SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    KARAKTERISTIK KARYA ILMIAH SISWA SMP NEGERI 3 MALANG PADA PERLOMBAAN KARYA ILMIAH REMAJA TAHUN 2015

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penulisan karya ilmiah yang dihasilkan ekstrakurikuler KIR SMPN 3 Malang. Karakteristik yang diteliti adalah pola pengembangan gagasan dan kesalahan kalimat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif menggunakan tabel analisis sebagai pedoman pengolahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya tulis siswa SMPN 3 Malang menggunakan pengembangan gagasan  pola masalah dan pemecahannya, pendapat dan alasan, kronologi, dan pemecah topik. Kesalahan kalimat yang ditemukan adalah kalimat tidak bersubjek, kalimat buntung, kalimat ambigu, penghilangan konjungsi, konjungsi perlebihan, penggunaan istilah asing, dan penggunaan kata tanya tidak perlu

    KARAKTERISTIK KARYA ILMIAH SISWA SMP NEGERI 3 MALANG PADA PERLOMBAAN KARYA ILMIAH REMAJA TAHUN 2015

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penulisan karya ilmiah yang dihasilkan ekstrakurikuler KIR SMPN 3 Malang. Karakteristik yang diteliti adalah pola pengembangan gagasan dan kesalahan kalimat. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif menggunakan tabel analisis sebagai pedoman pengolahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karya tulis siswa SMPN 3 Malang menggunakan pengembangan gagasan  pola masalah dan pemecahannya, pendapat dan alasan, kronologi, dan pemecah topik. Kesalahan kalimat yang ditemukan adalah kalimat tidak bersubjek, kalimat buntung, kalimat ambigu, penghilangan konjungsi, konjungsi perlebihan, penggunaan istilah asing, dan penggunaan kata tanya tidak perlu

    Bahan Ajar Menulis Puisi dan Kreativitas Penggunaan Diksi Pada Puisi Karya Siswa Kelas X SMK

    No full text
    ABSTRAK   Dalam pembelajaran bahasa Indonesia terdapat pembelajaran menulis puisi. Karya puisi merupakan hasil dari pemikiran manusia yang memiliki tujuan tertentu, karya puisi dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat memberikan kesempatan siswa untuk memperoleh pengalaman proses kreatif. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia ini di SMK siswa mampu menghasilkan karya puisi dari proses kreatif siswa. Pembelajaran menulis puisi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berimajinasi dan berekspresi. Oleh karena itu, anggapan bahwa menulis puisi sebagai aktifitas yang sulit sudah seharusnya dihilangkan, khususnya pada siswa SMK. Tujuan utama dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan cakupan materi bahan ajar menulis puisi kelas X SMK dan mendeskripsikan kreativitas penggunaan diksi dalam puisi karya siswa kelas X SMK Teori yang digunakan dalam penelitian ini meliputibahan ajar puisi,hakikat menulis, hakikat puisi, danhakikat diksi. Teori-teori yang digunakan tersebut berdasarkan rujukan dari berbagai macam sumber dan kesimpulan menurut peneliti sendiri. Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif.Data dalam penelitian ini berupa konteks yang di dalamnya memuat cakupan penyajian bahan ajar menulis puisi dan karya puisi siswa.Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Peneliti sebagai human instrument, berfungsi untuk menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, mengumpulkan data, menilai kualitas data, menganalisis data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas datanya. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi dilakukan untuk mengumpulkan data tentang bahan ajar dan data tentang puisi karya siswa.Teknik analisis data deskriptif kualitatif adalah teknik yang digunakan dalam penelitian ini yaitu peneliti mendeskripsikan kenyataan yang terjadi di lapangan melalui teknik pengumpulan data dokumentasi, wawancara, serta survey.Pengecekan keabsaan data dala penelitian ini dilakukan dengan dua teknik. Pertama, teknik ketekunan pengamatan dan Kedua, teknik diskusi para ahli yaitu dilakukan dengan membicarakan dan mengkonfirmasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing.Dalam tahap pnelitian ini peneliti melakukan tiga tahap yang dimulai dari tahap persiapan penelitian, pelaksanaan penelitian, dan penyelesaian. Dalam penelitian tentang cakupan materi dalam bahan ajar menulis puisi kelas X SMK dapat disimpulkan bahwa keseluruhan materi bahan ajar menulis puisi memuat capaian kompetensi inti dan kompetensi dasar. Kegiatan penugasan menulis puisi juga tercantum dengan baik. Materi bahan ajar yang digunakan oleh guru dapat membantu siswa untuk mampu menulis puisi dengan baik.Kreativitas penggunaan diksi dalam puisi karya siswa kelas X SMK dapat disimpulkan bahwa cakupan materi yang diberikan oleh guru mampu menunjang kreativitas penggunaan diksi siswa dalam menulis puisi. Pemilihan puisi siswa sangat beragam, keberagaman diksi tersebut karena faktor latar belakang siswa yang akan mempengaruhi inspirasi atau perasan siswa dalam menulis puisi Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah disampaikan, maka dapat diberikan beberapa saran penggunaan bahan ajar buku teks diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar untuk mempermudah guru menyampaikan teori pembelajaran khususnya menulis. Penggunaan bahan ajar juga harus disertai dengan sumber lain agar lebih memperluas pengetahuan dan tidak terpacu dengan buku saja. Bentuk penugasan dalam menulis seharusnya dilakukan dengan berbagai metode agar lebih menari

