Jurnal Teknik Kimia
Not a member yet
233 research outputs found
Sort by
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR MINYAK BUMI SECARA BIOLOGI AEROB PROSES BATCH
Proses aerasi biologi digunakan pada pengolahan limbah cair minyak bumi dengan memanfaatkan bakteri aerob. Hal ini bermanfaat dalam penurunan konsentrasi zat organik di dalam limbah cair. Selain diperlukan untuk proses metabolisme bakteri aerob, kehadiran oksigen juga bermanfaat untuk proses oksidasi senyawa-senyawa kimia di dalam limbah cair serta untuk menghilangkan bau. Proses aerasi dilakukan secara biologi dapat menurunkan COD sampai 90%. Dalam penelitian ini dicari waktu terbaik pada perlakuan aerasi biologi terhadap penurunan COD dan BOD Limbah Cair Minyak Bumi dan pengaruh konsentrasi mikroorganisme terhadap persentase penurunan kadar COD dan BOD pada Limbah Cair Minyak Bumi. Hasil terbaik yang diperoleh terhadap penurunan COD dan BOD adalah pada waktu aerasi 2 jam dengan konsentrasi mikroorganisme 1600 mg/l, COD yang diperoleh = 172,52 ml/l, dan persentase hasil penurunan adalah 86,35 %,, BOD adalah 86,26 mg/l , persentase hasil penurunan adalah 83,99 %
PERANCANGAN VACUM EVAPORATOR METODE LIQUID RING VACUM PUMP
Proses evaporasi pada nira dengan vacum evaporator menggunakan barometrik condensor memerlukan energi yang cukup besar, untuk menghemat energi maka diperlukan perancangan suatu evaporator vacum yang dapat menurunkan titik didik juga yang hemat energy yaitu dengan mengganti barometrik condensor menjadi metode Liquid Ring Vacum Pump dimana uap yang telah terkondensasi di dalam condensor dialirkan ke pompa vacum untuk menarik uap pada ruang evaporator sehingga terjadi kondisi vacum. Pompa vacum jenis ini menggunakan energy kecil bila dibandingkan dengan menggunakan steam jet ejector dan diharapkan pada penggunaan vacum evaporator dengan Metode Liquid Ring Vacum Pump ini akan dapat menghemat daya listrik.. Perancangan vacum evaporator dengan metode Liquid Ring Vacum Pump ini dapat menurunkan suhu penguapan sampai 76 0C dengan tingkat kevacuman mencapai 200 mm Hg terhadap tekanan 760 mm Hg. Hasil perancangan vacum evaporator ini diharapkan dapat digunakan pada Industri yang menggunakan proses evaporasi larutan yang peka terhadap suhu tinggi, dengan membuat kondisi vacum maka akan menurunkan titik didih yang secara otomatis akan menghemat biaya dalam proses penguapannya.
DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i1.84
BIODISEL DARI MINYAK IKAN
Biodiesel adalah energi alternatif pengganti solar, dan biodiesel merupakan sumber energi yang terbarukan dan biodegradable. Produksi biodiesel dengan bahan baku minyak ikan, untuk wilayah Jawa Timur merupakan pilihan yang strategis. Peluang ketersedian bahan baku minyak ikan di Jawa Timur ( Banyuwangi ) relatife banyak. Untuk wilayah Banyuwangi, sumber bahan baku (minyak ikan yang off grade) selain harganya murah (Rp.1800/Liter) jumlahnya relatif banyak. Proses pembuatan biodiesel dari minyak ikan off grade dibagi menjadi beberapa tahap. Proses pertama adalah Proses Pemurnian dari minyak ikan off grade yang meliputi proses pengeringan untuk menghilangkan kadar air dan pemisahan gum. Proses yang kedua adalah proses Esterifikasi, dan dilanjutkan dengan proses Trans-esterifikasi, kemudian diakhiri dengan proses pemurnian hasil biodiesel. Dalam