Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
    859 research outputs found

    INVESTIGATION CHARACTERISTICS OF PULP FIBERS AS GREEN POTENTIAL POLYMER REINFORCING AGENTS

    Get PDF
    INVESTIGATION CHARACTERISTICS OF PULP FIBERS AS GREEN POTENTIAL POLYMER REINFORCING AGENTS. Three kinds of pulp fiber (i.e. kenaf, pineapple and coconut fiber)were characterized as reinforcing agents in compositematerials to be applied at automotive interior industry.Abetter understanding on characteristics of fiber will lead to enhance interface adhesion between fiber and matrices. Furthermore, it will improve the properties of polymer significantly. Chemical, surface compositions as well as morphology of pulp fiber were investigated using TAPPI standard test method, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FT-IR) and optical microscopy, respectively. Further observation on morphology of the fiber was conducted by Scanning Electron Microscope (SEM). From this study, pineapple pulps showed the highest α-cellulose content than that of kenaf or coconut pulps. However, it has the lowest hemicellulose content among them. This condition takes responsibility for the difficulties of pineapple pulps defibrillation process.Much fines or external fibrillations are presence on both kenaf and pineapple pulp’s morphology, but it is not presence in the coconut pulps.Moreover, coconut fiber is shorter than the other two fibers with diameter size estimated in the order pineapple < kenaf < coconut pulps. FT-IR analysis shown quite similar absorption fromall pulps, except for coconut pulps due to the remaining lignin on the surface of fiber that showed by the presence of C-O phenol stretching at 1280 cm-1. Finally, it is reported that kenaf pulps fiber is suitable candidate for polymer reinforcing agents compared to pineapple and coconut pulps fiber

    PENGARUH GRAIN ALIGNMENT TERHADAP RAPAT ARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x

    Get PDF
    PENGARUH GRAIN ALIGNMENT TERHADAP RAPAT ARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x. Superkonduktor YBa2Cu3O7-x telah disintesis dengan metoda melt texture growth. Strukturmikro dan struktur kristal sampel berturut-turut dikarakterisasi dengan SEM dan difraktometer neutron. Sedangkan rapat arus kritis sampel diukur dengan magnetometer SQUIDs. Data SEM menunjukkan adanya keteraturan sebagian butir-butir kristal pada arah tertentu. Analisis data difraksi neutron pada bidang [00l] terjadi peningkatan integrated intensity dan pada bidang [h00] dan [0k0] terjadi penurunan integrated intensity.Hal ini menunjukkan bahwa keteraturan butir-butir kristal tersebut sejajar bidang a-b. Disimpulkan bahwa salah satu pendukung terjadinya peningkatan rapat arus kritis superkonduktor YBa2Cu3O7-x adalah adanya keteraturan sebagian butir-butir kristal yang sejajar bidang a-b

    PENGARUH COUPLING AGENT PADA KARAKTERISTIK MAGNET KOMPOSIT BERBASIS HEKSAFERIT (SrM/BaM) DENGAN PEREKAT POLIESTER DAN EPOKSI

