSTRAK   Choiriyah, Siti. 2017. Kemampuan Menulis Teks Eksposisi Siswa Kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan . Skripsi, Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Martutik, M.Pd. Kata Kunci menulis, teks eksposisi Menulis adalah kemampuan menuangkan gagasan dalam bentuk bahasa tulis untuk disampaikan kepada pembaca. Salah satu kompetensi dasar menulis dalam standar isi bahasa Indonesia kelas X SMA/MA pada Kuriku lum 2013 adalah menulis teks eksposisi. Tujuan penelitian ini untuk mengukur kemampuan menulis teks eksposisi siswa kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan. Kemampuan menulis ini dilihat dari aspek isi yang mencakup kelengkapan struktur isi teks eksposisi yang mel iputi judul, tesis, argumen, dan penutup, serta aspek bahasa yang meliputi pilihan kata, keefektifan kalimat, dan ejaan. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dan jenis penelitian kuantitatif. Data penelitian ini berupa skor kemamp uan menulis teks eksposisi dengan instrumen penelitian berupa petunjuk perintah tes menulis, dan pedoman penilaian. Analisis data meliputi (1) tahap penyekoran, (2) tahap tabulasi, (3) tahap interpretasi, dan (4) tahap penyajian hasil penelitian. Berdasar kan hasil analisis data diketahui bahwa kemampuan siswa kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan dalam menulis teks eksposisi, dari aspek isi , yang meliputi penulisan judul, tesis, argumen dan penutup, kualifikasi sangat baik sebesar 15,58%, kualifikasi baik sebesa r 44,16%, kualifikasi cukup baik sebesar 15,58%, dan kualifikasi kurang baik sebesar 24,68%. Kemampuan menulis struktur teks eksposisi yang paling tinggi yaitu aspek penutup dengan persentase mampu sebesar 74,03%, sedangkan yang paling rendah yaitu aspek a rgumentasi dengan persentase mampu sebesar 51,95%. Nilai rata rata kemampuan siswa dalam menulis teks eksposisi pada aspek struktur yaitu 83,7. Dengan demikian siswa kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan dapat dikatakan baik dalam menulis struktur teks eksposisi Dari aspek bahasa yang meliputi segi pemilihan kata, penggunaan kalimat efektif dan ejaan, kualifikasi sangat baik sebesar 2,6%, kualifikasi baik sebesar 9,1%, kualifikasi cukup baik sebesar 29,87%, dan kualifikasi kurang baik sebesar 58,44%. Kemampuan m enulis teks eksposisi pada aspek bahasa yang paling tinggi yaitu aspek pilihan kata dengan persentase mampu sebesar 44,15%, sedangkan yang paling rendah yaitu aspek penggunaan ejaan dengan persentase mampu sebesar 12,99%. Nilai rata rata kemampuan siswa da lam menulis teks eksposisi pada aspek bahasa yaitu 57,4. Dengan demikian siswa kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan dapat dikatakan kurang dalam menulis teks eksposisi pada aspek bahasa. emampuan siswa kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan secara keseluruhan dalam menulis teks eksposisi, yaitu kualifikasi sangat baik sebesar 5,19%, kualifikasi baik sebesar 31,17 %, kualifikasi cukup baik sebesar 35,06%, dan kualifikasi kurang baik sebesar 28,57%. Dari k eseluruhan aspek penilaian, kemampuan siswa kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan dalam menulis teks ii ek s posisi menunjukkan nilai rata - rata 7 2,5. Dengan demikian, siswa kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan dapat dikatakan cukup dalam menulis teks eksposisi. Berdasarkan analisis data, kemampuan menulis teks eksposisi s iswa yang berasal dari sekolah akreditasi B lebih baik dari pada siswa yang berasal dari sekolah berakreditasi A. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa tinggi rendahnya kemampuan siswa dalam menulis teks eksposisi tidak dipengaruhi oleh tingkat akredita si sekolah. