Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
DEKOMPOSISI LIMBAH PLASTIK POLYPROPYLENE DENGAN METODE PIROLISIS
DEKOMPOSISI LIMBAH PLASTIK POLYPROPYLENE DENGAN METODE PIROLISIS. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengurangi limbah plastik. Salah satu usaha tersebut adalah mengkonversi limbah plastik menjadi sumber energi. Proses konversi limbah plastik melibatkan beberapa tahapan proses, salah satunya adalah pirolisis (thermal cracking). Pirolisis merupakan proses dekomposisi dengan menggunakan sampah plastik sekaligus penyulingan bahan tanpa O2 dengan suhu tinggi (500 oC hingga 1000 oC). Hasil proses pirolisis berupa padatan dan cairan. Dengan suhu reaktor pada suhu 500 oC, alat pirolisis yang telah dibuat dapat menghasilkan crude oil dengan yield sebesar 40%. Crude oil yang dihasilkan dianalisis menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry dengan kandungan senyawa Benzene, Toluene, octane, Naphthalene, Xylene, Cyclohexane dan Cyclopentane
SINTESIS Gd-DTPA-FOLAT UNTUK MAGNETIC RESONANCE IMAGING CONTRAST AGENT DAN KARAKTERISASINYA MENGGUNAKAN PERUNUT RADIOAKTIF 153Gd-DTPAFOLAT
SINTESIS Gd-DTPA-FOLAT UNTUK MAGNETIC RESONANCE IMAGING CONTRAST AGENT DAN KARAKTERISASINYA MENGGUNAKAN PERUNUT RADIOAKTIF 153Gd-DTPAFOLAT. Senyawa kontras digunakan untuk memperjelas gambaran dari organ yang sukar dibedakan melalui teknik pencitraan Magnetic Resonance Imaging (MRI), khususnya pada jaringan lunak sistemsaraf pusat, hati, pencernaan, lymphatic system, payudara, kardiovaskular dan paru. Senyawa kontras yang digunakan di rumah sakit pada saat ini adalah Gadolinium-DieThylenetriaminePentaacetic Acid (Gd-DTPA). Gd-DTPAmerupakan senyawa kontras yang tidak spesifik, oleh karena itu hal tersebut menimbulkan gagasan untukmengembangkan senyawa kontras yang mampu mencapai target tanpa menyebabkan kerugian pada sel-sel normal disekitarnya. Asamfolat merupakan vitamin yangmurah, aman, spesifik dan dapat digunakan sebagai drug delivery. Dalam penelitian ini telah dilakukan pengembangan targeted contrast agent MRI dengan pembawa asam folat yang diikatkan dengan logam Gd dan ligand DTPA. Karena Gd-DTPA-folat merupakan senyawa non aktif, maka karakterisasi Gd-DTPA-folat dilakukan menggunakan senyawa radioaktif 153Gd-DTPA-folat yang diperoleh dari reaksi DTPA-folat dengan radionuklida 153Gd. Hasil optimasi sintesis 153Gd-DTPA-folat diperoleh pada perbandingan mol DTPA-folat terhadap Gd = 20 : 1 dan memberikan hasil kemurnian radiokimia > 90 %. Identifikasi terhadap produkGd-DTPA-folat dilakukan menggunakan alat Spektrofotometer Fourier Transform- Infra Red (FT-IR) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan cara membandingkan Gd-DTPA-folat hasil sintesis dengan zat asalnya yaitu asam folat dan EDA-folat. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa senyawa yang disintesis adalah Gd-DTPA-folat
X-RAYS DIFFRACTION STUDY ON THE IRON NANO PARTICLES PREPARED BY TWO STEPS MILLING METHOD
X-RAYS DIFFRACTION STUDY ON THE IRON NANO PARTICLES PREPARED BY TWO STEPS MILLING METHOD. X-rays diffraction study on the iron nanoparticles prepared by two-step milling method has been carried out. First, the raw material of micro-sized Fe was crushed by High Energy Milling (HEM) in the presence of isopropyl alcohol, here in after referred to as FI precursor. FI precursor then was crushed again with planetary balls mill in Cetyl-Trimethyl- Ammonium Bromide (CTAB)media, here in after referred to as FC sample. The phases analysis in the two samples were carried out by X-rays diffraction technique using the Rietveld method. Crystallites size were calculated with the Debye-Scherrer formula and the size of particles were measured by means of Particles Size Analyzer (PSA). The magnetic properties of the two samples were characterized with Vibration Sample Magnetometer (VSM). The analysis result showed that each of FI and FC samples consist of Fe, γ-Fe2O3 and Fe3O4 phases in the formof the nano-sized powder ranging fromaround 7 to 10 nm. PSA data indicate that the particle size of FI and FC are the same, i.e., 7.5 nm with narrow size distribution. The VSM data revealed that both FI and FC samples display super paramagnetic behavior at room temperature. The magnetization value in FC sample has been reduced due to more of the mass fraction of Fe transforms into iron oxide phases. The particle size is generally not the same as the size of the crystallites and in particular for the nano-sized particles, the size of crystallites could be equal to or greater than the particle size due to the presence of polycrystalline aggregates
