SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
2231 research outputs found
Sort by
Ragam Tema pada Cerpen Siswa Kelas XI SMK Nasional Malang
ABSTRAK Desita, Ayu . 2018. Ragam Tema pada Cerpen Siswa Kelas XI SMK Nasional Malang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Nita Widiati, M.Pd Kata Kunci: menulis cerpen, tema, latar belakang, SMK Kemampuan menulis cerpen perlu dikuasai oleh siswa SMA/SMK agar lebih terlatih untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, imajinasi, kreativitas, serta pengalaman yang dimilikinya. Hal yang perlu diperhatikan dalam menulis cerpen adalah unsur-unsur pembangun cerpen itu sendiri. Unsur pembangun cerpen ada dua, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Penelitian ini difokuskan pada unsur intrinsik cerpen yang berupa tema dengan objek cerpen karya siswa kelas XI SMK Nasional Malang. Menulis cerpen merupakan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa karena termuat dalam Standar Isi Pendidikan Nasional. Oleh karena itu, peneliti berinisiatif untuk melakukan penelitian dengan judul “Ragam Tema pada Cerpen Karya Siswa Kelas XI SMK Nasional Malang” dengan tujuan mendeskripsikan bagaimana ragam pemilihan tema siswa kelas XI SMA/SMK dalam menulis atau mencipta cerpen. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis teks. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis teks yang disampaikan secara deskriptif. Dimana peneliti mendeskripsikan atau memaparkan ragam tema cerpen yang ditulis siswa kelas XI SMK Nasional Malang. Dari kumpulan dokumen berupa cerpen siswa dan teknik pengumpulan data di atas dapat diketahui ragam tema apa saja yang muncul pada karya siswa,beserta alasan, sumber inspirasi, atau dasar yang melandasi pengembangan tema dalam cerpen yang ditulis oleh siswa kelas XI SMK Nasional Malang. Berdasarkan analisis ditemukan sebanyak tujuh jenis tema yang digunakan oleh siswa SMK Nasional Malang dalam mengembangkan cerita pendeknya. Tujuh tema tersebut adalah persahabatan, sosial, misteri, kasih sayang, percintaan, dan pendidikan. Terdapat sebanyak 14 siswa yang menulis cerpen dengan tema persahabatan, sembilan siswa dengan tema sosial, tiga siswa dengan tema hantu, dua siswa dengan tema kasih sayang, satu siswa dengan tema percintaan, dan tiga siswa dengan tema pendidikan. Ada lima jenis latar belakang yang menjadi acuan siswa dalam memilih dan mengembangkan tema cerpen mereka. kelima jenis latar belakang tersebut adalah (1) berdasarkan pengalaman pribadi sebanyak 17 cerpen, (2) berdasarkan pengalaman orang lain/teman sebanyak enam cerpen, (3) berdasarkan imajinasi mereka sendiri sebanyak lima cerpen, (4) berdasarkan cerita sejenis yang pernah dibaca dua cerpen, dan (5) berdasarkan minat siswa dua cerpen
Pengembangan Media Audio Visual untuk Pembelajaran Musikalisasi Puisi
RINGKASAN Septiani, Maria Tina. 2018. Pengembangan Media Audio Visual untuk Pembelajaran Musikalisasi Puisi. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd. Kata Kunci: media, audio visual, musikalisasi puisi Pada era globalisasi ini, teknologi berkembang semakin cepat dan pesat. Perkembangan teknologi ini memunculkan berbagai gagasan baru mengenai penggunaannya di segala bidang, salah satunya di bidang pendidikan. Pendidik kini dituntut untuk memanfaatkan kemajuan teknologi tersebut demi tercapainya pembelajaran yang efektif. Penggunaan media diharapkan bisa dimanfaatkan secara maksimal, namun pada hasil analisis kebutuhan peserta didik mengenai kegiatan pembelajaran musikalisasi puisi, ditemukan bahwa (1) pemanfaatan media pada pembelajaran musikalisasi puisi di kelas X masih kurang karena tidak semua pendidik bisa melakukan musikalisasi puisi, (2) pembelajaran musikalisasi puisi kurang bervariatif dan menarik, dan (3) minat siswa masih kurang untuk musikalisasi puisi. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untukmengembangkan produk berupa media audio visual untuk pembelajaran musikalisasi puisi bagi siswa kelas X SMA yang menarik dan praktis. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan dari model ASSURE. Modifikasi model ASSURE yang digunakan peneliti adalah (1) menganalisis peserta didik, (2) merumuskan tujuan pembelajaran, (3) memilih media, (4) penilaian (validasi dan uji coba), dan (5) revisi. Data dalam penelitian ini adalah data kualitatifberupa tanggapan (komentar dan saran) yang diberikan subjek ahli dan data kuantitatif berupa presentase dan nilai rata-rata dari angket penilaian media yang diisi oleh subjek ahli. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman wawancara yang digunakan untuk mendapatkan data berupa hasil analisis kebutuhan siswadan angket/kuisioner yang digunakan untuk mendapatkan data berupa skor dan saran/komentar. Penelitian ini memiliki pembatasan, yaitu pembatasan media pembelajaran karenatidak adanya instrumen penilaian di dalamnya untuk menilai hasil musikalisasi puisi siswa. Penelitian pengembangan ini menghasilkan produk berupa media audio visual untuk pembelajaran musikalisasi puisi sesuai dengan Kompetensi Dasar 4.16 dalam Kurikulum 2013 revisi 2016, yaitu mendemonstrasikan (membacakan atau memusikalisasikan) satu puisi dari antologi puisi atau kumpulan puisi dengan memerhatikan vokal, ekspresi, dan intonasi (tekanan dinamik dan tekanan tempo). Media yang dikembangkan memiliki tiga komponen di dalamnya, yaitu (1) contoh, (2) materi, dan (3) tugas. Ketiga komponen ini menjadi satu paket lengkap yang bisa digunakan guru dalam pembelajaran musikalisasi puisi. Validasi produk dengan ahli materi menunjukkan rata-rata persentase 88,33%, yang berarti media sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi. Validasi produk dengan ahli media menunjukkan rata-rata persentase 81,67%, yang berarti media cukup valid dan dapat digunakan, namun perlu direvisi kecil. Validasi produk dengan praktisi menunjukkan rata-rata persentase 90%, yang berarti media sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi. Uji coba lapangan dengan siswa menunjukkan rata-rata persentase 92,25% yang berarti produk sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi. Rata-rata persentase keseluruhan, yaitu 88,06%, yang berarti media sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi. Selain skor, didapatkan juga data berupa saran dan komentar dari subjek uji untuk selanjutnya digunakan dalam proses revisi produk. Saran dan komentar tersebut di antaranya: (1) materi langkah musikalisasi puisi ditambahkan, (2) petunjuk penggunaan media disederhanakan, (3) contoh musikalisasi ditambah, (4) fungsi transisi dikurangi, dan (5) komposisi warna diperhatikan. Berdasarkan data yang diperoleh dari validasi dan uji coba, peneliti menyarankan agar guru bahasa Indonesia menggunakan media audio visual ini dengan baik. Saran untuk siswa adalah terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran yang menggunakan media audio visual karena ada beberapa kegiatan penting yang membutuhkan respon dari siswa, yaitu kegiatan apersepsi dan penugasan. Untuk peneliti lain, disarankan untuk menjadikan penelitian ini sebagai referensi pertimbangan untuk pengembangan media yang lebih baik dengan menguji keefektifan media. Penyebarluasan produk dapat dilakukan melalui forum MGMP, sosialisasi di sekolah, dan melalui blog di dunia maya
Analisis UKBM dalam Pembelajaran Mengembangkan Teks Hikayat Menjadi Bentuk Cerpen Kelas X SMA Negeri 3 Malang
ABSTRAK Pada tahun 2017, pemerintah mengembangkan bentuk bahan ajar terbaru, yaitu UKBM yang dirancang dengan Sistem Kredit Semester (SKS) guna membantu peserta didik mencapai penguasaan kompetensi, salah satunya kompetensi keterampilan mengembangkan teks. Salah satu kompetensi tersebut terdapat di jenjang kelas X SMA KD 4.8, yaitu mengembangkan teks hikayat menjadi bentuk cerpen. Kegiatan mengembangkan teks hikayat menjadi bentuk cerpen merupakan keterampilan mengubah teks menjadi bentuk lain dengan memerhatikan cakupan isi dan nilai-nilai sehingga terdapat tiga kegiatan yang dilakukan dalam penguasaan kompetensi ini, yaitu (1) analisis teks hikayat, (2) proses pengubahan teks hikayat menjadi cerpen yang terdiri dari: adaptasi bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, membuat daftar konflik antartokoh, mengembangkan cerita, dan (3) menulis cerpen hasil konversi hikayat dengan memasukkan nilai-nilai yang terkandung dalam hikayat. Kompetensi ini dikategorikan sebagai kompetensi sulit karena dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang berbeda-beda antar peserta didik dan terbatasnya buku memahami hikayat, terutama dalam pemahaman Bahasa Arab Melayu. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kelengkapan komponen UKBM dan kesesuaian UKBM dengan kriteria. Pada penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan menganalisis bahan ajar yang digunakan oleh guru SMA 3, yaitu UKBM Kode BIN-3.8/4.8/1/. Hasil penelitian dilihat dari kelengkapan komponen UKBM, ditemukan bahwa komponen yang lengkap hanya meliputi judul saja, sedangkan komponen yang tidak lengkap meliputi: (1) identitas UKBM, (2) peta konsep, dan (3) kegiatan pembelajaran. Selanjutnya, dilihat dari kesesuaian UKBM dengan kriteria, diketahui bahwa hanya komponen judul saja yang telah sesuai, sedangkan komponen (a) identitas UKBM, (b) peta konsep, dan (c) kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan kriteria UKBM. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diperoleh tiga saran bagi pendidik bidang studi Bahasa Indonesia, pengembang UKBM, dan peneliti selanjutnya. Pertama, kepada pendidik bidang studi Bahasa Indonesia diharapkan dapat menggunakan BSNP sebagai panduan dalam pengembangan bahan ajar sehingga pendidik dapat memberikan materi ajar sesuai dengan ketercapaian indikator baik dari segi isi maupun penyajian sebagai acuan pembelajaran dalam pengimplementasian Kurikulum 2013. Kedua, kepada pengembang UKBM diharapkan dapat mengimplementasikan berpikir kritis dan inovatif dalam mengembangkan bahan ajar sebagai alat bantu pembelajaran dengan mengikuti uraian materi dan perlatihan secara taat asas sesuai dengan standar jenjang pendidikan yang ditempuh dan kebijakan kurikulum yang berlaku. Ketiga, kepada peneliti lain diharapkan dapat dijadikan sebagai landasan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang lebih luas cakupannya. Penelitian ini dapat menjadi dasar untuk melakukan penelitian pengembangan produk berupa bahan ajar dan penelitian kuantitatif berupa efektivitas bahan ajar
Aspek Penyajian dalam Buku Teks BIPA Sahabatku Indonesia
Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan aspek penyajian dalam buku teks BIPA Sahabatku Indonesia edisi 2016 terbitan Kemendikbud yang meliputi teknik penyajian, penyajian pembelajaran, dan kelengkapan penyajian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah buku teks BIPA Sahabatku Indonesia terbitan Kemendikbud pada tahun 2016. Berdasarkan teknik penyajian, sistematika penyajian setiap bab yang tersaji dalam buku teks ini terdiri dari pendahuluan dan isi dengan menggunakan pola pikir deduktif. Penyajian pembelajaran dalam buku teks ini telah berpusat pada siswa, mampu mengembangkan keterampilan proses, serta mampu merangsang metakognisi pelajar. Buku teks ini terdiri dari bagian pendahulu, isi, dan penyudah
