Jurnal Teknik Kimia
Not a member yet
233 research outputs found
Sort by
KAJIAN PENCEMARAN LOGAM BERAT PADA LAHAN SAWAH DI KAWASAN INDUSTRI KABUPATEN SIDOARJO
Keberadaan industri berdampak negatif terhadap kualitas lingkungan seperti perncemaran hasilpertanian yang disebabkan oleh lahan sawah yang tercemar. Penelitian ini bertujuan untukmengevaluasi kontaminan logam berat dari limbah industri di persawahan. Penentuan lokasi penelitianmelalui metode purposive sampling, dengan kriteria dekat dengan industri, rumah penduduk, aksesjalan raya, dan irigasi dari sungai yang telah tercemar limbah industri. Berdasarkan kriteria tersebutdiambil 5 sampel tanah dari masing-masing 6 lokasi, dengan total 30 sampel. Sampel tanah diambilpada kedalaman 0-20 cm, ditempatkan dalam kantong polietilen dan dipindahkan ke laboratorium untukdianalisis kandungan logam berat dengan metode AAS, juga dianalisis sifat fisik dan kimia tanahlainnya. Data diolah dengan uji statistik non parametrik. Hasil penelitian didapat tekstur tanah berupalempung berdebu, pH tanah 6,19, C-organik 1,58% dan KTK 5.96 cmol/kg. Kandungan logam berattanah berkisar: Pb(1,3-1,65 mg/kg), Cd(0,14-0,48 mg/kg), Hg(0,58-1,04 mg/kg), Zn(36,2-125,16 mg/kg),Cu(33,91-69,26 mg/kg), Mn(662,11-942,56 mg/kg), dan Fe(1342,72-1738,71 mg/kg). Berdasarkan hasilanalisis model indeks, penelitian menunjukkan bahwa tanah tercemar oleh Hg dan Pb pada kelassedang hingga tinggi namun tidak menimbulkan potensi risiko ekologis terhadap lingkungan.DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i2.254
KARAKTERISTIK GUGUS FUNGSI PADA POLIMERISASI SILIKA SELULOSA
bangannya. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mencari kondisi terbaik dalam prosesmendapatkannya. Silika selulosa didapatkan dari polimerisasi. Polimerisasi silika selulosa dipengaruhioleh kondisi modulus sodium selulosa (Na2.nSiO2), dimana n adalah rasio molar SiO2 dan Na2O. Padapenggunaan modulus yang rendah tidak dapat terjadi polimerisasi, di sisi lain dengan peningkatankosentrasi NaOH berpengaruh terhadap kemurnian silika sehingga menyebabkan tidak dapat terjadipolimerisasi. Untuk menghindari gagalnya proses polimerisasi maka ditambahkan Carboxy MethylCellulose (CMC) yang berfungsi sebagai zat pengikat. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui karakteristik gugus fungsi pada polimerisasi silika selulosa pada berbagai modulus sodiumselulosa. Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap yaitu ekstraksi silika dari geothermal sludge, prosespolimerisasi silika selulosa, proses gellin, dan uji FTIR untuk mengetahui gugus fungsi penyusun silikaselulosa. Hasil yang didapatkanyaitu terdapat 4 gugus fungsi penyusun silika selulosa, antara lainalkohol (- OH) dengan rentang panjang gelombang 3433,98 – 3362,84(cm-1 ) ,karboksilat (-COOH)1637,20 – 1617,54 (cm-1 ), siloksan (Si-O-Si) 1065,89 -1042,73 (cm-1 ), dan silanol (Si-OH) 796,63 –788,43 (cm-1).DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i2.255
BIOETANOL DARI LIMBAH CAIR TEPUNG TERIGU DENGAN PROSES FERMENTASI MENGGUNAKAN TURBO YEAST
Kebutuhan akan tepung terigu di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya, menyebabkan industri tepung terigu meningkatkan kapasitas produksinya sehingga jumlah limbah yang dihasilkan juga semakin meningkat, solusi adalah dengan mengubah limbah cair tepung terigu menjadi produk bioetanol. Bioetanol adalah etanol yang dibuat dari biomassa yang mengandung komponen pati atau selulosa. Bahan yang digunakan untuk pembuatan bioetanol dalam penelitian ini yaitu limbah cair tepung terigu serta ragi yang digunakan yaitu Alcotec 48 Turbo Yeast. Pada penelitian pembuatan bioetanol dari limbah cair tepung terigu dengan proses fermentasi