Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
    859 research outputs found

    ANALISIS FASA DAN KOROSI PADA SUHU TINGGI PADUAN TiAl HASIL METALURGI SERBUK.

    Get PDF
    ANALISIS FASA DAN KOROSI PADA SUHU TINGGI PADUAN TiAl HASIL METALURGI SERBUK. Telah dibuat paduan TiAl dengan metode metalurgi serbuk, dengan 2 komposisi persen berat TiAl yang berbeda, yaitu komposisi A (Al 40 %), komposisi B (Al 38 %). Sampel sebelum dikompaksi dilakukan milling selama 5 menit, kemudian di sintering pada suhu 1.200 γC selama 2 jam dengan atmosfir gas argon. Sampel hasil sintering dikarakterisasi strukturmikro dengan Mikroskop Optik (MO), fasa menunjukkan strukturmikro paduan fasa γ-TiAl yang sudah terbentuk tampak terang, sedang unsur Al, Ti dan pori berwarna gelap. Hasil uji korosi menggunakan alat Magnetic Suspension Balance (MSB) paduan γ-TiAl dengan komposisi A dan B tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Hasil analisis fasa menggunakan XRD pada sampel yang telah teroksidasi menunjukkan fasa terbanyak adalah TiO. Analisis komposisi dengan EDS menghasilkan persentase Ti (54,52 - 56,23) % berat untuk sampel A dan Ti (55,51 - 56,07) % berat untuk sampel B. Hasil uji korosi dengan Magnetic Suspension Balance menunjukkan paduan γ-TiAl dengan komposisi yang berbeda seperti disebut di atas, sifat ketahanan korosinya pada suhu tinggi, tidak menunjukkan perbedaan yang berarti. Hasil Analisis fasa sampel setelah uji korosi dengan XRD, menunjukkan bahwa fasa yang dominan adalah TiO, sehingga dapat dikatakan bahwa permukaan paduan γ-TiAl, terlapisi oleh fasa TiO

    PEMBENTUKAN FASA Y211 DALAM MATRIKS FASA Y123 SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3Ox

    Get PDF
    PEMBENTUKAN FASA Y211 DALAM MATRIKS FASA Y123 SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3Ox. Pembentukan fasa Y211 (Y2BaCuO5) dalam matriks fasa 123 (YBa2Cu3Ox) telah diteliti. Tujuan penelitian adalah menentukan periode waktu reaksi antara fasa cair L (3BaCuO2+2CuO) dengan fasa Y211 sedemikian sehingga diperoleh 25 %berat fasa Y211 dan 75 % berat fasa Y123. Percobaan dilakukan dengan cara melelehkan pelet Y123 di atas pelet Y211 sebagai alas. Periode waktu reaksi adalah periode waktu pelelehan fasa Y123. Pembentukan fasa Y211 didasarkan pada reaksi kimia : 2YBa2Cu3Ox→Y2BaCuO5 + 3BaCuO2 +2CuO. Analisis kualitatif dan kuantitatif fasa-fasa dilakukan dengan teknik difraksi sinat-X metode Rietveld. Superkonduktivitas bahan diamati dengan uji efek Meissner. Struktur permukaan cuplikan dievaluasi dengan SEM (Scanning Electron Microscope). Kadar fasa Y211 menyusut dari 47 % berat pada t = 12 menit menjadi 18 % berat pada t = 15 menit dan kuantitas fasa Y211 meningkat lagi dengan bertambahnya periode waktu reaksi hingga dicapai harga 37 %berat pada t = 18 menit. Pada t >18 menit, kadar fasa Y211 cenderung tetap antara 33 % berat hingga 35 %berat. Semua cuplikan yang memiliki kadar fasa Y211 kurang dari 47 %berat, menampilkan efek Meissner. Strukturmikro permukaan cuplikan tidak bertekstur, serupa dengan cuplikan produk sinter. Jika reaksi fasa Y211 dan fasa cair L dilangsungkan dalam waktu t = 14 menit dan atau 16,5 menit, maka dapat dihasilkan 25 %berat dan 75 %berat berturut-turut fasa Y211 dan fasa Y123