METAFORA KEMISKINAN DALAM KUMPULAN PUISI NYANYIAN AKAR RUMPUT KARYA WIJI THUKUL
RINGKASAN Aftina. 2018. Metafora Kemiskinan dalam Kumpulan Puisi Nyanyian Akar Rumput Karya Wiji Thukul. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Abdul Syukur Ghazali, M.Pd. Kata Kunci: puisi, metafora, lapis bunyi, dan lapis makna. Metafora merupakan salah satu majas yang banyak ditemukan pada puisi. Metafora merupakan perbandingan terhadap dua hal yang memiliki sifat yang berbeda untuk meciptakan suatu kesan mental yang hidup yang tidak diungkapkan secara eksplisit dengan menggunakan kata seperti, ibarat, bak, sebagai, atau umpama. Metafora memiliki dua komponen, yakni tenor dan vehicle. Namun dalam suatu metafora dua komponen tersebut tidak selalu muncul secara bersamaan. Setiap penyair memiliki kekhasan makna maupun bunyi dalam menciptakan metafora. Wiji Thukul sebagai penyair pada era Orde Baru memiliki kekhasan tersendiri dalam menciptakan metafora, khususnya metafora yang berkaitan dengan kemiskinan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan metafora kemiskinan yang digambarkan melalui bunyi dan makna dan mendeskripsikan vehicle dan tenor yang terdapat dalam kumpulan puisi Nyanyian Akar Rumput karya Wiji Thukul. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data yang bersifat kualitatif. Data penelitian tersebut berupa data teks verbal yang berupa kata, kelompok kata, larik, atau bait yang mengandung metafora kemiskinan dalam Kumpulan Puisi Nyanyian Akar Rumput karya Wiji Thukul. Hasil penelitian ini adalah metafora kemiskinan yang terdapat pada kumpulan puisi Nyanyian Akar karya Wiji Thukul menggambarkan kondisi tempat tinggal masyarakat kelas bawah, kondisi ekonomi masyarakat kelas bawah, perlawanan masyarakat kelas bawah, dan diri masyarakat kelas bawah yang digambarkan melalui bait, larik, dan pemilihan kata yang didukung dengan variasi bunyi tertentu. Tenor dan vehicle dalam metafora kemiskinan yang terdapat di kumpulan puisi Nyanyian Akar Rumput ditemukan muncul secara bersamaan dan terdapat pula yang hanya muncul salah satu komponennya saja, tenor muncul tanpa adanya vehicle atau vehicle muncul tanpa adanya tenor. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diberikan saran kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti metafora dengan pendekatan sosiologi sastra agar dapat dideskripsikan latar belakang penyair dalam penciptaan metafora. Penelitian metafora juga dapat dilakukan dengan menggunakan kumpulan puisi lainnya.
Pembelajaran Menulis Puisi Bebas dengan Teknik “Cerca Teman” pada Siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 1 Trenggalek Tahun Pelajaran 2017-2018.
Ramadhan, Nanda FN. 2018. Pembelajaran Menulis Puisi Bebas dengan Teknik “Cerca Teman” pada Siswa Kelas VIII-B SMP Negeri 1 Trenggalek Tahun Pelajaran 2017-2018. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Taufik Dermawan, M.Hum. Kata Kunci: pembelajaran, menulis puisi, cerca teman Pembelajaran menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa selain membaca, berbicara, dan menyimak. Pembelajaran menulis sering dianggap sebagai pembelajaran yang sulit untuk diajarkan oleh guru. Menulis teks puisi merupakan salah satu kompetensi dasar yang tercantum pada Kurikulum 2013 edisi revisi. Kompetensi dasar untuk pembelajaran menulis puisi dalam KD 4.8 berbunyi menyajikan gagasan, perasaan, dan pendapat dalam bentuk teks puisi secara tulis/lisan dengan memperhatikan unsur-unsur pembangun puisi. Pembelajaran menulis teks puisi dilaksanakan pada kelas VIII-B yang dilaksanakan satu pertemuan. Kegiatan pembelajaran tersebut dilaksanakan menggunakan model pembelajaran inkuiri “cerca teman” sehingga peneliti melakukan observasi lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran menulis teks puisi dengan teknik “cerca teman” pada siswa kelas VIII-B SMP Negeri 1 Trenggalek. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif evaluatif studi kasus. Data penelitian perencanaan berupa komponen RPP, data pelaksanaan berupa informasi dan tuturan kegiatan pembelajaran, dan pada penilaian berupa informasi mengenai penilaian yang dilakukan guru. Sumber data dalam perencanaan pembelajaran adalah RPP. Sumber data dalam pelaksanaan pembelajaran adalah interaksi antara guru dan siswa. Sumber data dalam penilaian adalah penilaian autentik yang dilakukan yang meliputi penilaian proses, pengetahuan, dan keterampilan. Data perencanaan pembelajaran diperoleh melalui teknik studi dokumentasi dan wawancara kepada guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Trenggalek. Data pelaksanaan pembelajaran diperoleh melalui teknik observasi dan wawancara kepada guru. Data perencanaan pembelajaran diperoleh melalui teknik studi dokumentasi dan wawancara kepada guru. Instrumen utama penelitian ini adalah peneliti sendiri dan instrumen pendukung yang digunakan adalah panduan analisis RPP, pedoman observasi, dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini mendeskripsikan tentang: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran menulis teks puisi. Perencanaan pembelajaran yang disusun guru bahasa Indonesia meliputi (1) identitas RPP yang berisi identitas sekolah, mata pelajaran, materi pokok, jenis teks, kelas/semester, dan alokasi waktu. (2) Kompetensi inti yang memuat aspek spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan, (3) Kompetensi dasar yang memuat empat yaitu aspek spiritual, aspek sosial, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. Indikator pencapaian kompetensi yang mencakup aspek spiritual, aspek