SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
PRINSIP KERJA SAMA DALAM PERCAKAPAN FILM ADA APA DENGAN CINTA 2 KARYA RIRI RIZA
ABSTRAK Pratama, Eky Billy. 2017. Prinsip Kerja Sama dalam Percakapan Film Ada Apa Dengan Cinta 2 karya Riri Riza. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd. Kata kunci: prinsip kerja sama, maksim, kuantitas, kualitas, relevansi, cara. Film yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta 2 karya Riri Riza merupakan film yang memiliki tema percintaan. Percakapan yang terjadi pada film ini berupa percakapan informal. Percakapan informal pada film ini ditandai dengan adanya prinsip kerja sama. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan keempat prinsip kerja sama Grice, meliputi (1) maksim kuantitas, (2) maksim kualitas, (3) maksim relevansi, dan (4) maksim cara dalam percakapan film Ada Apa Dengan Cinta 2. Penelitianinimenggunakanpendekatanpragmatikdenganjeniskualitatif. Data penelitian berupa percakapan tokoh pada film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang mengandung prinsip kerja sama. Sumber data penelitian ini adalah film Ada Apa Dengan Cinta 2karyaRiriRizapadalamanwww.Kbagi.comdengandurasi 02:03:15 detik. Instrumen penelitian yang digunakan terbagi menjadi dua yakni instrumen pengumpul data dan instrumen analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara (1) peneliti mencari dokumen audio-visual yang berjudul Ada Apa DenganCinta 2darilamanwww.Kbagi.com, (2) penelitimengunduhdokumen audio-visual tersebut, (3) data berupa dokumen audio-visual ditranskripsi ke dalam bentuk tulisan, (4) mengamati dan memahami data hasil transkrip dengan cermat untuk menentukan tuturan sesuai dengan fokus penelitian. Analisis data terbagi atas tiga tahap, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) konklusi data. Diskusi dengan teman sejawat dan ketekunan pengamatan digunakan untuk mengetahui keabsahan data. Hasil penelitian ini dipaparkan sebagai berikut. Prinsip kerja sama yang digunakan dalam beberapa dialog film Ada Apa Dengan Cinta 2 lebih besar dari pada penyimpangan yang dilakukan. Dalam prinsip kerja sama tersebut diklasifikasikan menjadi empat maksim, yakni maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Pertama, Maksim kuantitas dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 terdapat tuturan berupa stimulus dan respons yang banyak dituturkan oleh tokoh Rangga. Tuturan Rangga mengandung informasi memadai dan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan sehingga komunikasi berjalan dengan baik. Kedua, Maksim kualitas dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 terdapat tuturan berupa stimulus dan respons yang banyak dituturkan oleh tokoh Cinta. Kontribusi yang diberikannya berdasarkan bukti-bukti yang kongkrit dan informasi yang diberikan sesuai fakta. Ketiga, Maksim relevansi dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 terdapat tuturan berupa stimulus dan respons yang banyak dituturkan oleh tokoh Rangga. Tokoh Rangga memberikan kontribusi yang relevan dengan masalah pembicaraan sehingga memberikan proses komunikasi berjalan dengan baik. Keempat, Maksim cara dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 terdapat tuturan berupa stimulus dan respons yang banyak dituturkan tokoh Rangga. Tuturan yang diberikan secara langsung, tidak taksa, tidak kabur, tidak berlebih-lebihan, serta jelas
Piranti Kohesi dalam Roman Layar Terkembang Karya Sutan Takdir Alisyahbana
ABSTRAK Kohesi merupakan keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga tercipta kepaduan makna. Kepaduan wacana didukung oleh kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Unsur keutuhan wacana tersebut berperan untuk menyusun kalimat-kalimat dalam wacana menjadi kalimat yang padu dan utuh. Dengan demikian, dapat tercipta kesempurnaan proses penyampaian dan penerimaan pesan dalam wacana. Wacana roman Layar Terkembang diduga mempunyai kekhasan. Kekhasan ini ditemukan pada bahasa yang digunakan dalam roman, yaitu bahasa Melayu modern. Hal ini disebabkan adanya pengaruh pujangga Belanda terhadap pujangga baru Indonesia sehingga berpengaruh terhadap karya sastra yang dihasilkan. Selain itu, pemilihan roman Layar Terkembang sebagai objek penelitian dikarenakan roman ini pada masanya merupakan novel modern disaat sebagian besar masyarakat Indonesia masih dalam pemikiran lama. Kedua, roman ini merupakan jejak pemikiran modern Indonesia serta menjadi saksi sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia. Berkaitan dengan hal itu, maka diperlukan pembahasan mengenai piranti kohesi dalam roman Layar Terkembang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk piranti kohesi gramatikal dan piranti kohesi leksikal dalam roman Layar Terkembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu mendeskripsikan bentuk piranti kohesi gramatikal dan leksikal pada paparan verbal dalam roman. Sumber data penelitian ini adalah dokumen berupa roman berjudul Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Data penelitian ini berupa rangkaian kalimat yang mengandung piranti kohesi. Instrumen penelitian adalah panduan pengumpulan data dan panduan analisis data. Analisis data dimulai dari tahap identifikasi data, klasifikasi data, penyajian data, dan penyimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan keikutsertaan peneliti, ketekunan