SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Gaya Bahasa Cerpen Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi Karya Eka Kurniawan
ABSTRAK Pratama, Bagas Hari. 2016. Gaya Bahasa Cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi .Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indondesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. pembimbing: Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd, dosen pembimbing I dan Drs. Dwi Saksomo, M.Si. dosen pembimbing II Kata Kunci: gaya bahasa, fungsi, relasi Gaya bahasa merupakan salah satu cara yang digunakan pengarang untuk menampilkan karyanya agar terlihat indah. Eka Kurniawan merupakan pengarang karya sastra dan kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi merupakan karyanya. Mengetahui gaya bahasa yang digunakan Eka Kurniawan pada kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi menjadi penting guna mengetahui gaya bahasa yang digunakan pengarang yang menjadikan karyanya terlihat lebih menarik dan indah serta berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk gaya bahasa yang digunakan Eka Kurniawan pada kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Selain bentuk gaya bahasa, penelitian ini juga mendeskripsikan fungsi gaya bahasa dan juga relasi gaya pada unsur intrinsik cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah kutipan kata, frasa, kalimat, paragraf yang berupa narasi tokoh, konflik, dialog antartokoh dan juga monolog tokoh yang terdapat pada kumpulan cerpen. Sumber data penelitian ini adalah buku kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (PPHYKMCMM ) karya Eka Kurniawan. Pengumpulan data dimulai dengan membaca cerpen, mencermati, menandai setiap kutipan yang mengandung gaya bahasa. Instrumen penelitian adalah tabel panduan studi dokumentasi. Kegiatan analisis data dimulai dengan klasifikasi data, reduksi data, penyajian data, penafsiran data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan data dilakukan dengan dua cara, yaitu pengumpulan kembali data dan diskusi dengan teman sejawat.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya berbagai gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, baik gaya bahasa retoris maupun gaya bahasa kiasan beserta indikatornya dalam cerpen. Gaya bahasa retoris yang terdapat dalam kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan, meliputi gaya bahasa asonansi, aliterasi, anastrof, apostrof, apofasis, asidenton, elipsis, eufemisme, hiperbol, histeron proton, kiasmus, koreksio, litotes, paradoks, perifrasis, pleonasme, polisidenton, erotesis, prolepsis, repetisi, silepsis dan zeugma. Pada gaya bahasa kiasan kumpulan cerpen PPHYKMCMM karya Eka Kurniawan, meliputi gaya bahasa simile, metafora, personifikasi, sinekdoke, metonomia, antonomasia, hipalase, ironi, sinisme, sarkasme, satire dan inuendo.Fungsi gaya bahasa retoris ditemukan dalam kumpulan cerpen PPHYKMCMM karya Eka Kurniawan. Fungsi gaya bahasa retoris dalam kumpulan cerpen PPHYKMCMM karya Eka Kurniawan meliputi gaya bahasa untuk menekankan sebuah gagasan, membuat gagasan lebih dramatis, menunjukkan imajinasi pembaca yang hilang, mempertimbangkan kata yang lebih sopan, membesar-besarkan gagasan, menonjolkan sesuatu yang diperbandingkan dalam sebuah kalimat, memaparkan gagasan secara tidak langsung, menekankan sesuatu yang sedang terjadi, dan memperjelas gagasan yang ditampilkan oleh pengarang. Fungsi gaya bahasa kiasan pada kumpulan cerpen PPHYKMCMM karya Eka Kurniawan meliputi gaya bahasa untuk menciptakan efek dramatisir pada sebuah gagasan, menciptakan efek yang mendalam pada sebuah gagasan, menciptakan suasana yang lebih menarik dan hidup, untuk memfokuskan makna, untuk mempersempit suatu gagasan, untuk mempertegas dan menyanggah sebuah gagasan, menolak suatu gagasan secara tidak langsung, dan memperhalus suatu gagasan dengan menggunakan pernyataan.Relasi gaya bahasa pada unsur intrinsik amanat merupakan keterkaitan gaya bahasa dalam penyusunan sebuah amanat. Setiap masing-masing amanat cerpen dari kumpulan cerpen PPHYKMCMM akan dikaitkan dengan gaya bahasa. Kumpulan cerpen tersebut meliputi (1) Gerimis yang Sederhana, (2) Gincu Ini Merah, Sayang, (3) Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, (4) Penafsir Kebahagian, (5) Membuat Senang Seorang Gajah, (6) Jangan Kencing di Sini, (7) Tiga Kematian Marsilam, (8) Cerita Batu, (9) La Cage aux Folles, (10) Setiap Anjing Boleh Berbahagia, (11) Kapten Bebek Hijau (12) Teka-teki Silang, (13) Membakar Api.Berdasarkan hasil penelitian gaya bahasa dalam kumpulan cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi karya Eka Kurniawan, diharapkan dapat memberi masukan pada pihak – pihak yang terkait, yaitu kepada peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan untuk memulai penelitian baru yang berkaitan gaya bahasa pada karya fiksi dan dapat memperluas fungsi dari gaya bahasa berdasarkan penelitian ini. Kepada para pengajar ilmu sastra., penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menyampaikan materi ilmu sastra terutama tentang gaya bahasa. Sedangkan kepada pembaca karya fiksi, penelitian ini menambah pengetahuan tentang ilmu sastra dalam karya fiksi. Pembaca tidak hanya menikmati jalannya cerita tetapi juga mendapatkan pengetahuan tentang gaya bahasa yang ditulis dalam karya fiksi.gaya bahasa, fungsi, relas
Nilai Budaya dalam Mantra Bercocok Tanam Padi di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah: Kajian Fungsi Sastra