sosial, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan yaitu menulis teks puisi. (4) Tujuan pembelajaran mencakup aspek pengetahuan dan keterampilan yaitu menulis teks puisi. (5) Materi pembelajaran memuat konsep ditunjukkan dengan contoh puisi dan telaah isi puisi tersebut. Materi pembelajaran tidak memuat fakta, prinsip, dan prosedur penulisan teks puisi. (6) Metode pembelajaran menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan berbasis proyek. Selain itu juga menggunakan pendekatan karakterikstik dalam Kurikulum 2013, yaitu pendekatan saintifik. Model pembelajaran yang digunakan ialah inkuiri “cerca teman” yang telah disesuaikan dengan tujuan dan kondisi siswa. (7) Media, alat, dan sumber belajar mendukung pembelajaran menulis teks puisi menjadi pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa aktif. (8) Langkah-langkah pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup, dan juga memunculkan pendekatan saintifik. (9) Penilaian yang dicantumkan guru meliputi penilaian sikap, dan pengetahuan serta keterampilan. Secara umum, RPP guru kurang sesuai kriteria Permendikbud No. 22 Tahun 2016. Beberapa hal yang kurang sesuai kriteria, yaitu (1) penulisan tema, (2) penentuan alokasi waktu pada identitas RPP, (3) penulisan KD yang memuat KD-1 dan KD-2 (4) penulisan indikator KD-4 yang kurang tepat, (5) rumusan tujuan pembelajaran yang kurang tepat, (6) materi pembelajaran yang kurang sesuai dengan kompetensi pembelajaran dan tidak memuat fakta, prinsip, dan prosedur penulisan teks puisi, (7) penggunaan sumber belajar yang kurang relevan, (8) langkah pembelajaran yang kurang spesifik, dan (9) penggunaan presentase dalam rubrik deskripsi penilaian pengetahuan. Pada pelaksanaan pembelajaran terdapat kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup, implementasi pendekatan saintifik, implementasi teknik “cerca teman”, penumbuhan sikap spiritual pada kegiatan pendahuluan dan penutup, penumbuhan sikap sosial pada kegiatan inti, serta kompetensi pengetahuan dan keterampilan pada kegiatan inti. Dalam kegiatan pendahuluan, guru tidak melaksanakan penyampaian kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan inti, pendekatan saintifik dan teknik “cerca teman” sudah tampak dalam pembelajaran, namun belum sepenuhnya berhasil menuntut siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Metode penugasan berbasis proyek sudah tampak dalam kegiatan menulis puisi bebas dengan teknik “cerca teman”. Teknik “cerca teman” dilaksanakan bersama dengan pendekatan behavioristik dan pendekatan konstruktivistik. Teknik “cerca teman” menghasilkan kegiatan mencermati, mencari, menemukan dan memanfaakan. Penggunaan media pembelajaran powerpoint sudah berjalan dengan baik, namun sumber belajar yang digunakan hanya berpedoman pada lembar kerja siswa. Dalam kegiatan penutup, guru tidak melaksanakan kegiatan penutup secara maksimal. Guru tidak memberikan penguatan, evaluasi, dan pemberian tugas. Namun, guru melakukan pengumpulan tugas siswa, berdo’a dan salam. Secara umum, pelaksanaan pembelajaran dan alokasi waktu telaah berjalan sesuai dengan yang tertulis dalam RPP. Namun, terdapat beberapa hal yang kurang sesuai kriteria Permendikbud No 22 tahun 2016 dan harus diperhatikan oleh guru, yaitu (1) alokasi waktu pelaksanaan pembelajaran untuk keterampilan menulis yang berlangsung satu pertemuan, (2) tidak adanya kegiatan refleksi yang dilakukan oleh guru, dan (3) langkah yang belum dilaksanakan oleh guru yang disebabkan oleh faktor guru maupun siswa. Pada penilaian pembelajaran terdapat penilaian sikap (proses), penilaian pengetahuan, dan penilaian keterampilan (hasil). Penilaian sikap dilakukan selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian sikap diperoleh dari keaktifan siswa ketika kegiatan belajar menulis puisi. Penilaian pengetahuan dan penilaian hasil atau keterampilan dalam menulis puisi bebas dengan teknik “cerca teman” dilakukan guru dengan menilai hasil karya atau tulisan siswa. Hasil penilaian sikap terhadap 32 siswa menunjukkan bahwa 20 siswa berperilaku baik dan 12 siswa berperilaku cukup selama kegiatan pembelajaran. Hasil penilaian keterampilan terhadap 32 siswa menunjukkan bahwa 23 siswa mendapatkan nilai di atas 78 dan 9 siswa mendapatkan nilai di bawah 78. Pembelajaran menulis puisi bebas dengan teknik “cerca teman” dapat dikatakan belum berhasil karena persentase ketuntasan belajar siswa kurang 75% dari jumlah siswa, yaitu 71,88%. Artinya harus ada perbaikan atau remedial supaya ketuntasan belajar siswa lebih dari 75%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, terdapat dua saran yang dapat disampaikan yakni, (1) kepada guru bahasa Indonesia, disarankan menyusun RPP sesuai dengan kriteria penyusunan RPP. Pada pelaksanaan pembelajaran, guru diharapkan mampu lebih memotivasi siswa supaya siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Guru diharapkan juga mampu mengelola waktu yang lebih baik agar rancangan kegiatan pembelajaran yang disusun dapat berjalan maksimal, khususnya kegiatan penutup. Pada penilaian, guru diharapkan menekankan penilaian sikap atau proses saat penugasan agar siswa lebih terbiasa bersikap mandiri dalam mengerjakan tugas. Persiapan dan pelaksanaan pembelajaran yang matang akan meningkatkan kualitas pembelajaran akan berdampak pada kemajuan hasil belajar siswa, (2) peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya untuk merancang pembelajaran yang lebih baik, khususnya dalam pembelajaran menulis puisi. Dalam mengadakan penelitian pembelajaran, disarankan dapat mengetahui kebutuhan kelengkapan aspek penunjang penelitian pembelajaran yang ada di lapangan.
