Jusami | Indonesian Journal of Materials Science
Not a member yet
859 research outputs found
Sort by
ANALISIS SIFAT MEKANIK MAGNET KOMPOSIT BERBASIS HEKSAFERIT DENGAN MATRIKS POLIESTER DAN EPOKSI PADA PENAMBAHAN ADITIF SILAN
ANALISIS SIFAT MEKANIK MAGNET KOMPOSIT BERBASIS HEKSAFERIT DENGAN MATRIKS POLIESTER DAN EPOKSI PADA PENAMBAHAN ADITIF SILAN. Pemakaian magnet komposit untuk berbagai macam keperluan dalam industri besar maupun industri rumah tangga, terutama magnet komposit berbasis heksaferit banyak dijumpai di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk membuat magnet komposit antara heksaferit dengan polimer poliester dan atau epoksi serta mempelajari pengaruh penambahan coupling agent berupa 3-aminopropyltriethoxysilane (3-APE) terhadap sifat mekaniknya. 3-APE akan menjembatani antara serbuk magnet dengan polimer sehingga akan meningkatkan kekuatan tarik dari magnet komposit tanpa mengurangi sifat kemagnetannya. Serbuk magnet (SrM dan BaM) yang telah dibasahi dengan coupling agent 3-APE dicampurkan ke dalam matriks yang terdiri dari campuran poliester dengan Mekpo sebagai bahan pengeras atau epoksi dengan Versamid sebagai bahan pengeras, diaduk sampai homogen selanjutnya dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk dumbbell dan diberi tekanan. Untuk epoksi, penekanan dilakukan dengan menggunakan hot press pada suhu 70°C dengan beban 150 kg/cm2 kemudian didinginkan dengan coldpress. Pada poliester, tekanan dilakukan dengan press hydraulics selanjutnya curing pada suhu 70 °C menggunakan oven selama l jam. Komposisi SrM dan BaM divariasi pada 30%, 40% dan 50% fraksi volume dan coupling agent 3-APE divariasikan sebesar 5 mL, lO mL dan 15 mL untuk setiap fraksi volume. Kemudian dilakukan karakterisasi kekerasan, sifat mekanik, dan sifat kemagnetan. Hasil yang diperoleh menunjukkan secara umum penambahan coupling agent 3-APE pada magnet komposit memberikan efek terbaik pada volume sebesar 10 mL untuk magnet komposit dengan perekat poliester maupun epoksi. Penambahan serbuk magnet SrM dan BaM pada matriks polimer secara umum menurunkan harga kekutan tarik magnet komposit, harga maksimum kekuatan tarik terjadi pada'kandungan 40% fraksi volume SrM maupun BaM. Sifat kemagnetan komposit berbasis SrM lebih baik dibandingkan BaM baik dengan matriks epoksi maupun polieste
PENGHALUSAN SERBUK DAN EFEKNYA PADA FASA DAN SIFAT MAGNETIK SISTEM MAGNET PERMANEN BERBASIS Nd2Fe14B
PENGHALUSAN SERBUK DAN EFEKNYA PADA FASA DAN SIFAT MAGNETIK SISTEM MAGNET PERMANEN BERBASIS Nd2Fe14B. Telah dilakukan proses penghalusan serbuk pada sistem paduan magnet permanen berbasis Nd2Fe14B dengan metode milling dan sonochemistry dengan variasi waktu proses 1 jam sampai dengan 6 jam. Serbuk awal, merupakan paduan hasil proses melt spinning yang diikuti proses penghalusan kasar, memiliki fasa amorf Nd2Fe14B tercampur fasa kristalin α-Fe dengan ukuran serbuk berkisar antara (60 – 325) μm. Hasil analisis data difraksi sinar-X pada serbuk hasil milling menunjukkan terjadi penumbuhan fasa kristalin Nd2Fe14B yang diikuti dengan penurunan fasa α-Fe. Sedangkan hasil pengukuran sifat magnetik menunjukkan terjadinya penurunan nilai koersivitas dengan makin lamanya proses milling. Penurunan nilai koersivitas ini dianalisis disebabkan oleh penurunan ukuran serbuk yang lebih kecil dari batas ukuran domain tunggal. Sedangkan pada proses sonochemistry, sampai batas waktu proses yang dilakukan, belum terjadi perubahan fasa maupun ukuran butir yang cukup berarti