    PENGEMBANGAN KIMIA AIR PENDINGIN REAKTOR

    Get PDF
    PENGEMBANGAN KIMIA AIR PENDINGIN REAKTOR. Pengelolaan kimia air pendingin yang meliputi pengamatan kandungan ion-ion dalam air, perilaku korosi logam-paduan logam dalam air serta proses pemurnian air pendingin sangat mendukung dalam pemeliharaan keselamatan reaktor nuklir. Dalam penelitian ini telah dipelajari beberapa metode voltametri untuk penentuan ion-ion Cu ,Cd ,Pb ,Zn, Fe dan Mn dalam air, serta unjuk kerja zeolit alam dalam mengadsorpsi ion-ion tersebut sebagai langkah awal dalam pengembangan kimia air pendingin reaktor nuklir. Unjuk kerja metode voltametri untuk penentuan ion-ion tersebut adalah prosen perolehan kembali berkisar (94,39 - 102,66)% dengan simpangan baku relatif (RSD) berkisar (1,62 - 9,23) %. Zeolit alam tanpa aktivasi secara kimia dapat menyerap ion-ion yang dipelajari dengan baik, dengan prosen penyerapan di atas 85%, kecuali untuk Zn hanya 44% dan Mn hanya 21%. Aktivasi dengan NaOH atau KOH dapat meningkatkan daya serap zeolit terhadap Zn dan Mn sampai di atas 80%, sedangkan aktivasi dengan HCl umumnya menurunkan daya serap kecuali untuk Pb dan Fe. Aktivasi dengan NH4Cl dapat menaikkan daya serap terhadap Zn di atas 80% dan Mn di atas 60%

    PENGARUH SILIKAPADAMEMBRAN ELEKTROLIT BERBASIS POLIETER ETER KETON

    Get PDF
    PENGARUH SILIKAPADAMEMBRAN ELEKTROLIT BERBASIS POLIETER ETER KETON. Sel bahan bakar telah dikembangkan sebagai pengkonversi energi alternatif. Nafion adalah membran terflorinasi yang secara intensif telah digunakan pada Direct Methanol Fuel Cell (DMFC). Membran ini menunjukkan konduktivitas proton dan stabilitas kimia yang baik, tetapi permeabilitas metanolnya juga tinggi. Polieter eter keton yang tersulfonasi (sPEEK) dengan harga yang lebih rendah memiliki potensi untuk digunakan pada Direct Methanol Fuel Cell (DMFC). Polimer ini memiliki stabilitas kimia, mekanik dan termal yang baik. Penelitian bertujuan mengurangi permeabilitas metanol dari polimer sPEEK dengan memodifikasi polimer melalui penambahan SiO2. Hasil menunjukkan penambahan 3% SiO2 ke dalam polimer dapat menaikkan konduktivitas dan menurunkan permeabilitas

    PENGARUH pH TERHADAP DEGRADASI HIDROLITIK BENANG BEDAH SINTETIS BERBASIS POLI(GLIKOLAT-KO-LAKTAT)

    Get PDF
    PENGARUH pH TERHADAP DEGRADASI HIDROLITIK BENANG BEDAH SINTETIS BERBASIS POLI(GLIKOLAT-KO-LAKTAT). Telah dilakukan studi in vitro tentang pengaruh pH terhadap proses degradasi hidrolitik benang bedah sintesis berbasis kopolimer poli(glikolat-ko-laktat). Pengujian dilakukan dengan cara inkubasi dalamlarutan penyangga dengan nilai pH 4, pH 7 dan pH 10 selama beberapaminggu pada suhu 37 oC. Perubahan strukturmikro dan morfologi diamati dengan peralatan Scanning Electron Microscope (SEM), dan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan degradasi hidrolitik benang bedah dipengaruhi oleh kondisi pH lingkungan, yang mana semakin tinggi pH semakin cepat proses degradasi. Pada pH 4 proses degradasi benang bedah tampak nyata setelah inkubasi selama 9 minggu sedangkan pada pada pH 10 setelah 4 minggu. Proses degradasi diiringi dengan kenaikan kristalinitas benang yang tampak nyata terutama pada pH 4

