Jurnal Teknik Kimia
Not a member yet
233 research outputs found
Sort by
PERAN GUGUS FUNGSI PADA ADSORPSI ZAT WARNA MENGGUNAKAN PASIR SUNGAI
Konsumsi zat warna sintetik sangat besar karena biasa digunakan di berbagai jenis industri seperti industri tekstil, kosmetik, makanan, kertas, karpet dan plastik. Keberadaan zat warna tersebut di lingkungan yang berasal dari limbah cair dapat membahayakan kesehatan manusia. Penelitian ini menguji kemampuan pasir sungai dalam mengadsorpsi zat warna. Digunakan pasir sungai dengan pertimbangan ketersediaan yang melimpah dengan harga yang sangat murah. Lima jenis zat warna diuji pada penelitian ini yang terdiri dari 2 macam zat warna cationic yaitu methylene blue dan basic blue, dan 3 macam zat warna anionic yaitu methyl orange, acid blue, acid violet. Adsorpsi dilakukan secara batch pada suhu dan tekanan ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi dan persen removal pada adsorpsi zat warna cationic lebih tinggi disbanding zat warna anionic. Adanya gugus hidroksil, dan alkil pada pasir sungai yang dapat terdisosiasi menjadi bermuatan negatif menimbulkan terbentuknya ikatan etlektrostatik yang kuat antara pasir sungai dan zat warna cationic. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v17i1.348
SINTESIS MEMBRAN KITOSAN UNTUK PEMISAHAN ION PB DALAM LIMBAH CAIR
Limbah cair industri yang mengandung logam berat berbahaya seringkali dibuang ke badan sungai secara langsung, sehingga dapat mencemari air sungai. Upaya pengolahan limbah cair industri perlu dilakukan untuk mengurangi kandungan logam berat di dalamnya. Salah satu cara menurunkan kadar logam Timbal (Pb) dalam limbah cair adalah dengan cara menggunakan membran dengan komposisi kitosan, zeolit dan larutan PVA (Polyvinyl Alcohol). Penelitian ini bertujuan dapat membentuk serta mengetahui kemampuan membran dengan komposisi kitosan, zeolit dan PVA dalam proses filtrasi ion Timbal (Pb) dalam limbah cair. Metode penelitian ini menggunakan proses pembuatan membran kitosan dengan teknik inversi fasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa membran terbaik diperoleh pada variable kitosan: zeolit: PVA 2gr:1,5gr:30ml. Memiliki nilai fluks terbesar yaitu sebesar 323,809 L/m2.jam yang dapat memfiltrasi limbah PbNO3 dari kadar Pb awal sebanyak 12239,7 mg/L hingga menjadi 7520,4 mg/L dan diperoleh nilai rejeksi sebesar 38,5573%. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v16i1.284
PIRING KUE BERBAHAN CMC DENGAN PELAPIS EDIBLE FILM DARI TALAS SATOIMO
Satoimo (Colocasia esculenta (L.) Schott var antiquorum) merupakan salah satu jenis talas yangmemiliki ukuran umbi kecil (small corm taro) disebut juga sebagai talas jepang. CMC (Carboxy MethylCellulose) memiliki rumus molekul C8H16NaO8, bersifat biodegradable, tidak berwarna, tidak berbau,tidak beracun, berbentuk butiran atau bubuk yang larut dalam air namun tidak larut dalam larutanorganik. Penelitian ini memanfaatkan CMC dan pati talas Satoimo dijadikan produk edible film yaituberupa Piring Kue yang dapat dimakan serta untuk upaya mengurangi dampak negatif dari piringkertas yang membutuhkan waktu cukup lama dalam proses penguraiannya di lingkungan. PengolahanEdible film diawali dengan melarutkan 3gr kitosa dengan asam asetat 1%, melarutkan pati satoimo (1;1,5; 2 ; 2,5 ; 3 gr) dengan aquadest. Mencampurkan larutan Pati Satoimo-aquadest kedalam larutankitosan-asam asetat dan 10ml gliserol, dicetak, dioven suhu 70oC. Kemudian melarutkan CMC(0,1;0,2;0,3;0,4;0,5 %w/v) dengan aquadest, didiamkan suhu 4oC, dicetak, dioven suhu 70oC. Kemudianmenggabungkan Edible film dengan CMC dioven suhu 70oC, didiamkan suhu 25oC. Dari hasil penelitiandiperoleh hasil yang optimum, komposisi pati: CMC (3 gram: 0,5%) kuat tarik 0,454 MPa, Kuattekan 0,3572 MPa, Ketebalan 3,92 mm. Serta persentase kelarutan 50 % komposisi pati: CMC (3 gram:0,1%).DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i2.254
