JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI
Not a member yet
140 research outputs found
Sort by
ANALISIS SENYAWA ANTIBIOTIK DARI JAMUR SIMBION YANG TERDAPAT DALAM ASCIDIANS Didemnum molle DI SEKITAR PERAIRAN BUNAKEN-SULAWESI UTARA
Endosymbiont can be interpreted as microbes that live in colonies in the internal tissues of other higher organisms without causing adverse effects directly on the its host. Endosymbiont organisms have a huge potential to be exploited as a new natural products that are useful in medicine, agriculture, and industry. This research is focused on the antibacterial potential. Ascidians Didemnum moll speciments were collected from Manado waters. The fungal isolates were purified followed by screening their antibacterial activity towards Staphylococcus aureus and Pseudomonas aeruginosa. In this study we isolated 3 fungal specimens Acremonium sp. (ADMB-1, 2 and 3). Three isolates showed potential antibacterial activity. Together with the fungal isolates, we also isolated Bacillus galacosidilyticus from the same host. This bacterial isolate also show antibacterial potency
PERFORMAN SAPI PERANAKAN ONGOLE YANG DISUPLEMENTASI UREA GULA MERAH BLOK HASIL FERMENTASI CAMPURAN TINJA AYAM
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan tingkat penggunaan suplemen dari urea gula merah blok hasil fermentasi campuran tinja ayam terhadap produktivitas sapi Peranakan Ongole (PO). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah model eksperimen dengan menggunakan rancangan pola Bujur Sangkar Latin (5x5) yang terdiri dari 5 ekor sapi PO, lima perlakuan dan lima periode (Steel and Torrie, 1980). Ransum percobaan yang digunakan adalah; R0 = rumput gajah + UGB tanpa fermentasi; R1 = rumput gajah + UGB fermentasi 2 hari dan 5% TAF; R2 = rumput gajah + UGB fermentasi 4 hari dan 5% TAF; R3 = rumput gajah + UGB fermentasi 6 hari dan 5% TAF; R4 = rumput gajah + UGB fermentasi 8 hari dan 5% TAF. Variabel yang menjadi pengamatan; konsumsi bahan kering ransum, pertambahan berat badan dan efisiensi penggunaan ransum. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa perlakuan memberi pengaruh yang berbeda sangat nyata (P < 0,01) terhadap jumlah konsumsi bahan kering ransum sapi PO, jumlah konsumsi tersebut menunjukkan bahwa pemberian suplemen UGB dan TAF dapat meningkatkan konsumsi bahan kering ransum. Lanjutan Uji Dunnet, perlakuan R3 memberi pengaruh yang sangat nyata (P < 0,01) dari perlakuan R0. Dengan pengertian, pemberian suplemen UGB fermentasi 6 hari dan TAF pada sapi PO secara sangat nyata dapat meningkatkan konsumsi bahan kering ransum. Hasil sidik ragam pada pengaruh perlakuan terhadap pertambahan berat badan, hasilnya berbeda sangat nyata (P<0,01). Berarti pemberian suplemen UGB dan TAF berpengaruh positif terhadap pertamahan berat badan. Uji Dunnet memberi informasi bahwa perlakuan R1 memberi pengaruh yang sangat nyata atau tertinggi dibandingkan dengan R1 sebagai control. Sedang hasil sidik ragam pengaruh perlakuan terhadap efisiensi penggunaan ransum memberi hasil yang nyata (P<0,05). Dengan kata lain, pemberian UGB dan TAF menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap efisiensi penggunaan ransum dibandingkan dengan pakan control. Lanjutan Uji Dunnet, menunjukkan bahwa sapi PO yang diberi UGB fermentasi 2 dan 4 hari ersama TAF member pengaruh yang sangat nyata. Berarti ada peningkatan efisiensi penggunaan ransum dibandingkan dengan control. Kandungan zat-zat makanan yang ada dalam UGB dan TAF dapat dikonsumsi dengan baik dan dapat meningkatkan konsumsi ransum pada sapi sehingga dapat meningkatkan pertambahan berat badan. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian Urea Gula Merah Blok yang difermentasi 2 hari dan TAF memberikan hasil yang terbaik bagi pertambahan berat badan dan memperbaiki efisiensi penggunaan ransum pada ternak sapi PO
