BAHASTRA
Not a member yet
130 research outputs found
Sort by
TINDAK TUTUR EKSPRESIF PADA BAK TRUK SEBAGAI ALTERNATIF MATERI AJAR PRAGMATIK
Tindak tutur ekspresif adalah tindak tutur yang dimaksudkan penuturnya agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam tuturan itu. Tuturan-tuturan memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik, mengeluh, menyalahkan, mengucapkan selamat, menyanjung, termasuk ke dalam jenis tindak tutur ekspresif. Tuturan tersebut dapat diekspresikan melalui media lisan dan media tulis. Ada juga yang berupa iklan seperti yang tertulis pada alat-alat transportasi di antaranya adalah pada bak truk
DISKRIMINASI GENDER PEREMPUAN PAPUA DALAM NOVEL ISINGA KARYA DOROTHEA ROSA HERLIANY
Penelitian ini mendeskripsikan diskriminasi gender dalam novel Isinga karya Dorothea Rosa Herliany. Pengumpulan data dilakukan dengan cara teknik kepustakaan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah novel Isinga karya Dorothea Rosa Herliany. Metode yang digunakan adalah content analysis. Hasil penelitian ini menghasilkan hal-hal berikut. Pertama, menunjukkan adanya diskriminasi gender yang mencakup berbagai hal, baik fisik maupun seksual. Kedua, karakteristik kaum laki-laki dalam novel Isinga karya Dorothea Rosa Herliany
KRITIK SOSIAL SUKU DAYAK BENUAQ DALAM NOVEL API AWAN ASAP KARYA KORRIE LAYUN RAMPAN (TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA MARXIS)
Penelitian ini mendeskripsikan novel Api Awan Asap karya Korrie Layun Rampan ditinjau dari (1) protes sosial, (2)realisme sosial. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya protes sosial yang ditujukan kepada masyarakat yang tidak mengetahui tradisi berhuma suku Dayak Benuaq; perusahaan pertambangan, perusahaan perkebunan, HPH, dan HTI; perusahaan kelapa sawit, tebu, dan coklat; kepada “konglomeratâ€; perusahaan penambangan emas dan batu bara. Bentuk realisme sosial menggambarkan masyarakat suku dayak Benuaq yang dituduh sebagai perusak alam; kerusakan lingkungan pada wilayah yang didiami oleh suku Dayak Benuaq; ketidaktahuan masyarakat mengenai hukum dan kepemilikan tanah; dan ketidaksiapan mental secara finansial masyarakat
A MODEL OF CHARACTER EDUCATION AS REFLECTED IN FUADY’S NEGERI LIMA MENARA
Negeri Lima Menara oleh Fuady telah melanda bagi banyak pembaca. Novel ini bercerita tentang kehidupan di pesantren Islam. Kisah novel yang mencerminkan pengalaman penulis selama studi di Pondok Pesantren Darassalam Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1980. Madani Pesantren sebagai lembaga pendidikan utama di dalam menunjukkan peran dalam membangun karakter siswa dengan mengintegrasikan modernitas dan ajaran Islam pada saat yang sama .Fuady mencoba untuk menunjukkan model yang baik tentang bagaimana lembaga pendidikan (Madani Pondok Pesantren) dapat mendidik siswa untuk meningkatkan perkembangan pribadi mereka. Madani Pondok Pesantren memiliki sistem pendidikan yang baik dan tegas untuk bertanggung jawab atas perilaku siswa-nya dari dasar sampai dengan akhir proses pembelajaran.Artikel ini menganalisa peran Madani Pondok Pesantre dalam mengembangkan siswa bangunan karakter. penulis memperoleh beberapa temuan dari novel Negeri Lima Menara pada bagaimana pondok pesantren madani berhasil bisa mendidik siswa untuk memiliki karakter yang baik dengan mengoptimalkan peran guru sebagai motivator dan model yang baik bagi siswa; membangun ikatan emosional antara guru dan siswa; dan memberikan kesadaran dan nilai-nilai moral kepada siswa
MEMBANGUN KREATIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN MENULIS DENGAN MEMANFAATKAN MEDIA PEMBELAJARAN INOVATIF
Dalam pembelajaran menulis di sekolah, guru sering menemukan kendala dalam membangun kreativitas siswa. Pembelajaran yang dilakukan juga terkesan lebih monoton dengan minimnya pemanfaatan media pembelajaran yang sifatnya merangsang minat dan motivasi siswa dalam menulis. Padahal fungsi medtulia pembelajaran ini sangat membantu guru dalam membelajarkan kompetensi kebahasaan yang dipelajari, terutama menulis. Di samping itu, siswa yang belajar menulis juga seringkali sulit untuk memulai tulisan yang akan ditulisnya. Mereka cenderung kesulitan untuk memunculkan ide-ide yang akan dijadikan tulisan tersebut. Dalam hal ini, media sangat berperan dalam membantu siswa untuk memunculkan ide yang akan ditulis. Selain itu, media ini juga dapat membangun kreativitas siswa dalam mengembangkan tulisan dengan mengombinasi pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh siswa tersebut. Media-media pembelajaran yang sifatnya inovatif akan sangat membantu siswa untuk mengkonstuksi ulang pengetahuan yang ada dalam pikiran siswa menjadi bentuk yang lebih unik dan variatif dalam tulisan yang dihasilkan