pengamatan, triangulasi data, dan diskusi teman sejawat. Piranti kohesi yang ditemukan dalam roman Layar Terkembang adalah sebagai berikut. Pertama, bentuk piranti kohesi gramatikal yang ditemukan terdiri atas referensi, substitusi, dan konjungsi. Referensi terdiri atas referensi persona, referensi demonstrativa, dan referensi komparatif. Substitusi terdiri atas substitusi nominal, substitusi verbal, substitusi klausal dan substitusi metafora. Konjungsi terdiri atas konjungsi urutan waktu, konjungsi pilihan, konjungsi alahan, konjungsi ketidakserasian, konjungsi serasian, konjungsi tambahan, konjungsi pertentangan, konjungsi sebab-akibat, konjungsi ringkasan/simpulan, dan konjungsi konsesi. Kedua, bentuk piranti kohesi leksikal yang ditemukan terdiri atas reiterasi meliputi reiterasi seluruhnya dan reiterasi sebagian, sinonimi yaitu sinonimi murni, antonimi meliputi antonimi mutlak dan antonimi hierarkis, hiponimi, dan paronimi. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh dua simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, bentuk piranti kohesi gramtikal yang ditemukan adalah referensi, substitusi, dan konjungsi. Piranti kohesi gramatikal yang paling sering muncul dalam roman adalah referensi. Kedua, bentuk piranti kohesi leksikal yang ditemukan adalah reiterasi, sinonimi, antonimi, hiponimi, dan paronimi. Piranti kohesi leksikal yang paling sering muncul dalam roman adalah reiterasi. Berdasarkan hasil penelitian ini, diajukan dua saran. Saran tersebut ditujukan kepada (1) pendidik bahasa Indonesia, penelitian dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada praktik penulisan karya fiksi dan pembuatan bahan ajar yang terkait dengan teks atau wacana, (2) bagi penulis karya fiksi, penelitian ini dapat menjadi masukan dan penambah wawasan serta dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan karya fiksi agar lebih kreatif dan inovatif. Secara umum ditarik sebuah proposisi ilmiah bahwa dalam roman Layar Terkembang terdapat piranti kohesi gramatikal berbentuk referensi, substitusi, dan konjungsi serta piranti kohesi leksikal berbentuk reiterasi, sinonimi, antonimi, hiponimi, dan paronimi
PEMBELAJARAN MEMAHAMI TEKS PROSEDUR KELAS VIII SMP NEGERI 15 MALANG
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pembelajaran memahami teks prosedur kelas VIII SMPN 15 Malang. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru melakukan tiga tahap pembelajaran yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Tahap perencanaan dan pelaksanaan dilakukan guru dengan baik meskipun tidak semua kegiatan dalam perencanaan dilakukan saat pelaksanaan pembelajaran. Tahap penilaian yang dilakukan guru kurang maksimal dikarenakan waktu pembelajaran terpotong dengan kegiatan lain. Temuan tersebut membuktikan bahwa guru kurang mengontrol waktu pembelajaran dengan baik sehingga penilaian pembelajaran tidak dilakukan setiap pertemuan
Penggunaan Kalimat dalam Teks Cerpen Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Tumpang
ABSTRAK Fitriyah, Laili. 2017. Penggunaan Kalimat dalam Teks Cerpen Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Tumpang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: Dr. Sunaryo HS., S.H., M.Hum. Kata Kunci: Penggunaan kalimat, teks cerpen, jumlah klausa, struktur internal klausa, bentuk/kategori sintaksisKalimat memiliki peran esensial dalam kegiatan berkomunikasi baik lisan maupun tulis. Pada komunikasi tulis, kalimat menjadi sarana pengungkap ide atau gagasan pengarang kepada pembacanya. Cerpen sebagai salah satu teks sastra tidak dapat dipisahkan dari bahasa. Hakikatnya, bahasa sastra bersifat konotatif dan emotif. Kalimat sebagai wujud bahasa sastra menjadi media penyampai ide pengarang kepada pembaca. Penggunaan kalimat dalam teks cerpen memiliki kekhasan karena dibangun oleh kalimat berupa narasi dan kalimat berupa dialog. Kedua bentuk kalimat ini hadir dan bekerja sama untuk memperindah dan menghadirkan cerita yang segar.Penggunaan kalimat dalam teks cerpen selain sebagai alat untuk menambah nilai lebih karya sastra, juga memiliki fungsi komunikatif. Sifat komunikatif cerpen lebih tinggi dibandingkan puisi dan drama, karena cerpen menuntut bahasa yang komunikatif agar mudah diikuti pembaca. Narasi digunakan pengarang untuk menceritakan sesuatu secara singkat, sedangkan dialog dimunculkan pengarang untuk menghidupkan tokoh cerita. Melihat kekhasan kalimat dalam teks sastra tersebut, maka penggunaan kalimat dalam teks cerpen siswa menjadi fokus penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan kalimat narasi dan dialog dalam teks cerpen siswa yang mencakup (1) penggunaan kalimat berdasarkan jumlah klausanya (2) penggunaan kalimat berdasarkan struktur internal klausa utamanya, dan (3) penggunaan kalimat berdasarkan bentuk/kategori sintaksisnyaPenelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis teks. Sumber data penelitian ini berupa teks cerpen karangan siswa kelas XI IBB 2 dan kelas XI MIA 4. Prosedur pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) mengumpulkan dokumen berupa teks cerpen karya siswa, (2) menghitung kesesuaian jumlah karya cerpen dengan jumlah siswa dalam kelas, (3) membaca teks cerpen siswa secara berulang-ulang untuk mereduksi karya yang tidak memenuhi kriteria kelayakan data, (4) mengidentifikasi kalimat-kalimat dalam teks cerpen siswa ke dalam