    Muatan Pendidikan Lingkungan dalam Buku Teks Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VII

    No full text
    ABSTRAK   Pengintegrasian materi pendidikan lingkungan ke dalam mata pelajaran lain merupakan salah satu perwujudan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter yakni nilai cinta lingkungan dan tanggung jawab untuk senantiasa menjaga lingkungan. Muatan pendidikan lingkungan di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia masih memiliki sedikit keganjilan pada pandangan beberapa orang karena banyak yang beranggapan bahwa pendidikan lingkungan (environmental education) adalah ilmu lingkungan (ecology).Saat nilai-nilai karakter dan muatan budaya dalam buku teks banyak diteliti, penelitian spesifik mengenai muatan materi pendidikan lingkungan dalam buku teks Bahasa Indonesia Edisi Revisi 2017 belum pernah dilakukan.Tujuan dari penelitian ini, yakni mendeskripsikan bentuk integrasi muatan pendidikan lingkungan dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs Edisi Revisi 2017, sebaran integrasi muatan pendidikan lingkungan dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs Edisi Revisi 2017, dan konteks yang melatari muatan pendidikan lingkungan dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs Edisi Revisi 2017. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan kondisi variabel mengenai muatan pendidikan lingkungan dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII Edisi Revisi 2017 terbitan Kemendikbud. Prosedur pengumpulan data penelitian ini menggunakan studi dokumentasi dengan menganalisis isi tertulis dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs Edisi Revisi 2017 terbitan Kemendikbud.Dokumen sebagai sumber utama penelitian ini adalah buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/Mts Edisi Revisi 2017 terbitan Kemendikbud.Data verbal yang diteliti dalam penelitian ini adalah kata-kata, kalimat, paragraf, teks, gambar, maupun soal dan evaluasi yang memuat serta berhubungan dengan pendidikan lingkungan dalam buku siswa Bahasa Indonesia Kelas VII SMP/MTs Edisi Revisi 2017 terbitan Kemendikbud. Analisis data dilakukan dengan tahapan meliputi pengklasifikasian data, pengeinterpretasian data dan pendeskripsian hasil analisis data yang dibantu oleh tabel panduan analisis data. Data yang terkumpul diolah dalam dua instrumen pendukung berupa tabel pengumpul data dan tabel pengolah data. Hasil penelitian didapatkan dipaparkan sebagi berikut, yakni Pertama, terdapat 10 bentuk topik muatan pendidikan lingkungan yang muncul dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII. Bentuktopik muatan tersebut, yakni tentang ekosistem, sumber daya lingkungan, daya dukung lingkungan, kepedulian, partisipasi, estetika, kearifan lokal, etika lingkungan, pengambilan keputusan terhadap isu lingkungan, dan kebencanaan. Kedua, sebaran muatan pendidikan lingkungan yang muncul dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII tersebut, yakni pada bagian pengantar, materi pendukung, teks sastra, teks non sastra, tugas, dan gambar. Ketiga, konteks yang melatari muatan pendidikan lingkungan yang Text Box: iimuncul dalam buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII tersebut, yaknitertulis secara tersurat, tersirat dan tersorot dalam kalimat di bagian-bagian buku teks seperti dalam bagian pengantar, materi pendukung, teks sastra, teks non sastra, tugas, dan gambar sehingga menentukan makna dari topik muatan pendidikan lingkungan yang dimaksud dan mendorong siswa untuk lebih “melek lingkungan” dan sadar bahwa perlu melakukan tindakan untuk lebih melestarikan lingkungan. Berdasarkah hasil tersebut, terdapat saran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan. Pertama, untuk guru. Buku teks Bahasa Indonesia Kelas VII untuk SMP/MTs Edisi Revisi 2017 terbitan Kemendikbud ini sudah memuat sepuluh topik muatan pendidikan lingkungan. Muatan pendidikan lingkungan di dalam buku teks ini tidak menjadi poin utama yang harus ditonjolkan, namun berjalan beriringan dengan muatan pendidikan karakter agar tujuan dalam pembelajaran dapat tercapai guna membentuk pribadi dan akhlak siswa menjadi lebih terbentuk dan terarah. Kedua, untuk penulis atau penyusun buku teks. Bila akan memanfaatkan muatan pendidikan lingkungan, topik aktual dan faktual sangat disarankan untuk diangkat dan dijadikan bahasan dalam pembelajaran agar siswa menjadi tertarik dengan bahasan yang ada. Ketiga, untuk peneliti selanjutnya. Penelitian tentang integrasi antara muatan pendidikan lingkungan dan mata pelajaran Bahasa Indonesia masih sedikit. Selain itu, semakin berkembangnya era modern saat ini, membuat dunia pendidikan juga ikut berkembang seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, pendidikan lingkungan yang ada di dalam pendidikan karakter bisa digunakan sebagai varian lain untuk dijadikan objek penelitian karena sama pentingnya dengan bentuk pendidikan karakter yang lain

