Jurnal Teknik Kimia
Not a member yet
233 research outputs found
Sort by
ADSORPSI LOGAM Fe DALAM MINYAK NILAM MENGGUNAKAN KITOSAN SISIK IKAN
Minyak nilam merupakan komoditas ekspor yang besar untuk indonesia. Namun kualitas minyaknilam di indonesia masih sangat rendah. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya logam Fe yangterdapat di dalam minyak nilam. Salah satu cara mengurangi kadar logam Fe tersebut yaitu, menggunakanadsorben kitosan. Kitosan dibuat dari sisik ikan mujair yang telah melewati tiga tahap proses yaknideproteinasi, demineralisasi dan deasetilasi. Kitosan yang terbentuk kemudian ditambahkanke dalam 200 mlminyak nilam dengan variasi 1%,2%,3%,4%, dan 5% ke dari berat minyak nilam. Kemudian dilakukanproses pengadukan dengan suhu pemanasan dijaga pada 400C dengan variasi waktu 30,45,60,75, dan 90menit. Hasil yang diperoleh menunjukkan proses adsorpsi yang paling baik pada penambahan kitosan 5%dengan waktu pengadukan 90 menit yaitu dengan kadar Fe dalam minyak nilam sebesar 5.83 mg / Kg.Kata kunci: , adsorben kitosan; logam Fe; minyak nilam; sisik ikan DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v14i1.165
PEMANFAATAN GEOTHERMAL SLUDGE UNTUK PEMBUATAN BATA RINGAN
Geothermal Sludge yang berasal dari PLTP Dieng mempunyai sifat pozzolan karenamengandung mineral silika, sehingga dapat digunakan sebagai pengganti semen. Selain itu dapatdigunakan sebagai agregat berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran bata karena dengankandungan silika sebesar 97,3% dapat dikategorikan sebagai pasir kuarsa. Ketika bahan tersebutditambahkan dengan kapur akan mempengaruhi berat dari bata ringan karena apabila kapurbereaksi dengan foaming agent maka akan dihasilkan gelembung-gelembung H2 sehingga dapatmengurangi berat bata beton yang dihasilkan. Dalam penelitian ini akan membuat bata ringandengan variasi komposisi bahan semen : geothermal sludge : kapur yaitu 1:1:1 ; 1:2:1 ; 1:1:2 ; 1:3:1dan 1:1:3 kemudian ditambahkan dalam foam yang dilarutkan kedalam air dengan perbandingan1:30 hingga 1:70. Kemudian dilakukan proses pecetakan dengan ukuran 60x20x10 cm dengan prosescuring selama 28hari. Berdasarkan hasil analisa kuat tekan didapatkan bahwa kuat tekan tertingipada 1:1:1 dengan foam agent 1:70 yaitu 50,44 kg.cm2, sesuai dengan standart SNI kelas II.Sedangkan hasil analisa penyerapan air tertinggi pada variabel 1:1:3 dengan foam agent 1:30 yaitu19,76% menunjukkan bahwa terdapat banyak pori-pori pada bata ringan.
DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v13i2.141
PEMURNIAN GLISEROL HASIL PRODUK SAMPING BIODIESEL DENGAN KOMBINASI PROSES ADSORPSI-MIKROFILTRASIEVAPORASI
Penelitian ini, gliserol kasar (crude glycerol) diperoleh dari produk samping produksibiodiesel berupa larutan kental yang berwarna coklat kekuningan dengan pH mendekati netral.Kondisi awal kemurnian crude glycerol termasuk cukup tinggi (~80%), namun untuk mendapatkangliserol dengan standart komersial kemurnian tinggi (>90%), masih diperlukan penghilangansenyawa pengotor seperti garam-garam inorganik, methanol dan air. Untuk tujuan menghasilkanpemurnian gliserol dengan standar komersial, kandungan pengotor dipisahkan dengan kombinasiproses adsorpsi dengan karbon aktif, dilanjutkan penyaringan menggunakan membran danpemisahan methanol dan air dengan menggunakan rotary evaporator. Selain itu dipelajari pengaruhvariabel-variabel proses adsorpsi (jenis adsorben dengan tingkat kemurnian teknis dan p.a ,konsentrasi adsorben dan waktu adsorpsi) terhadap kadar kemurnian gliserol yang dihasilkan.Karakterisasi gliserol meliputi analisa kadar gliserol total, densitas, viskositas, dan gugus fungsimenggunakan FTIR. Gliserol hasil pemurnian tidak berwarna (bening) dengan kadar kemurnianmaksimum 92,81%, viskositas 152,48cp dan densitas 1,254g/cm3 mendekati standart kemurniangliserol komersial.
DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v13i2.140
KAJIAN PENAMBAHAN OKSIDATOR TERHADAP SIFAT PENYALAAN BRIKET ARANG TEMPURUNG KELAPA
Tempurung kelapa merupakan limbah perkebunan yang banyak mengandung karbon, sehingga dapatdimanfaatkan untuk bahan briket yang mempunyai nilai kalor cukup tinggi, namun sulit untuk penyalaan awal.Penelitian ini bertujuan untuk mencari jenis dan konsentrasi oksidator yang ditaambahkan pada brikettempurung kelapa agar memiliki sifat penyalaan yang cepat. Briket dibuat dengan metode pirolisis pada suhu5500C. Jenis oksidator yang digunakan adalah KMnO4, KNO3, KClO3, NaNO2, dan K2Cr2O7. Konsentrasioksidator yang digunakan adalah 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%., kemudian ditambahkan perekat sebesar 5%berat dan dicetak. Selanjutnya briket dikeringkan dan dianalisa nilai kalor, kadar air, kadar abu, waktupenyalaan, lama pembakaran, dan laju pembakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besarkonsetrasi oksidator, sifat penyalaan briket arang tempurung kelapa semakin cepat, tetapi kualitasnya menurun.Penyalaan tercepat diperoleh pada penambahan oksidator KMnO4 konsetrasi 20% dengan waktu penyalaan 10detik, laju pembakaran 0,0016gr/det, nilai kalor 5603,26kal/g, kadar air 7,26%, dan kadar abu 5,24%.Kata kunci : briket, oksidator, tempurung kelapa DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v14i1.164
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR RUMPUT LAUT SECARA BIOLOGI AEROB PROSES BATCH
Pengolahan air limbah secara biologi merupakan pengolahan air limbah denganmemanfaatkan mikroorganisme, dimana mikroorganisme ini dimanfaatkan untuk menguraikan bahanbahanorganik yang terkandung dalam air limbah menjadi bahan yang lebih sederhana dan tidakberbahaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aerasi dan volumelimbah rumput laut terhadap penurunan COD dan BOD. Hasil penelitian menunjukkan bahwapengolahan limbah cair secara biologi aerob sangat efisien dalam menurunkan kadar COD danBOD. Semakin lama waktu aerasi hasil penurunan COD dan BOD yang di dapatkan juga semakinbesar. Rasio dan waktu aerasi terbaik didapatkan terjadi pada rasio 1:2 dengan waktu aerasi 10jam,dengan hasil akhir COD sebesar 245,15mg/l dan BOD sebesar 90,08mg/l dengan efisiensipenurunannya 90,45%, kualitas limbah hasil pengolahan sudah memenuhi baku mutu limbah cairrumput laut yang telah ditetapkan.
DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v13i2.140
METODE MEMPERCEPAT PEMBUATAN GARAM RAKYAT
Pembuatan garam rakyat dilakukan dengan cara pengambilan garam yang ada dalam air laut dengan metode penguapan alami dengan sinar matahari. Proses itu mulai dari penanganan pemasukan air laut hingga pemanenan garam berlangsung kurang lebih selama 1 bulan. Pada saat musim hujan apalagi dengan cuaca yang tidak menentu yang terkadang hujan turun sepanjang tahun menyebabkan produksi garam menurun drastis. Hal itu menjadi penyebab dan penghambat yang signifikan bagi pendapatan petani garam. Untuk mempercepat produksi garam rakyat dilakukan dengan prinsip “kelembaban” yang nilainya tergantung pada suhu. Percobaan dilakukan dengan cara air laut dikabutkan dalam ruang tertutup yang dipanaskan, sehingga perbedaan suhu ini akan sangat berpengaruh terhadap penguapan air dalam air laut. Akhirnya diperoleh air laut dengan kadar garam di dalamnya meningkat. Hasil yang diperoleh pada proses penguapan suhu 40oC dengan kecepatan aliran udara panas 24 m/detik dapat menaikkan 5 oBe menjadi 10oBe dalam waktu 42 jam atau menaikkan sampai 25oBe dalam waktu 6 hari dan 4 hari pada suhu 44OC untuk volume larutan sebanyak 111 liter.DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i2.108
ADSORPSI PALADIUM (II) OLEH PROTEIN BAKTERI TERMOFILIK