Mantra bercocok tanam padi di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah masih digunakan sampai saat ini ketika masyarakat melaksanakan semua proses pertanian padi. Mantra tersebut mengandung nilai-nilai yang dianggap ideal dalam kebudayaan masyarakat pemiliknya. Maka dari itu, perlu dilakukan penelitian terhadap nilai budaya dalam mantra tersebut.Penelitian ini fokus mengkaji nilai budaya dalam mantra bercocok tanam padi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini adalah kata, frasa, atau kalimat dari transkripsi mantra bercocok tanam padi yang mengandung nilai budaya. Data tersebut dianalisis mulai dari tahap penelaahan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini menunjukkan adanya nilai budaya dalam mantra bercocok tanam padi yang terlihat melalui empat pola hubungan manusia. Nilai budaya dalam hubungan manusia dengan diri sendiri berupa kerja keras, sabar, tanggung jawab, tidak serakah, menjaga kebaikan diri, dan hemat. Nilai budaya dalam hubungan manusia dengan Tuhan berupa berserah diri kepada Tuhan, meminta perlindungan dan pertolongan kepada Tuhan, memercayai kebaikan dan keburukan berasal dari Tuhan, meminta restu kepada Tuhan, memercayai hidup dan mati ada pada kuasa Tuhan, dan memercayai adanya hukuman dari Tuhan. Nilai budaya dalam hubungan manusia dengan alam berupa percaya adanya makhluk gaib di alam semesta, saling menghormati dan saling menjaga antarsesama makhluk hidup, tidak menyakiti makhluk hidup di alam, serta menghargai keberagaman di alam. Nilai budaya dalam hubungan manusia dengan manusia lain berupa tidak mengambil milik orang lain. Nilai budaya dalam mantra bercocok tanam padi tersebut berfungsi melandasi, memandu, mengarahkan, menjaga, serta memberi petunjuk kepada manusia dalam berucap, bertindak, dan berperilaku. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat dikemukakan saran kepada beberapa pihak yang dipandang relevan. Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian dengan fokus yang lebih mendalam, yakni pada aspek implementasi mantra dengan mengkaji mantra dari konteks yang lebih praktis. Kepada lembaga penelitian disarankan untuk mendokumentasikan mantra dengan merekam kemudian mentranskripsi mantra supaya sastra lisan di Indonesia tidak punah. Kepada masyarakat Indonesia disarankan untuk tetap menjaga dan melestarikan sastra lisan, khususnya mantra, dengan terus menggunakan mantra pada kegiatan tertentu dan mewariskan mantra kepada generasi selanjutnya sehingga mantra tersebut akan tetap hidup dan berkembang
Penyimpangan Prinsip Kerja Sama dalam Sinetron Pondok Pak Cus Edisi April 2016 di Trans TV
ABSTRAKSari, Putri Permata. 2017. Penyimpangan Prinsip Kerja Sama dalam Sinetron. Situasi KomediPondok Pak Cus Edisi April 2016 di Trans TV.Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Martutik, M.Pd.Kata Kunci: penyimpangan prinsip kerja sama, maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, maksim caraPondok Pak Cus merupakan salah satu sinetron komedi yang ditayangkan di Trans TV pada tahun 2016. Tayangan ini bertemakan kehidupan keluarga yang dikemas menarik dengan percakapan-percakapan humor yang mengundang tawa para penontonnya. Salah satu faktor terbentuknya percakapan humor adalah faktor pragmatik. Faktor pragmatik ini mempunyai beberapa aspek seperti penyimpangan prinsip kerja sama, penyimpangan prinsip kesantunan, dan penyimpangan parameter pragmatik. Penelitian ini memfokuskan pada penyimpangan prinsip kerja sama dalam sitkom Pondok Pak Cus. Prinsip kerja sama iniyang terdiri dari 4 maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penyimpangan prinsip kerja sama yang digunakan dalam percakapan antartokoh pada sinetron situasi komedi Pondok Pak Cus yang menimbulkan humor. Secara khusus terdapat subtujuan yang menyertainya, yaitu mendeskripsikan (1) penyimpangan maksim kuantitas yang menimbulkan humor, (2) penyimpangan maksim kualitas yang menimbulkan humor, (3)penyimpangan maksim relevansi yang menimbulkan humor, dan penyimpangan maksim cara yang menimbulkan humor.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian desktiptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Data penelitian berupa transkrip percakapan antartokoh pada sitkom Pondok Pak Cus yang mengandung humor. Data tersebut edisi April 2016diambil dari sumber data berupa dokumen audio visual Pondok Pak Cus edisi April 2016 yang terdiri dari 21 episode. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data adalah panduan pengumpulan data dan panduan analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik simak bebas libat cakap (SBLC) dan teknik catat. Kegiatan analisis data dimulai dari beberapa tahap, yaitu (1) reduksi data meliputi identifikasi, kodifikasi, dan klasifikasi, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan kegiatan diskusi dengan teman dan mengecekan ulang dengan ketekunan pengamatan.Berdasarkan hasil analisis data yang telah melalui proses pengabsahan data, diperoleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penyimpangan maksim kuantitas terbagi atas dua bentuk yakni informasi yang diberikan terlalu sedikit atau kurang memadai dan informasi yang diberikan terlalu banyak atau berlebihan. Penyampaian informasi yang terlalu sedikit bertujuan untuk mengaburkan informasi sedangkan penyampaian informasi yang terlalu banyak atau berlebihan bertujuan untuk memperjelas informasi. Humor yang terkandung pada data penyimpangan maksim kuantitas menerapkan teori humor konfigurasi, teori humor salah paham, dan teori humor berlebihan.Kedua,penyimpangan maksim kualitas terbagi menjadi dua bentuk yakni informasi yang diberikan tidak sesuai dengan kenyataan atau berbohong dan informasi yang diberikan tidak dapat dibuktikan dengan logis. Penyampaian informasi yang tidak sesuai kenyataan atau berbohong bertujuan untuk menyembunyikan atau menutupi informasi yang sebenarnya agar tujuannya tidak diketahui oleh mitra tutur dan menyelamatkan muka sedangkan penyampaian informasi yang tidak dapat