    Hubungan Kemampuan Literasi Dasar dengan Prestasi Belajar Siswa SMA di Kota Malang

    No full text
    ABSTRAK   Kemampuan literasi dasar merupakan salah satu kemampuan yang diperlukan oleh seseorang dalam mengadapi perubahan zaman yang semakin cepat. Literasi dasar dapat diartikan sebagai suatu kemampuan membaca secara mendalam diikuti dengan kemampuan berpikir kritis, serta kemampuan untuk menuliskan hasil dari membaca yang bermanfaat untuk belajar tentang kehidupan sosial, masyarakat maupun lingkungan kerja. Kemampuan literasi dasar yang dimiliki oleh siswa juga berpengaruh terhadap hasil belajar di sekolah. Seorang siswa yang memiliki hasil belajar yang baik tentu akan memiliki kemampuan literasi yang tinggi. Keberhasilan seseorang dalam memeroleh hasil belajar yang baik banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti minat, motivasi, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) kemampuan literasi dasar siswa SMA di Kota Malang, (2) prestasi belajar siswa SMA di Kota Malang, dan (3) hubungan kemampuan literasi dengan prestasi belajar siswa SMA di Kota Malang, khususnya nilai ulangan harian bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Data pada penelitian ini berupa paparan data skor setiap kegiatan yang diperoleh dari tes kemampuan literasi, skor nilai ulangan harian bahasa Indonesia yang berasal dari guru bahasa Indonesia. Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan teknik tes, dan studi dokumen. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows. Berdasarkan hasil dari analisis data dapat diperoleh simpulan berikut. Pertama, kemampuan literasi dasar siswa kelas X adalah 68,93 dan rata- rata kemampuan literasi siswa kelas XI adalah 68,59. Kedua, skor rata- rata prestasi belajar bahasa Indonesia siswa kelas X adalah 80,65 dan 82 untuk kelas XI. Ketiga, ada hubungan yang signifikan antara kemampuan literasi dengan prestasi belajar siswa SMA di Kota Malang dengan hasil 0,055>0,05 untuk kelas X dan 0,021> 0.05 untukkelas XI. Berdasarkan simpulan hasil penelitian dapat dikemukakan beberapa saran kepada (1) guru Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa dengan memberikan tes, dan (2) peneliti lain dapat dijadikan masukan dalam melakukan penelitian yang berhubungan dengan kemampuan literasi dan prestasi belajar

