SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    2231 research outputs found

    KEEFEKTIFAN KALIMAT DALAM JAWABAN SOAL URAIAN SISWA KELAS IX D DAN IX E SMP NEGERI 2 MALANG

    No full text
    RINGKASAN     Winarni, Sevi 2018. Keefektifan Kalimat dalam Jawaban Soal Uraian Siswa Kelas IX D dan IX E SMP Negeri 2 Malang Tahun Ajaran 2017/2018. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Prof. Dr. Anang Santoso, M.Pd. Kata kunci: kalimat efektif, kalimat jawaban, soal uraian   Menulis kalimat jawaban soal uraian adalah kegiatan merangkai kalimat agar gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis dalam hal ini penjawab soal dapat menjawab pertanyaan dalam kalimat soal. Kalimat yang digunakan untuk menjawab soal uraian haruslah kalimat yang benar dalam artian sesuai dengan hal yang ditanyakan dalam kalimat soal. Selain kebenaran kalimat, hal yang perlu diperhatikan dalam menjawab soal adalah keterpenuhan persyaratan gramatikal pada kalimat tersebut. Keterpenuhan persyaratan gramatikal yang membuat suatu kalimat dikatakan sebagai kalimat efektif. Kalimat efektif sangat dibutuhkan untuk menjawab soal uraian karena keterbatasan waktu dan tempat yang disediakan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keefektifan kalimat berdasarkan aspek (1) kelengkapan struktur, (2) kepaduan, dan (3) kehematan dalam jawaban soal uraian siswa kelas IX D dan IX E SMP Negeri 2 Malang tahun ajaran 2017/2018. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan merupakan jenis penelitian bahasa yang disajikan secara deskriptif. Data pada penelitian ini berupa keefektifan kalimat berdasarkan aspek kelengkapan struktur, kelogisan, dan kehematan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi kalimat jawaban soal uraian siswa kelas IX D dan IX E SMP Negeri 2 Malang. Secara lebih rinci, prosedur pengumpulan data yang dilakukan, yaitu (1) berkoordinasi dengan guru pamong Bahasa Indonesia untuk mengambil data, (2) mendokumentasikan kalimat jawaban soal uraian siswa, (3) membaca kalimat jawaban soal uraian siswa secara menyeluruh, (4) membagi satuan lingual data berdasarkan beberapa unsur, (5) memberikan kode pada masing-masing data, (6) memasukkan data ke dalam tabel pengumpul data, dan (6) menyajikan data sesuai dengan kajian teori yang menjadi landasan pada penelitian ini. Hasil penelitian ini sebagai berikut. Pertama, berdasarkan aspek kelengkapan struktur, pada soal uraian bebas untuk menggali kemampuan mengingat, kalimat yang paling banyak ditemukan ialah berstuktur S-P-Pel. Selanjutnya, pada soal uraian bebas untuk menggali kemampuan mengungkapkan pendapat, kalimat yang paling banyak ditemukan berstuktur S-Ket. Sementara itu, pada soal uraian terbatas lebih banyak ditemukan kalimat lengkap daripada kalimat tidak lengkap. Kedua, berdasarkan aspek kepaduan kalimat, lebih banyak ditemukan kalimat tidak lengkap pada soal uraian bebas. Ketidakpaduan kalimat lebih banyak disebabkan oleh tidak padunya hubungan antara subjek dan predikat. Sementara itu, pada soal uraian terbatas lebih banyak ditemukan kalimat padu daripada kalimat tidak padu. Ketiga, berdasarkan aspek kehematan kalimat lebih banyak ditemukan kalimat tidak hemat pada kedua jenis soal. Berdasarkan hasil penelitian, dikemukakan tiga saran. Pertama, banyaknya temuan kalimat yang tidak hemat menujukkan bahwa siswa belum memahami kehematan kalimat. Oleh karena itu, diharapkan para pendidik Bahasa Indonesia, khususnya di SMP Negeri 2 Malang, lebih mendalami lagi pembelajaran kalimat efektif, khususnya pada aspek kehematan. Kedua, bagi siswa disarankan agar lebih memperhatikan keefektifan kalimat dalam jawaban soal uraian, terutama aspek kehematan. Siswa diharapkan menghindari penggunaan kata bersinonim, kata berhiponim, preposisi berlebih, pengulangan subjek, pronomina berlebih, dan pengulangan kata yang sama dalam kalimat. Tidak hanya itu, siswa harus lebih cermat dalam membuat suatu pernyataan, agar pernyataan tersebut berupa kalimat dan bukan hanya berupa klausa. Ketiga, penelitian ini diharapkan mampu menambah khasanah bahan penelitian tentang keefektifan kalimat, terutama penggunaan kalimat efektif dalam jawaban soal uraian siswa SMP. Deskripsi keefektifan kalimat pada penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan peneliti lain untuk melakukan perbandingan dengan penelitian serupa. Prosedur penelitian deskripsi ini juga dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh peneliti lain dalam melakukan penelitian serupa

