SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Kemampuan Menulis Cerita Pendek menggunakan Strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah Siswa Kelas XI SMAN 1 Kepanjen
ABSTRAK Vitasari, Rizky Ardika. 2017. Kemampuan Menulis Cerita Pendek menggunakan Strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah Siswa Kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Nita Widiati, M. Pd. Kata Kunci: kemampuan, menulis cerita pendek, unsur intrinsik, strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah Keterampilan menulis cerita pendek merupakan salah satu keterampilan bidang sastra yang diajarkan pada jenjang SMA. Menulis cerita pendek merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang mempunyai peranan penting di dalam kehidupan manusia. Dengan menulis, seseorang dapat menyampaikan ide atau gagasannya kepada orang lain secara tertulis untuk mencapai maksud atau tujuannya. Ketika menulis cerita pendek, siswa mengeksplorasi pengalaman kehidupan dan imajinasinya ke dalam cerita pendek yang ditulis. Hal tersebut berpengaruh pada penciptaan tema, alur, penokohan, sudut pandang, dan diksi yang ditulis oleh siswa. Menulis cerita pendek juga memberi sumbangan dalam pengembangan kemampuan menulis. Siswa dapat mengembangkan kemampuan mengolah kata, kalimat, dan menyusun paragraf. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen dalam menulis cerita pendek menggunakan strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah. Rancangan penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI MIA 6 yang berjumlah 33 siswa dan kelas XI IIS 2 yang berjumlah 20 siswa. Data penelitian ini berupa skor tes menulis cerita pendek menggunakan strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah yang diperoleh siswa kelas XI SMAN 1 Kepanjen. Instrumen penelitian berupa tes dan rubrik penilaian menulis cerita pendek. Untuk memperoleh data yang diperlukan, peneliti memberikan pembelajaran menulis cerita pendek menggunakan strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah dan tes menulis cerita pendek sesuai materi, serta langkah-langkah yang telah diberikan. Indikator yang diteliti dalam penelitian ini meliputi ketepatan tema, ketepatan alur, kesesuaian penokohan, ketepatan sudut pandang, dan ketepatan diksi. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul lalu dinilai berdasarkan rubrik penilaian menulis cerita pendek menggunakan strategi Pembelajaran Penyelesaian Masalah yang menghasilkan skor. Pada penelitian ini, sebelum dilakukan analisis data statistik menggunakan Microsoft excel, peneliti menggunakan tabel yang berisi data dari tes menulis cerita pendek. Peneliti menggunakan Microsoft excel, bukan SPSS karena hanya sebatas melihat rata-rata skor dan presentase siswa yang mendapatkan kualifikasi tertentu. Hasil analisis kemampuan siswa dalam mengembangkan cerita pendek dengan kualifikasi tema sangat baik sebanyak 28 siswa (85%) dari kelas XI MIA 6 dan 18 siswa (90%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 4 siswa (12%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 1 siswa (5%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi cukup sebanyak 1 siswa (3%) dari kelas XI MIA 6 dan 1 siswa (5%) dari kelas XI IIS 2, dan kualifikasi kurang adalah 0%. Kemampuan dalam indikator ketepatan alur dengan kualifikasi sangat baik sebanyak 29 siswa (87.5%) dari kelas XI MIA 6 dan 14 siswa (70%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 3 siswa (9.1%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 1 siswa (20%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi cukup sebanyak 1 siswa (3.0%) dari kelas XI MIA 6 dan 2 siswa (10%) dari kelas XI IIS 2, dan kualifikasi kurang adalah 0%. Kemampuan mengembangkan penokohan dalam cerita pendek dengan kualifikasi sangat baik sebanyak 19 siswa (57.6%) dari kelas XI MIA 6 dan 14 siswa (70%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 14 siswa (42.4%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 6 siswa (30%) dari kelas XI IIS 2, kategori cukup 0%, dan kategori kurang adalah 0%. Kemampuan pemilihan sudut pandang dalam cerita pendek dengan kualifikasi sangat baik sebanyak 25 siswa (75.8%) dari kelas XI MIA 6 dan 17 siswa (85%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 7 siswa (21.2%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 2 siswa (10%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi cukup sebanyak 1 siswa (3.0%) dari kelas XI MIA 6 dan 1 siswa (5%) dari kelas XI IIS 2, dan kualifikasi kurang adalah 0%. Kemampuan pemilihan diksi dalam cerita pendek dengan kualifikasi sangat baik sebanyak 18 siswa (54.5%) dari kelas XI MIA 6 dan 12 siswa (60%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi baik sebanyak 13 siswa (39.4%) dari kelas XI MIA 6 dan sebanyak 7 siswa (35%) dari kelas XI IIS 2, kualifikasi cukup sebanyak 2 siswa (6.1%) dari kelas XI MIA 6 dan 1 siswa (5%) dari kelas XI IIS 2, dan kualifikasi kurang adalah 0%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah skor atau nilai indikator ketepatan tema dengan rata-rata paling tinggi diantara indikator yang lain. Sedangkan skor atau nilai yang paling rendah terdapat pada indikator ketepatan diksi. Hal tersebut dikarenakan tidak semua siswa mampu memunculkan majas yang menjadi syarat diksi dengan skor tertinggi, yaitu 4. Meskipun indikator diksi mendapat rata-rata paling rendah, tidak berarti siswa tersebut tidak mampu memunculkan majas, hanya karena waktu yang diberikan tidaklah banyak dan siswa pun mempunyai tugas yang lain. Jadi, siswa menonjolkan indikator-indikator yang ia ingat dan mengakibatkan ada salah satu indikator yang kurang tuntas. Informasi yang diperoleh dari hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan guru untuk merancang bahan dan strategi yang sesuai dengan kondisi siswa, serta dapat memberikan perhatian lebih terhadap siswa yang belum mampu terutama dalam pembelajaran menulis cerita pendek. Selain itu, informasi dari hasil penelitian ini juga dapat memacu semangat guru untuk meningkatkan kemampuan menulis cerita pendek dengan berbagai sumber ide dan media pembelajaran. Hasil penelitian ini dapat digunakan siswa untuk memacu semangat dalam meningkatkan nilainya. Saran bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan selanjutnya untuk meneliti lebih lanjut mengenai kemampuan menulis cerita pendek dengan macam-macam sumber ide dan media pembelajaran
Pengembangan Video Pembelajaran Menelaah Unsur Kebahasaan Teks Puisi untuk Siswa Kelas VIII SMP
ABSTRAK Batita, Ruri Hindaya. 2017. Pengembangan Video Pembelajaran Menelaah Unsur Kebahasaan Teks Puisi untuk Siswa Kelas VIII SMP. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Dr. Dawud, M.Pd. Kata kunci: video pembelajaran, menelaah unsur kebahasaan, teks puisi Video pembelajaran merupakan bahan ajar noncetak dalam format audio-visual berisi informasi pembelajaran yang membantu siswa dapat memahami materi secara langsung. Video pembelajaran dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran seperti pembelajaran menelaah unsur kebahasaan teks puisi. Menelaah unsur kebahasaan teks puisi merupakan salah satu kompetensi dasar pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII SMP berdasarkan Kurikulum 2013 Edisi Revisi. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan video pembelajaran menelaah unsur kebahasaan teks puisi yang layak dari aspek isi (materi), tampilan, dan bahasa serta menguji kelayakan dan ketergunaan video tersebut dalam pembelajaran. Model penelitian pengembangan video pembelajaran unsur kebahasaan teks puisi mengadaptasi model penelitian Sadiman. Subjek coba pada penelitian pengembangan yaitu ahli materi puisi, ahli media pembelajaran, ahli praktisi atau guru bahasa Indonesia, dan kelompok siswa. Subjek coba bertugas untuk memberikan penilaian terhadap kelayakan dan ketergunaan video. Data pada penelitian ini berupa jawaban verbal atas pertanyaan wawancara dan angket, serta data angka atas penilaian angket dan tes hasil belajar. Penelitian pengembangan video pembelajaran unsur bahasa teks puisi ini menggunakan instrumen berupa pedoman wawancara, angket, dan tes hasil belajar. Analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif dengan mencermati data verbal dan analisis kuantitatif dengan menghitung banyaknya skor jawaban dalam satu item pertanyaan angket serta perhitungan tes hasil belajar. Prosedur penelitian pengembangan video pembelajaran ini memiliki sembilan tahapan yaitu, (1) mengidentifikasi kebutuhan, (2) merumuskan tujuan, materi, dan alat ukur keberhasilan pembelajaran dan produk, (3) menulis naskah video, (4) memproduksi video pembelajaran, (5) mengembangkan petunjuk pemanfaatan video, (6) melakukan uji ahli atau validasi yang menghasilkan data video pembelajaran ini layak dari segi isi (materi), tampilan, dan bahasa yang termuat di dalamnya (7) melakukan uji coba produk secara terbatas pada pembelajaran untuk menguji ketergunaan produk dengan hasil 92% siswa mampu lulus KKM atau video dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran, (8) melakukan revisi sesuai dengan tanggapan, komentar, dan saran dari validator, dan (9) memproduksi video akhir hasil revisi. Video pembelajaran yang telah direvisi selanjutnya dikemas dalam bentuk VCD/DVD untuk disebarluaskan dan digunakan dalam pembelajaran. Penelitian pengembangan ini menghasilkan sebuah video pembelajaran menelaah unsur kebahasaan teks puisi yang didasarkan pada kompetensi dasar 3.8 menelaah unsur-unsur pembangun teks puisi. Video pembelajaran ini memuat materi pengertian puisi, karakteristik bahasa puisi, unsur kebahasaan puisi, dan langkah-langkah menelaah puisi. Pada masing-masing materi yang disampaikan dilengkapi dengan analisis contoh yang dapat membuat siswa mudah memahami konsep. Materi utama pada video pembelajaran ini ialah unsur kebahaan teks puisi. Unsur kebahasaan tersebut meliputi rima, diksi, citraan, majas, dan tipografi. Tujuan pembelajaran dengan menggunakan video pembelajaran ini