penerapan yang akan dilakukan, merupakan hasil temuan baru, yaitu teknologi proses pembentukan biodiesel dengan proses esterifikasi dan dilanjutkan proses trans-esterifikasi dalam reaktor alir osilasi yang dapat digunakan untuk multi umpan (input minyak bisa dengan bahan yang FFA-nya tinggi). Dengan begitu, reaktor akan adaptif terhadap berbagai jenis bahan baku yang diumpankan. Disamping itu penggunaan reaktor alir osilasi bersekat miring untuk proses esterifikasi ini, proses dapat berlangsung satu langkah dan energi yang dibutuhkan relative lebih kecil daripada proses-proses yang selama ini ada. Hasil Penelitian diperoleh biodiesel yang memenuhi syarat PERTAMINA, SNI, dan ASTM terjadi pada kondisi suhu reaksi 60 oC dan waktu 60 menit dengan karakteristik biodiesel yaitu densitas 0,8898 kg/m3, angka iod 7,4, angka cetana 66,00, titik nyala 272 oF, dan pour poin 32 oF
KARAKTERISTIK TEPUNG PREBIOTIK UMBI UWI (Dioscorea spp)
Umbi uwi (Dioscorea spp.) merupakan salah satu jenis umbi yang banyak tumbuh di Indonesia memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Keanekaragaman uwi sangat banyak baik dilihat dari bentuk, ukuran, warna, maupun rasa umbinya. Terdapat lebih dari 600 spesies dari genus Dioscorea spp. tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia, antara lain Dioscorea hispida (gadung), Dioscorea esculenta (gembili), Discorea bulbifera (gembolo), Dioscorea alata (uwi ungu/purple yam), Dioscorea opposita (uwi putih), Dioscorea villosa (uwi kuning), Dioscorea altassima, Dioscorea. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa 10 jenis umbi Dioscorea spp. memiliki kadar inulin bervariasi antara 2,88-14,77%. Umbi Dioscorea spp. biasanya digunakan sebagai sumber karbohidrat alternatif di pedesaan, namun belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku aneka olahan produk pangan, khususnya pangan fungsional. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi karakteristik fisiko-kimia tepung umbi uwi dan dodol prebiotik yang berbahan baku umbi uwi (Dioscorea spp). Karakteristik fisiko-kimia yang dievaluasi meliputi kadar air, pati, amilosa, amilopektin, inulin (pada tepung umbi uwi) dan tekstur, kadar gula reduksi dan uji organoleptik (pada dodol). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan uji lanjut menggunakan analisis Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6 jenis umbi uwi memiliki kadar pati yang bervariasi
PEMANFAATAN KULIT KAPOK SEBAGAI KARBON AKTIF UNTUK PENYERAPAN LOGAM Cu DAN Cr PADA LIMBAH ELEKTROPLATING
Kulit buah kapok randu (Ceiba Pentandra) selama ini kurang begitu dikenal oleh sebagian masyarakat. Maka dengan perkembangan Ilmu dan Teknologi, kulit buah kapok randu ini dapat dimanfaatkan dan dijadikan suatu barang yang berguna yaitu dapat dijadikan karbon aktif atau arang aktif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas arang aktif dalam penyerapan logam-logam berat, khususnya Cu dan Cr dan juga untuk mengetahui kondisi penyerapan yang terbaik. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berat arang aktif 60 gram; 80 gram; 100 gram; 130 gram; 150 gram dan waktu pengadukan 20 menit; 30 menit; 40 menit; 50 menit; dan 60 menit. Prosedur yang digunakan pertama adalah kulit randu dikeringkan kemudian dikarbonasi sehingga kulit menjadi karbon aktif. Kemudian kulit tersebut dites dan diaplikasikan ke limbah electroplating untuk mengurangi konsentrasi limbah Cu dan Cr. Dari hasil yang dicoba diperoleh kondisi yang terbaik pada penyerapan untuk logam Tembaga (Cu) yaitu pada berat 100 gram dan menit ke 20 diperoleh hasil yang terbaik 58,83 mg/L, sedangkan untuk logam Crom (Cr), juga pada berat 100gram dan menit ke 20 diperoleh hasil yang terbaik 10,1 mg/L. Persen penyerapan yang terbaik untuk logam Cu didapatkan 96,30% dan untuk logam Cr 94,66%. Hasil analisa karbon aktif (C) adalah 33562,82 mg/L atau sekitar 3,36%
PEMBUATAN ETHANOL DARI JERAMI PADI DENGAN PROSES HIDROLISIS DAN FERMENTASI
Jerami Padi banyak mengandung Pati, Selulosa dan Glukosa yang cukup tinggi. Alkohol dapat dihasilkan dari tanaman yang banyak mengandung senyawa selulosa dengan menggunakan bantuan aktivitas mikroba salah satu jenis tanamannya adalah jerami padi Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan kadar ethanol yang terbaik pada jerami padi dengan menggunakan proses hidrolisis dan fermentasi. Kondisi yang ditetapkan larutan Hidrolisis sebanyak 2500 ml, pH hidrolisis 3, waktu hidrolisis 2 hari, dan pH fermentasi sebesar 4,5, sedangkan peubah yang dijalankan adalah waktu fermentasi (2,3,4,5,6,7 (hari)), berat jerami padi (40,50,60 (gram)), dan volume stater yang ditambahkan (8%, 10%, 12%, kali volume cairan fermentasi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik pada berat jerami 50 gram dengan volume stater yang ditambahkan sebanyak 12% volume cairan fermentasi yang difermentasi selama 7 hari yang menghasilkan kadar ethanol sebesar 12,89%. Jerami padi dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan bioethanol
KONSENTRASI CROSS-LINKER TERHADAP PERFORMA ADSORBEN BERBASIS THERMOSENSITIVE NIPAM-CO-DMAAPS GEL
Penyebab pencemaran logam berat di perairan Indonesia, seperti yang terjadi di teluk Jakarta adalah kegiatan industri yang menghasilkan limbah logam berat. Akumulasi logam berat dalam air dan tanah dapat membahayakan kelestarian ekosistem. Salah satu teknologi terbaru dalam separasi ion logam berat adalah metode adsorpsi dengan zwitterionic betaine. Adsorben berbasis thermosensitive polimer gel khususnya zwitterionic betaine memiliki kelebihan yaitu mampu menunjukkan selektivitas ion. Ion tersebut dapat diikat melalui charged group yang terletak di perulangan unit yang sama. Kation akan diikat oleh charged group bermuatan negatif (SO3-) dan anion akan diikat oleh charged group bermuatan positif (N+) adsorben secara simultan. Pada penelitian ini gel hasil kopolimerisasi antara N-isopropylacrylamide (NIPAM) dan N,N’-dimethyl(acrylamidopropyl)ammonium propane sulfonate (DMAAPS) akan digunakan sebagai adsorben. Pada penelitian ini thermosensitive NIPAM-co-DMAAPS gel dipersiapkan melalui reaksi polimerisasi radikal bebas dengan menggunakan N,N,N’,N’-tetramethylethylenediamine (TEMED) sebagai akselerator, ammonium peroxodisulfate (APS) sebagai inisiator, dan N,N’-methylenebisacry-lamide (MBAA) sebagai cross-linker dengan konsentrasi 10 mmol/L dan 30 mmol/L. Untuk mengetahui keberhasilan sintesa gel dilakukan uji FTIR. Larutan Zn(NO3)2 digunakan untuk menguji performa dari gel antara lain adsorpsi terhadap ion logam berat serta hubungannya dengan swelling degree. Selain itu semakin tinggi jumlah ion yang teradsorp akan mengakibatkan naiknya nilai swelling degree.
DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i1.83
KARAKTERISTIK NATRIUM SILIKA DARI GEOTHERMAL SLUDGE DAN ABU BAGASSE
Limbah geothermal dan abu bagasse merupakan limbah yang mengandung silika amorf yang sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Kebutuhan Natrium Silikat dipasaran cukup tinggi sehingga dibutuhkan suatu penelitian yang bertujuan untuk memenuhi standart nilai rasio SiO2/Na2O (Modulus) natrium silikat. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh konsentrasi Natrium Hidroksida (NaOH) dan berat bahan baku terhadap modulus natrium silikat. Proses pembentukan natrium silikat dilakukan menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut basa (natrium hidroksida) pada suhu 100oC dalam waktu ekstraksi 60 menit. Larutan natrium silika yang dihasilkan dianalisis kadar natrium dan silikanya dan dihitung besarnya modulus yang dihasilkan. Variabel proses yaitu konsentrasi larutan natrium hidroksida : 0,5 N, 1,5 N, dan 2,5 N serta berat limbah geothermal dan abu bagasse yang diekstraksi yaitu : 60, 90, 120, 150 dan 180 gram. Laturan natrium hidroksida yang digunakan yaitu 1 liter. Temperatur proses ekstraksi 1000C dan waktu ekstraksi 60 menit. Hasil penelitian menunjukkan modulus terbesar yang diperoleh yaitu 2,00 sedangkan untuk limbah abu bagasse modulus yang diperoleh 1,34. Berdasarkan hasil berat jenis dan modulus tersebut dapat diketahui bahwa limbah geothermal sludge memberikan modulus yang lebih besar dibandingkan dengan limbah abu bagasse
KARAKTERISTIK BIOCHAR BERDASARKAN JENIS BIOMASSA DAN PARAMETER PROSES PYROLISIS
Penggunaan biochar sudah semakin meluas baik sebagai bahan bakar alternatif, industri pertanian, industri kimia maupun farmasi. Dan sampai saat ini sifat fungsional biochar belum teridentifikasi berkaitan dengan biomasa yang digunakan sebagai bahan bakunya. Padahal kandungan senyawa kimia selulosa (C6H10O5)n, hemiselulosa (C5H8O4)n dan lignin [(C9H10O3)(CH3O)]n dalam biomasa berbeda komposisinya. Perbedaan ini tentu akan mempengaruhi produk biochar yang dihasilkan. Sehingga perlu diperhatikan karakteristik biochar sesuai fungsi dan sifat-sifat peruntukannya agar efektivitas produk menjadi lebih optimal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakterisasi dan spesifikasi biochar menggunakan teknologi Pyrolisis dengan variabel ; jenis biomasa (tempurung kelapa, bambu, tongkol jagung, sekam padi dan jerami padi), temperatur proses (300 0C, 400 0C, 500 0C, 600 0C, 700 0C) dan waktu proses (30 menit, 45 menit, 60 menit). Produk biochar yang dihasilkan akan di analisa proximate dan uji nilai kalor. Kesimpulan dari penelitian ini adalah zat reaktif dalam biomasa sangat menentukan sifat fungsional dan karakter biochar. Sedang kandungan kimia lainnya seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin berpengaruh pada nilai kalor biochar.
DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i1.84
STUDI PENAMBAHAN MIKROORGANISME PADA SUBSTRAT LIMBAH POME TERHADAP KINERJA MICROBIAL FUEL CELL
Sel bahan bakar (fuel cell) sebagai sumber energi listrik alternatif yang menggunakan prinsip reaksi bioelektrokimia dengan memanfaatkan mikroorganisme disebut Microbial Fuel Cell (MFC). Substrat dan mikroorganisme merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap kinerja MFC dalam memproduksi energi listrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan mikroorganisme ke dalam substrat terhadap kinerja MFC. Substrat yang digunakan adalah limbah cair pengolahan kelapa sawit yang sering disebut POME (palm oil mill effluent). Terdapat dua jenis mikroorganisme yang masing – masing ditambahkan ke dalam substrat POME, yakni Saccharomyces cerevisiae dan bakteri Escherichia coli. Proses bio-listrik ini dilakukan dengan dual-chamber reactor sebagai anoda dan katoda yang dihubungkan dengan jembatan garam dan terdapat elektroda di setiap chamber yang dihubungkan dengan kabel tembaga. Hasil yang didapatkan adalah penambahan S. cerevisiae menurunkan power density yang dihasilkan oleh MFC dibandingkan dengan POME murni. Sebaliknya, penambahan bakteri E. coli ke dalam substrat POME membuat listrik yang diproduksi oleh MFC semakin meningkat. Power density tertinggi yang diperoleh pada penambahan S. cerevisiae sebesar 103,15 mW/m2, sebaliknya pada penambahan E. coli diperoleh power density tertinggi sebesar 103,02 mW/m2.
DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i1.83