SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
GAYA BAHASA PENGGAMBARAN LATAR TEKS CERPEN KARYA SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 BULULAWANG
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa yang digunakan siswa kelas IX SMP Negeri 2 Bululawang untuk menggambarkan latar dalam sebuah cerita pendek. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas IX B SMP Negeri 2 Bululawang. Dari tahapan analisis data ditemukan 3 hasil yang menjawab fokus penelitian. Hasil pertama penelitian ini adalah sebagian siswa kelas IX B sering menggunakan gaya bahasa kiasan berupa gaya bahasa personifikasi dan epitet. Hasil kedua penelitian ini adalah siswa kelas IX B sering menggunakan gaya bahasa retoris berupa gaya bahasa enomerasio. Hasil ketiga adalah penggunaan gaya bahasa citra penglihatan dan pendengaran yang sering digunakan siswa dalam menggambarkan sebuah latar cerita. Kata Kunci : gaya bahasa, teks cerpen, latar
PENGARUH MEDIA FILM 5 CM TERHADAP KETERAMPILAN MENULIS PUISI KELAS VIII SMPN 12 MALANG
ABSTRAK RINGKASAN Pratiana, Kholifah. 2018. Pengaruh Media Film “5 CM” Terhadap KeterampilanMenulis Puisi Kelas VIII Smpn 12 Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia,Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Hj. Siti CholisotulHamidah, M.PdKata Kunci: media film, keterampilan menulis puisiKeterampilan menulis sangat diperlukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Keterampilan menulis dapat diterapkan dalam menulis puisi.Keterampilan menulis puisi dapat dilakukan dengankegiatan menulis puisi secara terus-meneru, sehingga memengaruhi hasil siswa dalam menulis puisi. Keterampilan menulis puisi menjadi penting untuk dikuasai siswa karena setiap menulis puisi dapat menyusun kata-kata menjadi rangkaian kata yang indah dan memiliki arti. Keterampilan menulis puisi seharusnya dikuasai siswa karena dengan menulis puisi siswa dapat mengintreperetasikan kemampuan berimajinasi melalui kata-kata yang dirangkai.Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan pengaruh media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi. Pengaruh media film “5 CM” tersebut ditentukan oleh lima aspek, yaitu (1) penggunaan media film “5CM” berpengaruh terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek tema, (2) penggunaan media film “5CM” berpengaruh terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek diksi, (3) penggunaan media film “5CM” berpengaruh terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek imaji, (4) penggunaan media film “5CM” berpengaruh terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek kata konkrit, (5) penggunaan media film “5CM” berpengaruh terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek majas.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain penelitian eksperimen murni (true experimental design). Sampel penelitian ini menggunakan satu kelompok kontrol dan satu kelompok eksperimen pada kelas VIII SMP Negeri 12 Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tugas menulis puisi dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Data penelitian ini berupa ketepatan tema, ketetapan diksi, kesesuaian imaji, kesesuaian kata konkrit, dan penggunaan majas.Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menganalisis hasil tes yang diperoleh pada saat pretes dan postes. Nilai hasil menulis puisi tersebut digunakan untuk mendeskripsikan perbandingan penggunaan media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi.Analisis data dihitung menggunakan uji-t. sebelum uji-t, terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas sebagai uji prasyarat. Data penelitian ini dinyatakan normal dan homogen sehingga uji-t dapat dilanjutkan. Pengujian hipotesis diterima apabila nilai signifikansi < 0,05.Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas (x) berpengaruh terhadap variabel terikat (y).Hasil penelitian pada pengaruh media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek tema menunjukan nilai Asymp-Sig 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif menyatakan terdapat pengaruh signifikansi penggunaan media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi kelas VIII SMP Negeri 12 Malang dengan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen 19,68 dan kelas kontrol 16,88. Hasil penelitian pengaruh media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek diksi menunjukan nilai Asymp-Sig 0,001 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif menyatakan terdapat pengaruh signifikansi penggunaan media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi kelas VIII SMP Negeri 12 Malang dengan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen 16,13 dan kelas kontrol 15,78. Hasil penelitian pengaruh media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek imaji menunjukan nilai Asymp-Sig 0,027 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif menyatakan terdapat pengaruh signifikansi penggunaan media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi kelas VIII SMP Negeri 12 Malang dengan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen 13,75 dan kelas kontrol 14,52. Hasil penelitian pengaruh media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek kata konkrit menunjukan nilai Asymp-Sig 0,0007 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif menyatakan terdapatpengaruh signifikansi penggunaan media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi kelas VIII SMP Negeri 12 Malang dengan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen 12,42 dan kelas kontrol 11,09. Hasil penelitian pengaruh media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi pada aspek majas menunjukan nilai Asymp-Sig 0,015 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatifmenyatakan terdapatpengaruh signifikansi penggunaan media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi kelas VIII SMP Negeri 12 Malang dengan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen 10,32 dan kelas kontrol 8,12.Berdasarkan hasil penelitian pada pengaruh media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi menunjukan nilai Asymp-Sig 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif yang menyatakan bahwa ada pengaruh signifikansi penggunaan media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi kelas VIII SMP Negeri 12 Malang dengan nilai rata-rata pada kelompok eksperimen 73,71 dan kelas kontrol 65,47.Penggunaan media film “5CM” terhadap keterampilan menulis puisi siswa kelas VIII SMP Negeri 12 Malang memiliki pengaruh yang cukup besar. Terutama pada aspek kata konkret dan majas.Kata konkret dan majas pada penelitian ini memiliki nilai yang paling tinggi dibandingkan dengan aspek yang lainnya. Berdasarkan penelitian disarankan bagi guru Bahasa Indonesia, guru diharapkan dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan untuk menggunakan media film dalam pembelajaran menulis puisi, karena penggunaan media dapat memberikan manfaat dalam proses pembelajaran menulis puisi. Melalui media film yang diberikan, siswa menjadi lebih mudah untuk mendapatkan inspirasi dan lebih banyak menemukan kosakata pada keterampilan menulis puisi. Bagisiswa, diharapkan penggunaan media film “5 CM” dalam keterampilan menulis puisi dapat mengembangkan ide dan imajisiswa, sehingga siswa mampu memilih kata yang tepat dan menjadipuisi yang baik. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadikan penelitian ini sebagai acuan dalam mengadakan penelitian sejenis pada aspek lain, seperti struktur batin yang didalamnya terdapat aspek nada, perasaan dan amanat yang belum diamati. Peneliti selanjutnya juga diharapkan dapat mengadakan penelitian sejenis yang kemudian dikembangkan menjadi penelitian pengembangan.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN PEMBELAJARAN FABEL UNTUK SISWA SMP KELAS VII
ABSTRAK Tujuan penelitian pengembangan ini adalah mengembangkan instrumen asesmen dan pedoman penggunaan instrumen asesmen pembelajaran fabel. Metode penelitian digunakan model pengembangan asesmen O’Malley dan Pierce dengan modifikasi menjadi 5 langkah. Hasil penelitian dan pengembangan ini adalah instrumen asesmen dan pedoman penggunaan instrumen asesmen pembelajaran fabel. Hasil validasi instrumen asesmen menunjukkan 72,3%. Hasil validasi pedoman penggunaan menunjukkan 75%. Hasil uji praktisi instrumen asesmen menunjukkan 93,7%. Hasil uji praktisi pedoman penggunaan menunjukkan 100%. Hasil uji lapangan menunjukkan 78,7%. Kata Kunci: instrumen asesmen, pembelajaran berbasis teks, fabe
Penanda Kohesi dalam Teks Eksplanasi Karya Siswa Kelas VIII SMP Negeri 9 Malang.