menggunakan Turbo Yeast akan menghasilkan suatu bioetanol yang akan dianalisis kadar alkoholnya menggunakan refraktometer alkohol. Kandungan glukosa limbah cair tepung terigu setelah proses hidrolisis sebesar 11% (v/v). Hasil terbaik pada proses fermentasi yaitu pada kadar turbo yeast 10% dan berlangsung pada hari ke 5 yang menghasilkan kadar bioetanol sebesar 37% (v/v). Setelah dilakukan proses optimasi hasil dengan metode Response Surface Methodology (RSM) menggunakan aplikasi Minitab 17 didapatkan kadar turbo yeast optimum sebesar 11.6569% dan waktu optimum fermentasi 5 hari dihasilkan kadar alkohol sebesar 37.2073%. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v16i1.284
TEH HIJAU BUBUK DARI DAUN ASHITABA MENGGUNAKAN PROSES SPRAY DRYING
Agar daun Ashitaba dapat disimpan dalam waktu yang lama dan mudah dikonsumsi, maka dibuat dalam bentuk bubuk ekstrak teh hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan massa daun ashitaba dan volume pelarut (air) yang terbaik, mengetahui suhu udara inlet pengeringan yang terbaik, serta mengetahui konsentrasi bahan pengisi maltodekstrin terbaik berdasarkan uji organoleptik, kadar air, viskositas, kadar antioksidan, bulk density, solubility, dan wettability. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu : Penentuan perbandingan massa daun ashitaba dan volume pelarut (air) yang terbaik dalam ekstraksi daun ashitaba. Kedua, penentuan suhu udara inlet pengeringan ekstrak daun ashitaba yang terbaik dengan spray dryer. Sedangkan ketiga adalah penentuan konsentrasi maltodekstrin dalam ekstrak daun ashitaba yang terbaik berdasarkan analisa organoleptik, kadar air, bulk density, wettability, solubility, dan kadar antioksidan. Kesimpulan yang diperoleh adalah perbandingan massa daun ashitaba terhadap pelarut air yang tebaik adalah 1 : 5 dengan kadar air 98,9%. Suhu udara inlet spray dryer adalah 170oC dengan penambahan 1,5% maltodekstrin DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v16i1.284
KARBON AKTIF DARI BATUBARA LIGNITE DENGAN PROSES AKTIVASI MENGGUNAKAN HIDROGEN FLOURIDA
Lignit merupakan jenis batu bara yang mengandung banyak pengotor dan memiliki nilai kalor relatif rendah sehingga tidak banyak dimanfaatkan untuk bahan bakar, tetapi mengandung senyawa karbon yang cukup tinggi sehingga mempunyai peluang untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan karbon aktif. Pada penelitiaan ini dilakukan sintesa lignit menjadi karbon aktif dengan menggunakan aktivator Hidrogen Florida (HF). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi aktivator HF dan suhu aktivasi pada pembuatan karbon aktif dari batubara lignit. Proses sintesa lignit menjadi karbon aktif diawali dengan melakukan preparasi batubara melalui proses karbonasi pada temperatur 500oC selama 2 jam. Selanjutnya serbuk batu bara dihaluskan dan diayak untuk diperoleh ukuran yang seragam 100 mesh. Serbuk batu bara direndam pada larutan HF dengan perbandingan 1:10. Konsentrasi larutan HF bervariasiasi sebesar: 2, 2,5, 3, 3,5, 4 % volume. Perendaman dilakukan selama 5 jam pada temperatur 30oC, kemudian larutan disaring dan residu batu bara diaktivasi menggunakan furnace dengan variabel temperatur 700; 750; 800; 850; 900 oC selama 2 jam. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa karbon aktif terbaik didapatkan pada konsentrasi HF 4% dan suhu aktivasi 900oC dengan daya serap terhadap iodin (I2) sebesar 810,75 mg/g, kadar air 1,9992%, kadar zat terbang 0,192%, kadar abu 5,408% dan fixed carbon mencapai 92,401%. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i1.229
PROPAGASI DAN BIOSINTESIS KANDUNGAN GINGEROL, SHOGAOL DAN ZINGERONE (GINGER OIL ) DARI KALUS JAHE EMPRIT (Zingiber majus R.) DENGAN PERLAKUAN JENIS MEDIA DAN MACAM KARBOHIDRAT