ialah siswa mampu melakukan telaah terhadap unsur kebahasaan puisi yang meraka baca. Video pembelajaran ini merupakan kombinasi aspek visual dan audio. Video pembelajaran ini memiliki konsep tampilan perpaduan antara video riil dan video animasi dengan perbandingan 30:70. Video pembelajaran ini dibuat dengan memanfaatkan aplikasi Adobe After Effect dan Adobe Premiere Pro yakni software yang memungkinkan mengerjakan pengolahan video dengan berbagai animasi. Video pembelajaran ini dibagi atas tiga bagian, bagian pembuka, bagian inti, dan bagian penutup. Bagian pembuka merupakan video riil yang berisi pengantar pembelajaran. Bagian inti dibagi atas tujuan pembelajaran, pokok materi bahasan, pembahasan materi, dan refleksi. Bagian inti ditampilkan dengan konsep animasi, yakni pada background dan tulisan materi yang mendukung audio. Bagian penutup berisi video klip musikalisasi puisi yang digunakan sebagai musik pengiring siswa mengejakan LKS serta credit title video. Video pembelajaran unsur kebahasaan teks puisi ini dikembangkan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia serta memperhatikan aspek kemenarikan penyampaian. Penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah baik tulis maupun lisan disesuaikan dengan konsep sebuah video pembelajaran yang harus menyampaikan materi dengan jelas dan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Video pembelajaran ini telah layak dari aspek materi, tampilan, dan bahasanya. Video pembelajaran ini juga dapat digunakan sebagai salah satu alternatif sumber belajar siswa. Melalui penelitian dan pengembangan video pembelajaran ini diharapkan (1) guru mampu memberikan variasi penyampaian materi dalam pembelajaran salah satunya dengan menggunakan video pembelajaran, (2) siswa dapat belajar secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar selain buku dan guru, (3) adanya pengembangan produk berbasis video sebagai penyempurnaan video pembelajaran yang telah dikembangkan baik dari segi materi, tampilan, maupun bahasanya
Nilai Kemanusiaan dalam Feature Harian Kompas Edisi Januari 2017
Mustofa, Chairul. 2017. Nilai Kemanusiaan dalam Feature Harian Kompas Edisi Januari 2017. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakuktas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. Djoko Saryono, M. Pd, (II) Dr. Nita Widiati, M. Pd. Kata Kunci: nilai kemanusiaan, representasi, feature Nilai kemanusiaan merupakan nilai yang berkenaan dengan pribadi manusia. Nilai kemanusiaan berkenaan dengan harkat dan martabat manusia. Adapun manusia dengan dirinya sendiri, dengan manusia lain, dengan lingkungan, dan manusia dengan Tuhan. Nilai-nilai kemanusiaan menghendaki masyarakat memiliki sikap dan perilaku sebagai layaknya manusia dan tidak menyukai sikap dan perilaku yang sifatnya merendahkan manusia lain. Menanamkan nilai kemanusiaan dapat dilakukan dalam bentuk apa pun. Bahkan untuk mendapatkan pelajaran mengenai nilai kemanusiaan dapat ditemukan dalam bentuk media apa pun. Salah satu media yang menanamkan nilai kemanusiaan ialah feature. Feature termasuk karya jurnalisitik yang bersifat mudah dipahami dan menarik. Teknik penyampaian feature melibatkan unsur sastra. Oleh karena itu, nilai-nilai kemanusiaan dapat dengan mudah didapati pada feature. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan nilai-nilai kemanusiaan dan representasinya dalam feature harian Kompas edisi Januari 2017. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Sumber datanya ialah 12 naskah feature harian Kompas edisi Januari 2017. Instrumen pengumpulan data meliputi pedoman analisis dokumen. Teknik pengumpulan datanya ialah telaah dokumen. Wujud data yang menjadi bahan penelitian terbagi atas dua jenis, yaitu teks kutipan yang memuat nilai kemanusiaan dan teks kutipan yang menunjukkan representasi nilai kemanusiaan. Tahap analisis data yang dilakukan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan menjadi dua bagian. Pertama, nilai-nilai kemanusiaan pada feature harian Kompas edisi Januari 2017 ditemukan 14 jenis nilai. Setiap edisi feature tidak selalu memuat satu jenis nilai kemanusiaan. Nilai kemanusiaan yang sering dimuat ialah nilai kebaikan yang ditemukan pada 4 feature. Selanjutnya yang termuat pada 3 feature ialah nilai keutuhan, kesempurnaan, gairah, dan upaya. Kemudian yang termuat dalam 2 feature ialah nilai penyelesaian, kekayaan, kesederhanaan, keunikan, sukacita, kebenaran, dan swasembada. Terakhir yang termuat dalam 1 feature ialah nilai keadilan dan keindahan.Kedua, strategi representasi nilai kemanusiaan pada feature harian Kompas edisi Januari 2017 menggunakan dialog dan lakuan atau tindakan tokoh. representasi tersebut merupakan indeks yang penanda dan petandanya menunjukkan adanya hubungan alamiah yang bersifat sebab-akibat. Pada penelitian ini, representasi nilai-nilai kemanusiaan didominasi dengan representasi lakuan atau tindakan dengan ditemukan pada 11 feature. Kemudian, representasi menggunakan dialog tokoh ditemukan pada 6 feature.