JENIS MATERI AJAR CERITA PENDEK DALAM BUKU SISWA BAHASA INDONESIA SMA DAN RELEVANSINYA DENGAN KURIKULUM 2013
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan jenis materi ajar cerpen dalam buku siswa Bahasa Indonesia SMA, dan (2) mendeskripsikan relevansi jenis materi ajar tersebut dengan kompetensi Kurikulum 2013. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Data dalam penelitian ini berupa kata, frase, kalimat, dan paragraf yang terdapat dalam buku Siswa dan kompetensi dalam Kurikulum 2013. Sumber data berupa buku siswa Bahasa Indonesia, Ekspresi Diri dan Akademik kelas X,XI, dan XII yang diterbitkan oleh Kemendikbud 2014 dan KI – KD Bahasa Indonesia SMA Kurikulum 2013. Data-data tersebut dikumpulkan dengan teknik simak dan catat. Teknik keabsahan data digunakan trianggulasi teori. Teknik analisisnya adalah pembacaan semiotik dan komparatif.Hasil penelitian ini sebagai berikut. (1) Jenis materi ajar cerpen dalam buku siswa Bahasa Indonesia meliputi materi ajar aspek kognitif yang terdiri fakta, konsep, prinsip, dan prosedur, materi ajar aspek afektif, dan materi ajar aspek psikomotor. Materi ajar fakta berupa teks cerpen, pertanyaan faktual isi cerpen, dan mengidentifikasi kosa kata dan kalimat dalam cerpen. Materi ajar konsep berupa pengertian, ciri-ciri, dan struktur cerpen, unsur kebahasaan, latar belakang sosio pengarang, keterkaitan isi cerpen dengan kenyataan, dan peristiwa monologis dan dialogis. Materi ajar prinsip berupa struktur cerpen. Materi ajar prosedur yaitu proses kreatif penulisan dan langkah-langkah menulis cerpen. Jenis materi ajar aspek afektif berupa pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan sikap, tanggapan, pendapat, dan harapan setelah membaca atau sebelum menulis cerpen. Adapun materi ajar psikhomotor berupa tugas membangun, mengabstraksi, mengonversi, memproduksi, dan menyunting teks cerpen. (2) Semua materi ajar itu relevan dengan kompetensi Kurikulum 2013. Materi ajar aspek kognitif sesuai dengan KD pada KI-3 yaitu kompetensi pengetahuan. Materi ajar aspek afektif sesuai dengan KD pada KI-2 yaitu aspek sosial. Adapun materi ajar pada aspek psikhomotor relevan dengan KD pada KI 4 yaitu kompetensi keterampilan.Â
PENGKREASIAN STIKER VULGAR SEBAGAI TINDAKAN BERMORAL
Tujuan penelitian ini (a) penyajian stiker vulgar dan (b) teknik pengkreasian stiker vulgar sebagai tindakan bermoral. Pengkreasian stiker vulgar menjadi stiker bijak yang bermuatan mendidik menjadi tanggung jawab moral si penulis stiker, guru di sekolah, dan masyarakat. Hal ini sebagai wujud tindakan bermoral yang tidak berpotensi pembiaran tetapi berpotensi penanganan yang nyata terhadap kondisi psikososial anak didik di masyarakat. Stiker digunakan anak didik SMA dan dipasang/ditempel di helm dan sepeda motor. Penelitian ini penelitian kualitatif. Kualitatif deskriptif jenis data berupa kata-kata, frasa, kalimat yang terdapat dalam stiker. Peneliti pengkreasian stiker vulgar dengan melaksanakan olah makna, baik dari aspek semantis maupuan pragmatis. Objek penelitan ini berupa kata atau ungkapan berkonotasi negatif atau vulgar yang digunakan anak didi SMA Muhammadiyah di Surakarta. Data primer berupa satuan lingual stiker vulgar dan data sekunder hasil wawancaraData Teknik observasi di SMA Muhammadiyah se-Surakarta dan wawancara dengan anak didik, kepala sekolah, wakasek bidang kesiswaan, guru bimbingan konseling, petugas parkir, dan masyarakat. Teknik dokumentasi berupa penggalian stiker yang terjual ke anak didik SMA. Keabsahan data kualitatif menggunakan teknik triangulasi yaitu triangulasi sumber. Teknik analisis menggunakan metode padan. Metode padan yang pragmatis dengan alat penentu referen yaitu berupa mitra wicara. Selain metode tersebut dignakan teknik Focus Group Descoussin (FGD). Hasil penelitian stiker yang digunakan berupa stiker tidak vulgar dan stiker vulgar. Stiker vulgar digunakan anak didi SMA Muhammadiyah se-Surakarta berpotensi mempengaruhi moral anak didik. Stiker vulgar tersebut dapat dikreasikan menjadi stiker bijak. Stiker bijak inilah yang disosialisasikan sehingga menjadi tandingan stiker vulgar. Kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, guru bimbingan konseling, dan masyarakat menjadi pihak yang terlibat dalam penyosialisasian stiker bijak (hasil pengkreasian stiker vulgar) ini