tabel data, (5) memberikan kode pada karangan dan aspek-aspek yang diteliti. Data berupa kalimat dalam teks cerpen siswa dianalisis melalui tiga tahapaan yaitu, (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan simpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan cara perpanjangan pengamatan dan diskusi bersama ahli/dosen pembimbing.Berdasarkan hasil analisis, diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, berdasarkan jumlah klausanya kalimat narasi pada teks cerpen siswa terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Dari 321 kalimat, terdapat 145 penggunaan kalimat tunggal dengan 18 variasi pola kalimat. Penggunaan kalimat majemuk berjumlah 163 kalimat dengan rincian sebagai berikut: (1) kalimat majemuk setara sejumlah 58 kalimat dengan 6 pola besar yang mengalami pengulangan, (2) kalimat majemuk bertingkat sejumlah 81 kalimat dengan 9 pola besar yang mengalami pengulangan dan (3) kalimat majemuk campuran sejumlah 24 kalimat. Selanjutnya, kalimat bentuk dialog juga terdiri atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk dengan rincian sebagai berikut. Penggunaan kalimat tunggal dalam kalimat bentuk dialog sejumlah 51 kalimat dengan 13 variasi pola, sedangkan penggunaan kalimat majemuk berjumlah 95 kalimat yang terdiri dari (1) kalimat majemuk setara sejumlah 21 kalimat, (2) kalimat majemuk bertingkat sejumlah 52 kalimat dengan 7 pola besar yang mengalami pengulangan, dan (3) kalimat majemuk campuran sejumlah 22 kalimat.Kedua, berdasarkan struktur internal klausa utamanya kalimat narasi dan dialog dalam teks cerpen siswa terdiri atas kalimat lengkap dan kalimat tidak lengkap. Penggunaan kalimat lengkap dalam bentuk narasi pada teks cerpen siswa sejumlah 308 dari keseluruhan 321 kalimat, sedangkan penggunaan kalimat tidak lengkap sejumlah 13 kalimat. Selanjutnya, penggunaan kalimat lengkap dalam bentuk dialog pada teks cerpen siswa sejumlah 146 kalimat dari keseluruhan 164 kalimat berupa dialog sedangkan penggunaan kalimat tidak lengkap sejumlah 17 kalimat. Kalimat dialog yang merupakan ragam lisan komunikatif memungkinkan unsur-unsur kalimat yang tidak lengkap, karena dipengaruhi oleh adanya prinsip-prinsip pragmatik.Ketiga, penggunaan kalimat bentuk narasi berdasarkan bentuk/kategori sintaksisnya terdiri atas kalimat berita, kalimat perintah, kalimat tanya, dan kalimat seruan. Dari 321 kalimat bentuk narasi, sebagian besar termasuk kalimat berita yaitu sejumlah 308 kalimat, sebagian kecil kalimat bentuk narasi termasuk kategori lain yaitu: kalimat perintah sebanyak 3 kalimat, kalimat interogatif sebanyak 7 kalimat, dan selebihnya, 3 kalimat berupa kalimat seruan. Selanjutnya, penggunaan kalimat bentuk dialog berdasarkan bentuk/kategori sintaksisnya terdiri atas kalimat berita, kalimat perintah dan kalimat tanya. Dari 163 kalimat bentuk dialog, sejumlah 73 kalimat termasuk kalimat berita, sedangkan 41 kalimat termasuk kalimat perintah, 49 kalimat bentuk dialog termasuk kalimat tanya.Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan, baik pada kalimat narasi maupun kalimat dialog, kehadiran unsur-unsur inti dalam kalimat pada teks cerpen siswa sudah diperhatikan. Namun, dilihat dari urutan fungsi unsur kalimat, kalimat siswa masih biasa-biasa saja. Karakteristik bahasa sastra yang bebas masih belum nampak karena masih sedikit kalimat berurutan inversi. Penggunaan konjungsi koordinatif maupun subordinatif sudah banyak dimunculkan. Hubungan subordinatif juga dimunculkan dengan perluasan unsur kalimat (S,P,O,Pel,Ket). Namun demikian masih ada ketidaksesuaian penggunaan konjungsi, kata tanya dan partikel penegas. Saran penelitian diberikan kepada pihak berikut. (1) bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti penggunaan unsur-unsur lain dalam kalimat yang masih perlu dieksplorasi, misalnya kesesuaian penggunaan konjungsi dalam kalimat ataupun kesesuaian penggunaan pronomina penanya dalam kalimat siswa. (2) bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melihat penguasaan siswa terhadap materi sintaksis dalam pembelajaran menulis
ALIH KODE BAHASA INDONESIA KE DALAM BAHASA SUMBAWA DALAM PEMAKAIAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASAPENGANTAR PEMBELAJARAN DI SMAN 3 SUMBAWA BESAR, NTB
ABSTRAK Arianti, Titik Rahayu. 2017. Alih Kode Bahasa Indonesia ke Bahasa Dalam Sumbawa dalam Pemakaian Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Pengantar Pembelajaran di SMAN 3 Sumbawa Besar, NTB. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Roekhan, M.Pd. Kata kunci: alih kode bahasa, bahasa Indonesia, pengantar pembelajaran.Masyarakat Sumbawa Besar merupakan masyarakat dwibahasawan, karena mampu menguasai dua bahasa atau lebih dalam berkomunikasi. Guru Kimia, Fisika, dan Matematika yang mengajar pada kelas XI IPA di SMAN 3 Sumbawa Besar merupakan dwibahasawan yang menguasai bahasa Sumbawa sebagai bahasa ibu dan menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang diterapkan dalam proses belajar mengajar di kelas.Penguasaan dua bahasa oleh guru yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Sumbawa mengakibatkan terjadinya peralihan kode bahasa yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Dalam penelitian ini guru beralih kode dari kode bahasa Indonesia ke kode bahasa Sumbawa.Pemakaian dua bahasa berimplikasi terhadap fenomena alih kode. Alih kode yang