PENGARUH PENGGILINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK PADATAN DIDANOSIN
PENGARUH PENGGILINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK PADATAN DIDANOSIN. Pemberian energi mekanik pada suatu padatan kristal dapat menyebabkan kerusakan kristal sehingga akan mempengaruhi sifat fisikokimia padatan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penggilingan terhadap karakteristik padatan didanosin (2',3'-dideoxyinosine atau DDI). Pengilingan padatan DDI dilakukan dengan menggunakan alat Retsch RM 100 mortar grinder selama 15 menit dan 30 menit. Karakterisasi padatan hasil penggilingan dilakukan dengan menggunakan difraksi sinar-X serbuk, Differential Scanning Calorimeter (DSC), Scanning Electron Microscope (SEM) dan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR). Indeks kristalinitas relatif DDI hasil penggilingan ditentukan dengan metode difraksi sinar-X serbuk. Uji kelarutan dilakukan dalampelarut air untuk melihat perubahan sifat fisikokimia akibat penggilingan. Difraktogram DDI memiliki beberapa puncak utama dengan intensitas tertinggi ditunjukkan pada sudut 2θ = 6,0º, untuk menghitung indeks kristalinitas relatif. Penggilingan terhadap DDI tidak mengubah letak sudut 2θ, namun menurunkan intensitas puncak dengan indek kristalinitas relatif 40,8 % dan 30,4 %. Termogram DSC DDI menunjukkan ada 2 puncak endotermik yaitu pada suhu 179,5 ºC yang merupakan titik lebur DDI dan 285,0 ºC serta satu puncak eksotermik pada suhu 183 ºC. Titik lebur DDI mengalami sedikit pergeseran menjadi 180,2 ºC setelah digiling selama15 menit dan 176,9 ºC setelah digiling 30 menit. Fotomikrograf SEM menunjukkan terjadi pengecilan ukuran DDI setelah mengalami penggilingan. Spektrum FT-IR menunjukkan tidak adanya pergeseran bilangan gelombang dari gugus-gugus pada DDI setelah mengalami penggilingan. Kelarutan DDI meningkat setelah mengalami penggilingan selama 15 menit dan 30 menit yaitu dari 24,83 ± 0,73 menjadi 30,25 ± 0,18 mg/mL dan 33,76 ± 0,33 mg/mL. Penggilingan ini disamping meningkatkan luas permukaan, juga menyebabkan sebagian kristal berubah menjadi amorf, sehingga kelarutan DDI dalamair meningkat
THE EFFECT OF LI2O ONCOMPOSITE LTAP AND WINDOWS GLASSES
THE EFFECT OF LI2O ONCOMPOSITE LTAP AND WINDOWS GLASSES. Research on The Effect of Li2O on Composite LTAP and Windows Glasses have been done. Windows glasses contain of SodiumLime Silica Glasses and Na2O 11,6%, CaO 8,1%and SiO2 58,7%. LTAP ( Lithium Titanium Alumunium Phosphate ) material mixed in the slurry of powder windows glasses with composition of weight procentage 75%. The temperatures process for sintering of samples is above of glass transition at 600 oC. Then samples quenched with liquid nitrogen. The variation of Li2O addition on samples are 0, 2,5, 5 and 7,5% weight. XRD pattern of all samples has a same phenomenon of crystallization phases, i.e. LTAP with lithium silica from Li5Si2O7, Li2SiO3, Li4SiO4 and Li2Si2O5. Optimum addition oh Li2O is 7,5% weight Li2O that gift a conductivity of 1,479 x 10-7 S/cm and high value on density and smallest porosit
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF GRAPHITE NANOSTRUCTURE THIN FILM WITH SPUTTERING TECHNIQUE