ABSTRAK Dalam bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Peserta didik dituntut agar dapat menguasai keempat jenis keterampilan berbahasa. Dari keempat keterampilan berbahasa tersebut mendengar dan berbicara merupakan keterampilan berbahasa lisan, sedangkan membaca dan menulis merupakan keterampilan berbahasa tulis. Keterampilan menulis merupakan aktivitas berbahasa yang paling tinggi karena menulis tidak hanya menyalin kata-kata dan kalimat , tetapi juga menuangkan pikiran-pikiran dalam suatu bentuk tulisan yang teratur.Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit karena memerlukan tingkat konsentrasi dan pemikiran yang tinggi daripada keterampilan berbahasa lainnya. Dalam menulis sebuah karangan harus memperhatikan penggunaan penanda kohesi yang sesuai. Hubungan kohesif ditandai dengan penggunaan piranti formal yang berupa bentuk linguistik. Dalam menulis teks eksplanasi, peserta didik harus memperhatikan hubungan antarbagian dalam teks. Alat yang digunakan untuk menghubungkan antarbagian di dalam teks disebut penanda kohesi. Siswa perlu memperhatikan penggunaan penanda kohesi agar teks eksplanasi menjadi wacana yang utuh dan padu. Fokus penelitian ini adalah penggunaan penanda kohesi gramatikal dan kohesi leksikal dalam teks eksplanasi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 9 Malang.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa penanda kohesi gramatikal dan leksikal dalam teks eksplanasi karya siswa kelas VIII SMP Negeri 9 Malang. Instrumen yang digunakan adalah studi dokumentasi. Dokumen teks berita karya siswa direduksi berdasarkan panduan studi dokumentasi. Data yang sudah direduksi kemudian dikodifikasi dan dianalisis ke dalam tabel analisis data.Berdasarkan analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penggunaan penanda kohesi gramatikal yang ditemukan dalam teks eksplanasi karya siswa dikelompokkan menjadi 3, yaitu penanda kohesi gramatikal referensi, substitusi, dan konjungsi. Penanda referensi dikelompokkan menjadi referensi eksoforis, referensi personal, dan referensi demonstrativa. Penanda referensi yang paling banyak ditemukan adalah referensi eksoforis dan referensi demonstrativa. Penanda substitusi yang ditemukan adalah substitusi nominal dan substitusi verbal. Penanda konjungsi yang paling banyak ditemukan adalah penanda konjungsi penjumlahan dan konjungsi kausal. Penanda kohesi gramatikal konjungsi paling banyak ditemukan dari pada penanda kohesi gramatikal lainnya. Penanda kohesi gramatikal konjungsi berjumlah 187 data, penanda referensi berjumlah 15 data, dan penanda substitusi berjumlah 8 data. Kedua, penanda kohesi leksikal yang ditemukan adalah reiterasi atau perulangan, antonimi, sinonimi, dan hiponimi. Penanda kohesi leksikal pengulangan merupakan penanda leksikal yang paling banyak ditemukan dalam teks eksplanasi karya siswa. Hal ini dibuktikan dengan jumlah penanda leksikal yang ditemukan terdiri atas, penanda kohesi leksikal reiterasi berjumlah 62 data, kohesi leksikal antonimi berjumlah 8 data, kohesi leksikal sinonimi berjumlah 3 data, dan kohesi leksikal hiponimi berjumlah2 data. Dari temuan penelitian yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan sebagai berikut. Penanda kohesi gramatikal elipsis dan penanda kohesi leksikal kolokasi tidak ditemukan dalam teks eksplanasi karya siswa. Saran penelitian ini disampaikan kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia dan kepada peneliti lain. Guru perlu memberikan pemantapan materi mengenai penanda kohesi gramatikal dan leksikal agar siswa dapat menggunakan penanda tersebut dengan tepat. Kekurangan lain ada pada penanda elipsis dan kolokasi yang tidak muncul dalam teks ekplanasi, seharusnya guru memberikan contoh kalimat yang mengandung penanda kohesi elipsis dan kolokasi. Bagi peneliti lain sebaiknya membaca sumber rujukan atau referensi yang berhubungan dengan penanda kohesi. Berdasarkan penelitiam penanda kohesi tersebut, dapat dilakukan penelitian yang mendekati atau subjek lain
Penggunaan Bahasa dalam Buku teks Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Kurikulum 2013 Terbitan Kemendikbud