Karakteristik Berita Investigasi Karya Siswa Ekstrakurikuler Jurnalistik Sman 5 Kediri dengan Latar Umur dan Kondisi Motivasi Berbeda
ABSTRAK Yudha, Alif Chairul. 2017. Karakteristik Berita Investigasi Karya Siswa Ekstrakurikuler Jurnalistik Sman 5 Kediri dengan Latar Umur dan Kondisi Motivasi Berbeda. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd., (II) Dr. Nurchasanah, M.Pd. Kata kunci: kondisi motivasi, umur, berita investigasi Hal yang melatarbelakangi ditelitinya hasil tulisan berita investigasi siswa ekstrakurikuler jurnalistik SMAN 5 Kediri karena dalam penulisan berita banyak siswa yang tidak berpikir kritis. Siswa dalam menulis berita hanya sekadar untuk menghilangkan kewajibannya dalam menulis berita. Terlebih lagi siswa juga dikejar batas waktu, sehingga siswa malas untuk mencari sumber berita. Proses berpikir kritis dibutuhkan siswa untuk menulis berita khususnya berita investigasi. Proses berpikir kritis siswa dalam menulis berita investigasi dapat dilihat melalui kondisi motivasi, umur dan tulisan tersebut disesuaikan dengan ciri berita invrstigasi. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan hasil tulisan berita investigasi siswa dengan latar umur dan kondisi motivasi yang berbeda. Masalah yang diteliti meliputi faktor berpikir kritis dan ciri berita investigasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan bersifat deskriptif. Data penelitian berupa data utamadan data sekunder. Data utama yaitu tulisan berita investigasi. Data utama diperoleh dari responden, yaitu siswa SMAN 5 Kediri yang mengikuti ekstrakurikuler jurnalistik. Data sekunder yaitu hasil wawancara (rekaman) yang diperoleh dari wawancara dengan siswa yang menulis berita investigasi. Subyek penelitian ini adalah siswa ekstrakurikuler jurnalistik SMAN 5 kediri. Dalam hal ini, peneliti bertugas sebagai perencana, pelaksana pengumpulan data di lapangan, dan beperan pula sebagai pelapor hasil penelitian. Lokasi penelitian bertempat di SMAN 5 Kediri. Tahap pengumpulan data yang digunakan adalah (1) observasi. (2) wawancara. (3) studi tes pemberian tugas menulis. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yakni indentifikasi, kategorisasi, dan sintesisasi. Hasil analisis dari penelitian ini adalah karakteristik berita investigasi siswa dilihat dari latar umur, kondisi motivasi dan bentuk tulisan berita investigasi. Kondisi motivasi siswa dapat dilihat dari dua bagian: motivasi, berdasarkan temuan, motivasi siswa dapat dilihat melalui: pertama, 1) motivasi intrinsik dan 2) ekstrinsik. Dengan kata lain, mereka yang termasuk pada motivasi intrinsik bisa berpikir kritis melalui motivasinya atas kesadaran diri sendiri. Sedangkan siswa yang termasuk pada motivasi ekstrinsik dapat diartikan siswa tersebut belum mampu mengembangkan intelektual karena masih butuh dorongan dari luar. Kedua, perkembangan intelektual siswa. Pada aspek perkembangan intelektual yang berfokus pada berpikir logis dan umur. Terdapat siswa yang mampu berpikir logis dan terdapat pula siswa yang tidak mampu berpikir logis. Hal itu diwujudkan melalui hasil wawancara yang telah diajukan peneliti. Berdasarkan indikator berpikir logis, Siswa yang termasuk dan tidak termasukakan berpengaruh pada penulisan berita investigasi. Ketiga,ciri-ciri berita investigasi yaitu 1)menemukan fakta baru, yang diwujudkan melalui menentukan fakta utama dan fakta sekunder. Keseluruhan siswa ekstrakurikuler jurnalistik mampu menentukan fakta utama dan fakta sekunder tersebut. 2) bentuk laporan diwujudkan melalui a) observasi, hal itu dapat dilihat dari tulisan berita yang menggunakan observasi dalam tulisan beritanya, b) wawancara, yang dilihat dari penggunaan wawancara dalam penulisan berita investigasi. c) sumberlain, yang dilihat dari penggunaan sumber lain sebagai bahan pada berita investigasi. 3) metode investigasi, diwujudkan melalui human trail dan material trail. Keempat, perbedaan berita nvestigasi karya siswa berdasarkan latar umur dan kondisi berbeda dilihat dari kesesuaian motivasi intrinsic maupun ekstrinsik. Dengan umur dan hasil tulisan berita siswa. (1) siswa berumur 16 tahun melalui motivasi intrinsik pada karya berita investigasi lengkap, (2) siswa berumur 16 tahun melalui motivasi intrinsik pada karya berita investigasi tidak lengkap, (3) siswa berumur 15 tahun melalui motivasi intrinsik pada karya berita investigasi lengkap. (4) siswa berumur 16 tahun melalui motivasi ekstrinsik pada karya berita investigasi tidak lengkap
PRINSIP KESANTUNAN LEECH DALAM FILM TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK
ABSTRAK Firdaus, Nafis Helmi. 2017. Prinsip Kesantunan Leech dalam Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia. FakultasSastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Dwi Saksomo, M. Si. Kata Kunci: pragmatik, kesantunan, bentuk prinsip kesantunan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijckmerupakan film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Buya Hamka dan disutradarai oleh Sunil Soraya. FilmTenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini memiliki banyak nilai kehidupan terutama pada nilai kesantunan. Film ini memiliki latar tahun 90-an yang menggambarkan adat istiadat yang masih sangat kental. Dengan demikian, penggunaan sopan santun dalam cerita sering dijumpai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk prinsip kesantunan yang meliputi maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan dan maksim