Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
    859 research outputs found

    PENGARUH SUHU TERHADAP KONDUKTIVITAS ELEKTROLIT PADAT (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5

    Get PDF
    PENGARUH SUHU TERHADAP KONDUKTIVITAS ELEKTROLIT PADAT (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5. Bahan elektrolit padat (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 telah dibuat dengan reaksi padatan yaitu dengan campuran antara Cul dan β-Al2O3, kemudian dikompaksi dan dilakukan pemanasan pada suhu 300 °C selama 3 jam. Nilai konduktivitas (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 adalah meningkat terhadap suhu dan frekuensi tenentu. Pola difraksi sinar bahan elektrolit padat (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 didominasi oleh puncak-puncak CuI dari pada puncak B-A12O3. Energi aktivasi bahan elektrolit padat tersebut relatif stabil, dengan nilai berkisar 0,09 eV sampai 0,13 eV. Konduktivias elektrolit padat (Cul)0,5(β-Al2O3)0,5 pada suhu ruang dan pada suhu 300 °C adalah 1,48 x 10-5 S/cm dan 8,33 x 10-4 S/cm

    PENGARUH IRGANOK 245 TERHADAP KRISTALINITAS DAN KESTABILAN MEKANIK POLIPADUAN POLIPROPILEN-NATURAL RUBBER

    Get PDF
    PENGARUH IRGANOK 245 TERHADAP KRISTALINITAS DAN KESTABILAN MEKANIK POLIPADUAN POLIPROPILEN-NATURAL RUBBER. Telah dilakukan studi pengaruh irganok 245 terhadap kristalinitas dan kestabilan kekuatan tarik polipaduan polipropilen (PP)-Natural Rubber (NR) yang mengalami penjemuran selama 12 minggu di alam terbuka. Untuk mengamati peran anti oksidan dalam menghambat terjadinya reaksi oksidasi pada polipaduan PP-NR (4:1) digunakan Irganok 245 dengan konsentrasi 4%vol, 6%vol, 8%vol dan 10%vol. Polipaduan dibuat dengan metode blending pada suhu 170oC dengan rotasi 30 rpm selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan irganok 245 sebagai anti oksidan tidak berpengaruh terhadap tingkat kekompakan (misibilitas) polipaduan PP-NR dan termasuk jenis immiscible blends. Konsentrasi optimal irganok 245 sebagai anti oksidan yang berperan menghambat reaksi oksidasi pada polipaduan PP-NR yangmengalami penjemuran selama 12 minggu di alam terbuka sebesar 8%vol. Polipaduan PP-NR-irganok 245 8% mengalami penurunan tensile strength sebesar 6% dan peningkatan elongation at break sebesar 50% dalam penjemuran selama 8 minggu sedangkan hingga penjemuran 12 minggu terjadi penurunan yang drastis. Kestabilan kekuatan tarik polipaduan PP-NR menjadi lebih baik dengan adanya Irganok 245 sebesar 8%vol yang ditandai dengan lambat terbentuknya cacat garis, cacat bidang dan cacat ruang serta penurunan kristalinitas yang hanya 9% pasca penjemuran selama 12 mingg

    APLIKASI DIFRAKSI SINAR-X UNTUK KARAKTERISASI CdS/POLIMER NANO KOMPOSIT DAN STABILITAS CdS/APTMS-Al-MCM-41 NANO KOMPOSIT

    Get PDF
    APLIKASI DIFRAKSI SINAR-X UNTUK KARAKTERISASI CdS/POLIMER NANO KOMPOSIT DAN STABILITAS CdS/APTMS-Al-MCM-41 NANO KOMPOSIT. Karakterisasi nanopartikel Kadmium Sulfida (CdS) pada nanokomposit CdS/Polimer dan stabilitas pola difraktogramstruktur mesopori dariAl-MCM-41 pada nanokomposit CdS/APTMS-Al-MCM-41 telah dilakukan denganmenggunakan teknik difraksi sinar-X. Polimer yang digunakan adalah poli(steren-divinilbenzen) tersulfonasi [SO3H-P(S-DVB)]. Keberadaan nano partikel CdS dalam CdS/SO3H-P(S-DVB) ditunjukkan oleh adanya puncak lebar pada difraktogram di posisi 2θ = 26,40° ; 43,75° dan 52,00° yang sesuai dengan pola difraktogram CdS nano bentuk kubik (111), (220) dan (311). Sedangkan stabilitas pola difraktogramdari CdS/APTMS-Al-MCM-41 ditunjukkan oleh adanya puncak tajam pada difraktogram di posisi 2θ = 2,1° (100) dan 3 puncak lemah di 2θ = 3,7° (110), 4,3° (200) dan 5,5° (210) yang menunjukkan pola difraktogram Al-MCM-41 sebagai matriks host dari CdS/APTMS-Al-MCM-41

