SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    Penggunaan Konjungsi Intrakalimat dalam Teks Eksposisi Karya Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kepanjen

    No full text
    ABSTRAK Proses pengajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak luput dari aspek keterampilan menulis. Menulis berarti menyampaikan pikiran dan perasaan melalui tulisan. Alatnya adalah bahasa yang terdiri atas kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana. Menulis sebuah karangan atau wacana dibutuhkan kecermatan dan ketelitian. Kecermatan dan ketelitian yang dimaksud meliputi berbagai hal, salah satunya penggunakan konjungsi yang jelas karena wacana tidak pernah lepas dari penggunaan konjungsi. Tanpa konjungsi, orang bisa kehilangan konteks kalimat yang menyebabkan terjadinya miss komunikasi. Untuk itu, penggunaan konjungsi yang tepat sangat membantu terciptanya sebuah wacana yang koheren, terutama dalam wacana tulis. Hal ini bisa berarti bahwa konjungsi merupakan sebuah bagian yang penting dalam sebuah wacana. Dalam penelitian ini dikaji mengenai wujud penggunaan konjungsi pada teks eksposisi karya siswa. Dalam teks eksposisi berisi suatu penjelasan atau pemaparan pendapat, gagasan, dan keyakinan penulis untuk meyakinkan pembaca mengenai sebuah topik. Jelas atau tidaknya gagasan penulis kepada pembaca, salah satunya dapat dilihat dari penggunaan konjungsinya.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan desain deskriptif. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Kepanjen. Data dalam penelitian ini berupa konjungsi koordinatif dan subordinatif intrakalimat (antarklausa). Sumber data didapatkan dari guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia yang berupa karangan eksposisi karya siswa kelas X di SMA Negeri 1 Kepanjen. Analisis data penelitian ini dimulai sejak data dikumpulkan, tekniknya sebagai berikut, (1) mengolah data, (2) mereduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan melalui tiga langkah, yaitu ketekunan peneliti, diskusi dengan teman sejawat, dan memanfaatkan bantuan dan saran dari dosen pembimbing. Penelitian ini melalui tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian. Berdasarkan hasil penelitian dapat dikemukakan dua kesimpulan. Pertama, berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada 18 teks eksposisi karya siswa, telah ditemukan wujud penggunaan konjungsi koordinatif intrakalimat (antarklausa) yang dikelompokkan berdasarkan sifatnya, konjungsi tersebut ada dalam 8 kategori yang berbeda, meliputi: a) konjungsi penjumlahan, b) konjungsi pemilihan, c) konjungsi pertentangan, d) konjungsi pembetulan, e) konjungsi penegasan, f) konjungsi pembatasan, g) konjungsi pengurutan, dan h) konjungsi penyamaan. Kedua, berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan pada 18 teks eksposisi karya siswa, telah ditemukan wujud penggunaan konjungsi subordinatif intrakalimat (antarklausa) yang dikelompokkan berdasarkan sifatnya, konjungsi tersebut ada dalam 6 kategori yang berbeda, meliputi: a) konjungsi penyebaban, b) konjungsi persyaratan, c) konjungsi tujuan, d) konjungsi penyungguhan, e) konjungsi kesewaktuan, dan f) konjungsi pengakibatan

    Analisis Teknik Penokohan Cerpen Karya Siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 5 Malang

