JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
HASIL UBI KAYU (Mannihot esculenta Crantz.) TERHADAP PERBEDAAN JENIS PUPUK
Penelitian hasil ubi kayu (Mannihot esculenta Crantz.) terhadap perbedaan jenis pupuk bertujuan untuk mempelajari pengaruh perbedaan jenis pupuk terhadap hasil ubi kayu.Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan yang diulang sebanyak empat kali. Perlakuan tersebut adalah: A = tanpa pemupukan, B = 250 kg NPK/ha +150 kg urea/ha, dan C = 20 ton/ha bokashi kotoran sapi. Variabel pengamatanadalah: 1) Jumlah umbi/tanaman, 2) Bobot umbi/tanaman, dan 3)Produksi umbi/petak.Data hasil pengamatan dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA dan Uji BNT 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan jenis pupuk berpengaruh terhadap hasil ubi kayu (bobot umbi/tanaman dan produksi umbi/petak). Bobot umbi/tanaman dan produksi umbi/petak tertinggi diperoleh pada pupuk bokashi kotoran sapi dengan dosis 20 ton/ha dan 250 kg NPK/ha + 150 kg urea/ha. Perlu penambahan pupuk pada lahan penelitian yang ditanami ubi kayu
THE QUALITY OF NUTMEG SEEDS AND MACE FROM NORTH SULAWESI
Nutmeg seeds and mace quality are important export commodity from North Sulawesi. Recently, Indonesian nutmeg seeds and mice were contaminated by aflatoxin which was emerged in the storage. This resulted in decrease in price and demand of nutmeg especially from European countries. Aflatoksin scientifically proven can cause cancer. Thus, the products should follow the quality control test to insure the safety and health of consumers to be exported to European countries. This study aimed to know the nutmeg seeds and mace quality using descriptive statistic method. The result showed that 77 nutmeg seeds and 14 mace exports sample tested in 2010 - 2013 qualified for standard quality according to Indonesian National Standard (SNI). However, those samples were contained Aflatoxin ranged between 1.67ppb to 2.00 ppb. This indicated that SNI was no longer able to determine the quality of the nutmeg seeds and mace for export
ISOLASI ANTIMIKROBA DARI JAMUR YANG BERSIMBIOSIS DENGAN BIOTA LAUT
Penelitian untuk mengisolasi antibakteri dari jamur yang bersimbiosis pada sponge dan ascidian telah dilakukan. Penelitian ini bermaksud untuk memberdayakan potensi biota laut yang kaya dan belum banyak diperhatikan. Penelitian dilakukan meliputi sampling sponge dan ascidian, isolasi jamur simbion pada ke dua biota laut, kultur jamur dan ekstraksi dengan etanol dilanjutkan dengan partisi dengan pelarut etil asetat, heksan dan butanol dan pengujian antibakteri pada bakteri S. aureus, dan E. coli. Aktivitas antibakteri diukur dari zona hambat yang terbentuk oleh masing masing ekstrak terhadap bakteri uji. Tujuan penelitian yaitu: membandingkan aktivitas antimikroba dari ekstrak jamur simbionnya dan fraksi-fraksi etil asetat, heksan,butanol. Dari 5 jenis sponge dan 2 jenis ascidian yang di koleksi diperoleh 12 jenis jamur. Ekstrak kasar jamur S2-3 dan S4-2 dan A2-1 mampu menghambat pertumbuhan bakteri uji S. aureus dan E coli. Ekstrak jamur S4-2 aktivitasnya hampir menyamai antibiotik pembanding yang digunakan (Chloramex). Ekstrak jamur S2-3 fraksi etil asetat dan heksan mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan E coli. Fraksi etil asetat jamur S2-3 da S4-2 diameter zona hambat hampir sama. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa: dari lima jenis sponge dan dua jenis ascidian didapatkan 12 jamur simbion. Ekstrak kasar jamur S4-2 memiliki diameter zona hambat yang besar dan hampir menyamai antibiotika pembanding. Aktivitas antibakteri dari ekstrak jamur S2-3 dan S4-2 fraksi heksan lebih besar untuk bakteri E.coli dibanding S.aureus