    REALISME MAGIS TEKS BABAD NUSANTARA (STUDI REALISME MAGIS WENDY B. FARIS DALAM SERAT BABAD SONGENNEP KARANGAN RADEN WERDISASTRA)

    No full text
    Penelitian ini dilakukan dengan mengangkat isu realisme magis diIndonesia sebagai kajian yang digunakan untuk mengapresiasi teks sastra lama. Fokus penelitian ini adalah mengklasifikasi lima karakteristik realisme magis dalam Serat Babad Songennepkarangan Raden Werdisastra dan membuktikan bahwa Serat Babad Songennep dapat dikategorikan sebagai karya sastra realisme magis berdasarkan karakteristik yang dikonsep oleh Wendy B. Farisdalam bukunya yang berjudul Ordinary Enchantment and The Remistification of Narrative(2004). Karakteristik itudiantaranya adalah irreducible element (elemen yang tidak tereduksi), phenomenal world (dunia fenomenal atau realistis), unsettling doubt (keraguan yang magis dan real), merging realms(penggabungan yang magis dan real), dan disruption of time, space, and identity (kekacauan ruang, waktu, dan identitas). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.Hasil penelitian ini membuktikan bahwa Serat Babad Songennep karya Raden Werdisastra merupakan karya realisme magis,karena memiliki kelima karakter realisme magis. Pada karakteristik pertamaterdapat peristiwa ekstraordinari, yaitukehamilan Potre Koneng, peristiwa pembakaran Jokotole, menghilangnya Adi Poday dan Megaremmeng, kesaktian Ke' Lesap mengubah wujud binatang, dan peristiwa lainnya yang tidak dapat dilogikakan atau dijelaskan secara rasio dan berlawanan dengan hukum alam. Dengan kata lain, peristiwa irreducible melukiskan persitiwa supranatural dan ekstraordinari. Peristiwa ekstraordinari dimunculkan oleh tokoh Jokotole atau Arya Kodapanole, Adirasa, dan Ke’ Lesap sebagai orang-orang dengan kekuatan supranatural dan banyak menciptakan peristiwa irrasional. Karakteristik irreducibleBabad Songennep berprinsip bahwa spiritualitas hidup untuk mencapai kedigdayaan, sedangkan kebangkitan untuk mencapai keabadian. Kedua, Serat Babad Songennepterbukti sebagai karyasastra babad dengan karakteristik phenomenal world yang kuat. Dunia realis dalam Serat Babad Songennep adalah Madura, khususnya Sumenep beserta keraton-keraton di tiap wilayah, dunia zaman kerajaan Majapahit sampai penjajahan Belanda, peperangan, tempat-tempat bersejarah, pagelaran sennen (sodoran) dan kesenian daerah seperti tandak, dan dunia sehari-hari pada umumnya, yaitu dunia yang kita tempati. Ketiga, narasi unsettling doubt dapat dilihat pada narasi Jokotole dan kemampuannya menempa besi tanpa alat bantu, Gunung Geger yang konon katanya angker, perahu Ki Juragan yang tidak mau berjalan, entah karena memang Jokotole dan Agus Wedi yang keramat atau ada hal lain tersembunyi, lalu kuda liar yang hanya jinak pada Jokotole, dan peristiwa lain yang memiliki keraguan dari segi perspektif, properti objek, ataupun teks Babad Songennep itu sendiri Keempat, Serat Babad Songennep memiliki karakteristik merging realms, antara lain adalah pertemuan Potre Koneng dan Adi Poday dalam alam mimpi atau alam ghaib dan bertemunya almarhum Pangeran Batopote dengan sang permaisuri yang merupakan pertemuan antara orang yang sudah hidup dengan yang sudah mati, dan juga pasukan jin yang  membantu Ke’ Lesap dalam peperangan.Dalam proses penggabungan antar dunia tersebut, realisme magis mengaburkan batas antara yang fakta dan fiksi dengan cara menghilangkan mediasi antara kenyataan yang berbeda. Kelima, Serat Babad Songennep melukiskan kekacauan akan waktu, ruang, dan identitas yang dapat dilihat pada tokoh Potre Koneng dan Adi Poday. Diceritakan bahwa keduanya melakukan persenggamaan lewat mimpi dan menyebabkan Potre Koneng hamil kemudian. Identitas pelaku menjadi kacau di sini akibat ruang dan waktu yang tidak sejalan dengan realitas. Kekacauan terhadap ruang dan waktu juga terjadi pada peristiwa kedatangan Adirasa secara tiba-tiba saat Jokotole berdoa sebelum mengangkat pintu gerbang Majapahit, menghilangnya Adi Poday beserta kuda Megaremmeng, dan kekacauan lainnya yang semakin rumit dan mengacaukan banyak hal. Teks Babad Songennep sebagai sebuah karya sastra fiksi dan sejarah mempertegas sebuah wacana mengenai model narasi yang menggabungkan peristiwa magis dan peristiwa real, bahkan narasi yang mengacauakan kedua dimensi tersebut. Lebih jauh lagi, Serat Babad Songennep karangan Raden Werdisastra mempertegas wacana model naratif yang mematahkan pandangan bahwa hidup dan kehidupan tidak selamanya mampu diakumulasi hal-hal yang bersifat science dan rasiona