    No full text
    ABSTRAK Salah satu jenis teks yang diajarkan untuk mengembangkan keterampilan menulis siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas XI SMA berdasarkan Kurikulum 2013 adalah menyusun teks cerpen. Pada jenjang pendidikan sebelumnya teks cerpen ini juga telah diajarkan pada kelas VIII SMP/MTS. Hal ini didasari atas pertimbangan bahwa teks cerpen perlu diajarkan secara berkesinambungan. Selain itu, teks ini merupakan salah satu jenis teks yang membutuhkan proses kreativitas yang tinggi, hal itu disebabkan dalam penulisan cerpen dibutuhkan ide, perasaan, maupun pikiran kreatif untuk menghasilkan cerpen yang menarik bagi pembaca. Berdasarkan hasil penelitian yang telah peneliti laksanakan di SMA Negeri 5 Malang, khususnya di kelas XI IPS2 ditemukan bahwa tidak semua siswa dapat menguasai dan memvariasikan teknik penokohan teks cerpen.Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan dua fokus penelitian. Pertama, teknik penokohan secara langsung/analitik yakni tuturan pengarang. Kedua, teknik penokohan secara tidak langsung/dramatik yang meliputi penampilan tokoh, cakapan, tingkah laku, pikiran dan perasaan, arus kesadaan, reaksi tokoh, reaksi tokoh lain, dan pelukisan latar dalam cerpen karya siswa kelas XI SMA Negeri 5 Malang.Penelitian ini merupakan penelitian kajian teks yang merupakan salah satu jenis dari penelitian kualitatif. Lokasi penelitian dilakukan di SMA Negeri 5 Malang. Sumber data dalam penelitian ini berupa teks cerpen karya siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 5 Malang. Data penelitian ini berupa penggalan cerpen karya siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 5 Malang yang menunjukkan teknik penokohan. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi cerpen karya siswa yang sudah ada sebagai tugas dari guru bahasa Indonesia. Instrumen yang digunakan terdiri atas instrumen kunci dan pelengkap. Peneliti menjadi instrumen kunci penelitian ini. Instrumen pelengkap berupa pedoman kodifikasi data dan pedoman analisis data. Data dianalisis dengan prosedur (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Tahapan penelitian yang dilakukan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan penyelesaian. Dalam menentukan keabsahan temuan, peneliti melakukan diskusi dengan dosen pembimbing dan teman sejawat. Hasil penelitian ini berupa deskripsi tentang teknik penokohan secara langsung dan tidak langsung. Berdasarkan analisis data diperoleh dua hasil sebagai berikut. Pertama, teknik penokohan secara langsung/analitik yakni tuturan pengarang. Tuturan pengarang merupakan tuturan langsung dari pengarang untuk mendiskripsikan watak dan sifat tokoh dalam cerpen. Selain itu terdapat tuturan pengarang yang menunjukan pelukisan fisik tokoh. Kedua, teknik penokohan secara tidak langsung. teknik penokohan secara tdak langsung merupakan teknik dimana penulis menggunakan tingkah laku dan peristiwa dalam cerita untuk menggambarkan tokoh. Teknik penokohan ridak langsung dalam cerpen siswa yang paling banyak digunakan adalah cakapan, cara kedua yang banyak digunakan adalah pikiran dan perasaan tokoh, dan cara ketiga yang juga banyak digunakan dalam cerpen siswa adalah tingkah laku. Saran penelitian ditujukan kepada siswa, guru, dan peneliti selanjutnya. Bagi siswa disarankan untuk memperbanyak refrensi terkait teknik penokohan cerpen, sehingga pengetahuan tentang teknik penokohan /cara melukiskan watak tokoh lebih bervariasi sehingga dapat menghasilkan karya cerpen yang lebih menarik.  Bagi guru mata pelajaran disarankan untuk memberikan penjelasan lebih dalam mengenai teknik penokohan secara langsung dan tidak langsung serta teknik-teknik lain yang bisa digunkan dalam menggambarkan watak tokoh sehingga siswa memiliki banyak wawasan terkait teknik penokohan, saat menulis cerpen agar hasilnya lebih baik dan menarik. Kepada peneliti selanjutnya, disarankan untuk melakukan penelitian pada aspek lain terkait dengan teks cerpen dan menjadikan penelitian ini sebagai masukan dalam melakukan penelitian lain terkait teknik penokohan pada cerpen

    Mitos Upacara Petik Laut Masyarakat Etnis Madura Di Desa Tembokrejo Muncar – Banyuwangi

    No full text
    ABSTRAK   Yunitasari, Helmi. 2017 Mitos Upacara Petik Laut Masyarakat Etnis Madura Di Desa Tembokrejo Muncar – Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Teguh Tri Wahyudi, S.S, M.A.   Kata Kunci : sastra lisan, tradisi Upacara Petik Laut   Tujuan Penelitian ini untuk melihat Mitosdalam upacara petik laut yang merupakan salah satu sastra lisan masyarakat desa Tembokrejo Muncar Banyuwangi. Cerita ini diwariskan secara turun-temurun sehingga sampai sekarang masih dikenal oleh masyarakat Muncar. Keberadaan Mitos Upacara Petik Laut memiliki kepercayaan masyarakat Etnis Madura di Muncar yang mempercayai adanya wujud Nyi Roro Kidhul sebagai penguasa Laut Selatan. Nyi Roro Kidhul dipercayai sebagai salah penghuni ratu selatan yang berjasa untuk mencari rezki saat melaut. Penelitian ini fokus mengkaji Wujud Mitos Upacara Petik Laut dan Fungsi Mitos Upacara Petik Laut menggunakan penelitian kualitatif. Data penelitian ini berupa Mitos Upacara Petik Laut yang berkembang di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumtasi. Untuk mengecek keabsahan data dilakukan pengecekan kembali informasi dan data yang diperoleh, dan diskusi dengan dosen pembimbing. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Wujud Mitos Upacara Petik Laut Secara turun-temurun dari cerita Nyi Roro Kidhul, ritual upacara Petik Laut yang dipercaya sebagai persembahan terhadap Nyi Roro Kidhul. Dalam penelitian ini juga ditemukan 4 fungsi Mitos Upacara Petik Laut yang meliputi; mitos sebagai media pengetahuan, mitos sebagai media kesadaran, mitos sebagai sarana kehidupan, dan mitos sebagai sarana pendidikan. Secara kesuluruhan cerita mengenai Mitos Upacara Petik Laut yang ada di dalam masyarakat yang ada di Desa Tembokrejo. Lewat cerita tersebut, masyarakat ingin menunjukan alasan kepercayaan yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Muncar. Berdasarkan pemaparan wujud Mitos Upacara Petik Laut, dan fungsi Mitos Upacara Petik Laut  diharapkan masyarakat Desa Tembokrejo agar dapat lebih menghargai dan melestarikan sastra lisan yang dimiliki. Hal ini dapat membantu mengenalkan dan mewariskan Mitos Upacara Petik Laut kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Desa Tembokrejo