ABSTRAK Annane, Clary Esta. 2018. Penggunaan Bahasa dalam Buku Teks Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Kurikulum 2013 Terbitan Kemendikbud. Skripsi, Jurusan sastra Indonesia. Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I)Dr. Martutik, M.Pd.Kata Kunci: penggunaan bahasa, buku teks.Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Terciptanya komunikasi dikarenakan adanya penggunaan bahasa antara penutur dan mitra tutur. Penggunaan bahasa diperlukan untuk memahami konteks pembahasan, begitu juga dalam penggunaan bahasa Indonesia.Pada situasi tertentu, pengguna bahasa dituntut untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar. Penggunaan bahasa yang baik dan benar adalah penggunaan bahasa yang disesuaikan dengan situasi tertentu serta menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang tepat.Salah satu situasi yang diwajibkan menggunakan bahasa yang baik dan benar adalah proses pembelajaran. Penggunaan bahasa yang baik dan benar digunakan guru untuk menyampaikan materi kepada siswa. Begitu pula pada penggunaan bahan ajar. Salah satu bahan ajar yang sering digunakan adalah buku teks. Penggunaan bahasa yang baik dan benar pada buku teks perlu diperhatikan. Jika terdapat kesalahan dalam penggunaan bahasa pada buku teks maka akan membuat siswa kesulitan untuk memahami isi materi.Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan penggunaan bahasa dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII kurikulum 2013 terbitan Kemendikbud. Tujuan tersebut yaitu mendeskripsikan penggunaan kalimat efektif, mendeskripsikan penggunaan ejaan, dan tanda baca. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa kalimat efektif, ejaan, dan tanda baca yang terdapat dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII kurikulum 2013 terbitan Kemendikbud. Prosedur pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan cara (1) membaca buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII kurikulum 2013 terbitan Kemendikbud, (2) mengidentifikasi buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII kurikulum 2013 terbitan Kemendikbud, (3) memberi kode pada penggunaan bahasa yang sesuai dan tidak sesuai dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII kurikulum 2013 terbitan Kemendikbud, dan (4) mencatat penggunaan bahasa yang sesuai dan tidak sesuai dalam buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII kurikulum 2013 terbitan Kemendikbud. Analisis data yang dilakukan melalui proses reduksi data, analisis data, penyajian data, penarikan simpulan, dan pengecekan keabsahan temuan. Reduksi data yang dilakukan pada penelitian ini adalah identifikasi, klasifikasi, dan pengkodean. Tahap identifikasi data dilakukan dengan cara menentukan dan menetapkan data yang sesuai kriteria untuk dianalisis. Klasifikasi data dilakukan dengan cara mengelompokkan penggunaan bahasa pada buku teks bahasa Indonesia berdasarkan keefektifan kalimat dan ejaan. Kodefikasi data dilakukan dengan cara memberikan kode-kode pada kalimat, ejaan, dan tanda baca dalam buku teks bahasa Indonesia sesuai dengan klasifikasinya. Pengecekan keabsahan temuan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik ketekunan pengamatan membaca dan menelaah semua dokumen yang telah diperoleh, melakukan diskusi dengan teman sejawat, memanfaatkan bantuan dan saran yang diperoleh dari dosen pembimbing. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, penggunaan kalimat efektiif dilihat dari aspek kegramatikalan, kehematan, kelogisan, dan ketaksaan (ambigu). Kedua, penggunaan kalimat tidak efektif dilihat dari aspek kegramatikalan dan kehematan. Ketiga, penggunaan ejaan yang tepat dilihat dari aspek pemakaian huruf, yaitu pemakaian huruf kapital dan huruf miring. Keempat, penggunaan ejaan yang tidak tepat dilihat dari aspek pemakaian huruf, yaitu pemakaian huruf kapital dan huruf miring. Kelima, penggunaan ejaan yang tepat dilihat dari aspek penulisan kata, yaitu pemenggalan kata yang bentuk dasarnya mengalami pelesapan, penggunaan tanda hubung pada bentuk yang diulang, penulisan imbuhan, dan partikel. Keenam, penggunaan ejaan yang tidak tepat dilihat dari aspek penulisan kata, yaitu bentuk dasar yang tidak mengalami pelesapan, penulisan awalan di, dan penulisan bilangan. Ketujuh, penggunaan ejaan yang tepat dilihat dari aspek tanda baca, yaitu penggunaan tanda baca di akhir kalimat, penggunaan tanda hubung, dan penggunaan garis miring. Kedelapan, penggunaan ejaan yang tidak tepat dilihat dari aspek tanda baca, yaitu tidak menggunakan tanda baca di akhir kalimat, tidak menggunakan tanda hubung, dan tidak menggunakan tanda petik. Berdasarkan hasil penelitian dikemukakan dua saran. Pertama, saran ditujukan kepada Kemendikbud sebagai penerbit buku teks Bahasa Indonesia SMP kelas VII kurikulum 2013. Kemendikbud diharapkan untuk lebih teliti dalam penulisan maupun penyuntingan mengenai bahasa yang digunakan. Sebelum buku diterbitkan, tentunya buku teks tersebut sudah melalui banyak penyuntingan, tetapi alangkah baiknya jika dilakukan lebih teliti lagi agar tidak menyulitkan siswa ketika dalam kegiatan pembelajaran. Kedua, Saran ditujukan kepada peneliti selanjutnya. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadikan penelitian ini sebagai acuan mengadakan penelitian sejenis dengan aspek yang lebih lengkap dan analisis yang lebih mendalam pada setiap aspek. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat membuat kriteria setiap aspek secara lengkap dan jelas
PEMBELAJARAN MENULIS TEKS BERITA DI KELAS VIII D SMP NEGERI 9 MALANG
RINGKASAN Uliyah, Himmatul. 2018. Pembelajaran Menulis Teks Berita Menggunakan Metode Think Pair Share pada Siswa Kelas VIII SMPN 9 Malang. Skripsi. Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah. Jurusan sastra Indonesia. Fakultas Sastra. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Dwi Saksomo, M.Si. Kata Kunci: Pembelajaran menulis, berita, think pair share. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembelajaran menulis teks berita dengan menggunakan metode think pair share pada siswa kelas VIII SMPN 9 Malang. Kegiatan pembelajaran mencakup perencanaaan pembelajaran, pelaksanaa pembelajaran, dan penilaian pembelajaran menulis teks berita yang dilakukan oleh guru dan siswa SMPN 9 Malang. Pada perencanaan pembelajaran dideskripsikan mengenai kegiatan pembuka, kegiatan inti, kegiatan penutup, dan informasi hasil wawancara pelaksanaan pembelajaran. Pada penilaian pembelajaran dideskripsikan mengenai alat penilaian proses, alat penilian hasil, dan informasi hasil wawancara penilaian pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain diskriptif. Data yang dihimpun dari kegiatan penelitian ini dibedakan menjadi tiap fokus penelitian. Data yang dihimpun dari perencanaan pembelajaran meliputi (1) informan tentang komponen RPP dan (2) informan hasil wawancara perencanaan pembelajaran. Data yang dihimpun dari pelaksanaan pembelajaran meliputi transkrip pelaksanaan (1) kegiatan pembuka, (2) kegiatan inti, (3) kegiatan penutup, dan (4) informasi hasil wawancara pelaksanaan pembelajaran. Data yang dihimpun dari penilaian pembelajaran meliputi (1) alat penilian proses, (2) alat penilaia hasil, dan (3) informasi hasil wawancara penilian pembelajaran. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu (1) RPP, (2) peristiwa pembelajaran, (3)dokumtasi pembelajaran, (4) guru, dan (5) peneliti. Dari analisis ini data diketahui bahwa pembelajaran menulis teks berita menggunakan metode think pair share siswa kelas VII SMPN 9 Malang ada tiga komponen, yaitu (1) rancangan pelaksanaan pembelajaran yang disusun oleh guru sudah sesuai dengan permendikbud, namun pada komponen penilian dalam rubrik pedoman penilaian kemampuan menulis teks berita kurang sempurna, hanya mencantumkan kelengkapan struktur dan kurang terperinci, (2) pelaksanaan pembelajaran menulis teks berita menggunakan metode think pair share memunculkan pola berupa kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup yang sudah sesuai dengan RPP dan langkah-langkah metode think pair share, dan (3) penilaian yang dilakukan berupa penilaian proses dan penilaian hasil yang sudah sesuai dengan RPP. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan pembelajaran menulis teks berita yang dilakukan guru SMPN 9 Malang berbeda karena menggunakan metode think pair share. Saran yang dapat diberikan penelitian ini dibagi menjadi tiga hal, yaitu untuk (1) siswa, (2) guru, dan (3) peneliti selanjutnya. Pertama, saran untuk siswa. Siswa diharapkan lebih aktif dan mandiri dalam menulis teks berita, misalnya menggunakan bahan pustaka lain yang dapat mempermudah dalam menulis teks berita. Kedua, saran untuk guru. Guru disarankan untuk lebih teliti dalam membuat rubrik penilaian dan harus lebih bervariasi dalam memberikan latihan soal kepada siswa. Ketiga, peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian ini dengan metode penelitian dan metode pembelajaran yang bervariasi
Proses Kreatif Menulis Puisi Siswa Kelas X SMAN 1 Gondanglegi: Aspek Gaya Bahasa