ANTIBAKTERI DARI BEBERAPA EKSTRAK PADA ALGA COKLAT
Biota laut memiliki khasiat farmakologi untuk dapat dikembangkan menjadi bahan sediaan farmasitika. Jenis-jenis alga laut seperti Padina australis, Halimeda opuntia, Halymenia durvillaei, dan Laurencia papillosa merupakan jenis-jenis alga yang ditemukan di perairan pesisir Pulau Nain. Perairan Pulau Nain merupakan salah satu daerah perairan di Sulawesi Utara yang memiliki sumberdaya perairan yang cukup melimpah termasuk di antaranya adalah sumberdaya alga laut. Kehadiran sumberdaya ini di ekosistem perairan intertidal sangatlah penting sebagai produsen dan karena juga kandungan komponen kimiawi yang terdapat dalam alga sangat bermanfaat bagi bahan baku industri makanan, kosmetik, farmasi dan lain-lain. Namun sejauh ini pemanfaatan sumber bahan bioaktif dari alga sebagai komoditas perdagangan atau bahan baku industri masih relatif kecil jika dibandingkan dengan keanekaragaman jenis alga yang ada di Indonesia. Untuk itu pada penelitian ini, dilakukan uji antibakteri yang diharapkan dapat menunjukkan adanya aktivitas antibakteri di dalam alga tersebut
PERAN UNSRAT DALAM PENELITIAN PENGEMBANGAN EKONOMI MARITIM DAN KELAUTAN DI SULAWESI UTARA MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
Penelitian ini bertujuan untuk: a) mengidentifikasi riset-riset bidang kemaritiman/kelautan yang dilakukan Unsrat sepanjang 3 (tiga) tahun terakhir (2012-2014), b) mengidentifikasi riset-riset Unsrat yang mendukung sektor-sektor prioritas pelaksanaan MEA 2015, khususnya produk industri berbasis perikanan di Sulut. Penelitian ini mengacu pada metode deskriptif dengan menggunakan studi survei. Data diperoleh melalui studi pustaka, penelusuran laman terkait, wawancara (kuisioner) dan observasi kepada informan/responden yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Penelitian ini menggunakan analisis AHP dan deskriptif. Kegiatan penelitian pada indikator kemaritiman pengembangan ekonomi maritim yang dilakukan oleh Unsrat selama tahun 2012-2014 adalah terpusat pada indikator produksi hasil perikanan, yaitu berkisar 13-26 judul/kegiatan, peningkatan luas kawasan konservasi laut 2-5 judul/kegiatan, sedangkan pengembangan pelabuhan perikanan hanya 1 judul kegiatan yang ditemukan pada tahun 2014 saja. Kegiatan penelitian pada indikator produksi hasil perikanan berasal dari bidang ilmu MSP, IK, ABP, BDP, PSP, dan THP, selanjutnya kegiatan penelitian pada pengembangan pelabuhan perikanan berasal dari bidang ilmu PSP, sedangkan kegiatan penelitian pada peningkatan luas kawasan konservasi laut berasal dari bidang ilmu MSP dan IK. Biaya kegiatan penelitian di bidang kemaritiman yang diperoleh oleh Unsrat tahun 2012-2014, yaitu bervariasi dari Rp. 15.000.000-Rp. 1.644.358.433 berasal dari anggaran pemerintah pusat, Unsrat (PNBP), dan perusahaan swasta. Biaya kegiatan penelitian yang diperoleh oleh Unsrat selama tahun 2012-2014 masih terpusat pembiayaannya pada kegiatan penelitian pengembangan ekonomi maritim dari indikator produksi hasil perikanan, sebesar Rp. 6.136.358.433 (91,95%), sedangkan biaya kegiatan pada pengembangan pelabuhan perikanan hanya sebesar Rp. 50.000.000 (0,75%) dan