    DIMENSI KOGNITIF DALAM SAJIAN ISI BUKU TEKS BAHASA INDONESIA UNTUK SMP/MTS KELAS VII

    No full text
    ABSTRAK   Fokus penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dimensi kognitif dalam sajian isi buku teks Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII menggunakan taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Anderson & Krathwohl. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah analisis dokumen. Data dalam  penelitian ini berupa deskripsi aspek-aspek yang menggambarkan dimensi kognitif dalam sajian isi buku teks, data lainnya berupa kutipan buku teks yang mengindikasikan aspek-aspek yang dianalisis tersebut. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku teks Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Instrumen penelitian ini ada dua, yaitu peneliti sebagai instrumen utama (human instrument) dan lembar panduan analisis data. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi. Hasil penelitian ini ada enam kategori meliputi (1) dimensi kognitif mengingat, (2) dimensi kognitif memahami, (3) dimensi kognitif mengaplikasikan, (4) dimensi kognitif menganalisis, (5) dimensi kognitif mengevaluasi, (6) dimensi kognitif mencipta.   Kata kunci: dimensi kognitif, sajian isi, buku tek

    Kemampuan Menulis Geguritan Siswa Kelas VII SMP Negeri 15 Malang Tahun Pelajaran 2014/2015

    No full text
    A ABSTRAK   Geguritan merupakan bentuk puisi yang berkembang di kalangan penutur bahasa Jawa dan Bali. Geguritan berkembang dari tembang sehingga dikenal beberapa bentuk geguritan yang berbeda. Geguritan berasal dari Jawa tengah, dengan kata dasar gurit yang berarti “tatahan” atau “coretan”. Geguritan merupakan bentuk puisi yang berkembang di kalangan penutur bahasa Jawa dan Bali. Geguritan berkembang dari tembang sehingga dikenal beberapa bentuk geguritanyang berbeda. Dalam bentuk yang awal, geguritan berwujud nyanyian yang memiliki sajak tertentu seperti dalam bahasa Jawa tembang uran-uran awujud purwakanthi atau dalam bahasa Indonesia nyanyian yang sebagian katanya diulang-ulang. Di Bali, berkembang bentuk geguritan semacam ini. Geguritan memiliki tema yang merupakan salah satu unsur pembangun di dalamnya. Tema geguritan dari tiap penyair berbeda-beda. Tema dalam puisi adalah kombinasi atau sintesis dari bermacam-macam pengalaman, cita-cita, ide, dan bermacan-macam hal yang ada di dalam pikiran penulis. Oleh karena itu, sebuah puisi (geguritan) memiliki tema yang berbeda dengan puisi lainnya. Peneliti memilih kelas VII karena peneliti beranggapan, kelas VII merupakan kelas tingkat terendah di Sekolah Menengah Pertama setelah Sekolah Dasar. Kelas VII A dipilih karena kelas tersebut telah dikelompokkan menurut NEM dengan rentang 25,75-27,20. Kelas tersebut memiliki siswa-siswi yang cekatan, cerdas, dan mampu mengikuti seluruh pembelajaran dengan tertib, sehingga dapat menjadi tolok ukur yang ideal bagi siswa yang lain. berdasarkan hasil penelitian tersebut, dipewroleh empat simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta dianalisis, dapat menghasilkan simpulan sebagai berikut (a) kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Malang tahun pelajaran 2014/2015 dalam menyesuaikan judul dengan isi geguritan dapat dikategorikan mampu karena hasil belajar yang diperoleh mayoritas siswa telah maksimal, (b) kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Malang tahun pelajaran 2014/2015 dalam menggunakan