Penelitian ini difokuskan pada proses kreatif menulis puisi siswa kelas X SMAN 1 Gondanglegi meliputi tahap pemunculan ide, pengembangan ide, pelahiran ide yang memuat gaya bahasa pada puisi siswa dan tahap penyempurnaan ide. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis penelitian ini adalah analisis teks. Hasil penelitian ini terdiri dari empat hal, yakni sebagai berikut. Pertama, tahap pemunculan ide meliputi enam kegiatan yang dilakukan siswa. Kedua, tahap pegembangan ide meliputi empat kegiatan yang dilakukan siswa. Ketiga, tahap pelahiran ide meliputi lima kegiatan yang dilakukan, sekaligus memuat analisis aspek gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat dan langsung tidaknya makna pada puisi siswa. Keempat, tahap penyempurnaan ide meliputi tiga kegiatan yang telah dilakukan siswa
KARAKTERISTIK CITRAAN DAN GAYA BAHASA DALAM ANTOLOGI PUISI ANAK INDONESIA
ABSTRAK Amruloh, Mohamad Arif. 2018. Karakteristik Citraan dan Gaya Bahasadalam Antologi Puisi Anak Indonesia Air. Program Studi Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia. Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing Prof. Dr. Wahyudi Siswanto, M.Pd.Kata kunci: Citraan, Gaya Bahasa, Antologi Puisi Anak, AirKarya sastra yang dihasilkan oleh anak-anak disebut sastra anak. Dilihat dari segi isi, sastra anak adalah sastra yang secara emosional psikologis dapat ditanggapi dan dipahami oleh anak, serta pada umumnya hal itu berangkat dari fakta yang kongret dan mudah diimajinasikan.Salah satu jenis sastra anak ialah puisi anak.Puisi anak adalah puisi yang ditujukan bagi pembaca atau penikmat anak-anak baik yang ditulis oleh anak-anak maupun orang dewasa. Puisi anak cenderung memiliki ciri deret kata yang sederhana, tidak terlalu panjang, singkat, dan mudah diingat oleh anak-anakSebuah puisi bisa dirasakan lebih hidup oleh pembaca sebab tak lepas dari unsur-unsur yang membuat puisi itu indah dan nampak hidup. Unsur tersebut diantaranya adalah citraan dan gaya bahasa. Citraan merupakan unsur fisik puisi yang berupa kata atau kelompok kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi. Pengalaman indrawi itu berupa penglihatan (visual), pendengaran, dan perasaan. Gaya bahasa merupakan sarana yang penting bagi pengarang untuk memunculkan nilai kepuitisan atau estetik karya sastra melalui penggunaan bahasa yang khas.Buku antologi puisi anak Indonesia yang berjudul Air merupakan buku kumpulan puisi hasil karya anak-anak SD tahun 2004 yang kaya akan gaya bahasa anak dan citraan. Puisi-puisi tersebut berasal dari hasil sayembara penulisan puisi anak SD dari berbagai wilayah se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Indonesia dengan mengusung tema yang bermacam-macam mulai dari binatang, tumbuh-tumbuhan, pendidikan, agama, alam dan lain-lain.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) jenis-jenis citraan dalam antologi puisi anak Indonesi Air dan (2) mendeskripsikan gaya bahasa dalam antologi puisi anak Indonesia Air. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan perkembangan pengkajian sastra anak khususnya puisi sehingga sastra anak akan lebih dikenal luas oleh masyarakat disamping sastra orang dewasa.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Untuk mencapai tujuan tersebut data dikumpulkan dengan cara (1)membaca secara intensif puisi dalam antologi puisi anak Air, (2) mengidentifikasi penggunaan imaji dan gaya bahasa dalam antologi puisi anak Air, (3) mencatat dan mengklasifikasi data yang diperoleh sesuai rumusan masalah. Untuk menjaga keabsahan data peneliti melakukan teknik ketekunan pengamatan, membaca secara berulang-ulang melakukan pengecekan kesesuaian antara data dan teori yang digunakan sebagai landasan penelitian, diskusi dengan teman sejawat yang dianggap paham dengan masalah, dan konsultasi dengan dosen pembimbing.Hasil temuan penelitian menunjukkan terdapat 7 jenis citraan yang ditemukan dalam antologi puisi anak Indonesia Air. 7 Citraan tersebut antara lain, citraan penglihatan sejumlah 64 citraan atau 31,2% kemudian diikuti oleh citraan gerak yang berjumlah 57 citraan atau 27,8%, citraan pendengaran berjumlah 34 citraan atau 16,5%, citraan intelektual berjumlah 33 citraan atau 16,1%, citraan pencecepan berjumlah 7 citraan atau 3,4%, yang terakhir adalah citraan penciuman berjumlah 6 citraan atau 2,9%, dan citraan perabaan hanya berjumlah 4 citraan atau 2%.Karakteristik citraan dalam antologi puisi anak Indonesia Air dominan menjadikan objek alam sebagai