Kebutuhan logam mulia seperti paladium (Pd) semakin meningkat, sehingga dibutuhkan metode pertambangan khusus untuk mengambil logam mulia tersebut dari alam, yang dapat menyebabkan meningkatnya biaya produksi. Salah satu cara efektif untuk mengambil logam mulia dengan biaya rendah namun tingkat selektivitas yang tinggi adalah dengan menggunakan mikroorganisme atau turunannya seperti protein yang dapat mengadsorpsi metal secara langsung. Dalam penelitian ini, protein yang berasal dari bakteri termofilik digunakan sebagai biosorbent untuk mengadsorb logam Paladium yang berupa larutan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pH terhadap proses biosorpsi paladium terhadap protein dengan metode pengendapan oleh aseton. Hasil yang diperoleh adalah pengendapan oleh aseton merupakan metode analisa dan pemulihan protein yang cocok dengan rasio protein dan aseton, 1:6. Biosorpsi paladium pada kondisi asam dengan pH 3 memperoleh hasil adsorpsi optimal dengan kapasitas adsorpsi 712.74 mg Pd/g protein, pada kondisi pH tinggi, kelarutan akan menurun karena cenderung membentuk reaksi pengendapan sehingga sukar untuk bereaksi dengan protein sebagai biosorbenDOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v13i1.114
EFEKTIFITAS BIJI KELOR DAN TAWAS SEBAGAI KOAGULAN PADA PENINGKATAN MUTU LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU
Limbah cair industri tahu merupakan salah satu sumber pencemar yang mengandung bahan organik yang tinggi sehingga dibutuhkan pengolahan limbah yang memadai. Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh limbah cair, maka proses pengolahan limbah wajib dilakukan sebelum limbah tersebut dibuang ke badan perairan. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengolahan limbah cair industri tahu dengan proses koagulasi flokulasi. Proses ini disertai dengan penambahan koagulan organik (biji kelor) dan koagulan anorganik (aluminium sulfat). Penelitian ini menggunakan variasi kecepatan pengadukan cepat, yaitu 80 rpm, 90 rpm, 100 rpm, 110 rpm, dan 120 rpm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil terbaik yaitu pada penggunaan koagulan organik biji kelor. Dimana koagulan dapat menurunkan kadar BOD hingga 100 mg/L, kadar COD hingga 96 mg/L, dan juga kadar TSS hingga 98 mg/L DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i2.108
PENURUNAN KADAR KALSIUM OKSALAT PADA UMBI PORANG (AMORPHOPALLUS ONCOPHILLUS) DENGAN PROSES PEMANASAN DI DALAM LARUTAN NaCl
Zat Mannan (glukomanan) yang terkandung dalam Umbi Porang (Amorphopallus Oncophillus) banyak digunakan dalam industri farmasi karena glukomanan baik bagi kesehatan, dalam industri makanan, sebagai perekat, dan lainya. Akan tetapi umbi porang tidak bisa langsung dimanfaatkan karena kandungan Kalsium Oksalatnya masih tinggi yang dapat menimbulkan rasa gatal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi larutan NaCl dan lama proses perebusan yang terbaik sehingga didapatkan reduksi Kalsium Oksalat yang paling tinggi. Penelitian dilakukan dengan cara merebus umbi porang yang sudah dipotong-potong pada suhu 80 oC, selama (5, 10, 15, 20, 25, 30) menit, dalam larutan NaCl (0, 2, 4, 6, 8)%. Hasil dari penelitian ini adalah, prosentase reduksi Kalsium Oksalat terbesar 90,9% diperoleh pada perebusan selama 25 menit dengan konsentrasi larutan NaCl, 8%.DOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v13i1.114
PENURUNAN KADUNGAN BESI (Fe) DALAM AIR TANAH DENGAN METODE ELEKTROKOAGULASI
Keberadaan besi dalam air tanah sebagai salah satu sumber bahan baku air bersih telah menjadi perhatian banyak pihak terutama karena dampaknya terhadap kesehatan. Oleh karena itu, kajian untuk menurunkan kandungan besi dalam air tanah telah dilakukan dengan menggunakan metode elektrokoagulasi. Proses elektrokoagulasi dilakukan secara batch selama 6 jam, jarak antar elektroda diatur 2 cm dengan beda potensial yang divariasikan. Pada dasarnya, penurunan besi dilakukan melalui 2 tahap yaitu proses oksidasi besi dan pembentukan besi oksida yang diikuti oleh presipitasi. Hasil Analisis sampel air yang dilakukan dengan metode AAS menunjukkan bahwa seiring dengan semakin besarnya beda potensial yang digunakan, Fe yang tereduksi semakin besar. Adapun penurunan tertinggi terjadi pada 20 volt sebesar 99,7% Untuk presipitat yang dihasilkan dianalisis dengan metode XRD dimana hasil analisis menunjukkan bahwa presipitat yang dihasilkan merupakan magnetite murni dalam bentuk kristalinDOI : https://doi.org/10.33005/tekkim.v12i2.108