pilihan kata (diksi) dengan tepat dalam geguritan dapat dikategorikan mampu. Hal ini ditunjukkan oleh perolehan hasil belajar siswa yang tinggi dalam aspek ini, (c) kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Malang tahun pelajaran 2014/2015 dalam menggunakan ejaan dengan tepat belum dapat dikategorikan mampu. Hal ini dibuktikan besarnya hasil belajar terendah yang diperoleh, dan (d) kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Malang tahun pelajaran 2014/2015 dalam menggunakan konotasi atau ungkapan dalam geguritan belum dapat dikategorikan mampu. Penggunaan konotasi atau ungkapan dalam geguritan merupakan nilai tersukar dibandingkan ketiga nilai lainnya. Hal ini dibuktikan perolehan hasil belajar tertinggi dalam menulis geguritan hanya mampu diperoleh 1 siswa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan serta dianalisis, dapat menghasilkan simpulan sebagai berikut (a) kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Malang tahun pelajaran 2014/2015 dalam menyesuaikan judul dengan isi geguritan dapat dikategorikan mampu karena hasil belajar yang diperoleh mayoritas siswa telah maksimal, (b) kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Malang tahun pelajaran 2014/2015 dalam menggunakan pilihan kata (diksi) dengan tepat dalam geguritan dapat dikategorikan mampu. Hal ini ditunjukkan oleh perolehan hasil belajar siswa yang tinggi dalam aspek ini, (c) kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Malang tahun pelajaran 2014/2015 dalam menggunakan ejaan dengan tepat belum dapat dikategorikan mampu. Hal ini dibuktikan besarnya hasil belajar terendah yang diperoleh, dan (d) kemampuan siswa kelas VII SMP Negeri 15 Malang tahun pelajaran 2014/2015 dalam menggunakan konotasi atau ungkapan dalam geguritan belum dapat dikategorikan mampu. Penggunaan konotasi atau ungkapan dalam geguritan merupakan nilai tersukar dibandingkan ketiga nilai lainnya. Hal ini dibuktikan perolehan hasil belajar tertinggi dalam menulis geguritan hanya mampu diperoleh 1 siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis, membuahkan saran-saran yang diharapakan dapat bermanfaat dan memperbaiki kemampuan menulis geguritan untuk ke depannya. Saran-sara ditujukan kepada (1) siswa, (2) gurumata pelajaran bahasa Jawa, dan (3) peneliti lanjutan. Saran yang dapat diberikan untuk siswa khususnya siswa SMP agar banyak membaca teks bahasa Jawa dan kumpulan geguritan bahasa Jawa serta mencari tahu arti atau makna kata yang dianggap sulit agar memperkaya kosakata bahasa Jawa sehingga mempermudah siswa menulis nahasa Jawa khususnya geguritan. Selain siswa, guru mata pelajaran pun turut berpengaruh dalam melestarikan kebiasaan berbahasa Jawa yang baik dan benar. Saran yang dapat diberikan untuk guru mata pelajaran bahasa Jawa adalah meningkatakan kualitas pembelajaran dengan cara menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar selama pembelajaran bahasa Jawa agar siswa terlatih dan terbiasa menggunakan bahasa Jawa dengan baik dan benar serta dapat menempatkan tatanan bahasa Jawa sesuai porsinya. Sesuai posi yang dimaksud adalah penggunaan krama inggil untuk orang tua dan guru, penggunaan ngoko alus untuk teman dan lain sebagainya. Saran yang dapat diberikan untuk peneliti selanjutnya, adalah melakukan penelitian lanjutan tentang kemampuan menulis bahasa Jawa agar dapat mengetahui perkembangan kemampuan menulis bahasa Jawa pada siswa SMP dari tahun ke tahun

