Jurnal Teknik Kimia
Not a member yet
233 research outputs found
Sort by
EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI PADA TANAMAN KEMANGI DENGAN PELARUT N-HEKSANA
Kemangi merupakan salah satu tumbuhan penghasil minyak atsiri. Minyak atsirikemangi biasa diambil melalui batang dan daunnya. Minyak atsiri kemangi juga digunakandalam industri farmasi, makanan dan sebagai insektisida nabati. Metode pengambilanminyak atsiri kemangi dilakukan dengan metode ekstraksi dengan pelarut n-heksana.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rendemen terbesar dari proses ekstraksi denganmemvariasikan waktu ekstraksi dan suhu. Bahan yang digunakan adalah daun kemangikering yang sudah dihaluskan sebanyak 300 gram dengan pelarut 600 ml. Variabel yangdigunakan adalah suhu ekstraksi (25, 35, 45, 55 0C) dan waktu ekstraksi (30, 60, 90, 120, 150menit) dengan pengadukan 300 rpm. Rendemen tertinggi adalah 1,3% dengan variable suhuekstraksi 55 0C dan waktu ekstraksi 150 menit. Sampel hasil penelitian dianalisamenggunakan GC-MS didapatkan kandungan sitral tertinggi 69,21%
KINETIKA REAKSI PEMBUATAN KALIUM SULFAT DARI EKSTRAK ABU BATANG PISANG DAN ASAM SULFAT
Pada saat ini petani Indonesia dihadapkan dengan permasalahan harga pupuk anorganik yang melambung tinggi sehingga para petani mengalami kerugian dan kebutuhan pupuk petani yang semakin meningkat. Sebagian kebutuhan pupuk itu sudah dapat dipenuhi oleh pabrik-pabrik dalam negeri, seperti pupuk urea, ammonium sulfat, tripel super fosfat, dan pupuk majemuk NPK. Namun, pupuk kalium hampir seluruhnya masih harus import. Salah satu tumbuhan potensial yang mengandung banyak kalium ialah pisang. Pembuatan larutan ekstrak abu dari batang pisang yang dikeringkan (dijemur), setelah itu dibakar dan diambil abunya. Kemudian abu ditambah dengan dengan aquadest (100 gram abu dalam 1 liter aquadest) lalu disaring ekstraknya..Larutan ekstrak abu batang pisang sebanyak 150 ml dimasukkan kedalam labu leher tiga, kemudian diikuti dengan penambahan H2SO4 1 N. Suhu waterbath dijaga pada suhu (oC) yang ditentukan sesuai variabel (40, 50, 60, 70, 80). Motor pengaduk dihidupkan selama waktu (menit) yang ditentukan sesuai variabel (10, 20, 30, 40, 50 ). Larutan sebanyak 25 ml diambil 3 kali pada labu leher tiga. Kemudian dimasukkan masing-masing larutan ke dalam erlenmeyer untuk dititrasi. Titrasi dilakukan untuk masing-masing larutan pada erlenmeyer tersebut dengan NaOH 0,5 N. Volume titran NaOH dicatat dan hitung konsentrasi K2SO4. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konstanta kecepatan reaksi dan orde reaksi dari proses pembuatan kalium sulfat dari ekstrak abu pelepah pisang dan asam sulfat dan mempelajari pengaruh waktu dan suhu dalam proses pembuatan kalium sulfat. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah proses pembentukan kalium sulfat dari ekstrak abu batang pisang dan asam sulfat mengikuti reaksi orde 1 semu. Dari penelitian yang dilakukan diperoleh kondisi terbaik dalam pembuatan kalium sulfat yaitu pada suhu 80 oC selama 50 menit menghasilkan konversi (XA) kalium sulfat sebesar 0,9650
MINYAK KENCUR DARI RIMPANG KENCUR DENGAN VARIABEL JUMLAH PELARUT DAN WAKTU MASERASI
Minyak kencur merupakan pendatang baru dalam dunia industri minyak atsiri. Komponen terbesar yang terkandung dalam minyak kencur adalah etil para metoksisinamat. Kandungan tersebut mempunyai banyak manfaat dan juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Minyak kencur dapat dihasilkan dari rimpang kencur (Kempferia Galanga L.) yang telah dibuat menjadi serbuk kencur dengan metode maserasi menggunakan pelarut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kondisi operasi terbaik dari pengambilan minyak kencur sehingga dilakukan penelitian terhadap jumlah pelarut dan waktu maserasi dengan cara merendam serbuk kencur menggunakan pelarut etanol 95% dan variasi jumlah pelarut (240mL, 320mL dan 400 mL) serta waktu maserasi (1, 2, 3, 4, dan 5 hari). Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi operasi optimal terdapat pada maserasi hari ke empat dengan jumlah pelarut sebanyak 400 mL yang ditandai dengan terbacanya pada hasil analisa menggunakan GC-MS bahwa komponen etil para metoksisinamat terdapat pada peak ke lima dengan luas area sebesar 77,74%