Jahe Emprit (Zingiber majus R.) adalah salah satu diantara tanaman rempah-rempah yang memiliki manfaat ekonomis yang tinggi sebagai rempah, minyak atsiri, pemberi aroma, ataupun sebagai obat . Kandungan komponen kimia jahe adalah Gingerol, Shogaol dan Zingerone (Ginger oil). Kandungan tersebut mempunyai efek farmakologi dan fisiologi seperti antioksidan, anti imflammasi, analgesik, antikarsinogenik non-toksik dan mutagenik Tujuan khusus penelitian ini sebagai berikut (1) Mengetahui kualitas kalus yang dihasilkan (friabel atau kompak ) sesuai untuk mikro propagasi jahe Emprit (2)Mengetahui jenis media dan karbohidrat yang ditambahkan sesuai untuk meningkatkan biosintesis pada kalus jahe Emprit dalam menghasilkan ginger oil . Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berfaktorial dengan dua faktor. Faktor I : Media dasar MS dan VW dan Faktor II: Macam – macam karbohidrat yaitu glukosa fruktosa dan sukrosa. Terdapat enam kombinasi perlakuan diulang 5x dengan 4 sampel; kemudian dicari produksi kalus friabel dan kandungan ginger oil yang terbaik. Hasil Penelitian ini adalah (1) kuantitas kalus terbanyak ada pada kalus jahe Emprit dengan perlakuan media MS dan perlakuan fruktosa (2) kualitas jahe Emprit dengan media MS dan fruktosa adalah friabel, kalus ini dapat digunakan sebagai bahan tanam mikro - propagasi jahe Emprir ;pada perlakuan lainnya cenderung kompak kalus ini lebih sesuai untuk peningkatan ginger oil Kata Kunci : Biosintesis Gingerol, Shogaol dan Zingerone,Eksplan ;Propagasi ;Kalus jahe Emprit. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v14i2.202
PEMANFAATAN LIMBAH BIOSOLID DAN FLY ASH UNTUK PEMBUATAN BATU BATA
Abstrak Proses pengolahan limbah di industri dapat dilakukan dengan beberapa cara, misalnya pengolahan secara fisika, kimia dan biologi. Pada pengolahan limbah secara biologi akan menghasilkan produk samping berupa biosolid. Biosolid ini seperti tanah yang berwarna kuning kecokelatan dengan kandungan senyawa besi oksida (Fe2O3). kalsium oksida (CaO), silika (SiO2), kalium oksida (K2O) dan magnesium oksida (MgO). Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan komposisi batu bata biosolid yang memiliki nilai kuat tekan sesuai dengan SNI. Pada penelitian ini Limbah padat biosolid dibuat sebagai batu bata dengan dicampur abu terbang batu bara dan semen. Komposisi batu bata tersebut meliputi; fly ash dengan kadar 10, 20, 30, 40, dan 50%; semen berkadar 10, 15, 20, 25, dan 30%. Waktu pengeringan yang di terapkan pada penelitian ini adalah 7, 14, 21, dan 28hari. Setelah pengeringan, batu bata diuji kuat tekan-nya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batu bata yang mempunyai nilai kuat tekan terbaik dan sesuai dengan SNI 15-2094-2000 yaitu batu bata biosolid dengan tambahan fly ash 30% dan semen 25% serta waktu pengeringan 28hari, dengan kuat tekan sebesar 64,51kg/cm2. Kata kunci: abu terbang; batu bata; biosolid; kuat tekan; semen. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v14i2.203
BIODIESEL DARI MINYAK JARAK PAGAR DENGAN TRANSESTERIFIKASI METANOL SUBKRITIS
Percobaan bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur, dan waktu reaksi terhadap yield dan kandungan biodiesel yang diproduksi dari tanaman jarak pagar (Jatropha curcas L.). Percobaan dilakukan dalam sebuah reaktor batch dengan kondisi reaksi rasio mol minyak dan metanol adalah 1:30 dengan variabel temperatur reaksi 125oC, 175oC, dan 225oC dengan waktu reaksi 2jam, 4jam, dan 6jam. Kemudian sampel akan dianalisis dengan uji FFA (Free Fatty Acid) dan GC (Gas Chromatography). Hasil analisis dapat digunakan untuk menentukan yield biodiesel. Peningkatan temperatur, menunjukkan bahwa nilai FFA cenderung menurun