SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    Bahan Ajar Menulis Geguritan yang Bermuatan Nilai Karakter untuk Siswa SMA/SMK Kelas XI

    No full text
    ABSTRAK Penelitian dan Pengembangan bahan ajar menulis geguritan yang bermuatan pendidikam karakter dilatarbelakangi oleh analisis kebutuhan dengan melakukan wawancara terhadap guru dan siswa. Dari hasil wawancara diperoleh informasi yang dapat dijadikan sebagai landasan pengembangan bahan ajar. Informasi tersebut berupa kendala yang sering dihadapi siswa dan guru dalam pembelajaran menulis geguritan diantaranya, (1)Siswa merasa kesulitan dalam membuat sebuah geguritan, (2)kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran menulis geguritan,(3) belum tersedianya bahan ajar yang memuat materi, contoh, langkah—langkah menulis geguritan, (4)siswa tidak menerima sumber belajar menulis geguritan, (5) tidak adanya bahan ajar menulis geguritan yang bermuatan pendidikan karakter, (6) guru perlu memerlukan bahan ajar yang dapat menunjang proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran yang telah ditentukan dapat tercapai secara maksimal. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar menulis geguritan yang bermuatan pendidikan karakter untuk siswa SMA/SMK/MA kelas XI dengan memperhatikan unsur isi, penyajian sistematika, penggunaan bahasa dan tampilan.Penelitian dan pengembangan bahan ajar ini menggunakan rancangan pengembangan bahan ajar yang mengadaptasi dari model pembelajaran Brog dan Gall. Berdasarkan prosedur pengembangan tersebut, terdapat tujuh tahapan, yakni (1) Studi pendahuluan (2) perencanaan pengembangan, (3) pengembangan draf produk (4) uji coba produk, (5) revisi hasil uji coba (6) uji  lapangan (7) penyempurnaan produk akhir. Produk penelitian ini berupa produk bahan ajar menulis geguritan yang bermuatan pendidikan karakter untuk siswa SMK/ SMA/MA kelas XI. Uji kelayakan produk dilakukan kepada ahli materi bahasa Jawa, ahli penulisan buku, ahli praktisi dan uji lapangan. Data penenlitian pengembangan ini berupa data verbal dan data nonverbal. Data verbal pada penelitian berupa data tulis dan data lisan. Data verbal tulis berupa saran perbaikan yang ditulis oleh subjek uji coba, praktisi  (guru), lapangan (siswa). data verbalisan berupa informasi yang diperoleh dari wawancara dengan subjek coba, praktisi (guru), siswa. Data nonverbal berupa numerik atau skor yang ditulis oleh subjek ujicoba pada lembar peniliaan atau angket. Pengumpulan data pada dalam penelitian dan pengembangan ini dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara dan angket. Uji produk melibatkan tiga uji, yaitu (1) uji ahli, (2)uji praktisi, dan (3)uji lapangan. Hasil uji ahli dan praktisi meliputi tujuh aspek, yakni (1)keakuaratan materi  yang mencapai penilaian 87,5%  dari ahli materi  dan 93,75% dari ahli kepenulisan (2) kedalaman materi92% dari ahli materi (3) kelengkapan materimencapai penilaian94% dari ahli materi (4) aspek bahasa mencapai penilaian 87,5%dari ahli materi (5) tampilan mencapai penilaian 100%  dari ahli kepenulisan dan 82,5% dari ahli praktisi  (6) sistematika mencapai penilaian 100% dari ahli praktisi (7) deskripsi buku mencapai penilaian 95% dari ahli praktisi.Uji lapangan melibat siswa SMK Adihusada Malang dengan penilaian mencapai 87,4%. Hasil pengujian diatas menunjukan bahwa bahan ajar menulis geguritan bermuatan nilai karakter sangat layak untuk diterapkan di sekolah khususnya di daerah Malang

    PerencanaanStrategi Literasi dan Implementasinya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII SMP Negeri 5 Malang.

