SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Kesalahan Pelafalan Bahasa Indonesia Mahasiswa Program Critical Language Scholarship Tahun 2017
ABSTRAK Program Critical Language Scholarship merupakan salah satu program BIPA yang diikuti oleh mahasiswa dari Amerika. Terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan dalam program ini untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia bagi mahasiswa asing, salah satunya adalah kegiatan berbicara. Pada akhir program ini, dilakukan presentasi akhir guna mengetahui sejauh mana kemahiran berbahasa Indonesia mahasiswa Amerika. Di dalam proses pembelajaran ini , sangatlah wajar apabila terjadi kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa yang sedang belajar bahasa kedua. Penelitian ini memiliki dua fokus penelitian, yaitu (1) bentuk kesalahan pelafalan konsonan yang dilakukan oleh mahasiswa program Critical Language Scholarship 2017 tingkat inter mediate, dan (2) bentuk kesalahan pelafalan vokal yang dilakukan oleh mahasiswa program Critical Language Scholarship 2017 tingkat inter mediate. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, karena hasil penelitian ini berupa deskripsi tentang bentuk kesalahan konsonan dan vokal yang dilakukan oleh mahasiswa program Critical Language Scholarship 2017 tingkat inter mediate. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data lisan dari mahasiswa program CLS 2017 yang direkam dalam bentuk video dan datanya secara khusus diambil berdasarkan kesalahan pelafalan yang dilakukan. Sumber data dalam penelitian ini adalah video presentasi akhir mahasiswa program Critical Language Scholarship 2017 tingkat inter mediate. Sesuai dengan jenis penelitian ini, instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri dan instrumen bantuan berupa tabel untuk menganalisis data. Ada delapan bentuk kesalahan pelafalan konsonan yang dilakukan oleh mahasiswa program Critical Language Scholarship 2017 tingkat B1, yaitu kesalahan pelafalan /r/, /t/, /c/, /d/, /g/, /n/, dan /s/. Fonem /r/ seharusnya dilafalkan menjadi [r], tetapi mahasiswa melafalkannya menjadi [ar].Fonem /t/ seharusnya dilafalkan menjadi [t], tetapi mahasiswa melafalkannya menjadi [th] dan [c]. Kemudian pada fonem /c/ seharusnya dilafalkan menjadi [c], tetapi pada presentasi akhirnya mahasiswa melafalkannya menjadi [k]. Fonem /d/ seharusnya dilafalkan [d], tetapi mahasiswa melafalkannya menjadi [t].Pada fonem /g/ seharusnya dilafalkan [g], tetapi mahasiswa melakukan kesalahan sehingga melafalkannya menjadi [j].Fonem /n/ seharusnya dilafalkan [n], tetapi mahasiswa melafalkannya menjadi [t’] dan [η].Lalu pada fonem /s/ seharusnya dilafalkan [s], tetapi mahasiswa melakukan kesalahan sehingga melafalkannya menjadi [t]. Pada pelafalan vokal, terdapat enam bentuk kesalahan yang dilakukan oleh mahasiswa, yaitu kesalahan pelafalan /e/, /ə/, /a/, /i/, /u/, dan /o/.Pada kata yang dilafalkan oleh mahasiswa dalam presentasi akhirnya, seharusnya fonem /e/ seharusnya dilafalkan [ε], tetapi mahasiswa salah melafalkan menjadi [i]. Selanjutnya fonem /ə/ seharusnya dilafalkan [ə], tetapi mahasiswa melafalkannya menjadi [i], [U], dan [e].Fonem /a/ seharusnya dilafalkan [a] dan [α] sesuai dengan kata yang disebutkan dalam presentasi akhir, tetapi mahasiswa melafalkannya menjadi [ə] dan [ε].Fonem /i/ yang terdapat kata yang disebutkan oleh mahasiswa seharusnya dilafalkan [iy], tetapi mahasiswa melakukan kesalahan sehingga melafalakannya menjadi [e].Fonem /u/ seharusnya dilafalkan [u], [U], atau [?u], tetapi mahasiswa melafalkannya menjadi [O] dan [yu]. Kemudian fonem /o/ seharusnya dilafalkan [o] atau [O] bergantung pada kata tertentu, tetapi mahasiswa salah melafalkan menjadi [a] dan salah melafalkan [o] menjadi [O]