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN MENYIMAK TEKS CERITA FANTASI DAN TEKS CERITA FABEL DENGAN ISPRING UNTUK SISWA SMP KELAS VII
RINGKASAN Fitroti, Khurin Wardani. 2018. Pengembangan Instrumen Asesmen Menyimak Teks Cerita Fantasi dan Teks Cerita Fabel dengan iSpring untuk Siswa SMP Kelas VII. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Hj. Titik Harsiati, M.Pd. Kata Kunci: pengembangan, instrumen asesmen, menyimak, teks cerita fantasi, teks cerita fabel, iSpring Penelitian pengembangan instrumen asesmen menyimak teks cerita fantasi dan teks cerita fabel dengan iSpring dilatarbelakangi dari hasil pengumpulan informasi awal bahwa kegiatan menyimak yang dilaksanakan di kelas lebih sering dilaksanakan pada saat pemodelan teks. Sementara itu, pada saat evaluasi teks yang digunakan berupa teks tulis. Selain itu, bentuk instrumen asesmen saat kegiatan evaluasi berupa cetakan sehingga siswa jarang mengerjakan soal berupa aplikasi. Dengan demikian, disusunlah instrumen asesmen menyimak teks cerita fantasi dan teks cerita fabel dengan iSpring. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk instrumen asesmen menyimak teks cerita fantasi dan teks cerita fabel dengan iSpring untuk siswa SMP kelas VII. Selain itu, produk yang dihasilkan layak dari aspek validitas konstruk, validitas isi, reliabilitas, kepraktisan, dan keterbacaan. Penelitian ini menggunakan prosedur pengembangan bahan ajar yang dimodifikasi dari model pengembangan Borg dan Gall. Berdasarkan model tersebut dalam penelitian ini terdapat lima tahapan prosedur, yaitu (1) pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan format produk awal, (4) validasi produk, (5) revisi produk, (6) uji coba produk, dan (7) revisi produk. Jenis data penelitian ini adalah data nonverbal berupa skor dan verbal berupa hasil wawancara dan saran. Analisis data dilakukan dengan cara: (1) mengumpulkan data nonverbal yang diperoleh dari angket penilaian, (2) mentranskrip data verbal, (3) mengidentifikasi dan mengklasifikasikan data verbal berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang dikembangkan. Penelitian ini menghasilkan produk aplikasi instrumen asesmen dan buku pedoman untuk guru. Aplikasi instrumen asesmen terdiri dari dua aplikasi, yaitu aplikasi instrumen asesmen menyimak teks cerita fantasi dan instrumen asesmen menyimak teks cerita fabel. Di dalam aplikasi tersebut terdapat 20 butir soal dan empat teks berupa audio. Soal-soal tersebut berupa soal objektif dan uraian yang dikembangkan dari kompetensi dasar dan berdasarkan pada tingkat pemahaman, yaitu pemahaman literal, pemahaman inferensial, pemahaman reorganisasi, dan pemahaman evaluasi. Sementara itu, di dalam buku pedoman yang ditujukan untuk guru memuat karakteristik produk, kisi-kisi, petunjuk penggunaan, dan pedoman penyekoran. Penilaian instrumen asesmen yang mencakup aspek validitas konstruk, validitas isi, reliabilitas, kepraktisan, dan keterbacaan dilakukan oleh ahli instrumen asesmen, ahli pembelajaran sastra, praktisi, dan siswa. Hasil penilaian instrumen asesmen dari aspek validitas konstruk memperoleh persentase 100% yang berarti tergolong sangat valid dan siap diimplementasikan. Dari aspek validitas isi memperoleh persentase 100% yang berarti tergolong sangat valid dan siap diimplementasikan. Dari aspek reliabilitas, instrumen teks cerita fantasi memperoleh hasil cronbach’s alpha sebesar 0.656 yang berarti tergolong reliabel dan hasil korelasi Pearson dengan taraf signifikansi sebesar 0.01 yang berarti reliabel, sedangkan instrumen teks cerita fabel memperoleh hasil cronbach’s alpha sebesar 0.645 yang berarti tergolong reliabel dan hasil korelasi Pearson dengan taraf signifikansi sebesar 0.05 yang berarti reliabel. Dari aspek kepraktisan memperoleh persentase sebesar 92,4% yang berarti tergolong sangat valid dan siap diimplementasikan. Dari aspek keterbacaan memperoleh persentase sebesar 95,4% yang berarti