    Keseragaman Tajuk Subjek pada Koleksi Umum di Perpustakaan STAIN Kediri

    No full text
    ABSTRAK   Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses penentuan  tajuk subjek, kesesuaian antar tajuk pada OPAC perpustakaan , dan keseragaman tajuk subjek di Perpustakaan STAIN Kediri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian pertama, penentuan  tajuk subjek sesuai dengan empat tahap yang meliputi memahami isi, analisis dokumen, peterjemahan, penyajian. Kedua, perpustakaan menggunakan acuan operating boolean and, or, dan  not dalam OPAC perpustakaan. Ketiga, keseragaman tajuk subjek secara umum, ditemukan enam belas tajuk subjek yang tidak seragam

    PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN PEMBELAJARAN FABEL UNTUK SISWA SMP KELAS VII

    No full text
    ABSTRAK   Cahyani, Fitri. Pengembangan Instrumen Asesmen Pembelajaran Fabel untuk Siswa SMP Kelas VII. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd.   Kata kunci: instrumen asesmen, pembelajaran berbasis teks, fabel. Instrumen asesmen pembelajaran adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi mengenai kemampuan belajar siswa. Berdasarkan analisis kebutuhan, instrumen asesmen yang digunakan guru dalam menilai kemampuan belajar siswa pada pembelajaran fabel masih memiliki kelemahan. Kelemahan tersebut dapat mengakibatkan penilaian yang tidak objektif. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah (1) mengembangkan instrumen asesmen pembelajaran fabel berupa tes yang memenuhi syarat validitas dan reliabilitas dan (2) mengembangkan instrumen asesmen pembelajaran fabel berupa pedoman penyekoran hasil tes yang memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan asesmen O’Malley dan Pierce dengan modifikasi, yaitu: (1) menentukan tujuan pengembangan, (2) menyusun spesifikasi produk, (3) melakukan pengembangan, (4) uji coba (validasi, praktisi, dan lapangan), dan (5) revisi. Validasi dilakukan oleh ahli asesmen. Uji praktisi dilakukan oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas VII. Uji lapangan dilakukan pada siswa SMP kelas VII. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif dan teknik analisis data kuantitatif. Produk yang dikembangkan ialah instrumen asesmen pembelajaran fabel untuk siswa SMP kelas VII. Instrumen asesmen berisi tes uraian yang dilengkapi rambu penyekoran dan tes praktik yang dilengkapi rubrik penilaian. Tes uraian berdasarkan Kompetensi Dasar 3.15 Mengidentifikasi informasi, 4.15 Menceritakan kembali isi, 3.16 Menelaah struktur dan kebahasaan, dan 4.16 Memerankan isi. Tes praktik berdasarkan Kompetensi Dasar 4.15 Menceritakan kembali isi dan 4.16 Memerankan isi. Hasil validitas diperoleh berdasarkan uji kesesuaian dan uji coba. Kesesuaian indikator KD dengan konstruk KD rata-rata 96%. Kesesuaian soal dengan konstruk KD rata-rata 95%. Kesesuaian aspek rubrik dengan konstruk KD rata-rata 93%. Uji coba dilakukan dengan ahli dan dua praktisi. Hasil uji coba validitas tes dengan ahli rata-rata 75%, sedangkan pada pedoman penyekoran rata-rata 66,7%. Hasil uji coba validitas tes pada praktisi 1 menunjukkan rata-rata 98,4%, sedangkan pedoman penyekoran rata-rata 100%. Hasil uji coba validitas tes pada praktisi 2 menunjukkan rata-rata 99,4%, sedangkan pedoman penyekoran rata-rata 100%. Selain itu, diperoleh saran agar rubrik harus ada gradasi untuk kata kunci rambu-rambu, memperhatikan penulisan judul dalam tabel, penambahan kata hubung dalam kalimat, dan komentar bahwa tugas masih terlalu umum dan tabel ciri kebahasaan masih kurang sesuai. Hasil uji reliabilitas diperoleh berdasarkan uji interrater dan uji coba ahli dan praktisi. Hasil uji reliabilitas diperoleh rata-rata nilai korelasi 0,840. Koefisien reliabilitas dikatakan memadai apabila mencapai minimal 0,6. Hasil uji reliabilitas pada ahli diperoleh rata-rata 75%, pada praktisi 1 diperoleh rata-rata 100%, dan praktisi 2 diperoleh rata-rata 100%. Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas, instrumen asesmen dilakukan tindak lanjut revisi dengan merinci gradasi skor pada pedoman penyekoran, mengubah soal dengan menambah kutipan dari teks, mengubah penulisan judul dengan rata tengah, dan menambahkan kata hubung pada soal. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan, diberikan saran pemanfaatan dan pengembangan lebih lanjut. Saran pemanfaatan, produk ini dapat dimanfaatkan guru bahasa Indonesia sebagai alat penilaian dalam pembelajaran fabel. Saran pengembangan lebih lanjut, agar produk ini dilakukan uji lapangan lebih dari satu kelas

