Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
FLUCTUATION-INDUCED KERR EFFECT IN CHIRAL SMECTIC-A LIQUID CRYSTAL PHASE
FLUCTUATION-INDUCED KERR EFFECT IN CHIRAL SMECTIC-A LIQUID CRYSTAL PHASE. The second-order electrooptic responses under large orientational fluctuations in a chiral smectic-A liquid crystal phase has been studied theoretically. The formula for analyzing the frequency dispersion of Kerr effect considering the fluctuations has been derived. The possibility of the nonlinear electrooptic response observing the soft mode condensation inducing the smectic-Cα* phase in the smectic-A phase by using the fluctuation-induced Kerr effect has been explored
MEKANISME PELINDIAN Pt, Pd DAN Rh DARI LIMBAH KATALIS OTOMOTIF DALAM SISTEM LARUTAN NaClO-HCl-H
MEKANISME PELINDIAN Pt, Pd DAN Rh DARI LIMBAH KATALIS OTOMOTIF DALAM SISTEM LARUTAN NaClO-HCl-H2O2. Kelompok Logam Platinum, KLP (Platinum Group Metals, PGM) merupakan logam mulia penting dalam aplikasi berbagai industri. Oleh karena itu proses daur ulang (recycling) dan perolehan kembali (recovery) logam ini dari sumber sekunder menjadi penting akibat keterbatasan cadangan logam mulia dari cadangan primer (bijih). Untuk memperoleh kembali KLP ini, proses hidrometalurgi berupa pelindian (leaching) dipandang sangat handal. Kajian ini dilakukan untuk mendaur ulang dan memperoleh kembali KLP, seperti platinum (Pt) paladium (Pd) dan rhodium (Rh) dari limbah produksi konverter katalis dengan proses pelindian menggunakan campuran larutan NaClO-HCl-H2O2. Cuplikan limbah konverter katalis, yang sebelumnya telah di giling dan direduksi dengan gas hidrogen, dilindi dengan campuran larutan NaClO-HCl- H2O2 pada 338 K selama 3 jam. Pengaruh beberapa parameter pelindian diamati pula selama proses. Dari pengujian dihasilkan kondisi optimum pelindian Pt, Pd dan Rh pada konsentrasi 3 %(vol) NaClO, 5 M HCl dan penambahan 1 %( vol) H2O2. Perolehan kembali Pt, Pd dan Rh setelah 3 jam pelindian secara berurutan adalah 88%, 99% dan 77%. Mekanisme reaksi pelindian akan dibahas dalam publikasi ini dengan mengamati kinetika reaksinya. Diamati dari hasil pengujian dan perhitungan bahwa mekanisme reaksi pelindian KPL dalam campuran larutan NaClO-HCl-H2O2 adalah mekanisme yang dikontrol oleh difusi (diffusion controlled mechanism)
APLIKASI METODE MOLTEN SALT UNTUK SINTESIS BAHAN PIEZOELEKTRIK Bi0,5(Na0,5K0,5)0,5TiO33
APLIKASI METODE MOLTEN SALT UNTUK SINTESIS BAHAN PIEZOELEKTRIK Bi0,5(Na0,5K0,5)0,5TiO3. Telah dikembangkan sintesis bahan piezo elektrik ramah lingkungan (bebas Pb) dengan menggunakan metode molten salt untuk bahan piezoelektrik Bi0,5(Na0,5K0,5)0,5TiO3 (BNKT). Sintesis BNKT dilakukan dalam lingkungan lelehan garam NaCl dan KCl pada suhu sintering 950 oC. Bahan-bahan dasar Bi2O3, Na2CO3, K2CO3 memiliki suhu leleh dibawah suhu lelehan garam, sedangkan TiO32 berada diatas suhu sintering. BNKT diperoleh dalam dua tahap yakni terlebih dahulu mensintesis Bi2Ti4O12 (BIT) kemudian dilanjutkan dengan sintesis BNKT. Pada proses sintesis dengan metode molten salt ini terjadi reaksi difusi bahan-bahan dasar (lelehan) ke partikel bahan dasar TiO32 membentuk produk baru BIT maupun BNKT. Pada penelitian ini juga dilakukan sintesis BNKT dari BIT menggunakan metode solid state reacTiO3n sebagai pembanding. Dari hasil karakterisasi fasa dan strukturmikro bahan BNKT masing-masing dengan metode difraksi sinar-X dan Scanning Electron Microscope (SEM), diperoleh bahwa dengan metode molten salt transformasi bahan dasar menjadi produk baru BNKT lebih baik dibandingkan dengan metode solid state reaction