    Nilai Karakter Jawa pada Ungkapan Tradisional Jawa dalam Buku Butir-Butir Budaya Jawa

    No full text
    ABSTRAK Nurhayati, Alvi. 2017. Nilai Karakter Jawa pada Ungkapan Tradisional Jawa dalam Buku Butir-Butir Budaya Jawa. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd., (II) Dr. Sunoto, M.Pd. Kata kunci: ungkapan tradisional  Jawa, nilai, karakter Hal yang melatarbelakangi ditelitinya Buku Butir-Butir Budaya Jawa karena buku ini berisi ungkapan tradisional Jawa yang sering dituturkan orang jawa. Ungkapan Jawa saat ini sering diremehkan dan jarang didengar di lingkungan Jawa masa kini. Ungkapan Jawa ini pada dasarnya mengandung nilai karakter yang tinggi. Hal tersebut dikaji dengan nilai karakter Jawa. Nilai karakter Jawa yang dipilih dalam penelitian ini berdasarkan pada etika Jawa sesuai dengan teori Frans-Magnis Suseno. Dalam hal ini nilai karakter Jawa dilihat dari prinsip rukun dan prinsip hormat. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai karakter pada ungkapan tradisional jawa dalam buku Butir-Butir Budaya Jawa. Masalah yang diteliti meliputi (1) nilai karakter Jawa berdasarkan prinsip rukun, (2) nilai karakter Jawa berdasarkan prinsip hormat Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan bersifat deskriptif. Data penelitian berupa kalimat atau  klausa yang berupa ungkapan tradisional jawa. Sumber data penelitian ini adalah Buku Butir-Butir Budaya Jawa karya Siti Hardiyanti Indra Rukmana.  Dalam hal ini, peneliti bertugas sebagai pengumpul data dan pengolah data. Tahap pengumpulan data yang digunakan adalah (1) peneliti membaca untuk memahami isi teks di dalam buku Butir-Butir Budaya Jawa secara mandalam. (2) peneliti membaca berulang dan intensif untuk menemukan kalimat yang sesuai dengan objek penelitian. (3) peneliti memberi tanda pada kalimat yang sesuai dengan nilai karakter Jawa rukun dan hormat. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yakni identifikasi, kategorisasi, dan sintesasi.             Hasil analisis dari penelitian ini pertama, wujud nilai karakter Jawa rukun yang meliputi: (1) gotong royong yang diwujudkan dengan (a) menolong sesama, ditemukan empat ungkapan tradisional Jawa yang merupakan pituduh atau petunjuk untuk menolong sesama, (b) rendah hati, ditemukan tiga ungkapan yang merupakan tradisional yang  pituduh atau petunjuk untuk rendah  hati (2) musyawarah, yang diwujudkan dengan (a) menghargai, ditemukan enam ungkapan tradisional yang terdiri dari satu pituduh atau petunjuk, dan lima wewaler atau larangan (b) mengalah, ditemukan empat ungkapan tradisional Jawa yang terdiri dari dua pituduh atau petunjuk dan dua ungkapan wewaler atau larangan.   Kedua, Nilai karakter Jawa hormat yang meliputi: (1) sungkan yang diwujudkan dengan (a) menjaga pembicaraan, ditemukan dua ungkapan tradisional Jawa yang berupa pituduh atau petunjuk (b) berbuat baik, ditemukan tiga ungkapan tradisional Jawa yang berupa pituduh atau petunjuk  (2) isin yang diwujudkan dengan menjaga sikap, ditemukan satu ungkapan tradisional Jawa berupa pituduh atau petunjuk (3) wedi yang diwujudkan dengan (a) takut berbuat salah, ditemukan satu ungkapan tradisional Jawa berupa pituduh atau petunjuk (b) takut mengecewakan orang lain ditemukan dua ungkapan tradisional Jawa yang berupa pituduh atau petunjuk. Sesuai dengan penelitian dan analisis data yang sudah dilakukan, disarankan kepada orang tua untuk mengenalkan ungkapan tradisional Jawa kepada anak-anaknya dan menerapkan ungkapan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Saran kepada guru untuk melestarikan ungkapan tradisional Jawa sebagai salah satu cara menanamkan pendidikan karakter kepada anak didiknya. Saran kepada peneliti untuk menjadikan ungkapan tradisional jawa sebagai sumber ide untuk melakukan penelitian lain.