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IDENTIFIKASI UNSUR INTRINSIK TEKS CERITA FANTASI DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA TEKA-TEKI SILANG

    No full text
    ABSTRAK   Putri, Intan. 2018. Pengembangan Bahan Ajar Identifikasi Unsur Intrinsik Teks Cerita Fantasi dengan Menggunakan Media Teka-Teki Silang. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Hj. Ida Lestari, M.Si.   Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, identifikasi unsur intrinsik, teks cerita fantasi, media teka-teki silang Studi pendahuluan yang dilakukan di SMP Negeri 6 Malang ditemukan bahwa (1) bahan ajar khusus untuk pembelajaran identifikasi unsur intrinsik teks cerita fantasi belum tersedia, (2) kompetensi dasar mengidentifikasi unsur-unsur teks cerita narasi (teks cerita fantasi) hanya berpedoman pada buku pemerintah, (3) siswa belum menguasai teori cerita fantasi beserta unsur intrinsiknya, dan (4) belum ada media pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran identifikasi unsur intrinsik teks cerita fantasi. Berdasarkan studi pendahuluan tersebut dilakukan penelitian dan pengembangan ini. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah mengahasilkan produk bahan ajar identifikasi unsur intrinsik teks cerita fantasi dengan menggunakan media teka-teki silang dengan memperhatikan kelayakan isi, sistematika penyajian, bahasa, dan tampilan. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan langkah pengembangan yang diadaptasi dari langkah penelitian dan pengembangan Borg dan Gall. Berdasarkan penelitian dan pengembangan tersebut terdiri dari dua tahap, yaitu tahap prapengembangan dan tahap pengembangan. Tahap prapengembangan terdiri dari studi literatur dan analisis kebutuhan. Tahap pengembangan terdiri dari enam langkah, yaitu (1) pengumpulan data, (2) desain produk, (3) validasi desain, (4) perbaikan desain, (5) uji coba produk, dan (6) revisi produk. Jenis data pada penelitian ini terdiri atas data verbal dan data nonverbal. Data verbal berupa hasil wawancara dan saran, sedangkan data nonverbal berupa skor. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa pedoman wawancara dan angket. Analisis data dilakukan dengan cara (1) mengumpulkan data nonverbal dari hasil angket Penilaian, (2) mentranskrip data verbal dari wawancara, (3) mengklasifikasi data kualitatif tersebut sesuai kriteria, dan (4) penulisan dan penyusunan bahan ajar. Penelitian dan pengembangan ini menghasilkan produk berupa modul yang berjudul Bahasa Indonesia: Lihai Menyusun Kata Lihai Berbahasa. Penilaian bahan ajar yang mencakup aspek isi, sistematika penyajian, bahasa, dan tampilan dilakukan oleh ahli penyusunan bahan ajar, ahli media, praktisi atau guru, dan siswa. Hasil penilaian bahan ajar dari aspek deskripsiisi oleh ahli penyusunan bahan ajar memperoleh persentase 78%, ahli media memperoleh persentase 91,6%, praktisi memperoleh persentase 87,5%, siswa memperoleh persentase 85%. Penilaian aspek sistematika penyajian bahan ajar oleh ahli penyusunan bahan ajar memperoleh persentase 80%, praktisi memperoleh persentase 82%, siswa memperoleh persentase 92,75%. Penilaian aspek bahasa pada baham ajar oleh ahli penyusunan bahan ajar memperoleh persentase 81,25%, praktsi memperoleh persentase 90%, siswa memperoleh persentase 96%. Penilaian aspek tampilan bahan ajar oleh ahli penyusunan bahan ajar memperoleh presentase 90%, ahli media memperoleh persentase 90%, praktisi memperoleh persentase 93%, siswa memperoleh persentase 94,75%. Simpulan penelitian dan pengembangan bahan ajar ini menunjukkan bahwa produk bahan ajar identifikasi unsur intrinsik teks cerita fantasi dengan menggunakan media teka-teki silang layak dan dapat diimplementasikan. Adapun saran pemanfaatan bahan ajar ini ditujukan kepada guru bahasa Indonesia, siswa, peneliti selanjutnya, dan pengembangan produk lebih lanjut. Produk bahan ajar dapat digunakan oleh guru bahasa Indonesia sebagai salah satu alternatif sumber belajar. Produk bahan ajar dapat digunakan untuk memudahkan siswa dalam pembelajaran identifikasi unsur intrinsic teks cerita fantasi. Produk bahan ajar ini dapat digunakan oleh peneliti selanjutnya sebagai alternatif penyusunan buku ajar mengenai teks cerita fantasi. Produk bahan ajar ini juga dapat digunakan untuk pengembangan produk lebih lanjut dengan memanfaatkan sebagaimana mestinya

    PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN PEMBELAJARAN FABEL UNTUK SISWA SMP KELAS VII

    No full text
    ABSTRAK   Cahyani, Fitri. Pengembangan Instrumen Asesmen Pembelajaran Fabel untuk Siswa SMP Kelas VII. Skripsi. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Muakibatul Hasanah, M.Pd.   Kata kunci: instrumen asesmen, pembelajaran berbasis teks, fabel. Instrumen asesmen pembelajaran adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi mengenai kemampuan belajar siswa. Berdasarkan analisis kebutuhan, instrumen asesmen yang digunakan guru dalam menilai kemampuan belajar siswa pada pembelajaran fabel masih memiliki kelemahan. Kelemahan tersebut dapat mengakibatkan penilaian yang tidak objektif. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah (1) mengembangkan instrumen asesmen pembelajaran fabel berupa tes yang memenuhi syarat validitas dan reliabilitas dan (2) mengembangkan instrumen asesmen pembelajaran fabel berupa pedoman penyekoran hasil tes yang memenuhi syarat validitas dan reliabilitas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian dan pengembangan asesmen O’Malley dan Pierce dengan modifikasi, yaitu: (1) menentukan tujuan pengembangan, (2) menyusun spesifikasi produk, (3) melakukan pengembangan, (4) uji coba (validasi, praktisi, dan lapangan), dan (5) revisi. Validasi dilakukan oleh ahli asesmen. Uji praktisi dilakukan oleh guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP kelas VII. Uji lapangan dilakukan pada siswa SMP kelas VII. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif dan teknik analisis data kuantitatif. Produk yang dikembangkan ialah instrumen asesmen pembelajaran fabel untuk siswa SMP kelas VII. Instrumen asesmen berisi tes uraian yang dilengkapi rambu penyekoran dan tes praktik yang dilengkapi rubrik penilaian. Tes uraian berdasarkan Kompetensi Dasar 3.15 Mengidentifikasi informasi, 4.15 Menceritakan kembali isi, 3.16 Menelaah struktur dan kebahasaan, dan 4.16 Memerankan isi. Tes praktik berdasarkan Kompetensi Dasar 4.15 Menceritakan kembali isi dan 4.16 Memerankan isi. Hasil validitas diperoleh berdasarkan uji kesesuaian dan uji coba. Kesesuaian indikator KD dengan konstruk KD rata-rata 96%. Kesesuaian soal dengan konstruk KD rata-rata 95%. Kesesuaian aspek rubrik dengan konstruk KD rata-rata 93%. Uji coba dilakukan dengan ahli dan dua praktisi. Hasil uji coba validitas tes dengan ahli rata-rata 75%, sedangkan pada pedoman penyekoran rata-rata 66,7%. Hasil uji coba validitas tes pada praktisi 1 menunjukkan rata-rata 98,4%, sedangkan pedoman penyekoran rata-rata 100%. Hasil uji coba validitas tes pada praktisi 2 menunjukkan rata-rata 99,4%, sedangkan pedoman penyekoran rata-rata 100%. Selain itu, diperoleh saran agar rubrik harus ada gradasi untuk kata kunci rambu-rambu, memperhatikan penulisan judul dalam tabel, penambahan kata hubung dalam kalimat, dan komentar bahwa tugas masih terlalu umum dan tabel ciri kebahasaan masih kurang sesuai. Hasil uji reliabilitas diperoleh berdasarkan uji interrater dan uji coba ahli dan praktisi. Hasil uji reliabilitas diperoleh rata-rata nilai korelasi 0,840. Koefisien reliabilitas dikatakan memadai apabila mencapai minimal 0,6. Hasil uji reliabilitas pada ahli diperoleh rata-rata 75%, pada praktisi 1 diperoleh rata-rata 100%, dan praktisi 2 diperoleh rata-rata 100%. Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas, instrumen asesmen dilakukan tindak lanjut revisi dengan merinci gradasi skor pada pedoman penyekoran, mengubah soal dengan menambah kutipan dari teks, mengubah penulisan judul dengan rata tengah, dan menambahkan kata hubung pada soal. Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan, diberikan saran pemanfaatan dan pengembangan lebih lanjut. Saran pemanfaatan, produk ini dapat dimanfaatkan guru bahasa Indonesia sebagai alat penilaian dalam pembelajaran fabel. Saran pengembangan lebih lanjut, agar produk ini dilakukan uji lapangan lebih dari satu kelas