KARAKTERISTIK FILM POLISULFON SEBAGAI BAHAN DIELEKTRIK SENSOR KELEMBABAN JENIS KAPASITIF
KARAKTERISTIK FILM POLISULFON SEBAGAI BAHAN DIELEKTRIK SENSOR KELEMBABAN JENIS KAPASITIF. Bahan pengindera kelembaban menggunakan film tipis polimer dapat dikarakterisasi berdasarkan parameter perubahan sifat kelistrikan bahan polimer akibat molekul air yang teradsorpsi pada permukaan film polimer tersebut. Pada penelitian ini dikaji kinerja film polisulfon sebagai bahan dielektrik sensor kelembaban jenis kapasitif melalui karakteristik sensor yang dihasilkan yakni : kelinieran, waktu respon, sensitivitas dan histeresis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film polisulfon sebagai bahan dielektrik sensor kelembaban jenis kapasitif memiliki peluang untuk dimanfaatkan sebagai bahan pengindera kelembaban relatif ruangan. Karakteristik film polisulfon sebagai bahan dielektrik sensor kelembaban jenis kapasitif ukuran kecil (A = 9,68 mm2) lebih baik dibandingkan ukuran sedang (A = 19,51 mm2) karena menghasilkan kelinieran yang lebih baik serta histeresis lebih rendah
MODIFIKASI KARET ALAM VULKANISASI RADIASI MENJADI POLIMER HIDROGEL DENGAN TEKNIK RADIASI
MODIFIKASI KARET ALAM VULKANISASI RADIASI MENJADI POLIMER HIDROGEL DENGAN TEKNIK RADIASI. Untuk meningkatkan sifat hidrofilik karet alam sehingga dapat dikategorikan sebagai polimer hidrogel, telah dilakukan percobaan grafting monomer hidrofilik, yaitu dimetilaminopropilakrilamida, N-vinilpirolidon, dimetilakrilamida dan hidroksietilmetakrilat dengan komonomer metilmetakrilat dan stirena pada film karet alam vulkanisasi radiasi dengan teknik radiasi simultan. Film karet dimasukkan ke dalam ampul gelas khusus yang berisi campuran monomer dan komonomer. Udara dalam ampul dikeluarkan dengan teknik vakum beku-leleh hingga tekanan berkisar 10-4 torr. Selanjutnya sampel diiradiasi dengan sinar gamma dari sumber Co-60 dan persentase grafting ditentukan secara gravimetri. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa persentase grafting meningkat dengan bertambahnya konsentrasi monomer dan dosis iradiasi, tetapi menurun dengan bertambahnya laju dosis. Kenaikan persentase grafting secara tajam pada tahap awal proses yang kemudian diikuti kenaikan secara perlahan dan akhirnya mendatar menunjukkan bahwa kinetika radiasi grafting dikontrol oleh difusi monomer ke dalam polimer karet, disamping kompetisi antara reaksi grafting, rekombinasi dan disproporsionasi. Berdasarkan sifat hidrofiliknya, ada dua film karet yang telah digrafting dapat dianggap sebagai polimer hidrogel, yaitu film karet yang telah digrafting dengan N-vinilpirolidon dan dimetilakrilamida dengan komonomer metilmctakrilat
KETAHANANIMPAK,KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA BAJA TAHAN KARAT MARTENSITIK13 Cr3MO3Ni DENGAN VARIASI SUHU PERLAKUAN PANAS
Sudu turbinmerupakan salah satu bagian penting pada turbin yang bertujuan untukmemutar poros turbin sehingga menghasilkan energi listrik. Pada umumnya material yang digunakan pada sudu turbin adalah baja tahan karat martensitik, akan tetapimaterial tersebut mudah terjadi kegagalan.Mekanisme kegagalannya dipicu oleh adanya retakmikro dan unsur klorida didalam retakan tersebut sehingga akhirnya sudut tersebut mengalami patah. Adanya perbedaan perlakuan panas juga mempengaruhi nilai kekerasan yang berdampak pada jenis patahan yang dihasilkan pada baja tersebut. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketahanan impak, kekerasan dan strukturmikro pada baja tahan karatmartensitik 13 Cr3Mo3Ni dengan variasi suhu perlakuan panas serta mengevaluasi bentuk patahan pada baja tahan karat martensitik 13 Cr3Mo3Ni. Proses austenisasi dilakukan pada suhu 1000 oC, 1050 oC, dan 1100 oC dengan proses tempering pada suhu 500 oC, 550 oC, 600 oC, 650 oC, dan 700 oC dengan waktu penahanan 60 menit. Sedangkan uji mekanik yang dilakukan adalah uji kekerasan rockwell C dan uji impak charpy. Dan untukmengetahui strukturmikro yang terbentuk,maka dilakukan uji metalografi dan untuk mengetahui hasil patahan setelah dilakukannya uji impak,maka dilakukan uji SEM.Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu nilai kekerasan terendah ditunjukkan pada suhu austenisasi 1000 oC dan suhu tempering 700 oC, yaitu 38,13 HRC. Sedangkan nilai impak tertinggi ditunjukkan pada suhu austenisasi 1100 oC dan suhu tempering 650 oC, yaitu 114,00 J. Adapun strukturmikro yang terbentuk adalah martensit, austenit sisa, ferit, dan karbida logam