    Materi Bahan Ajar Teks Berita dalam Perencanaan Pembelajaran

    No full text
    Abstrak   Wafa, M. Aliyuddin. 2018. Materi Bahan Ajar Teks Berita dalam Perencanaan Pembelajaran. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Nurchasanah, M.Pd.   Kata Kunci: bahan ajar, teks berita, cakupan materi, repetisi materi   Materi bahan ajar merupakan hal esensial yang tidak dapat dipisahkan dari perencanaan pembelajaran. Materi bahan ajar berkaitan dengan hal yang dipelajari oleh peserta didik mengenai suatu pembahasan dalam bahan ajar. Berdasarkan cakupan materinya, peserta didik dapat mengetahui definisi, contoh, ciri, dan klasifikasi suatu jenis teks. Sebagai bahan penguatan materi dalam bahan, biasanya disertai dengan repetisi atau penajama materi  yang dapat digunakan untuk memperkuat tingkat pemahaman peserta. Keutuhan cakupan materi dan repetisi inilah yang memperkuat aspek kognitif peserta didik dalam belajar. Secara umum, fokus penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cakupan materi bahan ajar dan repetisi materi yang digunakan dalam RPP pembelajaran teks berita. Secara khusus, penelitian ini mengkaji cakupan materi yang meliputi: materi faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Adapun repetisi materi yang dikaji dalam penelitian ini berupa repetisi reseptif (membaca dan menyimak) dan repetisi produktif (menulis dan berbicara). Penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian dengan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian berupa analisis isi. Data penelitian ini berupa materi pengetahuan (kognitif) dan repetisi materi. Sumber data penelitian ini berupa RPP materi teks berita yang disusun oleh guru MTs Negeri di Kabupaten Malang. Instrumen penelitian ini berupa panduan analisis data cakupan materi dan repetisi materi bahan ajar teks berita yang tercantum dalam RPP materi teks berita MTs Negeri di Kabupaten Malang. Analisis data dilakukan dengan berdasarkan indikator yang relevan dengan materi dan repetisi materi yang terdapat dalam bahan ajar. Hasil penelitian ini dibedakan menjadi dua kategori berdasarkan fokus penelitiannya. Pertama, cakupan materi bahan ajar teks berita yang tercantum dalam RPP meliputi: materi faktual, konspetual, prosedural, dan metakognitif. Materi faktual jenis terminologi yang ditemukan ada yang bersifat ilustratif. Materi detail-detail elemen spesifik berdasarkan topiknya terdapat lima jenis, yaitu (1) ekonomi, (2) pendidikan, (3) transportasi, (4) politik, (5) dan kesehatan. Materi konseptual dapat dikategorikan menjadi dua tipe, yaitu (1) materi konseptual yang disertai contoh dan (2) materi konseptual yang disertai keterangan. Materi pengetahuan prosedural berdasarkan bentuknya berupa deksripsi dan berupa gambar. Materi metakognitif ditinjau berdasarkan kegunaanya dapat berupa (1) materi metakognitif penunjang pendidikan karakter dan (2) materi metakognitif penunjang kecakapan berbahasa. Kedua, Repetisi materi dalam bahan ajar dapat dibedakan menjadi materi repetisi reseptif dan materi repetisi produktif. Materi repitisi reseptif membaca berdasarkan keterpaduan dengan keterampilan berbahasa yang lain dibedakan menjadi tiga, yaitu (1) repetisi reseptif membaca yang dipadukan dengan keterampilan menulis, (2) repetisi reseptif membaca yang dipadukan dengan keterampilan berbicara, dan repetisi reseptif tidak terstruktur. Repetisi reseptif menyimak dengan interpretasi menulis dapat berbentuk tabel dan berbentuk uraian. Repetisi produktif menulis berdasarkan topik bahasannya tidak diberikan batasan. Peserta didik diberikan kebebasan menulis teks berita dengan topik yang beragam, tetapi tetap memerhatikan aturan penulisannya. Cakupan materi didominasi dengan materi faktual detail-detail elemen spesifik yang bertopik pendidikan. Topik tersebut dianggap lebih relevan dengan kondisi peserta didik. repetisi materi pada bahan ajar yang tercantum dalam RPP didominasi dengan materi repetisi reseptif membaca dengan interpretasi menulis. Repetisi produktif hanya berupa repetisi produktif menulis tidak diikuti dengan repetisi produktif berbicara. Saran diberikan kepada penulis bahan ajar, hendaknya memerhatikan cakupan atau isi materi yang variatif dengan tidak mengurangi jenis materi yang harus termuat, yaitu materi faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Cakupan atau isi materi yang variatif dan sesuai dengan kurikulum yang digunakan akan memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang dipelajari. Selain itu berkaitan dengan cakupan atau isi, bahan ajar lebih baik didukung dengan repetisi yang tidak hanya difokuskan atau diperbanyak di keterampilan berbahasa tertentu, misalnya repetisi reseptif membaca. Repetisi yang bersifat produktif juga memiliki porsi yang sama dengan repetis yang bersifat reseptif. Penelitian ini hanya dilakukan pada materi teks berita, para peneliti lain yang sejenis dapat melakukan penelitian dengan pembahasan yang lebih spesifik dengan ruang lingkup materi yang lebih luas.