    No full text
    PENGARUH COUPLING AGENT PADA KARAKTERISTIK MAGNET KOMPOSIT BERBASIS HEKSAFERIT (SrM/BaM) DENGAN PEREKAT POLIESTER DAN EPOKSI. Magnet komposit merupakan gabungan antara serbuk magnet heksaferit dan bahan pengikat bukan magnetik seperti polimer. Magnet komposit dikembangkan untuk memperoleh bahan magnet yang ringan, elastis dan murah. Pada penelitian ini, digunakan perekat berupa polimer termoset yaitu epoksi dan poliester dengan serbuk magnet heksaferit SrM dan BaM. Disamping itu juga dipelajari pengaruh penambahan coupling agent terhadap sifat mekanik, kekerasan dan strukturmikro magnet kompositnya. Pembuatan magnet komposit dilakukan dengan mencampurkan polimer epoksi atau poliester dengan variasi fraksi volume serbuk heksaferit SrM (SrF12O19) atau BaM (BaFe12O19) sebesar 40, 50 dan 60% v/v yang sebelumnya ditambahkan coupling agent Tetra Isopropil Titanate sebanyak mL atau 10 mL. Selanjutnya dilakukan karakterisasi sifat mekanik (kekuatan tarik), kekerasan dan strukturmikronya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sifat mekanik (kekuatan tarik) dan kekerasan magnet komposit berbasis heksaferit dengan perekat poliester atau epoksi mengalami kenaikan dengan bertambahnya komposisi (%v/v) serbuk magnet baik SrM maupun BaM, dikarenakan strukturmikro ukuran partikel serbuk SrM sebesar 1.6 um dengan bentuk serpihan sedangkan BaM berbentuk nodular dengan ukuran partikel sebesar 1,2 um. Perekat polimer epoksi mempunyai harga kekuatan tarik dan kekerasan yang lebih besar dibandingkan dengan magnet komposit berbasis poliester, baik dengan serbuk SrM maupun dengan serbuk BaM. Penambahan coupling agent sangat berpengaruh terhadap kekuatan tarik dan kekerasan magnet komposit dan semakin banyak coupling agent yang ditambahkan maka semakin besar harga kekuatan tarik dan kekerasan dari magnet kompositnya

    STRUKTUR DAN SIFAT OPTIK FILM ZnO HASIL DEPOSISI DENGAN TEKNIK SPIN-COATING MELALUI PROSES SOL-GEL

    Get PDF
    STRUKTUR DAN SIFAT OPTIK FILM ZnO HASIL DEPOSISI DENGAN TEKNIK SPIN-COATING MELALUI PROSES SOL-GEL. Film ZnO telah dibuat pada substrat kaca dengan teknik deposisi spin coating melalui proses sol-gel. Pembuatan film ZnO dari prekursor zinc acetate dengan laju putaran 3.000 rpm selama 60 detik di atas pelat spin coater. Film yang diperoleh dikeringkan pada suhu ruang kemudian dilakukan annealing pada suhu 500 oC selama 3 jam. Hasil XRD menunjukkan bahwa film ZnO yang terbentuk adalah polikristal wurtzite heksagonal dengan nilai parameter kisi masing-masing adalah a = 3,290 Å dan c = 5,2531 Å. Ukuran kristal rata-rata ZnO adalah 29,554 nm. Berdasarkan morfologi permukaan hasil foto SEM menunjukkan film ZnO berbentuk lempengan-lempengan (disks) yang tidak seragamdan tidak beraturan. Karakterisasi spektroskopi UV-Vis menghasilkan karakteristik optik film ZnO, yaitu spektrum transmitansi optik dalam rentang panjang gelombang 370 nm sampai dengan 970 nm. Dari data spektrum UV-Vis tersebut ditentukan lebar celah energi ZnO sebesar 3,2 eV

    EVALUASI INHIBITOR SODIUM NITRIT DI DALAM LARUTAN BETON SINTETIS

    Get PDF
    EVALUASI INHIBITOR SODIUM NITRIT DI DALAM LARUTAN BETON SINTETIS.Masalah korosi sering terjadi dalam baja tulangan khususnya pada struktur bangunan dan jembatan beton yang diakibatkan oleh infiltrasi ion klorida dari lingkungan sekitarnya. Salah satu cara untuk menghambat terjadinya korosi pada baja tulangan beton adalah dengan penambahan inhibitor. Telah dilakukan penelitian pengaruh inhibitor sodium nitrit dengan variasi konsentrasi 0,1M, 0,3M dan 0,6M untuk inhibisi korosi pada baja tulangan beton dalam larutan sintetis beton pada variasi pH 11, 9, dan 7 dengan larutan 3,5% NaCl. Pengukuran potensial korosi (Ecorr) dan laju korosi baja tulangan dilakukan denganmetode polarisasi Tafel pada scan rate 1,5mV/s berdasarkan standard ASTM G-5. Pengukuran potensial korosi (Ecorr) dan laju korosi baja tulangan beton dilakukan dengan merendam sampel uji selama 30 hari dalam larutan uji. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa inhibitor sodium nitrit terbukti dapat menaikkan potensial korosi (Ecorr) ke daerah pasif dan menurunkan laju korosi pada baja tulangan beton yang terkontaminasi klorida. Efisiensi inhibisi sodium nitrit yang paling optimal adalah konsentrasi 0,6 M pada semua variasi pH larutan uji