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diberikan saran kepada dua pihak yaitu guru bahasa Indonesia dan peneliti lain. Pertama , kepada guru bahasa Indonesia SMA/MA di Kota Pasuruan, guru disarankan melatih siswa mengelaborasi pembela jaran menulis teks eksposisi, lebih menekankan siswa untuk membaca sehingga wawasan siswa bertambah, menekankan kembali penggunaan ejaan dalam menulis dengan menggunakan pedoman editing ( self editing ). Kedua , kepada peneliti lain, disarankan untuk menjadik an penelitian ini sebagai pijakan untuk mengembangkan bahan ajar, media pembelajaran, atau melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan hasil kegiatan menulis siswa kelas X SMA/MA di Kota Pasuruan

    Implemnetasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMP Negeri 5 Malang

    No full text
    ABSTRAKGerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah gerakan yang bertujuan untuk membudayakan kegiatan membaca bagi siswa. Dibentuknya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) berawal dari berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa di Indonesia rendah. Hal inilah yang mendorong pemerintah untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa terutama membaca melalui sebuah kebijakan. Kebijakan tersebut tertuang dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti. Melalui kebijakan tersebut dibentuklah Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang digunakan sebagai wadah untuk menampung segala kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa terutama membaca.Penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan bentuk implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS), kendala implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS), dan solusi implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang meliputi tiga tahap, yaitu tahap pembiasaan, tahap pengembangan, dan tahap pembelajaran di SMP Negeri 5 Malang. Terpilihnya SMP Negeri 5 Malang karena tidak semua sekolah menengah pertama menjalankan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) secara komprehensif, mengingat kebijakan ini merupakan kebijakan yang masih baru dirancang oleh pemerintah.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini ada dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer berupa informasi implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) terkait bentuk, kendala, dan solusi yang diberikan oleh lima responden, yaitu guru, kepala sekolah, koordinator perpustakaan, koordinator TLS, dan siswa. Data sekunder berupa  informasi implementasi kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) oleh guru Bahasa Indonesia terkait pelaksanaan literasi di dalam kelas.Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara kepada guru, kepala sekolah, koordinator perpustakaan, koordinator TLS, dan siswa serta pemberian angket kepada semua guru Bahasa Indonesia. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri dengan didukung instrumen pedoman wawancara danangket. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan perpanjangan pengamatan, triangulasi sumber,dan waktu. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil berikut. Pertama, bentuk kegiatan implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS)meliputi tiga tahap, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan ditemukan lima kegiatan, yaitu 1) 15 menit membaca sebelum jam pembelajaran pertama dimulai, 2) 15 menit membaca didampingi oleh guru mata pelajaran jam pertama yang juga berperan sebagai model baca, 3) kebebasan memilih bahan bacaan, 4) penggunaan  jurnal baca harian oleh siswa, dan 5) pemanfaatan lingkungan fisik berupa sudut baca. Pada tahap pengembangan ditemukanempat kegiatan, yaitu 1) mengomentari bahan bacaan secara tulis dan lisan, 2) diskusi bersama terkait kosa kata yang belum dipahami, 3) pemanfaatan lingkungan sosial dan afektif melalui kerjasama dengan Radar Malang dan walimurid, pemberian nilai non akademik dan tas terhadap pencapaian kegiatan membaca, pemanfaatan kegiatan ekstrakurikuler dan ko kurikuler, dan 4) pembentukan TLS. Pada tahap pembelajaran ditemukan dua kegiatan, yaitu 1) penggunaan metode belajar dengan dihubungkan kegiatan membaca, dan 2) penggunaan penilaian akademik dalam pembelajaran di kelas.Kedua, kendala implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS)meliputi tiga tahap, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan ditemukan lima kendala, yaitu 1) malas melakukan kegiatan membaca, 2) lupa membawa bahan bacaan dari rumah, 3) peran model baca tidak selalu dilakukan oleh guru, 4) pemanfaatkan lingkungan fisik kurang maksimal(tidak ada poster membaca dan hasil karya siswa yang dipajang), dan 5) terbatasnya anggaran dana untuk penyediaan bahan bacaan non pelajaran. Pada tahap pengembangan ditemukan enam kendala, yaitu 1) malas melakukan kegiatan membaca, 2) penggunaan graphic organizersbelum dimanfaatkan secara maksimal, 3) pembagian jam khusus membaca dan mengomentari belum ada, 4) perbedaan perlakuan guru pada jurnal baca harian siswa, 5) pengembangan lingkungan sosial dan afektif dengan dihubungkan kegiatan membaca kurang, dan 6) tugas TLS belum berjalan maksimal. Pada tahap pembelajaran ditemukan tiga kendala, yaitu 1) malas melakukan kegiatan membaca, 2) kegiatan membaca belum terintegrasi pada semua mata pelajaran dan 3) pemanfaatan lingkungan akademik belum maksimal.Ketiga, solusi  implementasi Gerakan Literasi Sekolah (GLS) meliputitiga tahap, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Pada tahap pembiasaan terdapat empat solusi, yaitu 1) diberikannya tugas baca kepada siswa oleh guru, 2) bertukar bahan bacaan, 3) diberikan hak pinjam oleh perpustakaan pada saat jam khusus membaca, dan 4) penggunaan anggaran dana dengan sebaik mungkin oleh koordinator perpustakaan. Pada tahap pengembangan terdapat dua solusi, yaitu 1) pemanfaatan jam ko kurikuler sebagai kegiatan memcatat kembali hasil baca dan 2) pemaksimalan TLS melalui perencanaan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada tahap pembelajaran ditemukan dua solusi, yaitu 1) penggunaan media pembelajaran dan 2) beragam bahan bacaan. Saran penelitian ini ditujukan kepada guru, kepala sekolah, koordinator perpustakaan, koordinator TLS, dan peneliti selanjutnya. Bagi guru, kegiatan yang sudah ada dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Bagi kepala sekolah, perlu memaksimalkan wewenangnya dalam menentukan dan menetapkan kebijakan. Bagi koordinator perpustakaan,perlu inovasi dalam menyediakan bahan bacaan. Bagi koordinator TLS,rancana kegiatan yang telah disusun sebaiknya segera diterapkan. Bagi peneliti selanjutnya, mampu menyajikan data dalam lokasi penelitian yang lebih luasdenganmenggunakan panduan GLS yang terbaru

    Kesalahan Penulisan Ejaan Kata Bahasa Indonesia Mahasiswa Thailand Jurusan Asean Studies Universitas Walailak Tahun 2016/2017

    No full text