SYNTHESIS AND CHARACTERIZATION OF GRAPHITE NANOSTRUCTURE THIN FILM WITH SPUTTERING TECHNIQUE. Synthesis and characterization of graphite nanostructure thin film using the DC-sputtering technique has been carried out. Nanostructured graphite for target of deposition using DC-Sputtering technique has been prepared by milling technique using High Energy Milling (HEM) with the variation of milling time between 50 hours until 100 hours. First, the graphite target was prepared by doing a compaction using press machine to the nanostructured graphite powder got from milling process. Secondly, a thin filmof graphite was fabricated using DC-Sputtering technique. The phase identification of nanostructured graphite thin filmwere carried out using X-Ray Diffraction (XRD), and the surface and cross section morphology of thin filmwere observed using Scanning Electron Microscopy (SEM). XRD identification shows the presence of peaks of Si(100) and C(002) in all conditions of preparing powder using for target, but a shift of the angel‘s peak to the left and the decreasing of peak intensity were found. While the observation using SEM to surface morphology of thin film shows that the form of thin films are mostly homogeneous, smooth and flat at the milling time of 50-75 hours. From the SEM photograph of cross section, it is shown that there is a tendency of the more commonly found particles of droplets on the surface of thin film with the increasing of milling process against the carbon powder as a constituent of pellets for the DC-Sputtering targets, especially in the case of C/Si thin filmfabricated using target prepared by milling for 100 hours, the morphology of surface was worst
REAKSI ESTERIFIKASI ASAM OLEAT DAN GLISEROL MENGGUNAKAN KATALIS ASAM
REAKSI ESTERIFIKASI ASAM OLEAT DAN GLISEROL MENGGUNAKAN KATALIS ASAM. Reaksi esterifikasi antara asam oleat dan glyserol menggunakan katalis asam dilakukan untuk mempelajari kemungkinan terjadinya reaksi polimerisasi antara keduanya. Reaksi berlangsung pada rentang suhu 220 oC hingga 250 oC, dengan harapan setelah reaksi esterifikasi selesai akan berlanjut dengan reaksi polimerisasi. Dengan mempelajari perubahan suhu, dan waktu reaksi pada beberapa parameter seperti bilangan asam, bilangan Iod, densitas produk, viskositas dan berat molekul diharapkan akan diperoleh produk dengan berat molekul yang lebih besar dari reaktan pembentuknya atau terjadi reaksi polimerisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan reaksi dipengaruhi oleh ratio kedua reaktan dan katalis, pada rasio katalis dan reaktan 1:100 menunjukkan peningkatan berat molekul. Dengan semakin meningkatnya suhu menunjukkan bahwa bilangan asam semakin menurun, mengakibatkan konversi semakin meningkat. Hasil konversi maksimum 93,75% terjadi pada suhu reaksi 240 oC, ratio katalis dan reaktan 1:100 dengan rentang berat molekul sekitar 19,502.06 g/gmol hingga 20,034.94 g/gmol, rentang viskositas sekitar 0.0514 poise hingga 0.0534 poise. Sedangkan densitas produk menunjukkan 0,95 g/cm3 sampai dengan 1,045 g/cm3
KONTROL CATU DAYA DC 30V/15A MENGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89C52 DENGAN METODE LOOK-UP TABLE UNTUK APLIKASI SISTEM PEMAGNETAN