    BIOSINTESIS KOPOLIMER POLI(3-HIDROKSIBUTIRAT-co-4-HIDROKSIBUTIRAT) MENGGUNAKAN SUBSTRAT KARBON CAMPURAN ASAM n-BUTIRAT DAN 1,4-BUTANADIOL

    Get PDF
    BIOSINTESIS KOPOLIMER POLI(3-HIDROKSIBUTIRAT-co-4-HIDROKSIBUTIRAT) MENGGUNAKAN SUBSTRAT KARBON CAMPURAN ASAM n-BUTIRAT DAN 1,4-BUTANADIOL. Kopolimer poli(3-hidroksibutirat-co-4-hidroksibutirat), [P(3HB-co-4HB)] dibiosintesis oleh D. acidovorans menggunakan substrat karbon campuran asam n-butirat dan 1,4-butanadiol. Kondisi optimum biosintesis kopolimer P(3HB-co-4HB) oleh D. acidovorans adalah pada konsentrasi substrat karbon 10 g/L, pH 7,0, waktu inkubasi 72 jam dan suhu inkubasi 26 oC. Kandungan polimer P(3HB-co-4HB) tertinggi diperoleh dengan menggunakan campuran asam n-butirat dan 1,4-butanadiol sebagai substrat karbon. Hasil biosintesis menunjukkan kandungan 4HB meningkat secara linier dari 0 % mol hingga 94 % mol dengan peningkatan kandungan substrat 1,4-butanadiol

    PENGARUH JENIS PADUAN MIKRO Fe-Cr HASIL METODE ULTRASONIK PADA PEMBENTUKAN BONGKAH PADUAN Fe-Cr MELALUI SINTERING DUA TAHAP

    Get PDF
    PENGARUH JENIS PADUAN MIKRO Fe-Cr HASIL METODE ULTRASONIK PADA PEMBENTUKAN BONGKAH PADUAN Fe-Cr MELALUI SINTERING DUA TAHAP. Fe-Cr adalah paduan yang memiliki ketahanan pada suhu tinggi dan potensial digunakan sebagai interkonek pada sel bakar Solid Oxide Fuel Cell (SOFC). Pada penelitian ini telah dilakukan sintesis bongkah paduan Fe-Cr dengan menggunakan serbuk paduan mikro Fe-Cr hasil sintesis dengan metode ultrasonik. Metode ultrasonik dimanfaatkan untuk sintesis paduan mikro Fe-Cr melalui penggunaan gelombang suara ultrasonik. Langkah yang dilakukan adalah konsolidasi partikel paduan mikro Fe-Cr melalui kompaksi tanpa lubrikan, kemudian dalam kapsul kaca kuarsa dilakukan proses sintering sampai 1000 oC selama 1 jam, lalu dilanjutkan sintering hingga 1300 oC selama 2 jam, lalu didinginkan dalam tungku. Karakterisasi struktur mikro dilakukan dengan Scanning Electron Microscopy (SEM), Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (SEM-EDS), X-Ray Diffraction (XRD) disertai analisis dengan metode Rietveld dan pengukuran densitas sesungguhnya. Partikel paduan mikro Fe-Cr seutuhnya lebih stabil dan konsisten dalam pembentukan fasa bongkah paduan Fe-Cr melalui sintering bertahap. Diperoleh bongkah paduan Fe-Cr homogen tanpa oksida