ACRYLIC SEBAGAI COMPATIBILIZER AGENT PADA PLASTIK PATI TAPIOKA/LATEKS KARET ALAM
ACRYLIC SEBAGAI COMPATIBILIZER AGENT PADA PLASTIK PATI TAPIOKA/LATEKS KARET ALAM. Pati tapioka dan lateks Karet Alam(KA) merupakan dua polimer hayati yang banyak dihasilkan oleh alam Indonesia. Pati tapioka merupakan polimer hayati yang banyak dikembangkan sebagai bioplastik karenamemiliki kekuatan tarik yang tinggi namun memiliki kelemahan dalam ketahanan air. Sementara, lateks KAmerupakan polimer alam yangmemiliki elongasi dan ketahanan air yang tinggi. Dengan mencampurkan pati tapioka dengan lateks KA, diharapkan diperoleh sifat unggul dari kedua polimer tersebut. Namun, pencampuran pati dan lateks KA menghasilkan tingkat homogenitas yang rendah. Oleh karena itu, dalam penelitian ini acrylic ditambahkan ke dalam campuran pati dan lateks KA untuk meningkatkan homogenitasnya. Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan plastik campuran pati tapioka/lateks KA dengan menggunakan metode solution casting. Campuran pati tapioka/lateks KA ditambahkan acrylic sebagai compatibilizer agent dengan berbagai komposisi, sebesar 10%berat, 15%berat, 20%berat dan 25%berat. Untuk mengetahui kehomogenan campuran dilakukan karakterisasi dengan mengunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC). Kekuatan mekanik plastik diuji dengan pengujian tarik.Ketahanan air plastik diuji dengan pengujian celup. Semakin banyak jumlah acrylic yang ditambahkan kedalam campuran pati tapioka/lateks KA, maka kekuatan tarik,modulus elastisitas, elongasi serta ketahanan air plastik semakin meningkat. Hal ini dipengaruhi oleh homogenitas yang baik dari campuran yang ditunjukkan oleh hasil kareakterisasi dengan menggunakan DSC
PENGARUH LARUTAN PENGENDAP TERHADAP PEMBENTUKAN HEKSAFERIT BaO.6 Fe2O3
PENGARUH LARUTAN PENGENDAP TERHADAP PEMBENTUKAN HEKSAFERIT BaO.6 Fe2O3. Nano-partikel BaO.6 Fe2O3 heksaferit telah berhasil disinteis dengan metoda kimia basah menggunakan larutan pengendap natrium hidroksida (NaOH) dan tetramethyl ammonium hidroxida (TMOH). Metoda kimia basah yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda ko-presipitasi. Identifikasi fasa sampel dilakukan menggunakan teknik difraksi sinar-X dan mikrostruktur sampel diamati dengan Transmission Electron Microscope (TEM) sedangkan perubahan sifat kemagnetan bahan diukur menggunakan Vibrating Sample Magnetometer (VSM). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa koersivitas intrinsik (Hci) dan remanensi magnet (σr) BaO.6 Fe2O3 hasil sintesis menggunaka larutan TMOH diperoleh sekitar 5,1 kOe dan 31,3 emu/gr, lebih tinggi bila dibandingkan dengan koersivitas dan magnet permanen BaO.6 Fe2O3 hasil sintesis dengan larutan NaOH dengan Hci = 4,56 kOe dan σr = 27,2 emu/gr. Nilai koersivitas yang tinggi disebabkan oleh karena ukuran partikel BaO.6 Fe2O3 hasil sintesis menggunakan larutan TMOH sangat halus. Semakin tinggi suhu sintering, koersivitas magnet cenderung turun yang disebabkan oleh pertumbuhan partikel
SIFAT KOMPOSIT EPOKSI BERPENGUAT SERAT BAMBU PADA AKIBAT PENYERAPAN AIR