dilakukan oleh guru Kimia, Fisika, dan Matematika pada kelas XI IPA di SMAN 3 Sumbawa Besar pada saat kegiatan belajar mengajar dikhususkan pada alih kode antara bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan faktor-faktor penyebab alih kodePenelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Data penelitian berupa alih kode percakapan dalam bentuk percakapan yang terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas XI IPA di SMAN 3 Sumbawa Besar dan hasil wawancara terhadap guru Kimia, Fisika, dan Matematika kelas XI IPA di SMAN 3 Sumbawa Besar. Pengumpulan data dilakukan dengan perekaman saat kegiatan belajar mengajar berlangsung di kelas, mentranskrip data yang dilakukan dengan cara menulis kembali hasil perekaman, dan identfkasi data yang dilakukan dengan cara membaca keseluruhan hasil transkrip data. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa alat perekam dan pedoman wawancara.Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, peneliti menemukan bentuk alih kode dalam pembelajaran Kimia, Fisika, dan Matematika kelas XI IPA di SMAN 3 Sumbawa Besar yaitu alih kode dengan kode dasar bahasa Indonesia ke bahasa Sumbawa atau disebut juga alih kode antarbahasa.Kedua, terdapat dua faktor penyebab alih kode, yaitu (1) menghormati lawan tutur dengan tujuan untuk menanyakan sesuatu, dan (2) faktor keaakraban dengan tujuan untuk memerintahkan sesuatu, menanyakan sesuatu, dan memberitahukan sesuatu kepada mitra tutur.Arianti, Titik Rahayu. 2017. Code Switching of Indonesian Into Sumbawa Language in the use of Indonesian as Language of Lesson Introductory at SMAN 3 Sumbawa Besar, NTB. Thesis, Majoring of Indonesian Literature, Faculty of Letters, State University of Malang. Adviser: Dr. Roekhan, M.Pd. Keywords: language code switching, Indonesian language, introductory lessons.Sumbawa Besar people is a bilingual society, because being able to master two or more languages in communication. Teacher of Chemistry, Physics, and Mathematics are teach in class XI IPA at SMAN 3 Sumbawa Besar is a bilingual master Sumbawa language as a mother language and master the Indonesian language as applied communication in teaching and learning in the classroom.The mastery of two languages by teachers, Indonesian and Sumbawa language are resulted language code switching in learning activities in the classroom. In this study, teachers switching codes from indonesian language code to Sumbawa language code.Used of two languages has implications for the phenomenon of code switching. Instead of code done by teachers of Chemistry, Physics and Mathematics in grade XI IPA at SMAN 3 Sumbawa Besar at the time of teaching and learning activities devoted to the language code switching between one language to another. This study aimed to describe the shape and the causal factors of code.This study used a qualitative research design. Research data over the conversation code in the form of conversations that took place in the teaching and learning activities in class XI IPA at SMAN 3 Sumbawa Besar and interviews to teachers of Chemistry, Physics, and Mathematics grade XI IPA at SMAN 3 Sumbawa Besar. The data collection is done by recording during teaching and learning activities in class, transcribing the data is done by rewriting the recording results, and identfkasi data is done by reading the entire transcript data. The instrument used to collect data in the form of a tape recorder and interview guidelines.Based on the analysis, conclusions obtained the following results. First, the researchers found a form of code switching in learning Chemistry, Physics, and Mathematics grade XI IPA at SMAN 3 Sumbawa Besar is rather basic code with Indonesian to Sumbawa or also known as code switching between languages. Secondly, there are two factors that cause over the code, namely (1) respect for opponents said with the intention of asking, and (2) factors intimacy with the aim to govern, ask, and tell something to the hearer
SUDUT PANDANG DAN PENOKOHAN DALAM CERITA PENDEK SISWA KELAS XI IPS 3 SMA NEGERI 9 MALANG TAHUN PELAJARAN 2016/2017
ABSTRAK Cerita pendek merupakan salah satu bentuk prosa fiksi. Cerpen merupakan karangan fiksi singkat, sederhana, dan berisi masalah tunggal yang habis dibaca sekali duduk. Terdapat dua unsur pembangun cerpen, yaitu unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Kedelapan unsur tersebut saling berkaitan sehingga menjalin cerita yang lengkap. Menurut beberapa ahli, sudut pandang dan penokohan merupakan unsur instrinsik yang menarik untuk dikaji. Karena dua unsur instrinsik tersebut mempunyai hubungan, yaitu ketika menetapkan sudut pandang dalam karya cerpennya, penokohan pun berpengaruh pada sudut pandang yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan sudut pandang dan penokohan dalam cerita pendek siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 9 Malang tahun pelajaran 2016/2017.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian kajian teks atau dokumentasi. Data penelitian ini merupakan kutipan teks cerpen yang memenuhi aspek deskripsi tentang sudut pandang dan penokohan dalam cerita pendek siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 9 Malang tahun pelajaran 2016/2017. Sumber data penelitian ini adalah 23 cerpen karya siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 9 Malang tahun pelajaran 2016/2017. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri dan instrumen pendukung yang digunakan adalah tabel analisis. Kegiatan analisis dimulai dari Reduksi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan dalam hal-hal yang penting, Penyajian data adalah tahap di mana peneliti melakukan penyajian data tentang sudut pandang dan penokohan ke dalam bentuk tabel, Penarikan kesimpulan, adalah tahap di mana peneliti mengemukakan kesimpulan dari analisis data yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.Berdasarkan hasil analisis 23 cerpen siswa yang telah dilakukan, terdapat dua sudut pandang yang dominan digunakan dalam karya cerpen siswa kelas XI IPS 3 SMA Negeri 9 Malang. Sudut pandang meliputi sudut pandang orang pertama pelaku utama (8 judul cerpen), sudut pandang orang ketiga terbatas (9 judul cerpen), dan sudut pandang orang pertama pelaku sampingan (6 judul cerpen),Dari hasil analisis 23 cerpen siswa kelas XI IPS 3 ditemukan teknik penokohan yang dominan digunakan, yaitu teknik analitik naratif (23 judul cerpen), teknik analitik berupa deskripsi (7 judul cerpen), teknik dramatik berupa monolog (16 judul cerpen), dan teknik dramatik berupa dialog (13 judul cerpen). Berdasarkan hasil penelitian diberikan saran kepada guru bahasa Indonesia SMA Negeri 9 Malang agar selalu melatih siswa menggunakan sudut pandang dan penokohan yang benar dan mengembangkan ke dalam cerita pendek mengingat siswa pada jenjang sekolah menengah merupakan siswa yang mempunyai daya imajinasi yang tinggi sehingga mereka dapat menuangkan ide dan kreativitasnya ke dalam bentuk tulisan terutama cerita pendek. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan subjek yang sama atau berbeda. Terutama dalam menentukan unsur intrinsik pada cerita pendek
Penggunaan Lagu Anak-Anak dalam Pembelajaran Menulis Cerita Siswa Kelas V SDN Ngaringan 03 Gandusari Blitar
ABSTRAK Latifah, Rizkha Nurul. 2014. Penggunaan Lagu Anak-Anak dalam Pembelajaran Menulis Cerita Siswa Kelas V SDN Ngaringan 03 Gandusari Blitar. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali. M. Pd., (II) Dr. Martutik, M. Pd. Kata Kunci: media pembelajaran, lagu anak-anak, menulis cerita.Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang jarang diminati siswa karena kegiatan menulis identik dengan suatu hal yang membosankan. Oleh sebab itu, diperlukan metode pembelajaran yang mendukung keterampilan menulis. Salah satu pembelajaran dalam keterampilan menulis adalah menulis cerita. Hasil wawancara dengan guru kelas sebagai guru mata pelajaran menunjukkan bahwa dalam pembelajaran menulis cerpen di SDN Ngaringan 03 Gandusari Blitar, siswa mengalami kesulitan dalam menulis. Kesulitan itu bisa digunakan media pembelajaran. Media lagu anak-anak dapat digunakan untuk menghadirkan ide kreatif siswa dalam menulis cerita.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa menulis cerita setelah digunakan lagu anak-anak. Aspek yang dijadikan masalah adalah temuan kata dan kalimat dalam cerita berdasarkan lagu anak-anak, kesesuaian kata dan kalimat dalam cerita berdasarkan lagu anak-anak.Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Populasi penelitian adalah siswa kelas V SDN Ngaringan 03 Gandusari Blitar, dengan sampel kelas VA dan VB. Instrumen yang digunakan, yaitu (1)panduan analisis data, (2) materi, (3) media, serta (4) perintah dan petunjuk menulis cerita.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lagu anak-anak dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa sekolah dasar. Penggunaan lagu anak-anak untuk meningkatkan kemampuan menulis meliputi dua langkah, yaitu mendaftar kata dan kalimat dalam cerita berdasarkan lagu anak-anak sebagai ide cerita dan mendeskripsikan kata dan kalimat dalam cerita berdasarkan lagu anak-anak, Peningkatan kemampuan siswa dengan menggunakan lagu anak-anak dapat dideskripsikan dari dua aspek masalah. Dari kedua aspek tersebut penggunaan lagu anak-anak dapat meningkatkan kemampuan menulis cerita siswa. Saran yang diharapkan peneliti berdasarkan temuan penelitian adalah (1) perlu diadakan penelitian bagi sekolah dengan kondisi serupa, (2) Penggunaan lagu anak-anak dapat digunakan untuk aspek menulis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.dan (3) Penggunaan lagu anak-anak perlu digunakan agar siswa lebih bersemangat dan menyenangkan dalam pembelajaran menulis cerita
Penggunaan Afiks dalam Karangan Mahasiswa Program In Country BIPA Universitas Negeri Malang 2016
ABSTRAK Afiksmerupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena bahasa Indonesia merupakan bahasa dengan sistem tempel atau aglutinasi. Penggunaan afiks tidak dapat dihindari karena berpengaruh padamakna sebuah kata, bahkan kalimat. Penggunaan afiks ditemukan pada karangan mahasiswa Program In Country 2016. Program In Country merupakan kerjasama antara jurusan ASEAN Studies Universitas Walailak dengan BIPA Universitas Negeri Malang.Fokuspenelitian ini adalah bentuk afiks yang digunakan serta ketepatan penggunaan afiks dalam karangan mahasiswa Program In Country 2016.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dan merupakan penelitian analisis teks. Data penelitian berupa bentuk dan ketepatan penggunaan afiks yang terdapat pada karangan sepuluh jurnal harian mahasiswa Program InCountry 2016. Instrumen utama adalah peneliti dibantu tabel pengumpul data. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Analisis data yang dilakukan meliputi proses reduksi data yang mencakup identifikasi, klasifikasi, dan pengodean. Selanjutnya dilakukan penyajian data, penarikan simpulan, dan pengecekan keabsahan temuan.Berdasarkan analisis data, diperoleh dua hasil penelitian. Pertama, bentuk afiks yang digunakan pada karangan mahasiswa Program In Country 2016 mencakup prefiks, sufiks, dan konfiks. Afiks yang digunakan meliputi meN-, ter-, di-, ber-, peN-, se-, -an, ke-an, meN-kan, meN-i, di-i, di-kan, ber-an, peN-an, memper-kan, se-nya,dan per-an.Penggunaan afiks tersebut belum merata jumlahnya, bahkan ada beberapa afiks yang muncul atau digunakan hanya satu kali.Afiks yang paling dominan digunakan adalah prefiks, sementara sufiks merupakan afiks yang paling sedikit digunakan. Kedua, pada karangan mahasiswa ditemukan penggunaan afiks yang tepat dan tidak tepat. Penggunaan afiks yang tepat meliputi meN-, peN-, di-, ber-, se-, ter-, -an, di-kan, ber-an, meN-i, meN-kan, ke-an, di-i, per-an, peN-an, dan se-nya. Penggunaan afiks yang tidak tepat meliputi meN-, peN-, di-, ber-, se-, ter-, -an, di-kan, ber-an, meN-i, meN-kan, ke-an, per-an, peN-an, memper-kan, serta dua bukan kategori afiks, yaitu men-an dan pen-kan.Wujud ketepatan penggunaan afiks tersebut adalah (1) tepat berdasarkan kaidah morfofonemik, (2) tepat berdasarkan fungsi afiks, dan (3) tepat berdasarkan konteks kalimat. Wujud ketidaktepatan tersebut berupa (1) kesalahan penerapan kaidah morfofonemik, (2) kesalahan pemilihan afiks sehingga tidak sesuai dengan konteks dan fungsi afiks, dan (3) bentuk yang dilekatkan pada bentuk dasar bukan merupakan kategori afiks.Afiks yang digunakan banyak mengalami kesalahan terjadi pada prefiks meN-.Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa penguasaan mahasiswa Program In Country 2016 terhadap penggunaan afiks baik mengingat jumlah ketidaktepatan lebih sedikit daripada jumlah ketepatan penggunaan afiks. Namun demikian, mahasiswa perlu belajar lebih mendalam lagi mengingat beberapa afiks yang digunakan masih terbatas jumlahnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, dikemukakan empat saran. Pertama, ditujukan kepada pengajar BIPA, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk membuat materi pada silabus bahasa Indonesia untuk penutur asing dan media pembelajaran sebagai upaya untuk memaksimalkan proses belajar pembelajar dalam memahami materi afiks bahasa Indonesia sehingga kesalahan dapat diminimalkan. Kedua, ditujukan kepada tutor BIPA supaya berperan aktif dalam membantu pemerolehan bahasa kedua di luar kelas, baik dalam situasi formal maupun non-formal, serta mengoreksi kesalahan penggunaan afiks yang terjadi pada mahasiswa BIPA Program In Country. Ketiga, ditujukan kepada pembelajar BIPA supaya menguasai materi afiks dengan baik karena afiks merupakan aspek yang sangat penting, mengingat bahasa Indonesia merupakan bahasa dengan sistem tempel atau aglutinasi. Pembelajar harus segera berkonsultasi dengan pengajar maupun tutor apabila menemui kesulitan. Keempat, ditujukan kepada peneliti lain supaya melakukan penelitian sejenis dengan variabel yang berbeda serta kemampuan level yang berbeda
Tingkat Literasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Malang Berdasarkan Perbedaan Gender
ABSTRAK Erlinda, Jeni. 2017. Tingkat Literasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Malang Berdasarkan Perbedaan Gender. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd. Kata Kunci: literasi, tingkat kemampuan literasi, tingkat literasi berdasarkan perbedaan genderDengan bertambahnya kemajuan ilmu pengetahuan, literasi dianggap suatu hal yang penting dalam menyeimbangkan kemajuan teknologi dan informasi. Literasi adalah rangkaian kemampuan membaca, berpikir, dan menulis yang saling berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperoleh pengetahuan dalam berbagai keperluan. Tingkat literasi adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan rangkaian kemampuan membaca, berpikir, menulis dan memanfaatkannya dengan baik untuk belajar sepanjang hayat baik di rumah, tempat kerja atau di masyarakat. Tingkat literasi perlu diketahui untuk membantu siswa dalam menghadapi tantangan global. Oleh karena itu, tingkat literasi berdasarkan gender perlu dilakukan agar pendidik mengetahui seberapa besar kemampuan literasi yang dimiliki oleh siswa laki-laki dan siswa perempuan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi kemajuan di era globalisasi.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yaitu (1) mendeskripsikan perbedaan kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan merangkum teks, (2) mendeskripsikan perbedaan kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan membandingkan teks dan membahasakan tabel, (3) mendeskripsikan perbedaan kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang pada kegiatan memberikan solusi, (4) mendeskripsikan perbedaan kemampuan literasi siswa laki-laki dan perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang berdasarkan kegiatab membuat tampilan visual, dan (5) mendeskripsikan perbedaan tingkat literasi siswa laki-laki dan prempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang berdasarkan skor total.