    No full text
    ABSTRAK   Rosyiqoh, Fityatur. 2017. PerencanaanStrategi Literasi dan Implementasinya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII SMP Negeri 5 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd.   Kata Kunci:perencanaan strategi literasi, implementasi strategi literasi, pembelajaran bahasa Indonesia   Strategi literasi adalah suatu cara yang disusun secara sistematis dan digunakan oleh guru agar siswa mudah untuk memaknai sebuah teks dan konteks dengan melibatkan aspek keterampilan membaca, berpikir kritis, dan menulis sehingga dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perencanaan strategi literasi dan implementasinya dalam pembelajaran  bahasa Indonesia kelas VII SMP Negeri 5 Malang yang memfokuskan pada dua aspek, yaitu strategi literasi dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan strategi literasi dalam proses pembelajaran. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Penelitian ini mendeskripsikan hasil penelitian dan analisisnya terhadap penggunaan strategi literasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu strategi literasi dalam RPP dan strategi literasi dalam proses pembelajaran. Data dalam penelitian iniadalah paparan informasi penggunaan strategi literasi dalam RPP dan dalam proses pembelajaran.Sumber data penelitian ini adalah RPP dan aktivitas pembelajaran di dalam kelas. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) diperoleh temuan/ kesimpulan bahwa dalam kegiatan pendahuluan guru merencanakan menggunakan strategi literasi dengan melibatkan proses kognitif mengamati objek (moda)-mengomentari. Pada kegiatan pendahuluan, guru merencanakan menggunakan multimodal, yaitu gambar, teks tulis, dan video. Pada kegiatan inti guru merencanakan menggunakan strategi literasi dengan melibatkan proses kognitif, yaitu (1) mengamati ragam buku-mengklasifikasi berdasarkan isi-mempresentasikan, (2) mengamati ragam buku-mengelompokkan berdasarkan isi-mempresentasikan, (3)mengamati buku-menentukan unsur-mempresentasikan, (4) membaca buku-menentukan pikiran utama-merangkum/ meringkas, (5) membaca buku-menentukan fungsi-mempresentasikan, (6) membaca buku-menghubungkan unsur-mempresentasikan, (7) membaca buku-mengomentari/ mengevaluasi, dan (8) membaca buku-menyusun ulasan. Pada kegiatan inti, guru merencanakan menggunakan modal teks tulis. Pada kegiatan penutup guru merencanakan menggunakan strategi literasi dengan melibatkan proses kognitif, yaitu memberikan penguatan-mengevaluasi-merefleksi-memberikan tindak lanjut. Berdasarkan hasil observasi dalam proses pembelajaran diperoleh temuan/ kesimpulan bahwa dalam kegiatan pendahuluan guru menggunakan strategi literasi dengan melibatkan proses kognitif mengamati objek (moda)-mengomentari-menentukan tujuan-memprediksi. Pada kegiatan pendahuluan, guru menggunakan multimodal, yaitu gambar, teks tulis, dan video. Pada kegiatan inti guru menggunakan strategi literasi dengan melibatkan proses kognitif, yaitu (1) mengamati ragam buku-mengelompokkan berdasarkan isi-mempresentasikan, (2) mengamati ragam buku-menentukan unsur-mempresentasikan, (3) membaca buku-menentukan pikiran utama-merangkum/ meringkas, (4) membaca teks-mengomentari/ mengevaluasi-mempresentasikan, (5) membaca buku-membandingkan-mempresentasikan, dan (6) membaca buku-menyusun ulasan. Pada kegiatan inti, guru menggunakan modal teks tulis. Pada kegiatan penutup guru menggunakan strategi literasi dengan melibatkan proses kognitif, yaitu memberikan penguatan-mengevaluasi-merefleksi-memberikan tindak lanjut. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa perencanaan yang baik belum tentu dapat diimplementasikan dengan baik saat proses pembelajaran karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, salah satunya, yaitu alokasi waktu yang tersedia. Berdasarkan hasil penelitian dapat diberikan beberapa saran yang berguna bagi guru bahasa Indonesia dan peneliti lanjutan. Bagi guru bahasa Indonesia di SMP Negeri 5 Malang, sebaiknya dalam RPP pada kegiatan pendahuluan, guru memaparkansecara eksplisit untuk merencanakan melibatkan proses kognitif yang lebih menekankan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tingginya dengan maksimal. Dalam proses pembelajaran pada kegiatan penutup, guru hendaknya melibatkan proses kognitif yang mengarahkan siswa untuk berpikir kritis mengenai pembelajaran yang telah dilaksanakan agar siswa dapat mengembangkan kemampuan metakognitifnya. Selain itu, sebaiknya guru memaparkan secara eksplisit dalam RPP alat bantu pengatur grafis dan daftar cek dan menggunakan alat bantu tersebut dalam proses pembelajaran di kelas agar dapat mengembangkan kemampuan metakognitif siswa. Sebaiknya guru juga harus menyesuaikan strategi literasi yang direncanakan dalam RPP dengan alokasi waktu, kondisi siswa, dan kondisi kelas agar strategi literasi yang direncanakan dapat direalisasikan dengan baik pada saat pembelajaran di kelas. Bagi peneliti lanjutan, peneliti lanjutan hendaknya meneliti tentang keseragaman RPP yang digunakan oleh guru se-kota Malang karena berdasarkan penelitian ini, guru masih belum bisa menyesuaikan rencana kegiatan pembelajaran dengan alokasi waktu yang ada.  ABSTRACT Rosyiqoh, Fityatur. 