ETANOL DARI HASIL HIDROLISIS ONGGOK
Onggok dapat digunakan sebagai sumber energi dengan cara pembakaran langsung atau digunakan sebagai biogas. Kandungan pati dalam onggok dapat diubah menjadi fruktosa dan glukosa dengan proses hidrolisis, di mana selanjutnya hasil dari proses hidrolisis ini akan difermentasikan menjadi etanol. Mengubah onggok menjadi sumber energi yang lain adalah dengan proses fermentasi menjadi etanol. Penelitian ini bertujuan untuk merubah glukosa hasil dari proses hidrolisis onggok menjadi etanol menggunakan variabel waktu fermentasi: 4, 6, dan 8 hari, penambahan saccharomycess cereviceae: 8, 10 dan 12% dari total volume filtrat. Hasil penelitian diperoleh: kadar HCl sisa 0,088%, kadar glukosa sisa 3,198%, kadar etanol 15,82%, setelah dilakukan proses distilasi kadar etanol yang diperoleh sebesar 89%
ETANOL GEL SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF
Bahan Bakar Minyak sudah menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat. Namun karena deposit minyak bumi di Indonesia hanya tinggal 20 tahun maka harus dicari bahan bakar alternatif lain yang dapat menggantikan minyak tanah. Bioetanol merupakan bahan bakar alternatif yang potensial karena sumbernya mudah diperbaharui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan volume C2H5OH dan lama pengadukan terhadap hasil nilai flash point etanol gel dari cangkang kerang hijau dan etanol. Cangkang kerang hijau yang telah dihaluskan dimasukkan dalam beaker glass kemudian dicampur dengan asam asetat (CH3COOH), kalsium asetat (Ca(CH3COO)2) yang terbentuk dicampur dengan etanol 85% sesuai variabel volume etanol yaitu (70;75;80;85;90 ml), diaduk selama waktu sesuai variabel yaitu (30;60;90;120;150 menit) kemudian didiamkan sampai terbentuk etanol gel. Kemudian disaring untuk diambil etanol gelnya dan dianalisakan flash pointnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu pengadukan nilai flash point menurun. Hasil terbaik yang diperoleh yaitu flash point sebesar 16,80 oC yang didapat pada volume etanol 75 ml dan waktu pengadukan 150 menit
PRODUKSI BIOETANOL BERBASIS MENIR DAN ONGGOK LIMBAH TAPIOKA
Limbah padat Proses Pembuatan tapioca berwujud onggok dari proses ekstraksi pati dan menirberasal dari pencucian singkong yang jumlahnya mencapai dua kali dari kapasitas produksi. Pengolahanlimbah itu menjadi bioetanol terkendala pada proses hidrolisis. Untuk itu pengembangan proses hirolisismenggunakan reaktor osilasi dengan paten P00201200184. Pemurnian kaldu fermentasi menjadi bioetanolmenggunakan refluks distilasi model desain produk IDD-0000034253. Pengaruh dosis enzym nocook danenzim nova pada berbagai waktu proses hidrolisis terhadap kadar glukosa dipelajari untuk optimasiproses fermentasi. Kadar glukosa maksimum yang dapat dicapai 146 g/L dan kaldu fermentasi maksimumyang dihasilkan 8,9% alkohol. Pemurnian bioetanol dikerjakan dalam prototipe distilator, dengan debitproduk prototipe 10L/jam. Kadar kaldu fermentasi rata-rata 7,2%, suhu reflux terbaik terjadi pada 88 oC,dan kemurnian bioetanol yang dapat dicapai 98
PEMBUATAN PUPUK CAIR DARI DAUN DAN BUAH KERSEN DENGAN PROSES EKSTRAKSI DAN FERMENTASI
Penelitian ini mengkaji tentang Pembuatan Pupuk Cair Organik dimana bahan baku yang digunakan adalah daun dan buah kersen, serta air. Metode pembuatan pupuk ini secara umum adalah dengan proses Ekstraksi dan Fermentasi dimana kedua proses tersebut berjalan secara bersamaan. Pada awal proses, daun kersen ditimbang sesuai variabel (200, 225, 250, 275 dan 300 gram). Kemudian masing-masing di cacah. Lalu ditambahkan 50 gram buah kersen ke dalam 200 dan 275 gram daun kersen. Setelah itu diblender bersama 500 ml air sebanyak peubah yang dijalankan 200, 225, 250, 275 dan 300 gram. Kemudian dilakukan pengadukan dalam tangki berpengaduk selama 10 menit. Selanjutnya dilakukan proses ekstraksi dan fermentasi berdasarkan waktu yang ditentukan (2, 3, 4, 5, 6 dan 7 minggu). Produk yang dihasilkan berupa pupuk cair yang mengandung ion N, P, K, dan Mg. Pada penelitian ini diperoleh ratio berat / pelarut (L/V) operasi pada 200 gram daun/500 ml pelarut. Sedangkan kualitas pupuk cair terbaik diperoleh pada minggu ke-6 pada ratio berat/pelarut 300 gram daun dengan 500 ml air. Pupuk cair organik yang dihasilkan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan pupuk cair organik yang dipasaran seperti komposisi Kalium dan Magnesium