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif. Data penelitian berupa paparan skor siswa pada setiap kegiatan dan skor total siswa yang diperoleh berdasarkan tes kemampuan literasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes. Kegiatan analisis data dimulai dari tahap pengumpulan data, pemberian skor, dan pengolahan data yang terkumpul dengan mencari skor rata-rata.Berdasarkan paparan hasil penelitian, diperoleh lima simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang dalam mengerjakan tes literasi level rendah yang diukur dengan kegiatan merangkum termasuk dalam kategori baik.Kedua, tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dalam mengerjakan tes membandingkan dua teks dan membahasakan tabel termasuk dalam kategori menengah ke bawah sedangkan kemampuan literasi siswa perempuan dalam mengerjakan tes membandingkan dua teks dan membahasakan tabel termasuk dalam kategori menengah ke atas.Ketiga, tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dalam mengerjakan tes literasi level tinggi yang diukur dengan kegiatan memberikan solusi termasuk dalam kategori kurang sedangkan kemampuan literasi siswa perempuan termasuk dalam kategori menengah ke bawah.Keempat, tidak terdapat perbedaan tingkatkemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan dalam mengerjakan tes literasi level mahir yang diukur dengan kegiatan membuat tampilan visual termasuk dalam kategori kurang.Kelima, tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan kelas VII SMP Negeri 4 Malang berdasarkan skor total, yaitu kemampuan literasi siswa laki-laki berdasarkan skor total tes literasi termasuk dalam kategori menengah ke bawah sedangkan siswa perempuan termasuk dalam kategori menengah ke atas.Berdasarkan simpulan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran untuk pendidik sebagai berikut. Pertama, dengan ada perbedaan tingkat kemampuan literasi antara siswa laki-laki dan perempuan bahwa siswa perempuan lebih unggul dibandingkan siswa laki-laki, guru dapat memberikan perhatian lebih pada siswa laki-laki dalam kegiatan pembelajaran. Dua,guru dapat terus memotivasi siswa perempuan untuk lebih meningkat kemampuan literasi yang dimiliki. Tiga, karena kemampuan memberikan solusi dan membuat tampilan visual masih rendah guru dapat meningkatkan kemampuan tersebut dengan memasukkan kegitan tersebut di sela-sela pembelajaran. Keempat, dengan adanya perbedaan tingkat kemampuan literasi anatara siswa laki-laki dan perempuan guru diharapkan membuat strategi dalam pola mengajar yang nantinya mampu menyamakan tingkat kemampuan literasi siswa laki-laki dan siswa perempuan. ABSTRACTErlinda, Jeni. 2017. Tingkat Literasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 4 Malang Berdasarkan Perbedaan Gender. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd. Keywords: literacy, level of literacy, the literacy rate by gender differencesWith increasing advances in science, literacy is considered an important thing in balancing the advancement of technology and information. Literacy is a series of reading, thinking, and writing are mutually continuous with each other should be used optimally to acquire knowledge in a variety of purposes. The level of literacy is the ability to use a range of reading, thinking, writing and used it well for lifelong learning in the home, the workplace or in the community. The level of literacy needed to know to help students in the face of global challenges. Therefore, the level of literacy by gender needs to be done so that educators know how big the literacy skills possessed by male students and female students to prepare for the progress in the era of globalization.This research was conducted with the aim to describe a few things, namely (1) describe the difference the literacy skills of students male and female class VII SMP Negeri 4 Malang on the activities of summarizing a text, (2) describe the differences in the literacy skills of students male and female class VII SMP Negeri 4 Malang on activities comparing texts and paraphrases table, (3) describe differences in the literacy skills of students male and female class VII SMP Negeri 4 Malang on activities provide a solution, (4) describe the differences in the literacy skills of students male and female class VII SMP Negeri 4 Malang based kegiatab make visual displays, and (5) describe the differences in the literacy rate of male students and prempuan class VII SMP Negeri 4 Malang based on total score.This study uses a quantitative approach with descriptive research design. The research data in the form of exposure to scores of students in each activity and total scores obtained by students literacy skills test. Data was collected using a test technique. Activity data analysis starts from the stage of data collection, scoring, and processing data collected by finding the average score.Based on exposure to research, there are summaries of some aspects of literacy tests. First, differences in the level of literacy of students male and female students of class VII SMP Negeri Malang on text summarizes the activities there is no difference. Boys and girls alike are in either category. The average obtained by the male students, which is 13.9 of the total score 16. Percentage of male student achievement by 86%. While the average obtained by female students, ie 14.9 total score of 16. The percentage of female students achievement by 93%.Second, differences