    STRUKTUR TEKS CERITA PENDEK DALAM BUKU BAHASA INDONESIA SMA/SMK/MA/MAK KELAS XI EDISI REVISI

    No full text
    ABSTRAK   Putri, Meilanda . 2018. Struktur Teks Cerita Pendek dalam Buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI Edisi Revisi. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. Pidekso Adi, M.Pd.   Kata Kunci: buku teks pelajaran, teks cerita pendek, struktur cerpen Kurikulum K-13 merupakan kurikulum yang berlaku saat sehingga materi pembelajaran di sekolah menyesuaikan SK dan KD yang berlaku. Salah satu materi pembelajaran tersebut adalah tentang teks cerpen yang diajarkan pada kelas XI SMA/Sederajat. Namun, kadangkala materi teks cerpen memiliki tingkat kesulitan tertentu. Kadangkala tidak semua teks cerpen memiliki struktur yang sama. Hal inilah yang menyebabkan siswa kurang memahami dengan baik bentuk struktur teks cerpen. Pelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur teks cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI .Terdapat dua cerpen dalam buku tersebut, yakni cerpen Robohnya Surau Kami dan Matahari Tak Terbit Pagi Ini. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan desain deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI. Data penelitian adalah struktur teks cerpen pada buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI. Kehadiran peneliti adalah sebagai instrumen utama, yakni peneliti yang akan melakukan analisis. Instrumen pendukung lainnya meliputi pedoman pengumpulan pengumpulan data struktur cerpen dan pedoman indikator struktur cerpen. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu (1) menentukan sumber data, yaitu buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI, (2) menandai struktur teks cerpen yang ada pada kedua cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI, dan (3) kodifikasi data berupa kalimat yang menyatakan struktur teks cerpen pada kedua teks cerpen tersebut. Hasil penelitian meliputi (1) struktur isi teks cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI, (2) perbedaan struktur isi teks cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI, dan (3) rincian struktur isi teks cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI. Pertama, struktur isi teks cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XIdibagi menjadi dua cerpen yaitu cerpen Robohnya Surau Kami dan Matahari Tak Terbit Pagi Ini. Pada cerpen Robohnya Surau Kami memiliki struktur cerita berbingkai yang terdiri dari cerita sisipan dan cerita pokok. Cerita sisipan terdiri dari (1) pengenalan situasi cerita (exposition, orientation), (2) pengungkapan peristiwa (complication), (3) gambaran konflik (rising action), (4) puncak konflik (turning point), dan (5) penyelesaian (ending atau coda). Sedangkan pada cerita pokok terdiri dari (1) puncak konflik (turning point), dan (2) penyelesaian (ending atau coda). Pada cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini memiliki struktur cerpen pada umumnya yaitu (1) pengenalan situasi cerita (exposition, orientation), (2) pengungkapan peristiwa (complication), (3) gambaran konflik (rising action), (4) puncak konflik (turning point), dan (5) penyelesaian (ending atau coda). Kedua, perbedaan struktur isi teks cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/MA/SMK/SMK Kelas XI yaitu pada cerpen cerpen Robohnya Surau Kami memiliki struktur cerita berbingkai yang terdiri dari cerita sisipan dan cerita pokok. Sedangkan pada cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini memiliki struktur cerpen pada umumnya yaitu (1) pengenalan situasi cerita (exposition, orientation), (2) pengungkapan peristiwa (complication), (3) gambaran konflik (rising action), (4) puncak konflik (turning point), dan (5) penyelesaian (ending atau coda). Ketiga, rincian struktur isi teks cerpen dalam buku Bahasa Indonesia SMA/SMK/MA/MAK Kelas XI. Hasil penelitian meliputi pengenalan situasi cerita, pengungkapan peristiwa, gambaran konflik, puncak konflik, dan penyelesaian. Pertama, pengenalan situasi tergambar melalui gambaran kehidupan tokoh dan hubungan antartokoh. Gambaran kehidupan tokoh pada cerpen Robohnya Surau Kami dan cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini digambarkan lewat reaksi tokoh terhadap suatu kejadian, lewat tindakan dan psikologi tokoh. Hubungan antartokoh pada kedua cerpen tersebut menunjukan ikatan dalam alur cerita. Kedua, pengungkapan peristiwa tergambar melalui peristiwa yang dihadapi oleh tokoh. Gambaran masalah yang dihadapi oleh tokoh pada cerpen Robohnya Surau Kami dan Matahari Tak Terbit Pagi Ini menggambarkan perkenalan konflik yang dihubungkan oleh sebab akibat. Konflik yang akan terjadi digambarkan pada bagian ini. Ketiga, gambaran konflik tergambar melalui situasi yang dihadapi oleh tokoh. Pada cerpen Robohnya Surau Kami tokoh mengalami konflik eksternal yang berupa konflik antar tokoh, yakni antara Haji Saleh dan penghuni neraka lainnya dengan Tuhan. Pada cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini tokoh mengalami konflik internal yang berupa konflik sengan diri sendiri (konflik batin). Pada tahap ini konflik masih berupa penggambaran situasi cerita karena belum mencapai klimaks. Keempat, puncak konflik tergambar melalui bentuk ketegangan, pencapaian klimaks, dan perubahan nasib tokoh. Pada cerpen Robohnya Surau Kami terdapat dua puncak konflik yaitu puncak konflik pada cerita sisipan dan puncak konflik pada cerita pokok. Bentuk ketegangan pada kedua cerpen  (Robohnya Surau Kami dan Matahari Tak Terbit Pagi Ini)menimbulkan rasa ingin tahu pembaca terhadap kelanjutan konflik. Pencapaian klimaks pada kedua cerpen berkaitan dengan adanya puncak klimaks yang memberikan kejutan kepada pembaca. Perubahan nasib tokoh pada kedua cerpen menunjukkan penentuan nasib, yakni bisa menyelesaikan konflik atau tidak. Kelima, penyelesaian tergambar melalui kesan atau efek yang ditimbulkan oleh cerpen. Pada cerpen Robohnya Surau Kami dan cerpen Matahari Tak Terbit Pagi Ini memiliki penyelesaian tertutup yakni pembaca hanya perlu membaca akhir cerita yang diberikan oleh pengarang. Penyelesian pada cerpen Robohnya Surau Kami memiliki dua penyelesaian yaitu penyelesaian cerita sisipan dan penyelesaian cerita terbuka