    Alih Kode dalam Penerjemahan Kitab Muqtathofat oleh K.H. Marzuki Mustamar

    No full text
    ABSTRAK     Chamidah, Ronik Luluk Atul. 2017. Alih Kode dalam Penerjemahan Kitab Muqtathofat oleh K.H. Marzuki Mustamar. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: (I) Prof. Dr. A. Syukur Ghazali, M.Pd, (II) Dr. Roekhan, M.Pd.   Kata Kunci: Kode, Alih Kode, Penerjemahan Kitab Muqtathofat oleh K.H. Marzuki Mustamar.   Alih kode adalah peristiwa pergantian bahasa atau ragam bahasa oleh seorang penutur karena adanya sebab-sebab tertentu dan dilakukan dengan sadar. Seorang penutur dapat melakukan alih kode dalam berbagai genre tuturan, salah satunya penerjemahan kitab Muqtathofat oleh K.H. Marzuki Mustamar yang menggunakan alih kode dalam pengajiannya.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hal yang mencakup wilayah alih kode dan fungsi alih kode yang terdapat dalam pengajian kitab Muqtathofatoleh K.H. Marzuki Mustamar. Penelitian ini masuk ke dalam ranah sosiolinguistik yang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif berjenis deskriptif.Data penelitian ini berupa tuturan penerjemahan kitab Muqtathofat olehKyai Marzuki Mustamar yang mengandung alih kode. Sumber data pada penelitian ini adalahK.H. Marzuki Mustamar yang menerjemahkan kitab Muqtathofat.. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik simak, yakni dengan cara mentranskrip dokumen yang berupa audio pengajian kitab ke dalam dokumen tertulis. Analisis data dilakukan dengan caramengkodifikasi, mengklasifikasi, memvalidasi, dan memverifikasi sesuai temuan wilayah dan fungsi alih kode. Pengecekan keabsahan temuan dilakukan dengan metode triangulasi yang dilaksanakan dengan teknik ketekunan pengamatan, kecukupan referensi, dan analisis teman sejawat. Hasil penelitian menunjukkan adanya wilayah alih kode dan fungsi alih kode dalam penerjemahan kitab Muqtathofat oleh K.H. Marzuki Mustamar. Secara garis besar hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) adanya wilayah alih kode intrabahasa dan antarbahasa, (2) adanya sejumlah fungsi alih kode dalam ranah sosial, ranah individu penutur, dan ranah topik tuturan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diperoleh dua simpulan menunjukkan adanya wilayah dan fungsi alih kode dalam penerjemahan kitab Muqtathofat oleh K.H. Marzuki Mustamar. Secara garis besar hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) dilihat dari wilayah alih kode yang terdiri atas wilayah alih kode intrabahasa dan antarbahasa, alih kode yang paling sering terjadi adalah alih kode dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, (2) dilihat dari fungsi alih kode, fungsi dalam ranah topiklah yang paling dominan. Berkenaan dengan hasil penelitian, penulis menyarankan agar penelitian mengenai pemilihan kode pada penerjemahan kitab Muqtathofat olehKyai Marzuki Mustamar perlu dikembangkan lebih lanjut agar analisis yang dilakukan dapat mencapai hal yang lebih mendasar pada masalah pemilihan bahasa

    PETA ISI KOMPETENSI DASAR BAHASA INDONESIA KELAS X KURIKULUM 2013 REVISI 2016

    No full text
    ABSTRAK   Sofiani, Ismi. 2017. Peta Isi Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum 2013 Revisi 2016. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Kusubakti Andajani, M.Pd   Kata Kunci: kompetensi dasar, bahasa Indonesia, Kurikulum 2013 revisi 2016. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA/MA/SMK/MAK memiliki empat tujuan utama yang tertuang dalam kompetensi inti dandijabarkan dalam kompetensi dasar. Kompetensi dasar memiliki peran yang penting dalam kurikulum. Pencapaian tujuan pembelajaran dan standar kompetensi lulusan sangat dipengaruhi oleh pemahaman terhadap kompetensi dasar. Pentingnya fungsi kompetensi dasar menjadi alasan peneliti memilih penelitian berupa Peta Isi Kompetensi Dasar Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum 2013 Revisi 2016. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif menelusuri/mengeksplor isi kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia Kurikulum 2013 yang telah direvisi pada tahun 2016i. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X kurikulum 2013 revisi 2016. Data dalam penelitian ini berupa pernyataan-pernyataan kompetensi dasar pengetahuan dan kompetensi dasar keterampilan kelas X. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan (1) memetakan isi kompetensi dasar pengetahuan dalam kompetensi dasar Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum 2013 revisi 2016, dan (2) memetakan isi kompetensi dasar pengetahuan dalam kompetensi dasar Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum 2013 revisi 2016. Berdasarkan analisis data diperoleh dua simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas X kurikulum 2013 revisi 2016 berisi (a) kemampuan berpikir tingkat rendah yang dipetakan oleh kata kerja operasional menghubungkan, dan (b) kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dipetakan oleh kata kerja operasional mengidentifikasi, membandingkan, menganalisis, dan mengevaluasi. Kedua, kompetensi dasar keterampilan Bahasa Indonesia kelas X Kurikulum 2013 revisi 2016 berisi (a) kemampuan berpikir tingkat rendah yang dipetakan oleh kata kerja operasional menginterpretasi, menciptakan kembali, menceritakan kembali, menyususn, mengungkapkan kembali, mendemonstrasikan, dan mereplikasi, dan (b) kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dipetakan oleh kata kerja operasional mengkonstruksikan. Saran dari peneliti adalah (1) guru sebaiknya lebih cermat dalam memahami isi kompetensi dasar agar tidak terjadi kesalahan penafsiran kompetensi dasar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik, (2) kepala sekolah perlu memberi perhatian terhadap kegiatan pembelajaran di kelas dengan cara menyediakan fasilitas yang dapat membantu terlaksananya pembelajaran bahasa Indonesia dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai, dan (3) peneliti yang mengabdikan diri untuk meneliti masalah pendidikan sebaiknya melakukan penelitian yang berkaitan dengan kompetensi dasar Bahasa Indonesia kurikulum 2013 revisi 2016 untuk melengkapi dan menyempurnakan penelitian ini