bahan citraan, menyatakan kondisi peperangan dan luapan jiwa penyair anak.Wujud citraan dalam Air menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah untuk diimajinasikan sehingga disebut sajak yang masih polos (bermakna denotatif). Kekayaan citraan penglihatan, gerak, pendengaran, dan intelektual dalam antologi puisi anak Indonesia Air menjadikan antologi puisi anak Air sebagai sajak imajis yangtelah berhasil memberikan efek keindahan dalam setiap puisi.Gaya Bahasa retoris dan kiasan dalam antologi puisi anak Indonesia Air tidak muncul secara keseluruhan. Gaya bahasa retoris yang dominan muncul dalam antologi puisi anak Indonesia Air adalah gaya bahasa hiperbola sebanyak 31 buah (23%,) erotesis sebanyak 25 buah (18,5%), aliterasi sebanyak 24 buah (17,7 %) dan asonansi sebanyak 18 buah (13,5%). Gaya bahasa asindeton, anastrof, elipsis, dan litotes memiliki frekuensi kemuculan yang sangat sedikit. Gaya bahasa kiasan yang dominan muncul dalam antologi puisi anak Indonesia Air adalah gaya bahasa personifikasi sebanyak 25 buah (37,8%), simile 12 buah (18,1%), dan epitet 10 buah (15,1%). Gaya bahasa sinisme, metadora, ironi, dan sarkasme memiliki frekuensi kemunculan yang sangat sedikit. Karakteristik gaya bahasa retoris dan kiasan dalam antologi puisi anak Indonesia Air tergolong gaya bahasa polos yang mengangkat objek alam sebagai bahan penciptaan puisi.Gaya bahasa retoris dan kiasan dalam Air banyak menggunakan objek alam sebagai bahan penciptaan puisi anak-anak, misalnya pepohonan, rerumputan, nyiur, angin dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan sangat berpengaruh terhadap inspirasi penyair anak. selain itu Secara lapis makna gaya bahasa dalam antologi puisi anak Indonesia banyak mengunakan makna dasar atau makna denotatif dan sedikit menggunakan makna konotatif. Wujud gaya bahasa retoris dan kiasan dalam Air juga berupa kalimat yang menggunakan bahasa polos, artinya bahasa yang sederhana mudah dipahami dan masih mempertahankan makna denotatifnya
Media Digital Pembelajaran Menulis Cerkak untuk Siswa SMA
ABSTRAK Hidayati, Cahyaning Rohmatul. 2017. Media Digital Pembelajaran Menulis Cerkak untuk Siswa SMA. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Teguh Tri Wahyudi, S,S, M.A. Kata Kunci: media digital, pembelajaran menulis, teks cerkak Pemberlakuan Peraturan Gubernur Jawa Timur nomor 19 tahun 2014 tentang mata pelajaran bahasa daerah sebagai muatan lokal yang wajib diajarkan, merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah dalam pembinaan terhadap bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa. Implikasi dari pemberlakuan peraturan gubernur tersebut, yakni turut diberlakukannya kurikulum untuk mata pelajaran bahasa Jawa. Indikator disusun sesuai dengan kompetensi dasar yang dimuat dalam kurikulum agar tujuan pembelajaran bahasa Jawa dapat tercapai. Menulis cerkak merupakan salah satu indikator dari kompetensi dasar memproduksi dan mempublikasikan karya fiksi (naskah drama, cerita pendek, karya terjemahan). Permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran menulis cerkak, yakni pemahaman siswa terhadap kosa kata bahasa Jawa masih terbatas serta terdapat kesulitan pada tahap penentuan ide dan pengembangan cerita. Selain itu, bahan ajar yang digunakan guru terbatas berupa buku teks bahasa Jawa dan penggunaan microsoft power point sebagai penunjang. Berdasarkan permasalahan tersebut, alternatif solusi yang dipilih peneliti adalah pengembangan media pembelajaran menulis cerkak. Tujuan dari penelitian pengembangan ini, yaitu menghasilkan media pembelajaran berupa media pembelajaran digital mudah dioperasikan. Metode yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini diadaptasi dari model Borg dan Gall yang telah disederhanakan, meliputi (1) studi pendahuluan, (2) perencanaan, (3) pengembangan produk awal, (4) uji kelayakan, (5) revisi produk, (6) uji coba kelompok kecil, dan (7) penyempurnaan produk akhir. Jenis data dalam penelitian ini adalah data verbal yang diperoleh dari hasil catatan, saran, dan komentar, serta data numerik yang diperoleh dari skor nilai oleh ahli, praktisi, dan siswa melalui angket penilaian. Data-data tersebut dianalisis dengan teknik kualitatif dan teknik kuantitatif. Hasil dari analisis data tersebut dapat diketahui tingkat kelayakan media digital dari segi isi, bahasa, dan tampilan. Hasil penelitian pengembangan ini diperoleh persentase kelayakan