TINGKAT PERKEMBANGAN GONAD, KUALITAS TELUR DAN KETAHANAN HIDUP LARVA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) BERDASARKAN PERBEDAAN SALINITAS
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat perkembangan gonad, kualiatas telur dan ketahanan hidup larva ikan Nila (Oreochromis niloticus). Ikan Nila diberi perlakuan dengan salinitas 0, 10, 20, dan 30 o/oo. Ikan nila dengan berat badan 140-200 g masing-masing dipelihara dalam akuarium sebanyak 36 ekor ikan betina dan selama percobaan ikan diberi pakan dengan pellet komersil dua kali sehari. Parameter uji yang diukur untuk mengetahui kinerja reproduksi ikan nila, diameter telur, fekunditas, derajat tetas telur, dan ketahanan hidup larva. Rancangan percobaan yang digunakan adalah model eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri atas 4 perlakuan dan 4 ulangan salinitas, yaitu 0, 10, 20, dan 30 o/oo. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji F kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas 10o/oo merupakan perlakuan yang terbaik karena memberikan respon yang tertinggi padadiameter telur, fekunditas, derajat tetas telur, dan ketahanan hidup larva
BIOEKOLOGI MANGROVE DAERAH PERLINDUNGAN LAUT BEBASIS MASYARAKAT DESA BLONGKO KECAMATAN SINONSAYANG KABUPATEN MINAHASA SELATAN PROVINSI SULAWESI UTARA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kodisi bioekologi mangrove yang ada di Desa Blongko Kecamatan Sinonsayang Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara, parameter yang diukur adalah struktur komunitas mangrove dan kualitas air yang merepresentasikan lingkungan perairan ekosistem mangrove. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah stratify random sampling, sedangkan data yang dibutuhkan adalah data primer dan sekunder dengan metode sampling pada ekosistem mangrove. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks nilai penting, indeks keanekaragaman, keseragaman, dan dominansi. Hasil yang diperoleh adalah kondisi perairan ekosistem mangrove dalam keadaan yang baik, dan mendukung kelangsungan hidup organisme yang berasosiasi dengan mangrove. Vegetasi mangrove di Desa Blongko terdiri atas empat famili, dengan tujuh spesies. Famili mangrove tersebut adalah Avicenniaceae, Meliaceae, Rhizophoraceae, dan Sonneratiaceae. Sedangkan spesies mangrove yang ada di desa ini adalah Xylocarpus granatum, Avicennia lanata, Avicennia marina, Avicennia officinalis, Bruguiera gymnorrhiza, Rhizophora apiculata, dan Sonneratia alba . Nilai keseragaman yang dianalisis pada vegetasi mangrove yang ada di Desa Blongko menunjukkan angka 0,72. Nilai keseragaman ini menunjukkan bahwa jumlah individu setiap jenis tidak jauh berbeda. Hal ini juga digambarkan oleh nilai dominasi sebesar 0,42 yang mengindikasikan bahwa tidak ada jenis yang mendominasi pada kawasan mangrove ini
PERTUMBUHAN ALGA COKELAT Padina australis Hauch DI PERAIRAN PESISIR, DESA KAMPUNG AMBON, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, KABUPATEN MINAHASA UTARA