2017. Planning Literacy Strategy and its Implementation in Teaching and LearningBahasa Indonesia Year VII SMP Negeri 5 Malang. Thesis, Departement of Indonesian Literature, Faculty of letters, State University of Malang. Supervisor: Dr. Endah Tri Priyatni, M.Pd.   Keywords: Planning of literacy strategy, implementation of literacy strategy, Indonesian language learning Literacy strategy is a method that is arranged systematically and used by the teacher in order to make students interpret a text and context easily by involving aspects of reading skills, critical thinking, and writing so that it can be used to solve problems in life. This study aims to describe planning of literacy strategy and implementaion that teacher used in learning Indonesian at the seventh grade of SMP Negeri 5 Malang which focuses on two aspects, namely the literacy strategy in the lesson plan (RPP) and literacy strategy in the learning process. The method used in this research was qualitative approach by using descriptive study design. The study described the results of the research and analysis on the literacy strategy in learning Indonesian, which was the literacy strategy in the lesson plan (RPP) and in the learning process. The data in this study were the exposure information of the literacy strategy in the lesson plan (RPP) and literacy strategy in the learning process. The data source of this research were the lesson plans and the learning activities in the classroom. The data collection techniques in this research were done by observation, interview,  and documentation. Based on the results of the analysis in the lesson plan (RPP), the findings / conclusions are found that in the preliminary activities the teacher plans to use the literacy strategy by involving the cognitive process of observing the object (moda) -commented. In preliminary activities, teachers plan to use multimodal, ie images, written text, and video. In the core activities the teacher plans to use the literacy strategy by involving the cognitive process, ie (1) observing the variety of books-classifying by content-presenting, (2) observing the variety of books-grouping by content-presenting, (3) observing the book- determining the elements-presenting , (4) reading the book-determining the function-presenting, (6) reading the book-relating the elements-presenting, (7) reading the book-commenting / evaluating, and (8) reading the book-determining the main thought-summarizing / summarizing; ) Read the book-compile reviews. In the core activities, teachers plan to use capital written text. In closing activities the teacher plans to use a literacy strategy involving the cognitive process, which provides reinforcement-evaluating-reflecting-giving follow-up. Based on the results of observations in the learning process obtained findings / conclusions that in the preliminary activities of teachers using the strategy of literacy by involving the cognitive process of observing the object (moda) -commented-determines the purpose-predict. In the introductory activities, teachers use multimodal, ie images, written text, and video. In the core activities the teacher uses a literacy strategy involving cognitive processes, namely (1) observing the variety of books-grouping by content-presenting, (2) observing the variety of books-determining the elements-presenting, (3) reading the book-determining the main thought-summarizing / Summarizing, (4) reading text-commenting / evaluating-presenting, (5) reading books-comparing-presenting, and (6) reading books-composing reviews. In the core activities, teachers use capital written text. In closing activities teachers use literacy strategies involving cognitive processes, which provide reinforcement-evaluate-reflect-provide follow-up. Based on this it can be seen that good planning may not be implemented properly during the learning process because there are several factors that influence it, one of them, namely the allocation of available time. Based on the results of the research can be given some useful suggestions for Indonesian language teachers and advanced researchers. For Indonesian teachers in SMP Negeri 5 Malang, preferably in RPP on preliminary activities, the teacher explicitly explains to plan involving cognitive processes that emphasize more students to develop higher-order thinking skills to the maximum. In the process of learning in closing activities, teachers should involve cognitive processes that lead students to think critically about the learning that has been implemented so that students can develop metacognitive skills. In addition, teachers should explicitly present in the RPP of the graphical regulatory tool and checklist and use the tool in the classroom learning process in order to develop students' metacognitive abilities. It is recommended that teachers also have to adapt the planned literacy strategies in RPP with time allocation, student conditions, and classroom conditions so that planned literacy strategies can be realized well in classroom learning. For advanced researchers, advanced researchers should examine the uniformity of RPP used by teachers in Malang city because based on this research, the teacher still can not adjust the learning activity plan with the existing time allocation