SELULOSA ASETAT DARI AMPAS SAGU
Pemanfaatan ampas sagu di Indonesia umumnya masih sangat terbatas. Ampas sagu memilikikandungan selulosa yang cukup tinggi sehingga memungkinkan untuk dibuat menjadi selulosa asetat.Peningkatan selulosa dapat menggunakan proses asetilasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencariwaktu asetilasi dan kecepatan pengadukan terhadap kadar aset yang dihasilkan pada selulosa asetat. Prosedurpembuatan selulosa asetat dari ampas sagu ada beberapa tahap. Tahap pertama adalah isolasi selulosa dariampas sagu. Tahap kedua adalah proses asetilasi dengan menggunakan metode emil heuser yaitu denganmenambahkan asam asetat glacial. Variabel yang dilakukan pada penelitian ini adalah kecepatan pengadukansebesar 150, 250, 350, 450 dan 550 rpm dengan waktu asetilasi 5, 10, 15, 20 dan 25 menit. Pada penelitian inidihasilkan kadar asetil terbesar sesuai SNI sebesar 39,2% yang dilakukan dengan kecepatan pengadukan 350rpm dan waktu asetilasi 15 menitDOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i2.254
PENYERAPAN LOGAM MAGNESIUM DENGAN MENGGUNAKAN BUBUK ALGA MERAH (GRACILARIA SP)
Garam banyak dikonsumsi oleh masyarakat namun ironisnya kualitas garam rakyat belum merata.Magnesium merupakan salah satu unsur yang dapat menurunkan kualitas garam karena dapatmenurunkan kadar NaCl. Upaya peningkatan kualitas garam dapat dilakukan dengan pengendalianbahan baku yaitu air laut melalui metode adsorpsi bahan pengotor berupa magnesium. Alga diketahuimemiliki kemampuan mengadsorpsi logam. Salah satu alga yang berpotensi sebagai adsorben adalahalga merah Gracilaria sp. yang memiliki pori-pori pada permukaannya sehingga memberikan peluanguntuk terjadinya proses adsorpsi. Penelitian ini untuk membuktikan teori bahwa alga yang telah diaktivasidapat digunakan untuk menurunkan logam serta untuk menentukan model persamaan adsorpsi yangsesuai dalam proses adsorpsi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penyerapan terbaikyaitu sebesar 98,236% pada penggunaan 15 gram adsorben Gracilaria teraktivasi dan dengan ukuranpartikel 80 mesh. Proses adsorpsi ini memenuhi persamaan adsorpsi Langmuir. Model persamaanadsorpsi Langmuir yang diperoleh ialah C/Qe = 0,02391K – 0,00685.DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i2.254
PEMBUATAN AIR DEMINERAL MENGGUNAKAN MEMBRAN REVERSE OSMOSIS (RO) DENGAN PENGARUH DEBIT DAN TEKANAN
Air merupakan unsur yang memiliki peran penting dalam kehidupan setiap makhluk. Kebanyakankebutuhan manusia terpenuhi menggunakan air mineral yang masih mengandung beberapa mineralanorganik. Tetapi ada beberapa kebutuhan tidak bisa dipenuhi dengan menggunakan air mineral.Sehingga dibutuhkan air yang tidak memiliki kandungan mineral di dalamnya atau disebut air demineral.Untuk menghilangkan kandungan mineral dalam air dibutuhkan suatu proses penyaringan airmenggunakan membrane yang disebut reverse osmosis. Reverse osmosis dapat menyaring berbagaimolekul besar dan ion-ion dari