    Konjungsi Temporal dan Konjungsi Kausal dalam Karangan Autobiografi Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Blitar Tahun Pelajaran 2016/2017

    No full text
    ABSTRAK   Konjungsi adalah kata tugas yang berfungsi menghubungkan satuan-satuan bahasa yang sederajat dalam konstruksi setara maupun tidak setara. Secara garis besar, konjungsi dapat dikelompokkan menjadi konjungsi aditif, konjungsi adversatif, konjungsi temporal, dan konjungsi kausal. Sesuai hakikat karangan autobiografi yang memuat rekam jejak kehidupan seseorang, terdapat konjungsi temporal dan konjungsi kausal di dalamnya. Konjungsi temporal digunakan untuk menyatakan hubungan waktu dan konjungsi kausal untuk menyatakan hubungan sebab-akibat dari kejadian, peristiwa, atau tindakan dalam karangan.Siswa kelas VII SMP termasuk usia remaja awal yang telah sadar masa lalu, masa kini, dan masa depan serta telah mempelajari karangan narasi pada jenjang sekolah dasar. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) wujud, jenis, dan fungsi konjungsi temporal dalam karangan autobiografi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar serta (2) wujud, jenis, dan fungsi konjungsi kausal dalam karangan autobiografi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan penelitian deskriptif. Data penelitian ini berupa wujud, jenis, dan fungsi konjungsi temporal serta wujud, jenis, dan fungsi konjungsi kausal dalam karangan autobiografi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar. Adapun sumber data penelitian ini adalah karangan autobiografi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar. Berdasarkan analisis data, ditemukan dua hasil penelitian. Pertama, terdapat konjungsi temporal dalam karangan autobiografi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar. Temuan konjungsi temporal tersebut berdasarkan jenis, wujud, dan fungsinya berupa konjungsi koordinatif temporal, konjungsi subordinatif temporal, konjungsi antarkalimat temporal, serta konjungsi temporal yang menyatakan hubungan penjumlahan urutan waktu, waktu batas permulaan, waktu bersamaan, waktu berurutan, dan waktu batas akhir. Kedua, terdapat konjungsi kausal dalam karangan autobiografi siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar. Temuan konjungsi kausal berdasarkan jenis, wujud, dan fungsinya berupa konjungsi koordinatif kausal, konjungsi subordinatif kausal, konjungsi antarkalimat kausal, serta konjungsi kausal yang menyatakanhubungan penjumlahan sebab-akibat, sebab atau alasan, dan akibat atau hasil. Berdasarkan temuan tersebut, dapat ditarik dua simpulan. Pertama, siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar telah memiliki pengetahuan awal mengenai penggunaan dan fungsi konjungsi temporal dan konjungsi kausal dalam sebuah karangan. Kedua, siswa kelas VII SMP Negeri 1 Blitar telah menggunakan konjungsi temporal secara bervariasi, tetapi masih menggunakan konjungsi kausal secara monoton. Berdasarkan temuan dan simpulan penelitian, disampaikan tiga saran. Pertama, bagi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, penelitian ini diharapkan memantapkan perbendaharaan konjungsi temporal dan konjungsi kausal siswa dalam pembelajaran berbasis teks. Kedua, bagi penulis buku, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan penggunaan konjungsi temporal dan konjungsi kausal yang sesuai dengan sasaran pembaca. Ketiga, bagi peneliti lain, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bahan rujukan tentang penggunaan konjungsi dalam berbagai jenis teks dan dijadikan sebagai acuan studi pendahuluan untuk penelitian lanjutan atau pengembangan produk yang terkait penggunaan konjungsi, khususnya konjungsi temporal dan konjungsi kausal, dalam berbagai jenis teks

    Pengembangan Bahan Ajar Menulis Teks Prosedur Konteks Budaya Lokal untuk Siswa Kelas VII SMP