    PENGARUH pH PADA SINTESIS KATALIS Cu-ZnO DENGAN PROSES SOL GEL UNTUK HIDROGENOLISIS GLISEROL

    Get PDF
    PENGARUH pH PADA SINTESIS KATALIS Cu-ZnO DENGAN PROSES SOL GEL UNTUK HIDROGENOLISIS GLISEROL. Pada penelitian ini dibuat katalis Cu-ZnO untuk reaksi hidrogenolisis gliserol menjadi propilen glikol dengan proses sol gel dari garam asetat. pH merupakan parameter penting pada proses sol gel pada sintesis nanokatalis Cu-ZnO. Pengaturan pH pada sol sangat berpengaruh pada morfologi dan stuktur katalis Cu-ZnO, terlihat dari karakterisasi yang dilakukan dengan X-Ray Diffractometer (XRD) dan Scanning Electron Microscope (SEM). Difraktogram XRD menunjukkan kristalinitas Cu-ZnO sangat dipengaruhi oleh perlakuan pH, dimana pada pH 7 dan pH 8 struktur Cu-ZnO berbentuk kristalin sedangkan pada pH 9 terlihat amorf. Dari SEM-EDS terlihat rasio Cu dan Zn yang berbeda, dimana pada pH 7 dan pH 8, rasio Cu lebih besar dari Zn sedangkan pada pH 9, rasio Zn lebih besar dari Cu yang menunjukkan adanya interaksi yang berubah. Dikonfirmasi oleh analisis GC-MS, pada pH 7 dan pH 8 struktur Cu berada di dalam inti material dan dikelilingi oleh Zn, dan sebaliknya pada pH 9 struktur Zn berada di dalam inti dan dikelilingi oleh Cu

    ADHESION OF THIN COATING ON ALUMINUM ALLOYS

    Get PDF
    ADHESION OF THIN COATING ON ALUMINUM ALLOYS. Adhesion of thin coating on aluminum alloy was studied. Adhesion of thin coating on a substrate is a key parameter in surface engineering. Adhesion testing becomes interesting thing to be applied in characterization of a coating, even though the fundamental understanding of the process is still limited. Adhesion evaluation of a coating can be carried out using many methods and one of them is scratch method. Scratch was performed on a surface of coating by means of an indenter. The indenter should be very hard such as a diamond. Scratch was obtained by moving the sample under indenter slowly with a constant speed. A progressive increase or step wise load was given. The scratches were evaluated by means of a scanning electron microscope. In this study, adhesion of metallic coating-copper, nickel, chromium and ceramic coating-titanium nitride, chromium nitride on aluminum alloy and that on nickel deposited aluminum alloy were evaluated. Scratch testing with a step wise load was applied. Three parameters of adhesion-critical load, adhesion index and interface toughness were discussed. The results show that scratch testing is suitable for evaluating the above coating.Adhesion of duplex coating is higher than that of single coating and adhesion of duplex nickel coating is the highest

    PRODUKSI HIDROGEN DARI GLISEROL DAN AIR SECARA FOTOKATALISIS DENGAN TiO2 TERMODIFIKASI N, Cu DAN Ni

    Get PDF
    PRODUKSI HIDROGEN DARI GLISEROL DAN AIR SECARA FOTOKATALISIS DENGAN TiO2 TERMODIFIKASI N, Cu DAN Ni. Telah dikaji modifikasi fotokatalis TiO2 dan pengaruhnya terhadap hasil produksi hidrogen (H2) dari gliserol dan air. Prekursor yang digunakan adalah TiO2Degussa P-25. Modifikasi dilakukan dengan nitrogen (N), tembaga (Cu) dan nikel (Ni) sebagi dopant, dengan metode impregnasi. Pengaruh konsentrasi gliserol terhadap hasil produksi H2 menggunakan katalis TiO2 termodifikasi juga telah dilakukan. Hasil analisis Diffuse Reflectance Spectroscopy (DRS) menunjukkan bahwa dopant N, Cu dan Ni menyebabkan peningkatan absorbansi katalis TiO2 ke arah pita cahaya sinar tampak, sehingga katalis memiliki kemampuan lebih untukmenyerap cahaya pada panjang gelombang yang lebih tinggi. Hasil pengujian menunjukkan fotokatalis TiO2 termodifikasi mampu menghasilkan H2 lebih banyak dibanding TiO2 Degussa P-25, sebesar 4 kali untuk dopant N, 10 kali untuk dopant Cu(5%) dan N serta 8 kali untuk dopant Ni(5%) dan N. Pengaruh konsentrasi gliserol terhadap proses produksi H2 dengan katalis TiO2 termodifikasi Cu dan N menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi gliserol semakin banyak H2 yang dihasilkan