simpati dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan pragmatik. Sumber data yang digunakan adalah film Tenggelamnya Kapal Van Der wijck. Data dalam penelitian ini adalah tuturan yang mengandung prinsip kesantunan yang meliputi maksim kearifan, maksim kedermawanan, maksim pujian, maksim kerendahan hati, maksim kesepakatan, dan maksim simpati. Instrumen kunci dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri karena peneliti merupakan alat pengumpul data dengan pedoman analisis. Analisis data dilakukan dengan mentranskip data, mengidentifikasi dan menglasifikasi data, pengodean data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini dipaparkan sebagai berikut. Pertama, bentuk maksim kearifan yang berusaha memaksimalkan keuntungan orang lain dalam filmTenggelamnya Kapal Van Der wijck ditemukan dua bentuk, yakni bentuk tuturan imposif dan bentuk tuturan komisif. Bentuk tuturan imposif bertujuan untuk menyatakan perintah atau suruhan sedangkan bentuk tuturan komisif bertujuan untuk menyatakan janji atau penawaran. Bentuk maksim kearifan yang paling dominan adalah bentuk tuturan imposif. Hal tersebut karena beberapa tokoh yang melaksanakan maksim kearifan banyak menggunakan perintah atau suruhan dibandingkan dengan memberi janji atau penawaran.Pilihan kata yang santun yang paling dominan pada maksim ini adalah kata sapaan, yakni nama diri dan kata yang tergolong istilah kekerabatan seperti encik, engku, atau abang. Kedua, bentuk maksim kedermawanan yang berusaha memaksimalkan pengorbanan pada diri sendiri dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der wijck ditemukan dua bentuk, yakni bentuk tuturan imposif dan bentuk tuturan komisif. Bentuk tuturan imposif bertujuan untuk menyatakan perintah atau suruhan sedangkan bentuk tuturan komisif bertujuan untuk menyatakan janji atau penawaran. Bentuk maksim kearifan yang paling banyak dilakukan adalah bentuk tuturan komisif. Hal tersebut karena tokoh-tokoh yang melaksanakan maksim kedermawanan banyak menggunakan janji dan penawaran dalam tuturannya dibandingkan dengan memberi perintah atau suruhan.Pilihan kata yang santun yang paling dominan pada maksim ini adalah kata sapaan, yakni nama diri, kata yang tergolong istilah kekerabatan dan gelar kepangkatan seperti dokter, guru, dan sebagainya. Ketiga, bentuk maksim pujian yang berusaha memaksimalkan penghormatan atau penghargaan pada orang lain dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der wijck ditemukan dua bentuk, yakni bentuk tuturan ekspresif dan asertif. Bentuk tuturan ekspresif bertujuan untuk menyatakan sikap psikologi pembicara terhadap suatu keadaan sedangkan bentuk tuturan asertif bertujuan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan. Bentuk maksin pujian yang paling dominan adalah bentuk tuturan ekspresif. Hal tersebut dikarenakan beberapa tokoh dalam tuturannya banyak menggunakan pernyataan kegembiraam, kesenangan, kekaguman dan sebagainya.Pilihan kata yang santun yang paling dominan pada maksim ini adalah kata sapaan, yakni nama diri dan kata yang tergolong istilah kekrabatan seperti encik, engku, atau abang. Keempat, bentuk maksim kerendahan hati yang berusaha mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der wijck ditemukan dua bentuk, yakni bentuk tuturan ekspresif dan asertif. Bentuk tuturan ekspresif bertujuan untuk menyatakan sikap psikologi pembicara terhadap suatu keadaan sedangkan bentuk tuturan asertif bertujuan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan. Bentuk maksim kerendahan hati yang paling banyak dilakukan adalah bentuk tuturan asertif. Hal tersebut karena beberapa tokoh dalam tuturannya banyak ditemui tuturang tentang pernyataan suatu fakta, penjelasam, pendeskripsian dan sebagainya.Pilihan kata yang santun yang paling dominan pada maksim ini adalah kata sapaan, yakni nama diri dan kata yang tergolong istilah kekrabatan seperti encik, engku, atau abang. Kelima, bentuk maksim kesepakatan yang berusaha memaksimalkan kecocokan antarpenutur dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der wijck hanya memiliki satu bentuk yaitu bentuk tuturan asertif. Bentuk tuturan asertif bertujuan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan.Pilihan kata yang santun yang paling dominan pada maksim ini adalah kata sapaan, yakni nama diri dan kata yang tergolong istilah kekrabatan seperti encik, engku, atau abang. Keenam, bentuk maksim simpati yang berusaha memaksimalkan rasa simpati antarpenutur dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der wijck hanya memiliki satu bentuk yaitu bentuk tuturan asertif. Bentuk tuturan asertif bertujuan untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan.Pilihan kata yang santun yang paling dominan pada maksim ini adalah kata sapaan, yakni nama diri, kata yang tergolong istilah kekerabatan dan gelar kepangkatan seperti dokter, guru, dan sebagainya. Berdasarkan simpulan di atas, disarankan dua haldalampenelitianini. Bagi pendidik, penelitian ini dapat digunakan sebagai refleksi bagi para pendidik untuk mengajarkan siswanya dalam berbahasa secara santun, menambah pengetahuan bagi pendidik dan menjadi penunjang pengajwaran bahasa.Bagi peneliti selanjutnya, penelitian prinsip kesantunan dalam film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ini dapat dijadikan sebagai inspirasi dan referensi penelitian mengenai prinsip kesantunan maupun bahan perbandingan untuk landasan kajian penelitian sejenis selanjutnya.