EKSTRAKSI BAHAN PEWARNA ALAMI DARI KAYU MAHONI (Swietenia mahagoni) MENGGUNAKAN METODE MAE (MICROWAVE ASSISTED EXTRACTION)
Saat ini banyaknya pemakaian zat warna sintetis dapat disebabkan oleh faktor kemudahan memperoleh zat warna sintetis serta faktor produksi dan penggunaan zat warna alam yang belum optimal. Akan tetapi mengingat harga zat pewarna sintetis yang cenderung lebih mahal, potensi pencemaran lingkungan akibat pemakaian zat warna sintetis yang cukup besar, serta adanya kandungan azodyes tertentu dalam zat warna sintetis yang telah dilarang penggunaannya, maka pemakaian zat warna alam perlu dibudayakan. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan proses ekstraksi bahan pewarna alami dari kayu mahoni dengan metode Microwave Assisted Extraction. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama ekstraksi dan daya microwave yang digunakan terhadap rendemen (yield) pewarna yang diperoleh. Cacahan kayu mahoni sebanyak 10 g diekstraksi dengan menggunakan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) dengan memvariasi daya microwave (100 W dan 380 W) dan waktu ekstraksi (10, 20, 30, 40, dan 50 menit). Filtrat yang diperoleh dipanaskan sampai diperoleh serbuk bahan pewarna. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa semakin besar daya microwave yang digunakan dan semakin lama waktu yang diperlukan untuk ekstraksi maka pewarna yang dihasilkan akan semakin banyak. Dari hasil pencelupan pewarna dari kayu mahoni, bahan kertas saring dapat dicelup dengan baik dan memberikan warna coklat. Sedangkan dari hasil pengujian ketahanan luntur warna terhadap bahan kertas saring melalui pencucian dan penggosokan terlihat bahwa pencelupan dengan pewarna dari kayu mahoni memiliki ketahanan luntur yang baik. Hal ini membuktikan bahwa kandungan yang terdapat pada kayu mahoni dapat digunakan sebagai zat warna alami
BIOETANOL DARI BONGGOL POHON PISANG
Limbah pohon pisang menghasilkan 48,26% pati yang merupakan sumber bahan organik yang dapat dijadikan bioetanol sebagai energi alternatif pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM). Tujuan penelitian ini adalah pembuatan bioetanol dari bonggol pisang menggunakan proses hidrolisis dan fermentasi, dimana hidrolisis ini menggunakan enzim alfa-amilase dan enzim gluko-amilase lalu dilanjutkan dengan proses fermentasi dengan menggunakan saccharomyces cereviceae. Variabel fermentasi yang dijalankan adalah 2,3,5,7, dan 8 hari serta konsentrasi starter saccharomyces cereviceae 8%,9%, dan 10%. Hasil terbaik diperoleh dengan menggunakan konsentrasi starter 9% dan waktu fermentasi 7 hari, kadar bioetanol yang dihasilkan sebesar 30,59%
AKTIVASI ZEOLIT SEBAGAI ADSORBEN GAS CO2
Aktivasi zeolit sebagai adsorben gas CO2 dari biogas dilakukan secara kimia dan fisika dengan tujuan menghilangkan pengotor organik untuk mendapatkan bentuk kation dan kerangka zeolit yang berbeda,Aktivasi zeolit ditujukan untuk modifikasi zeolit dan memperbaiki karakter zeolit.Secara kimia sebagai activator digunakan H2SO4 dengan konsentrasi bervariasi pada rentang 5% s/d 30% dan secara fisika dilakukan kalsinasi pada suhu 500 OC selama 4 jam. Proses adsorpsi dilakukan dengan mengalirkan gas CO2 sintetis 98,86% dari bagian bawah kolom adsorber berdiameter 5 cm dan tinggi 30 cm dengan rate 0,0022 lt/menit s/d 0,0058 lt/menit, tinggi adsorben dalam kolom 28 cm dan ukuran butir zeolit -20/+28 mesh .Penelitian menghasilkan kondisi terbaik pada aktivasi kimia H2SO4 25% dan kalsinasi meningkatkan perbandingan Si/Al 76,95% dan peningkatan daya serap gas CO2 75,5 % pada rate gas masuk adsorber 0,0022lt/menit