peningkatan luas kawasan konservasi laut sebesar Rp. 487.500.000 (7,30%). Lokasi kegiatan penelitian pengembangan ekonomi maritim yang telah dilakukan oleh Unsrat selama tahun 2012-2014, tersebar di hampir semua kabupaten/kota pesisir yang ada di Sulut, yaitu Manado, Bitung, Minut, Minahasa, Minsel, Mitra, Sangihe, Talaud, Bolsel, dan Bolmong, sedangkan untuk Boltim, Bolmut dan Sitaro belum pernah dilakukan kegiatan penelitian pengembangan ekonomi maritim oleh Unsrat. Ada 9 (sembilan) judul penelitian yang unggul dan berdaya saing di bidang maritim dari Unsrat, yang telah berproses memperoleh Hak Paten dari Kementerian Hukum dan HAM RI. Sembilan judul penelitian tersebut berasal dari penelitian Rispro LPDP Kemenkeu RI tahun 2014 dengan judul utama, yaitu “Produksi dan komersialisasi penyedap rasa alami kaya iodium berbasis ikan asap serta pemanfaatan biopolimer dari rumput laut dan limbah industri perikanan sebagai Edible Sachet Filmâ€. Disarankan bahwa peran Unsrat kedepan dalam strategi penelitian pengembangan ekonomi maritim di Sulut, tidak hanya terfokus pada indikator kemaritiman produksi hasil perikanan, melainkan juga pada pengembangan pelabuhan perikanan dan peningkatan luas kawasan konservasi laut dalam menunjang program pemerintah mencapai target di bidang kemaritiman/kelautan dalam RPJMN 2015-2019. Unsrat perlu penelitian lanjut menetapkan strategi penelitian pengembangan ekonomi maritim di Sulut dengan menggunakan analisis SWOT. 9 judul penelitian Paten berbasis produk unggulan berdaya saing di bidang kemaritiman yang berasal dari FPIK Unsrat perlu dikembangkan menjadi produk ber-SNI menghadapi MEA
PENGARUH WARNA LAMPU DALAM AIR TERHADAP HASIL TANGKAPAN BAGAN PERAHU DI PERAIRAN BACAN KABUPATEN HALMAHERA SELATAN
Penelitian mengenai penggunaan lampu dalam air pada bagan perahu dilakukan di perairan Bacan dengan tujuan melihat bagaimana pengaruh warna lampu laguna dalam air terhadap hasil tangkapan pada setiap fase umur bulan, serta mengetahui jenis ikan yang tertangkap, dengan menggunakan metode eksperimental di mana data dianalisis dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Ikan teri (Stolephorus commersonii) merupakan hasil tangkapan yang paling dominan pada setiap fase umur bulan dan pada setiap perbedaan penggunaan warna lampu laguna berwarna dalam air pada ketiga bagan perahu. Penggunaan lampu dalam air berwarna hijau-biru (HB) memberikan hasil tangkapan yang lebih dominan dibandingkan lampu berwarna hijau-hijau (HH) dan biru-biru (BB) pada setiap fase umur bulan. Di samping itu, penggunaan perlakuan perbedaan warna lampu dalam air menunjukkan perbedaan yang nyata secara statistik terhadap jumlah tangkapan ikan teri (Stolephorus commersonii). Hasil tangkapan bagan perahu dengan menggunakan lampu berwarna HB berbeda sangat nyata dengan lampu berwarna BB dan antara lampu berwarna HB dan HH tidak menunjukkan perbedaan yang nyata secara statistik terhadap jumlah hasil tangkapan ikan teri. Terlihat juga bahwa hasil tangkapan ikan teri pada bagan perahu pada saat lampu dioperasikan pada periode umur bulan 1-7 hari berbeda sangat nyata dengan hasil tangkapan pada tiga periode umur bulan lainnya. Dengan demikian, direkomendasikan kepada nelayan perikanan bagan perahu agar menggunakan lampu laguna dalam air dengan kombinasi warna hijau dan biru dan pada saat periode umur bulan di langit 1- 7 hari, karena pada dua kondisi ini akan diperoleh hasil tangkapan ikan teri yang lebih memadai dibandingkan lainnya. Dengan demikian, direkomendasikan kepada nelayan perikanan bagan perahu agar menggunakan lampu laguna dalam air dengan kombinasi warna hijau dan biru dan pada saat periode umur bulan di langit 1- 7 hari, karena pada dua kondisi ini akan diperoleh hasil tangkapan ikan teri yang lebih memadai dibandingkan lainnya