    Penggunaan Konjungsi Pada Teks Eksposisi Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Malang

    No full text
    ABSTRAKPrayoga, Ricky Setya. 2015. Penggunaan Konjungsi Pada Teks Eksposisi Siswa Kelas X SMA Negeri 8 Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd., (2) Dr. H. Imam Agus Basuki, M.Pd.Kata Kunci: konjungsi, teks eksposisi.Konjungsi adalah satuan yang digunakan untuk meluaskan maupun mengaitkan satuan-satuan sintaktis baik setara maupun tidak setara. Secara sederhana, konjungsi berarti kata hubung karena tugasnya merupakan penghubung antar kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, dan kalimat dengan kalimat. Dalam penelitian ini dikaji tentang penggunaan konjungsi pada teks eksposisi karya siswa. Teks eksposisi yang di dalamnya berisi suatu penjelasan atau pemaparan pendapat memerlukan kecermatan dan keefektifan penggunaan kalimat agar ide yang dituangkan penulis dapat tersampaikan dengan baik pada pembaca. Salah satu keefektifan penggunaan kalimat dapat ditinjau dari penggunaan konjungsi.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian teks atau dokumen yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah teks eksposisi siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang. Data penelitian adalah konjungsi koordinatif dan subordinatif antarklausa maupun antarkalimat. Sumber data didapatkan dari guru mata pelajaran. Analisis data dalam penelitian ini meliputi (1) reduksi data, (2) sajian data, dan (3) penarikan simpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan teknik kecermatan peneliti dan diskusi dengan pembimbing.Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh empat kesimpulan. (1) Bentuk dan penggunaan konjungsi koordinatif antarklausa dalam teks eksposisi siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang cukup banyak, serta penggunaan dalam teks tersebut sebagian besar sudah tepat. Bentuk konjungsi koordinatif antarklausa yang terdapat dalam 25 teks eksposisi siswa sebanyak 274. Kemudian, untuk penggunaan konjungsi koordinatif antarklausa yang kurang tepat, umumnya dikarenakan siswa kurang cermat dalam pemakaian konjungsi untuk meluaskan ide dari klausa satu ke klausa lainnya.(2) Bentuk dan penggunaan konjungsi subordinatif antaklausa dalam teks eksposisi siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang cukup banyak, serta penggunaan dalam teks tersebut sebagian besar sudah tepat. Bentuk konjungsi subordinatif antarklausa yang terdapat dalam 25 teks eksposisi siswa adalah yang terbanyak, yakni sebanyak 391. Kemudian, untuk penggunaan konjungsi subordinatif antarklausa yang kurang tepat, umumnya dikarenakan siswa kurang cermat dalam menggunakan konjungsi untuk meluaskan ide dari klausa satu ke klausa lainnya. (3) Bentuk dan penggunaan konjungsi koordinatif antarkalimat dalam teks eksposisi siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang tidak terlalu banyak, namun penggunaan dalam teks tersebut sebagian besar sudah tepat. Bentuk konjungsi koordinatif antarkalimat yang terdapat dalam 25 teks eksposisi siswa sebanyak 122. Kemudian, untuk penggunaan konjungsi koordinatif antarkalimat yang kurang tepat, umumnya dikarenakan siswa kurang cermat dalam pemilihan konjungsi untuk meluaskan ide dari kalimat satu ke kalimat lainnya, sehingga perpindahan antarkalimat tersebut terasa kurang lembut. Dalam penggunaan konjungsi koordinatif antarkalimat ini, variasi yang muncul juga sudah banyak. (4) Bentuk dan penggunaan konjungsi subordinatif antarkalimat dalam teks eksposisi siswa kelas X SMA Negeri 8 Malang tidak terlalu banyak, namun penggunaan dalam teks tersebut sebagian besar sudah tepat. Bentuk konjungsi subordinatif antarkalimat yang terdapat dalam 25 teks eksposisi siswa sebanyak 112. Kemudian, untuk penggunaan konjungsi subordinatif antarkalimat yang kurang tepat, umumnya dikarenakan siswa kurang cermat dalam pemilihan konjungsi untuk meluaskan ide dari kalimat satu ke kalimat lainnya, sehingga perpindahan antarkalimat tersebut terasa kurang lembut. Dalam penggunaan konjungsi subordinatif antarkalimat ini, variasi yang muncul juga sudah banyak. 