Ikrar Kajat Wijayakusuma:Pengembangan Media Menyimak Sastra Lisan Bahasa Jawa Tingkat SMP
ABSTRAK Media pembelajaran kesusastraan Jawa yang berkaitan dengan kopetensi membaca, menyimak, wicara dan menulis perlu dikembangkan. Salah satu permasalahan pembelajaran bahasa Jawa di tingkat SMP adalah keterbatasan variasi media menyimak. Tindakan untuk menjawab permasalah tersebut adalah perlu dilakukanya penelitian pengembangan media menyimak berbasis kearifan lokal. Objek kajian sebagai materi media menyimak diambil dari wilayah Lereng Pegunungan Kawi, dan akan diimplementasikan di wilayah Malang dan sekitarnya. Fokus materi yang dikembangkan berdasarkan data yang diambil di wilayah Lereng Pegunungan Kawi adalah sastra lisan. Sastra lisan berbahasa Jawa yang dikaji sebagai sumber materi berupa ikrar kajat. Ikrar kajat sebagai tradisi lisan masyarakat setempat dikenalkan sebagai bentuk pembelajaran dan pemertahanan kesusastraan Jawa. Materi berupa komponen fungsi dalam ikrar kajat berpotensi disampaikan melalui sarana multimedia. Tujuan penelitian dan pengembangan berdasarkan rumusan masalah tersebut adalah penciptaan sebuah media digital interaktif berbahasa Jawa yang mewadahi materi komponen fungsi ikrar kajat. Desain tampilan produk yang sesuai dengan kebutuhan fungsi dan materi memanfaatkan aplikasi Adobe flash sebagai format aplikasi multimedia interaktif. Desain produk media Flash dikemas secara cermat dan sesuai dengan metode penelitian dan pengembangan rujukan Sugiyono dengan pembatasan aspek tertentu sesuai dengan kebutuhan pengembangan. Produk aplikasi dikemas sesuai desain pengembangan baik instrumen produksi dan instrumen validasi. Capaian produk diperoleh dari hasil validasi materi, media, praktisi dan uji terbatas. Capaian produk hasil validasi materi diperoleh nilai 100%. Capaian produk hasil validasi media diperoleh nilai 92%. Capaian produk hasil validasi praktisi sebesar 100%. Ketercapaian pengaplikasian produk di lapangan pada uji terbatas dan diperoleh nilai 88%. Capaian produk dalam penelitian pengembangan ini memungkinkan dilakukanya studi lanjutan guna mengembangkan potensi media dan materi lebih lanjut
Efektivitas Model Copy Writing dalam Pembelajaran Menulis Naskah Drama Di SMP/MTs
ABSTRAK Septiananda, Fahrizal. 2018. Efektivitas Model Copy Writing dalam Pembelajaran Menulis Naskah Drama Di SMP/MTs. Skripsi, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Mustofa Kamal, S.Pd, M.Sn. Kata kunci: model copy writing, menulis naskah drama, keterampilan menulis Menulis naskah drama adalah salah satu keterampilan menulis yang dikembangkan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMP/MTs. Dalam kegiatan menyusun naskah drama, siswa dituntut untuk mengembangkan unsur lain yang menjadi kekuatan naskah sehingga lebih mantap dan hidup, baik dari aktualitas tema, alur, penggambaran tokoh maupun seting dan penyusunan dialog. Pada kenyataanya menulis naskah drama masih saja menimbulkan permasalahan, seperti kesulitan dalam memunculkan ide maupun mengembangkan ide menjadi naskah drama. Salah satu faktor munculya permasalahan tersebut adalah rendahnya peran guru dalam membina siswa agar terampil menulis. Model copy writing adalah model pembelajaran inovatif yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk diterapkan dalam pembelajaran menulis naskah drama. Model copy writing dapat melatih siswa dalam mengembangkan kemampuan imajinasi melalui kegiatan meniru, memodifikasi, dan mengkreasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model copy writing dalam pembelajaran menulis naskah drama di SMP/MTs. Secara lebih khusus penelitian ini memiliki tujuan (1) mengetahui efektivitas model copy writing pada aspek penokohan, (2) mengetahui efektivitas model copy writing pada aspek alur, (3) mengetahui efektivitas model copy writing pada aspek tema, (4) mengetahui efektivitas model copy writing pada aspek setting, dan (5) mengetahui efektivitas model copy writing pada aspek dialog. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan desain penelitian pretest posttest control group design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model copy writing, sedangkan variabel terikat adalah pembelajaran menulis naskah drama. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs Negeri 2 Malang yang terdiri dari enam kelas dengan jumlah 144 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Peneliti memilih dua dari enam kelas yang ada sebagai sampel. Peneliti memilih kelas VIII A yang berjumlah 20 orang sebagai kelas eksperimen dan VIII B yang berjumlah 24 orang sebagai kelas kontrol. Wujud data dalam penelitian ini berupa skor hasil menulis naskah drama yang bersumber dari karya siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dari hasil pretest dan posttest. Analisis data dilakukan dengan uji hipotesis yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat, yaitu (1) uji normalitas dan (2) uji homogenitas. Hasil uji normalitas dan homogenitas menunjukkan bahwa data dalam penelitian ini bersifat normal dan varian data bersifat homogen. Hasil uji hipotesis yang dilakukan menggunakan uji-t sampel tidak berpasagan (Independent Samples T-Test) dengan taraf keberterimaan signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran menulis naskah drama menggunakan model copy writing lebih efektif dibandingkan pembelajaran menulis naskah drama tanpa menggunakan model copy writing. Efektivitas model copy writing dalam pembelajaran menulis naskah drama hanya terletak pada aspek alur dengan perbedaan yang signifikan. Skor rata-rata aspek tema, penokohan, alur, setting, dan dialog kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Akan tetapi, skor rata-rata aspek tema, penokohan, setting, dan dialog pada kelas eksperimen tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan kelas kontrol, sehingga model copy writing tidak efektif pada keempat aspek tersebut. Sesuai dengan tahap-tahap model copy writing, yakni meniru, memodifikasi, dan mengkreasikan, siswa hanya sampai pada tahap meniru. Kecenderungan siswa yang bergantung pada teks model menyebabkan model pembelajaran ini hanya efektif pada aspek alur. Siswa tidak mampu berfikir kreatif dan imajinatif untuk memodifikasi dan mengkreasikan cerita menjadi naskah drama. Bagi guru, apabila ingin menerapkan model copy writing dalam pembelajaran menulis naskah drama, guru perlu memerhatikan dan mencari alternatif solusi untuk mengekfetifkan model copy writing pada aspek tema, penokohan, setting, dan dialog. Guru dapat mencoba menerapkan teknik ini menggunakan ide penulisan yang menarik seperti film atau gambar bergerak dan menerapkan latihan-latihan agar siswa dapat megembangkan imajinasi dan kreativitas dengan baik. Bagi penelitian lain, apabila ingin menerapkan model copy writing dalam pembelajaran menulis naskah drama, peneliti dapat memodifikasi langkah-langkah model copy writing untuk memaksimalkan pembelajaran menulis naskah drama untuk melatih mengembangkan imajinasi dan kreativitas untuk memodifikasi dan mengkreasikan naskah drama. Model ini juga dapat dicoba diterapkan dalam pembelajaran menulis karya sastra yang lainnya seperti menulis cerpen dan puisi
Geguritan Karya Siswa Kelas VII SMP Negeri 6 Malang Tinjauan Stilistika Sastra
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan diksi, pola persajakan, dan makna dalam geguritan karya siswa kelas VII SMP Negeri 6 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan diksi, pola persajakan, dan makna dalam geguritan karya siswa kelas VII bersifat variatif dan unik.