dibuktikan dengan logis bertujuan untuk mengejek atau menghina mitra tutur dan menyampaikan implikatur percakapan. Humor yang terkandung pada data penyimpangan maksim kualitas menerapkan teori humor ketidaksesuaian dan konfigurasi.Ketiga, penyimpangan maksim relevansi hanya memiliki satu bentuk yaitu informasi yang diberikan tidak relevan dengan situasi pembicaraan. Pernyimpangan maksim relevansi ini bertujuan untuk menimbulkan implikatur percakapan dan untuk bercanda. Humor yang terkandung pada data penyimpangan maksim relevansi menerapkan teori humor konfigurasi, salah paham, ketidaksesuaian, dan berlebihan.Keempat, penyimpangan maksim cara pada penelitian ini terbagi menjadi empat yakni informasi yang diberikan tidak jelas maknanya atau kabur, informasi yang diberikan taksa atau ambigu, infomrasi yang diberikan berbelit-belit, dan informasi yang diberikan tidak runtut. Penyampaian informasi yang tidak jelas maknanya atau kabur dan penyampaian informasi yang taksa atau ambigu bertujuan untuk untuk mengaburkan informasi. Penyampaian informasi yang berbelit-belit bertujuan menutupi rasa malu dan menyelamatkan muka. Penyampaian informasi yang tidak runtut dilakukan tanpa sengaja dan tidak memiliki tujuan. Humor yang terkandung pada data penyimpangan maksim cara menerapkan teori humor salah paham dan berlebihan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa hampir setiap maksim pada penyimpangan prinsip kerja samadalam sitkom Pondok Pak Cus mengalami perluasan kecuali maksim relevansi. Penyimpangan maksim kuantitas berupa pemberian informasi yang terlalu banyak atau berlebihan merupakan penyimpangan yang paling banyak terjadi pada sitkom Pondok Pak Cus sedangkan yang paling sedikit terjadi adalah penyimpangan maksim cara berupa pemberian informasi yang tidak runtut. Saran penelitian ditujukan untuk tiga pihak sebagai berikut. Pertama, disarankan kepada peneliti bahasa selanjutnya untuk menggunakan sumber data dengan konteks bahasa formal supaya dapat menyimpulkan penyebab munculnya humor secara konkret. Kedua, disarankan kepada penulis skenario sitkom untuk menjadikan penyimpangan maksim kuantitas sebagai faktor utama yang menimbulkan kelucuan dengan mengaitkan dengan teori humor salah paham karena pada sitkom yang diteliti ini paling banyak digunakan. Ketiga, disarankan kepada pengajar pragmatik untuk memerhatikan keterkaitan penyimpangan maksim dengan teori yang mendukung
Implementasi Gerakan Literasi Sekolah pada Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar
ABSTRAK Literasi merupakan kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan membaca, berpikir, dan menulis yang bertujuan pada kemampuan memahami informasi secara kritis, kreatif, dan reflektif.Salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah untuk memaksimalkankemampuan literasi siswa adalah mengintegrasikan literasi dengan kurikulum pembelajaran melalui program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola implementasi GLS di sekolah dasar. Penelitian ini berfokus pada: (1) pola kegiatan literasi pada buku tematik siswa kelas IV edisi revisi 2016 dan (2) pola kegiatan literasi di sekolah pada jenjang sekolah dasar.Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama baik dalam pengumpulan data maupun analisis data. Penelitian ini dilaksanakan di beberapa sekolah, yaitu SDN Bareng 3, SDN Sumbersari 2, SDN Kauman 1, SDN Kauman 2, dan SD Laboratorium UM. Sumber data dalam penelitian ini berupa buku tematik siswa kelas IV edisi revisi 2016, kepala sekolah, guru, pustakawan, dan lingkungansekolah. Metode pengumpulan data yang digunakan, yaitu metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Proses analisis data dilaksanakan melalui tiga tahap, yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) verifikasi data. Pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian ini menggunakan dua cara, yaitu perpanjangan pengamatan dan triangulasi.Berdasarkan hasil analisis data diperoleh dua simpulan. Pertama, pola kegiatan literasi pada buku tematik siswa kelas IV edisi revisi 2016. Pola yang ditemukan berjumlah dua belas ragam pola kegiatan literasi, yaitu (1) skemata-baca-tulis, (2) skemata-baca-coba, (3) skemata-baca-jawab, (4) pertanyaan-baca-coba, (5) tujuan-baca-tulis, (6) skemata-baca-pertanyaan, (7) tujuan-dengarkan-tulis, (8) skemata-baca-bercerita (9) tujuan-baca-bercerita, (10) pertanyaan-baca-jawab, (11) tujuan-baca-jawab, dan (12) pertanyaan-baca-tulis. Keduabelas pola tersebut meliputi kegiatan memahami informasi secara kritis, kreatif, dan reflektif.Kedua, pola kegiatan literasi di sekolah dasar. Berdasarkan penelitian yang sudah dilaksanakan ditemukan bahwa sekolah mayoritas menerapkan kegiatan literasi pada tahap pembiasaan. Implementasi kegiatan literasi di sekolah dasar ditinjau dari: (1) pola strategi dan pelaksanaan kegiatan literasi, (2) sumber buku dan lingkungan literasi, dan (3) kerja sama kegiatan literasi. Pola strategi dan pelaksanaan kegiatan literasi yang ditemukan berjumlah lima pola. Pola tersebut adalah (1) bergiliran-berdoa-senyap-tulis, (2) mingguan-berdoa-senyap-bacakan, (3) serentak-pembiasaan-berdoa-senyap, (4) serentak-berdoa-senyap-tulis, dan (5) mingguan-upacara-berdoa-senyap.Sumber buku dan lingkungan literasi memiliki beberapa indikator, yaitu pola pengadaan buku, pola pemilihan buku, pola pengelolaan area baca, pola pengelolaan perpustakaan, pola pengelolaan sudut baca, dan pola pengelolaan poster. Berdasarkan indikator tersebut pola yang ditemukan berjumlah empat pola, yaitu (1) buku perpustakaan-bacaan bebas-lingkungan-perpustakaan mendukung-sudut baca kelas mendukung-poster bebas, (2) buku siswa-bacaan bebas-lingkungan-perpustakaan kurang mendukung-sudut baca kelas mendukung-poster