Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
PENGARUH PENAMBAHAN LIQUID NATURAL RUBBER PADA POLYBLENDELASTOMER TERMOPLASTIK-POLIPROPILEN
PENGARUH PENAMBAHAN LIQUID NATURAL RUBBER PADA POLYBLENDELASTOMER TERMOPLASTIK-POLIPROPILEN. Telah dilaksanakan penelitian pengaruh penambahan Liquid Natural Rubber (LNR) pada polyblend Elastomer Thermoplastik (ETP) - Polipropilen (PP) yang bertujuan untuk mendapatkan ETP yang unggul yang dapat diterima oleh kalangan Industri, khususnya industri automotive. Metode yang digunakan adalah metode blending yang dilakukan pada sekitar suhu leleh dari PP yaitu 180 oC. ETP yang digunakan berbasis karet alam yang dicampur dengan monomer metil metakrilat melalui teknik radiasi sinar gamma. Selanjutnya dilakukan pencampuran polyblend ETP-PP (70% berat PP) dengan variasi komposisi LNR 0% berat, 3% berat, 5% berat, dan 7% berat . Kemudian dilakukan karakterisasi meliputi densitas, sifat mekanik, sifat fisik dan strukturmikro. Hasil yang diperoleh menunjukkan densitas dari polyblend yang terbentuk semakin meningkat dengan penambahan LNR. Untuk uji mekanik hasil terbaik didapatkan pada penambahan LNR 3%berat, hal ini juga didukung data strukturmikro dimana pada penambahan LNR 3%berat ini pola yang dihasilkan lebih teratur (homogen) dan rigid
SINTESIS MEMBRAN KOPOLIMERISASI SELULOSA ASETAT-GLUTARALDEHID MENGGUNAKAN IRADIASI BERKAS ELEKTRON UNTUK PERVAPORASI ETANOL-AIR
SINTESIS MEMBRAN KOPOLIMERISASI SELULOSA ASETAT-GLUTARALDEHID MENGGUNAKAN IRADIASI BERKAS ELEKTRON UNTUK PERVAPORASI ETANOL-AIR.Membran selulosa asetat dapat digunakan untuk pervaporasi etanol-air, namunmembran inimemiliki derajat penggembungan tinggi sehingga kinerjanya rendah maka perlu dimodifikasi. Modifikasi pada studi ini dilakukan dengan mengkopolimerisasimembran selulosa asetat danmonomer glutaraladehidmenggunakan inisiator iradiasi berkas elektron. Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh glutaraldehida dan iradiasi berkas elektron terhadap karakteristik serta kinerjamembran selulosa asetat termodifikasi terhadap pervaporasi etanol-air. Karakterisasi yang dilakukan meliputi penentuan derajat kopolimerisasi dan penggembungan, kekuatan tarik, dan morfologi (SEM) dari membran selulosa asetat termodifikasi. Sementara penentuan kinerja membran selulosa asetat termodifikasi meliputi fluks dan selektivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada penambahan glutaraldehida 1%, dan dosis iradiasi 30 kGy, terjadi penurunan nilai derajat penggembungan sebesar 66,16%, peningkatan kekuatan tarik sebesar 49,75%, peningkatan nilai selektivitasnya sebesar 16,5 kali dan penurunan nilai fluks sebesar 0,7 kali. Modifikasi selulosa asetat dengan dengan penambahan glutaraldehida dan radiasi berkas elektron dapat memperbaiki karakteristik dan kinerja membran selulosa asetat untuk pervaporasi etanolair
EFFECTS OF Ti ADDITION ON THE DIELECTRICAL PROPERTIES OF A NEW AUSTENITE ALLOY
EFFECTS OF Ti ADDITION ON THE DIELECTRICAL PROPERTIES OF A NEW AUSTENITE ALLOY. Preparation of alloys has been carried out leading to a new type of austenite alloys designated A-1 with a composition of Fe 52.22 wt%, Ni 24.2 wt%, Cr 20.0 wt%, Si 1.0 wt%, Mn 2.0 wt%, C 0.08 wt% and Ti 0.5 wt%. The main difference compared to commercial alloys (e.g. A347) is that Ti is added as an alloying element, but no P and S. The frequency-dependent conductivity and dielectric response of this novel material have been investigated by RLC bridge impedance spectroscopy method. It was verified that