sebesar 87,6% dari segi isi, 88,3% dari segi tampilan, dan 84,4% dari segi bahasa. Selain persentase kelayakan, saran dan komentar dari ahli, praktisi, dan siswa dijadikan sebagai bahan revisi dalam penyempurnaan akhir produk. Berdasarkan hasil tersebut, multimedia interaktif ini termasuk dalam kualifikasi layak dengan tindak lanjut diimplementasikan. Kelebihan dari produk ini adalah format media digital yang mudah untuk disebarluaskan, sehingga selain sebagai media pembelajaran di sekolah juga dapat diterapkan sebagai bahan belajar mandiri di rumah. Selain itu, di dalam media tidak hanya disajikan materi tentang menulis cerkak, namun juga disajikan tata bahasa (paramasastra), unggah-ungguh basa, dan ejaan bahasa Jawa, serta dilengkapi kamus kecil bahasa Jawa. Kekurangan dari produk ini, yakni tidak disertai lembar menulis di dalam media. Media digital pembelajaran menulis cerkak ini dapat dimanfaatkan oleh guru, siswa, dan peneliti lain. Guru disarankan untuk media digital sebagai media pembelajaran menulis cerkak, atau sebagai referensi penggunaan media pembelajaran untuk materi lainnya. Siswa disarankan untuk pemanfaatan media digital ini sebagai bahan belajar mandiri di luar sekolah. Peneliti lain disarankan untuk pemanfaatan penelitian pengembangan ini sebagai bahan penelitian keefektifan multimedia interaktif terhadap kemampuan siswa dalam menulis cerkak, atau sebagai bahan referensi pengembangan produk yang sejenis. Selanjutnya, multimedia interaktif ini dapat disebarluaskan melalui forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa, khususnya di Jawa Timur, atau diunggah oleh pihak universitas agar dapat diunduh melalui situs resmi universitas
STRUKTUR DAN MAKNA MITOS MBAH BODHO DI DUSUN GONDANG, KECAMATAN SENDANG, KABUPATEN TULUNGAGUNG
ABSTRAK Ekatama, Giyan. 2012. Struktur dan Makna Mitos Mbah Bodho di Dusun Gondang, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Sunoto, M.Pd. Kata Kunci: folklor, mitos Mbah Bodho, strukturalisme Levi Strauss, Makna. Penelitian ini mengkaji struktur beserta kandungan pesan dan makna mitos Mbah Bodho di Dusun Gondang, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan hal tersebut, tujuan penelitian ini mendeskripsikan mengenai struktur dari struktur tersebut dapat ditemukan kandungan pesan dan makna mitos Mbah Bodho yang terdapat di Dusun Gondang, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui segmen-segmen yang membangun struktur untuk mengetahui kandungan pesan dan makna. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kata-kata yang diperoleh dari proses wawancara kepada 2 informan kunci yang ditranskip menjadi data tulis dan didukung dengan jawaban angket yang disebar kepada 13 responden masyarakat asli Dusun Gondang. Teknik pengumpulan data melalui 6 tahap yaitu, perekaman, pemotretan, pengamatan, pencatatan, wawancara, dan angket. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sendiri sebagai instrumen kunci berperan pengumpul dan menganalisis data. Kegiatan analisis data dilakukan melalui 6 tahap yaitu, transkip, hasil traskip dicocokan kembali dengan hasil rekaman, menandai istilah-istilah khusus, pengetikan, trasnlete dalam bahasa Indonesia, setelah sempurna dilakukan analisis data. Pengecekan keabsahan data dilakukan memeber check dan diskusi analitik yang dilakukan kepada dosen pembimbing. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh 2 simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama struktur cerita Mbah Bodho dibangun atas 16 miteme dikelompokkan masing-masing sesuai pola struktur cerita sebagai berikut, (1) konflik (peristiwa penting), (2) watak yang melambangkan tokoh, (3) kebersamaan tokoh-tokoh dalam cerita, (4) hubungan kekeluargaan setiap tokoh, dan (5) tanda di balik nama. Ceriteme ditemukan 7 berupa , (1) asal muasal cerita Mbah Bodho berasal dari kerajaan Majapahit, (2) silsilah keluarga tokoh Kala Gemet dan Tribuwana Tunggadewi, (3) petunjuk yang didpatkan oleh Raden Wijaya, (4) gambaran watak tokoh. (5) peran dan bantuan sang Resi kepada Tribuwana Tunggadewi. (6) latar belakang nama tempat, dan (7) cikal bakal tradisi. sehingga membangun 3 episode. Kedua, dari struktur pembentuk cerita Mbah Bodho di atas terdapat sebuah pesan dan makna berupa (1) religius, (2) bjaksana, (3) dermawan, (4) berani, dan (5) suci, dengan harapan dari sekian sikap tersebut di atas berguna sebagai pegangan untuk menjalani sebuah kehidupan