    Problematika Menulis Puisi Siswa SD Kelas V SDN Kidal KAbupaten Malang

    No full text
    ABSTRAK Rubiah. 2016. Problematika Menulis Puisi Siswa SDN Kidal. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd., (II) Dra. Ida Lestari, M.Si.Kemampuan menulis  puisi  merupakan  salah  satu  kemampuan  bersastra yang perlu dimiliki oleh seorang siswa. Memiliki kemampuan menulis  puisi tidak  semudah  yang  dibayangkan  orang. Keluhan  terhadap  kemampuan menulis  puisi banyak  terjadi  pada  siswa khususnya.  Kemampuan menulis  puisi  siswa masih  jauh  dari memadai. Berbagai aspek yang mempengaruhi kemampuan menulis puisi pada siswa antara lain kurangnya motivasi dalam belajar, siswa kurang mampu mengembangkan ide, kurangnya kosa kata yang dimiliki siswa dan siswa kurang mampu menulis puisi. Dalam  menulis  puisi,  siswa semestinya memperhatikan  unsur-unsur  yang  terdapat  di  dalam  puisi  agar puisi  yang ditulis  menjadi  lebih  indah.  Namun  jika  siswa  tidak  mampu menulis  puisi dengan memanfaatkan unsur-unsur puisi, hal tersebut mungkin karena adanya faktor-faktor yang membuat siswa merasa kesulitan. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan alternatif pemecahan menulis puisi untuk siswa.Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif deskriptif karena data yang dihasilkan berupa deskripsi tentang problematika menulis puisi siswa kelas V SDN Kidal beserta alternatif pemecahannya. Sumber data utama dalam penelitian ini berupa deskripsi tentang problematika menulis puisi siswa kelas V SDN Kidal yang diperoleh melalui wawancara kepada siswa kelas V SDN Kidal. sumber data pendukung berupa deskripsi angket yang diberikan kepasa siswa. Sedangkan data penunjang dalam penelitian ini berupa deskripsi wawancara dengan guru. Serta dokumen yang digunakan sebagai alternatif pemecahan problematika menulis puisi siswa kelas V SDN Kidal. Data tersebut selanjutnya dianalisis, dideskripsikan, dan diambil kesimpulan.Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Problematika menulis puisi siswa kelas V SDN Kidal terbagi menjadi dua bagian, yaitu problematika pada tahapan menulis puisi dan faktor internal yang menjadi penyebab problematika menulis puisi. Problematika pada tahapan menulis puisi dibagi menjadi tujuh, yaitu pembebasan tema, pembatasan tema, kesulitan merangkai, kesulitan membahasakan ide baru, kesulitan menentukan judul, kesulitan menyesuaikan tema, dan kesulitan menentukan diksi. Faktor internal penyebab problematika menulis puisi oleh siswa adalah motivasi siswa yang kurang dalam menulis puisi serta wawasan siswa yang kurang terhadap manfaat menulis puisi. Dari problematika tersebut dijelaskan mengenai alternatif pemecahannya. Alternatif pemecahan yang bersumber dari guru. Guru menggunakan metode dan media yang menarik dan sesuai dengan pembelajaran.Problematika menulis puisi siswa dapat dilihat ketika pemberian tema. Dalam pemberian tema terdapat siswa yang kesulitan ketika mendapat tema yang bebas sebaliknya ada siswa yang merasa kesulitan saat mendapat tema yang ditentukan. Setelah kesulitan tersebut siswa dihadapkan pada kesulitan merangkai ide yang telah dituangkan dalam bentuk tulisan. Siswa sulit membahasakan ide-ide baru. Setelah lepas dari merangkai siswa sulit menentukan judul dan diksi yang sesuai. Tidak berhenti pada problematika tersebut, saat puisi siswa utuh siswa takut akan ketidaksesuaian tema dengan puisi yang telah dibuat. Dalam hal ini guruberperan dalam memberikan batasan tema yang akan digunakan.Faktor internal penyebab problematika menulis puisi dapat diketahui melalui motivasi dan wawasan yang dimiliki dalam menulis puisi. Ketidaktertarikan siswa menjadi salah satu penyebab lemahnya motivasi siswa dalam menulis puisi. Sehingga minat yang kurang tersebut juga mempengaruhi kepuitisan puisi siswa. Siswa yang berminat cenderung dapat menulis bahasa yang indah dalam puisinya begitupun sebaliknya. Serta ketidaktahuan siswa tentang manfaat menulis puisi yang menjadikan siswa enggan untuk menulis puisi. Penyebab selanjutnya yaitu wawasan siswa mengenai menulis puisi. Wawasan siswa yang kurang terhadap menulis puisi menjadikan siswa mengalami kesulitan saat menuliskan puisi. Siswa perlu memperbanyak buku mengenai menulis puisi ataupun membaca beragam jenis puisi agar memiliki kosakata yang cukup. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disusun kegunaan sebagai referensi bagi guru sebelum mengajarkan puisi. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai rujukan bagi penulis buku yang ingin menulis buku tentang problematika menulis puisi. Bagi peneliti lain dapat mengembangkan penelitian ini dengan masalah penelitian yang berbeda dan lebih mendalam lagi

    Pengembangan Multimedia Pembelajaran IPA Berbasis Biodiversitas Untuk Meningkatkan Literasi Sains dan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Lembang

    No full text
    ABSTRAK Pengembangan multimedia pembelajaran IPA merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan pendidikan. Keberhasilan pembelajaran IPA terletak pada kemampuan siswa dalam mengembangkan literasi sains. Literasi sains sangat penting bagi siswa untuk bekal menghadapi kehidupan masyarakat modern dan untuk memecahkan masalah kehidupan yang dialaminya. Multimedia pembelajaran IPA berbasis biodiversitas menjadikan literasi sains sebagai dasar pengembangan. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk berupa multimedia pembelajaran IPA berbasis biodiversitas untuk meningkatkan literasi sains dan hasil belajar siswa SMP.Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan model pengembangan 4D dari Thiagarajan. Model pengembangan ini terdiri atas tahap define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran).  Tahap penelitian dan pengembangan dilaksanakan sampai tahapdisseminate dengan publikasi artikel dan proses uji coba kepada siswa yang dilakukan secara terbatas. Instrumen pengumpulan data berupa angket yang disebarkan kepada ahli materi, media, dan penerapan lapangan. Hasil penelitian dan pengembangan berupa multimedia pembelajaran IPA berbais biodiversitas yang dikemas dalam bentuk file. Multimedia pembelajaran yang dikembangkan memiliki karakteristik antara lain: (1) terdapat animasi, video, gambar, dan tulisan dalam satu kesatuan yang dapat memvisualisasikan konsep  biodiversitas, (2) bersifat interaktif,  dan (3) terdapat evaluasi sebagai balikan setelah mempelajari multimedia pembelajar, Rata-rata validasi media tahap tampilan isi, media, dan penerapan lapangan berturut-turut sebesar 90,69%, 82,42%, dan 89,54%. Hasil rata-rata uji coba kelompok kecil sebesar 85,64%. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba kelompok kecil menunjukkan multimedia pembelajaran yang dikembangkan dapat diterapkan pada pembelajaran IPA. Hasil uji efektifitas menunjukkan multimedia pembelajaran IPA yang dikembangkan efektif untuk meningkatkan literasi sains dan hasil belajar siswa

    Bahasa Tabu dalam Kumpulan Naskah Drama “Mengapa Kau Culik Anak Kami?” karya Seno Gumira Ajidarma.