bebas, (3) buku siswa-bacaan bebas-lingkungan-perpustakaan mendukung-sudut baca mendukung-poster bebas, dan (4) buku siswa-bacaan bebas-lingkungan-perpustakaan kurang mendukung-sudut baca mendukung-poster dibatasi. Kerjasama kegiatan literasi terbagi menjadi dua indikator, yaitu pola pendukung sarana literasi dan pola pelatihan kegiatan literasi. Adapun pola yang ditemukan berdasarkan dua indikator tersebut berjumlah empat pola, yaitu (1) dinas-USAID-K3S-orang tua-perpustakaan-USAID, (2) dinas-orang tua, (3) dinas-orang tua-perpustakaan, dan (4) USAID-orang tua-USAID. Berdasarkan hasil penelitian disarankan untuk tim penyusun buku tematik hendaknya agar memperhatikan komponen literasi secara lebih jelas dan detail khususnya unsur literasi kritis, kreatif, dan reflektif yang tercakup dalamkegiatan prabaca, membaca, dan pascabaca pada buku tematik untuk penulisan buku di tahun-tahun selanjutnya. Saran terkait pelaksanaan kegiatan literasi di sekolah ditujukan kepada kepala sekolah selaku pembuat kebijakan di sekolah sebaiknya membentuk tim secara khusus untukpengembangan kegiatan literasi di sekolah. Guru selaku pelaksana yang bertugas mendampingi siswa saat kegiatan literasi hendaknya lebih disiplin melihat hasil tindak lanjut membaca dan lebih kreatif dengan memilih ragam kegiatan membaca yang berbeda agar kegiatan literasi terasa menyenangkan oleh siswa
Kemampuan Menulis Cerita fantasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 12 Malang tahun Pelajaran 2016-2017
ABSTRAK Aulia, Sela Wildaan. 2017. Kemampuan Menulis Naskah Drama Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Semanding Tuban Tahun Pelajaran 2016/2017. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Dr. Roekhan M,Pd. Kata Kunci: kemampuan menulis, naskah drama Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan keaslian ide ditemukan dalam Kompetensi Dasar 8.1 KTSP. Naskah drama adalah karya sastra yang berisi cerita atau lakon yang ditulis dalam bentuk dialog berisikan konflik kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan mengungkap kemampuan siswa dalam menulis naskah drama. Lima aspek yang diteliti adalah aspek tema, penokohan, latar, alur, dan dialog. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 2 Semanding dengan populasi berjumlah 125 siswa. Penentuan sampel dilakukan dengan cara mengambil 20%-25% sehingga sampel yang digunakan berjumlah 25 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik Random Sampling. Cara tersebut dilakukan karena anggota populasi homogen. Instrumen penelitian berupa perintah penugasan menulis naskah drama dalam satu babak. Analisis data dilakukan berdasarkan model Arikunto yang meliputi tiga langkah, yaitu (1) persiapan, (2) tabulasi, dan (3) penerapan data (Arikunto, 2006:235). Kegiatan pada tahap persiapan yaitu (1) mengecek nama dan kelengkapan identitas pengisi dan (2) mengecek kelengkapan data dengan memeriksa jumlah sumber data. Kegiatan pada tahap tabulasi adalah memberikan skor (scoring) terhadap item-item yang perlu diberi skor. Kegiatan pada tahap penerapan data adalah mengolah data yang terkumpul dengan menggunakan rumus perhitungan skor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mampu menulis naskah drama pada aspek tema. Siswa yang memiliki kualifikasi sangat mampu sebesar 37,5 % (9 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi mampu sebesar 37,5% (9 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi cukup sebesar 16,6% (4 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi sangat rendah sebesar 8,3% (2 siswa). Siswa belum mampu menulis naskah drama pada aspek penokohan. Siswa yang memiliki kualifikasi sangat mampu sebesar 20,8% (5 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi mampu sebesar 12% (50 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi rendah sebesar 12,5% (3 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi sangat rendah sebesar 16,6% (4 siswa). Siswa mampu menulis naskah drama pada aspek latar. Siswa yang memiliki kualifikasi sangat mampu sebesar 50% (12 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi mampu sebesar 25% (6 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi cukup sebesar 16,6% (4 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi sangat kurang sebesar 8,3% (2 siswa). Siswa belum mampu menulis naskah drama pada aspek alur. Siswa yang memiliki kualifikasi sangat mampu sebesar 12,5% (3 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi mampu sebesar 33,3% (8 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi rendah sebesar 37,5% (9 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi sangat rendah sebesar 16,6% (4 siswa). Siswa belum mampu menulis naskah drama pada aspek dialog. Siswa yang memiliki kualifikasi sangat mampu sebesar 20,8% (5 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi mampu sebesar 41,6% (10 siswa). Siswa yang memiliki kualifikasi rendah sebesar 16,6% (4 siswa). Siswa yang memilki kualifikasi sangat rendah sebesar 20,8% (5 siswa). Secara keseluruhan dari lima aspek yang diteliti dalam kemampuan menulis naskah drama terdapat dua aspek yakni aspek tema dan latar yang mampu mencapai KKM. Aspek tema dan latar mencapai skor rata-rata tertinggi 75. Aspek alur mencapai skor rata-rata terendah 45,8. Secara keseluruhan rata-rata kemampuan menulis naskah drama siswa adalah 65,6. SMPN 2 Semanding Tuban menerapkan kriterian ketuntasan minimal adalah 75. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahawa kemampuan menulis naskah drama siswa kelas VIII SMPN 2 Semanding Tuban Tahun Pelajran 2016/2017 tergolong kurang mampu, karena jumlah siswa yang mendapat kualifikasi kemampuan sangat mampu, mampu, cukup, dan kurang belum mencapai ketuntasan dalam belajar. Dalam penelitian ini ditemukan masalah umum yang berkaitan dengan pembelajaran menulis naskah drama yaitu siswa belum mampu keluar dari cerita realitas kehidupannya. Secara umum siswa hanya menceritakan kembali kehidupannya bersama kelompok objek di sekitarnya. Berdasarkan hasil simpulan, disarankan kepada pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini sebagai berikut. Pertama, guru disarankan agar menerapkan metode, media, bahan ajar yang dapat menimbulkan minat siswa dalam menulis naskah drama dan dibutuhkan keikutsertaan guru untuk mengajak siswa berlatih menulis naskah drama. Kedua, sekolah disarankan agar menyediakan sarana unjuk karya siswa dan menyediakan buku sastra, terutama naskah drama di perpustakaan sekolah. Ketiga, peneliti selanjutnya disarankan agar melakukan penelitian tentang kemampuan menilis naskah drama siswa dengan menggunakan metode dan media yang mampu meningkatkan kemampusan siswa dalam menulis naskah drama dalam berbagai aspek. Masruroh, Siti. 2017. Kemampuan Menulis Cerita Fantasi Siswa Kelas VII SMP Negeri 12 Malang Tahun Pelajaran 2016-2017. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Heri Suwignyo, M.Pd. Kata Kunci: kemampuan menulis, cerita fantasi Cerita fantasi adalah cerita yang dikembangkan dengan menghadirkan sebuah dunia lain di samping dunia realitas, menampilkan tokoh, alur, karakter, dan lainnya yang kebenarannya diragukan. Cerita fiksi bergenre fantasi merupakan dunia imajinatif yang diciptakan penulis. Melalui kegiatan menulis cerita fantasi, siswa kelas VII SMP Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2016-2017 diharapkan dapat mengembangkan imajinasi dalam karangan yang bersifat khayal yang memberikan informasi dan pengetahuan kepada pembaca dalam bentuk tulis. Kegiatan menulis ini siswa diharapkan dapat memaparkan gambaran awal cerita fantasi dan menggambarkan peristiwa, masalah, dan kejadian ajaib dalam isi cerita fantasi. Selain meningkatkan dan mengembangkan kemampuan menulis siswa, melalui kegiatan menulis cerita fantasi, siswa kelas VII SMP Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2016-2017 dapat mengambil amanat (pesan) atau nilai positif dalam cerita fantasi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan menulis cerita fantasi siswa kelas VII SMP Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2016-2017. Tujuan khusus dalam penelitian ini dirumuskan menjadi dua tujuan, yakni (1) mendeskripsikan kemampuan menulis cerita fantasi dari aspek struktur isi dan (2) mendeskripsikan kemampuan menulis cerita fantasi dari aspek kebahasaan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2016-2017 sebanyak 256 siswa. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas 7-A SMP Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2016-207 dengan total sebanyak 32 siswa. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan cara sampel acak (cluster random sampling). Instrumen penelitian berupa tes yang berisi perintah dan petunjuk menulis cerita fantasi yang berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan karya tulis siswa. Pedoman penyekoran kemampuan menulis cerita fantasi yang digunakan untuk analisis data, agar bisa mengetahui kemampuan menulis cerita fantasi siswa kelas VII SMP Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2016-2017. Berdasarkan analisis data, diperoleh simpulan bahwa secara umum siswa kelas VII SMP Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2016-2017 mampu menulis cerita fantasi dengan kategori baik, terbukti dengan hasil rata-rata nilai yang diperoleh siswa dengan jumlah 80 untuk 32 siswa sedangkan KKM disekolah tersebut 72. Secara rinci, kategori sangat baik sebesar 31.2% (10 siswa) dengan indikator tujuh terpenuhi semua. Kategori baik sebesar 28.1% (9 siswa) dengan indikator tujuh terpenuhi, kecuali aspek komplikasi dan resolusi yang tidak maksimal. Kategori cukup baik sebesar 40.6% (13 siswa) dengan tujuh indikator terpenuhi, kecuali aspek komplikasi, resolusi, dan pilihan kata yang tidak maksimal nilainya. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan kemampuan menulis cerita fantasi siswa kelas VII SMP Negeri 12 Malang tahun pelajaran 2016-2017, kemampuan siswa dalam menentukan aspek judul tergolong sangat baik, terbukti sebagian besar siswa (87,5%) mendapat kategori sangat baik dan sebagian kecil siswa mendapatkan kategori baik (12,5%). Kemampuan siswa dalam menentukan aspek orientasi tergolong baik, terbukti sebagian kecil siswa (18,8%) mendapat kategori sangat baik, sebagian besar mendapatkan kategori baik (78,1%), dan sisanya siswa mendapatkan kategori cukup baik (3,1%). Kemampuan siswa dalam menentukan aspek komplikasi tergolong baik, terbukti sepertiga siswa mendapatkan kategori sangat baik (31,2%), kategori baik (34,4%), sebagian kecil kategori cukup baik (25.0%), dan sisanya kategori kurang baik (9,4%). Kemampuan siswa dalam menentukan aspek resolusi tergolong baik, terbukti sebagian kecil kategori sangat baik (25,0%), sebagian besar kategori baik (40.6%), dan sisanya kategori cukup baik (34,4%). Kemampuan siswa dalam menentukan aspek ketepatan pilihan kata cerita fantasi tergolong sangat baik, terbukti separuh kategori sangat baik (40,6%), sepertiga kategori baik (34.4%), sebagian kecil siswa mendapatkan kategori cukup baik (18,8%), dan kategori kurang baik (6.2%). Kemampuan siswa dalam menentukan aspek keefektifan kalimat tergolong sangat baik, terbukti sebagian besar kategori sangat baik (65,5%), sepertiga kategori baik (34,4%). Kemampuan siswa dalam menentukan aspek penggunaan ejaan kalimat tergolong baik, terbukti separuh kategori sangat baik (40.6%), sebagian besar siswa mendapatkan kategori baik (43.8%), sebagian kecil kategori cukup baik (12.5%), dan mendapatkan kategori kurang baik (3.1%). Saran, penelitian ini ditujukan kepada dua pihak sebagai berikut 1) bagi guru Bahasa Indonesia dan 2) bagi peneliti selanjutnya. disarankan kepada dua pihak sebagai berikut. Pertama, kepada guru Bahasa Indonesia disarankan agar melakukan tindak lanjut dalam pembelajaran menulis khususnya pada struktur komplikasi dan resolusi dalam cerita fantasi. Kedua, kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian baru yang masih berkaitan dengan cerita fantasi, Agar penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian mengenai cerita fantasi. Penelitian ini juga dapat digunakan menjadi rujukan untuk penelitian sejenis