RAGAM PERTANYAAN ESAI DENGAN RAGAM JAWABAN SISWA DALAM TES ESAI MATAPELAJARAN BAHASA INDONESIA
ABSTRAK Tujuan penelitian ini mendeskripsikan mengenai (1) Ragam isi pertanyaan esai dan jawaban siswa dan (2) ragam tingkat kognisi pertanyaan esai dan jawaban siswa. Hasil penelitian adalah (1) ragam pertanyaan dan ragam jawaban siswa saling berkaitan. Isi jawaban siswa sesuai dengan kejelasan pertanyaan dan daya tangkap siswa mengenai maksud pertanyaan. Jawaban siswa cenderung memiliki atribut tambahan atau sering disebut jawaban tambahan atau jawaban siswa kurang lengkap. (2) proses kognitif yag sering muncul dalam ragam pertanyaan dan jawaban siswa adalah proses kognitif mengingat dengan dimensi pengetahuan faktual dan prosedural, proses kognitif memahami dengan dimensi pengetahuan konseptual, dan proses kognitif menganalisis dengan dimensi pengetahuan konseptual
RAGAM PERTANYAAN ESAI DENGAN RAGAM JAWABAN SISWA DALAM TES ESAI MATAPELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 TUREN
ABSTRAK Hastinaningrum, Niken H. 2017. Ragam Pertanyaan Esai Dengan Ragam Jawaban Siswa Dalam Tes Esai Matapelajaran Bahasa Indonesia Di Sma Negeri 1 Turen. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Sunaryo HS., S.H. M.Hum. Kata kunci: ragam, pertanyaan, jawaban, kognitif, dimensi pengetahuan Pertanyaan merupakan suatu hal yang tidak dapat dilepaskan dari kegiatan belajar mengajar. Pertanyaan esai adalah pertanyaan yang sering dijumpai dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia. Sebuah pertanyaan selalu memerlukan jawaban yang sesuai. Dalam kurun waktu terakhir ini para peneliti hanya meneliti mengenai pertanyaannya saja, tanpa mengaitkannya dengan jawaban siswa. Berkaitan dengan itu, maka diperlukan pembahasan mengenai ragam pertanyaan esai guru dan jawaban siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan menjabarkan beberapa hal, yaitu ragam bentuk pertanyaan esai guru dengan ragam jawaban siswa. ragam pertanyaan ini dibagi menjadi dua, yaitu ragam isi dan ragam berdasarkan kategori kognitif mengingat, memahami, dan menganalisis. Selain kategori kognitif, pertanyaan dan jawaban juga dilihat dari dimensi pengetahuan yang digunakan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrument kunci. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah telaah teks. Data penelitian ini berupa naskah pertanyaan esai guru dan jawaban siswa. Penentuan keabsahan temuan dilakukan dengan perpanjangan telaah teks dan diskusi dengan dosen pembimbing serta teman sejawat. Berdasarkan hasil temuan, isi pertanyaan menentukan isi jawaban. Ketidakjelasan pertanyaan mengakibatkan jawaban yang diperoleh tidak tepat. Banyak jawaban yang mendapatkan jawaban tambahan sebagai pembenaran. Terdapat tiga kesimpulan pokok mengenai ragam pertanyaan dan ragam jawaban. Ketiga kesimpulan tersebut memiliki tiga bentuk jawaban, yaitu pertama, pertanyaan mengingat yang sering muncul adalah pertanyaan perihal yang memunculkan dua bentuk jawaban, yaitu jawaban yang mengjelaskan pegertian dan jawaban yang menyertakan contoh sebagai pelengkap. Jawaban yang muncul untuk pertanyaan menguraikan ada empat, yaitu jawaban yang hanya menguraikan dengan bahasanya sendiri, jawaban yang menyertakan proses gramatiknya, jawaban yang menyertakan proses gramatik dan contohnya, serta jawaban mengurakan dan contohnya. Pertanyaan mengingat dengan dimensi pengetahuan procedural yang muncul berupa pertanyaan menyebutkan langkah-langkah. Jawaban pertanyaan tersebut memiliki dua bentuk, yaitu jawaban lengkap dan jawaban tidak lengkap. Ragam pertanyaan berdasarkan proses kognitif memahami dengan dimensi pengetahuan konseptual yang sering muncul adalah pertanyaan meminta contoh. Pertanyaan meminta contoh yang disertai penjelasan memiliki empat bentuk jawaban yang muncul. Keempat jawaban tersebut adalah jawaban yang hanya memberikan satu contoh namun sudah dapat menjelaskan semua teori, jawaban yang hanya memberi contoh pada masing-masing teori, jawaban memberi contoh dengan menjelaskan maksud/pengertian dari contoh, dan jawaban yang memberikan contoh dan penjelasan pada masing-masing teori. Pertanyaan kedua yang muncul adalah pertanyaan meminta contoh saja. Jawaban yang muncul memiliki tiga bentuk jawaban, yaitu jawaban memberi contoh dan pengertian teori, jawaban memberi contoh dan maksud dari contoh tersebut, serta jawaban yang hanya memberikan contoh pada masing-masing teori. Jawaban terminologi erat hubungannya dengan jawaban memberikan contoh. Siswa cenderung memberikan contoh pada pertanyaan terminologi dan menyertakan pengertian pada pertanyaan meminta contoh. Ragam pertanyaan berdasarkan proses kognitif menganalisis dengan dimensi pengetahuan konseptual Pertanyaan yang muncul meminta siswa menunjukkan sebuah fakta atau kebenaran yang mendasari sebuah pendapat. Ada dua fakta yang dapat dibuktikan. Pertanyaan ini memunculkan tiga jawaban, yaitu jawaban menjelaskan makna kata, jawaban yang merujuk pada jawaban lain, dan jawaban memberi fakta