    No full text
    ABSTRAK   Rozaki, Irwan Ahmad. 2017. Bahasa Tabu dalam Kumpulan Naskah Drama “Mengapa Kau Culik Anak Kami?” karya Seno Gumira Ajidarma. Skripsi, Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nita Widiati, M. Pd.   Kata Kunci: bahasa tabu, naskah drama, orde baru, sosiopsikologis               Drama merupakan karya sastra yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Replika dari kehidupan nyata manusia yang mengandung konflik dituangkan ke dalam naskah drama. Unsur-unsur yang terdapat pada drama merupakan bentuk kehidupan manusia yang diwujudkan oleh penulis dalam naskah drama. Penulis naskah drama tidak jarang mengabaikan aturan-aturan yang ada dalam tata bahasa baku. Seperti halnya penggunaan bahasa tabu, bahasa tabu digunakan oleh penulis untuk memudahkan maksud dan tujuan dari cerita yang ditulis.  Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan bahasa tabu karena takut, (2) mendeskripsikan bahasa tabu karena menginginkan kehalusan kata, (3) dan mendeskripsikan bahasa tabu karena ingin dikatakan sopan dalam kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami?.             Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan sosiopsikologis dan menggunakan studi dokumen sebagai objek yang digunakan untuk penelitian. Sumber data penelitian ini adalah buku kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami?. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa monolog, dialog, prolog, dan epilog yang mengandung tujuan penelitian. Instrumen dalam penelitian ini yaitu peneliti sendiri dan dibantu dengan instrumen pendukung laiannya, berupa tabel kodifikasi data dan tabel analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi. Proses menganalisis data dimulai dari membaca secara intensif, mengklasifikan data-data, memberikan kodifikasi, dan menganalisis dengan menggunakan teori-teori yang ada.             Hasil penelitian ini berupa kata-kata maupun bahasa yang mengandung bahasa tabu dalam kumpulan naskah drama ini. Bahasa tabu karena takut banyak ditemukan karena adanya ancaman, sedangkan pada tabu karena menginginkan kehalusan kata banyak ditemukan karena nama-nama tindakan kriminal. Pada tabu karena ingin dikatakan sopan banyak ditemukan karena makian. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh tiga simpulan sejalan dengan tujuan penelitian sebagai berikut.  Pertama, pada kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami? kata-kata yang mengandung tabu karena takut terdapat banyaknya ungkapan karena sesuatu yang menakutkan dan hanya sedikit pada penyebutan nama tuhan. Kedua, tabu karena menginginkan kehalusan kata pada kumpulan naskah drama ini banyak didominasi dengan ungkapan nama-nama tindakan kriminal, sedangkan hanya sedikit ungkapan nama-nama cacat fisik dan mental. Ketiga, tabu karena ingin dikatakan sopan pada kumpulan naskah drama ini banyaknya diungkapkan makian, sedangkan jarang ditemukan pada bagian dan fungsi tubuh

    UNSUR KARAKTER TOKOH GUNUNGSARI PADA WAYANG TOPENG ASMARABANGUN DI DUSUN KEDUNGMONGGO KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG

    No full text
    ABSTRAK UNSUR KARAKTER TOKOH GUNUNGSARIPADA WAYANG TOPENG ASMARABANGUNDI DUSUN KEDUNGMONGGO KECAMATAN PAKISAJIKABUPATEN MALANGTisvika Putri Sinsandi, Robby Hidayat, Rully Aprilia ZandraUniversitas Negeri MalangE-mail: [email protected] ini mendiskripsikan karakter tokoh Gunungsari pada wayang topeng Asmarabangun di desa Kedungmonggo kecamatan Pakisaji kabupaten Malang Jawa Timur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana karakter tokoh Gunungsari pada wayang topeng Asmarabangun di dusun Kedungmonggo kecamatan Pakisaji kabupaten Malang.Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif, dengan menggunakan data wawancara dan observasi, serta mengkaji dokumentasi.Teknik triangulasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah triangulasi teknik dan sumber.Hasil dan temuan penelitian menunjukkan bahwa Gunungsari menggambarkan ksatria yang sedang berkelana, berburu, dan menari seperti merak.Gunungsari diartikan sebagai tubuh atau raga yang berisikan sifat kewanitaan.Karakter gerak Gunungsarimemiliki bentuk-bentuk yang khas seperti menggambarkan satwa unggas terutama burung merak.Gerakan Gunungsari yang terakhir seperti merak ngombe, ngeter dan merak miber sangat berat dan dibutuhkan kekuatan. Karakter busana yang dikenakan tokoh Gunungsari dominan dengan warna hitam, yaitu meliputi: celana panji, rapek atau sembong, pedangan, stagen, sabuk, kace, gelang kana, jamang, klat bahu.Properti yang digunakan Tokoh Gunungsari di Kedungmonggo terdiri dari topeng, sampur dan gongseng. Kata kunci : Wayang Topeng, Karakter, Tari TradisionalWayang topeng adalah salah satu kesenian yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia.Kesenian dalam kehidupan masyarakat merupakan sarana untuk mengekspresikan apa yang ada dalam jiwa manusia. Kesenian merupakan warisan leluhur sebagai bagian dari budaya yang bertahan berabad-abad lamanya.Dahulu kehadiran wayang topeng difungsikan sebagai sarana ritual, tetapi saat ini fungsinya sebagai hiburan danjuga mempunyai peran komunikasi untuk menyampaikan pesan di dalam ceritanya.Istilah wayang topeng sendiri dimaknai sebagai pertunjukan dengan penari memakai topeng disertai antawacana (dialog) yang dilakukan oleh seorang dalang.Penari menggunakan topeng sebagai penggambaran wujud karakter yang diperankan pada saat menari. Topeng dipahami sebagai penutup wajah yang mempunyai makna bahwa sebaik-baiknya orang dihadapan yang lain, tetapi masih ada hal-hal yang disembunyikan, maka topeng menggambarkan karakter seseorang.Peneliti mengenal wayang topeng Malang pertama kali pada tahun 2014.Waktu itu peneliti menyaksikan wayang topeng Malang pada saat Gebyak Senin Legi.Gebyak merupakan pentas rutin yang dilakukan setiap satu bulan sekali.Pertunjukan berlangsung selama 1-2 jam.Sumber cerita yang diambil dalam pertunjukan wayang topeng adalah dari cerita Ramayana, Mahabarata, menak, dan Panji.Penampilan pada Gebyak Senin Legi menampilkan lakon yang berbeda-beda.Wayang topeng yang terhitung tua di wilayah Kabupaten Malang adalah di Dusun Kedungmonggo, tempat penelitian ini berlangsung.Kedungmonggo sebuah pedukuhan termasuk wilayah kelurahan Karangpandan.Di desa yang terpencil itu terdapat grup Wayang Topeng yang bernama Asmarabangun, yang langsung dipimpin oleh Karimoen bersama putranya Taslah Harsono.Dalam pergelaran wayang topeng, Gunungsari selalu diposisikan sebagai pemeran sifat protagonis dalam lakon.Gerakan Gunungsari yaitu gerak putra maskulin dan selalu diikuti oleh Patrajaya.Skilldalam gerak Gunungsari lebih bagus dari Patrajaya atau abdinya, dan setiap gerakan Gunungsari selalu diikuti oleh Patrajaya.Keistimewaan itulah yang membuat peneliti ingin memahami, mempelajari, dan mempedalam wawasan tentang Gunungsari. Memilih karakter untuk penelitian ini karena pada setiap tarian memiliki perbedaan, perbedaan tersebut meliputi bentuk gerak, penokohan, pakaian, dan properti, oleh karena itu peneliti mengambil tokoh Gunungsari pada wayang topeng Malang di Sanggar Asmarabangun Pakisaji Kabupaten Malang sebagai acuan penelitian. Alasan dilakukan penelitian di Sanggar Asmarabangun karena pada sanggar tersebut tokoh Gunungsari lebih menekankan gerakan halus dan tegas serta untuk memperkenalkan dan melestarikan kesenian daerah setempat, selain itu lakon atau gerak tari topeng Gunungsari menarik dan unik, gerakan Gunungsari memberikan isyarat bahwa gerakan burung, ikan dan wanita itu adalah lambang keindahan. Tokoh Gunungsari adalah seorang tokoh yang di dalamnya penuh dengan keindahan-keindahan atau yang bersifat selalu menyenangkan.Gunungsari mempunyai gerak halus, tetapi mempunyai watak yang keras, sifatnya keputri-putrian dan selalu diliputi oleh rasa ingin tahu

    Kohesi dan Koherensi Bahasa Indonesia dalam Karangan Mahasiswa Jurusan ASEAN Studies Universitas Walailak Thailand Tahun 2016

    No full text
    ABSTRAK  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan piranti kohesi dan koherensi pada karangan mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak. Data penelitian ini berupa piranti kohesi dan koherensi dalam karangan mahasiswa ASEAN Studies. Berdasarkan analisis data, diperoleh dua hasil penelitian. Pertama, mahasiswa ASEAN Studies menggunakan beragam piranti kohesi gramatikal dan leksikal. Kedua, mahasiswa ASEAN Studies membentuk koherensi dalam karangannya dengan menghadirkan piranti kohesi, serta memunculkan hubungan parataksis yang ditunjukkan dengan penataan gagasan secara subordinatif

    KOHESI DAN KOHERENSI BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN MAHASISWA JURUSAN ASEAN STUDIES UNIVERSITAS WALAILAK THAILAND TAHUN 2016

    No full text
    ABSTRAK Kohesi dan koherensi memiliki peran yang penting untuk menyusun wacana yang baik. Kohesi dapat menjadikan bagian-bagian dalam sebuah wacana saling berkaitan. Kohesi juga merupakan salah satu faktor yang menjadikan sebuah wacana koheren. Koherensi adalah kepaduan maknawi dalam sebuah wacana. Dengan memperhatikan ketepatan penggunaan kohesi dan koherensi sebuah wacana tulis menjadi komunikatif dan mudah dipahami oleh pembaca. Penelitian yang berfokus pada penggunaan kohesi dan koherensi bahasa Indonesia dalam karangan mahasiswa ASEAN Studies Universitas Walailak ini penting dilakukan untuk mengetahui kemampuan pebelajar asal Thailand tingkat madya dalam menulis berbahasa Indonesia dengan memperhatikan penggunaan piranti kohesi dan koherensi. Dengan mengetahui kemampuan pebelajar, akan memudahkan praktisi pembelajaran dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang sesuai. Karangan mahasiswa Thailand dipilih sebagai subjek penelitian karena jumlah pebelajar dari Thailand yang berminat mempelajari bahasa Indonesia semakin meningkat. Mereka mempelajari bahasa Indonesia sebagai bekal berkomunikasi untuk bersaing di pasar bebas ASEAN. Meningkatnya minat masyarakat Thailand untuk mempelajari bahasa Indonesia tersebut hendaknya memotivasi para pegiat BIPA untuk melakukan penelitian yang khusus mengaji pebelajar BIPA asal Thailand.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian ini juga termasuk dalam penelitian dokumenter. Data dalam penelitian ini berupa piranti kohesi dan koherensi yang terdapat dalam karangan mahasiswa ASEAN Studies. Data diperoleh dari tugas-tugas harian dan ujian semester yang sudah tersedia dan tidak dirancang khusus untuk kebutuhan penelitian. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari: (a) panduan pengumpulan data, (b) panduan analisis data, (c) tabel data, dan (d) tabel analisis data. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh dua hasil penelitian. Pertama, mahasiswa ASEAN Studies menggunakan beragam piranti kohesi dalam karangannya. Piranti kohesi tersebut berupa piranti kohesi gramatikal yaitu, referensi baik anafora maupun katafora, elipsis, dan konjungsi, serta piranti kohesi leksikal berupa reiterasi dan kolokasi. Dalam data penggunaan referensi ditemukan kerancuan penggunaan kata deiktis di sini, di sana dan di situ, serta penggunaan pronomina persona jamak kami dengan kita. Pada penggunaan konjungsi juga terdapat kesalahan pemilihan kata ketika sebagai penanda urutan waktu. Kedua, mahasiswa ASEAN Studies membentuk koherensi dalam karangannya dengan kehadiran piranti kohesi dan dengan memunculkan hubungan parataksis yang ditunjukkan dengan munculnya gagasan dengan penataan subordinatif