sedangkan nilai yield meningkat. Semakin lama waktu reaksi maka nilai FFA cenderung menurun sedangkan nilai yield meningkat. Total jumlah % area Methyl ester pada metode metanol subkritis 68,19% degan komponen terbesar adalah methyl oleat sebesar 38,108%. Nilai FFA terbaik pada rasio mol 1:30, temperatur 225 oC sebesar 2,12% sedangkan nilai yield terbaik pada rasio mol 1:30, temperatur 225 oC, waktu 6 jam sebesar 98,9%. Pada percobaan dapat diketahui nilai optimasi yang didapatkan pada variabel 1:30 dengan temperatur 225oC dan waktu 6jam pada pembuatan biodiesel dengan metode transesterifikasi minyak jarak (Jatropha curcas L.) dengan metanol pada kondisi subkritis. Kata kunci: biodiesel; metanol subkritis; minyak jarak (Jatropha curcas L.); transesterifikasi DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v14i2.203
PEMBUATAN GREEN DIESEL DARI MINYAK BIJI KAPUK (Cei-ba pentandra) MENGGUNAKAN KATALIS NiMo/ɣ-Al2O3 DENGAN PROSES HIDROGENASI DAN FRAKSINASI
Potensi minyak biji kapuk untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati sangatlah besar karena minyak biji kapuk tidak dapt dimanfaatkan sebagai bahan pangan sehingga tidak mengganggu ketahanan pangan membuatnya menjadi bahan baku potensial untuk sintesis green diesel. Pre-treatment minyak biji kapuk dilakukan untuk mengurangi kadar FFA (Free Fatty Acid) yang terkandung sebelum di proses menjadi green diesel. Proses hidrogenasi dilakukan dengan bantuan katalis NiMo/ ɣ-Al2O3. Tujuan dari penelitian ini yaitu membuat green diesel dari minyak biji kapuk menggunakan proses hidrogenasi dan fraksinasi dengan katalis NiMo/ ɣ-Al2O3 serta mengetahui karakterisasi green diesel dengan bahan baku minyak biji kapuk. Kondisi yang dijalankan yaitu waktu reaksi ( 2 x 30 menit, 2 x 60 menit, dan 2 x 90 menit) dengan tekanan awal 30 bar, temperatur reaksi 400 ℃ dan dijalankan 2 stage. Dari hasil penelitian didapatkan waktu terbaik pembuatan green diesel yaitu 2 x 60menit. Sedangkan untuk hasil karakterisasi didapat bahwa untuk kandungan sulfur, pour point, cloud point dan cetane number memenuhi standar SNI, namun untuk nilai kinematic viscosity belum memenuhi standar SNI. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i1.229
OPTIMALISASI PEMAKAIAN STARTER EM4 DAN LAMANYA FERMENTASI PADA PEMBUATAN PUPUK ORGANIK BERBAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU
Limbah cair tahu dapat dijadikan salah satu jenis pupuk organik karena mengandung makro hara seperti N, P, K , C-Organik dan dengan memanfaatkan kemampuan mikroorganisme untuk melakukan proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan starter EM4 dan lamanya proses fermentasi agar diperoleh pupuk cair yang memenuhi standar. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yang melibatkan dua faktorial yaitu variasi penambahan starter EM4 yaitu 10 ml; 20 ml; 30 ml; 40 ml; dan 50 ml yang dicampur dengan jus kulit pisang dan tetes dengan lamanya proses fermentasi yaitu 4 jam,5 hari, 10 hari dan 15 hari. Hasil analisa awal limbah cair tahu adalah nitrogen total 0,36%; fosfat sebagai P2O5 0,23% dan kalium sebagai K2O 0,33%. Dari penelitian diperoleh kondisi yang paling optimal adalah dengan pemakaian starter EM4 sebanyak 40ml dan lamanya proses fermentasi 10hari dengan komposisi pupuk yang diperoleh nitrogen N2 1,3%, fosfor sebagai P2O5 1,21% dan kalium sebagai K2O 3,33%. Namun dari hasil yang diperoleh ternyata kadar nitrogen dan fosfat sebagai P2O5 masih belum memenuhi stadart mutu Permentan No.70/Permentan/SR.140/10/2011 tentang pupuk organik cair, sehingga pupuk ini masih belum layak diproduksi secara komersial, namun masih tetap bisa digunakan untuk kalangan sendiri. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i1.230