TANTANGAN MANADO MENUJU KOTA HIJAU
Tulisan ini menggambarkan pemikiran dan usulan ide menuju terwujudnya Manado sebagai kota dengan konsep hijau. Beragamnya masalah dalam Manado, membutuhkan kerjasama berbagai pihak. Dengan manfaatkan sumber daya alam dan potensi Manado dalam pengembangan kota hijau diharapkan terintregrasinya berbagai elemen kota dari system transportasi sampai berperannya komunitas masyarakat pada kegiatan yang ramah lingkungan. Implementasi menuju kota hijau dan berkelanjutan, dibahas dengan mengemukakan ide-ide hijau yang dianggap penulis bisa diterapkan di kota Manado. Saran pemecahan masalah diambil dari pendekatan teori dan dan usulan ide yang di sesuaikan dengan kondisi di lapangan. Konsep hijau untuk ide dan aplikasinya diharapkan dapat menjawab berbagai masalah yang ada dan dapat membawa Manado menuju kota hijau yang aman, teratur, tertib, nyaman, dan berkelanjutan
KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE PULAU MANTEHAGE, KECAMATAN WORI, KABUPATEN MINAHASA UTARA PROVINSI SULAWESI UTARA
This study aimed to analyze the sustainability of mangrove ecosystem management in one small island located in the area of Bunaken National Park. Mantehage islands included in the township administration area Wori, North Minahasa Regency, North Sulawesi. This study will examine the sustainability of mangrove ecosystem management on the dimension of ecological, socio-economic, and institutional. The data used are primary and secondary analyzes that are used in this study is the Multidimensional scaling. The results obtained are sustainability Status Mantehage Island mangrove ecosystem management included in either category, but one of the three dimensions of the object of study has a low value that the ecological dimension. Environmental degradation caused by anthropogenic activities and the nature of this dimension will affect the future, so that special attention is needed for improved its environmental capacity, especially in the mangrove ecosystem
JENIS-JENIS VEGETASI RIPARIAN SUNGAI RANOYAPO, MINAHASA SELATAN
Ekosistem riparian terletak di tepian sungai yang terkena banjir. Ekosistem riparian memiliki fungsi ekologis sebagai penyanggah bagi ekosistem teresterial dan akuatik. Pencemar yang masuk ke Sungai Ranoyapo, Minahasa Selatan dapat menurunkan kualitas air Sungai Ranoyapo. Pentingnya fungsi vegetasi riparian dalam mempertahankan kualitas air Sungai Ranoyapo membutuhkan penelitian tentang vegetasi riparian. Penelitian ini bertujuan menganalisis jenis-jenis vegetasi riparian Sungai Ranoyapo, Minahasa Selatan. Hasil penelitian akan sangat bermanfaat sebagai data base dalam penelitian selanjutnya yang terkait dengan DAS Ranoyapo dan kualitas sungai Ranoyapo. Penelitian dilakukan di bagian hulu dan tengah pada Mei-Oktober 2013. Metode yang dilakukan yaitu survei dan analisis data secara deskriptif. Pola penggunaan lahan di sepanjang Sungai Ranoyapo dari hulu hingga tengah bervariasi namun umumnya pertanian tanaman pangan dan perkebunan. Jenis-jenis tanaman di zona riparia misalnya padi (Oryza sativa), jagung (Zea mays), kelapa (Cocos nucifera), ubi (Manihot utilissima), coklat (Theobroma cacao) dan cengkeh (Syzygium aromaticum). Vegetasi riparian alami termasuk anggota dari berbagai suku antara lain suku Poaceae, Cyperaceae, Asteraceae, Lamiaceae, Campanulaceae, Euphorbiaceae, Malvaceae, Acanthaceae, Amaranthaceae, Commelinaceae, Mimosaceae, Fabaceae, Dryopteridaceae, dan Urticaceae. Jenis vegetasi riparian alami tumbuhan bawah antara lain Wedelia trilobata, Digitaria, Eupatorium odoratum, Ageratum conyzoides dan Mikania micrantha. Tumbuhan berupa pohon yaitu Ficus sp., Macaranga sp., dan Terminalia catappa.Kata Kunci: Vegetasi riparian, zona riparia, Sungai Ranoyap