    No full text
    ABSTRAK   Khakim, Rifqi. 2018. Pengembangan Bahan Ajar Menulis Teks Prosedur Konteks Budaya untuk Siswa Kelas VII SMP.Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dr. Hj. Titik Harsiati, M.Pd.   Kata Kunci: pengembangan bahan ajar, menulis teks prosedur, budaya Penelitian pengembangan bahan ajar menulis teks prosedur ini dilatar belakangi dari hasil observasi awal bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menulis teks prosedur yang benar sesuai struktur dan ciri bahasa yang ada. Dengan demikian, penulis menyusun bahan ajar yang dapat memudahkan siswaketika menulis teks prosedur. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk bahan ajar menulis teks prosedur dengan konteks budaya untuk siswa kelas VII SMP dengan memperhatikan kelayakan isi, sistematika penyajian, bahasa, dan tampilan di dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran berbasis teks. Penelitian ini menggunakan prosedur pengembangan bahan ajar yang dimodifikasi dari model pengembangan Borg dan Gall. Berdasarkan model tersebut dalam penelitian ini terdapat lima tahapan prosedur,yaitu(1) pengumpulan informasi awal, (2) perencanaan, (3) pengembangan format produk awal, (4) uji coba produk, dan (5) revisi produk.Jenis data penelitian ini adalah data non verbal berupa skor dan verbal berupa hasil wawancara dan saran.Analisis data dilakukan dengan cara: (1) mengumpulkan data nonverbal yang diperoleh dari angket penilaian, (2) menyalin data verbal, (3) mengidentifikasi dan mengklasifikasikandata verbal berdasarkan kelompok uji, dan (4) menganalisis data dan merumuskan simpulan analisis sebagai dasar untuk melakukan tindak lanjut terhadap produk yang akan dikembangkan. Penelitian ini menghasilkan 2 produk bahan ajar, yaitu buku siswa dan buku panduan guru. Isi dari buku siswa mencakup materi yang didalamnya berisi pengertian, struktur, dan ciri kebahasaan teks prosedur; contoh teks prosedur; menulis terbimbing, dan menulis mandiri.Pada buku guru mencakup materi dan petunjuk penggunaan buku siswa. Sistematika produk buku siswa terdiri atas tiga unityang disesuaikan dengan pendekatan berbasis teks. Pada buku guru terdiri dari satu judul besar saja yang berisi petunjuk penggunaan buku siswa. Bahasa yang digunakan pada produk ialah bahasa yang komunikatif, mengacu pada PUEBI, dan kalimat yang sederhana. Tampilan produk buku bernuansa kebudayaan nusantara. Penilaian bahan ajar yang mencakup aspek isi, sistematika, bahasa, dan tampilan dilakukan oleh ahli menyusun bahan ajar, ahli pembelajaran menulis, praktisi, dan siswa. Hasil penilaian buku siswa dari aspek isi secara keseluruhan memperoleh persentase 95,66%, yang berarti sangat layak dan dapat diimplementasikan. Dari aspek sistematika memperoleh 91,66%, yang berarti sangat layak dan dapat diimplementasikan. Dari aspek bahasa memperoleh 95,72%, yang berarti sangat layak dan dapat diimplementasikan. Dari aspek tampilan memperoleh 95,14%, yang berarti sangat layak dan dapat diimplementasikan. Hasil penilaian buku guru diperoleh dari ahli menyusunbahan ajar, ahli pembelajaran menulis, dan praktisi. Dari aspek isi memperoleh 82,69%, yang berarti layak dan dapat diimplementasikan. Dari aspek sistematika memperoleh 93,75%, yang berarti sangat layak dan dapat diimplementasikan. Dari aspek bahasa memperoleh 87,5%, berarti sangat layak dan dapat diimplementasikan. Dari segi tampilan memperoleh persentase 72,22%, yang berarti cukup layak dan dapat diimplementasikan. Simpulan penelitian dan pengembangan ini adalah bahan ajar menulis teks prosedur konteks budaya yang dikembangkan tergolong layak dan siap diimplementasikan dalam pembelajaran menulis teks prosedur.Saran pemanfaatan produk hasil pengembangan ditujukan kepada empat pihak.Bahan ajar ini dapat dimanfaatkan oleh guru sebagai salah satu sumber alternatif dan juga rujukan dalam pembelajaran menulis teks prosedur.Bahan ajar ini dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk mempelajari teks prosedur serta melatih siswa dalam menyusun teks prosedur. Bahan ajar ini dapat dimanfaatkan oleh peneliti lain sebagai sumber atau rujukan dalam mengembangkan bahan ajar yang lebih baik. Bahan ajar ini dapat dimanfaatkan oleh pengembang produk lebih lanjut dengan memanfaatkan bahan ajar menulis teks prosedurkonteksbudaya sebagaimana mestinya. Khakim, Rifqi. 2018. Development of Teaching Material to Write aProcedureText withCultural Contextfor Seventh Grade Students of SMP.Thesis, Indonesian Literature Department, Faculty of Letters, State University of Malang. Advisor: Dr. Hj. Titik Harsiati, M.Pd.   Keywords:development of teaching materials, writing procedure text, culture Development research of teaching materials to write procedure text with cultural context is taken with the background of preliminary observation that students have difficulty in writing procedure text correctly based on the structure and language feature of it. In order to, the writer arranges a teaching materialwhich can facilitate students when writing procedure text. The purpose of this research is to produce a product of writing procedure text with cultural contextfor grade VII students of SMP with attention to the feasibility of content, systematic presentation, language, and appearance in the learning of a customized text-based learning approach.  This research uses a modified teaching materials development procedure from the Borg and Gall development model. Based on the model in this research there are five stages of the procedure, namely (1) initial information collection, (2) planning, (3) initial product format development, (4) product trial, and (5) product revision. The data type of this research is nonverbal data in the form of score and verbal in the form of interview result and suggestion. Data were analyzed by: (1) collecting nonverbal data obtained from the assessment questionnaire, (2) transcribing verbal data, (3) identifying and classifying verbal data based on the test group, and (4) analyzing data and formulating analysis conclusions as the basis for follow up on developed products. This research produces 2 teaching materials, they arestudent’s book and teacher’s guiding book. The content of the student's book includes the material, such the definition, structure, and the language features of the procedure text; examples of proceduretext; guided writing, and independent writing, while teacher book include materials and instructional use of student books. The systematic product of students' textbooks consists of three units adapted to the text-based approach.While the teacher's book consists of a single major title containing instructions on the use of student books. The language used in the product is a communicative language, referring to PUEBI, and simple sentences. Display of book products are set Indonesian culture. Assessment of teaching materials covering aspects of content, systematic, language, and appearance is done by textbook arranging experts, write learning experts, practitioners, and students. Student book score results from the aspect of content as a whole get percentage 95,66%, it means pertained very valid and can be implemented. From the aspect of systematic get 91.66%, means very valid and can be implemented. From the aspect of language get 95,72%, it means pertained very valid and can be implemented. From the viewing aspect it is 95.14%, it is considered very valid and can be implemented. The results of teacher book assessments were obtained from textbook arranging experts, write learning experts, and practitioners. From the aspect of content acquired 82,69%, it means valid and can be implemented. From the aspect of systematic gain 93.75%, it means very valid and can be implemented. From aspect of language get 87,5%, it means very valid and can be implemented. In terms of display acquire a percentage of 72,22%, it means quite valid and can be implemented. The conclusion of this research and development is the teaching material of writing the procedure text with cultural context which developed is valid and ready to be implemented in learning to write procedure text. Suggestion of utilization of product of development result is addressed to four parties. This teaching material can be utilized by teachers as one of alternative source and referention in learning procedure text. This teaching material can be utilized by students to learn about procedure text and to train in arranging it. This resource can be utilized by other researchers as a source or reference in developing better teaching materials. These teaching materials can be utilized by further product developers by utilizing text description writing materials with cultural contextas appropriate