suatu larutan dengan cara memberi tekanan pada larutan ketika larutanitu berada di salah satu sisi membran seleksi (lapisan penyaring) kemudian zat pelarut murni bisamengalir ke lapisan berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah air mineral menjadi airdemineral dengan metode membrane reverse osmosis serta untuk mengetahui pengaruh debit dantekanan membrane reverse osmosis dalam menurunkan kadar TDS (Total Dissolved Solid). Variabelyang digunakan dalam penelitian ini adalah debit 3-11 liter/menit dan tekanan 1-12 bar. Hasil yangdiperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa membrane RO dapat menghasilkan air demineral dari airbaku pada kondisi operasi yaitu tekanan 12 bar dan debit 9 liter/menit. Kemampuan penyisihan TDSterbesar 98,24% dengan penurunan kadar awal TDS 114 ppm menjadi 2 ppm, sehingga sudah memenuhibaku mutu air demineral.DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i2.254
KARAKTERISASI EDIBLE FILM DARI BERBAGAI MACAM PATI BIJI BERAS DENGAN PENAMBAHAN KITOSAN
Penggunaan plastik untuk pengemas makanan yang tidak sesuai dapat memicu rusaknya jaringan tubuh manusia bahkan memicu kanker. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan plastik berbahan dasar gas alam dan minyak bumi. Hingga saat ini, bahan tersebut masih digunakan namun mulai dikurangi kuantitasnya karena tidak ramah lingkungan serta berpotensi mengganggu kesehatan. Salah satu inovasi plastik yang dapat diterapkan yaitu plastik dari bahan organik yang dapat dimakan (Edible Film). Pengembangan bahan edible film diantaranya adalah senyawa polimer dari tumbuhan seperti pati. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi terbaik dalam pembuatan edible film menggunakan berbagai macam biji beras dengan rasio pemberian kasein dan kitosan cangkang udang. Pati yang digunakan berasal dari biji beras putih, biji beras merah, biji beras hitam, biji beras ketan putih dan biji beras ketan hitam. Biji beras yang telah dihaluskan disaring dengan 100 mesh dan dilakukan pengadukan bersama kasein, kitosan dan gliserol untuk menjadi edible film. Studi pembuatan edible film dilakukan dengan variasi jenis biji beras dan variasi penambahan kitosan : kasein dengan rasio = 20:4, 25:4, 30:4, 35:4, 40:4 dalam gram. Pengujian menunjukkan semakin tinggi kandungan kitosan dan amilosa pada pati, akan meningkatkan nilai Tensile Strength (TS) edible film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa edible film terbaik didapatkan dari pati beras ketan putih dengan variasi kitosan 1,25 gram. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v16i1.284
OPTIMASI KADAR OZON DALAM PROSES DISINFEKSI BAKTERI COLIFORM PADA PENGOLAHAN AIR MINUM
Air minum yang mengandung bakteri coliform menandakan bahwa kondisi air tersebut masih tercemar. Sehingga apabila air tersebut dikonsumsi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan bagi manusia. Oleh karena itu dalam pengolahan air minum dibutuhkan proses disinfeksi yang harus dilakukan secara tepat dan efisien. Terdapat banyak metode untuk melakukan proses disinfeksi salah satunya yaitu dengan memanfaatkan paparan ozon sebagai disinfektan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persen degradasi bakteri coliform setelah dilakukan proses disinfeksi dengan variasi kadar ozon dan laju alir tertentu serta mencari kadar ozon dan laju alir yang optimal dalam proses disinfeksi pada pengolahan air minum. Proses optimasi