the real dielectric constant κ' of these newA-1materials showawell defined dielectric behavior and shows a considerable improvement over the commercial A-347 alloywith similar composition. Both dielectric response and dielectric loss curves show frequency dispersive relaxation peaks, indicating different conduction process in the surface and in the bulk of the materials. Therefore the substitution of P and S with Ti resulting in a new austenite with different dielectric properties. These improved dielectric properties should make this new material a good candidate for use as electrical connector, but with a reduced corrosion, so the lifetime or duration of application could be extended
NANOSERAT POLIANILIN SEBAGAI CLADDING TERMODIFIKASI PADA SENSOR SERAT OPTIK UNTUK DETEKSI UAP ASETON
NANOSERAT POLIANILIN SEBAGAI CLADDING TERMODIFIKASI PADA SENSOR SERAT OPTIK UNTUK DETEKSI UAP ASETON. Pada penelitian ini digunakan bahan nanoserat polianilin sebagai cladding termodifikasi pada sistem sensor serat optik untuk mendeteksi uap aseton. Sensor ini dirancang berdasarkan perubahan absorpsi medan evanescent pada bidang batas inti-cladding polianilin akibat perubahan sifat optiknya ketika diekspos dengan uap aseton. Nanoserat polianilin yang disintesis dengan metode polimerisasi interfasial, dilapiskan pada bagian inti serat optik yang telah dilepas cladding aslinya dan berfungsi sebagai bagian penginderaan (sensing element). Respon sensor serat optik diuji dengan mengukur intensitas transmisi cahaya yang melewati sistem sensor serat optik saat diekspos dengan uap aseton. Berdasarkan kurva respon sensor diperoleh waktu respon 30 detik dan waktu pemulihan (recovery) 10 detik. Sensor serat optik ini juga memperlihatkan kemampuan balik (reversibility) dan pengulangan (repeatability) yang cukup baik. Sensitivitas sensor terhadap tekanan uap aseton dihasilkan sebesar 1,25 %/mmHg, artinya besar perubahan intensitas transmisi untuk setiap perubahan 1 mmHg adalah 1,25 %
OPTIMASI UKURAN PARTIKEL DAN KOMPOSISI DALAM PEMBUATAN TEGEL KOMPOSIT PARTIKULAT GRANIT
OPTIMASI UKURAN PARTIKEL DAN KOMPOSISI DALAM PEMBUATAN TEGEL KOMPOSIT PARTIKULAT GRANIT. Bahan tegel komposit partikulat granit bennatriks epoxy dapat diharapkan sebagai bahan lantai yang kedap air dan cukup ulet. Penggunaan bahan komposit bagi industri rumah tangga menjadi penting dan cukup menjanjikan. Pembuatan bahan dimulai dari pembubukan batuan granit hingga ukuran mesh 100, 140 dan 200. Bubuk ini kemudian dicampur dengan epoxy yang telah diberi hardener versamid, dalam wadah plastik. Sambil diaduk hingga terlihat homogen. Pencetakan spesimen uji dilakukan dalam wadah kaca yang diberi wax dan di-curing dalam ambient temperatur selama 48 jam. Bahan spesimen dipotong-potong sesuai kebutuhan pengujian; kerapatan, kekerasan, kompresi dan bending. Hasil uji kekerasan dan kerapatan memperlihatkan perubahan nilai yang jelas dari komposisi partikulat (34, 40, 50 dan 70) dan matriks (66, 60, 50 dan 30). Sedang pengujian kompresi dan bending memperlihatkan optimum ukuran partikulat antara angka 120-123μm dan komposisi partikulat granit berada diantara angka 55-61 % berat. Nilai-nilai akurat ini dapat diprediksi dengan proses diferensiasi. Disimpulkan untuk mendapatkan sifat mekanik bahan komposit yang optimum, partikulat granit harns dibuat berukuran sekitar 121μm dan komposisi partikulat granit 57%
PENGARUH IMPLANTASI ION ARGON PADA STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BAJA AISI 430 UNTUK BAHAN STRUKTUR REAKTOR.