    Dialektika Lakon dan Penanggap: Pesan Moral Penanggap dalam Kesenian Reog Lumajang di Kelurahan Tambah Rejo, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang

    No full text
    ABSTRAK   Reog khas Lumajang berbentuk kolaborasi antara budaya Jawa dan Madura yang berbeda dengan wilayah lainnya. Pesan moral penanggap dalam pertunjukan ini yang dijadikan fokus dalam penelitian ini. Metode penelitian yang dipakai adalah dialektika. Tipe penelitian ini adalah penelitian deskripsi kualitatif. Teknik analisis yang digunakan meliputi pengumpulan data, input data, analisis data, dan verifikasi. Hasil diperoleh bahwa pesan moral penanggap yang terkandung dalam Kesenian Reog Lumajang di Kelurahan Tambah Rejo, Desa Sumber Wuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang adalah pesan moral agama, budaya, dan pendidikan

    Penerapan Metode Role Playing dengan Teknik Dramatic Reading sebagai Stimulus Berbicara bagi Mahasiswa Asing

    No full text
    ABSTRAK   Secara umum, Mahasiswa asing setidaknya akan mendengar bahasa informal ketika mereka berinteraksi dengan penutur asli. Salah satu metode pembelajaran yang menyenangkan dan seringkali dapat diterima bagi mahasiswa asing baik asia maupun eropa ialah Role Playing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan metode role playing mampu mendorong pembelajaran BIPA di Indonesia berkembang secara pengajaran sehingga mahasiswa asing dapat dipermudah untuk mempelajari bahasa kedua agar pelaku tindak tutur maupun lawan tindak tutur tidak mengalami kesalahpahaman ketika berinteraksi

    0

    full texts

    2,231

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Sastra Indonesia - Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