    ABSTRAK Kawuryanti, Septanti Elva Adi. 2017. Kesalahan Penulisan Ejaan dalam Kata Bahasa Indonesia Mahasiswa Thailand Jurusan ASEAN Studies Universitas Walailak Tahun 2016/2017. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Gatut Susanto, M.M., M.Pd Kata Kunci: kesalahan, penulisan kata, ThailandDalam proses belajar bahasa Indonesia, mahasiswa asing sering melakukan kesalahan penulisan ejaan kata bahasa Indonesia. Penulisan ejaan yang benar akan memudahkan penyampaian pesan, sebaliknya penulisan ejaan yang salah dapat mengubah makna. Bentuk-bentuk kesalahan penulisan ejaan itu perlu dideskripsikan supaya bentuk-bentuk kesalahan tersebut dapat dikenali dan dicari solusi pemecahannya. Oleh karena itu, penelitian ini akan difokuskan pada (1) kesalahan ejaan pada kata benda, (2) kesalahan ejaan pada kata kerja, dan (3) kesalahan ejaan pada kata sifat.Penelitian ini adalah penelitian kualitatif karena datanya berupa data kualitatif, yaitu (1) kesalahan penulisan ejaan kata benda, (2) kesalahan penulisan ejaan kata kerja, dan (3) kesalahan penulisan ejaan kata sifat. Sumber data yang diperoleh peneliti berasal dari tugas, hasil mengarang, dan hasil ujian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa jurusan Asean Studies melakukan kesalahan penulisan ejaan sebagai berikut. Pertama, kesalahan penulisan kata benda berjumlah 17 huruf yang berada di awal, di tengah, dan di akhir. Adapun kesalahan penulisan terdapat pada huruf vokal dan konsonan. Kesalahan penulisan kata benda di awal terdapat pada huruf konsonan /ph/, /c/, dan /b/. Contoh kesalahan penulisan kata benda di awal yaitu lalu saya dan beluarga pergi sholat di masjid. Kesalahan penulisan kata benda di tengah terdapat pada huruf vokal /a/, /ǝ/, /e/, /i/ dan /o/ dan huruf konsonan /s/, /n/, /k/, /g/. Contoh kesalahan penulisan kata benda di tengah yaitu di negeri lain ada 4 musiam. Kesalahan penulisan kata benda di akhir terdapat pada huruf vokal /a/ dan huruf konsonan yaitu /m/, /f/, /t/, dan /k/. Contoh kesalahan penulisan kata benda di akhir yaitu ketika saya dingin saya sering minum tea panas. Kedua, kesalahan penulisan kata kerja berjumlah 20 huruf yang berada di awal, di tengah, dan di akhir. Kesalahan penulisan kata kerja di awal terdapat pada huruf konsonan /k/, /l/, /m/ dan /j/. Contoh kesalahan penulisan kata kerja di awal yaitu nasi koreng itu saya makan dan ayam rebus itu karra makan. Kesalahan penulisan kata kerja di tengah terdapat pada huruf vokal /a/, /ǝ/, dan /u/ dan huruf konsonan /r/, /n/, /y/, /m/, /k/, /g/, /p/, /t/, dan /r/. Contoh kesalahan penulisan kata kerja di tengah yaitu saya berrangkat jam 1 malam. Kesalahan penulisan kata kerja di akhir terdapat pada huruf vokal /u/ dan huruf konsonan yaitu /n/, /r/, dan /t/. Contoh kesalahan penulisan kata kerja di akhir yaitu di taman kota orang suku foto. Ketiga, kesalahan penulisan kata sifat berjumlah 7 huruf yang berada di awal, di tengah, dan di akhir. Kesalahan penulisan kata sifat di awal terdapat pada huruf konsonan /r/, /m/, dan /k/. Contoh kesalahan penulisan kata sifat di awal yaitu musim panas membuat saya kila. Kesalahan penulisan kata sifat di tengah terdapat pada huruf vokal /e/ dan /o/. Contoh kesalahan penulisan kata sifat di tengah yaitu buat titik ini merupakan yang popoler. Kesalahan penulisan kata sifat di akhir terdapat pada huruf konsonan yaitu /s/ dan /g/. Contoh kesalahan penulisan kata sifat di akhir yaitu jam 13.00 saya rasa dinging. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh 3 saran. Pertama, sebaiknya pengajar lebih mengajarkan tentang kata benda yang berbentuk asal kata, terutama pada huruf vokal /a/, /ǝ/, /e/, /u/, /i/ dan /o/ dan pada huruf konsonan /ph/, /c/, /b/, /s/, /n/, /k/, /g/, /m/, /f/, dan /t/ yang berstruktur VK, KV, KKV, KVK, KVV, KKVK, dan KVVK. Kedua, sebaiknya pengajar lebih mengajarkan tentang kata kerja yang berbentuk asal kata, terutama pada huruf vokal /a/, /u/, /ǝ/, dan /o/ dan pada huruf konsonan /k/, /l/, /m/, /j/, /r/, /n/, /y/, /p/, /t/, dan /r/ yang berstruktur KV, VK, dan KVK. Ketiga, sebaiknya pengajar hendaknya lebih mengajarkan tentang kata sifat yang berbentuk asal kata, terutama pada huruf vokal /e/, /o/ dan pada huruf konsonan /r/, /m/, /k/, /s/, dan /g/ yang berstruktur KV, KK, dan KVK