in the level of students' literacy skills of men and women in activities comparing texts and paraphrases the table, that male students are included in the category of lower middle and female students included in the category of upper middle. The average obtained by male students, namely Total score of 11.33 out of 23. The percentage of male student achievement by 49%. The averages obtained by female students, which is 16 out of a total score of 23. The percentage of female students achievement by 69%.Third, differences in the level of students' literacy skills of men and women on the activities of providing solutions, the boys included in the poor category and the literacy skills of female students on the activities of providing solutions, included in the category of lower middle. The average obtained by the male students, which is 8.37. Percentage of male student achievement by 36%. The average obtained by female students, the total score of 11.82 out of 23. The percentage of female students achievement by 51%.Fourth, differences in levels of ability lietrasi boys and girls in activities create visual appearance there is no difference. Boys and girls included in the poor category. The average obtained by the male students, the total score of 3.87 out of 15. The percentage of male students pencapian by 25%. The average obtained by female students, the total score of 4.87 out of 15. The percentage of female students achievement by 32%.Fifth, the literacy rate is based on total scores obtained by students men and women included in the intermediate category. Male students of class VII SMP Negeri 4 Malang included in the middle and lower levels of literacy. It is seen from the average score obtained by male students in working on literacy tests, namely a total score of 47.78 out of 100. For the percentage of male students who fall into the middle category by 50% and were categorized as low as 30% , While female students of class VII SMP Negeri 4 Malang included in the middle to upper levels of literacy. It is seen from the mean score obtained by female students in working on literacy tests, namely a total score of 61.27 out of 100. For the percentage of female students in the category of medium as much as 56.67% and were categorized as high as 33.33%. Based on the research conclusions can be put forward some suggestions for educators as follows. First, with no difference in the level of literacy among boys and girls that girls are superior to boys, teachers can give more attention the male students in learning activities. Two, teachers can continue to motivate female students to further increase the literacy skills possessed. Three, because of the ability to provide solutions and create a visual display is still low teacher can increase the ability to incorporate the activity on the sidelines of learning. Fourth, with the differences in the level of literacy anatara male students and female teachers are expected to make strategies in teaching pattern that will be able to equalize the level of literacy of students male and female students
ProblematikaPengembanganKemampuanLiterasiDasarSiswa SMP di Kota Malang
ABSTRAK Literasidasarmerupakankemampuanberbahasadenganintikegiatanmembaca-berpikir-menulis.Kegiatanliterasimulaidikembangkanolehpemerintahdengan programwajibberupaGerakanLiterasiSekolahatau GLS. Penelitian yang dilakukanoleh PISA padatahun 2006dan 2011 menunjukkanbahwa, kemampuanliterasisiswa Indonesia tergolongrendah. Olehkarenaitu, menguakproblematikapengembangankemampuanliterasidasarsiswadi sekolahakanbergunauntukmengetahuipermasalahan yangmenyebabkanrendahnyakemampuanliterasisiswa. Tujuanpenelitianiniadalahuntukmendeskripsikan (1) sumberproblematikapengembangankemampuanliterasidasarsiswa SMP di Kota Malang, dan (2) wujudproblematikapengembangankemampuanliterasidasarsiswa SMP di Kota Malang. Penelitianinimenggunakanpendekatankualitatifdengandesainpenelitiandeskriptif.Objekpenelitianiniadalahseluruhelemen yang terkaitdalamkegiatanliterasi di sekolah, baik guru, siswa,wargasekolah, lingkungansekolah, dan program kegiatanliterasi di sekolah.Data penelitianberupa datatertulisdanlisan.Instrumen yang digunakanadalah (1) angketpenelitian, (2) pedomanobservasi, dan (3) pedomanwawancara.Teknikpengumpulan data dilakuakandenganmelakukankegiatanmenyebarangket, observasi, danwawancarapadasekolah yang diteliti.Kegiatananalisisdata dilakukandengancara (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) menarikkesimpulan. Berdasarkanhasilanalisis data, diperolehsimpulansebagaiberikut.Terdapatproblematikapengembangankemampuanliterasidasarsiswa SMP di Kota Malang.Pertama, sumberproblematika yang paling menonjoladalahbersumberdari guru.Selaindari guru sumberproblematikajugabersumberdarisiswa, program kegiatanliterasi, danfasilitas.Kedua, wujudproblematika yang paling menonjoladalahtidakterciptanyasusanalingkungansekolah yang literat. Berdasarkansimpulanhasilpenelitian, dapatdikemukakan saran sebagaiberikut.Pertama,guru/pendidikhendaknyadapatmenjalankanperannyasebagai model darikegiatanliterasi di sekolah.Selainitu, siswajugaharusmengikutiaturandarikegiatanliterasi yang telahditetapkansekolah.Kedua,sekolah hendaknyadapatmenciptakansuasanalingkungan yang literatdenganmelengkapifasilitaspenunjangkegiatanliterasidanmengembangkankegiatanliterasisecaramenyeluruh