Alga laut adalah bagian terbesar dari tumbuhan laut, namun dari segi morfologi tumbuhan ini mempunyai perbedaan dengan tumbuhan-tumbuhan yang ada di daratan. Alga merupakan tumbuhan tingkat rendah yang tidak memiliki perbedaan susunan kerangka seperti alat pelekat (holdfast), batang (stipe) dan daun (blade) meskipun wujudnya tampak seperti ada perbedaan, tetapi sesungguhnya merupakan bentuk thallus belaka. Pemanfaatan rumput laut di Indonesia sendiri dimulai sejak tahun 1920 yang digunakan secara tradisional sebagai makanan seperti lalap, sayur dan manisan. Akan tetapi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, pemanfaatan alga laut ke arah komersial untuk diekspor semakin meningkat. Hal ini dikarenakan kandungan kimia yang terdapat dalam alga laut seperti agar dan karaginan yang terdapat pada alga merah, algin pada alga cokelat serta alga hijau yang merupakan sumber karbonat. Salah satu jenis alga laut cokelat yaitu Padina. Pada tahun 2014, telah dikembangkan produk anti-ageing oleh PT APRO yang bekerja sama dengan CEVA (Centre d‟Etude et de Valorisation des Algues) di Pleubian, Perancis yang berasal dari Padina australis yang dipanen dari Kawasan Timur Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pertumbuhan alga cokelat Padina australis untuk menentukan waktu panen yang tepat untuk pengembangan budidaya
PENGAMATAN POST-MORTEM KUALITAS KULIT KAMBING DI KOTA MANADO
Kulit ternak merupakan hasil ikutan ternak yang memiliki nilai ekonomis sebagai bahan baku utama berbagai produk industri kulit. Kualitas kuli tsegar dapat mengalami penurunan pada saat ternak masih hidup maupun setelah lepas dari tubuh ternak. Penyembelihan ternak kambing di Kota Manado cukup banyak namun belum memperhatikan kualitas kulitnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh kualitas post-mortem kulit kambing di Kota Manado. Pengambilan data dilakukan di tempat pemotongan hewan pasar bersehati Kota Manado menggunakan metode observasi terhadap beberapa variabel yaitu cacat irisan, cacat penyakit kulit, dan cacat flek darah. Pengambilan sampel melalui purposive sampling serta penyajian data menggunakan statistik deskriptif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa cacat pada kulit kambing post mortem yang terbanyak adalah cacat irisan dan cacat penyakit kulit (± 60%) dan cacat flek darah paling sedikit (± 13,3%). Cacat yang ditemui terbanyak pada daerah D (daerah badan)
PENGEMBANGAN PENELITIAN PRODUK UNGGULAN DAERAH SULAWESI UTARA YANG BERDAYA SAING MEMPERKUAT POSISI INDONESIA MENGHADAPI MEA
Indonesia akan menghadapi realisasi kebijakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan diterapkan pada awal tahun 2016 dengan 4 karakteristik, yaitu pasar tunggal dan basis produksi, wilayah ekonomi berdaya saing tinggi, wilayah dengan perkembangan ekonomi yang merata, wilayah yang seutuhnya terintegrasi kedalam ekonomi global. Dalam makalah ini dipaparkan beberapa produk unggulan daerah dengan nilai ekonomis yang tinggi dan dibandingkan dengan penelitian-penelitian terkait di Universitas Sam Ratulangi. Ada banyak produk daerah Sulawesi Utara yang mempunyai nilai ekspor yang tinggi, seperti produk pertanian (kelapa, pala dan cengkih) dan produk perikanan seperti ikan (tuna, cakalang dan tongkol) dan rumput laut. Banyak komoditi olahan turunan dari produk-produk tersebut sudah tersedia di pasaran domestik namun belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI).Standardisasi dari produk-produk yang berdaya saing tinggi akan menentukan daya jualnya di pasar global, dan karena itu proses kajian konvensional seperti pengujian dan sertifikasi jelas diperlukan. Untuk itu, peran Unsrat dengan ketersediaan laboratorium-laboratorium penguji dan