    KARAKTERISTIK TEMA DAN SUDUT PANDANG FEATURE KARYA MAHASISWA PESERTA PAKET JURNALISTIK JURUSAN SASTRA INDONESIA ANGKATAN 2012 UNIVERSITAS NEGERI MALANG

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik tema dan sudut pandang feature karya mahasiswa peserta paket jurnalistik jurusan Sastra Indonesia angkatan 2012 Universitas Negeri Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa tema yang paling banyak digunakan dalam feature mahasiswa adalah tema tentang hubungan manusia dengan diri sendiri, sedangkan sudut pandang yang digunakan oleh mahasiswa didominasi oleh sudut pandang persona ketiga “dia”. Hasil penelitian karakteristik tema dan sudut pandang feature dapat dijadikan perhatian bagi pengajar untuk menganjurkan mahasiswa agar memilih tema dan sudut pandang serupa agar mempermudah mahasiswa dalam menulis feature sebab status mereka sebagai penulis pemula feature

    Citraan dalam Teks Laporan Perjalanan Surat Kabar Jawa Pos.

    No full text
    ABSTRAK Teks laporan perjalanan merupakan salah satu teks yang bersifat deskriptif naratif. Teks dengan gaya penulisan deskriptif dan naratif memiliki perbedaan dan persamaan yang menjadi ciri khas masing-masing. Teks dengan gaya penulisan deskriptif memiliki ciri penggambaran objek yang bertujuan agar pembaca dapat membayangkan objek yang dideskripsikan seolah nyata, sedangkan teks dengan gaya penulisan naratif memiliki ciri khas urutan waktu, pelaku, kesan, dan peristiwa. Kedua jenis teks tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menggerakkan aspek emosi sehingga dapat menimbulkan imaji atau citra. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengaji citraan yang terdapat di dalam teks yang memiliki gaya penulisan deskriptif dan naratif. Aspek citraan penting diteliti karena merupakan unsur penyusun teks deskriptif dan naratif. Secara khusus, hal yang diteliti meliputi (1) wujud citraan dalam teks laporan perjalanan dan (2) fungsi citraan dalam teks laporan perjalanan.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Data penelitian berupa kalimat atau paragraf yang menunjukkan penggunaan wujud citraan. Sumber data penelitian ini ialah wacana deskriptif naratif yang berupa teks laporan perjalanan. Teks tersebut termuat dalam rubrik Traveling surat kabar Jawa Pos. Dalam penelitian ini, peneliti bertugas sebagai pengumpul dan pengolah data. Penelitian ini memerlukan beberapa tahap dalam proses pengumpulan data. Tahap-tahap tersebut antara lain yaitu memilih, menyimak, mendokumentasi, dan memberi  kode. Proses analisis data dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan.Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa dalam teks laporan perjalanan surat kabar Jawa Pos terdapat (1) wujud-wujud citraan dan (2) fungsi citraan. Wujud citraan yang ditemukan ialah citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaan, citraan pencecapan, dan citraan gerak. Wujud-wujud citraan tersebut menggunakan teknik-teknik penggambaran objek untuk medeskripsikan objek. Teknik penggambaran objek tersebut antara lain (a) citraan penglihatan menggunakan teknik percontohan, teknik rincian, teknik narasi, dan teknik ungkapan, (b) citraan pendengaran menggunakan teknik penggambaran objek berupa teknik ungkapan, (c) citraan perabaan menggunakan teknik penggambaran objek berupa teknik ungkapan, (d) citraan pencecapan menggunakan teknik penggambran objek berupa teknik rincian dan teknik ungkapan, dan (e) citraan gerak menggunakan teknik penggambaran objek berupa teknik proses, teknik