    Morfofonemik dalam Teks Pidato Karangan Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Durenan

    No full text
    ABSTRAK   Al Muthi’ah, Aghilia . 2018. Morfofonemik dalam Teks Pidato Karangan Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Durenan. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Sumadi, M.Pd.   Kata Kunci: morfofonemik, teks pidato Proses morfofonemik yang benar membuat makna kata menjadi tepat dan sesuai dengan kaidahnya. Morfofonemik adalah ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan fonem yang terjadi akibat bertemunya dua morfem atau lebih. Penelitian ini difokuskan pada morfofonemik dalam teks pidato karangan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Durenan. Fokus penelitian dirumuskan dalam tiga sub fokus, yaitu perubahan fonem, penambahan fonem, dan penghilangan fonem dalam teks pidato karangan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Durenan. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini termasuk jenis penelitian analisis teks. Data penelitian ini berupa kata-kata bentukan yang terdapat dalam teks pidato karangan siswa, sedangkan sumber data dalam penelitian ini berupa teks pidato karangan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Durenan. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah human instrument yaitu peneliti sendiri. Pengumpulan data dilakukan melalui empat langkah, yaitu (1) meminta izin kepada guru mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk pengambilan data, (2) memperoleh teks pidato langsung dari guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, (3) menandai kata-kata bentukan yang mengandung proses morfofonemik, dan (4) menuliskan data yang telah ditemukan. Analisis data dilakukan dengan model alir yang terdiri dari tiga alur, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa morfofonemik dalam teks pidato karangan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Durenan meliputi (1) perubahan fonem, (2) penambahan fonem, dan (3) penghilangan fonem. Perubahan fonem pada teks pidato karangan siswa, yaitu perubahan fonem /N/, perubahan fonem /r/, dan perubahan morfem {ter-} dan {ber-}; penambahan fonem pada teks pidato karangan siswa, yaitu penambahan fonem /ə/, dan penambahan fonem /?/, /w/, dan /y/; penghilangan fonem pada teks pidato karangan siswa, yaitu penghilangan fonem /N/. Selain ketiga proses morfofonemik di atas, ditemukan juga kesalahan morfofonemik pada kata pecinta dan mengkompos. Berdasarkan hasil penelitian ini, dikemukakan dua saran. Pertama, saran ditujukan kepada guru SMA Negeri 1 Durenan. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran di dalam kelas sebagai upaya memaksimalkan siswa dalam memahami penulisan kata dengan benar karena selama ini masih ada siswa yang belum benar-benar paham. Kedua, saran ditujukan kepada peneliti selanjutnya. Peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian sejenis dengan variabel yang berbeda serta sumber pustaka yang lebih lengkap. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan atau rujukan dalam melanjutkan penelitian yang sejenis

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