    Perkembangan Bentukan Kosakata Bahasa Indonesia Tulis Mahasiswa Jurusan ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand dalam Program In-Country 2015-2016

    No full text
    Pada pembelajaran bahasa kedua perkembangan kosakata mahasiswa merupakan salah satu hal penting. Perkembangan kosakata tersebut dapat diidentifikasi melalui berbagai kegiatan menulis yang dilakukan. Salah satu bentuk kegiatan menulis pada program in-country adalah menulis jurnal harian. Perkembangan bentukan kosakata inilah yang dibahas pada penelitian ini. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan kosakata pada karangan mahasiswa jurusan ASEAN Studies  Universitas Walailak Thailand dalam program In-country 2015/2016, yang meliputi (a) perkembangan bentukan kata yang dihasilkan mahasiswa jurusan ASEAN Studies pada program In-country di Universitas Negeri Malang bulan ke-2 dan (b) perkembangan bentukan kata yang dihasilkan mahasiswa jurusan ASEAN Studies pada program In-country di Universitas Negeri Malang bulan ke-3. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif-kualitatif dengan jenis penelitian pemerolehan bahasa kedua. Pada penelitian ini, peneliti sebagai instrument utama. Data pada penelitian ini adalah bentukan kosakata tulis mahasiswa. Sumber data pada penelitian ini adalah karangan mahasiswa tingkat menengah yang terdapat pada jurnal harian yang dianalisis pada satuan minggu selama program berlangsung selama semester satu yaitu sebanyak 10 minggu. Lokasi penelitian ini dilakukan pada program In-country 2015/2016 di Universitas Negeri Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, bentukan kosakata dengan afiksasi pada minggu ke-1 ditandai dengan 16 bentukan dasar dan ada bentukan kata yang belum tepat. Perkembangan bentukan kosakata pada minggu ke-2 ditandai oleh mahasiswa yang menghasilkan variasi perfiks meN- dengan variasi menge, dan variasi konfiks peN-an serta per-an. Kedua, bentukan kosakata dengan proses pengulangan pada minggu ke-1 dan minggu ke-2 ditandai dengan kata ulang sesungguhnya yang terdiri atas (1) pengulangan seluruh, (2) pengulangan sebagian, (3) pengulangan berubah bunyi, dan (4) pengulangan berimbuhan,  serta munculnya kata ulang semu. Ketiga, bentukan kosakata dengan proses pemajemukan pada minggu ke-1 dan minggu ke-2 yaitu berupa bentukan kosakata majemuk berdasarkan pada  kelas kata yang membentuknya dengan wujud Kata Benda-Kata Benda (KB-KB),Kata Benda-Kata Kerja (KB-KK), Kata Benda-Kata Sifat (KB-KS),Kata Kerja-Kata Benda (KK-KB). Keempat, pada minggu ke-3 bentukan kosakata yang dihasilkan mahasiswa terbatas pada 15 afiks, sedangkan pada minggu ke-4 bentukan kosakata yang dihasilkan mahasiswa ada 16 afiks. Pada minggu ke-3 dan ke-4 ada bentukan kata yang masih belum tepat ketika digunakan dalam kalimat. Kelima, bentukan kosakata dengan proses pengulangan pada minggu ke-3 ditandai dengan munculnya pengulangan sesungguhnya terdiri atas (1) pengulangan seluruh, (2) pengulangan sebagian, (3) pengulangan berubah bunyi, dan (4) pengulangan berimbuhan. Pengulangan berubah bunyi muncul pada minggu ke-3, sedangkan pada minggu ke-4 bentukan kata tidak muncul lagi. Pengulangan berimbuhan muncul pada minggu ke-3, sedangkan pada minggu ke-4 pengulangan berimbuhan  tidak muncul lagi. Keenam, bentukan kosakata dengan proses pemajemukan pada minggu ke-3 ditandai dengan munculnya wujud Kata Benda-Kata Benda (KB-KB). Bentukan kata dengan wujud Kata Benda-Kata Benda  muncul pada minggu ke-3. Pada minggu ke-4 bentukan tersebut tidak muncul lagi. Selain itu, ada bentuk lain, yaitu bentukan kosakata dengan wujud Kata Benda-Kata Kerja (KB-KK) juga tidak muncul lagi pada minggu ke-3 dan minggu ke-4. Bentukan kosakata dengan wujud Kata Benda-Kata Sifat (KB-KS). Perkembangan bentukan kosakata pada minggu ke-3 ditandai oleh mahasiswa yang menghasilkan variasi kata majemuk KB-KB-KB. Selanjutnya pada minggu ke-4 tidak ada bentukan kata melalui proses pemajemukan yang bervariasi

    PENGEMBANGAN MENULIS TEKS DRAMA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA KARTU NASKAH DRAMA KELAS XI BAHASA SMA NEGERI 4 BERAU