    Kritik Moral dalam Teks Anekdot Karya Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tumpang

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya minat siswa terhadap pembelajaran teks anekdot apabila dibandingkan dengan pembelajaran teks lain dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Dalam Kurikulum 2013 Bahasa Indonesia kelas X, terdapat Kompetensi Dasar (KD) memproduksi teks anekdot. KD tersebut mengindikasikan bahwa siswa harus mampu menguasai keterampilan menulis teks anekdot. Hal tersebut bertujuan agar siswa mampu mengenal, memahami, dan menulis teks anekdot. Karakteristik teks anekdot yang erat dengan muatan moral dapat digunakan oleh siswa untuk menuangkan pengamatannya terhadap perilaku sosial. Tujuan dilakukannyapenelitian ini adalah untuk mendeskripsikan muatan kritik moral dalam teks anekdot karya siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang. Kritik terhadap moral tersebut meliputi kritik moral dalam hubungannya dengan (1) Tuhan Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sosial, (4) alam, dan (5) kebangsaan. Selanjutnya, penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan cara pengintegrasian kritik moral yang dapat dilihat dalam struktur isi teks anekdot, yaitu (1) abstraksi, (2) orientasi, (3) krisis, (4) reaksi, dan (5) koda.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini yaitu kelas X Jurusan Matematika dan Ilmu Alam SMA Negeri 1 Tumpang. Data penelitian berupa teks asnekdot karya siswa. Pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi.Instrumen kunci dalam penelitian ini yaitu peneliti sendiri serta instrumen penunjang berupa panduan analisis data. Analisis data dilakukan mulai tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verivikasi.Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan hasil sebagai berikut. Pertama, terdapat lima kritik moral yang diintegrasikan dalam teks anekdot yang diproduksi siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang, yaitu (1) kritik moral dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa yang berisi religiusitas, (2) kritik moral dalam hubungannya dengan diri sendiri yang berisi kemandirian, kejujuran, daya juang, dan kedisiplinan, (3) kritik moral dalam hubungan sosial yang berisi sosialitas, keadilan, demokrasi, dan tanggung jawab, (4) kritik moral dalam hubungannya dengan alam meliputi peduli kebersihan lingkungan, dan (5) kritik moral dalam kebangsaan meliputi cinta tanah air.Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil sebagai berikut. Kritik moral paling banyak termuat pada teks anekdot karya siswa adalah kritik moral tanggung jawab (15 data). Selanjutnya, kritik moral kejujuran (14 data), kedisiplinan dan sosialitas (13 data), kemandirian (11 data), dan peduli lingkungan (9 data). Setelah itu, kritik moral religiusitas, daya juang, keadilan, dan cinta tanah air sebanyak 7 data, serta demokrasi (6 data). Berdasarkan kelima kritik moral yang diintegrasikan siswa dalam teks, terdapat kritik moral yang paling banyak muncul yaitu kritik moral dalam hubungannya dengan diri sendiri yang dijabarkan dalam nilai kemandirian, kejujuran, daya juang, dan kedisiplinan. Dalam praktiknya, siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang lebih mudah merealisasikan kritik moral yang dipahami dan sering diterapkan dalam kegiatan sehari-hari. Oleh karena itu, konsep kritik moral yang kurang dipahami siswa tidak terlalu banyak muncul dalam teks anekdot yang diproduksi.Kedua, terdapat lima cara yang dapat digunakan siswa dalam mengintegrasikan kritik moral dalam teks anekdot yang diproduksi. Siswa mengintegrasikan kritik moral kedalam lima bagian teks anekdot, yaitu abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kritik moral yang diintegrasikan pada bagian: (1) abstraksi sebanyak 12 kritik, (2) orientasi sebanyak 20 kritik, (3) krisis sebanyak 31 kritik, (4) reaksi sebanyak 32 kritik, dan (5) koda sebanyak 14 kritik. Berdasarkan hasil tersebut, siswa paling banyak mengintegrasikan kritik moral pada bagian reaksi dan krisis. Kedua bagian tersebut merupakan bagian yang esensial dalam teks anekdot karena merupakan bagian inti munculnya sindiran, kritik, atau keunikan dan tanggapan atau respons yang berupa sikap mencela atau menertawakan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa dalam satu teks terdapat satu atau lebih muatan kritik moral dalam struktur isi teks anekdot yang berbeda, misalnya pada satu teks memuat kritik moral yang diintegrasikan pada bagian reaksi dan koda.Berdasarkan hasil penelitian tentang muatan kritik moral dalam teks anekdot karya siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang disimpulkan sebagai berikut. (1) teks anekdot yang diproduksi siswa memuat kritik moral yang beragam, (2) siswa lebih mudah merealisasikan kritik moral yang dipahami dan sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, (3) kritik moral dalam teks anekdot karya siswa mayoritas diintegrasikan pada bagian reaksi dan krisis, dan (4) dalam satu teks memungkinkan terdapat lebih dari satu kritik moral yang dituangkan oleh siswa pada teks yang ditulis. Berkaitan dengan penelitian ini, disarankan kepada beberapa pihak berikut. Pertama bagi praktisi pendidikan (guru) diharapkan agar mengajarkan nilai-nilai moral pada semua aspek pembelajaran, khususnya bahasa Indonesia. Guru selaku model pembelajaran harus mampu menjadi teladan yang baik bagi siswa. Kritik moral terhadap penyimpangan moral seperti, takut mengambil keputusan sesuai dengan kemampuannya dan tidak sanggup menerima realita kemenangan maupun kekalahan perlu diajarkan secara lebih mendalam pada siswa sehingga dapat terinternalisasi dengan baik dalam diri siswa tersebut. Kedua, bagi peneliti lain diharapkan untuk meneliti penelitian serupa terkait kritik moral dalam teks sastra