    KARAKTERISASI KOPOLIMERISASI RADIASI PATI DAN ASAM AKRILAT SEBAGAI BAHAN PELAPIS PUPUK

    Get PDF
    KARAKTERISASI KOPOLIMERISASI RADIASI PATI DAN ASAM AKRILAT SEBAGAI BAHAN PELAPIS PUPUK. Dalam upaya menaikkan nilai tambah dari polimer alam, telah dilakukan modifikasi pati yang ditambahkan oligo kitosan (2%) menggunakan reaksi kopolimerisasi iradiasi dengan monomer asam akrilat. Bahan ini selanjutnya digunakan sebagai bahan pelapis pupuk NPK yang bersifat dapat menyimpan air dan lepas lambat. Pati dengan konsentrasi 5% (b/v) yang ditambahkan oligo kitosan dibuat gelatin dengan pemanasan pada suhu 80 °C, kemudian direaksikan dengan asam akrilat dengan variasi konsentrasi 1%, 2%, 3% dan 4%(v/v) pada suhu 50 °C. Sampel selanjutnya diiradiasi dengan variasi dosis 10 kGy, 15 kGy dan 20 kGy dengan sinar gamma yang berasal dari Co-60. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pati-oligo kitosan yang dikopolimerisasi dengan asam akrilat dapat digunakan sebagai bahan pelapis pupuk NPK yang dapat menyimpan air. Diperoleh nilai swelling 520% sampai 700% tergantung dari konsentrasi monomer asam akrilat yang digunakan. Kondisi terbaik diperoleh untuk pati kopolimerisasi asam akrilat dengan dosis iradiasi 15 kGy dan konsentrasi asam akrilat 3%

    PEMBUATAN BAHAN PIEZOELEKTRIK RAMAH LINGKUNGAN Bi0,5Na0,5TiO3 DENGAN METODE MOLTEN SALT

    Get PDF
    PEMBUATAN BAHAN PIEZOELEKTRIK RAMAH LINGKUNGAN Bi0,5Na0,5TiO3 DENGAN METODE MOLTEN SALT. Bahan Piezoelektrik Bi0,5Na0,5TiO3 (BNT) yang ramah lingkungan telah dibuat dengan metode molten salt. Proses pembuatan BNT terdiri dari dua tahapan, dimana pada tahap pertama dilakukan sintesis Bi2Ti4O11 (BTO) sedangkan pada tahap kedua berlangsung proses pembentukan BNT. Proses sintesis BTO terjadi dalam lelehan garam NaCl-KCl dengan terlebih dahulu mencampurkan dua bahan dasar Bi2O3 dan TiO2. Selanjutnya BTO yang telah terbentuk ditambahkan dengan Na2CO3 berlebih dan dipanaskan sampai terbentuk BNT. BNT yang telah disintesis selanjutnya dikarakterisasi dengan menggunakan X-Ray Diffractometer (XRD) untuk mengidentifikasi fasa, struktur kristal dan ukuran butir kristal dan bentuk morfologi dianalisis dengan Scanning Electron Microscope-EnergyDispersive Spectroscopy (SEM-EDS).Dengan melakukan variasi proses diantaranya variasi suhu dan variasi komposisi berat NaCl-KCl, diperoleh suhu optimal sintesis BTO pada 950 oC dengan perbandingan berat komposisi NaCl-KCl sama dengan berat campuran Bi2O3-TiO2. Sedangkan suhu optimal untuk sintesis BNT adalah pada 600 oC. BNT yang diperoleh mempunyai struktur kristal rhombohedral dengan a = b = c = 3,884 Å dan α = β = γ = 90,12243o. Ukuran kristal BTO yang terbentuk adalah 16,769 nm sedangkan ukuran kristal BNT yang terbentuk adalah 17,139 nm

    ANALISIS STRUKTUR KRISTAL DAN SIFAT MAGNETORESISTANCE SINGLE PHASE LiMn2O4 HASIL MECHANICAL MILLING SEBAGAI KATODA BATERAI Li-ION