narasi, dan teknik ungkapan. Temuan selanjutnya ialah tentang fungsi citraan dalam teks laporan perjalanan. Fungsi citraan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi fungsi yang lebih spesifik. Klasifikasi fungsi tersebut antara lain (a) citraan penglihatan dapat berfungsi sebagai deskriptor pendukung suasana, deskriptor bagian objek, deskriptor letak objek, dan deskriptor cara, (b) citraan pendengaran dapat berfungsi sebagai deskriptor pendukung suasana, (c) citraan perabaan dapat berfungsi sebagai deskriptor pendukung suasana, deskriptor bagian objek, dan deskriptor cara, (d) citraan pencecapan dapat berfungsi sebagai deskriptor rasa, deskriptor cara, dan deskriptor pendukung suasana. (e) citraan gerak dapat berfungsi sebagai deskriptor cara dan deskriptor pendukung suasana.Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa wujud citraan dalam teks laporan perjalanan berupa citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, pencecapan, dan citraan gerak. Wujud-wujud citraan tersebut menggunakan teknik penggambaran objek berupa teknik percontohan, teknik narasi, teknik ungkapan, teknik rincian, dan teknik proses. Selain memiliki fungsi untuk menggambarkan angan, fungsi citraan dapat diklasifikasikan menjadi fungsi yang spesifik, yakni sebagai deskriptor pendukung suasana, deskriptor bagian objek, deskriptor letak objek, deskriptor rasa, dan deskriptor cara. Dari paparan tersebut, dapat diajukan saran-saran yang akan disampaikan berikut. Bagi penulis teks laporan perjalanan, dalam proses penulisan wacana deskriptif naratif, penulis hendaknya lebih kreatif dan inspiratif sehingga pembaca teks laporan perjalanan dalam rubrik Traveling tertarik untuk membaca rubrik tersebut setiap kali terbit. Bagi pembaca teks laporan perjalanan yang termuat dalam rubrik Traveling hendaknya memiliki pemahaman yang baik terhadap wacana deskriptif naratif berupa teks laporan perjalanan. Pemahaman yang baik dalam proses membaca teks laporan perjalanan memiliki manfaat agar dapat memahami teks secara menyeluruh. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat memiliki referensi yang lebih variatif sehingga penelitian yang dapat dilakukan selanjutnya menjadi penelitian yang dapat mengisi kekurangan dalam penelitian ini. Peneliti selanjutnya yang memiliki ketertarikan dengan wujud maupun fungsi citraan dalam wacana deskriptif naratif dapat mengembangkan penelitiannya dan memperkaya peneliatian selanjutnya dengan temuan-temuan baru tentang wujud dan fungsi citraan ataupun tentang wacana deskriptif naratif

    penggunaan bahasa pada teks deskripsi karya siswa kelas VII SMP Negeri Malang

    No full text
    ABSTRAK Albi, Ayyuhal. 2017. Penggunaan Bahasa dalam Teks Deskripsi Karya Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. Suparno. Kata Kunci: penggunaan bahasa, teks deskripsi, citraan Bahasa merupakan sarana untuk menguraikan hasil pikiran yang dituangkan dalam bentuk kalimat. Bahasa didapat melalui aktivitas berpikir sehingga berbahasa bukanlah hal mudah. Dalam menyusun teks deskripsi guna mempengaruhi sensitivitas pembaca, dibutuhkan bahasa yang sesuai dengan penggambaran keadaan objek sebenarnya. Penggunaan bahasa yang baik dan tepat menjadi penilaian pertama yang dilakukan untuk menentukan kelayakan suatu teks deskripsi. Teks deskripsi merupakan jenis karangan yang mengharuskan penggambaran objek dilakukan secara rinci serta lebih menonjolkan emosi daripada pikiran. Pada teks deskripsi, siswa dituntut untuk dapat bercerita dan mendeskripsikan secara mandiri terhadap objek yang diamati dengan tujuan menciptakan impresi pada pembaca. Penciptaan impresi tersebut tidak mudah untuk dilakukan karena