Penggunaan Diksi dan Gaya Bahasa dalam Teks Berita di Rubrik Citizen Reporter Harian Surya
ABSTRAK Isnaini, Marin Nur. 2017. Penggunaan Diksi dan Gaya Bahasa dalam Teks Berita di Rubrik Citizen Reporter Harian Surya. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Martutik, M.Pd. Kata Kunci: diksi, gaya bahasa, Citizen ReporterBerita merupakan salah satu media yang efektif dalam penyampaian informasi kepada masyarakat secara tepat, cepat, dan akurat. Media yang cukup efektif dan menarik dalam penyampaian berita yaitu media online. Salah satu media massa yang memanfaatkan media online dalam penyampaian berita kepada masyarakat yaitu Harian Surya. Harian Surya memiliki rubrik Citizen Reporter yang memberikan kesempatan bagi masyarakat yang tertarik dengan jurnalisme warga untuk menyampaikan peristiwa yang dialami ke dalam sebuah berita. Penyampaian berita di rubrik Citizen Reporter tentu menggunakan diksi dan gaya bahasa yang beragam sesuai karakteristik penulis berita dan telah melewati proses penyuntingan oleh redaksi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan penggunaan diksi dan gaya bahasa dalam teks berita dalam rubrik Citizen Reporter Harian Surya.Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata yang menunjukkan paparan deskripsi penggunaan diksi dan gaya bahasa yang terdapat dalam teks berita. Sumber data penelitian ini adalah teks berita di rubrik Citizen Reporter Harian Surya dalam versi unggah online dalam periode Desember 2016. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi karena teks berita yang diteliti berwujud dokumen online. Instrumen penelitian berupa tabel pengumpul teks berita dan tabel pedoman analisis data. Kegiatan analisis data dilakukan dengan pengklasifikasian data, penginterpretasian data, dan pendeskripsian data hasil analisis. Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan perpanjangan pengamatan dan diskusi sejawat.Berdasarkan analisis data, diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penggunaan diksi dalam teks berita berupa kata konkret, kata abstrak, kata umum, kata khusus, kata lugas, dan kata abstrak. Kata konkret dalam teks berita sebagai penggambaran secara nyata mengenai objek yang diberitakan. Kata abstrak dalam teks berita berupa kata sifat sebagai penjelasan lebih mendalam mengenai objek yang diberitakan. Kata umum dalam teks berita sebagai generalisasi dari objek yang diberitakan. Kata khusus dalam teks berita sebagai penjelasan yang lebih spesifik mengenai suatu objek. Kata lugas dalam teks berita diperlukan dalam teks berita karena menuntut sebuah ketajaman dalam penyampaiannya. Kata kias dalam teks berita sebagai pemberi variasi dan warna terhadap teks sehingga mampu memberikan pemahaman yang mendalam terhadap pembaca. Kedua, penggunaan gaya bahasa dalam teks berita berupa persamaan, metafora, personifikasi, hiperbola, dan erotesis atau retoris. Gaya bahasa persamaan, metafora, personifikasi, hiperbola, dan erotesis atau retoris dalam teks berita digunakan sebagai penegasan terhadap gagasan yang disampaikan penulis. Dalam penulisannya, penggunaan gaya bahasa dapat menarikperhatian pembaca, namun harus melalui pertimbangan mendalam agar pembaca dapat menangkap pesan yang disampaikan secara tepat. Simpulan yang diperoleh dalam penelitian ini ada dua hal sebagai berikut. Pertama, dalam teks berita di rubrik Citizen Reporter Harian Surya lebih banyak menggunakan kata konkret, khusus, da
Penggunaan Penanda Kohesi dalam Teks Berita Karya Siswa Kelas XII SMK Negeri 2 Malang
ABSTRAK Devita, Della Yora. 2017. Penggunaan Penanda Kohesi dalam Teks Berita Karya Siswa Kelas XII SMK Negeri 2 Malang. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Martutik, M.Pd. Kata Kunci: penanda kohesi, penanda kohesi gramatikal, penanda kohesi leksikal, teks berita Salah satu kompetensi berbahasa yang terdapat dalam kurikulum 2013 adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis pada jenjang Sekolah Menengah Atas kelas XII dapat diaplikasikan dalam materi yang berbeda-beda, salah satunya adalah teks berita. Menulis teks berita bertujuan untuk melatih siswa menyajikan sebuah peristiwa ke dalam sebuah teks. Dalam menulis teks berita, peserta didik harus memperhatikan hubungan antarbagian dalam teks. Alat yang digunakan untuk menghubungkan antarbagian dalam teks adalah penanda kohesi. Siswa perlu memperhatikan penggunaan penanda kohesi agar teks berita menjadi wacana yang utuh dan padu. Fokus penelitian ini adalah mendeskripsikan penggunaan penanda kohesi gramatikal dan leksikal dalam teks berita karya siswa kelas XII SMK Negeri 2 Malang.Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini adalah deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa penanda kohesi gramatikal dan leksikal pada teks berita karya siswa kelas XII SMK Negeri 2 Malang.Sumber data pada penelitian ini adalah dokumen teks berita karya siswa Kelas XII Jurusan Perawat Sosial SMK Negeri 2 Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi dokumentasi. Dokumen teks berita karya siswa direduksi berdasarkan panduan studi dokumentasi. Data yang telah direduksi kemudian dikodifikasi dan dianalisis ke dalam tabel analisis data.Berdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penggunaan penanda kohesi gramatikal yang ditemukan dalam teks berita karya siswa dikelompokkan menjadi 3, yaitu berupa penanda gramatikal jenis referensi, substitusi dan konjungsi.Penggunaan penanda kohesi referensi yang ditemukan berupa referensi persona dan demonstrativa yang digunakan secara kurang tepat karena tidak sesuai dengan fungsinya. Penggunaan penanda kohesi substitusi yang ditemukan berupa substitusi nomina yang sudah digunakan secara tepat. Selain itu, penggunaan penanda kohesi konjungsi yang ditemukan terdapat penggunaan konjungsi yang kurang tepat berupa konjungsi aditif, pertentangan, alternatif, temporal, konsesi, dan komparatif karena tidak sesuai dengan fungsinya dan tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kedua, Penanda kohesi leksikal yang ditemukan dalam teks berita karya siswa dikelompokkan menjadi 2, yaitu penanda kohesi leksikal jenis repetisi berupa reiterasi repetisi dan kehiponimian yang telah digunakan secara tepat, sedangkan penanda kohesi leksikal jenis kolokasi yang ditemukan sudah digunakan secara tepat pula.Dari hasil penelitian yang diperoleh, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, berdasarkan penggunaannya, terdapat penggunaan penanda kohesi gramatikal yang kurang tepat dalam teks berita karya siswa, yaitu penggunaan penanda kohesi gramatikal jenis referensi dan konjungsi serta penanda kohesi substitusi yang digunakan secara tepat. Kedua, tidak terdapat penggunaan penanda kohesi leksikal yang kurang tepat dalam teks berita karya siswa. Saran dalam penelitian ini ditujukan kepada guru bahasa Indonesia dan peneliti lain. Pertama, saran untuk guru bahasa Indonesia agar lebih memantapkan materi tentang penggunaan penanda kohesi gramatikal jenis referensi dan konjungsi.Kedua, saran bagi peneliti lain agar dapat memanfaatkan hasil penelitian ini untuk meneliti tentang penggunaan penanda kohesi dengan subjek lain yang masih termasuk kalangan akademisi
Pengembangan Pembelajaran Ekosistem Berbasis Inkuiri Terbimbing dengan Sumber Belajar Pantai Elaar untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains, Sikap Ilmiah, dan Penguasaan Konsep Siswa SMP Negeri 2 Kei Kecil.
ABSTRAK Hakikat pembelajaran IPA meliputi aspek proses, produk, dan sikap. Pembelajaran IPA dengan memanfaatkan lingkungan sekitar siswa sebagai sumber belajar akan menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan perangkat pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing berbasis potensi pantai Elaar yang valid, praktis, dan efektif meningkatkan keterampilan proses sains, sikap ilmiah, dan penguasaan konsep siswa. Perangkat yang dikembangkan terdiri dari silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), instrumen penilaian, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), dan handout.Penelitian dan pengembangan inimenggunakan model 4D yang terdiri dari tahapan define, design, develop, dan disseminate. Kevalidan perangkat dinilai berdasarkan penilaian 1 dosen ahli materi, 1 dosen ahli desain pembelajaran, dan 1 praktisi pendidikan. Penilaian keterbacaan dilakukan oleh 9 orang siswa yang sudah mempelajari materi Ekosistem. Uji empirik juga dilakukan untuk mengukur kevalidan, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda butir soal tes penguasaan konsep. Subjek uji empirik adalah 212 orang siswa. Kepraktisan perangkat dinilai dengan menggunakan lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Keefektifan perangkat diukur dengan menggunakan desain pretest-posttest only control group terhadap keterampilan proses sains, sikap ilmiah, dan penguasaan konsep. Hasil validasi perangkat pembelajaran yang dikembangkan secara keseluruhan menunjukkan bahwa perangkat yang dikembangkan valid sehingga dapat digunakan. Hasil uji keterbacaan menunjukkan kriteria keterbacaan yang sangat baik. Kepraktisan perangkat menunjukkan bahwa perangkat yang dikembangkan sangat praktis. Keefektifan perangkat menunjukkan bahwa keterampilan proses, sikap ilmiah dan penguasaan konsep setelah perlakuan memiliki perbedaan yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Analisis menunjukkan bahwa siswa pada kelas eksperimen memiliki keterampilan proses, sikap ilmiah dan penguasaan konsep yang lebih baik dibandingkan dengan kelas kontrol. Secara keseluruhan, perangkat yang dikembangkan valid, praktis, dan efektif meningkatkan keterampilan proses sains, sikap ilmiah, dan penguasaan konsep siswa
Nilai Religius dan Nilai Sosial dalam Teks Fabel karya Siswa SMP Negeri 1 Sutojayan
ABSTRAK Sari, Kartika. 2017. Nilai Religius dan Nilai Sosial dalam Teks Fabel Karya Siswa Kelas VIII H SMP Negeri 1 Sutojayan. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:Dr. Siti Cholisotul Hamidah, M.Pd. Kata Kunci: nilai religius, nilai sosial, teks fabelNilai religius merupakan nilai yang melekat pada manusia sejak lahir. Nilai religius merupakan nilai yang berkaitan dengan kepecayaan, agama, dan amalan. Nilai tersebut merupakan salah satu dari nilai karakter yang diterapkan di beberapa sekolah. Nilai sosial merupakan nilai yang mengatur hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok satu dengan kelompok yang lain. Nilai sosial merupakan nilai yang harus dimiliki oleh setiap manusia karena manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Nilai sosial terdiri atas nilai toleransi, nilai empati, nilai bersahabat, nilai peduli sosial, dan nilai peduli lingkungan.Teks fabel adalah teks yang diajarkan pada bangku sekolah menengah pertama. Namun sering kali teks fabel menjadi bahan bacaan bagi anak-anak jenjang taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Teks fabel merupakan teks yang di dalamnya mengandung cerita moral dan menggunakan tokoh binatang dalam ceritanya.Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui nilai religius dan nilai sosial yang terdapat pada teks fabel karya siswa. Selain itu juga untuk mengetahui strategi penyampaian yang digunakan siswa untuk menyampaikan nilai religius dan nilai sosial dalam teks fabel.Penelitian ini berupa penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks fabel karya siswa kelas VIII H SMP Negeri 1 Sutojayan. Data dalam penelitian ini berupa kutipan dari teks fabel karya siswa yang mengandung nilai religius dan nilai sosial serta kutipan yang menunjukan strategi yang digunakan dalam menyampampaikan nilai religius dan nilai sosial beserta hasil analisis peneliti.Berdasarkan hasil analisis data tersebut, diperoleh empat simpulan penelitian sebagai berikut. Pertama, nilai religius yang terdapat pada teks fabel karya siswa terkait dengan aspek keimanan yang terdiri atas kepercayaan kepada Tuhan, kepercayaan kepada nabi, dan kepercayaan kepada takdir. Aspek yang kedua adalah aspek Islam yang terdiri atas salah satu rukun Islam yaitu puasa. Aspek yang ketiga adalah nilai religius terkait dengan ihsan yang terdiri atas contoh tindakan melakukan larangan. Aspek yang keempat adalah nilai religius terkait dengan ilmu yang terdiri atas pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama dan pelaksanaan ajaran agama. Aspek yang kelima adalah nilai religius terkait aspek amalan berupa menolong sesama dan bekerja keras.Kedua, strategi yang digunakan untuk menyampaikan nilai sosial pada teks fabel karya siswa adalah dengan menggunakan unsur intrinsik yang terdiri atas watak atau penokohan dan seting dalam cerita teks fabel karya siswa. Selain unsur intrinsik, nilai religius juga disampaikan dengan menggunakan diksi yang berkaitan dengan agama.Ketiga, nilai sosial yang terdapat pada teks fabel karya siswa adalah berupa nilai bersahabat atau komunikatif, nilai empati, nilai peduli sosial, dan nilai toleransi, dan peduli lingkungan. Nilai bersahabat yaitu aspek yang menggambarkan keakraban dan kebersamaan. Nilai empati yaitu aspek yang menceritakan tentang memiliki perasaan yang sama dengan orang lain. Nilai peduli sosial yaitu aspek mengenai kepedulian terhadap sesama. Nilai toleransi yaitu aspek menghormati atas perbedaan. Nilai peduli lingkungan yaitu aspek yang terkait dengan kepedulian terhadap tanaman, alam, hewan, dll. Keempat, strategi penyampaian yang digunakan untuk menyampaikan nilai sosial pada teks fabel karya siswa adalah menggunakan unsur intrinsik yang terdiri atas penokohan dan seting. Selain unsur intrinsik diksi juga digunakan untuk menyampaikan nilai sosial
PENGEMBANGAN BUKU PANDUAN MEMBAWAKAN ACARA UNTUK KEGIATAN DI SEKOLAH
ABSTRAK Purwaningrum, Aprillia. 2017. Pengembangan Buku Panduan Membawakan Acara untuk Kegiatan di Sekolah. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Yuni Pratiwi, M. Pd. Kata kunci: buku panduan, membawakan acara, kegiatan sekolah Membawakan acara merupakan keterampilan berbicara di depan umum untuk mengatur jalannya acara dari awal acara hingga akhir. Buku panduan membawakan acara ini disusun dengan mempertimbangkan empat aspek meliputi (1) deskripsi isi, (2) sistematika penyajian, (3) penggunaan bahasa, dan (4) tampilan. Penelitian dan pengembangan buku panduan membawakan acara ini memiliki dua tujuan. Tujuan tersebut, yaitu (1) menghasilkan produk berupa buku panduan membawakan acara untuk kegiatan di sekolah dan (2) melaporkan hasil uji produk buku panduan membawakan acara untuk kegiatan di sekolah. Desain uji coba dalam penelitian dan pengembangan buku panduan membawakan acara ini mengadaptasi model pengembangan Borg dan Gall. Model pengembangan tersebut meliputi 1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan draf produk, (4) uji ahli dan uji praktisi, (5) merevisi hasil uji ahli dan uji praktisi, (6) uji coba pelaksanaan lapangan, (7) penyempurnaan produk akhir, dan (8) diseminasi. Uji produk dilakukan dengan melibatkan ahli pembelajaran berbicara, ahli bidang kepewaraan, ahli desain tampilan, praktisi, (guru Bahasa dan Sastra Indonesia), dan subjek lapangan terbatas (siswa ektrakulikuler broadcasting). Hasil uji produk dengan melibatkan ahli pembelajaran berbicara, ahli bidang kepewaraan, ahli desain tampilan, praktisi, dan lapangan terbatas. dari aspek deskripsi isi memperoleh persentase 88,2% (sangat layak diimplementasikan). Komentar dan saran perbaikan aspek deksripsi isi, yaitu Komentar dan saran perbaikan diberikan oleh ahli untuk menambah kata pengantar yang berikaitan dengan pentingnya keterampilan membawakan acara dan untuk menambahkan materi manajemen penyelenggaraan acara tahap pelaksanaan dan evaluasi. Aspek sistematika penyajian memperoleh persentase 91,1% (sangat layak diimplementasikan). Aspek penggunaan bahasa memperoleh persentase 89,2% (sangat layak diimplementasikan). Komentar dan saran perbaikan pada aspek penggunaan bahasa, yaitu memerhatikan sapaan, pilihan diksi, dan ejaan pada buku. Aspek tampilan memperoleh persentase 75,1% yang mendapat komentar dan saran perbaikan untuk mengganti gambar dan warna sampul, ilutrasi gambar, bidang cetak buku, dan jenis fontasi. Penyebarluasan produk dapat dilakukan dengan menggunggah produk di media massa elektronik melalui jaringan internet. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan efisiensi dan efektivitas terhadap Buku Panduan Membawakan Acara untuk Kegiatan di Sekolah. Selain itu, produk dapat didiseminasikan melalui penulisan artikel ilmiah yang diunggah ke media elektronik. Diseminasi juga dapat dilakukan dengan mengadakan seminar tentang profesi sebagai pembawa acara.