Serat bambu memiliki potensi sebagai serat penguat pengganti serat gelas dalam pembuatan komposit polimer, karena sifatnya yang terbaharui dan ramah lingkungan. Namun, karena serat bambu memiliki sifat higroskopis, maka sifat tarik komposit yang dihasilkan dapat menurun akibat dari memburuknya ikatan antarmuka serat dan matriks. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji degradasi sifat tarik biokomposit epoksi berpenguat serat bambu petung akibat penyerapan air. Biokomposit epoksi berpenguat serat bambu petung dibuat dengan metode tekan panas dengan variasi serat tanpa alkalisasi (0% NaOH) dan dengan alkalisasi (5% NaOH). Pengujian biokomposit, dilakukan dengan cara uji air mendidih, uji tarik dan SEM. Kadar penyerapan air biokomposit tanpa alkalisasi lebih tinggi dibandingkan dengan biokomposit yang telah mengalami alkalisasi (5% NaOH). Penyerapan air mengakibatkan degradasi pada biokomposit dan menurunkan kekuatan tarik biokomposit hingga 23%. Perlakuan alkali 5% NaOH, dapat meminimalisir persentase penurunan kekuatan biokomposit, dengan persentase penurunan kekuatan tarik sebesar 17%. Hasil pemeriksaan pada permukaan patahan menunjang hasil pengujian tarik. Penurunan kekuatan tarik disebabkan oleh sifat dan penurunan kekuatan antar serat dan matrik
PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA BAHAN KOMPOSIT AgI0,5 (β-Al2O3)0,5
PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA BAHAN KOMPOSIT AgI0,5 (β-Al2O3)0,5. Bahan komposit (AgI)0,5 (β-Al2O3)0,5 telah dibuat dengan reaksi padatan yaitu pencampuran antara AgI dengan Al2O3. Bahan elektrolit padat di pelet dengan ukuran diameter 1,5 cm dan tekanan 5 ton. Kemudian bahan komposit (AgI)0,5 (β-Al2O3)0,5 tersebut dilakukan iradiasi sinar-γ dengan dosis 10 kGy dan 50 kGy. Setelah iradiasi, dilakukan pengukuran struktur kristal dengan teknik difraksi sinar-X, konduktivitas ionik dengan alat LCR-meter pada kisaran frekuensi 0,1 Hz hingga 100 kHz, dan diukur kekerasannya dengan alat Vickers. Pola difraksi sinar-X pada bahan komposit AgI0,5 (β-Al2O3)0,5 menunjukkan bahwa struktur campuran yang terbentuk memiliki struktur FCC dan sama dengan fasa γ-AgI, dengan parameter kisi sekitar 6,52 Å. Nilai konduktivitas bahan campuran (AgI)0,5 (β-Al2O3)0,5 sebelum iradiasi berkisar antara 0,11 x 10-5 S/cm hingga 0,13 x 10-5 S/cm, sedangkan sesudah iradiasi adalah sekitar 0,31 x 10-6S/cmhingga 0,61 x 10-6S/cm
POLARISASI POTENSIODINAMIK BAJA BETON DI DALAM LARUTAN SIMULASI YANG TERKONTAMINASIAIR LAUT DAN KARBONAT
POLARISASI POTENSIODINAMIK BAJA BETON DI DALAM LARUTAN SIMULASI YANG TERKONTAMINASIAIR LAUT DAN KARBONAT. Korosi merupakan masalah utama pada beton bertulang di wilayah pesisir. Tujuan dari penelitian ini ada dua, pertama untuk mengetahui perilaku korosi baja beton di lingkungan yang terkontaminasi air laut dan karbonat, kedua membandingkannya dengan baja beton dalam larutan yang terkontaminasi klorida. Terdapat berbagai variasi larutan simulasi beton dalam penelitian ini yaitu Larutan Simulasi Beton (LSB), LSB yang dicampur air laut, LSB yang dicampur air laut dan ion karbonat, LSB yang dicampur dengan sodium klorida. Dua jenis air laut yang digunakan dalam penelitian yaitu air laut yang diambil di pantai Ancol dan air laut yang diambil di pelabuhan Muara Baru. Polarisasi potensio dinamik semua sampel dilakukan menggunakan alat Corrosion Monitoring System (CMS) Gamry Instruments. Hasil polarisasi potensiodinamik menunjukkan bahwa bahwa kontaminasi air laut atau klorida di dalam larutan simulasi beton meningkatkan secara signifikan laju korosi baja beton. Laju korosi meningkat meningkat tajam dengan meningkatnya konsentrasi klorida di dalam larutan. Laju korosi di dalam larutan yang mengandung air laut meningkat dengan penambahan karbonat dan terus meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi karbonat. Korosifitas larutan yang mengandung air laut Muara Baru lebih tinggi dari pada korosifitas larutan yang mengandung air laut Ancol. Korosifitas air laut Ancol sedikit lebih rendah dari korosifitas larutan dengan kandungan NaCl 1,5%, sedangkan korosifitas air laut Muara Baru berada diantara korosifitas larutan yang mengandung NaCl 1,5% dan 3,5%