    Get PDF
    ANALISIS STRUKTUR KRISTAL DAN SIFAT MAGNETORESISTANCE SINGLE PHASE LiMn2O4 HASIL MECHANICAL MILLING SEBAGAI KATODA BATERAI Li-ION Telah dilakukan sintesis dan karakterisasi struktur spinel single phase LiMn2O4. Bahan sistem LiMn2O4 dibuat dengan metode reaksi padatan menggunakan proses mechanical milling dari oksida penyusun Li2O dan MnO2. Campuran di milling selama 6 jam kemudian di sintering pada suhu 400 oC selama 20 jam. Hasil refinement dari pola difraksi sinar-X menunjukkan bahwa telah terbentuk single phase struktur spinel LiMn2O4 dengan sistem kristal cubic, grup ruang F d -3 m (227), parameter kisi a = b = c = 8,173(4) Å, α = β = γ = 90o, volume unit sel V = 546,0(9) Å3 dan kerapatan atomik ρ = 4,246 g.cm-3. Hasil pengujian rasio magnetoresistance menunjukkan bahwa resistivitas sampel LiMn2O4 menurun sebesar 2% dengan bertambahnya medan magnet luar. Disimpulkan bahwa Lithium ini tampaknya memberikan dampak munculnya sifat antiferomagnetik bahan akibat adanya exchange interaction ion Mn4+/Mn3+. Fenomena ini kemudian dikenal dengan efek distorsi Jahn-Teller. Sehingga dengan munculnya distorsi Jahn-Teller ini pada akhirnya dapat mengganggu sistem transportasi konduktor ionik dari satu elektroda ke elektroda yang lain

    PENGARUH AGLOMERASI AIR-MINYAK SAWIT TERHADAP KADAR KARBON DAN NILAI KALORI BATUBARA SEMI-ANTRASIT,BITUMINUS DAN SUB-BITUMINUS

    Get PDF
    PENGARUH AGLOMERASI AIR-MINYAK SAWIT TERHADAP KADAR KARBON DAN NILAI KALORI BATUBARA SEMI-ANTRASIT,BITUMINUS DAN SUB-BITUMINUS. Dengan metode pencucian aglomerasi, nilai kalori batubara dapat ditingkatkan. Batubara semi-antrasit, bituminus dan sub-bituminus dari Tanjung Enim, Sumatera Selatan, diproses dengan metode aglomerasi menggunakan media campuran air dan minyak goreng sawit atau minyak sawit mentah (CPO). Kadar karbon masing-masing batubara yang mengalami proses aglomerasi menurun, tetapi nilai kalorinya meningkat. Minyak goreng sawit sebagai media aglomerasi dapat meningkatkan nilai kalori batubara semi-antrasit, bituminus dan sub-bituminus masing-masing sampai 4,5%, 5,6% dan 11,1%. Sedangkan minyak sawit mentah dapat meningkatkan nilai kalori masing-masing jenis batubara tersebut sampai 4,2%, 8,3% dan 7,1% relatif terhadap nilai kalori batubara yang tidak mengalami proses aglomerasi

    TEKSTUR DEFORMASI DAN REKRISTALISASI BAJA LEMBARAN CANAI DINGIN BEBAS INTERSTISI

    Get PDF
    TEKSTUR DEFORMASI DAN REKRISTALISASI BAJA LEMBARAN CANAI DINGIN BEBAS INTERSTISI. Perkembangan tekstur kristalografi dipelajari pada baja lembaran bebas interstisi canai dingin. Tekstur yang diamati adalah tekstur deformasi setelah pencanaian dingin dan tekstur rekristalisasi atau tekstur annealing setelah proses annealing. Tekstur deformasi baja lembaran bebas interstisi dipelajarimelalui variasi persen reduksi ketebalan dengan selang reduksi antara 50,5% hingga 90 %. Sementara tekstur rekristalisasi dipelajari melalui variasi laju pemanasan annealing antara 32 oC/jam hingga 128 oC/jam, variasi waktu penahanan annealing antara 5 jam hingga 20 jam dan variasi suhu annealing dari 700 oC hingga 900 oC. Perkembangan tekstur deformasi dan rekristalisasi dipelajari melalui pengujian difraksi sinar-X. Tekstur kristalografi diukur untuk tekstur yang mempengaruhi sifat mampu bentuk, yaitu tekstur [111] dan tekstur [100]. Pengujian tarik terhadap spesimen pada orientasi yang berbeda terhadap arah pencanaian kemudian dilakukan untuk memperoleh nilai r yang merupakan parameter sifat mampu bentuk baja lembaran