peneliti-peneliti yang kompeten akan sangat penting ke depan. Sampai tahun 2014, belum ada penelitian khusus terkait pengujian standar mutu yang sudah ada, atau pengembangkan standar baru untuk setiap komoditi unggulan daerah Sulawesi Utara. Namun demikian, beberapa topik penelitian terkait MEA berorientasi kebijakan dan standardisasi sedang dikembangkan oleh peneliti-peneliti Universitas Sam Ratulangi mulai tahun ini. Ke depan, universitas ini harus berpartisipasi nyata dalam mengembangkan standar keamanan dari setiap produk (material) yang dapat dipasarkan, tidak hanya produk pertanian dan perikanan, tetapi juga material untuk konstruksi, dan sebagainya
TAMBAHAN PAKAN BUATAN (GULA TEBU DAN AREN) TERHADAP PRODUKSI ROYAL JELLY LEBAH MADU Apis cerana F.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pakan buatan terhadap produksi dan karakteristik kualitas royal jelly Apis cerana F. Manfaat penelitian ialah untuk mendapatkan pakan buatan yang dapat menstimulasikan produksi royal jelly sehingga dapat digunakan dalam budidaya lebah madu Apis cerana F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian gula tebu dan gula aren ternyata dikonsumsi oleh populasi lebah madu dan memberikan pengaruh berbeda sangat nyata terhadap pembentukan sel ratu pada metode emergency cell. Analisis kimia dari royal jelly yang dihasilkan pada metode emergency cell menunjukkan bahwa pakan gula tebu mempunyai kualitas lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yaitu pembentukan sel ratu, kuantitas dan kualitas royal jelly A. cerana, maka pakan buatan yang terbaik digunakan ialah komposisi 100 gram gula tebu atau gula aren dicampur 200 gram air
BIOAKUMULASI TOTAL MERKURI, ARSEN, KROMIUM, CADMIUM, TIMBAL DI TELUK TOTOK DAN TELUK BUYAT, SULAWESI UTARA
Kajian ilmiah berbagai aspek yang terkait dengan dugaan adanya pencemaran logam berat di Teluk Buyat dan Teluk Totok sedang marak dilakukan, sebagian telah dipaparkan dalam berbagai temu ilmiah. Penelitian ini memberikan informasi seberapa jauh terjadi bioakumulasi dan biomagnifikasi dari logam-logam seperti merkuri, arsen, kromium, cadmium dan timbal dalam ekosistem perairan setempat. Sampel biota laut yang telah diidentifikasi, kemudian dipreparasi dan dianalisa kandungan logam beratnya. Pada penelitian ini didapatkan telah terjadi biomagnifikasi minimal pada kedua logam, yaitu merkuri dan timbal di Teluk Totok, karena sudah terdeteksi pada plankton. Secara umum dapat disimpulkan bahwa akumulasi logam pada biota di Teluk Totok lebih tinggi dari yang terakumulasi pada biota di Teluk Buyat. Logam-logam berat dalam gastropoda lebih tinggi dari pada ikan, kecuali kadar merkuri pada gastropoda di Teluk Buyat yang tidak terdeteksi. Merkuri total (Hg) pada ikan dan gastropoda dari Teluk Totok masing-masing 0,804 dan 1,02 mg/Kg , lebih tinggi dari yang terdeteksi di Teluk Buyat melampaui batas maksimum yang ditetapkan dengan SNI 7387:2009. Kadar total arsen dalam gastropoda di Teluk Totok tujuh kali kadar maksimum menurut SNI 7387:2009. Kadar logam ini dalam gastropoda di Teluk Buyat juga sudah hampir mencapai batas maksimum. Kadar logam cadmium (Cd) dan timbal (Pb), walaupun belum terdeteksi pada ikan, namun pada gastropoda di Teluk Totok sudah mengandung logam Pb dalam kadar yang sudah melampaui batas maksium menurut SNI 7387:2009. Sedangkan untuk tembaga, ditemukan pada Gastropoda dalam kadar yang sangat tinggi di Teluk Buyat dan Teluk Totok, masing-masing 124 mg/Kg dan 116 mg/Kg