KOMPATIBILITAS PADUAN ZIRKONIUM PAD ACAIRAN LOGAM BERAT LEAD-BISMUTH EUTECTIC
KOMPATIBILITAS PADUAN ZIRKONIUM PAD ACAIRAN LOGAM BERAT LEAD-BISMUTH EUTECTIC. Cairan Lead Bismuth Eutectic (LBE) merupakan pendingin salah satu kandidat utama reaktor masa depan di dunia (Generation IV reactors) yaitu Lead alloy-cooled Fast Reactor (LFR) sekaligusmerupakan material target spalasi untuk Accelerator Driven Transmutation System (ADS). Cairan ini memiliki berbagai keunggulan dari segi netronik, termalhidrolik maupun sifat yang inert terhadap air dan udara. Namun cairan LBE ini bersifat korosif pada logam-logam yang menjadi penyusun material kelongsong bahan bakar dan struktur reaktor. Oleh karena itu pengembangan material kelongsong bahan bakar dan struktur reaktor dalamlingkungan LBE merupakan salah satu kunci utama dalam pengembangan LFR dan ADS. Telah dikembangkan paduan zirkonium yaitu ZrNbMoGe di Pusat Teknologi Bahan Industri Nuklir (PTBIN)-BATAN. Dalam rangka untuk mengeksplorasi karakteristik paduan zirkonium ini dilakukan investigasi kompatibilitas bahan paduan zirkonium ZrNbMoGe di dalam lingkungan cairan LBE dengan menggunakan fasilitas aparatus COSTA di Pulsed Power and Microwave Technology-Karlsruhe Institute of Technology Germany. Pengujian dilakukan pada suhu 550 °C dengan konsentrasi oksigen 1 x 10-6 %berat selama 312 jam. Hasil pengujian memperlihatkan jejak pembentukan lapisan oksida zirkonium di atas permukaan sampel yang kemudian terlepas. Hal ini menunjukkan bahwa dalam waktu yang relatif singkat paduan zirkonium telah mengkonsumsi cukup banyak oksigen di dalam cairan LBE dengan membentuk lapisan oksida zirkonium di atas permukaan sampel. Namun pembentukan lapisan oksida zirkoniumyang cepat dan relatif tebal di atas permukaan sampel ini menyebabkan dalamwaktu relatif singkat lapisan oksida ini terlepas dari permukaan bahan. Oleh sebab itu paduan zirkonium ini tidak kompatibel dengan cairan logam berat LBE yang digunakan dalam sistem reaktor nuklir
PENGARUH DEFORMASI TERHADAP SUHU REKRISTALISASI PADA PADUAN Cu-Mn-Ni
PENGARUH DEFORMASI TERHADAP SUHU REKRISTALISASI PADA PADUAN Cu-Mn-Ni. Paduan Cu-Mn-Ni atau paduan manganin adalah pemaduan dari 4% Ni, 12% Mn dalam tembaga. Pada penelitian ini akan dilihat pengaruh besarnya deformasi dipadukan dengan suhu aniling yang bervariasi terhadap suhu rekristalisasi dari paduan manganin. Paduan manganin dianiling pada suhu kamar (30oC), 250oC, 300oC, 350oC, 400oC, 450oC, 500oC dan 550oC selama 50 menit, dimana as cast paduan sebelum dipanaskan, dirol dingin dengan variasi reduksi sebesar 27,79%, 52,44% dan 66,31%. Pengujian lain yang mendukung untuk melihat pengaruh besarnya deformasi, terhadap suhu rekristalisasi dari paduan tersebut, adalah metalografi dan uji keras (HB-10). Dari hasil metalografi terlihat bahwa rekristalisasi mulai terjadi berkisar antara suhu 400oC-450oC. Dari grafik hasil uji keras paduan manganin pada variasi reduksi dan suhu anil yang berbeda, diperoleh suhu rekristalisasi pada reduksi 27,79% = 416oC, reduksi 52,44% = 410oC dan reduksi 66,31% = 379oC