Disfemisme dalam Surat Kabar Jawa Pos Rubrik Sportainment
RINGKASAN Andzikriadi, Rahardiyan. 2018. Disfemisme dalam Surat Kabar Jawa Pos Rubrik Sportainment. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Martutik, M.Pd Kata Kunci: penggunaan disfemisme, surat kabar, nilai rasa. Disfemisme merupakan usaha untuk mengganti kata yang bermakna halus atau netral dengan kata yang bermakna kasar. Disfemisme sering digunakan oleh jurnalis untuk membuat berita menjadi lebih menarik minat pembaca. Penggunaan disfemisme dalam surat kabar dapat mengakibatkan suatu kata memiliki nilai rasa kasar yang kurang menyenangkan dan dapat menyinggung atau menimbulkan reaksi yang kurang mengenakkan untuk pembaca. Penelitian ini difokuskan pada penggunaan disfemisme dalam surat kabar Jawa Pos rubrik Sportainment. Fokus penelitian ini dirumuskan menjadi tiga subfokus, yaitu (1) bentuk kebahasaan disfemisme dalam surat kabar Jawa Pos rubrik Sportainment, (2) tujuan penggunaan disfemisme dalam surat kabar Jawa Pos rubrik Sportainment, dan (3) nilai rasa disfemisme dalam surat kabar Jawa Pos rubrik Sportainment. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian berupa analisis wacana. Data penelitian ini berupa kata, frasa, dan ungkapan yang mengandung disfemisme. Sumber data penelitian ini berupa teks berita dalam surat kabar Jawa Pos rubrik Sportainment edisi 1 April sampai 15 April 2018. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga langkah, yaitu (1) mengumpulkan surat kabar Jawa Pos rubrik Sportainment, (2) membaca serta mempelajari bentuk pengasaran yang terdapat dalam teks berita, dan (3) mencatat dan menghimpun kata, frasa, dan ungkapan yang mengandung disfemisme ke dalam intrumen berupa tabel pengumpulan data yang telah disediakan oleh peneliti. Teknik analisis data dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data, analisis, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data dan fokus penelitian dapatdisimpulkanhasil penelitian sebagai berikut. Pertama, disfemisme yang digunakan dalam surat kabar Jawa Pos rubrik Sportainment mempunyai empat bentuk kebahasaan, yaitu kata dasar, kata berimbuhan, frasa, dan ungkapan. Kata berimbuhan merupakan bentuk kebahasaan yang paling banyak ditemukan dalam teks berita. Kedua, terdapat tiga tujuan penggunaan disfemisme dalam surat kabar Jawa Pos rubrik Sportainment, yaitu untuk menguatkan makna, untuk menunjukkan rasa marah atau benci, dan untuk mencela atau menghina. Ketiga, terdapat tiga nilai rasa yang ditimbulkan oleh kata yang mengandung disfemisme, yaitu menakutkan, menjijikkan, dan mengerikan. Nilai rasa menakutkan paling sering ditemukan karena sesuai dengan tujuan penggunaan disfemisme, yaitu untuk menguatkan pesan dengan memberikan fokus dan tekanan berlebih. Berdasarkan kesimpulan, disampaikan saran-saran sebagai berikut. Pertama, saran ditujukan kepada jurnalis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk lebih bijak memutuskan diksi yang digunakan. Penggunaan diksi yang kurang tepat dapat menimbulkan makna lain yang mengakibatkan suatu kata memiliki nilai rasa kasar yang tidak menyenangkan dan dapat menyinggung atau menimbulkan reaksi tidak mengenakkan bagi pembaca. Kedua, saran ditujukan kepada editor surat kabar. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam mengkaji diksi jurnalis sehingga kata yang digunakan tidak menimbulkan pemahaman lain untuk pembaca. Pemahaman yang salah dapat mempengaruhi perkembangan karakter pembaca. Ketiga, saran ditujukan kepada pembaca surat kabar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai alat ukur dalam memilih teks berita yang baik untuk dibaca dan bersifat mendidik