    No full text
    ABSTRAKZakaria, Masduki. 2016. Pengembangan Menulis Teks Drama dengan Menggunakan Media Kartu Naskah Drama untuk Siswa Kelas XI Bahasa SMA Negeri 4 Berau. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Kusubakti Andajani, M.Pd, (II) Musthofa Kamal, S.Pd,M.Sn.Kata Kunci: media, menulis teks drama, kartu naskah dramaKurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari KTSP dan berfungsi sebagai acuan utama dalam penyelenggaraan pembelajaran. Perbedaan yang mencolok terdapat pada standar kompetensi lulusan. Kriteria dalam standar kompetensi lulus mencakup sikap, pengetahuam, dan keterampilan. Pada pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan kurikulum 2013 menerapkan pembelajaran berbasis teks. Salah satu teks yang diajarkan jenjang SMA adalah teks drama. Teks drama merupakan satu-satunya teks sastra yang diajarkan di kelas XI. Pembelajaran menulis teks drama kurang mendapat perhatian oleh peserta didik karena kurangnya apresiasi pendidik terhadap kegiatan pembelajaran ini.Berdasarkan hasil wawancara dengan guru pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA Negeri 4 Berau, diperoleh bahwa minat peserta didik pada kegiatan menulis teks drama masih kurang. Hasil wawancara dengan peserta didik pun menunjukan bahwa sebenarnya peserta didik menginginkan suasana pembelajaran menulis teks drama yang menyenangkan. Peserta didik menginginkan tersedianya media yang menyenangkan yang dapat mengatasi kesulitan mereka dalam belajar sehingga mereka juga lebih bersemangat. Kesulitan menemukan tema, alur cerita, dan cara mengembangkan cerita merupakan salah satu kendala siswa dalam menulis drama.Tujuan penelitian dan pengembangan ini secara umum adalah menghasilkan teks drama yang sesuai materi dengan menggunakan media pembelajaran berdasarkan kartu naskah drama untuk siswa SMA. Produk media yang dihasilkan secara khusus dikembangkan dengan memperhatikan muatan materi isi, bahasa, dan tampilan. Media yang dihasilkan berupa kartu naskah drama untuk kegiatan menulis teks drama. Terdapat materi pemodelan teks drama dan petunjuk penggunaan media yang disusun pada buku petunjuk media kartu naskah drama.Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan. Rancangan penelitian diadaptasi dari prosedur penelitian pengembangan Plomp yang dimodifikasi menjadi empat yakni (1) fase investigasi awal, (2) fase desain, (3) fase realisasi /kontruksi, (4) fase tes, evaluasi, dan revisi.Uji kelayakan produk media ini melibatkan (1) ahli materi pembelajaran drama, (2) ahli media pembelajaran, (3) praktisi pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu pendidik bahasa Indonesia, dan (4) siswa kelas XI Bahasa SMA Negeri 4 Berau sebagai subjek uji lapangan.Wujud data dalam penelitian ini berupa data numerik dan verbal. Data numerik diperoleh melalui angket penilaian produk kepada ahli materi pembelajaran drama, ahli media, praktisi pembelajaran bahasa Indonesia, dan subjek uji lapangan. Data verbal berupa catatan komentar, kritik maupun saran yang dituliskan dalam angket penilaian. Data verbal selanjutnya dianalisis sebagai salah satu acuan revisi produk.Berdasarkan hasil uji diketahui hasil penelitian produk dari ahli materi sebesar 85,8%  ahli media sebesar 82,5% praktisi pembelajaran bahasa Indonesia sebesar 86,8% dan uji lapangan sebesar 80,8%. Berdasarkan penilaian ahli materi, produk pembelajaran tergolong layak meskipun masih perlu direvisi. Berdasarkan uji ahli media, produk tergolong layak dan perlu direvisi. Berdasarkan uji praktisi pembelajaran bahasa Indonesia, produk tergolong layak. Hasil uji lapangan kepada siswa kelas XI Bahasa SMA digunakan peneliti untuk mengetahui respon peserta didik terhadap media pembelajaran sebagai penunjang kegiatan pembelajaran menulis teks drama.Kesimpulan penelitian dan pengembangan ini adalah media pembelajaran menulis teks drama kelas XI Bahasa SMA dengan kartu naskah drama tergolong layak dan dapat diimplementasikan. Sebagai langkah pemanfaatan produk hasil pengembangan, pendidik disarankan untuk menggunakan media pembelajaran ini sebagai penunjang kegiatan menyusun teks drama. Penggunaan media ini mampu mengatasi problematika peserta didik dalam kegiatan penulisan teks drama. Penggunaan media ini diharapkan menjadi alat evaluasi bagi pendidik sehingga mengembangkan media pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif. Prosedur penelitian pengembangan ini dapat menjadi pedoman bagi peneliti lain untuk mengembangkan media dengan topik yang berbeda. Pengembang lain disarankan untuk mengikuti langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini. Penyebarluasan media ini dapat dilakukan dengan dua cara  (1) melalui MGMP Guru bahasa Indonesia, dan (2) melalui peserta didik yang telah menggunakan media.

    Kesalahan Afiksasi Bahasa Jawa dengan Huruf Latin dalam Cerkak Karya Siswa Kelas XII SMKN 3 Malang