memerlukan penggunaan kata yang tepat sehingga teks deskripsi dianggap penting. Berbicara teks deskripsi berarti berbicara tentang citraan karena isi teks deskripsi menggambarkan tentang objek hasil tangkapan panca indra. Citra dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu citra visual, citra auditif, dan citra suasana. Ketiga citra tersebut terdapat dalam teks deskripsi. Citra visual merupakan penggambaran terhadap objek berdasarkan hasil tangkapan indra penglihatan. Citra auditif merupakan penggambaran suara dari objek hasil tangkapan indra pendengaran yang bertujuan agar pembaca ikut mendengar hal yang digambarkan. Citra suasana merupakan keadaan yang menggambarkan keadaan disekitar objek berdasarkan hasil pengamatan panca indra.  Fokus penelitian ini adalah penggunaan bahasa dalam memaparkan citra visual, citra auditif, dan citra suasana dalam teks deskripsi karya siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif yang disusun dengan jenis penelitian analisis isi. Data penelitian ini berupa penggalan-penggalan teks deskripsi yang memperlihatkan penggunaan bahasa dalam memaparkan citra visual, citra auditif, dan citra suasana yang didapatkan dari teks deskripsi utuh siswa kelas VII B dan C. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik telaah dokumen, dengan instrumen kunci yakni peneliti sendiri dan instrumen penunjang, antara lain panduan identifikasi data dokumenter, panduan kodefikasi data, panduan identifikasi data, dan panduan analisis data. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Teknik yang digunakan untuk memeriksa keabsahan temuan dilakukan dengan teknik ketekunan atau keajengan pengamatan, diskusi, saran dan bantuan dosen pembimbing, dan triangulasi dengan penyidik atau peneliti lain. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh tiga simpulan. Pertama, penggunaan bahasa dalam memaparkan citra visual pada teks deskripsi, banyak dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, penggambaran objek difigurasikan, serta pengungkapan perasaan terhadap objek hasil tangkapan indra penglihatan, cenderung kearah positif. Kedua, penggunaan bahasa dalam memaparkan citra auditif pada teks deskripsi siswa digambarkan dengan pemberian contoh terhadap bunyi-bunyi tertentu serta bunyi-bunyi tersebut difigurasikan. Ketiga, penggunaan bahasa dalam memaparkan citra suasana pada teks deskripsi siswa digambarkan dengan kalimat yang hampir sama terhadap dua objek yang berbeda dengan hasil penggambaran, yakni satu penggambaran suasana pada satu teks deskripsi dan satu penggambaran suasana yang disertai unsur emosi pada teks deskripsi lainnya. Kesimpulan penelitian ini secara keseluruhan adalah penggunaan bahasa dalam memaparkan citra visual, citra auditif, dan citra suasana sangat beragam. Siswa menggambarkan objek yang berbeda dengan gaya penceritaan yang berbeda. Akan tetapi, bahasa yang digunakan masih tergolong sederhana. Berdasarkan simpulan terdapat tiga saran. Pertama, guru bahasa Indonesia disarankan untuk memperhatikan penggunaan bahasa siswa dalam mendeskripsikan objek, hal, atau keadaan. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan rujukan untuk menentukan metode serta media pembelajaran yang tepat. Kedua, siswa disarankan untuk memperdalam pengetahuan tentang penggunaan bahasa, dengan cara memperbanyak menulis menggunakan bahasa Indonesia yang benar dan meningkatkan kreativitas dan ketelitian dalam memilih dan mengolah kata pada teks deskripsi. Ketiga, peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian sejenis yang lebih mendalam tentang penggunaan bahasa dalam teks deskripsi, karena bahasa di dalam teks deskripsi masih banyak yang dapat diteliti dan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan

    Karakteristik Teks Laporan Hasil Observasi Karya Siswa Kelas X IPA MAN Batu Tahun Pelajaran 2016/2017

    No full text
    ABSTRAK   Suaidah, Silviatu. 2017. Karakteristik Teks Laporan Hasil Observasi Karya Siswa Kelas X IPA MAN Batu Tahun Pelajaran 2016/2017. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Nurchasanah, M.Pd   Kata kunci: teks laporan hasil observasi, struktur, kebahasaan   Bahasa merupakan hal penting dalam proses pembelajaran. Saat ini, pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis teks. Salah satu jenis teks dalam kurikulum 2013 yaitu teks laporan hasil observasi. Teks ini merupakan subbab dalam materi kelas VII SMP/MTs dan kelas X SMA/MA di semester ganjil. Kemunculannya pada dua jenjang pendidikan  yang  berbeda ini membuktikan bahwa teks laporan hasil observasi penting untuk dikuasai.      Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dua fokus penelitian. Pertama, karakteristik struktur teks laporan hasil observasi yang meliputi pernyataan umum, deskripsi, dan penutup/kesimpulan. Kedua, ciri bahasa teks laporan hasil observasi yang meliputi kata konkret, istilah teknis, kalimat definisi, kalimat klasifikasi dan kalimat deskripsi.      Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Madrasah Aliyah Negeri Batu dipilih sebagai lokasi penelitian. Lokasi dipilih karena MAN Batu menjadi salah satu madrasah yang sudah menerapkan kurikulum 2013 dalam pembelajaran. Data penelitian ini berupa struktur dan bahasa teks laporan hasil observasi karya siswa kelas X IPA MAN Batu. Sumber data penelitian ini adalah teks laporan hasil observasi karya siswa kelas X IPA MAN Batu tahun ajaran 2016/2017. Instrumen yang digunakan terdiri atas instrumen kunci dan pelengkap. Peneliti menjadi instrument kunci penelitian ini. Instrumen pelengkap berupa tes, pedoman kodifikasi data dan pedoman analisis data. Data dianalisis dengan prosedur (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian. Dalam menentukan keabsahan temuan, peneliti melakukan diskusi dengan dosen pembimbing dan teman sejawat. Analisis karakteristik teks laporan hasil observasi karya siswa kelas X IPA menghasilkan dua kesimpulan. Pertama, struktur teks laporan hasil observasi meliputi pernyataan umum, deskripsi, dan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan variasi penulisan pernyataan umum berupa; (1) definisi, (2) pengantar/penjelasan umum, (3) penunjuk topik, dan (4) penunjuk topik+klasifikasi. Pada bagian deskripsi, terdapat dua variasi penulisan, yaitu (1) berdasarkan klasifikasi dan (2) berdasarkan fungsi. Pada bagian kesimpulan teks laporan hasil observasi yang bersifat optional terdapat dua variasi penulisan, yaitu (1) paparan manfaat, dan (2) pengulangan informasi penting. Kedua, dilihat dari ciri bahasa teks laporan hasil observasi terdapat lima kesimpulan meliputi (1) kata konkret merujuk objek yang diindra, (2) istilah teknis memuat kata dalam bidang tertentu, (3) kalimat definisi berciri menjelaskan pengertian dari suatu hal, (4) kalimat klasifikasi berciri mengelompokkan suatu hal berdasarkan kriteria tertentu, dan (5) kalimat deskripsi berciri memaparkan suatu objek berdasarkan fakta sehingga objek tersebut seolah-olah berada di depan mata Kesimpulan akhir penelitian ini menghasilkan dua saran. Kepada, guru mata pelajaran disarankan untuk memberikan penjelasan lebih dalam mengenai penggunaan kalimat definisi dan kalimat deskripsi yang baik dan benar.Kepada, peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian pada aspek lain yang terkait dengan teks laporan hasil observasi

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