STYLISTICS GENETIC ANALYSIS ON POETRY HENDAK TINGGI? AND HENDAK BAHAGIA??? WRITTEN BY BUNG USMAN AS A PICTURE OF INDONESIAN SOCIETY IN JAPANESE ERA
Puisi sebagai salah satu jenis karya sastra merupakan karya ekspresif wujud penyampai segala rasa. Secara pendokumentasian sejarah pun, puisi dapat menjadi salah satu wadah yang menyimpan catatan sejarah. Pemanfaatan tanda bahasayang digunakan dalam karya sastra merupakan bentuk performansi komunikasi yang digunakan pengarang untuk menyampaikan pesan tertentu. Penyampaian pesan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan aspekstilistika sebagai wujud performansi kebahasaan. dalam Hal inilah yang menjadi menarik untuk selalu dikaji dan ditemukan catatan-catatan sejarah dari berbagai sastra masa lampau, salah satunya puisi di zaman Jepang.Indonesia menjadi sebuah negara yang berdaulat pun tidak bisa terlepas dari perkembangan sastra. Bahkan, sastra dapat mencatat dengan baik perjuangan bangsa serta sastra digunakan untuk alat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Zaman Jepang ditemukan dua kelompok sastrawan, yaitu sastrawan yang mendukung Jepang dan melawan Jepang. Bung Usman sebagai salah satu sastrawan yang melawan Jepang menggunakan puisi sebagai bentuk penolakan dan perlawan terhadap Jepang. Menganalisis gaya sastrawan secara indvidual dapat menemukan karakter bahasa sastrawan dan mencerminkan kondisi masyarakat di Zaman Jepang. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, Bung Usman memiliki gaya yang khas dalam penulisan puisi di zaman Jepang dengan gaya dominan lewat puisinya dan puisi Bung Usman pun menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia yang kebingungan dan tidak tahu hendak melakukan apa sehingga membiarkan kesewenangan Jepang sekaligus menggambarkan keingan masyarakat melawan atau berjuang mendapatkan kemerdekaan Indonesia
EKSLUSI DAN INKLUSI PADA RUBRIK METROPOLITAN HARIAN KOMPAS: ANALISIS WACANA KRITIS BERDASARKAN SUDUT PANDANG THEO VAN LEEUWEN
Penggunaan teori kritis sebagai alat pengkajian dalam penelitian ini disebabkan oleh adanya persoalan tentang penumpang kereta rel listrik (KRL) yang sering melanggar aturan dengan menaiki atap kereta tersebut. Penelitian ini pada dasarnya lebih menekankan titik perhatiannya pada sosok penumpang KRL sebagai sosok yang senantiasa termajinalkan dalam kehidupan sosial. Kajian ini merupakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Kajian ini juga terbatas hanya pada satu teks berita yang dimuat dalam satu rubrik metropolitan pada haian Kompas. Model analisis wacana yang digunakan adalah model Theo Van Leuween dengan tujuan untuk mendeteksi dan meneliti bagaimana para penumpang yang duduk di atap KRL dimarjinalkan posisinya dalam suatu wacana. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat dua jenis eksklusi yang dilakukan, yakni pasivasi dan nominalisasi; sedangkan inklusi ada tiga jenis, yakni diferensiasi, abstraksi, dan identifikasi. Keterbatasan dalam kajian ini disebabkan karena faktor kajian yang hanya terfokus pada satu teks berita
SIMBOL RAMA DAN EPOS RAMAYANA BAGI RAJA DAN MASYARAKAT JAWA
Epos Ramayana merupakan epos kuno yang ditulis dalam tujuh kanda terdiri atas 24.000 sloka. Di Jawa epos Ramayana pertama kali muncul secara lengkap dalam bentuk relief di Candi Lara Jonggrang yang dibangun sekitar tahun 782 hingga 872 M. Epos tua yang hidup di masyarakat Jawa ini pastilah mempunyai ajaran. Tokoh Rama sebagai tokoh utama merupakan simbol paling utama dalam epos ini. Berkait dengan simbol ajaran, tokoh Rama dalam epos Ramayana Jawa mempunyai fungsi bagi Raja Jawa dan masyarakat Jawa. Bagi raja simbol tokoh Rama memiliki tiga fungsi utama. Pertama sebagai fungsi spiritual. Kedua adalah fungsi legitimasi kekuasaan. Ketiga adalah fungsi pencitraan. Adapun bagi masyarakat Jawa, simbol tokoh Rama memiliki dua fungsi utama. Pertama adalah fungsi spiritual. Kedua adalah fungsi filosofis