    PEMBUATAN KOMPOSIT ARANG AKTIF-ZEOLIT- CMC SEBAGAI BAHAN PENYARING PADA SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

    No full text
    PEMBUATAN KOMPOSIT ARANG AKTIF-ZEOLIT- CMC SEBAGAI BAHAN PENYARING PADA SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM. Telah dibuat bahan untuk pengolahan air minum dengan sitem catu, komposit arang aktif-zeolit dengan karboksi metil selulosa (CMC) sebagai pengikat. Komposisi komposit yang optimum, yang diukur dari kemampuannya menjerap Fe dan MB (biru metilena), adalah l gram arang aktif, 2 gram Mn-zeolit dan O,l gram CMC. Dibandingkan dengan komposit arang aktifzeolit - bentonit dan komposit arang aktif-zeolit - kaolin, penjerapan terhadap ion Fe oleh komposit arang aktif-zeolit -CMC adalah rendah. Komposit arang aktif-zeolit CMC telah diaplikasikan dalam pengolahan air sumur dan air kran. Untuk lOO mL air sumur digunakan l gram komposit dikoeok selama 15 inenit dan diamati kandungan Fe, Cd, Pb dan bakteri coli dalam air sebelum dan sesudah perlakuan. Terlihat bahwa komposit tersebut menurunkan kandungan Fe, Cd, Pb dan bakteri coli dalam air. Kandungan Cd dan Fe turun lOO %, kandungan Pb turun (47,5- 100)%, dan kandungan bakteri coli turun dalam skala l03 sampai 105

    SINTESIS DAN KARAKTERISASI STRUKTUR KRISTAL, SIFAT TERMAL DAN KONDUKTIVITAS IONIK GELAS KOMPOSIT (AgI)0,7(NaPO3)0,3

    Get PDF
    SINTESIS DAN KARAKTERISASI STRUKTUR KRISTAL, SIFAT TERMAL DAN KONDUKTIVITAS IONIK GELAS KOMPOSIT (AgI)0,7(NaPO3)0,3. Telah disintesis bahan elektrolit padat baru berbasis gelas NaPO3 dan gelas komposit (AgI)0,7(NaPO3)0,3. Berbagai karakterisasi telah dilakukan pada kedua elektrolit padat ini seperti pengukuran struktur kristal menggunakan X-ray Diffractometer, sifat termal dengan Differential Scanning Calorimetry (DSC) dan pengukuran konduktivitas ionik menggunakan Impedance Spectroscopy (LCR meter). Pola difraksi sinar-x pada suhu ruang menunjukkan bahwa gelas NaPO3 terdiri dari dua puncak lebar yang menandakan gelas ini benar-benar masih amorf dan kualitasnya baik. Pada gelas komposit (AgI)0,7(NaPO3)0,3 ditunjukkan bahwa sebagian cuplikan telah terkristalisasi. Analisis struktur kristal pada suhu ruang menunjukkan bahwa presipitat tersebut berasal dari campuran fasa γ-AgI dan β-AgI, sedangkan pada suhu 250 oC telah terjadi perubahan fasa menjadi α-AgI. Hal ini didukung dengan pengamatan sifat termal bahwa telah terjadi transisi fasa pada suhu sekitar 148,43 oC dengan enthalpy sebesar 21,43 J/g. Hasil pengukuran sifat listrik pada tegangan dan frekuensi yang berbeda menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan konduktivitas ionik yang signifikan pada gelas komposit (AgI)0,7(NaPO3)0,3 yaitu α(0,1volt) = 6,918 x 10–6 S/cm, α(1 volt) = 3,09 x 10-5 S/cm, α(2 volt) = 4,36 x 10-5 S/cm, dibandingkan dengan gelas tanpa dopan NaPO3 yaitu α(0,1volt) = 1,62 x 10–8 S/cm, α(1 volt) = 2,39 x 10-7 S/cm, α(2 volt) = 2,51 x 10-7 S/cm. Kenaikan konduktivitas ini bukan disebabkan karena α-AgI sebagaimana yang diperkirakan sebelumnya, melainkan karena mekanisme konduksi Ag+ and I- pada matriks gelas NaPO3

    726

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