tergolong sangat valid dan siap implementasikan. Hasil penilaian buku guru diperoleh dari ahli instrumen asesmen, ahli pembelajaran sastra, dan praktisi. Dari aspek kepraktisan memperoleh persentase sebesar 93,7% yang berarti tergolong valid dan siap implementasikan. Dari aspek keterbacaan memperoleh persentase sebesar 100% yang berarti tergolong valid dan siap implementasikan. Simpulan penelitian dan pengembangan ini adalah instrumen asesmen menyimak teks cerita fantasi dan teks cerita fabel dengan iSpring yang dikembangkan tergolong valid, reliabel, dan siap diimplementasikan. Saran pemanfaatan produk hasil pengembangan ditujukan kepada empat pihak. Instrumen asesmen ini dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai salah satu alternatif untuk mengukur kemampuan siswa dalam menceritakan kembali isi cerita yang didengar. Instrumen asesmen ini dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk melatih siswa dalam menyimak dan menceritakan kembali isi teks cerita fantasi dan fabel. Instrumen asesmen ini dapat dimanfaatkan oleh peneliti lain dan penyusun instrumen asesmen sebagai rujukan atau sumber dalam mengembangkan instrumen asesmen. Instrumen asesmen ini dapat dimanfaatkan oleh pengembang produk lebih lanjut dengan memanfaatkan instrumen asesmen menyimak teks cerita fantasi dan teks cerita fabel dengan iSpring sebagaimana mestinya
Dialektika Lakon dan Penanggap: Pesan Moral Penanggap Dalam Kesenian Reog Lumajang Di Kelurahan Tambah Rejo, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
RINGKASAN Dani. 2018. Dialektika Lakon dan Penanggap: Pesan Moral Penanggap Dalam Kesenian Reog Lumajang Di Kelurahan Tambah Rejo, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Skripsi, Jurusan, Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang Pembimbing Teguh Tri Wahyudi, S.S, M.A. Kata Kunci: Dialektika Lakon dan Penanggap, Pesan Moral Penanggap dan Kesenian Reog Lumajang Dalam seni Reog terdapat juga seni Ludruk yang menjadi media penyampaian pesan dari penganggap sehingga setiap pertunjukan reog memiliki pesan-pesan yang berguna bagi penonton. Reog khas Lumajang juga merupakan bentuk kolaborasi antara kesenian budaya Jawa dan Madura sehingga menjadi pembeda antara bentuk-bentuk kesenian di wilayah yang lain. Berdasarkan pesan moral penanggap dalam kesenian Reog Lumajang maka rumusan masalah yang ditetapkan dalam penelitian ini yaitu 1) Pesan apa yang disampaikan penanggap melalui media kesenian Reog Lumajang kepada masyarakat Kelurahan Tambah Rejo, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang ? 2) Apakah pesan yang disampaikan penanggap bisa tersampaikan kepada penonton? Dan 3) Apakah pelaku reog sendiri hanya menyampaikan pesan dari penanggap saja atau ada tambahan yang lain? Tipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Batasan yang ditentukan dalam penelitian yang akan dilaksanakan adalah melihat bagaimanapesan moral penganggap dalam kesenian reog Lumajang di Kelurahan Tambah Rejo, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Teknik analisis data yang digunakan adalah kualitatif yang meliputi pengumpulan data, input data, analisis data penarikan kesimpulan dan verifikasi, dan diakhiri dengan penulisan hasil temuan dalam bentuk narasi. Selanjutnya merujuk pada analisis data Interaksionisme simbolik,Setelah memperhatikan uraian di depan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pesan moral yang terdapat dalam Kesenian Reog Lumajang adalah pesan moral, agama, budaya, dan pendidikan. Pesan moral merupakan sebuah bentuk atau wujud tingkah laku yang menuju kepada kepribadian yang mencakup etika baik dan buruk.yang mengandung pesan moral dari segi agama, budaya, dan pendidikan.agama merupakan undang-undang atau peraturan-peraturan yang mengikat manusia dengan tuhannya. Budaya merupakan adat istiadat yang erat kaitannya dengan seni,sedangkan pendidikan merupakan bentuk pendidikan dalam bermasyarakat.