Kemampuan Menceritakan Kembali Isi Teks Cerita Rakyat di Lingkungan Setempat yang Dibaca Siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Probolinggo
ABSTRAK Kurniawati, Aulia. 2017. Kemampuan Menceritakan Kembali Isi Teks Cerita Rakyat di Lingkungan Setempat yang Dibaca Siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Probolinggo. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Pembimbing: Prof. Dr. Heri Suwignyo, M Pd. Kata Kunci: kemampuan menceritakan kembali isi teks cerita rakyat Penelitian dalam skripsi ini dilatarbelakangi oleh adanya pembelajaran membaca cerita rakyat di kelas VII SMP/MTs semester gasal. Kompetensi dasar yang digunakan adalah Kompetensi Dasar 4.11 yaitu “menceritakan kembali isi teks cerita rakyat (fabel/legenda) di lingkungan setempat yang dibaca/didengar”. Adanya kompetensi dasar 4.11 tersebut menuntut guru untuk mengajarkan siswa pembelajaran tersebut hingga siswa mampu dalam menceritakan kembali dengan baik dan memperoleh hasil tes di atas nilai standard kriteria ketuntasan minimal. Namun, pada kenyataanya guru Bahasa Indonesia kelas VII SMP Taman Dewasa Probolinggo masih kurang yakin dengan perolehan nilai siswa dalam pembelajaran menceritakan kembali karena siswa masih kurang percaya diri dalam kegiatan bercerita maupun berbicara lainnya. Sebagian besar siswa masih malu-malu dan kurang berani menyampaikan isi cerita di depan siswa lainnya maupun guru. Siswa juga seringkali mengeluh dan mengalami kesulitan dalam bercerita. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan menceritakan kembali isi teks cerita rakyat yang dibaca siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Probolinggo dilihat dari aspek kebahasaan maupun nonkebahasaan. Penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitian deskriptif kuantitatif bertujuan untuk mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis yang juga menggunakan angka. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII A dan VII B SMP Taman Dewasa Probolinggo. Penelitian ini dilakukan Senin 19 Desember 2016 karena pada dua kelas tersebut mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia di hari yang sama. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik penugasan berupa tes performance/praktik, selanjutnya hasil tes siswa yang berupa data mentah dianalisis menggunakan teknik statistik sederhana. Hal ini bertujuan untuk mencari tingkat penguasaan rata-rata setiap aspek yang ditentukan dan tingkat penguasaan rata-rata keseluruhan aspek yang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa kemampuan siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Probolinggo menceritakan kembali cerita rakyat di lingkungan setempat yang telah dibaca tergolong kurang. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Probolinggo secara umum, yaitu 50 dan ini berada pada kategori kurang (0-59). Dilihat dari segi persentase, siswa memperoleh nilai pada kategori sangat baik sebanyak 1 orang atau 1,2%, kategori baik sebanyak 6 orang atau 7,4%, kategori cukup sebanyak 14 atau 17,3%, dan kategori kurang sebanyak 60 atau 74,1%. Ketidakmampuan siswa kelas VII SMP Taman Dewasa Probolinggo menceritakan kembali cerita rakyat yang telah dibaca secara khusus dapat dilihat dari hasil pada aspek kebahasaan maupun nonkebahasaan. Nilai rata-rata untuk aspek kebahasaan adalah 50,3 dan nilai rata-rata untuk aspek nonkebahasaan adalah 52,6. Kedua nilai tersebut berdasarkan tabel kualifikasi nilai termasuk dalam kategori kurang mampu. Saran yang diberikan untuk mengatasi beberapa kendala tersebut yaitu bagi guru hendaknya melakukan penelitian tindakan kelas guna memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran, dan mencobakan hal-hal baru pembelajaran demi peningkatan mutu dan hasil pembelajaran sehingga merangsang pikiran, perhatian, dan minat siswa, bagi siswa hendaknya lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran dan dianjurkan untuk lebih sering berlatih berbicara khususnya bercerita sehingga dapat terampil dalam bercerita, bagi sekolah hendaknya menyediakan dan melengkapi media pembelajaran untuk guru sebagai penunjang kegiatan pembelajaran di kelas sehingga kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih maksimal dan menyenangkan bagi siswa, dan bagi orang tua disarankan untuk memberikan stimulasi dengan membiasakan mengajak anak bercerita dan memberikan waktu yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak
KAJIAN NILAI MORAL SOSIAL DALAM SERAT WULANG REH SEBAGAI BAHAN AJAR SISWA KELAS VII SMP MALANG