    Kendala Ambiguitas terhadap Komprehensi Menyimak Teks Eksplanasi Siswa Kelas XI SMKN 8 Malang

    No full text
    ABSTRAK Putra, Sahlan Maulana Rozak Ghozali. 2017. Kendala Ambiguitas terhadap Komprehensi Menyimak Teks Eksplanasi Siswa Kelas XI SMKN 8 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. H. A. Syukur Ghazali, M.Pd Kata Kunci: kendala ambiguitas, ambiguitas leksikal, ambiguitas gramatikal, menyimak, teks eksplanasiKetaksaan (ambiguitas) adalah makna yang lebih dari satu. Ketaksaan itu disebabkan oleh, antara lain, (1) tidak hadirnya konjungsi atau preposisi, (2) urutan unsur-unsurnya menyimpang dari urutan yang sudah lazim, (3) penggunaan kata yang mengambigukan, dan (4) intonasi/tekanan yang berbeda. Dilihat dari segi leksikal dan struktur kalimatnya, ambiguitas dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu ambiguitas leksikal dan ambiguitas gramatikal. Dalam ambiguitas leksikal, penggunaan kata sangat memengaruhi makna atau nilai dari sebuah kalimat. Ambiguitas gramatikal adalah macam ambiguitas yang penyebabnya adalah bentuk struktur kalimat yang dipakai. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan (1) ambiguitas leksikal dan (2) ambiguitas gramatikal yang menyulitkan siswa kelas XI Metro SMKN 8 Malang dalam komprehensi menyimak teks eksplanasi.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian ini berusaha mengungkap kendala ambiguitas terhadap komprehensi menyimak siswa yang dapat terjadi dalam pembelajaran menyimak teks eksplanasi kompleks. Data penelitian berupa video dan soal-soal pilihan ganda berisi pertanyaan tentang kata atau kalimat yang mengandung ambiguitas leksikal berupa kata yang maknanya bergantung kontekd dan istilah asing atau ambiguitas gramatikal yang memiliki rapatan, sematan, dan elipsis. Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumen yang berupa soal-soal pilihan ganda yang berisi pertanyaan tentang kata atau aklimat yang ambigu yang telah dijawab oleh siswa.Ambiguitas leksikal disebabkan kata-kata bahasa asing yang jarang didengar dan kata-kata yang maknanya berubah berdasarkan konteks kalimat. Ambiguitas gramatikal disebabkan transformasi tunggal, transformasi rapatan, transformasi sematan, dan elipsis. Ambiguitas berpengaruh terhadap komprehensi menyimak siswa. Saran peneliti bagi siswa agar ambiguitas leksikal tidak menjadi kendala dalam komprehensi menyimak siswa perlu mencatat kata-kata atau isitilah-istilah asing yang jarang didengar atau dibaca lalu mencari maknanya di dalam KKBI. Agar ambiguitas gramatikal tidak menjadi kendala dalam komprehensi menyimak, siswa perlu lebih sering berlatih menganalisis struktur kalimat. Saran bagi guru, perlu lebih sering melatih siswa tentang pemenggalan kalimat agar dapat memahami dengan baik makna kalimat yang didengar atau dibaca dan guru perlu mencari teks yang tidak memiliki ambiguitas leksikal agar siswa atau pendengar tidak terkecoh. Saran bagi peneliti lain, gunakan video yang kecepatan berbicaranya sesuai kecepatan normal, yaitu 125 – 150 kata/detik atau kecepatan yang dibawah kecepatan normal dan jangan menggunakan data berupa kata ambigu yang bercampur dengan kata yang sulit

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