PENGGUNAAN EJAAN PADA TEKS BIOGRAFI BAHASA INDONESIA KARYA SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 1 BABADAN PONOROGO
ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan ejaan yang terdapat pada teks biografi karangan siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Babadan Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan cara dokumen dan wawancara. Data penelitian ini berupa pemakaian huruf, penulisan kata, penggunaan tanda baca, dan penulisan kata serapan yang terdapat pada teks biografi karangan siswa. Instrumen yang digunakan adalah peneliti sendiri dengan menggunakan tabel bantuan untuk menganalisis ejaan pada teks biografi karangan siswa. Hasil penelitian ini adalah siswa telah menggunakan ejaan pada karangannya namun tidak maksimal
Dimensi Kognitif dalam Sajian Isi Buku Teks Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII
RINGKASAN Nahariyah, Saadatun. 2018. Dimensi Kognitif dalam Sajian Isi Buku Teks Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nurchasanah, M.Pd. Kata Kunci: dimensi kognitif, sajian isi, buku teks Buku teks siswa adalah sumber utama untuk mencapai Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Sebagai salah satu bahan ajar yang diandalkan, isi buku teks haruslah sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dibuat sebelum buku ditulis. Tujuan-tujuan belajar dapat diklasifikasikan dalam kerangka taksonomi pendidikan mencakup dimensi pengetahuan dan dimensi kognitif.Fokus penelitian ini ada enam, yaitu 1) dimensi kognitif tingkat mengingat, 2) dimensi kognitif tingkat memahami,3) dimensi kognitif tingkat menerapkan,4) dimensi kognitif tingkat menganalisis,5) dimensi kognitif tingkat mengevaluasi dan 6) dimensi kognitif tingkat mencipta dalam sajian isi buku teks pelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitiantelaah dokumen. Data dalam penelitian ini berupa sajian materi dan sajian latihan materi yang mengindikasikan dimensi kognitif dalam sajian isi buku teks. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku teks siswaBahasa Indonesia untuk SMP/MTs kelas VII kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Instrumen penelitian ini ada dua, yaitu peneliti sebagai instrumen utama dan lembar panduan analisis data. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Data pada penelitian ini dianalisis secara kualitatif yang terdiri dari tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan penelitian ini ada dua macam, yaitu teknik ketekunan pengamatan dan teknik diskusi dengan para ahli. Pada tahap-tahap penelitian, peneliti melakukan tiga tahap, yaitutahap pemilihan judul, tahap pengumpulan dan analisis data, dan tahap menyusun laporan. Berdasarkan analisis dataditemukan enam hasil sebagai berikut. Pertama, dimensi kognitif tingkat mengingatdikembangkan pada KD mengidentifikasi dan menemukan. Penanda dimensi kognitif tingkat mengingat berupa kata kerja cari, mengenali, mengidentifikasi, mencari, menemukan, menyebutkan, mendaftar, melengkapi, penggalian ide dan kata perintah carilah, isikan, isilah, identifikasi, daftarlah, tandai, lengkapilah, tunjukkan. Kedua, dimensi kognitif tingkat memahamidikembangkan pada KD menyimpulkan. Penanda dimensi kognitif tingkat memahamiberupa kata kerja memahami, mencermati, mengamati, mempelajari, membaca, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, memasangkan, merinci, jelaskan, uraikan, deskripsikanlah, kata perintah lihatlah, perhatikan, bacalah, amati, cermati, simpulkan, bandingkan, kelompokkan, pasangkan, dan