KONTROL CATU DAYA DC 30V/15A MENGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89C52 DENGAN METODE LOOK-UP TABLE UNTUK APLIKASI SISTEM PEMAGNETAN. Telah dilakukan penelitian mengenai sistem pengontrol arus DC berbasis mikrokontroler Atmel AT89C52. Mikrokontroler mengatur transistor yang akan diaktifkan guna melewatkan arus DC untuk menghasilkan medan magnet homogen. Sistem ini menghasilkan variasi arus DC dari 1,8 A hingga 12 A. Variasi arus tersebut menghasilkan nilai medan magnet terukur yang bernilai 23 mT hingga 325 mT. Pengolahan data masukan dan data yang tersimpan dalam mikrokontroler menggunakan metode look-up table. Rangkaian mikrokontroler dan rangkaian catu daya tersebut dipisahkan /diisolasi dengan menggunakan optocoupler. Sistem pengontrol arus DC ini dapat dijadikan model awal untuk pengontrol medan magnet untuk tujuan magnetisasi pada sistem pemagnetan
PENGARUH MEDAN DEPOSISI PADA STRUKTUR MIKRO, RESISTANSI DAN NISBAH MR LAPISAN TIPIS NiemYANG DISIAPKAN DENGAN DC MAGNETRON SPUTTERING
PENGARUH MEDAN DEPOSISI PADA STRUKTUR MIKRO, RESISTANSI DAN NISBAH MR LAPISAN TIPIS NiemYANG DISIAPKAN DENGAN DC MAGNETRON SPUTTERING. Telah dibuat lapisan tipis Ni80Fe20 pada suhu substrat 200°C berbantuan medan deposisi 600 gauss. Penelitian bertujuan untuk mengamati pengaruh medan deposisi terhadap struktur atom lapisan, resistansi dan efek MR. Dari spektrum. XRD dinyatakan bahwa lapisan berstruktur kristal dengan puncak-puncak difraksi pada sudut 37,45°, 43,4° dan 44,75° dan bersesuaian dengan unsur Fe2O3, NiFe dan NiO. Penambahan B menjadikan ukuran butir cenderung berkurang. Dari uji resistansi dengan probe 4 titik diperoleh resistansi maksimum sebesar l7407,04 ohm yang bersesuaian dengan medan deposisi 0 gauss, hal mana menunjukkan spin-spin elektron lapisan memiliki struktur paling acak. Sedangkan dari uji MR pada medan H = 0 — IS gauss diperoleh medan jenu-h (Hs) semua lapisan l2,5 gauss yang menunjukkan lapisan termasuk jenis soft magnetic. Nisbah MR terbesar 10,23 % yang bersesuaian dengan medan B = 0 gauss sedangkan nisbah MR terkecil 0,9 l % bersesuaian dengan medan B = 300 gauss. Lapisan yang pertama sesuai untuk sensor medan magnet berstruktur lapisan tunggal sedangkan lapisan yang kedua sesuai untuk membuat sensor medan magnet berstruktur multilapis
PELAPISAN FOIL URANIUM TARGET DENGAN Ni DAN Zn SECARA ELECTROPLATING
PELAPISAN FOIL URANIUM TARGET DENGAN Ni DAN Zn SECARA ELECTROPLATING. Foil-U hasil perolan dikenai proses preparasi dan kemudian proses electroplating. Proses electroplating menghasilkan lapisan pada permukaan foil hingga mencapai ketebalan tertentu. Pelapisan secara electroplating dilakukan pada foil berukuran panjang 71 mm dan lebar 46 mm menggunakan pelapisan nikel dan seng. Pelapisan foil ini bertujuan sebagai pengungkung rekoil fragmen fisi yang timbul pada saat diiradiasi. Hasil pengukuran diperoleh ketebalan lapisan Ni 8,9 mm menggunakan metoda mikrometer dan 11,4 mm dengan metoda penimbangan berat. Sementara itu, ketebalan lapisan Zn sekitar 16,2 mm dengan mikrometer dan 13,7 mm dengan metoda penimbangan berat. Hasil analisis memperlihatkan efisiensi arus berkisar 62 % untuk pelapisan Ni dan 80 % untuk pelapisan Zn. Hasil pengamatan eksperimen dan analisis menunjukkan bahwa pencapaian kondisi optimum tebal lapisan sangat dipengaruhi oleh bahan logam pelapis, waktu pelapisan dan rapat arus. Kondisi optimum tebal lapisan permukaan foil hingga mencapai 7-15 mm diperoleh pada rapat arus 15 mA/cm2 untuk pelapis Ni dan 10 mA/cm2 untuk pelapis Zn dengan waktu pelapisan sekitar 60 menit