    PEMBUATAN KOMPOSIT SEKAM PADI-LATEKS DENGAN BAHAN PENGISI SEMEN DAN ABU TERBANG

    Get PDF
    PEMBUATAN KOMPOSIT SEKAM PADI-LATEKS DENGAN BAHAN PENGISI SEMEN DAN ABU TERBANG. Telah dilakukan penelitian pembuatan komposit sekam padi dan limbah lateks dari proses pemekatan lateks dengan lateks iradiasi sebagai perekat. Secara garis besar proses pembuatan komposit sekam padi-lateks dilakukan dengan mencampurkan sekampadi yang telah kering dengan ukuran lebih kecil yaitu 40 sampai dengan 80 mesh dengan tepung slugde (limbah lateks), abu terbang, lateks iradiasi, dan semen sehingga menjadi adonan. Masing-masing adonan dengan komposisi yang berbeda yaitu konsentrasi semen adalah 0%, 6%, 8%, 10%, 12%, lateks iradiasi dan abu terbang masing-masing adalah 15%dan 10%dari berat campuran. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan, dan ditekan dengan mesin pres pada suhu 160 ºC, tekanan 60 kg/cm2 selama 15 menit. Sifat fisik dan mekanik komposit yang diukur meliputi kadar air, kerapatan, pengembangan tebal, kuat lentur (MOR), modulus elastisitas (MOE), kuat ikat internal (IB), dan kuat pegang sekrup (SW). Kadar air, kerapatan dan pengembangan tebal masing-masing 4,05% hingga 5,02%, 0,95 g/cm3 hingga 0,97 g/cm3 dan 6,50 % hingga 9,06 % (perendaman dalam air selama 2 jam), 9,32 % hingga 12,44 % (perendaman dalam air selama 24 jam). Standar Nasional Indonesia (SNI) mensyaratkan kadar air papan partikel maksimum 14 %, kerapatan 0,50 g/cm3 hingga 0,70 g/cm3, dan untuk pengembangan tebal pada perendaman dalam air 10 % hingga 20 %. Nilai kuat lentur 292,92 kg/cm2 hingga 349,54 kg/cm2 (SNI = minimum 100 kg/cm2), modulus elastisitas 14,819 kg/cm2 hingga 20,238 kg/cm2, IB = 4,88 kg/cm2 hingga 25,87 kg/cm2, SW= 70 kg hingga 88 kg. SW telah memenuhi standar SNI yaitu minimal 40 kg

    SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL Fe3O4 MAGNETIK UNTUK ADSORPSI KROMIUM HEKSAVALEN

    Get PDF
    SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL Fe3O4 MAGNETIK UNTUK ADSORPSI KROMIUM HEKSAVALEN. Telah dilakukan sintesis nano partikel Fe3O4 dengan menggunakan metode presipitasi. Nano partikel telah di karakterisasi dengan Scanning Electron Microscope (SEM), Vibrating Sample Magnetometer (VSM) dan X-Ray Diffractometer (XRD). Telah dipelajari efisiensi adsorpsi Fe3O4 yang disintesis terhadap kromium (VI) adalah larutan pada pH 6 dan pH 11. Data analisis memperlihatkan bahwa mekanisme adsorpsi sesuai dengan model adsorpsi isoterm Langmuir, dengan kapasitas adsorpsi 29,422 mg/g untuk pH 6 dan 21,739 mg/g untuk pH 11. Hasil percobaan menunjukkan bahwa efisiensi adsorpsi sangat bergantung pada kondisi pH, terjadi peningkatan dengan waktu pengocokan dan jumlah adsorben. Kondisi optimum adsorpsi tercapai pada pH 6. Kinetika adsorpsi dimodelkan dengan persamaan laju pseudo-second-order, dengan konstanta laju untuk pH 6 adalah 9,7087 mg/g dan untuk pH 11 adalah 12,1951mg/g

    726

    full texts

    859

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