kata benda rangkuman, ringkasan, dan simpulan. Ketiga,dimensi kognitif tingkat mengaplikasikandikembangkan pada KD menceritakan kembali. Penanda dimensi kognitif tingkat mengaplikasikan berupa kata kerja menceritakan, membentuk, mengubah, menyunting, memperbaiki, mempertimbangkan, merevisi, memperagakan, kata perintah kerjakanlah, ceritakan, ikuti, atur, lakukan, peragakan, suntinglah, praktikkan, perbaiki, bermainlah, bertindaklah. Keempat,dimensi kognitif tingkat menganalisis dikembangkan pada KD menelaah dan menentukan. Penanda dimensi kognitifi tingkat menganalisis berupa kata kerja menelaah, menyusun, kata perintah urutkan, buktikan, kata perintah pilihlah, sesuaikan, kata benda telaah, perbedaan,susun. Kelima, dimensi kognitif tingkat mengevaluasidikembangkan pada KD mengidentifikasi, menelaah, atau menyajikan. Penanda dimensi kognitif tingkat mengevaluasi adalah berupa kata perintah komentarilah, berilah alasan, berikan komentar. Keenam,dimensi kognitif tingkat menciptadikembangkan pada KD menyajikan. Penanda dimensi kognitif tingkat mencipta berupa kata kerja menentukan, merancang, menyajikan, memerankan, melakukan, menulisdan kata perintah tentukan,tulislah, sajikan, perankan.Simpulan umum dari penelitian ini adalah dalam satu KD terdapat sajian materi dan latihan yang memiliki tingkat kognitif bervariasi mulai dari tingkat mengingat s/d mencipta. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah agar membahas ranah lain yaitu ranah psikomotor atau ranah afektif dalam buku teks.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MENULIS TEKS PROSEDUR BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK SISWA KELAS VII SMP
Pada Kurikulum 2013 matapelajaran bahasa Indonesia diimplementasikan dengan menekankan keseimbangan pengembangan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Guru bahasa Indonesia diharapkan mampu untuk meningkatkan kemampuan berbahasa siswa karena bahasa Indonesia dijadikan alat belajar pada matapelajaran lainnya. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran bahasa Indonesia dimulai dengan meningkatkan pengetahuan tentang jenis, kaidah, dan konteks suatu teks, dilanjutkandenganketerampilanmenyajikansuatutekslisanmaupuntulis. Salah satu materi dalam mata pembelajaran bahasa Indonesia, yakni teks prosedur. Tujuan mempelajari teks prosedur supaya siswa mimiliki pola berpikir berstruktur atau prosedural. Hal ini penting karena siswa dapat mengetahui bahwa untuk memecahkan suatu masalah atau untuk mendapatkan hasil sesuai dengan yang mereka inginkan diperlukan tahapan-tahapan yang pasti. Bahan ajar mengenai teks prosedur dapat dilihat pada beberapa buku paket siswa. Beberapa buku paket siswa masih memiliki beberapa kekurangan, baik dari segi isi, sajian, bahasa, dan tampilan. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan tersebut, peneliti mengembangkan bahan ajar pembelajaran menulis teks prosedur mengenai kearifan lokal. Bahan ajar ini dikembangkan karena belum ada di lapangan dan keberadaannya dibutuhkan untuk penunjang proses pembelajaran menulis teks prosedur berbasis kearifan lokal. Dengan adanya bahan ajar ini, diharapkan dapat membangkitkan minat dan memotivasi siswa dalam pembelajaran menulis teks prosedur berbasis kearifan lokal, mengenalkan kearifan lokal di Indonesia, serta dapat membantu siswa dalam kegiatan menulis teks prosedur. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar pembelajaran menulis teks prosedur berbasis kearifan lokal yang layak dari segi isi, bahasa, dan tampilan untuk siswa SMP kelas VII. Prosedur penelitian dalam pengembangan bahan ajar pembelajaran menulis teks prosedur ini menggunakan prosedur Borg and Gall yang telah dimodifikasi dari sepuluh langkah menjadi tujuh langkah, yaitu (1) penelitian dan pengumpulan informasi atau studi pendahuluan. Tahap satu dipendahuluan merupakan tahap prapengembangan yang terdiri atas dua langkah, yaitu survei lapangan dan penyusunan produk awal, (2) tahap perencanaan, meliputi rancangan produk yang akan dikembangkan dan proses pengembangan produk, (3) tahap pengembangan produk, (4) tahap uji ahli dan uji praktisi, (5) tahap revisi produk awal berdasarkan hasil uji ahli dan praktisi, (6) tahap uji lapangan terbatas, dan (7) tahap penyempurnaan produk akhir. Pengembangan bahan ajar ini membutuhkan uji kelayakan. Uji kelayakan produk diujikan kepada ahli materi, ahli pembelajaran, guru bahasa Indonesia kelas VII SMP Darussalam Kepanjen, dan siswa kelas VIIB SMP Darussalam Kepanjen sebanyak 17 siswa. Kelayakan produk dilihat dari tiga aspek, yakni aspek isi, bahasa, dan tampilan. Pada uj
Pengembangan Bahan Ajar Digital EPUB Teknik Listrik Dengan Menggunakan Model Penyajian Contextual Teaching and Learning (CTL) Untuk SMK Kelas X Semester 1 Kompetensi Keahlian Mekatronika
ABSTRAK Sebanyak 71,5% siswa mekatronika SMK N 8 Malang yang telah mempelajari Teknik Listrik masih merasa kesulitan jika belajar secara mandiri. Upaya yang dilakukan untuk menciptakan kegiatan belajar mengajar yang baik diperlukan adanya bahan ajar yang memadai. Bahan ajar dapat menentukan tingkat kemandirian siswa dalam melakukan pembelajaran secara mandiri. Tujuan dari penelitian pengembangan ini adalah (1) Merencanakan bahan ajar digital Teknik Listrik dengan menggunakan model penyajian CTL untuk SMK kelas X Semester 1 Kompetensi Keahlian Mekatronika, (2) Membuat bahan ajar digital Teknik Listrik dengan menggunakan model penyajian CTL untuk SMK kelas X Semester 1 Kompetensi Keahlian Mekatronika, (3) Tingkat kelayakan bahan ajar digital yang akan dikembangkan sehingga dapat berfungsi sebagai bahan ajar yang mampu memberikan materi dengan model penyajian CTL. Bahan ajar digital ini telah divalidasi oleh ahli media dan ahli materi serta telah diuji cobakan kepada siswa kelas X dan XII kompetensi keahlian mekatronika di SMK Negeri 8 Malang melalui uji kelayakan. Kelayakan bahan ajar diketahui berdasarkan angket. Hasil angket review ahli media 91% (sangat valid), ahli materi 93% (sangat valid), uji coba kelompok kecil 94% (sangat valid), dan uji coba kelompok besar 88% (sangat valid). Berdasarkan skor tersebut, bahan ajar digital dinyatakan sangat valid dan layak digunakan sebagai suplemen dalam pembelajaran siswa secara mandiri
Gaya Bahasa Teks Sastra yang Digunakan dalam Bahan Ajar Bahasa Indonesia Kelas VII Sekolah Menengah Pertama
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna, mendeskripsikan penggunaan gaya bahasa dalam teks sastra, dan mendeskripsikan terjadinya perubahan makna majas dari makna literal yang terdapat dalam teks sastra pada bahan ajar kelas VII SMP. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan deskriptif dan jenis penelitian analisis isi. Hasil penelitian ini antara lain (1) Bentuk penggunaan gaya bahasa retoris pada teks sastra dalam bahan ajar ditemukan ada tiga belas jenis gaya bahasa yang didominasi oleh gaya bahasa asonansi. (2) Penggunaan bahasa kiasan pada teks sastra dalam bahan ajar ditemukan sebanyak sembilan gaya bahasa yang didominasi dengan gaya bahasa metafora. (3) Bentuk perubahan makna majas sebanyak tiga jenis perubahan yang didominasi oleh perluasan arti