dilakukan menggunakan Response Surface Methodology serta rancangan percobaan yang digunakan yaitu Central Composite Design dengan memanfaatkan perangkat lunak Minitab 19. Parameter yang akan dioptimasi meliputi kadar ozon sebesar 1,46; 1,75; 2,45; 3,15; dan 3,44 ppm. Sedangkan laju alir yang digunakan sebesar 4,17; 5; 7; 9; dan 9,83 lpm. Berdasarkan proses optimasi yang dilakukan didapatkan kadar ozon optimal sebesar 2,79 ppm dan laju alir optimal sebesar 4,17 lpm. Kondisi optimal yang didapatkan ini dapat mendegradasi bakteri coliform sebesar 100 persen. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v15i2.256
ANALISIS PENENTUAN DESAIN INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA (IPLT) DI KABUPATEN MUSI RAWAS (MURA)
Instalasi Pengolahan lumpur tinja (IPLT) merupakan bangunan pengolahan khusus lumpur tinja sebelum dibuang ke lingkungan atau badan air. Pengolahan lumpur tinja bertujuan untuk mengurangi dampak pencemaran terhadap lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah Tersedianya perencanaan desain sistem IPLT di kabupaten Musi Rawas yang menyeluruh untuk jangka pendek, menengah dan panjang yang ditinjau dari pertumbuhan jumlah masyarakat. Dari data yang didapat Jumlah proyeksi penduduk yang akan dilayani pada tahun 2026 sebanyak 65.623 jiwa maka di pilih Alternatif II yaitu Pengolahan Lumpur Tinja Dengan Jumlah Jiwa < 100.000. Berdirinya IPLT ini direncanakan di Kecamatan Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas. Sistem pengolahan yang akan diterapkan untuk IPLT Kabupaten Musi Rawas direncanakan terdiri dari Tangki Imhoff dengan dimensi panjang 2 m dan lebar 1 m, Kolom Anaerobic panjang 19 m, lebar 9,5 m, Kolam Fakultatif dengan panjang 32 m dan lebar 16 m,, kolam Maturasi panjang 46 m dan lebar 2 3m. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v16i1.284
PRODUKSI GARAM INDUSTRI DARI GARAM RAKYAT
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan panjang pantai 99,093 km, luas laut 3.257.357 km², dimana hasil garam seharusnya cukup melimpah. Kendala yang dihadapi negara Indonesia adalah hanya sebagian laut/pantai yang dapat menghasilkan garam. Hampir 90% garam di Indonesia berasal dari garam rakyat yang kadar garamnya hanya sekitar 84%, dan ini hanya bisa digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga. Untuk dapat memproduksi garam farmasi atau industri, Indonesia membutuhkan garam dengan persentase kandungan garam yang lebih banyak, padahal kebutuhan garam untuk industri dan farmasi cukup menjanjikan. Oleh karena itu perlu dicari inovasi teknologi untuk dapat menjadikan garam rakyat menjadi garam sesuai standar industri yaitu sekitar 99%. Dalam larutan garam yang diambil dari laut kandungan garamnya mengandung NaCl dan senyawa lain antara lain magnesium, kalsium, dan kalium. Proses peningkatan kadar NaCl hingga 99% sesuai standar garam industri dapat dilakukan dengan cara menurunkan kadar air dan garam lain yang terkandung dalam larutan (MgSO4, CaSO4, CaCl2, MgCl2). Tujuan Penelitian tahun adalah melakukan proses JART Test untuk mengetahui penambahan reagen NaOH dan Na2CO3 yang terbaik dalam pengendapan bahan kimia yang ditambahkan pada proses penghilangan garam selain NaCl dari garam rakyat. Variabel penambahan reagen: 5%, 10%, 15%, 20% berlebih kondisi stokiometri. Penambahan reagen Na2CO3 dan NaOH diperoleh hasil terbaik pada penambahan berlebih 20%. DOI : https://doi.org/10.33005/jurnal_tekkim.v16i1.284