ABSTRAK Afia, Umu Nur. 2017. Kajian Nilai Moral Sosial dalam Serat Wulang Reh sebagai Bahan Ajar Siswa Kelas VII SMP Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali M.Pd. Kata Kunci: nilai moral sosial, macapat, Serat Wulang Reh Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan wujud-wujud nilai moral sosial yang terkandung dalam tembang macapat untuk diinternalisasikan kepada siswa kelas VII SMP. Tembang macapat merupakan penggolongan dari kesusastraan tulis yang memiliki banyak jenis. Tembang macapat pada penelitian ini diambil dari Serat Wulang Reh. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini berupa nilai moral dengan wujud kata-kata yang menunjukkan nilai moral sosial dalam tembang macapat. Sumber data penelitian ini adalah tembang yang terdapat dalam Serat Wulang Reh. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Teknik analisis data meliputi tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Supaya diperoleh temuan yang dapat dipercaya keabsahannya, maka peneliti perlu meninjau kembali kredibilitas data yang telah diperoleh menggunakan teknik pemeriksaan keabsahan data berupa ketekunan pengamatan. Tahapan penelitian terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, penyelesaian. Hasil penelitian meliputi, wujud nilai moral sosial berdasarkan hubungan manusia dengan manusia yang terkandung dalam tembang macapat yang ada pada Serat Wulang Reh meliputi, (a) jujur ditemukan pada tembang gambuh khususnya pada bait kedua dan keenam belas, (b) kerja keras ditemukan pada tembang kinanthi bait pertama, durma bait pertama, dan sinom bait ketujuh belas, (c) sopan ditemukan pada tembang kinanthi bait kedelapan, pangkur bait pertama dan ketujuh, maskumambang bait kelima, durma bait ketujuh, wirangrong bait pertama dan keenam, pucung bait ketiga belas, mijil bait pertama, dan girisa bait ketujuh, (d) sabar ditemukan pada tembang durma bait pertama, wirangrong bait keenam, mijil bait pertama, dan sinom bait ketujuh belas, (e) adil ditemukan pada tembang pucung khususnya pada bait ketujuh dan kedelapan, (f) patuh pada peraturan sosial terdapat pada tembang pangkur khususnya pada bait pertama, (g) bertanggungjawab terdapat pada tembang kinanthi bait kedua, pangkur bait pertama, maskumambang bait kelima, wirangrong bait keenam, pucung bait kedelapan, mijil bait pertama, dan asmaradana bait kedua puluh dua. Nilai moral sosial berdasarkan hubungan manusia dengan alam juga ditemukan pada tembang-tembang tersebut. Selain itu, pada penelitian ini ditemukan 21 bait tembang yang sesuai digunakan sebagai bahan ajar
Kosakata dan Istilah pada bacaan Bertema dalam Buku teks Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas X SMA
ABSTRAK Pramesti, Dini Setyawidi. 2017.Kosakata dan Istilah pada Bacaan Bertema dalamBuku Teks Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas X SMA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd. Kata Kunci: kosakata, istilah, bacaan Pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan genre pedagogi yang memiliki 4 prosedur.Prosedur pembelajaran bahasa Indonesia ini diwadahi dalam buku teks yang memiliki empat bagian pula, yakni (1) membangun konteks, (2) pemodelan dan dekontruksi, (3) prakontruksi, dan (4) kontruksi. Buku teks pelajaran bahasa Indonesia yang berpedoman pada kurikulum 2013 akan memiliki 4 bagian tersebut. Setiap buku teks pelajaran mengandung bahan belajar yang dapat memberikan kemampuan kepada siswa sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum. Dalam buku pelajaran bahasa Indonesia setiap materi ajar terdapat bahan bacaan berupa teks yang dijadikan bahan mencapai kompetensi dasar.Penggunaan bahan bacaan dalam buku teks kelas X berpangkal pada suatu tema. Penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh deskripsi tentang kosakata dan istilah pada bacaan bertema dalam buku teks pelajaran kelas X SMA. Penelitan ini menggunakan pendekatan kualitatif dan disusun menggunakan jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah buku teks pelajaran Bahasa Indonesia Ekspresi Diri dan Akademik Kelas X SMA. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan analisis teks. Data yang terkumpul berupa kosakata dan istilah pada bacaan bertema yang dianalisis melalui tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, kosakata pada bacaan bertema dalam buku teks berupa bentuk derivasi zero, afiksasi, kompisisi dan abrevasi.Jumlah bentuk derivasi zero sangat dominan. Ditinjau dari sumbernya, kosakata pada bacaan bertema dalam buku teks bersumber dari sumber dalam dan sumber luar yang cara penyerapannya berupa adopsi, adaptasi, penghibridaan, dan terjemahan. Kosakata dikelompokkan menjadi delapan tema yakni biologi, kimia, perlalulintasan, ekonomi, sosial, politik, dan hukumKedua, penggunaan istilah berupa bentuk dasar, berafiks, dan majemuk. Sedangkan berdasarkan sumbernya, istilah pada bacaan bertema dalam buku teks berasal dari sumber dalam, dan sumber luar yang penyerapannya menggunakan cara adopsi, adaptasi, dan penghibridaan. Sumber adaptasi lebih dominan dari pada sumber dalam, adopsi, dan penghibridaan. Istilah pada bacaan bertema dalam buku teks dikelompokkan menjadi lima tema yakni biologi, kimia, fisika, ekonomi, dan politik. Saran penelitian ini disampaikan kepada guru dan peneliti lain. Kepada guru disarankan agarmemanfaatkan penelitian ini sebagai sumber pengetahuan baru mengenai kosakata dan istilah pada bacaan bertema dalam buku teks pelajaran kelas X SMA. Kepada peneliti lain, disarankan agar melakukan penelitian yang lebih mendalam tentang kosakata dan istilah pada bacaan bertema dalam buku teks pelajaran dan menambah sumber acuan dalam bidang sejenis.