    ANALYSIS OF CRYSTAL STRUCTURE AND FUNCTIONAL GROUPS OF NiFe2O4 USING SOL GEL METHOD

    Get PDF
    ANALYSIS OF CRYSTAL STRUCTURE AND FUNCTIONAL GROUPS OF NiFe2O4 USING SOL GEL METHOD. A synthesis and characterization NiFe2O4 with sol gel method have been conducted. Fe2(NO3)3.9H2O powder mixed with Ni(NO3)2 was dissolved in 50 ml of polyethylene glycol at room temperature, then heated at a temperature of approximately 60 °C for 1 hour while stirring to form a wet gel. The gel was then dried in an oven at 120 °C for 5 hours and grinded to form a powder NiFe2O4. NiFe2O4 powder was then heated with a furnace at a temperature variation of 400°C, 600 °C, 800 °C and 1000 °C for 5 hours respectively. X-Ray Diffraction (XRD) pattern indicates that in this stage the sample is single phase. Fourier Transform Infra Red (FT-IR) spectroscopy analysis showed two absorption bands in the range of 411 and 599 cm-1 related to octahedral and tetrahedral sites

    SINTESIS, KARAKTERISASI STRUKTUR DAN SIFAT TERMAL BAHAN KONDUKTOR SUPERIONIK BERBASIS GELAS (Ag2S)x(AgPO3)1-x

    Get PDF
    SINTESIS, KARAKTERISASI STRUKTUR DAN SIFAT TERMAL BAHAN KONDUKTOR SUPERIONIK BERBASIS GELAS (Ag2S)x(AgPO3)1-x. Konduktor superionik berbasis gelas (Ag2S)x(AgPO3)1-x untuk x=0,7, 0,8, dan 0,9 telah disintesis menggunakan teknik pendinginan cepat dengan caramelebur campuran Ag2S sebagai garam dopan,AgNO3 dan NH4H2PO4 sebagai pembentuk jaringan gelas dalamlingkungan nitrogen cair. Struktur (Ag2S)x(AgPO3)1-x diamati menggunakan Difraksi Sinar-x (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM) dan Microscope Optic (MO), sedangkan sifat termal menggunakan Differential Scanning Calorimetry (DSC). Dari hasilXRDmenunjukkan bahwa pada x=0,7 strukturnya masih amorf namun pada x>0,7 telah terjadi kristalisasi sebagian yang disebabkan adanya presipitasi Ag2S dalam matriks gelas AgPO3 dan hal ini dapat terlihat jelas dari hasil SEM dan MO. Pengukuran sifat termal menunjukkan bahwa pada x=0,7 terdeteksi adanya temperatur transisi gelas, temperatur kristalisasi dan temperatur leleh sedangkan pada x=0,9 hanya ditemukan temperatur transisi fasa dan temperatur leleh

    PENYERAPAN LOGAM Ni OLEH NANOKOMPOSIT Fe3O4-KARBONAKTIF

    Get PDF
    PENYERAPAN LOGAM Ni OLEH NANOKOMPOSIT Fe3O4-KARBONAKTIF. Telah dilakukan penyerapan logam Ni dengan nanokomposit Fe3O4-karbon aktif menggunakan sistem batch. Penelitian ini dilakukan guna meningkatkan efisiensi penyerapan Fe3O4 terhadap logam Ni. Dipilih karbon aktif karena bahan ini mempunyai luas permukaan yang cukup besar dan mudah didapat. Parameter yang dipelajari adalah efektivitas adsorbsi nanokomposit terhadap logam Ni dengan berbagai komposisi perbandingan Fe3O4 dengan karbon dan jumlah adsorben dalam larutan. Penelitian dilakukan dengan waktu kontak 90 menit pada pH larutan 6,0 dan jumlah larutan umpan 50 mL dengan konsentrasi Ni2+ 100 mg/L. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perbandingan berat Fe3O4 terhadap karbon aktif optimum dicapai pada perbandingan 1 : 2 dengan jumlah berat adsorben 150 mg. Pada kondisi tersebut Ni yang terserap mencapai 78 %. Dengan menggunakan pendekatan persamaan Langmuir diperoleh daya serap komposit Fe3O4-karbon aktif adalah 50,76 mg/g. Dengan kata lain pembentukan komposit Fe3O4-karbon aktif menaikkan daya serap Fe3O4 yang cukup signifikan terhadap logam Ni dari 18,50 mg/g menjadi 50,76 mg/

    726

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