    No full text
    ABSTRAK   Yunitasari, Wahyu Ika. 2016. Kesalahan Afiksasi Bahasa Jawa dengan Huruf Latin dalam Cerkak Karya Siswa Kelas XII SMKN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd, (II) Dr. Sunaryo H.S., S.H, M.Hum.   Kata Kunci : kesalahan afiksasi, afiksasi bahasa Jawadengan huruf latin   Bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang masih digunakan sebagai alat komunikasi lisan maupun tulisan dan merupakan bahasa pertama atau bahasa ibu yang digunakan oleh sebagian masyarakat Jawa. Ada empat macam afiks dalam bahasa Jawa, yaitu: (1) prefiks atau ater-ater, (2) sufiks atau panambang, (3) infiks atau seselan, dan (4) konfiks. Selain itu, pada bentuk konfiks tertentu ada yang dikatakan sebagai afiks gabung (imbuhan sesarengan). Dikatakan sebagai afiks gabung karena jika salah satu morfem dihilangkan kata tersebut tetap bermakna. Afiksasidalam bahasa Jawa memiliki keanekaragaman dan lebih rumit. Jika penulisannya salah, maka akan menimbulkan perbedaan persepsi makna. Oleh sebab itu, untuk meminimalkan kesalahan tersebut perlu diadakan penelitian kesalahan afiksasi bahasa Jawa melaluitulisan siswa berupa cerkak (cerita cekak) agar tidak terjadi kesalahan yang berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan kesalahan afiksasi bahasa Jawa dengan huruf latin melalui: (1) prefiks N-; ka-; dan ke-, (2) sufiks -an dan–i, serta (3) konfiks ka-an; ke-en; pa-an; N-ake; N-i;dan di-i pada cerkak karya siswa kelas XII SMKN 3 Malang. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan data yang diperoleh dari lokasi penelitian. Sumber penelitian ini yaitu cerkak hasil karya siswa kelas XII SMKN 3 Malang dan pengambilan datanya dilakukan pada 2 November-10 Desember 2015. Instrumen untuk pengambilan data yaitu berupa soal perintah untuk memproduksi cerkak, dan tabel analisis yang digunakan untuk mempermudah pengumpulan; pengklasifikasian; dan penganalisisan data. Melalui instrumen tersebut diperoleh data penelitian kesalahan afiksasi bahasa Jawa dengan huruf latin melalui prefiks N-; ka-; dan ke-, sufiks -an dan-i, konfiks ka-an; ke-en;pa-an;N-ake; N-i;dan di-i pada cerkak karya siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) ditemukan 10 data kesalahan afiksasi bahasa Jawa dengan huruf latin melalui prefiks N-; ka-; dan ke-dengan bentuk dasar{rasa}, {amba}, {renggut}, {rangkul}, {trima}, {obong}, {endheg}, dan {liwat}, (2) ditemukan 23 data kesalahan afiksasi bahasa Jawa dengan huruf latin melalui sufiks -an dan-i dengan bentuk dasar {lagu}, {guyu}, {turu}, {kali}, {pangku}, {ronce}, {minggu}, {wedi}, {blanja}, {lucu}, {semaya}, {sinau}, {impi}, {ombe}, {saji}, {tresna}, {iri}, {dadi}, {janji}, {klambi}, {ngerti}, {temu}, dan {melu}, (3) ditemukan 42 data kesalahan afiksasi  bahasa Jawa dengan huruf latin melalui konfiks {ka-/-an}, {ke-/-en}, {pa-/-an}, {N-/-ake}, {N-/-i}, dan {di-/-i} dengan tiga puluh sembilan bentuk dasar {dadi}, {eling}, {temu}, {apus}, {isin}, {rungu}, {angel}, {ilang}, {teka}, {begja}, {awan}, {omah}, {adus}, {rasa}, {raya}, {langkah}, {lali}, {iber}, {eling}, {crita}, {slamet}, {tari}, {ambu}, {lirik}, {iri}, {sapu}, {tuku}, {rewang}, {liwat}, {laku}, {buru}, {tunggu}, {temu}, {lebu}, {lapis}, {racun}, {melu}, {rungu}, dan {isi}. Kesalahan tersebut terjadi karena: (1) kecenderungan siswa menambahkan vokal /e/ antara imbuhan dan bentuk dasar pada awalan N-, (2) kesalahan penggunaan afiks, (3) siswa belum bisa membedakan penggunaan prefiks ka- dan ke-, (4) pada proses pengimbuhan yang dilakukan tidak memperhatikan bentuk dasar, (5) penggunaan bentuk dasar yang mengarah pada kata bahasa Indonesia, (6) proses afiksasi yang kurang tepat, serta (7) pemilihan dan penggunaan bentuk dasar yang salah. Saran bagipenyusunsilabusdanbahan ajar Bahasa Jawa, sebaiknya lebih perhatian dalam menentukan distribusi materi yang seharusnya diajarkan agar susunan materi sesuai dengan tingkatannya. Misalnya pada materi memproduksi cerkak,  seharusnya sebelum memasuki materi itu diberikan sedikit materi tentang bentukan kata. Hal itu dapat digunakan siswa sebagai bekal dalam mengolah kata ketika memproduksi cerkak. Bagi guru Bahasa Jawa sebaiknya lebih menekankan penggunaan bahasa Jawa dalam pembelajaran dengan menggunakan bahasa yang lebih variatif untuk memancing dan menambah perbendaharaan kata bahasa Jawa yang dimiliki siswa. Selain itu juga lebih sering melakukan latihan atau pemberian tugas kepada siswa mengenai kata-kata dalam bahasa Jawa. Bagi peneliti selanjutnya apabila ingin mengadakan penelitian sejenis, sebaiknya penelitian lanjutan dilakukan dengan subjek penelitian siswa kelas X maupun XI, objek penelitian teks-teks lainnya selain cerkak, ataupun juga memperluas fokus penelitian yaitu reduplikasi dan komposisi yang nantinya bermanfaat untuk pengayaan referensi pengajaran Bahasa Jawa di SMKN 3 Malang.

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