MORFOLOGI NEMATOSIT DARI DUA SPESIES KARANG SCLERACTINIA (Seriatopora hystrix dan Seriatopora caliendrum)
Tujuan penelitian ini adalah membandingkan dimensi nematosit, yaitu panjang dan lebar kapsul serta panjang tangkai) antara kedua karang Scleractinia, S. hystrix dan S. caliendrum yang dikumpulkan dari terumbu karang pantai Malalayang Kota Manado. Pengamatan nematosit dilakukan dengan menggunakan Mikroskop tipe Olympus CX41, sedangkang pengukuran dimensi nematosit digunakan jangka sorong stainless steel (manual) dalam satuan mm, kemudian dikonversi kedalam μm. S. hystrix dan S. caliendrum, masing-masing memiliki tipe nematosit yang sama, yaitu microbasic p-mastigophore (MpM) dan holotrichous isorhiza (HI). Panjang dan lebar kapsul, serta panjang tangkai nematosit dari kedua spesies melalui analisis statistik (uji-t) memperlihatkan hasil tidak berbeda nyata (P > 0.05). Penelitian ini menyatakan bahwa tipe dan morfologi nematosit dari kedua spesies uji adalah sama dan menyarankan bahwa S. hystrix dan S. caliendrum adalah spesies yang sama. Bagaimanapun perlu dilakukan uji lanjut tentang habitat dan lingkungannya dimana fauna-fauna ini berada dan uji DNA apakah perbedaan atau persamaan dari kedua spesies merupakan faktor lingkungan atau genetika atau gabungan dari kedua faktor tersebut.Kata kunci: Seriatopora hystrix; Seriatopora caliendrum, nematosit, MpM, H
POTENSI FITOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAUN SIRSAK (Annona Muricata Linn.) SEBAGAI KANDIDAT BAHAN PAKAN AYAM PEDAGING
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi antibakteri daun sirsak sebagai kandidat bahan pakan ayam pedaging. Peneitian ini merupakan informasi awal dalam menentukan arah penggunaan daun sirsak. Penelitian dilakukan dengan menganalisis kandungan fitokimia meliputi analisis proksimat, analisis van Soest, dan analisis skrin fitokimia untuk melihat potensi daun sirsak yang ada di lokasi penelitian. Komposisi kimia tepung daun sirsak dalam penelitian ini yang diperoleh dari analisis proksimat dan Van Soest. Kandungan zat-zat makanan daun sirsak terdiri dari 87.58% bahan kering, 8.93% abu, 16.9% protein, 28.36% serat kasar, 4.76% lemak kasar, 28.63% Beta-N, 2.09% Ca, dan 0.35% P. Kandungan energi bruto sebesar 4195 kkal/g. Hasil analisis Van Soest menunjukkan bahwa dalam daun sirsak terdapat 53.96% NDF (neutral detergent in-soluble fiber), 49.61% ADF (acid detergent insoluble fiber), 4.08% hemiselulosa, 34.71% selulosa, 14.64 lignin dan 0.25 silika. Hasil skrining fitokimia kualitatif dengan pelarut etanol menunjukkan bahwa pada daun sirsak terdapat metabolit sekunder berupa steroid, flavonoid, tannin, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun sirsak dapat digunakan sebagai salah satu bahan penyusun ransum pada ternak ayam, dengan memperhatikan kandungan seratnya. Kandungan flavonoid dan saponin sebagai metabolit sekunder dapat diisolasi untuk dijadikan senyawa antioksidan potensial.Kata Kunci: Daun sirsak, Annona muricata Linn., fitokimi