PENGARUH IMPLANTASI ION ARGON PADA STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN BAJA AISI 430 UNTUK BAHAN STRUKTUR REAKTOR. Rekayasa permukaan dengan teknik implantasi ion argon (Ar+) dapat meningkatkan sifat bahan terutama kekerasannya. Implantasi ion argon ini dilakukan pada baja komersial AISI 430 untuk aplikasi bahan komponen reaktor. Perubahan struktur mikro dan kekerasan setelah implantasi diteliti untuk analisis perubahan sifat mekanik bahan. Proses implantasi ion dilakukan pada energi percepatan sebesar 100 keV dengan arus ion 10mA dan waktu implantasi divariasi 30, 60 dan 90menit. Pengamatan struktur mikro dan fasa dilakukan dengan pengujian mikroskop optik dan uji XRD (X-ray diffraction), sedang pengujian kekerasan dilakukan dengan metode pengukuran Vickers. Hasil uji mikroskop optik menunjukkan terjadi proses difusi ion argon ke permukaan baja komersial AISI 430 dengan kedalaman difusi sekitar 0, 5 mikron untuk waktu implantasi 60 menit dan 2 mikron untuk 90 menit implantasi. Hasil uji XRD untuk sampel sebelum dan sesudah implantasi menunjukkan identifikasi refleksi puncak bidang (110), (200) dan (211) berturutan muncul pada sudut difraksi 2θ= 44,57°; 64,86° dan 82,11°. Implantasi ion tidak menumbuhkan puncak dan fasa baru yang menunjukkan hanya terjadi proses substitusi dan bukan interstisi argon terhadap atombesi atau atom krompada kisi kristal BCC. Hal ini disebabkan karena jari-jari atomargon 0,987 Å hampir sama dengan jari-jari kovalen besi yaitu 1,17 Å seperti ini ditunjukkan pada pergeseran sudut difraksi. Perubahan kekerasan terjadi pada proses implantasi sesuai dengan dosis ionArgonmelalui penambahan waktu implantasi.Nilai kekerasan bajameningkat setelah diimplantasi ion argon, semakin lama proses implantasi semakin tinggi kekerasannya.Mula-mula saat baja komersialAISI 430 diimplantasi dengan ion argon selama 30 menit kekerasannya adalah 190,78 HV, kemudian setelah baja komersial AISI 430 diimplantasi dengan ion argon selama 60 menit kekerasannya menjadi 222,53 HV dan setelah baja komersial AISI 430 diimplantasi dengan ion argon selama 90 menit kekerasannya menjadi 241,46 HV
PENGARUH PERLAKUAN PANAS PADA PEMBENTUKAN FASA B2 PADUAN Ti-24At%Al-l1At%Nb
PENGARUH PERLAKUAN PANAS PADA PEMBENTUKAN FASA B2 PADUAN Ti-24At%Al-l1At%Nb. Paduan yang digunakan pada temperatur tinggi ini cocok digunakan sebagai bahan baku komponen mesin pesawat terbang dan mesin pembangkit daya. Paduan dipanasi hingga 1300 °C, dan diquench ke dalam air, minyak atau nitrogen cair. Pengamatan strukturmikro paduan dilakukan menggunakan TEM. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa strukturmikro paduan bergantung pada media quenching yang digunakan. Besarnya fasa α2 menurun untuk paduan yang diquench ke dalam air, minyak dan nitrogen cair. Hubungan fasa pada paduan ini setelah dipanaskan dan diquench ke dalam air, minyak dan nitrogen cair adalah (110)[111]B2// (0001)[1210]α2. Perubahan yang sama terlihat pada perubahan waktu pemanasan. Konsentrasi fasa α2 menurun jika waktu perlakuan berubah dari l jam, 2,5 jam dan 4jam. Hubungan fasa pada paduan ini setelah dipanaskan selama 1 dan 2,5 jam dan diquench ke dalam air adalah (110)[111]B2//(0001)[1210]α2 dan setelah dipanaskan selama 4jam dan diquench ke dalam air adalah (110)[001]B2//(0001)[1210]α2
STUDI PENGARUH WAKTU DAN KECEPATAN PENGADUKAN TERHADAP KARAKTERISTIK PRODUK WHITE COLORANT DARI TITANIUM DIOKSIDA (TiO2)
White Colorant adalah bahan baku utama dalam proses pembuatan cat di depo yang dibuat dari pigment TiO2. Proses pembuatan white colorant memerlukan waktu dan energi pengadukan yang besar untuk mencampurkan bahan seperti binder, pigment, solvent dan zat aditif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu dan kecepatan pengadukan yang optimal dari pencampuran bahan-bahan yang diperlukan agar diperoleh white colorant dari pigment TiO2 yang memenuhi spesifikasi yang diinginkan oleh Pabrik cat di Tangerang. Variasi yang dilakukan adalah kecepatan pengadukan (1000, 1100 dan 1200) rpm dan waktu pengadukan (10, 15, 20, 25 dan 30) menit. Hasil optimum yang didapatkan adalah ukuran partikel TiO2 sebesar 15 µm, viskositas 1900 cPs, total padatan 81,81%, warna DE 0,49 dan CR 98,12% pada kondisi kecepetan pengadukan 1200 rpm dan waktu 15 menit. Hasil ini sesuai dengan spesifikasi standard pabrik cat, yaitu ukuran partikel 10 µm hingga 30 µm, viskositas 1000 cPs hingga 6000 cPs, total padatan 79 % hingga 83%, warna DE sebesar 0,5, dan warna CR sebesar 80 % hingga 100%