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF SUPERIONIC CONDUCTING GLASSES (AgI)x(Ag2S)x(AgPO3)1-2x
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF SUPERIONIC CONDUCTING GLASSES (AgI)x(Ag2S)x(AgPO3)1-2x. Samples of Superionic Conducting Glasses (AgI)x(Ag2S)x(AgPO3)1-2x with x = 0, 0.09, 0.17, 0.23, 0.33, 0.37, 0.41 and 0.44 have been synthesized by rapid quenching method. Some physical properties including crystal structure, thermal behavior, ionic conductivity and transference number have been characterized and measured by using respectively, an X-Ray Diffractometer (XRD), a Differential Scanning Calorimetric (DSC), and an Impedance Spectroscopy (LCR-meter). The diffraction patterns of (AgI)x(Ag2S)x(AgPO3)1-2x for all compositions of x show only one broad peak indicating that all the samples are good glasses and have an amorphous structure. In general the glass transition temperature Tg, decreases from 398oC to 275 oC as x increases. The results of ionic conductivity (s) measured at various frequencies and voltages show a significant increase as x increases.The maximum ionic conductivities are obtained for x=0.44 at different voltages s(0.5 volt)=1.66x10-2 S/cm, s(1 volt)=1.91x10-2S/cm, s(2 volt)=2.34x10-2 S/cm, while the ionic conductivities for un-doped glass AgPO3 are s(0.5 volt)=9.33x10-8S/cm, s(1 volt)=1.17x10-7S/cm, s(2 volt)=1.55x10-7 S/cm. The transference number, tion is approximate to 1 indicating that the conduction is essentially ionic in nature
PENYERAPAN Pb OLEH NANO KOMPOSIT OKSIDA BESI BENTONIT
PENYERAPAN Pb OLEH NANO KOMPOSIT OKSIDA BESI BENTONIT. Telah dilakukan penelitian penyerapan Pb oleh nano komposit oksida besi bentonit. Bahan penyerap seperti resin penukar ion atau zeolit telah lazim digunakan untuk pemurnian air, demikian pula bentonit. Namun bentonit ini mempunyai ukuran yang sangat kecil dan bersifat suspensi stabil di dalam air sehingga sulit dikumpulkan kembali setelah proses penyerapan. Berdasarkan alasan tersebut bentonit dikompositkan dengan nano partikel oksida besi, untuk mempermudah proses pemisahan kembali bahan penyerap tersebut dari filtratnya menggunakan teknik pemisahan magnetik sederhana. Nano komposit oksida besi bentonit pada percobaan ini diaplikasikan untuk penyerapan Pb dalam media air. Penelitian dilakukan untuk mendapatkan komposisi komposit yang optimal untuk penyerapan Pb. Penentuan konsentrasi Pb2+ dalam filtrat dianalisis dengan alat polarografi. Dari analisis data menggunakan pendekatan Persamaan Langmuir diperoleh daya serap maksimum yang dapat dicapai adalah sebesar 176,34 mg Pb2+/gram oleh nano komposit yang dibuat dengan perbandingan Na-bentonit : oksida besi = 3 : 2
DIFUSI KARBON AKIBAT PELAPISAN GRAFIT PADA KELONGSONG ZIRCALOY-2
DIFUSI KARBON AKIBAT PELAPISAN GRAFIT PADA KELONGSONG ZIRCALOY-2. Telah dilakukan penelitian difusi karbon ke dalam zircaloy-2 akibat pelapisan grafit. Sebagai variabel ialah waktu dan suhu pemanasan. Bahan yang digunakan ialah kelongsong zircaloy-2 sebagai kelongsong elemen bakar reaktor Cirene. Variasi suhu pemanggangan 450 oC, 500 oC dan 550 oC. Variasi waktu pemanggangan 2 jam, 4 jam, 6 jam dan 8 jam. Identifikasi kadar karbon dengan Leco IR-212. Kesimpulan hasil penelitian adalah kadar karbon, pada interval suhu antara 450 oC sampai dengan 550 oC dengan waktu pemanasan 2 jam sampai dengan 8 jam kadar karbon meningkat dari 0,03526 wt% menjadi 0,3055 wt%. Entalpi, Pada interval suhu dan waktu tersebut adalah antara 6,1722E+03 cal mol-1 dan 2,1127E+04 cal mol-1. Entropi antara 3,9881E+03 cal mol-1K-1 dan 2,3280E+08 cal mol-1K-1. Rasio ekspansi volume pelelehan antara 35,64% dan 10,41%. Difusivitas antara (1,6683E-12 ± 7,2712E-13) cm2s-1 dan (1,1565E-11 ± 4,2483) cm2s-1. Energi aktivasi antara 5,21085E-08 cal mol-1 dan 1,40353E-07 cal mol-1