Pengembangan Media Video Berbasis Masalah dalam Pembelajaran Teks Eksplanasi untuk Siswa SMP Kelas VIII
Pembelajaran merupakan suatu proses di mana pendidik dan peserta didik saling bertukar informasi dan pengetahuan. Pembelajaran juga diartikan sebagai bentuk interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Proses pembelajaran merupakan aktivitas utama dalam lingkungan pembelajaran yang harus berjalan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif apabila peran pendidik dan peserta didik serta media pembelajaran berfungsi dengan baik dan efisien. Peran media dalam proses pembelajaran yaitu dapat membantu pendidik dalam menyampaikan materi dan dapat menunjang pemahaman siswa dalam menerima materi pembelajaran. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti melalui wawancara, ditemukan beberapa kelemahan media pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran, proses pembelajaran menggunakan media berupa bahan ajar buku mata pelajaran bahasa Indonesia saja. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat minat dan pemahaman siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut, peneliti mengembang inovasi media pembelajaran berupa media video berbasis masalah dalam pembelajaran bahasa indonesia khususnya pembelajaran teks eksplanasi. Media video berbasis masalah adalah sebuah tayangan video yang didalamnya terdapat beberapa pemasalahan berupa latihan-latihan yang mencakup pembelajaran yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Selain itu, dalam media video ini juga terdapat materi pembelajaran dan contoh-contoh teks eksplanasi. Pembelajaran dengan menggunakan media video dapat digunakan dan diakses pendidik dan peserta didik dengan melalui laptop dan komputer. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan media video berbasis masalah dalam pembelajaran teks ekplanasi yang sesuai dengan Kurikulum 2013 dan kebutuhan siswa SMP kelas VIII yang berfokus pada KD “3.10 Menelaah teks ekplanasi berupa paparan kejadian suatu fenomena alam yang diperdengarkan atau dibaca, dan kompetensi dasar 4.10 Menyajikan informasi dan data dalam bentuk teks eksplanasi proses terjadinya suatu fenomena secara lisan dan tulis dengan memperhatikan struktur, unsur kebahasaan, atau aspek lisan. Model penelitian dan pengembangan yang dguunakan adalah model penelitian dan pengembangan ADDIE. Model pengembangan ini terdiri dari lima tahap yaitu Analysis (analisis), Design (desain /perancangan, Development (pengembangan), Implementation (implementasi), Evaluation (evaluasi). Produk yang dihasilkan dalam pengembangan media ini adalah media video pembelajaran teks eksplanasi untuk siswa kelas VIII SMP. dikembangkan berdasarkan Kurikulum. Media yang dihasilkan berjudul Media Video Berbasis Masalah dalam Pembelajaran Teks Eksplanasi. Data dalam penelitian ini berupa data numeric yang didapat dari angket hasil uji coba produk kepada ahli media, ahli materi, praktisi dan peserta didik. Hasil uji produk kepada ahli media, ahli materi, ahli praktisi/guru, dan siswa mencapai (1) hasil validasi ahli media mencapai 91,25%, (2) hasil validasi ahli materi mencapai 73,80,(3) hasil validasi praktisi/guru mencapai 91,30%, (4) hasil uji coba siswa mencapai 95,90% dengan tindak lanjut implementasi. Rekapitulasi hasil validarsi oleh ahli media, ahli materi, praktisi/guru, dan uji produk kepada peserta didik secara keseluruhan mencapai 88,06%, sesuai dengan pedoman skor, persentase yang diperoleh Media Video Berbasis Masalah dalam Pembelajaran Teks Eksplanasi untuk Siswa SMP Kelas VIII tergolong layak diimplementasikan. Pemanfaatan media video pembelajaran dapat dijadikan alternatif dalam proses pembelajaran khususnya pembelajaran teks eksplanasi. Bagi siswa dengan media video pembelajaran teks eksplanasi ini dapat membantu dan mempermudah siswa dalam memahami materi pembelajaran khususnya materi pembelajaran teks eksplanasi. Bagi guru, mengenalkan dan mengaplikaskan media video pembelajaran teks eksplanasi ini sebagai salah satu variasi media pembelajaran teks eksplanasi kepada siswa. Bagi pengembang lain mengikuti kaidah tersebut dan menambah informasi-informasi lain untuk memperkaya informasi mengenai penelitian pengembangan. Pengembang lain diharapkan dapat memberikan manfaat serta dapat memperkaya materi dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran teks eksplanasi. Penyebarluasan produk dapat dilakukan dengan cara mengunggah ke website atau youtube. Cara ini efektif untuk penyebar luasan produk, karena setiap orang dapat menggunakannya dengan mudah dan cepat.
DIMENSI KOGNITIF DALAM SAJIAN ISI BUKU TEKS BAHASA INDONESIA UNTUK SMP/MTs KELAS VII
RINGKASAN Nahariyah, Saadatun. 2018. Dimensi Kognitif dalam Sajian Isi Buku Teks Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nurchasanah, M.Pd. Kata Kunci: dimensi kognitif, sajian isi, buku teks Buku teks siswa adalah sumber utama untuk mencapai Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Sebagai salah satu bahan ajar yang diandalkan, isi buku teks haruslah sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dibuat sebelum buku ditulis. Tujuan-tujuan belajar dapat diklasifikasikan dalam kerangka taksonomi pendidikan mencakup dimensi pengetahuan dan dimensi kognitif. Fokus penelitian ini ada enam, yaitu 1) dimensi kognitif tingkat mengingat, 2) dimensi kognitif tingkat memahami, 3) dimensi kognitif tingkat menerapkan, 4) dimensi kognitif tingkat menganalisis, 5) dimensi kognitif tingkat mengevaluasi dan 6) dimensi kognitif tingkat mencipta dalam sajian isi buku teks pelajaran. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian telaah dokumen. Data dalam penelitian ini berupa sajian materi dan sajian latihan materi yang mengindikasikan dimensi kognitif dalam sajian isi buku teks. Sumber data dalam penelitian ini adalah buku teks siswa Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs kelas VII kurikulum 2013 edisi revisi 2017 terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Instrumen penelitian ini ada dua, yaitu peneliti sebagai instrumen utama dan lembar panduan analisis data. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Data pada penelitian ini dianalisis secara kualitatif yang terdiri dari tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan temuan penelitian ini ada dua macam, yaitu teknik ketekunan pengamatan dan teknik diskusi dengan para ahli. Pada tahap-tahap penelitian, peneliti melakukan tiga tahap, yaitu tahap pemilihan judul, tahap pengumpulan dan analisis data, dan tahap menyusun laporan. Berdasarkan analisis dataditemukan enam hasil sebagai berikut. Pertama, dimensi kognitif tingkat mengingat dikembangkan pada KD mengidentifikasi dan menemukan. Penanda dimensi kognitif tingkat mengingat berupa kata kerja cari, mengenali, mengidentifikasi, mencari, menemukan, menyebutkan, mendaftar, melengkapi, penggalian ide dan kata perintah carilah, isikan, isilah, identifikasi, daftarlah, tandai, lengkapilah, tunjukkan. Kedua, dimensi kognitif tingkat memahami dikembangkan pada KD menyimpulkan. Penanda dimensi kognitif tingkat memahami berupa kata kerja memahami, mencermati, mengamati, mempelajari, membaca, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, memasangkan, merinci, jelaskan, uraikan, deskripsikanlah, kata perintah lihatlah, perhatikan, bacalah, amati, cermati, simpulkan, bandingkan, kelompokkan, pasangkan, dan kata benda rangkuman, ringkasan, dan simpulan. Ketiga,dimensi kognitif tingkat mengaplikasikan dikembangkan pada KD menceritakan kembali. Penanda dimensi kognitif tingkat mengaplikasikan berupa kata kerja menceritakan, membentuk, mengubah, menyunting, memperbaiki, mempertimbangkan, merevisi, memperagakan, kata perintah kerjakanlah, ceritakan, ikuti, atur, lakukan, peragakan, suntinglah, praktikkan, perbaiki, bermainlah, bertindaklah. Keempat,dimensi kognitif tingkat menganalisis dikembangkan pada KD menelaah dan menentukan. Penanda dimensi kognitif tingkat menganalisis berupa kata kerja menelaah, menyusun, kata perintah urutkan, buktikan, kata perintah pilihlah, sesuaikan, kata benda telaah, perbedaan,susun. Kelima, dimensi kognitif tingkat mengevaluasi dikembangkan pada KD mengidentifikasi, menelaah, atau menyajikan. Penanda dimensi kognitif tingkat mengevaluasi adalah berupa kata perintah komentarilah, berilah alasan, berikan komentar. Keenam,dimensi kognitif tingkat mencipta dikembangkan pada KD menyajikan. Penanda dimensi kognitif tingkat mencipta berupa kata kerja menentukan, merancang, menyajikan, memerankan, melakukan, menulisdan kata perintah tentukan,tulislah, sajikan, perankan.Simpulan umum dari penelitian ini adalah dalam satu KD terdapat sajian materi dan latihan yang memiliki tingkat kognitif bervariasi mulai dari tingkat mengingat s/d mencipta. Saran bagi peneliti selanjutnya adalah agar membahas ranah lain yaitu ranah psikomotor atau ranah afektif dalam buku teks. SUMMARY Nahariyah, Saadatun. 2018. Cognitive Dimensions in the Contents of VII Grader of Junior High School Indonesia Language Text Book. Thesis. Language, Literature, Indonesian and Regional Education, Faculty of Letters, State University of Malang. Adviser: (1) Dr. Nurchasanah, M.Pd. Key Words: cognitive dimensions, content, text books Student textbooks are the main source for achieving Core Competencies (KI) and Basic Competencies (KD). As one of the reliable teaching materials, the contents of the textbook must be in accordance with the educational objectives that were made before the book was written. Learning objectives can be classified within the framework of educational taxonomy including the dimensions of knowledge and cognitive dimensions. The focus of this study is six, namely 1) cognitive dimensions of remembering level, 2) cognitive dimensions of understanding level, 3) cognitive dimensions of applying level, 4) cognitive level dimensions analyzing, 5) the cognitive dimensions of evaluating levels and 6) the cognitive dimensions of the level of creating in the presentation of the contents of the textbooks. The approach used in this study is qualitative. The type of research used is document research. The data in this study are in the form of material offerings and material training offerings that indicate the cognitive dimensions in the presentation of textbook content. The source of the data in this study is Indonesian students' textbooks for class VII of the revised 2017 edition of the 2013 curriculum curriculum published by the Ministry of Education and Culture. The instruments of this study are two, namely researchers as the main instrument and data analysis guide sheet. Data collection in this study uses documentation techniques. The data in this study were analyzed qualitatively consisting of three stages, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. There are two types of checking the validity of the findings of this research, namely observation persistence techniques and discussion techniques with experts. In the stages of research, the researcher carries out three stages, namely the title selection stage, the data collection and analysis phase, and the stage of preparing the report. Based on data analysis found six results as follows. First, the dimensions of cognitive level of rememberingdeveloped in KD identifying and finding. Markers of cognitive dimensions of remembering in the form of verbs search, recognize, identify, search, find, mention, register, complete, extract ideas and command words look for, fill in, fill in, identify, register, mark, complete, show. Second, the cognitive dimension of understanding developed in KD concluding. Markers of cognitive dimensions of understanding level in the form of verbs to understand, observe, observe, study, read, summarize, conclude, compare, pair, detail, explain, describe, describe, command wordslook, pay attention, read, observe, observe, conclude, compare, conclude, compare, group, pair, and noun summaries, summaries, and conclusions. Third, the cognitive dimension of application level developed in KD retelling. Markers of cognitive dimensions of the level of application in the form of verbs to tell, form, change, edit, correct, consider, revise, demonstrate, command words do it, tell, follow, arrange, do, display, edit, practice, fix, play, act. Fourth, the cognitive dimensions of the analyzing level are developed in the KD examining and determining. Cognitive dimension markers analyze the form of verbs to examine, compile, order words sequence, prove, command words choose, adjust, nouns study,differences, arrange. Fifth, the cognitive dimension of evaluating levels developed in KD identifying, examining, or presenting. Marking the cognitive dimensions of evaluating level is in the form of command word comments, give reasons, give comments. Sixth, the cognitive dimensions of the level of creating developed in KD presenting. The markers of the cognitive level of the creating level are verbs determining, designing, presenting, acting, doing, writing and the command words specify, write, present, act. The general conclusion of this research is that in one KD there are material offerings and exercises that have varying cognitive levels level of remembering until creating. Suggestions for future researchers are to discuss other domains, namely psychomotor domains or affective domains in textbooks.