ELEKTRODEPOSISI LAPISAN KOMPOSIT Cu-Al2O3 DALAM LARUTAN CuSO4 YANG DIDOPING DENGAN PARTIKEL NANO Al2O3
ELEKTRODEPOSISI LAPISAN KOMPOSIT Cu-Al2O3 DALAM LARUTAN CuSO4 YANG DIDOPING DENGAN PARTIKEL NANO Al2O3. Lapisan komposit Cu-Al2O3 dibuat dengan menggunakan proses elektrodeposisi. Pada lapisan komposit ini, lapisan Cu berperan sebagai matriks komposit sedangkan nanopartikelAl2O3 berperan sebagai partikel penguat komposit (reinforcement). Lapisan komposit ini merupakan kelompok komposit bermatriks logam (MetalMatrix Composite). Proses elektro deposisi dilakukan pada media larutan elektrolit CuSO4, sedangkan arus listrik di suplai melalui rectifier (DC Current). Katoda yang digunakan pada proses ini adalah pelat Alumunium AA1100 dan anoda berupa grafit atau karbon. Besarnya arus yang digunakan pada proses ini adalah 0,3 A, sedangkan konsentrasi nanopartikel Al2O3 yang ditambahkan pada larutan elektrolit adalah 0,05 g/L. Proses dilakukan pada suhu kamar dan ukuran partikel nano yang digunakan adalah 50 nm. Variasi waktu proses elektrodeposisi adalah 15 menit, 30 menit dan 60 menit dan variasi konsentrasi larutan CuSO4 adalah 200 g/L, 220 g/L dan 240 g/L CuSO4 . Untuk mengetahui peranan dari nanopartikel yang ditambahkan, maka dilakukan beberapa pengujian dan pemeriksaan laboratorium seperti pengujian kekerasan, pemeriksaan strukturmikro. Pemeriksaan Scanning Electron Microscope (SEM) dan pengujian Electron Dispersive Spectroscopy (EDS). Pembuatan lapisan komposit ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik lapisan yang sifat mekaniknya lebih baik
PENGARUH PENAMBAHAN Ag2O TERHADAP PENINGKATAN RAPAT ARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x HASIL PROSES PELELEHAN
PENGARUH PENAMBAHAN Ag2O TERHADAP PENINGKATAN RAPAT ARUS KRITIS SUPERKONDUKTOR YBa2Cu3O7-x HASIL PROSES PELELEHAN. Telah dilakukan pembuatan superkonduktor YBa2Cu3O7-x (YBCO) dan YBa2Cu3O7-x/Ag (YBCO/Ag) menggunakan metode Modified Melt Textured Growth (MMTG). Pembuatan prekursor menggunakan metode reaksi padatan dari bahan-bahan dasar Y2O3, BaCO3 dan CuO dengan kemurnian 99,99 persen. Pembuatan cuplikan YBCO/Ag dilakukan dengan cara menambahkan serbuk Ag2O untuk 10 dan 30 persen berat. Pengujian cuplikan dilakukan dengan efek Meissner, teknik difraksi sinar-x (XRD), Scanning Electron Microscope (SEM), mikroscop optik (MO), Electron Dispersion X-rays (EDX), dan metode probe empat titik. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa cuplikan merupakan bahan superkonduktor YBCO yang memperlihatkan fenomena superkonduktivitas pada suhu nitrogen cair dan telah mengkristal dengan baik dengan dicirikan oleh puncak pola difraksi yang tajam. Cuplikan hasil sinter memiliki sedikit porous, berbutir halus dan strukturmikro yang terorientasi secara acak. Sebaliknya, cuplikan hasil proses pelelehan memperlihatkan strukturmikro yang rapat dan highly textured yang tersusun dari butiran berukuran panjang berbentuk pelat. Butiran bentuk pelat diidentifikasi sebagai fasa YBCO. Fasa lain yang diendapkan didalam dalam bulk YBCO diketahui sebagai fasa Y2BaCuO5 (211) dan fasa Ag. Suhu kritis, Tc ≈ 91 K dari semua cuplikan dan tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan. Dari kurva I-V diperoleh rapat arus kritis Jc = 3,98 A.cm-2; 135,35 A.cm-2; 143,32 A.cm-2 dan 282,644 A.cm-2, berturut turut untuk cuplikan CSIN, YM-Ag2O, YM-10Ag2O dan YM-30Ag2O. Dapat disimpulkan bahwa dengan substitusi Ag2O pada bulk YBCO dapat meningkatkan nilai Jc